close
close
0


Tanya : Bismillah … ustadz Abu Alifa, dalam shalat berjamaah bolehkan seorang makmum yang berdekatan dengan Imam mengeraskan “komando” Imam, dikarenakan ucapan Imam kurang kedengaran oleh makmum yang dibelakang!? HG

Jawab : Zaid bin Sahl Al-Anshary (Abu Thalhah) meupakan diantara shahabat yang suaranya lantang dan keras. Beliaulah yang dalam shalat berjamaah suka menyambung suara Nabi saw, disebabkan “komando” atau suara Rasul hanya terdengar sampai beberapa shaff saja. Jadi boleh dikatakan bahwa Abu Thalhah merupakan “pengeras suara” Nabi saw (lihat Risalah No.1 th 51 hal.19).

Hal ini tentu saja jika alat pengeras suara ada gangguan, maka tidak ada halangan makmum yang dekat menjadi penyambung suara Imam. Allohu A’lam

Dikirim pada 25 Mei 2013 di Bab. Sholat


Tanya : Bismillah… Kang Abu (punten abi mah resep nyebat akang), bade tumaros (mau nanya) soal shalat gerhana. Apakah pada jaman Nabi saw wanita ikut shalat gerhana dimasjid? Soalna ada yang mengatakan b agiwanita tidak diperkenankan! Hatur nuhun kana waleranana.. NR Tasikmalaya

Jawab : Syaikhu al-hadits Imam Al-Bukhary dalam kitabnya memuat “Babu al-Shalati al-Nisaai ma’a al-rijaali fi al-kusuf”. Dalam bab itu ada hadits yang diterima oleh Asma’ binti Abi Bakr ra. Beliau (Asma’) bercerita :

أَتَيْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ ، وَإِذَا هِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّى فَقُلْتُ مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ . فَقُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ أَىْ نَعَمْ

“Saya mendatangi Aisyah ra –(yaitu) isteri Nabi saw- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ternyata Aisyah-pun berdiri ikut shalat. Saya (Asma’) bertanya: “Kenapa orang-orang ini?” Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan ya (HR. Bukhary no 1053)

Dengan hadits diatas cukuplah menjadi dasar dan hujjah bahwa syariat shalat kusuf pada masa Nabi saw bukan saja diikuti oleh laki-laki melainkan juga wanita. Allohu A’lam

Dikirim pada 07 Mei 2013 di Bab. Sholat


Tanya : Bismillah … ustadz Abu Alifa, menurut pendapat ustadz apakah do’a iftitah pada saat shalat tarawih atau shalat malam dibaca pada tiap di dua kali dalam 4 rakaat dan 3 rakaat diawal takbir?

Jawab : Karena 11 rakaat itu merupakan rangkaian shalat Tarawih atau shalat Malam, maka hemat kami cukup diawal saat melaksanakan shalat tarawih itu! Allohu A’lam

Dikirim pada 23 April 2013 di Bab. Sholat


Tanya : Bismillah … ustadz bagaimana kalau masbuq dalam shalat jenazah yang takbirnya baru tiga kali dan imam dengan jamaah lain sudah selesai. Apakah ikut salam atau menambah takbir? Apakah takbir pertama saya bacaannya langsung ke takbir kedua mengikuti imam atau bacaan takbir pertama (al-fatihah)?

Jawab : Tidak ada bedanya masbuq dalam shalat, baik shalat fardhu atau shalat sunnat yang dilakukan berjamaah seperti shalat ‘ied. Begitupun halnya dengan shalat jenazah. Apa yang kita baca disesuaikan dengan takbir yang kita lakukan. Sekalipun Imam dengan jamaah lain membaca do’a lain (karena sudah ditakbir berikutnya), tapi kita yang masbuq tetap membaca ditakbir awal kita. Dan saat imam mengucapkan salam, maka kita tambah lagi takbir yang kurang itu begitupun bacaannya.

Ibnu Hazm berkata: “Bila seseorang luput dari mendapatkan beberapa takbir dalam shalat jenazah (bersama imamnya), maka ia langsung bertakbir ketika tiba di tempat shalat tersebut tanpa menanti takbir imam yang berikutnya. Apabila imam telah salam, ia menyempurnakan apa yang luput dari takbirnya, dan berdoa di antara takbir yang satu dengan takbir yang lain sebagaimana yang ia perbuat bersama imam. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw terhadap orang yang (terlambat) mendatangi shalat berjamaah (masbuq) agar ia mengerjakan apa yang sempat ia dapatkan bersama imam dan ia sempurnakan apa yang tertinggal….” (Al-Muhalla, 3/410). Allohu A’lam

Dikirim pada 03 Maret 2013 di Bab. Jenazah


Tanya : Assalamu`alaikum, pak ustadz yang saya hormati, saya sering jum`tan yang khatibnya pada saat mengawali khutbah tidak mengucapkan shalawat. Bagaimana hukumnya, apakah sah shalat jum`at yang saya lakukan? Hamba (afwan ust., emailnya jgn dicantumkan)

Jawab : Wa`laikumussalam … Dalam Al Fiqh `Alal Madzhabil Arba`ah 1/ 390-391, karya Abdurrahman Al Jaziri, disebutkan pendapat empat madzhab tentang rukun-rukun khutbah Jum`at.

1. Hanafiyyah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki satu rukun saja. Yaitu dzikir yang tidak terikat atau bersyarat. Meliputi dzikir yang sedikit ataupun banyak. Sehingga untuk melaksanakan khutbah yang wajib, cukup dengan ucapan hamdalah atau tasbih atau tahlil. Rukun ini untuk khutbah pertama. Adapun pada khutbah kedua, hukumnya sunah.

2. Syafi`iyyah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki lima rukun. Pertama. Hamdalah, pada khutbah pertama dan kedua. Kedua. Shalawat Nabi, pada khutbah pertama dan kedua. Ketiga. Wasiat taqwa, pada khutbah pertama dan kedua. Keempat. Membaca satu ayat Al Qur`an, pada salah satu khutbah. Kelima. Mendo`akan kebaikan untuk mukminin dan mukminat dalam perkara akhirat pada khutbah kedua.

3. Malikiyyah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki satu rukun saja. Yaitu, khutbah harus berisi peringatan atau kabar gembira.

4. Hanabilah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki empat rukun. Pertama. Hamdalah, pada awal khutbah pertama dan kedua. Kedua. Shalawat Nabi. Ketiga. Membaca satu ayat Al Qur`an. Keempat. Wasiat taqwa kepada Allah .

Akan tetapi berkaitan dengan madzhab Hanafiyyah dan Malikiyyah ada keterangan lain. Yaitu sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad dalam kitab Imamatul Masjid, Fadhluha Wa Atsaruha Fid Dakwah, hal. 82. Beliau berkata,"Adapun (para ulama) Hanafiyyah dan Malikiyyah, mereka tidak menjadikan rukun-rukun untuk khutbah Jum`at. Para ulama Hanafiyyah berkata,`Jika (khotib) mencukupkan dengan dzikrullah, (maka) hal itu boleh. Tetapi dzikir ini harus panjang yang dinamakan khutbah`."(Al Maushuli Al Hanafi. Al Ikhtiyar 1/83). Itulah khutbah jum`at menurut fiqh emapat mazhab.

Inti khutbah khutbah (Jum`at) adalah nasihat yang baik; baik dari Al Qur`an ataupun al-Sunnah. Memang benar, memuji Allah (hamdalah) dan syahadatain dalam khutbah, termasuk kesempurnaan khutbah. Dan khutbah itu memuat bacaan sesuatu ayat dari kitab Allah. Tetapi (anggapan), bahwa hal-hal itu merupakan syarat-syarat atau rukun-rukun, yang khutbah itu -dianggap- tidak sah bila tanpa semuanya itu, baik (khotib) meninggalkannya dengan sengaja, lupa, atau salah, maka anggapan seperti itu perlu kajian dan memerlukan dalil yang sharih. Setelah kita mengetahui, bahwa tidak ada dalil yang menyatakan perkara-perkara di atas sebagai rukun khutbah Juma`t, maka khutbah yang tidak ada shalawat Nabi saw hemat kami sah adanya. Sekalipun membaca shalawat saat khutbah pernah dilakukan oleh seorang shahabat.

عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ كَانَ أَبِي مِنْ شُرَطِ عَلِيٍّ رَضِي اللهُ عَنْهُ وَكَانَ تَحْتَ الْمِنْبَرِ فَحَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَعْنِي عَلِيًّا رَضِي اللهُ عَنْهُ فَحَمِدَ اللهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ وَقَالَ خَيْرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ وَالثَّانِي عُمَرُ وَقَالَ يَجْعَلُ اللهُ تَعَالَى الْخَيْرَ حَيْثُ أَحَبَّ

Dari `Aun bin Abi Juhaifah, dia berkata,"Dahulu bapakku termasuk pengawal Ali, dan berada di bawah mimbar. Bapakku bercerita kepadaku, bahwa Ali naik mimbar, lalu memuji Allah Ta`ala dan menyanjungNya, dan bershalawat atas Nabi, dan berkata, `Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya, ialah Abu Bakar, yang kedua ialah Umar,` Ali juga berkata,`Allah menjadikan kebaikan di mana Dia cintai`."(HR.Ahmad dalam Musnad-nya 1/107 dan dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir).

Sebagai tambahan di sini, kami sampaikan keterangan yang berkaitan dengan cara khutbah Nabi -dengan keyakinan kita- bahwa khutbah beliau adalah yang paling baik dan utama. Di antara petunjuk Nabi dalam berkhutbah, bahwa beliau mengucapkan salam kepada hadirin ketika naik mimbar.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى كَانَ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ سَلَّمَ

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi jika telah naik mimbar biasa mengucapkan salam. (Ibn Majah)

Demikian juga beliau biasa membuka khutbah dengan mengucapkan hamdalah, pujian kepada Allah, syahadatain, bacaan ayat-ayat taqwa, dan perkataan amma ba`d. Hal ini antara lain ditunjukkan hadits di bawah ini.

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ (نَحْمَدُهُ وَ) نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا (وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا) مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ (وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ) وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولاَ تَمُوتُنَّ إلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَحَلَقَ مِنْهَازَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْراً وَ نِ سَاءً وَ اتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ) ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ) (أَمَّا بَعْدُ)

Dari Abdullah, dia berkata, Rasulullah telah mengajari kami khutbah untuk keperluan: Alhamdulillah…..., artinya: Segala puji bagi Allah (kami memujiNya), mohon pertolongan kepadaNya, dan memohon ampunan kepadaNya. Serta kami memohon perlindungan kepadaNya dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amal kami. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, tidak ada seorangpun yang menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang memberinya petunjuk. Saya bersaksi, bahwa tidak ada yang diibadahi secara benar kecuali Allah (semata, tidak ada sekutu bagiNya), dan saya bersaksi, bahwa Muhammad n adalah hamba dan utusanNya. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Ali Imran:102). Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An Nisa:1) Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS Al Ahzab: 70-71). (Amma ba`du).(Riwayat Ahmad dan yang lainnya)

Al Albani berkata bahwa khutbah ini (yaitu perkataan `innal hamda lillah) digunakan untuk membuka seluruh khutbah-khutbah, baik khutbah nikah, khutbah Jum`at, atau lainnya." (Khutbah Hajah, hal. 31). Begitu juga dengan Imam Ibnul Qayyim yang mengatakan bahwa Tidaklah beliau (Nabi) berkhutbah, kecuali beliau membukanya dengan hamdalah, membaca dua kalimat syahadat, dan menyebut diri beliau sendiri dengan nama diri beliau." (Zadul Ma`ad 1/189.) Allohu A`lam

Dikirim pada 22 Juli 2012 di Bab. Jum’at


Tanya : Assalamu’alaikum, punten (maaf) Ustadz.. mau Tanya lagi, karena di situs Ustadz belum ada masalah shalat sunnat setelah terjadi akad nikah (ijab qabul) yang dilaksanakan secara berjamaah dengan istri kita. Apakah hal tersebut ada keterangan yang shahih? Mang Rudiman Cibadak Majalaya

Jawab : Wa’alaikumussalam … saya belum mendapatkan keterangan bahwa setelah pernikahan (ijab qabul) ada anjuran shalat berjamaah sepasang pengantin. Hanya ada keterangan bahwa jika nanti istrimu menghampirimu (sebagaian ulama mengatakan bahwa hal ini bertalian dengan sunnah dimalam pertama), supaya suami itu mengajaknya shalat kepada istrinya dua rakaat. Hal ini berdasarkan keterangan:

Abu Sa’id (maula Abu Usaid) pernah menceritakan tentang pernikahannya dengan seorang wanita, yang pada saat nikahnya Abu Said adalah seorang budak (hamba sahaya). Di antara mereka yang menyaksikan pernikahannya adalaj Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzifah ra. Lalu tibalah waktu salat, Abu Dzar bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka mengatakan ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzar) berkata, ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Kemudian setelah shalat selesai mereka mengajariku dan berkata :

إِذَا دَخَلَ عَلَيْكَ أَهْلُكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمْ سَلِّ اللهَ مِنْ خَيْرِ مَا دَخَلَ عَلَيْكَ ، وَتَعَوُّذْ بِهِ مِنْ شَرِّهِ ، ثُمَّ شَأنُكَ وَشَأْنُ أَهْلِكَ

“Jika istrimu menghampirimu, maka shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah kebaikan apa yang datang kepadamu, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelakannya. Kemudian terserah kepadamu dan istrimu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf no. 29733). Albani mengatakan bahwa hadits tersebut adalah shahih.

Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan kepada seseorang yang baru menikah,

فَإِذَا أَتَتْكَ فَأَمَرَهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَيْنِ

“Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkanlah dia shalat dua rakaat di belakangmu”(Ibn Abi Syaibah). Allohu A’lam

Dikirim pada 21 Mei 2012 di Bab. Sholat


Tanya : Bismillah … Assalamu’alaikum. Ustadz Abu Alifa yang saya hormati, terus terang saya secara sendiri terbantu dengan adanya Rublik yang ustadz asuh … Ada satu pertanyaan yang ingin saya sampaikan yaitu mengenai Shalat Taubat. Bagaimana kedudukannya pak ustadz tentang shalat tersebut? Wassalam GBT Bumi Allah

Jawab : Wa’alaikumussalam … Dasar hadits tentang shalat tersebut diantaranya :

“… Ali dari Abu Bakar as-Shidiq ia berkata; Rasulullah saw bersabda : siapa saja dari hamba yang beriman, ia melakukan sebuah dosa, kemudian ia berwhudhu’ dan ia membaguskan wudhu’nya kemudian ia sholat dua rakaat, lalu ia meminta ampun kepada Allah, maka Allah akan ampunkan dosanya. Kemudian beliau membacakan ayat (QS : 3 : 135) :” … Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri., mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui…”

Hadits diatas diantaranya tercatat dalam musnad Imam Ahmad : I: 2,9,10. Imam Tirmidzie dalam kitab al-Sholat : 409 dan kitab at-Tafsir : 3009. Ibnu Jarir dalam Jami’ul-Bayan 7852/7854, Ibnu Majah dalam iqamatis sholat wa sunan fiha, dengan sanad ghorib, memalui Utsman bin Abi Zur’ah, dari Aly bin Rabi’ah dari Asma’ bin al-Hakim al-Fazarie dari Aly bin Abi Tholib, dari Abu Bakr as-Shidik. Hadits ini juga akan kita dapatkan dalam tafsir al-Thabariy, al-Qurthuby, dan Ibnu Katsir dalam tafsir surah AliImran 135.

Dalam sanad hadits tersebut ada rawi yang bernama Asma’ bin al-Hakim al-Fazary, sebagian ulama berselisih tentangnya, Imam ad-Dzahabi mentsiqatkan, Ibnu Hibban mengatakan; ia adalah seorang yang tsiqat namun sering salah dalam meriwayatkan dengan demikian Asma’ bin al-Hakim al-Fuzarie adalah seorang yang terdapat kelemahan pada hafalannya. Imam Bukhorie menulisnya dalam Tarikhul-Kabir dan tidak memberikan komentar (Jarh wa Ta’dil), Ibnu Hajr berpendapat sanad hadits ini maqbul. Dalam tahdzibul kamal dijelaskan sebab kontroversialnya Asma’ bin al-Hakim al-Fuzariy,, adalah disebabkan sediktnya ia dalam meriwayatkan hadits. Imam as-Syuyutie meng-hasankan, dan Imam as-Syaukani men-shohihkanya.

Para muhaditsin dan ulama yang menekuni ilmu rijal berbeda pendapat dalam mensikapinya. Jumhur ulama menerima perawi dalam bentuk yang seperti ini, mereka berhujjah dengan al-aslu baroatut-dimmah, seseorang tidak bisa dianggap lemah kecuali sudah ada bukti dan kesaksian atas kelemahannya. Jika seorang rawi ditulis oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab jarh wa ta’dil-nya ataupun imam Bukhori dalam tarikh-nya maka diamnya dua imam tersebut adalah sebagai bentuk ta’dil atas rawi yang ditulisnya, sebab kebiasaan mereka adalah menulis jarh (celaan) jika memang ada pada seseorang, namun jika tidak, maka diamnya mereka adalah teranggap sebagai bentuk ta’dil.

Sementara Ibnu al-Qatthan manganggap kekosongan jarh atau ta’dil (dengan ditulisnya nama seorang rowi, dan tanpa diberikan komentar atasnya baik itu berupa jarh maupun ta’dil, sebagai bentuk tajhil (bentuk isyarat bahwa perawi tersebut tidak dikenal perihal dan kedudukannya).

Sedangkan Ibnu Daqieq al-Ied terkadang sepakat dan mengambil jalan Ibnu al-Qathan, dan terkadang juga mengambil jalan dan sepakat dengan jumhur. Dengan berbagai pertimbangan, yakni melihat kitab para ulama’ jarh wa ta’dil yang lainya. Maka jika seseorang masuk dalam kitab yang memuat deretan nama perawi yang dianggap tsiqat, atau tidak didapatinya nama perawi tersebut dalam kitab yang terkumpul didalamnya nama-nama orang yang lemah atau maudhu’at, maka diamnya Imam al-Bukhori dan Ibnu Adi dianggapsebagai bentuk ta’dil.

Ibnu Qudamah al Maqdisi dalam al Mughnie (pasal sholat taubat) menggunakan dalil riwayat diatas sebagai dalil akan disyariatkannya shalat taubat. Kemudian beliau menambahkan ” dan yang paling penting adalah bahwa taubat, istighfar dan doa selalu saja teriring dalam setiap sholat. Sedangkan do’a dan permohonan ampun dengan didahului amal kebaikan seperti sholat dan bacaan al Qur’an sangat diharapkan untuk dikabulkan”. Sayyid Sabiq juga dalam fiqh sunnah juga memberikan judul tersendiri tentang shalat taubah dari deretan shalat sunnah dengan menggunakan dalil yang sama. Sedangkan Wahbah Zuhaili nampak berbeda diantara yang lainnya. Dalam fiqh islami wa adillatuha yang ditulis oleh beliau mengunakan hadits berikut sebagai dasar di sunnahkanya.

عن أمير المؤمنين عثمان بن عفان- رضي الله عنه- أنه توضأ لهم وضوء النبي صلى الله عليه وسلم ثم قال: سمعت رسول الله يقول: ” من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر له ما تقدم من ذنبه ” (متفق عليه)

Dari amirul mu’minin Uthman bin Afan ra, sesungguhnya beliau mencontohkan kepada orang-orang bagaimana wudhu’nya Nabi saw kemudian berkata’ “aku mendengar Rasulullah saw bersabada :” … barangsiapa yang berwudhu’ seperti wudhu’ ku ini kemudian sholat dua rakaat, tidak berkata kata antara wudhu’ dan sholat, maka akan Allah ampunkan dosanya.

Demikian pandangan para ahli hadits mengenai hadits shalat Taubat. Allahu A’lam

Dikirim pada 29 Maret 2012 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb.

Bismillah maaf pa ustadz saya ingin bertanya tentang shalat dhuha

apakah shalat dhuha diperbolehkan shalat langsung 4 rakaat lalu salam atau harus 2 rakaat lalu salam jika kita ingin shalat dhuha 12 rakaat karena banyak yang menyarankan bahwa shalat dhuha 2 rakaat lalu salam. Andri Maulana

Jawab : Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Shalat dhuha adalah shalat sunat yang dilakukan saat matahari mulai terik (panas) dipagi hari.

“… Bahwasannya Zaid bin Arqam, pernah melihat suatu kaum yang mengerjakan shalat Dhuha. Lalu dia berkata “Tidaklah mereka mengetahui bahwa shalat selain pada saat ini adalah lebih baik, karena sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda : Shalat awaabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta sudah merasa kepanasan”.(HR. Muslim kitab Shalaatul Musaafirin wa Qasruha, bab Shalatut Awaabiin Hiina Tarmudhil Fishaal, hadits no. 748)

Sedangkan jumlah rakaat shalat dhuha adalah dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat atau bahkan duabelas rakaat.

Dilakukan boleh 2 rakaat sebagaimana yang dijelaskan dalam keterangan dibawah ini.

“Bagi masing-masing ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahtil (Laa Ilaaha Illallaah) adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik pun juga sedekah, dan mencegah kemunkaran juga sedekah. Dan semua itu bisa disetarakan ganjarannya dengan dua rakaat shalat Dhuha”.(HR.Muslim dari Abu Dzar (lihat shahih Muslim kitab Shalaatut Musaafirin wa Qashruha, bab Istihbaabu Shalaatidh Dhuha wa Anna Aqallaha Rak’aatani wa Akmalaha Tsamaanu Raka’aatin wa Ausathuha Arba’u Raka’aatin au Sittin wal Hatstsu ‘alal Muhaafazhati ‘alaiha, no. 720. Lihat juga kitab, Jami’ul Ushuul IX/436)

Shalat Dhuha yang dikerjakan enam rakaat, ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik ra : “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat Dhuha enam rakaat” (HR.Tirmidzy)

Dan shalat Dhuha yang dikerjakan delapan rakaat berdasarkan hadits Ummu Hani, di mana dia bercerita :”Pada masa pembebasan kota Makkah, dia mendatangi Rasulullah saw ketika beliau berada di atas tempat tinggi di Makkah. Rasulullah saw beranjak menuju tempat mandinya, lalu Fathimah memasang tabir untuk beliau. Selanjutnya, Fatimah mengambilkan kain beliau dan menyelimutkannya kepada beliau. Setelah itu, beliau mengerjakan shalat Dhuha delapan rekaat”. (HR.Bukhary Muslim).

Namun sebagaian ulama memandang bahwa hadits ini bukan bertalian dengan shalat dhuha, akan tetapi memberi isyarat bahwa Nabi saw shalat Al-Fath (pembebasan) Makkah. Lihat kitab, Zaadul Ma’ad III/4100 dan juga Aunul Ma’buud I/497.

Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan dua belas rakaat ditunjukkan oleh hadits Abud Darda ra, di mana dia bercerita, Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barangsiapa shalat empat rakaat, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang danugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya” (HR Ath-Thabrani).

Namun validitas hadits inipun diperselisihkan disebabkan ada rawi yang bernama Musa bin Ya’qub Az-Zam’i, yang oleh Ibn al-Madini dinilai dhaif (lemah) dan Albani menilai bahwa hadits ini hasan. Allohu A’lam

Dikirim pada 22 Maret 2012 di Bab. Sholat


Tanya : Bismillah … maaf ustadz Abu Alifa saya ingin memahami masalah shalat Arba’in. Apakah ada keterangannya? Kalau ada bagaimana kedudukannya? Dan bolehkah kita shalat sebanyak mungin di masjid tersebut (Nabawi)! Hamba Allah Jawa Barat

Jawab : Hadits yang dipakai sandaran amal shalat Arba’in adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (HR. Ahmad juz 4, hal. 314, no. 12584) dari Anas Bin Malik ra , bahwasannya Nabi saw pernah bersabda :

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً لا يَفُوتُهُ صَلاةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ ، وَنَجَاةٌ مِنْ الْعَذَابِ ، وَبَرِئَ مِنْ النِّفَاقِ

Siapa saja yang pernah shalat di Masjidku sebanyak 40 kali shalat, ia tidak ketinggalan shalat (terus menerus), maka niscaya dituliskan baginya kelepasan dari api neraka dan keselamatan dari adzab dan terlepas dari kemunafikan.”

Ada perbedaan pandangan dalam menilai derajat hadits tersebut diatas.

Pertama, hadits diatas termasuk katagori lemah (dhaif) karena pada sanad hadits tersebut ada rawi yang bernama Nubaith bin Umar. Nubaith bukanlah seorang perawi dari perawi-perawi yang ada di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim bahkan bukan perawi yang ada di dalam kitab-kitab hadits yang enam, yaitu Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan An Nasai. Nubaith adalah seorang perawi yang majhul hal, karena hampir semua dari para ahli hadits yang menyatakan dia adalah perawi yang tidak tsiqah, Al Albani menyatakan hadits ini “Lemah” (Silsilatu al- ahaadiitsi al-dla`iifah wa al-maudluu`ah juz 1, hal. 540, no. 364), bahkan dalam kitab Dha’ifut Targhib, no hadits: 755 bahwa hadits tersebut masuk dalam kategori mungkar (istilah di dalam ilmu hadits yang maksudnya adalah: hadits yang lemah menyelisihi hadits yang shahih).

Kedua, Ibnu Hibban menyatakan bahwa Nubaith bin Umar adalah perawi yang tsiqah (terpercaya). Al Haitsamiy didalam Al-Zawaid menyebutkan bahwa Tirmidzi meriwayatkan sebagian. Imam Ahmad juga meriwayatkannya serta Thabrani meriwayatkannya didalam al Ausath dan orang-orangnya bisa dipercaya. Al Mundziriy didalam at-Targhib (2/136) mengatakan : Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan para perawinya adalah perawi-perawi yang shahih begitu pula dengan Thabrani didalam al-Ausath dan pada Tirmidzi dengan lafazh lainnya.

Itulah beberapa pandangan muhadditsin mengenai status dan derajat hadits diatas.

Adapun mengenai shalat sebanyak mungkin dimasjid Nabawi atau-pun dimasjid al-Haram, tanpa dikaitkan dengan shalat Arbain ataupun dikaitkan dengan pelaksanaan Haji, tentu saja diajurkan. Hal ini berdasarkan keterangan.

Dari Abu Hurairah r.a. ia pernah informasi bahwa Nabi saw., ”Tidaklah pelana kuda diikat (untuk bepergian), kecuali ke tiga masjid: (pertama) masjid ini, (kedua) Masjid Haram, dan (ketiga) Masjidil Aqsh.,” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari III:63 no:1189, Muslim IIL1014 no:1397, ’Aunul Ma’bud VI:15 no:2017 dan Nasa’i II:37).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali di Masjidil Haram.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari III:63 no:1190, Muslim II:1012 no:1394, Tirmidzi I:204 no:324, Nasa’i II:35). Allohu A’lam

Dikirim pada 17 Maret 2012 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamualaikum ustad...ada ga bacaan khusus setelah kita melaksanakan sholat dhuha..apa hadistnya?...Baim Murai



Jawab : Wa`alaikumussalam, Kekasihku (Nabi Muhammad) mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dalam tiap bulan, melakukan dua rakaat shalat dhuha dan melakukan sholat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim dari Abi Hurairah ra)



Dalam keterangan lain :

Tiap pagi ada kewajiban sedekah bagi tiap ruas tulang kalian, Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Muslim dari Abi Dzar ra)



Sementara bacaan surat (selain al-fatihah) dalam shalat dhuha Nabi saw tidak mencontohkan secara khusus harus membaca surat ini dan itu. Hal ini tentu disesuaikan dengan hafalan kita terhadap ayat al-Quran. Jadi jangan punya anggapan bahwa dalam shalat dhuha itu mesti bacaan surat tertentu. Hal ini belum ditemukan dalil yang mendasari amalan tersebut. Dan belum ditemukan keterangan yang menyebutkan bacaan-bacaan khusus setelah melaksanakan shalat dhuha. Allohu A`lam

Dikirim pada 05 Oktober 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamu’alaikum, pak Ustadz Abu Alifa Shihab yang saya hormati, dalam shalat berjamaah maghrib, isya dan shubuh pada dua rakaatnya senantiasa dijaharkan bacaan imamnya. Apakah boleh kita menjaharkan bacaan tersebut jika shalat sendirian? Wassalam. YKT Cilacap

Jawab : Wa’alaikumussaam, jahar dan tidaknya bacaan dalam shalat bukan terletak pada sisi berjamaah tidaknya shalat, akan tetapi pada bacaan yang pernah Nabi saw contohkan. Nabi saw menjaharkan bacaannya di dua rakaat pertama shalat magrib dan Isya, dan juga shalat shubuh atau shalat jumat.. Bahkan Nabi saw menjaharkan dalam dua shalat ied (hari raya) juga shalat gerhana (khusuf/kusuf). Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Agustus 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Pak Ustadz Abu Alifa Shihab, Saya ingin bertanya seputar shalat. Seseorang salah mempelajari/tidak mengerti gerakan shalat (waktu duduk diantara dua sujud) waktu masih kecil dan terbawa sampai ia dewasa. Apakah shalat-shalat yang ia kerjakan dengan gerakan yang salah sebelumnya tidak diterimah oleh Allah swt. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih banyak. Wassalam, Wida.

Jawab : Diterima tidaknya shalat seseorang kita tidak tahu. Hanya saja jika kesalahan itu disebabkan ketidaktahuan, dan kesalahan yang tidak disengaja, insya Allah hal tersebut diluar keinginan kita dan Allah memaafkan kita. Maka tentu dari mulai sekarang (sebagai tanda keliru dulu) diperbaiki shalat kita. Allahu A’lam

Dikirim pada 05 Agustus 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Bismillah, pak Ustadz Abu Alifa yang saya hormati, saya ingin bertanya tentang shalat tarawih. apakah shalat tarawih bisa dikerjakan tidak berjamaah (munfarid)? terima kasih atas jawabannya, salamalaikum wr. wb. YUS RAA

Jawab : Shalat yang dilaksanakan secara berjamaah pada malam-malam bulan Ramadhan dinamakan Tarawih. (Syarh Shahih Muslim, 6/39 dan Fathul Bari, 4/294). Karena para jamaah yang pertama kali bekumpul untuk shalat tarawih beristirahat setelah dua kali salam .–(Lisanul ‘Arab, 2/462 dan Fathul Bari, 4/294).

Hukum shalat Tarawih sendiri adalah mustahab (sunat). Hal ini berdasarkan beberapa keterangan.

"....Yang paling utama shalat setelah yang wajib (shalat lima waktu) adalah shalat malam. (HR.Bukhary Muslim)

“Barangsiapa Qiyam Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan dari Allah , niscaya diampuni dosa yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)

“Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah shalat tarawih dan ulama telah bersepakat bahwa shalat tarawih hukumnya mustahab (sunnah).” (Syarh Shahih Muslim, 6/282). Dan beliau menyatakan pula tentang kesepakatan para ulama tentang sunnahnya hukum shalat tarawih ini dalam Syarh Shahih Muslim (5/140) dan Al-Majmu’ (3/526). Ketika Al-Imam An-Nawawi menafsirkan qiyamu Ramadhan dengan shalat tarawih maka Al-Hafizh Ibnu Hajar memperjelas kembali tentang hal tersebut: “Maksudnya bahwa qiyamu Ramadhan dapat diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih dan bukanlah yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan hanya diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih saja (dan meniadakan amalan lainnya).” (Fathul Bari, 4/295)

Adapun mengenai berjamaah dan munfarid dalam shalat tersebut dan mana yang lebih utama, paling tidak ada dua pendapat. Namun hal ini menunjukkan bahwa shalat tarawih boleh dilakukan secara munfarid atau berjamah.

Pertama, Pendapat yang mengatakan lebih utama berjamaah. Diantara yang berpendapat ini adala Imam Syafi’i dan sebagian besar shahabat dan pengikutnya, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad juga sebagian pengikut Imam Malik. Bahkan ini merupakan pendapat jumhur ulama. Pendapat pertama ini berdasarkan alasan dan keterangan :

1. Sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi saw), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau n bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan di wajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih dari Aisyah ra)

2. Perbuatan Umar Ibn al-Khathab dan shahabat lain (Syarh Shahih Muslim, 6/282), ketika ‘Umar bin Al-Khathab melihat manusia shalat di masjid pada malam bulan Ramadhan, maka sebagian mereka ada yang shalat sendirian dan ada pula yang shalat secara berjamaah kemudian beliau mengumpulkan manusia dalam satu jamaah dan dipilihlah Ubai bin Ka’ab sebagai imam (lihat Shahih Al-Bukhari pada kitab Shalat Tarawih).



3. “Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya (makmum) qiyam satu malam penuh.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (1/380). Berkenaan dengan hadits di atas, Al-Imam Ibnu Qudamah mengatakan: “Dan hadits ini adalah khusus pada qiyamu Ramadhan (tarawih).” (Al-Mughni, 2/606)

Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa shalat Tarawih lebih utama dilakukan menyendiri. Inilah pendapat Al-Imam Malik dan Abu Yusuf serta sebagian pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i. Hal ini sebutkan pula oleh Al-Imam An-Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 6/282). Adapun dalil yang dijadikan sandaran diantaranya :

Hadits dari shahabat Zaid bin Tsabit ra, sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Wahai manusia, shalatlah di rumah kalian! Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat yang diwajibkan.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dengan demikian, shalat Tarawih boleh dilakukan dengan berjamah atau-pun munfarid. Hemat penulis berjamaah dalam shalat tarawih (Qiyamu Ramadhan) lebih utama. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 Agustus 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad.. bagaimanakah hukumnya jika kita shalat dirumah orang kafir..?? trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm. Rizal Syahri

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Belum didapatkan dalil larangan kepada kita melaksanakan shalat ditempat atau rumah orang kafir. Bahkan dalam keterangan disebutkan.

جعلت لى اللأرض طهورا ومسجدا فأينما رجل أدركته الصلاة فليصل حيث أدركته . متفق عليه

Bumi diciptakan untukku dalam keadaan suci ( bersih ) dan sebagai masjid ( tempat untuk sholat ) maka siapa saja yang mendapatkan waktu sholat maka sholatlah dimana saja ia berada.(Mutafaq Alaih)

Ada dua tempat yang dilarang kita melaksanakan shalat berdasarkan hadits yang shahih . Sabda Rasulullah saw :

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاًّ لْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Tanah semuanya adalah masjid melainkan kuburan dan tempat kamar mandi (WC).” (HR. Abu Daud, no. 492. Tirmizi, no. 317, Ibnu Majah, no. 745 dari Abi Said Al-Khudri ra).

Pada dasarnya shalat yang dilakukan dirumah non-muslim secara hukum sah, apalagi tidak didapatkan tempat untuk shalat ditempat tersebut. Akan tetapi jika didaerah tersebut terdapat mesjid, maka tentu alangkah tepatnya kita shalat dimasjid tersebut. Allohu A’lam

Dikirim pada 04 Agustus 2011 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamu’alaikum, pak ustadz mohon penjelasan mengenai bacaan beserta dzikir setelah sholat yang di contohkan oleh Nabi. Dicky Ferdiansyah


Jawab : Wa’alaikumussalam, Diantara dzikir yang pernah diajarkan Nabi saw selesai shalat fardhu adalah :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثَلاَثاً) اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَـا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ(

Astagfirullah 3x

ALLAHUMA ANTA SALAM WA MINKA SALAM TABARAKTA YA DZAL JALALI WAL IKRAM



“Aku minta ampun kepada Allah “(dibaca tiga kali), “ Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia “.

(HR.Muslim: 1/414).



Kemudian membaca :





لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، لاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ



Laailaaha illallah wahdahu la syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wa huwa ’alaa kulli syai’in Qodir Allahuma la mani’a lima a’thoita, wala mu’tia lima mana’ta, wala yanfa’u dzal jaddi minkal jadd



“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya Kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah. Nasib baik seseorang tiada berguna untuk menyelamatkan ancaman dari-Mu (HR.Bukhari: 1/225, Muslim: 1/414.)



Kemudian membaca :





سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَاللهُ أَكْبَرُ (ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْـدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ





Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x





digenapkan“keseratusnya dengan membaca :





Laailaaha illallah wahdahu la syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wa huwa ’alaa kulli syai’in Qodir

Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar “ (di-baca 33 kali), “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu “.



“Siapa yang mengucapkannya selesai shalat, Aku (Allah) ampuni kesalahan-kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan”. (HR. Muslim 1/418 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)



Kemudian Membaca Ayat Kursi yang artinya :





Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah), melainkan Dia yang hidup kekal, lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. HR.Nasa’i dalam Amalul Yaumi Walailah, no: 100, Ibnu Sunny, no. 121, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Jami’: 5/339, dan Silsilah Hadits Shahih: 2/697, no. 972.





Kemudian membaca :

Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas (HR. Abu Daud: 2/68, lihat Shahih Tirmidzi: 2/8) ketiga surat tersebut disebut juga “Al Mu’awwizaat”, lihat Fathul baari: 9/62. Allohu A’lam



Dikirim pada 31 Juli 2011 di Bab. Do’a

KAIFIYAH (TATACARA) SHALAT GERHANA



Tidak ada satu kejadian di antara sekian banyak kejadian yang ditampakkan Allah swt di hadapan hamba-Nya, melainkan agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kekuasaan yang Allah swt tampakkan tersebut. Yang pada akhirnya, kita dituntut untuk selalu mawas diri dan melakukan muhasabah.

Di antara bukti kekuasaan Allah swt itu, ialah terjadinya gerhana. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu saw justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. (Muttafaqun ‘alaihi).

PENGERTIAN GERHANA

Dalam istilah fuqaha dinamakan kusûf. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa.1 Jadi, shalat gerhana, ialah shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya.

HUKUM SHALAT GERHANA

Jumhur ulama’ berpendapat, shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. Abu ‘Awanah Rahimahullah menegaskan wajibnya shalat gerhana matahari. Demikian pula riwayat dari Abu Hanifah Rahimahullah, beliau memiliki pendapat yang sama. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau menempatkannya seperti shalat Jum’at. Demikian pula Ibnu Qudamah Rahimahullah berpendapat, bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah.2

Adapun yang lebih kuat, ialah pendapat yang mengatakan wajib, berdasarkan perintah yang datang dari Nabi saw. Imam asy-Syaukani juga menguatkan pendapat ini. Demikian pula Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah dan Syaikh al-Albâni Rahimahullah.3 Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih ‘Utsaimin Rahimahullah berkata: “Sebagian ulama berpendapat, shalat gerhana wajib hukumnya, berdasarkan sabda Nabi saw. Jika kalian melihatnya, berdzikirlah,shalatlah ... (Mutafaq Alaih)

Sesungguhnya, gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi saw berkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Semua itu menjadi satu alasan kuat wajibnya perkara ini, kalaupun kita katakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi saw sangat menekankan tentang kejadian ini, kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya. Maka, pendapat ini perlu ditilik ulang, bagaimana bisa dikatakan sesuatu yang menakutkan kemudian dengan sengaja kita meninggalkannya? Bahkan seolah hanya kejadian
biasa saja? Dimanakah rasa takut?

Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib, memiliki argumen sangat kuat. Sehingga jika ada manusia yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di ladang; semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita diperintahkan untuk mewaspdainya. Maka pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah.4

Adapun shalat gerhana bulan, terdapat dua pendapat yang berbeda dari kalangan ulama

Pendapat pertama. Sunnah muakkadah, dan dilakukan secara berjama’ah seperti halnya shalat gerhana matahari. Demikian ini pendapat Imam asy- Syâfi’i, Ahmad, Dawud Ibnu Hazm. Dan pendapat senada juga datang dari ‘Atha, Hasan, an-Nakha`i, Ishâq dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas ra.5 Dalil mereka:

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali. (Muttafqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Tidak dilakukan secara berjama’ah. Demikian ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Mâlik.6 Dalilnya, bahwa pada umumnya, pelaksanaan shalat gerhana bulan pada malam hari lebih berat dari pada pelaksanaannya saat siang hari. Sementara itu belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw menunaikannya secara berjama’ah, padahal kejadian gerhana bulan lebih sering dari pada kejadian gerhana matahari

Manakah pendapat yang kuat? Dalam hal ini, ialah pendapat pertama, karena Nabi saw memerintahkan kepada umatnya untuk menunaikan keduanya tanpa ada pengecualian antara yang satu dengan lainnya (gerhana matahari dan bulan).7 Sebagaimana di dalam hadits disebutkan :


Maka Rasulullah saw keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya. (Muttafaqun ‘alaihi).

WAKTU SHALAT GERHANA

Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana tersebut berakhir. Berdasarkan sabda Nabi saw :

Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang. (Muttafaqun ‘alaihi).

KAPAN GERHANA DIANGGAP USAI?

Shalat gerhana matahari tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sedia kala, dan (2) gerhana terjadi tatkala matahari terbenam. Demikian pula halnya dengan shalat gerhana bulan, tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sedia kala, dan (2) saat terbit matahari.9





AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA :





1. Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi saw :

Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. (Muttafaqun ‘alaihi).

2. Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Maka Rasulullah saw keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya. (Muttafaqun ‘alaihi).

3. Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr ra berkata:

Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi saw tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat… (Muttafaqun ‘alaihi).

4. Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr ra, ia berkata:

Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah saw diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri).

5. Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah ra berkata:


Sesungguhnya Nabi saw , tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri).





TATA CARA SHALAT GERHANA

Tidak ada perbedaan di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda.

Pendapat pertama. Imam Mâlik, Syâfi’i, dan Ahmad, mereka berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at. Pada setiap raka’at ada dua kali berdiri, dua kali membaca, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas ra , ia berkata:

Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi saw , maka beliau shalat dan orang-orang ikut shalat bersamanya. Beliau berdiri sangat lama (seperti) membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dan sangat lama ruku’nya, lalu berdiri, lama sekali berdirinya namun berdiri yang kedua lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’, lama sekali ruku’nya namun ruku’ kedua lebih pendek dari ruku’ pertama. (Muttafaqun alaih)

Hadits kedua, dari ‘Aisyah ra, ia berkata :

Bahwasanya Rasulullah saw pernah melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana matahari. Rasulullah berdiri kemudian bertakbir kemudian membaca, panjang sekali bacaannya, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, kemudian mengangkat kepalanya (i’tidal) seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah,” kemudian berdiri sebagaimana berdiri yang pertama, kemudian membaca, panjang sekali bacaannya namun bacaan yang kedua lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, panjang sekali sujudnya, kemudian dia berbuat pada raka’at yang kedua sebagimana yang dilakukan pada raka’at pertama, kemudian salam… (Muttafaqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at, dan setiap raka’at satu kali berdiri, satu ruku dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya. Dalil yang disebutkan Abu Hanifah dan yang senada dengannya, ialah hadits Abu Bakrah, ia berkata:

Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah saw, maka Rasulullah keluar dari rumahnya seraya menyeret selendangnya sampai akhirnya tiba di masjid. Orang-orang pun ikut melakukan apa yang dilakukannya, kemudian Rasulullah saw shalat bersama mereka dua raka’at. (HR Bukhâri, an-Nasâ‘i).

Dari pendapat di atas, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama (jumhur ulama’), berdasarkan beberapa hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Karena pendapat Abu Hanifah Rahimahullah dan orang-orang yang sependapat dengannya, riwayat yang mereka sebutkan bersifat mutlak (umum), sedangkan riwayat yang dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah muqayyad.10 Syaikh al-Albâni Rahimahullah berkata : 11 “Ringkas kata, dalam masalah cara shalat gerhana yang benar ialah dua raka’at, yang pada setiap raka’at terdapat dua ruku’, sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi saw dengan riwayat yang shahih”. Wallahu a’lam.

Ringkasan tata cara shalat gerhana sebagai berikut.

1. Bertakbir, membaca doa iftitah, ta’awudz, membaca surat al-Fâtihah, dan membaca surat panjang, seperti al- Baqarah.

2. Ruku’ dengan ruku’ yang panjang.

3. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan : Sami’a-llohuliman hamidah ..



4. Tidak sujud (setelah bangkit dari ruku’), akan tetapi membaca surat al-Fatihah dan surat yang lebih ringan dari yang pertama.

5. Kemudian ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, hanya saja lebih ringan dari ruku’ yang pertama.

6. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan : Sami’al-llohu liman hamidah



7. Kemudian sujud, lalu duduk antara dua sujud, lalu sujud lagi.

8. Kemudian berdiri ke raka’at kedua, dan selanjutnya melakukan seperti yang dilakukan pada raka’at pertama

Demikian secara ringkas penjelasan tentang shalat gerhana, semoga bermanfaat. Allohu A’lam




Dikirim pada 15 Juni 2011 di KAJIAN UTAMA

Tanya : Bismillah, pak Ustadz Abu Alifa yang saya hormati. Ketika shalat (terutama bacaan yang dinyaringkan), apakah Basmallah itu dibaca, atau kita memulai dengan alhamdulillah. Mohon penjelasannya, sebab sebagian mengatakan bahwa bismillah tidak dibaca, baik dijaharkan maupun pelan. Wassalam KL Karawang


Jawab : Perlu diketahui bahwa basmallah merupakan bagian dari al-Quran. Dan tidak semua surat dalam Al-Quran diawali dengan Basmallah. Dengan demikian kita bisa memahami bahwa pencantuman kalimat tersebut terutama oleh para shahabat dalam dalam pengumpulan al-Quran bukan semata-mata atas inisiatif pengumpul al-Quran. Apa yang dilakukan oleh para shahabat tentu berdasarkan apa yang didengar dan disampaikan oleh Nabi saw.


Oleh karenanya saat kita membaca dalam shalat, maka apabila membaca yang disurat itu diawali dengan kalimat tersebut, maka tentu kita membacanya. Yang jadi masalah apakah kalimat Basmalah itu dinyaringkan atau pelan? Dalam hal ini para ulama membolehklan kedua-duanya.


Diantara Dalil tentang Basmalah


Dari Ummi Salamah : Sesungguhnya ia pernah ditanya tentang bacaan Rasul saw (dalam shalat). Ia (Ummu Salamah) menjawab : Biasanya Nabi memutus-mutuskan bacaannya satu ayat-satu ayat. (Beliau membaca) Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi rabbil-’alamin ... (HR. Ahmad dan Abu Dawud)


Dari Qatadah berkata : Pernah ditanya Anas tentang bagaimana bacaan Nabi saw. Ia jawab : (Bacaannya) panjang . Lalu membaca Bismilahirrahmanirrahim, (beliau) memanjangkan (kalimat) ar-Rahman, dan memanjangkan (kalimat) ar-Rahim ..(HR.Bukhary). Dan masih ada dalil lain yang intinya bahwa basmalah itu dibaca.


Namun dalam kesempatan lain Nabi saw pernah tidak mengeraskan (bukan tidak dibaca) kalimat basmallah tersebut. Dan Ibn Abbas menjelaskan mengenai peristiwa disirkannya (dipelabkannya) lapadz Bismillah. "...Saat Nabi menjaharkan (menyaringkan) Bismillah.. orang-orang musyrikin memperolokan (lafadz itu) dengan mengatakan : Bahwa Muhammad (sering) menyebut Ilah (sembahan) orang Yamamah. (karena) Musailamah al-Kadzdzab mempunyai nama Rohman..., maka Alloh menurunkan ayat al-Isra 110. (HR.Thabrany).


Memang sebagaian ada yang berpendapat bahwa Nabi tidak membaca Basmallah kecuali pada rakaat yang pertama dengan dalil :


Dari Abi Hurairah berkata : Keadaan Rasulullah saw apabila bangkit kepada rakaat yang kedua, memulai bacaannya dengan "Alhamdulillah..." dan tidak diam terlebih dahulu. (HR.Muslim)


Hadits diatas menunjukkan bahwa bukan tidak membaca Bismillah, akan tetapi pada rakaat yang kedua itu bacaan Nabi itu diawali dengan surat Alhamdu (al-Fathihah), tidakl diam dulu seperti padsa rakaat yang pertama. Karena pada rakaat yang pertama seperti yang Aisyah riwayatkan, bahwa beliau diam terlebih dahulu. Ketika ditanya apa yang dibaca? Nabi menjelaskan dianataranya Allohumma ba’id baini ...(do’a iftitah). Sedangkan dirakaat selanjutnya Nabi tidak diam dulu, akan tetapi langsung membaca suarat Al-Fatihah yang sering disebut juga suarat Al-Hamdu> Allohu A’lam

Dikirim pada 02 Juni 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Ustadz apakah duduk menjelang bangkit dari sujud yang kedua, untuk bangkit ke rakaat kedua atau ke rakaat keempat itu disyariatkan? GH Bojong Gede Bogor

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Dikalangan para ulama ada perbedaan dalam memandang hadits tentang duduk menjelang bangkit kerakaat itu. Pendapat pertama, yang menganjurkan secara mutlak bahwa hal tersebut dalam kondisi apapun dianjurkan. Salah satu alasannya adalah hadits Malik bin Huwairits ra :

أنه رأى النبي صلى الله عليه و سلم يصلي فإذا كان في وتر من صلاته لم ينهض حتى يستوي قاعدا

Bahwasanya beliau melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, apabila beliau selesai dari rakaat ganjil (satu dan tiga) maka beliau tidak bangkit sampai duduk dengan tenang” (HR. Al-Bukhary)

Berkata Asy-Syaukany:

“Di dalam hadist ini ada dalil disyari’atkannya duduk, yaitu duduk setelah sujud kedua sebelum bangkit ke rakaat kedua dan ke empat” (Nailu al-Authar 2/48)

Pendapat Kedua. yang menyatakan bahwa duduk itu tidak dianjurkan bahkan langsung bangkit sebagaimana madzhab Hambali. Hal ini disebabkan menyalahi hadits-hadits yang tidak menyebutkan duduk tersebut.


An-Nu’man bin Abi "Iyas berkata : Kami mendapatkan bukan hanya sekali dua kali dari para shahabat Nabi saw. Maka apabila bangkit dari sujud diawal rakaat dan pada rakaat ketiga (mereka) langsung berdiri tanpa duduk (terlebih dahulu. (Nailu al-Authar 2 : 103)

"... Lalu Nabi sujud hingga sempurna sujudnya, lalu bangkit sampai sempurna duduknya (duduk diantara dua sujud), lalu sujud sampai sempurna sujudnya, kemudian bangkit sampai sempurna berdirinya. (HR. Bukhary)

Pendapat Ketiga, menganggap bahwa duduk seperti ini boleh dilakukan bila duduk tersebut dibutuhkan seperti bagi orang yang lanjut usia atau sakit-sakitan yang kalau langsung berdiri mata berkunang-kunang, sementara bila tidak dibutuhkan maka duduk ini tidak mesti dilakukan. Oleh karena itu para ulama menamakan duduk model seperti ini dinamakan jalsah istirahah (duduk istirahat). Fathu al-Baary 2 : 302

"...Yang jelas bahwa duduk seperti ini dilakukan oleh Nabi saw ketika beliau (badannya) gemuk dan sudah mulai lemah (fisiknya) .. (Ta’liq bulughu al-Maram 61). Ibnu Al-Qoyyim mengatakan ... bahwa duduk seperti ini bukan merupakan sunnat shalat akan tetapi dilakukan karena suatui kondisi (Fiqh al-Sunnah I : 208).

Pandangan yang terakhir inilah yang dianggap oleh sebagian ulama, bahwa duduk tersebut boleh dilakukan jika dibutuhkan. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 April 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamu’alaikum WR.Wb.


Pak Ustadz bolehkah ketika sedang shalat kita berjalan, umpamanya shaf depan ada yang ditinggalkan (masih kosong) karena orang itu batal lantas kita menempati posisi itu? Apakah pindah posisi dengan berjalan bisa membatalkan shalat kita? Wass ..RWD Kendari

Jawab : Wa’alikumussalam Wr.Wb.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata ; “Aku pernah shalat bersama Nabi saw pada suatu malam. Lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian Rasulullahsaw memegang kepalaku dari belakangku, lalu beliau tempatkan aku disebelah kanannya " (Shahih Riwayat Bukhari I/177)


Dari Jab ir bin Abdullah, ia berkata ; “Nabi saw sedang berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri disebelah kiri beliau, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga beliau menempatkan aku sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliau mendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya”. (Shahih Riwayat Muslim & Abu Dawud)


Dengan keterangan tersebut berpindah dalam shalat apalagi memenuhi syarat berjamaah seperti mengisi shaf yang masih kosong tidak membatalkan shalat. Bahkan dalam sebuah keterangan Nabi saw pernah shalat sambil menggendong anak.


Dari Abi Qatadah Al Anshariy ia berkata, "Aku pernah melihat Nabi saw pernah mengimami manusia sedangkan Umamah binti Abi Al Ash dan dia ini anak perempuannya Zinab binti Nabi saw berada di pundak beliau. Maka apabila ruku beliau meletakkannya dan apabila beliau bangkit dari sujud beliau kembalikannya (yakni ke tempat semula ke atas pundak beliau). Hadits shahih dikeluarkan oleh Bukhari (no.516 dan 5996) dan Muslim (Juz 2 hal. 73 dan 74) dan Abu Dawud (no. 917, 918, 919) dan lain-lain. Lafadz hadits oleh Imam Muslim. Allohu A’lam



Dikirim pada 12 Maret 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamu’alaikum warahmataullahi wabarakaatuh

Ustadz !! ana mayu tanya adakah dalil tentang :
1. bolehnya jama qoshor shalat jum’at dan ashar?
2. apa hukumnya adzan dan komat ketika akan mendirikan sholat?.
atas jawabanya ana ucapkan jazakallah.. YA Jawa Barat

Jawab : Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarakatuh ... Pertama, Jumhur ulama memandang bahwa tidak boleh menjama shalat jum’at dengan shalat ashar, kecuali ulama pengikut Imam syafii (ulama syafiiyah).
Shalat jum’at berbeda dengan dhuhur, sekalipun dilakukan pada waktu shalat dhuhur atau orang orang yang tidak wajib jumat kembali kepada shalat dhuhur. Kami belum menemuklan dalil shalat jumat dijama dengan shalat Ashar. Bahkan ketika Nabi saw dan para shahabat ibadah haji yang kebetulan saat wukuf hari jumat Nabi dan para shahabat disebutkan dalam hadits itu menjama dhuhur dan Ashar. Artinya jika kita musafir dihari jumat dan bermaksud menjamanya, maka lakukanlah ruhshah salat dhuhur kemudian dijama qoshar dengan Ashar. Akan tetapi jika kita bergabung dan melaksanakan jumat dengan mukim, hemat kami tidak ada jama jumat dengan Ashar.
Kedua, Para ulama sepakat tentang disyariatkannya adzan dan iqomat, akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukum adzan dan iqomat, di antaranya adalah : Pendapat Jumhur Ulama adalah adzan dan iqomat hukumnya adalah sunnah untuk semua sholat fardhu dalam semua kondisi (mukim/safar). Pendapat Imam Malik Bin Anas adalah wajib mengumandangkan adzan dan iqomah di masjid yg ditegakkan sholat berjamaah di dalamnya.
Dari Malik bin al-Huwairits bahwa Nabi SAW bersabda , "Apabila (waktu) shalat tiba, maka hendaklah salah seorang di antara kamu, mengumandangkan adzan untuk dan hendaklah yang paling tua di antara kamu yang menjadi imam kamu!" (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari II: 111 no: 631 dan Muslim I: 465 no: 674).
Dan apabila shalat itu dijama’ semisal dhuhur dan Asar dijama’ (digabung), hendaklah adzan untuk waktu shalat itu dan iqomah pada setiap shalat. yaitu satu kali adzan cukup untuk dhuhur dan Asar dan iqomah untuk setiap shalat (HR. Al Bukhari: 629).
Allohu A’lam

Dikirim pada 11 Maret 2011 di Bab. Sholat



Tanya : Assalamu’alaikum ... Pak ustadz ketika sujud dalam shalat, apakah hidung itu harus kena ketempat sujud? Dan apakah ia (hidung itu) merupakan anggota sujud? Terima kasih atas jawabannya! Lisna Jambi



Jawab : Wa’alaikumussalam ... Dalam sebuah hadits diterangkan mengenai anggota sujud :


عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : اُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلىَ سَبْعَةِ اَعْظُمٍ عَلىَ الجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ اِلىَ أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ وَالرُكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِِ القَدَمَيْنِ . رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Abbas dari Nabi saw bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang; kening –dan beliau menunjuk hidungnya- dua tangan, dua lutut dan ujung dua telapak kaki.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dengan dalil diatas hidung merupakan bagian dari anggota sujud yang tujuh itu. Ditunjuknya hidung oleh Nabi saw bersamaan dengan kening ini menunjukkan bahwa dua anggota ini adalah satu, artinya saat sujud harus meletakan kening dan hidung ketanah (tempat sujud), tidak cukup salah satunya. Allohu A’lam

Dikirim pada 19 Februari 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. ... Bismillah... Pak Ust. bolehkah kita berdoa dalam shalat (misalnya dalam sujud) dengan bahasa kita (Indonesia)? Wass... HR Pekalongan

Jawab : Wa’alaikum salam wr.wb... Nabi saw pernah bersabda : Adapun ruku’ maka agungkanlah Rabb-mu, sedangkan ketika sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, niscaya segera dikabulkan untuk kalian" [Diriwayatkan oleh Muslim di dalam shahihnya]. Dalam keterangan lain diriwayatkan : Jarak paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa (ketika itu) (HR.Muslim dari Abi Hurairah) .

Hadits yang semakna dengan diatas cukup banyak. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam shalat (seperti dalam sujud dan tahiyyat) disyariatkan untuk berdo’a sesuai dengan apa yang kita harapkan. Berdo’a berbeda dengan berbicara. Sekalipun dengan menggunakan bahasa Arab, tapi isinya ngobrol (bukan do’a) hal ini tidak dibenarkan dilakukan dalam shalat. Akan tetapi jika itu merupakan do’a sekalipun bahasa kita, maka hal tersebut merupakan isyarat dari hadits diatas. Sebab yang diperintahkan adalah berdo’a! Hanya tentu do’a yang diajarkan Nabi saw akan lebih utama. Allohu A’lam

Dikirim pada 22 Januari 2011 di Bab. Sholat



Tanya : Assalamu’alaikum... pak Ustadz bagaiman cara menghadirkan khusyu dalam shalat itu? Wassalam ... IFF Rembang





Jawab : Wa’alaikum salam ... Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: "Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat,... (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)





Maka dari hal tersebut sebagai yang mendasari terjadi kekhusyuan dalam sholat adalah kemampuan kita mengamalkan tata cara sholat yang sesuai dan dicontohkan oleh Nabi.. Karena akan salah kaprah jika orang itu mengaku khusyu’ namun ia sholat tidak sesuai tata cara sholat yang diajarkan Rasulullah. Maka khusyu’ akan terkondisikan yang timbul setelah kondisi pertama terpenuhi yaitu persyaratan tata cara sholat kita telah sesuai dengan nabi. Maka niscaya Allah akan memenuhi hati kita dengan rasa khusyu’ sesungguhnya





Menurut Hujjatul-Islam Imam al-Ghazali (Ihya Ulumi al-dien) bahwa ada beberapa hal untuk menghadirkan khusyu di dalam shalat, diantaranya :





Pertama; Hudhur al-Qlabi (حضور القلب); yaitu menghadirkan hati kita ketika shalat yaitu dengan membuang dari hati segala yang tidak ada kaitannya dengan shalat kita. Maksudnya supaya hati itu dikosongkan dari segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan amalan yang sedang dikerjakan, jangan sampai hatinya mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan ibadah shalat.




Di dalam Syarah Ihya, jilid 2 hal 115 dijelaskan, “Tiap-tiap shalat yang tak hadir hati di dalamnya, maka orang yang shalat itu lebih cepat memperoleh siksa”. “Barangsiapa tiada khusyu’ dalam shalatnya, rusaklah shalatnya”. (Syarah Ihya, 2 : 115)







Kedua, at-tafahhum (التفهم); yaitu berusaha memahami yaitu melakukan usaha untuk memahami segala hal yang dilakukan di dalam shalat baik itu yang ada kaitannya dengan gerakan shalat maupun bacaanya.



Ketiga, at-Ta’dziem (التعظيم); yaitu merasakan kebesaran Allah yaitu dengan merasakan diri tidak ada artinya di hadapan Allah.
Keempat; ar-Raja’ (الرجاء); yaitu selalu menaruh harapan besar kepada Allah.





Kelima, al-Haya (الحياء); yaitu rasa malu terhadap Allah. Alperasaan malu ini timbul karena masih adanya di dalam dirinya kurang sempurna ketika mengerjakan segala perintah Allah dan merasa masih banyak dosa-dosa dalam dirinya.



Perasaan malu akan menjadi kuat, bila sudah ada pengenalan mengenai kekurangan diri sendiri, dan merasa sedikit ikhlasnya. Kecuali itu disadari pula, Allah itu Maha Mengetahui segala rahasia dan semua yang terlintas di dalam hati, sekalipun kecil dan tidak terlihat. Pengetahuan semacam ini apabila telah diperoleh dengan seyakin-yakinnya, maka dengan sendirinya akan timbul pulalah semua hal yang dinamakan perasaan malu terhadap Allah, Rasulullah SAW bersabda : “Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu. (HR. At-Tirmizi). Allohu A’lam.

Dikirim pada 14 Januari 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamu’alaikum pak ustadz Abu Alifa Shihab, Maaf sebelumnya. Pada saat shalat iedul fitri kemarin, saya ketinggalan satu rakaat sebab waktu itu imam sudah ruku dirakaat pertama. Yang jadi pertanyaan saya, apakah ada masbuk dalam shalat ied? Kemudian apakah rakaat yang saya tambah itu takbirnya tujuh kali atau lima kali? Karena waktu rakaat pertama saya takbir 5 kali sebagaimana imam takbir! Hj.MI

Jawab : Wa’alaikum salam, Pertama, adanya masbuk karena adanya berjamaah baik itu shalat yang hukumnya wajib atau sunnah yang harus dilakukan berjamaah, dan kita ketinggalan rakaat! Termasuk dalam shalat ied yang ibu Haji lakukan. Kedua, saat kita datang untuk shalat, maka tentu kita memulai dengan rakaat pertama, sekalipun imam dan makmun yang lain dirakaat kedua. Oleh karena itu takbir yang ibu lakukan sebagai tambahan rakaat yang kurang itu adalah takbir sebagaimana dilakukan pada rakaat yang kedua (lima kali takbir). Mengenai pada saat rakaat pertama ibu takbir lima kali disebabkan kita menuruti imam, yang dalam shalat berjamaah wajib hukumnya mengikuti Imam itu.

Dikirim pada 07 Oktober 2010 di Bab. Sholat

Tanya : Ass...apakah ada perintah atau anjuran selesai shalat berjabat tangan? GE Pulo Gadung Jaktim

Jawab : Waalikum salam, sampai saat ini belum didapat keterangan yang memerintah ataupun menganjurkan berjabat tangan selesai shalat wajib. Yang dicontohkan Nabi SAW selesai shalat beliau beristighfar dan membaca tasbih, tahmid dan takbir serta tahlil. Berjabat tangan sambil mengucapkan salam dilakukan oleh Nabi SAW apabila bertemu dan mau berpisah. Sementara selesai shalat tidak ada ketentuan harus berjabat tangan.

Dikirim pada 12 Mei 2010 di Bab. Sholat

Tanya : Ass...Ustadz apakah benar bahwa shalat di Hari Raya itu harus dilapangan? Trims Widodo Klaten

Jawab : Waalaikum salam, lebih utama dilaksanakan dilapangan. Seperti shalat sunat rawatib lebih utama dirumah.

Dikirim pada 12 Mei 2010 di Bab. Sholat

Tanya : Ass..Pak Ustadz Abu Alifa yang saya hormati, apakah dibolehkan setelah kita melaksanakan shalat wajib, kemudian ada yang meminta diimami saya shalat kembali? RB 0811631xxx

Jawab : Waalaikum salam, perlu ibu ketahui bahwa hal inipun pernah terjadi pada masa Nabi SAW. Saat itu ada seorang shahabat yang baru datang kemasjid dan hendak melaksanakan shalat wajib. Beliau bersabda ; Siapakah diantara kalian yang berkeinginan untuk bershadaqah mengiringi ia shalat.(al_hadits). Hal ini menunjukkan bahwa Nabi SAW memberikan anjuran bagi siapa saja yang mau membantu (shadaqah) orang lain supaya mendapatkan nilai keutamaan shalat berjamaah. Bagi ibu yang mengiringi shalat (lagi) itu pahala sunnat.

Dikirim pada 11 Mei 2010 di Bab. Sholat

Tanya : Ass..., pak ustadz, apakah wanita diperbolehkan shalat berjamaah shalat lima waktu di masjid? Mustafa Tangerang

Jawab : Waalaikum salam, Nabi saw. pernah bersabda : Janganlah kalian melarang para wanita untuk ikut shalat (berjamaah) di masjid, (tetapi) bagi mereka (wanita) di rumah lebih baik.

Dikirim pada 07 Mei 2010 di Bab. Sholat

Tanya : Ass.., pak Ustadz Abu, apakah benar bahwa ketika kita shalat berjamaah tidak boleh (tidak sah) kita shalat menyendiri dibelakang barisan, karena sudah penuh? Mustofa Tangerang

Jawab : Waalaikum salam, dalam melaksankan shalat berjamaah ada aturan yang harus kita perhatikan. Dari mulai siapa yang berhak jadi Imam ataupun dalam hal lainnya, termasuk dalam pengaturan barisan (shaf). Untuk yang bapak tanyakan, memang benar tidak sah, sebab pernah terjadi pada masa Nabi SAW. Ada seorang shahabat yang menyendiri dalam shalat berjamaah, maka oleh Nabi SAW disuruh mengulangi shalatnya. Oleh karena itu apabila shaf didepan sudah penuh dan hanya ada seorang yang berdiri dibelakang, maka seorang yang didepan mundur. Allohu A’lam

Dikirim pada 01 Mei 2010 di Bab. Sholat

Tanya : Asalamualaikum pak Ustadz! Nama saya Miftah dari Kembangan Jakbar, apa yang disebut shalat ghaib? Apa benar Nabi pernah shalat ghaib? Apa boleh kita shalat ghaib?

Jawab : Waalaikum salam..., shalat ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan tidak dihadapan jenazah, baik karena jaraknya jauh atau karena sudah dikuburkan. Memang benar Nabi SAW pernah shalat ghaib ketika raja Najasy (yang telah masuk Islam) meninggal. Nabi shalat ghaib tersebut karena ditempat raja Najasy belum ada orang Islam yang menshalatinya. Sehingga sepengetahuan ana, Nabi SAW hanya satu kali shalat jenazah karena perbedaan tempat yang cukup jauh. Setelah itu Nabi sering diberi tahu tentang shahabat yang meninggal tapi beliau tidak shalat ghaib, karena sudah ada yang menshalatinya. Jadi adanya shalat ghaib sebab beda tempat yang jauh, manakala ditempat itu tidak ada yang menshalatinya. Adapun shalat ghaib karena sudah dikuburkan Nabi pernah melakukan ketika ummu mihjan salah seorang wanita yang suka membersihkan masjid meninggal, bahkan sudah dikuburkan beberapa hari, dan para shahabat tidak memberi tahu Nabi SAW, karena menganggap orang biasa. Kemudian Nabi minta diantar kekuburnya, dan beliau shalat diatas kuburan ummu mihjan. Dan untuk kasus yang kedua ini silahkan lakukan. Allohu A’lam

Dikirim pada 24 April 2010 di Bab. Jenazah

Tanya : Pak Ustadz, saya mau nanya apakah shalat tahiyatul masjid itu hanya dilakukan ketika kita mau shalat wajib dan masuk masjid atau bagaimana? (fakhri Depok)

Jawab : Shalat Tahiyyatul-masjid bukan dikaitkan dengan shalat wajib, akan tetapi dikaitkan dengan masuknya kita kedalam masjid sebelum kita duduk. Jadi saat kita masuk masjid dan bermaksud duduk dimasjid, maka shalat dulu sebelum duduk itu 2 rakaat. Dan para ulama fiqh menyebut dan menamai shalat ini dengan shalat tahiyyatul-masjid. Allohu A’lam

Dikirim pada 17 April 2010 di Bab. Sholat


Tanya : Ustadz Abu, bolehkah shalat dhuha dilaksanakan secara berjamaah, dengan cara mengumpulkan orang banyak? (Kalideres 081367xxxx)

Jawab : Nabi saw tidak pernah memerintahkan untuk mengumpulkan orang-orang (para shahabat) untuk shalat dhuha secara berjamaah. Namun demikian Nabi saw pernah melaksanakan shalat dhuha lalu diikuti oleh Abu Bakar dan Itban bin Malik ra.

عَنْ عِتْبَانِ بْنِ مَالِكٍ وَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ شَهَدَ بَدْرًا مِنَ اْلأَنْصَارِ أَنَّهُ أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّى قَدْ أَنْكَرْتُ بَصَرِي وَأَنَا أُصَلِّى لِقَوْمِي وَإِذَا كَانَتِ اْلأَمْطَارُ سَالَ اْلوَادِى بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ وَلَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ أَتَى مَسْجِدَهُمْ فَأًُصَلِّي لَهُمْ وَوَدِدْتُ أَنَّكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ تَأْتِي فَتُصَلِّي فِي مُصَلَّى فَأَتَّخِذُهُ مُصَلًى قَالَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَأَفْعَلُ إِنْ شَآءَ اللهُ. قَالَ عِتْبَانُ: فَغَدَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ حِيْنَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَاسْتَأْذَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنْتُ لَهُ فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى دَخَلَ الْبِيْتَ ثُمَّ قَالَ: أَيْنَ تُحِبُّ أَنْتُصَلِّي مِنْ بَيْتِكَ. قَالَ: فَأَشَرْتُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ الْبَيْتِ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ فَقُمْنَا وَرَاءَهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ. [متفق عليه].
Dari Itban bin Malik ---dia adalah salah seorang shahabat Nabi yang ikut perang Badar dari kalangan Ansar--- bahwa dia mendatangi Rasulullah saw lalu berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku sekarang tidak percaya kepada mataku (maksudnya, matanya sudah kabur) dan saya menjadi imam kaumku. Jika musim hujan datang maka mengalirlah air di lembah (yang memisahkan) antara aku dengan mereka, sehingga aku tidak bisa mendatangi masjid untuk mengimami mereka, dan aku suka jika engkau wahai Rasulullah datang ke rumahku lalu shalat di suatu tempat shalat sehingga bisa kujadikannya sebagai tempat shalatku. Ia meneruskan: Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Akan kulakukan insya Allah”. Itban berkata lagi: Lalu keesokan harinya Rasulullah saw dan Abu Bakar ash-Shiddiq datang ketika matahari mulai naik, lalu beliau meminta izin masuk, maka aku izinkan beliau. Beliau tidak duduk sehingga masuk rumah, lalu beliau bersabda: “Mana tempat yang kamu sukai aku shalat dari rumahmu? Ia berkata: Maka aku tunjukkan suatu ruangan rumah”. Kemudian Rasulullah saw berdiri lalu bertakbir, lalu kami pun berdiri (shalat) di belakang beliau. Beliau shalat dua rakaat kemudian mcngucapkan salam”. [Muttafaq Alaih].
عَنْ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي بَيْتِهِ سُبْحَةَ الضُّحَى فَقَامُوا وَرَاءَهُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ. [رواه أحمد والدارقطني وابن خزيمة]
Dari ‘Itban ibn Malik, bahwasanya Rasulullah saw mengerjakan shalat di rumahnya pada waktu dhuha, kemudian para sahabat berdiri di belakang beliau lalu mengerjakan shalat dengan shalat beliau.” (HR. Ahmad, ad-Daruquthni, dan Ibnu Hibban). Allohu A`lam

Dikirim pada 16 April 2010 di Bab. Sholat

Tanya : Pak ustadz, bagaimana hukum shalat berjamaah? Dan berapa orang kita harus berjamaah?

Jawab : Sebagaian ada yang menganggap shalat berjamaah itu wajib, seperti pendapat Syeikh Ustaimin, tetapi jumhur ulama memandang bahwa shalat berjamaah itu sunnat muakadah (sunat yang mendapat penekanan dari Nabi SAW supaya dilakukan). Shalat berjamaah minimal dua orang!

Dikirim pada 10 April 2010 di Bab. Sholat



SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG PERNAH

DICONTOHKAN RASULULLAH SAW

Oleh : Abu Alifa Shihab



A. Fungsi Shalat Sunat (Nafilah)

Shalat merupakan bentuk ibadah mahdhah yang dalam pelaksanaannya telah di tentukan dan di tetapkan juga di contohkan oleh Rasulullah SAW. Bahkan dalam hal ini akal tidak boleh ikut campur dalam sisi pelaksanaannya.
Dengan demikian pelaksaan sholat ( termasuk sholat sunat ) tentu saja harus tepat niat, tepat saat ( Waktu ), tepat tempat dan tepat kaifiyat ( cara ) juga tentu tepat jumlah raka`at sesuai dengan anjran dan tuntunan Rasulullah SAW, serta jauh daru berbagai penambahan apalagi pengurangan ( Bid`ah ).
Tidak sedikit kaum muslimin dalam menilai shalat sunat ini hanya sebatas dari sisi hukum semata, yaitu tidak berdosa jika melaksanakannya. Cara pandang seperti ini semestinya harus kita rubah dengan pandangan lain yaitu apabila kita tidak melaksanakannya maka kerugian yang kita dapat. Sebab tidak menambah nilai atau pahala. Padahal di antara fungsi shalat sunat adalah sebagai penyempurna dari kelalaian dan kekurangan shalat fardhu yang kita lakukan.
Rasulullah SAW bersabda :

عن ابى هريرة قال سمعث رسول الله ص م يقول : ان اول مايحاسب يه العبد يوم القيامة الصلاة المكتوبة, فاءن اثمها
والا قيل : انظروا هل له من تطوع ؟ فاءن كان له تطوع اكملة الفريضة من ثطوعه,ثم يفعل بسائر الاعمل المفروضة
مثل ذلك (رواه الخمسة

Artinya : Dari Abi Hurairah berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya ( amal Muslim ) yang pertama kali di hisab pada hari kiamat adalah Shalat wajib. Jika ia telah menyempurnakannya ( selesai persoalannya ), tetapi jika kurang sempurna shalat ( wajib)-nya, maka di akatakan kepada malaikat : lihat dulu apakah ia pernah melaksanakan shalat sunat? Jika ia pernah melakukan shalat sunat, maka kekurangan dalam shalat wajib di sempurnakan dengan shalat sunatnnya. Kemudian amalan wajib yang lainnya di perlakukan seperti itu ( Nailu Al-Author I:374 )

B. Macam – macam Shalat Sunat

1. Shalat Sunat Rawatib

Shalat sunat Rawatib adalah shalat sunat yang dilaksanakan sebelum atau sesudah pelaksanaan shalat wajib. Atau shalat sunat yang mengiringi shalat wajib yag 5 waktu. Tetapi tidak semua shalat wajib ada sunat rawatibnya, baik qobliyah ( sebelum ) maupun Ba`diyah ( sesudah )-nya. Yang di jelaskan dalam Hadist yang shahih, shalat sunat rawatib meliputi :

1) 2 atau 4 rakaat sebelum shalat zhuhur
2) 2 rakaat setelah shalat zhuhur
3) 2 rakaat setelah shalat maghrib
4) 2 rakaat stelah shalat isya
5) 2 rakaat sebelum shalat shubuh

Hal tersebut berdasarkan Hadist di antaranya :

عن ابن عمر( ض) قال:حفظت من النبى ص م عشر ركعات: ركعتين قبل الظهروركعتين بعدها وركعتين بعد المغرب فى بيته وركعتين بعد العشاء في بيته وركعتين قبل الصبح (رواه البخارى و مسلم

Artinya : Dari Ibnu Umar berkata : Saya hapal atau ingat dari ( shalat sunat ) Rasulullah SAW 10 raka`at : ( yaitu ) 2 raka`at sebelum shalat zhuhur, dan 2 raka`at sesudahnya, 2 raka`at sesudah shalat maghrib di rumahnya, 2 raka`at sesudah shalat isya di rumahnya, dan 2 raka`at sebelum shalat shubuh. ( Bukhori II : 51, Muslim I : 293)

قالت عائشة : كان النبي ص م يصلى فى بيته قبل الظهر اربعا (رواه مسلم

Artinya : Berkata Aisyah : adalah Nabi SAW pernah shalat sebelum zhuhur 4 rakaat di rumahnya. ( HR. Muslim )


عن عائشة (ض) ان النبى (ص م) كان لايدع اربعا قبل الظهر وركعتين قبل الغداة (رواه البخارى

Artinya : Dari Aisyah : sesungguhnya Nabi SAW tidak meninggalkan 4 raka`at sebelum zhuhur dan 2 raka`at sebelum shubuh. ( HR. Bukhori )


2. Shalat Ba`da Jum`at

Yaitu shalat 2 atau 4 raka`at yang dilakukan selesai melaksanakan shalat Jum`at. Sebagaimana di terangkan dalam beberapa hadist di antaranya :


......ادا صلى احدكم الجمعة فلبصل بعدها اربعا (رواه مسلم

Artinya : Jika kalian ( ibadah ) shalat Jum`at, hendaklah shalat setelahnya 4 raka`at.
(HR.Muslim dari Abi Hurairah).


...كان عبدالله يصلى يوم الجمعةركعتبن فى بيثه ويقول هكذافعل رسول الله (ص م)

Artinya : ….bahwasanya Abdullah pernah shalat 2 raka`at setelah Jum`at di rumahnya dan ia berkata : begitulah yang ( pernah ) dilakukan oleh Rasulullah SAW.
( HR. Abu Dawud )

......صليت مع النبي (ص م) ركعتين بعد الجمعة (رواه البخارى

Artinya : Aku pernah shalat bersama Rasulullah SAW 2 rakaat setelah Jum`at.
( Bukhori II : 51 )



3. Qiyamul – Lail ( Shalat malam )

Shalat malam adalah ibadah shalat yang dilaksanakan pada malam hari, ( yaitu ) selesai shalat isya sampai menjelang shalat shubuh.
Shalat ini merupakan shalat sunat yang dikatakan lebih utama setelah shalat wajib ( lihat Muslim Bulugu Al-Maram h.106 ). Pelaksanaan shalat malam ini, boleh dilakukan pada awal malam (selesai shalat Isya sampai kira-kira pukul 11.00 WIB), atau pada pertengahan malam (kira-kira pukul 11.00 s/d 02.00 WIB), atau pada akhir malam (kira-kira pukul 02 s/d sampai menjelang shubuh).
Dinamakan shalat malam (qiyamu al-lail), sebab orang yang melaksanakannya terjaga diwaktu malam. Disebut shalat tahajjud (yang di ambil dari Q.S.al_Isra 79), karena pelaksanaannya dilakukan diakhir malam setelah tidur terlebih dahulu. Dan dinamakan juga dengan shalat witir karena jumlah rakaat dalam shalat malam gasal/ganjil (witir). Jadi pada hakikatnya ketiga nama itu sama (yakni) shalat malam (lihat Majalah Risalah No.07 tahun 2003). Oleh karena itu dalam sewbuah hadits Nabi saw bersabda : …."tidak ada dua (shalat) witir dalam satu malam"(HR.Ahmad lihat Bulughu al-Maram h. 110), maksudnya adalah tidak ada dua shalat malam (tahajjud, qiyamul-lail atau qiyamu al-Ramadhan) dalam satu malam.
Walau demikian, ada juga yang membedakannya. Witir identik dengan jumlah rakaat (ganjil) dan waktu pelaksanaannya sesudah shalat Isya sampai menjelang shubuh (baik diawal, tengah atau akhir malam). Sementara tahajjud identik dengan shalat setelah tengah malam dan setelah tidur terlebih dahulu.
Selain itu didapatkan pula anjuran-anjuran Rasulullah saw untuk melengkapi shalat malam dengan witir. Bahkan karena witir ini sebuah kemestian (sunat muakadah), Rasulullah saw pernah menyarankan agar orang yang khawatir kesiangan , supaya melaksanakan witir terlebih dahulu sebelum ia tidur. Tetapi, dalam konteks ini, antara witir dengan shalat malam sisanya tentu tidak boleh lebih dari 11 rakaat. Sehingga, jika witir sebelum 1 rakaat, maka shalat malam sisanya di lakukan 10 rakaat. Jika witir sebelum tidur 3 rakaat, maka sisanya 8 rakaat dan seterusnya. Adapun untuk shalat malam yang sisanya (dari witir) itu, bisa dilakukan langsung sekaligus, atau bisa juga secara bertahap (lihat Bukhary I : 120, Muslim I : 298 dan 303, Tirmidzi : 454). Misalnya, jika shalat malam itu sisanya 8 rakaat (karena telah witir dahulu 3 rakaat), maka bisa dilaksanakan 8 rakaat itu secara langsung dengan salam di rakaat ke-8, atau bisa dilakukan 4 – 4, dengan salam disetiap rakaat ke-4, atau bisa dilakukan 2-2-2-2 dengan salam disetiap rakaat ke-2.
Sementara keterangan yang menyebutkan bahwa qiyamur-Ramadhan (shalat tarawih) sama dengan qiyamul-lail (shalat malam), tersirat dalam keterangan Siti Aisyah :

عن عائشة (ض) ماكان رسول الله (ص م) بزيد فى رمضان ولا فى غيره على احدى عشرة ركعة يصلى اربعا فلا تسئل عن حسنهن وطولهن ثم يصلى اربعا فلا تسئل عن حسنهن وطولهن ثم يصلى ثلاثا (رواه البخاري و مسلم

Artinya : Aisyah berkata: Rasulullah saw tidak pernah menambah (shalat malamnya) baik itu dibulan Ramadhan ataupun dibulan lainnya lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat 4 rakaat, jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya (Nabi shalat). Kemudian shalat 4 rakaat, jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya (shalat). Kemudian shalat 3 rakaat (Bukhary I : 358, Muslim I : 509).

Catatan pertama dari hadits diatas adalah bahwa qiyamur-Ramadhan sama dengan qiyamul-lail. Ini tergambar dari pernyataan Aisyah yang tidak membedakan shalat malam yang Nabi SAW lakukan di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya.
Kedua, dari hadits diatas, shalat malam Nabi SAW yang Aisyah ketahui tidak pernah lebih dari 11 rakaat (sementara kurang dari 11 rakaat pernah, (yaitu) saat Nabi melaksanakan 9 rakaat dikarenakan usia sudah tua, lihat Muslim I :514 No.746), diantara perinciannya Aisyah mencontohkan 4-4-3.
Jadi yang pokok dari kesamaan pelaksanaan shalat malam itu bukan terfokus pada 4-4-3 nya, melainkan 11 rakaatnya. Karena dalam riwayat yang lain, ketika Aisyah menyatakan shalat malam Rasul itu 11 rakaat, Aisyah juga menyebutkan perincian dari yang 11 rakaat itu 2-2-2-2-2-1 (Muslim I :508 No.736), 2-2-2-5 (sunan Abi Dawud II : 45 No.1359), 9-2 (Muslim I : 513 No. 139, lihat juga sunan Abi Dawud). Dan dari shahabat Amir bin Sya"bi diterangkan bahwa shalat malam Nabi 2-2-2-2-3 (lihat Ibnu Majah).
Mengapa umat Islam sekarang menyebut qiyamur-Ramadhan dengan nama tarawih? Imam Ibnu Hajar al-Asqalany dalam hal ini menjelaskan, (bahwa) penamaannya dengan tarawih (bentuk jama� dari tarwihat yang berarti : rehat, jeda, istirahat sebentar) dikarenakan orang-oranmg dahulu selalu beristirahat sejenak setelah salam (Fathu al-Baary IV : 250). Sehingga selanjutnya dikenalah dengan nama dan istilah shalat tarawih. Dan para ulama-pun bersepakat bahwa shalat yang dinamai tarawih itu adalah qiyamur-Ramadhan (Fathu al-Baary IV : 251).

4. Shalat Tahiyyatul-Masjid

Shalat tahiyyatul-masjid adalah shalat sunat yang dilaksanakan pada saat kita masuk masjid sebelum kita duduk. Sehingga apabila kita mau duduk di dalam masjid, maka terlebih dahulu disunatkan shalat 2 rakaat.

اذا دخل احدكم الجمعة فلا يجلس حتى يركع ركعتين (رواه البخارى و مسلم…

Artinya : Jika salah seorang diantara kamu masuk masjid, maka janganlah duduk (terlebih dahulu), sebelum ia shalat 2 rakaat. (HR.al-Jama�ah)


5. Shalat Intidhar

Intidhar artinya menunggu. Shalat intidhar adalah sahlat yang dilaksanakan pada saat ibadah jum�at, (yaitu) sebelum imam naik mimbar. Atau shalat dilakukan sekemampuan kita, menunggu imam naik mimbar untuk khutbah. Sehingga apabila imam sudah khutbah atau naik mimbar, maka tidak ada lagi intidhar. Dilaksanakan 2 rakaat-2 rakaat . (Bukhary I : 231 dan Muslim I : 341)

6. Shalat Dhuha

Shalat dhuha disebut juga shalat awwabin. Dinamakan shalat dhuha karena waktu pelaksanaannya di lakukan diwaktu dhuha (ketika matahari mulai meninggi), dan dinamakan awwabin sebagai sanjungan Nabi SAW kepada orang-orang yang biasa melakukannya, (yaitu) awwabin (orang-orang yang bertaubat).
Shalat dhuha adalah salah satu bentuk taqarrub atau ibadah yang secara khusus pernah diwasiatkan oleh Rasulullah saw kepada Abi Hurairah agar senantiasa didawamkan/dibiasakan melaksankannya.

قال ابوهريرة: اوصانى خليلى بثلاث , بصيام ثلاثة ايام فى كل شهر, وركعتين الضحى وان اوتر
قبل ان انام (رواه البخارى مسلم وابواداود)

Artinya : Abu Hurairah berkata : Telah berwasiat kepadaku kekasihku (Nabi SAW) dengan 3 hal, (yaitu) : Shaum (puasa) 3 hari di pertengahan bulan, shalat dhuha 2 rakaat dan melaksankan witir (dahulu) sebelum tidur (Bukhary I : 339, Muslim I : 290 dan Abi Dawud 1432).

Adapun mengenai waktu shalat dhuha adalah pagi hari disaat matahari mulai meninggi.

.....صلاة الاوبين حين ترمض الفصال (رواه الثرمدى)

Artinya : Shalat orang-orang yang taubat (shalat dhuha) itu (adalah) manakala anak-anak unta bangkit karena terik matahari (HR.Tirmidzy, Bulughu al-Maram No.418).

Jadi apabila sinar matahari pagi sudah terasa panas, maka itulah permulaan waktu dhuha. Karena memang dimasa lalu, waktu penentuan ibadah (terutama shalat) didasarkan diantaranya pada peredaran matahari. Di masa sekarang, kalau menggunakan waktu standar, diperkirakan waktu dhuha itu antara pukul 08.00 s/d 10.00 (lihat Majalah Risalah No.7 th 41 Oktober 2003).
Adapun mengenai jumlah rakaat shalat dhuha, bisa dilakukan 2 rakaat seperti hadits Abu Hurairah diatas, bisa juga 4 rakaat, delapan rakaat atau juga lebih sesuka kita menambah (Shahih Muslim I : 289, Bukhary dlm Lu�lu�u wa al-Marjan 417 dan Ibnu Hibban).

7. Shalat �Iedul-Fitri dan �Iedul Adha

Shalat iedul-fitri dilaksanakan setiap tanggal 1 Syawwal setelah kita selesai melaksanakan ibadah shaum (puasa) dibulan Ramadhan. Pelaksanaan shalat iedul-fitri lebih utama dilapangan, yaitu dilaksanakan setelah kita selesai membagikan zakat fitrah ba�da (selesai) shalat shubuh.
Diantara beberapa ketentuan dan keutamaan dalam pelaksanaan shalat iedul-fitri (yaitu) :

1. Lebih utama dilaksanakan dilapangan
2. Disunatkan agar mandi terlebih dahulu
3. Dianjurkan untuk makan/sarapan (membatalkan) terlebih dahulu (Shahih Bukhary II : 3)
4. Dianjurkan untuk menguimandangkan takbir saat menuju ketempat shalat sampai imam naik mimbar (A.Hassan "Pengajaran Shalat" h.292)
5. Jumlah rakaat shalat iedul-fitri yaitu 2 rakaat dengan ketentuan 12 kali takbir sebelum bacaan shalat. (Yaitu) 7 kali takbir pada rakaat yang pertama, dan 5 kali takbir pada rakaat kedua (Tirmidzy h.534, Abi Dawud 1149, Fiqhu al-Sunnah I : 270)
6. Setelah shalat, dilanjutkan dengan khutbah/mendengarkan khutbah
7. Dianjurkan antara keluar (pergi) ketempat shalat melalui jalan yang berbeda dengan pulangnya

Sedangkan shalat iedul-adha adalah shalat sunat yang dilaksankansetiap
tanggal 10 Dzul Hijjah. Adapun ketentuan dan pelaksanaan shalatnya sama dengan shalat iedul-fitri, baik jumlah rakaat, tempat shalat, takbir dalam shalat dan lainnya. Diantara yang membedakannya adalah :
1. Dilaksanakan lebih pagi disbandingkan dengan iedul fitri
2. Dianjurkan untuk tidak membatalkan (tidak makan) terlebih dahulu (lihat Fihu al-Sunnah)
3. Mengumandangkan takbir (takbiran) pada iedul adha di mulai dari shubuh tanggal 9 Dzul Hijjah (hari arafah) sampai tanggal 13 Dzul hijjah (akhir hari-hari tasyrik)

Baik shalat iedul-fitri maupun iedul adha, tidak dissyariatkan shalat sebelum ataupun sesudahnya, apalagi saat kita tiba dilapangan, maka tidak ada ketentuan shalat apa-apa melainkan langsung duduk dan banyak takbir sampai shalat itu dimulai.

8. Shalat Kusuf dan Khusuf

Di antara bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta�ala itu, ialah terjadinya gerhana. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu �alaihi wa Sallam justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu �alaihi wa Sallam dalam sabdanya:
Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. (Muttafaqun ‘alaih)
Dalam istilah fuqaha dinamakan kusûf. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa. Jadi, shalat gerhana, ialah shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya atau seluruhnya.
Amalan yang disunatkan jika terjadio gerhana :
1. Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu �alaihi wa Sallam :

Artinya : Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. (Muttafaqun ‘alaihi).
2. Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Artinya : Maka Rasulullah Shallallahu �alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya. (Muttafaqun ‘alaihi).
3. Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr Radhiallahu�anhuma berkata:

Artinya : Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu �alaihi wa Sallam tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat… (Muttafaqun ‘alaihi).
4. Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu�anhuma, ia berkata:

Artinya: Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu �alaihi wa Sallam diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri).
5. Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah Radhiallahu�anha berkata:

Artinya: Sesungguhnya Nabi Shallallahu �alaihi wa Sallam , tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri).

Ringkasan tata cara shalat gerhana sebagai berikut.
1. Bertakbir, membaca doa iftitah, ta’awudz, membaca surat al-Fâtihah, dan membaca surat panjang, seperti al- Baqarah.
2. Ruku’ dengan ruku’ yang panjang.
3. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan :

4. Tidak sujud (setelah bangkit dari ruku’), akan tetapi membaca surat al-Fatihah dan surat yang lebih ringan dari yang pertama.
5. Kemudian ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, hanya saja lebih ringan dari ruku’ yang pertama.
6. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan :

7. Kemudian sujud, lalu duduk antara dua sujud, lalu sujud lagi.
8. Kemudian berdiri ke raka’at kedua, dan selanjutnya melakukan seperti yang dilakukan pada raka’at pertama.

9. Shalat Thuhur

Thuhur artinya bersuci. Shalat Thuhur adalah shalat sunat 2 rakaat yang dilakukan setelah kita bersuci/berwudhu. Ada pula sebagian ulama yang menamakan shalat sunat ini dengan istilah shalat syukrul-wudhu.
Shalat sunat inilah yang oleh Rasulullah saw dikatakan kepada shahabat Bilal, bahwa beliau telah mendengar terompah kakinya disurga. Dan diantara penyebabnya adalah karena Bilal bin Rabbah senantiasa membiasakan diri jika selesai berwudhu (bersuci) beliau shalat 2 rakaat (lihat Mukhtaru al-Hadits al-Nabawiyah h.173).


10. Shalat Istikharah

Istikharah artinya (memohon) pilihan (yang terbaik). Shalat istikharah adalah shalat 2 rakaat yang dilaksanakan apabila memohon ketetapan pilihan (yang terbaik) kepada Allah SWT. Hal ini biasanya apabila kita di hadapkan pada 2 pilihan atau lebih yang semuanya kita anggap baik. Tetapi jika 2 pilihan itu antara yang halal dan haram, maka tentu tidak di syariatkan shalat istikharah, sebab antara halal dan haram sudah jelas mana yang wajib kita pilih.
Adapun cara dan bacaannyasama dengan shalat biasa. Setelah shalat 2 raka`at, kemudian kita membaca do`a. do`a yang di contohkan Nabi SAW yaitu :

اللهم انى استخيرك بعلمك واستقدرك بقدرتك من فضلك العظيم فانك تقدرولااقدروتعلم ولااعلم وانت علام الغيوب اللهم ان كنت تعلم ان هداالامرخيرلى فى دينى ومماتى وعاقبةامرى فاقدره لى ويسره لى ثم بارك لى فيه, وان كنت تعلم ان هذاالامرشرلى فىدينى ومعاشى وعاقبة امرى فاصرفه عنى واصرفنى عنه وقدره لى الخير حيث كان ثم ارضنى

( Allahumma innii astakhiruka bi`ilmika wa astaqdiruka bi qudrotika wa as-aluka min fadlikal-`adhim, fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta`lamu wala a`lamu wa anta alaa mul ghuyuub, Allahumma in kunta ta`lamu anna hajal amru khoirul lii fi dinii wa mamaati wa akibatu amrii faqdurhu li wa yassirhulii summa bariklii fiihi, wa inkunta ta`lamu anna hadzal-amru syarulli fi dini wa ma`aasyi wa`aqibatu amri fasrifhu `anni wasrifnii`anhu waqdurhu liyal-khairi haitsu kana tsumma ardhini)
Artinya : Ya Allah sesungguhnya aku meohon kepada-Mu pilihan yag terbaik dengan pengetahuan-Mu, dan aku memohon supaya Engkau memberi kekuatan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon kemurahan-Mu yang luas. Sesungguhnya Engkau maha kuasa sedangkan aku tidak berdaya. Engkau maha tau sedangkan aku tidak mengerahuinya, dan Engkau maha mengetahui yang Ghoib. Ya Allah jika Engkau telah ketahui bahwa perkara ini baik bagi ku, baik buat Agama ku dan baik bagi penghidupan ku, maka berikanlah (takdirkanlah) ia kepadaku serta mudahkanlah buatku, dan berkahilah ia bagiku. Dan jika Engkau ketahui bahwa perkara ini akan merusak (jelek) bagiku, buat Agamaku dan penghidupanku serta buat penghabisanku, maka jauhkanlah ia daripada ku dan jauhkanlah aku darinya, dan berilah gantinya padaku yang lebih baik, walau dimanapun adanya, serta jadikanlah aku ridho akan pemberian itu. (Bukhori II : 51)

11. Shalat Jenazah

Shalat Jenazah adalah shalat yang dilakukan terhadap orang yang sudah meninggal. Shalat ini dilakukan apabila jenazah tersebut telah di mandikan dan di kafani. Dan shalat ini hanya di lakukan kepada orang Muslim dan Muslimat yang telah meninggal, serta haram hukumnya menshalati jenazah orang yang kafir.
Ketentuan-ketentuan Shalat Jenazah.
1. Di lakukan dalam keadaan suci (berwudhu telebih dahulu)
2. Dilaksanakan dengan cara berjama`ah dan boleh juga di lakukan munfarid (sendirian)
3. Posisi jenazah di depan orang yang shalat dan di hadapkan atau di miringkan kea rah kiblat (HR.Ahmad, Nail Al`author IV : 397, Shahih Bukhori I : 126)
4. Jika jenazah itu laki-laki maka Imam (jika berjama`ah) berdiri di dekat kepala jenazah itu (HR.At-Tirmidzi : 1039), tetapi jika jenazah itu perempuan maka posisi kita (atau Imam) ada di tengah-tengah jenazah itu (HR.Bukhori Muslim dari Samurah bin Jundab)
5. Menghadap ke arah kiblat (shalatnya)
6. Takbir dalam shalat jenazah adalah 4 kali takbir (HR.Bukhori Muslim dari Abi Hurairah)
7. Takbir pertama membaca Fatihah dan Shalawat, takbir kedua dan seterusnya membaca do`a untuk jenazah (HR.As-Syafi`i, Syarhu al-kabiir I : 558) (lihat lampiran do`a shalat jenazah)
8. Shalat jenazah di awali dengan Takbir dan di akhiri dengan Salam.
9. Shalat jenazah boleh di lakukan di dalam rumah atau di dalam mesjid (HR.Muslim dari Siti Aisyah)
10. Shalat jenazah di lakukan oleh muslimin (laki-laki) dan muslimat (perempuan).
11. Shalat jenazah tanpa adzan dan iqomat atau lafadz-lafadz lain
12. Semakin banyak yang menshalatkan semakin baik (terutama bagi si jenazah) (HR.Muslim dari Ibnu Abbas)
13. Shalat Ghoib (bagi jenazah yang tidak ada di tempat atau jauh) hanya dilakukan bagi jenazah yang di tempat itu tidak ada yang menshalati nya (HR.Bukhori Muslim dari Abi Hurairah)
14. Shalat Ghoib (yang jenazah nya sudah di kubur boleh di lakukan di atas kuburan sekalipun hal itu sudah beberapa hari) (HR.Bukhori Muslim dari Abi Hurairah)
15. Haram hukumnya menshalati orang yang mati karena bunuh diri (HR.Muslim dari Jabir bin Samurah, lihat Bulughu al-Maram h.155 : No.542)
16. Orang yang mati Syahid karena perang tidak usah di mandikan dan di shalati.

12. Shalat Istisqa

Istisqa artinya memohon air (hujan). Shalat Istisqa adalah shalat yang di laksanakan dalam rangka memohon kepada Allah supaya di turunkan hujan di karenakan saat itu telah mengalami kekeringan, sehingga sulit untuk mendapatkan air, bai untuk keperluan hidup dan kehidupannya. Dalam sebuah hadist Nabi SAW pernah melaksanakan shalat stisqa ini di lapangan sebagaimana dengan di terangkan dalam hadist di bawah ini :


عن عائشة قالت : شكاالناس الى رسول الله (ص م) قهوط المطر فامر بمنبر فوضع له بالمصلى ووعد الناس يوما بخرجون فيه فخرج حين بدا حاجب الشمس فقعد على المنبر فكبر وحمد الله ثم قال "انكم شكوتم جد ب دياركم وفد امركم الله ان تدعوه ووعد كم ان يستجيب لكم ثم قال : "الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم مالك يوم الدين لا اله الا الله يفعل ما يريد لا اله الا انت. انت الغنى ونحن الفقراء انزل علينا الغيث واجعل ما انزلت علينا قوة وبلاغا الى حين" ثم رفع يديه فلم يزل حتى رئ بياض ابطيه. ثم حول الى الناس ظهره وقلب رداءه وهو رافع يديه ثم اقبل على الناس ونزل فصلى ركعتين فانشاء الله تعالى سحابة فرعدت ثم امطرت (رواه ابواداود)

Artinya : Dari Aisyah telah berkata : orang-orang telah mengadu kepada Rasulullah SAW tentang tidak turunnya hujan yang lama. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan menyimpan atau mengadakan mimbar di lapangan tempaty shalat. Kemudian Beliau tentukan satu hari agar orang-orang keluar ke tempat shalat itu. Maka pada hari yang telah di tentukan Beliau keluar di saat terbit matahari, lalu Beliau duduk di atas mimbar, kemudian bertakbir dan memuji Allah SWT, kemudian Beliau berkata : “ Sesungguhnya kalian telah mengadu masalah kekeringan dan todak turun hujan seperti waktu biasa, padahal Allah SWT telah memerintahkan supaya kamu berdoa kepada-Nya dan Ia janji akan memperkenankan permohonan kalian.” Kemudian Beliau bersabda lagi : “ Segala puji milik Allah SWT yang telah memelihara sekalian alam, yang pemurah dan penyayang yang mempunyai hari pembalasan. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Ia berbuat apa yang Ia kehendaki, tiada Tuhan selain Engkau. Engkau yang maha kaya sedangkan kamu membutuhkan kepada-Mu, maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan itu menjadi kekuatan dan bekal bagi kami untuk masa yang panjang.” Kemudian Rasul mengangkat tangannya dan tidak di turunkan sehinnga terlihat putih kedua ketiaknya, kemudian Ia palingkan belakangnyalalu selendangkan sorbannyadalam keadaan tetap menagngkat tangannya. Kemudian Beliau menghadap ke arah umat dan turun dari mimbar. Lantas Beliau shalat 2 raka`at, maka Allah SAW datangkan mega kemudian guntur lalu turunlah hujan. (HR.Abu Dawud h.1173, Hakim lihat fiqhu al-Sunnah I : 183)
Dari hadist di atas dapat di simpulkan bahwa shalat istisqa itu :
1. dilaksanakan di lapangan
2. dilakukan dengan berjama`ah
3. dimulai dengan khutbah bertakbir memuji Allah dengan pujian Alhamdulillah sampai selesai
4. setelah memuji Allah membelakangi manusia sambil menyelendangkan sorbannya(khusus Imam) dan sambil mengangkat kedua tangannya
5. kemudian shalat berjama`ah 2 raka`at yang tata caranya sama dengan shalat biasa.


Dikirim pada 28 Maret 2010 di KAJIAN UTAMA
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.497.625 kali


connect with ABATASA