0


Tanya : Assalamu�alaikum warahmatulloh wa barakaatuh... Ustadz Abu Alifa yang kami hormati, kami suami istri yang masih mempunyai salah satu orang tua. Istri masih mempunyai ibu (masih ada), sedangkan saya masih ada seorang ayah. Yang kami pertanyakan bolehkah antara ayah dan mertua (ibu dari istri) menikah? Jazaakumulloh .. SRG

Jawab : Wa�alaikumussalam warahmatulloh wa barakatuh...

Dalam Al-Quran sudah dirinci mengenai batasan orang yang tidak boleh dinikahi.

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا. حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا. وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya : Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga atas kalian untuk menikahi) perempuan-perempuan yang telah bersuami, kecuali perempuan yang menjadi budak kalian. (Ini adalah) ketetapan dari Allah atas kalian. Dan dihalalkan bagi kalian perempuan-perempuan selain yang telah disebutkan tadi dengan memberikan harta kalian untuk menikahi mereka dan tidak untuk berzina. Maka karena kalian menikmati mereka, berikanlah mahar kepada mereka, dan hal itu adalah kewajiban kalian. Dan tidak mengapa apabila kalian telah saling rela sesudah terjadinya kesepakatan. Sesungguhnya Allah itu maha mengetahui dan maha bijaksana. (QS.Al-Nisa 22-24)

Kesimpulan : Ibu dari istri (mertua) yang sudah ditinggal mati oleh suaminya tidak termasuk wanita yang diharamkan dinikahi oleh ayah. Allohu A�lam

Dikirim pada 09 Oktober 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum ... pak ustadz Abu Alifa saya "menyukai" saudara (adik) angkat. Ceritanya begini, ketika umur saya 11 tahun mamah dan bapak mengurus dari kecil seorang anak perempuan, dan sekarang adik angkat perempuan itu sudah menginjak dewasa (16 tahun). Terus terang perempuan itu "mengundang" perasaan saya bukan hanya cinta seorang kakak kepada sang adik melainkan "cinta" karena ia seorang wanita yang "cantik". Pak ustadz apakah dibenarkan jika suatu saat saya bermaksud menikahinya? BR

Jawab : Wa`alaikumussalam ... anak yang diurus oleh orang tua anda yang asalnya bukan mahram atau sepersusuan, tentu tidak menghalanginya untuk anda nikahi. Jangankan oleh anda, oleh ayah anda saja secara hukum anak yang diurus tidak menjadikannya mahram (jika sudah dewasa) dan tidak ada larangan untuk menikahinya. Sebab dalam Islam anak yang "dipungut" ataupun di adopsi tidak lantas menjadikan anak tersebut menjadi mahram. Bahkan jika tahu orang tua anak tersebut, maka nisbah anak tersebut tetap harus dikaitkan dengan ayah kandungnya.

حدثنا قتيبة حدثنا يعقوب بن عبد الرحمن عن موسى بن عقبة عن سالم بن عبد الله بن عمر عن أبيه قال ما كنا ندعو زيد بن حارثة إلا زيد ابن محمد حتى نزلت ادعوهم لآبائهم هو أقسط عند الله -
سنن الترمذي

"...Dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya berkata. Kami semua (para shahabat) tidak pernah memanggil "Zaid bin Haritsah" kecuali dengan panggilan "Zaid bin Muhammad", sehingga turun kepada kami (ayat) ..."Dan panggilah mereka (anak-anak angkatmu) dengan memakai ayah-ayah (kandung) mereka! Hal itu lebih adil disisi Allah...(QS.al-Ahzab 5). HR.Tirmidzi

Ayat ke-5 dalam surat al-Ahzab tersebut menunjukkan bahwa status anak angkat tidak menjadikannya mahram. Hal ini ditujukkan dengan perintah Allah untuk memanggil dan menisbatkan anak angkat itu tetap kepada ayah kandungnya. Bahkan dalam sejarah Nabi shallallahu alaihi wa sallam menikahi istri mantan dari anak angkatnya Nabi. Apalagi hal itu seperti yang anda inginkan. Jadi secara hukum tidak haram anda menikahi anak angkat orang tua anda atau adik angkat anda. Allahu A`lam

Dikirim pada 02 Mei 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum.wr.wb...Sebelumnya saya ucapkan terimah kasih kepada ustadz Abu Alifa Shihab yang membuka ruang konsultasi agama. Hal ini bagi saya sangat membantu sekali dalam memahami sebagian syariat yang mesti dijalankan serta batasan-batasannya.

Maaf ustadz Abu Alifa, saya mempunyai problem yang menurut saya pribadi cukup mengganggu masa depan kehidupan saya. Saya mempunyai calon suami yang ingin secepatnya menikahi saya, dan sebenarnya saya-pun menginginkan hal itu secepatnya dilaksanakan. Akan tetapi yang jadi persoalan adalah ayahku tidak menyetujuinya. Dan salah satu sebabnya adalah masalah keberadaan calon adalah dari daerah (maaf Abu cut asal daerahnya ya?)yang menurut ayah akan mengakibatkan kemiskinan setelah menikah nanti. Pak ustadz, Apakah jika saya melangsungkan pernikahan sudah melanggar khususnya birrul-walidain? Jika saya menikah siapa wali nikah saya? Dan apakah ayah saya berdosa tidak mau menikahkan saya? MNT Jatim

Jawab : Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh …Ananda MNT yang Abu Alifa banggakan, jika seorang ayah tidak menyetujui dan tidak mau menikahkan anaknya karena sebab yang ananda jelaskan diatas, maka hemat saya termasuk orang tua atau wali yang melanggar atau membangkang ketentuan syari`at. Maka jika orang tua (ayah) menolak untuk menjadi wali nikah ananda atau tidak menyetujui bukan alasan syar’i, maka ananda dapat meminta bantuan wali hakim (misalnya pejabat di KUA) untuk menjadi wali nikah ananda (lihat Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, II/37; Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/33).

Landasannya adalah :

عن عائشة قالت: قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏‎‏: «أيما امرأة نكحت بغير إذن مواليها فنكاحها باطل. ثلاث مرات. فإن ‏دخل بها فالمهر لها بما أصاب منها. فإن تشاجروا، فالسلطان ولي من لا ولي له»

Perempuan yang menikah tanpa ijin walinya maka nikahnya batal (Nabi mengucapkannya 3x). Kemudian berkata: Apabila para wali tidak mau, maka sultan (wali hakim) dapat menjadi wali dari wanita yang tidak memiliki wali (HR. Tirmidzy dan Abu Dawud)

Tetapi menurut pendapat madzhab Hanbali atau Hanafi, apabila wali mujbir (yaitu ayah) tidak setuju, maka kewalian jatuh pada wali lain dalam urutan kekerabatan yang berhak jadi wali. Kalau semua tidak mau menikahkan, baru pindah ke Wali Hakim.
Maka tentu orang tua berdosa apabila dia menolak menikahkan Anda tanpa sebab yang dibenarkan syariah. Tapi jika alasan orang tua tidak mau menikahkan karena alasan syar’i, maka tentu yang berdosa adalah yang tetap memaksa ingin nikah. Seperti halnya calon suaminya berbeda agama (baca kafir).


فلا تعضلوهن أن ينكحن أزواجهن إذا تراضوا بينهم بالمعروف

“…Janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma`ruf. (QS Al-Baqarah 2:233).

Sekalipun demikian, ananda harus tetap berbuat baik kepada kedua orang tua termasuk ayah ananda (baik sebelum atau sesudah nikah nanti). Allohu A’lam

Dikirim pada 15 April 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum... Pak Ustadz Abu Alifa, apakah ada syariatnya dalam pernikahan itu ada penyematan cincin pernikahan? Wassalam TKY dan 6 orang lainnya dengan inti pertanyaan sama.

Jawab : Wa’alaikumussalam... Pemakaian cincin kawin tidak dikenal dalam Islam, meski cincin itu bukan dari emas. Ini lebih merupakan produk budaya kelompok masyarakat tertentu. Sebagian ulama mengatakan bahwa cincin kawin itu berasal dari budaya barat (baca kafir).

Bahkan secara khusus ada yang mencatat bahwa cincin kawin berasal dari tradisi orang-orang Nasrani. Ketika pengantin pria memasang cincin di ibu jari pengantin putri, dia mengatakan, “Dengan nama Bapa,” lalu cincin tadi dipindahkannya ke jari telunjuk seraya berkata, “Dengan nama Tuhan Anak,” kemudian dipindahkannya ke jari tengah seraya mengatakan, “Dengan nama Roh Kudus,” dan terakhir kalinya dia pindahkan cincin tersebut ke jari manis seraya mengucapkan, “Aamiin.”

Dalam sebuah hadits dijelaskan

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : " من تشبه بقوم فهو منهم " رواه الطبراني في الأوسط عن حذيفة - يعني ابن اليمان - و أبو داود عن ابن عمر - رضي الله عنهما

Siapa yang menyerupai (dalam ibadah) kepada satu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.(HR.Ath-Thabrani dari Hudzaifah Ibn al-Yaman, dan Abu Dawud dari Ibn Umar)

Memang ada hadits yang menyebutkan bahwa salah satu bentuk mahar adalah cincin meskipun hanya terbuat dari besi.

Rasulullah SAW bersabda, ”Berikanlah mahar meski hanya berbentuk cincin dari besi”.

Akan tetapi hadits ini tidak mengisyaratkan adanya bentuk tukar cincin antar kedua mempelai, tapi lebih merupakan anjuran untuk memberi mahar meski hanya sekedar cincin dari besi. Jadi bukan cincin kawin yang dimaksud. Dan cincin dari besi itu diberikan pihak laki-laki sebagai mahar /mas kawin kepada pihak isteri. Sedangkan pihak isteri tidak memberi cincin itu kepada laki-laki. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 April 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum...! Pak ustadz, sebelumnya saya mau cerita bahwa ditempat tinggal saya ada yang sudah menikah kurang lebih satu tahun, bahkan sudah punya anak satu. Akan tetapi ada yang bilang (dulu tetangga dekat sekarang sudah pindah) mengatakan bahwa yang menikah itu adalah saudara sesusu, sebab katanya si B (yang menikah) kepada si A pernah dititipkan selama satu minggu dan dia melihatnya sering disusui oleh orang tua si A. Pak ustadz, bagaimana hukumnya sekarang jika benar ia itu saudara sesusu. Apa yang mesti dilakukan? (Mohon nama jangan dicantumkan). Wassalam.



Jawab : Wa’alaikumussalam ... Diantara wanita/perempuan yang diharamkan untuk dinikahi adalah saudara sesusuan. Firman Allah swt :


حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا


“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan ayahmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan dari saudara perem-puanmu, ibu-ibu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuan yang satu susuan denganmu, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak perempuan dari isterimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum mencampurinya (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa atasmu (jika menikahinya), (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [An-Nisaa` : 23]

يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ

Haramnya karena sesusuan, sama haramnya sebagaimana haramnya hubungan nasab (HR. Bukhari)

Maka jika sudah pasti yang menikah itu adalah saudara sesusu, maka tentu harus dipisahkan (harus diceraikan) sekalipun ia sudah mempunyai anak. Hal inipun pernah terjadi pada masa Nabi saw.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الْحَارِثِ، أَنَّهُ تَزَوَّجَ ابْنَةً لأَبِي إِهَابِ بْنِ عَزِيزٍ، فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُ عُقْبَةَ وَالَّتِي تَزَوَّجَ بِهَا‏.‏ فَقَالَ لَهَا عُقْبَةُ مَا أَعْلَمُ أَنَّكِ أَرْضَعْتِنِي وَلاَ أَخْبَرْتِنِي‏.‏ فَرَكِبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ كَيْفَ وَقَدْ قِيلَ ‏"‏‏.‏ فَفَارَقَهَا عُقْبَةُ، وَنَكَحَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ‏.‏

Dari `Uqbah bin Al Harits; bahwasanya dia menikahi seorang perempuan putri Ibnu Ihab bin `Aziz. Lalu datanglah seorang perempuan dan berkata: "Aku pernah menyusui `Uqbah dan wanita yang dinikahinya itu". Maka `Uqbah berkata kepada perempuan itu: "Aku tidak tahu kalau kamu pernah menyusuiku dan kamu tidak memberitahu aku." Maka `Uqbah mengendarai kendaraannya menemui Rasul saw di Madinah dan menyampaikan masalahnya. Maka Rasul saw bersabda: "harus bagaimana lagi, dia sudah mengatakannya (begitu)". Maka `Uqbah menceraikannya dan menikah dengan wanita yang lain. (HR. Bukhari).

Dengan demikian ia wajib untuk menceraikannya! Allohu A’lam

Dikirim pada 03 Desember 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Bismillah ... Ustadz Abu apakah sah jika khutbah nikah itu dilaksanakan setelah akad nikah (ijab qabul)? Wassalam

Jawab : Bismillahirrahmanirrahim ... Secara pribadi saya belum mendapatkan dalil yang memerintahkan atau menganjurkan dari Nabi saw bahwa khutbah nikah itu harus dilaksanakan sebelum ijab qabul. Hanya mungkin, khutbah nikah dilakukan sebelum ijab qabul, maka calon suami bisa berpikir ulang, apakah siap melaksanakan kewajibannya sebagai suami kelak setelah mendapatkan nasihat atau khutbah yang (isinya) menjelaskan tentang kewajiban dalam rumah tangga. Atau mungkin secara logika, khutbah sering dilakukan sebelum ijab qabul, sebab bekal itu diberikan sebelum ia berangkat menaiki bahtera (rumah tangga).

Terlepas dari dalih tersebut, maka secara hukum khutbah nikah baik dilaksanakan sebelum atau sesudah ijab qabul adalah sah. Allohu A`lam

Dikirim pada 24 Agustus 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum… Buya, ananda mohon maaf sedikit bercerita masalah pribadi (maaf Abi cut-ya). Jadi bagaimana hukumnya Buya, sebab ia tetap bersikukuh boleh berhubungan sehabis makan sahur! (Nama dirahasiakan)
Jawab : Wa’alaikumussalam… Ananda “A”, penolakan ananda wajar, sebab dilatar belakangi oleh kekhawatiran ananda melanggar syar’i. Disinilah wajibnya bertanya atau menuntut ilmu.
Perhatikan firman Allah swt.
“Dihalalkan bagi kamu pada malam shiyam (bulan ramadhan) bercampur dengan istri-istri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu,karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (Qs. al-Baqarah: 187).
Dalam keterangan lain :
عَنْالزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِالْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ أَنَّ أَبَاهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَ مَرْوَانَ أَنَّعَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ أَخْبَرَتَاهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ (رواه البخاري

Dari Az-Zuhriy berkata telah mengabarkan kepada saya Abu Bakar bin Abdirrahman bin Al-Harits bin Hisyam bahwa bapaknya yakni Abdurrahman telah mengabari Marwan bahwa Aisyah dan Ummu Salamah keduanya telah memberi kabar kepadanya bahwa Rasulullah saw suatu hari tiba di waktu fajar (shubuh) dan beliau dalam keadaan junub, kemudian beliau mandi dan shaum (HR.Bukhary)
عَنْعُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ وَأَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّعَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قَدْكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُفِي رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ رواه مسلم
Dari ‘Urwah bin Zubair dan Abi Bakar bin Abdirrahman bahwa Aisyah istri Nabi saw telah berkata: sungguh Rasulullah saw suatu hari tiba di waktu fajar di bulan Ramadlan dan beliau dalam keadaan junub bukan karena mimpi, lalu beliau mandi dan lalu shaum (HR.Muslim)
Jadi selama berhubungan suami itu dilakukan dimalam hari (sebelum shubuh tiba), maka tidak menggugurkan shaum yang kita akan lakukan (boleh berhubungan). Allohu A’lam

Dikirim pada 11 Juli 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikumwarahmatullah … Karena melihat keteladanan dan ke-ilmuannya, apakah dibolehkah seorang wanita datang kepada orang tersebut untuk dipinang atau dinikahinya?Apakah tidak menyalahi aturan syari’at? Thanks ustadz …



Jawab : Wa’alaikumussalamwarahmatullah wa barakatuh … Dari sisi kebiasaan (adat) khususnya di Indonesia,mungkin sebagian orang menganggap bahwa hal ini diluar kebiasaan yang dianut,atau bahkan dibilang wanita tersebut “tidak punya rasa malu”. Tetapi dari sudutsyariat hal tersebut tidaklah melanggar ketentuan agama (Islam).



Imam al-Bukhary mer iwayatkansatu kejadian yang bersumber cerita dari Anas r.a. bahwa ada seorang wanitayang datang menawarkan diri kepada Rasulullah saw dan berkata: "Ya Rasulallah!Apakah Engkau membutuhkan daku?" Putri Anas yang hadir dan mendengarkanperkataan wanita itu mencela sang wanita yang tidak punya harga diri dan rasamalu, "Alangkah sedikitnya rasa malunya, sungguh memalukan, sungguh memalukan." Anas berkata kepada putrinya: "Dia lebih baik darimu, Diasenang kepada Rasulullah saw lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau!"(HR Bukhari).



Bahkan dalam kitab shahihnyaImam al-Bukhary memuat satu bab “Wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki soleh”.Ibn Hajar menyimpulkan bahwa hadits yang termaktub dalam shahih Bukhary menunjukkankebolehan bagi wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki, dan boleh memberitahukanbahwa ia menyukainya. Perbuatan ini tidak menjadikan wanita rendah martabatnya.Allohu A’lam

Dikirim pada 25 Mei 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum … pak ustadz Abu Alifa yang saya hormati. Benarkah bahwa berhubungan suami istri itu berpahala bagi keduanya? KL Medan

Jawab : Wa’alaikumussalam … Dalam sebuah hadits Nabi saw pernah bersabda :

….”وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرً

"Dan pada kemaluan (bercampur/jima’) kalian terdapat sedekah. Mereka (para sahabat) bertanya, Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang menyalurkan syahwatnya akan mendapatkan pahala?` Beliau bersabda, `Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan pada tempat yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala." (HR. Muslim dari Abu Dzar ra)

Dengan demikian bercampurnya suami istri berpahala! Allohu A’lam

Dikirim pada 13 April 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum …! Pak ustadz Abu Alifa yang saya hormati, teman saya berencana akan menikahi seorang wanita. Dan wanita itu sudah pasti akan cerai dengan suaminya, apakah dibolehkan temen saya ini nikah dengan wanita tersebut, dikarena kepastian cerai yag dinyatakan oleh calon istrinya itu? (maaf emailnya jg dicantumkan)

Jawab : Wa’alaikumussalam… Diantara wanita yang diharamkan syariat (Islam) untuk dinikahi adalah wanita tersebut sudah bersuami. Kalau-pun suaminya sudah menthalaq istri wanita tersebut, tentu tidak lantas wanita yang di thalaqnya itu boleh menikah (lagi). “..Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri tiga kali quru’(haidh)..” (QS. 2:228)

Jadi haram hukumnya temen akhi menikahi wanita tersebut, sekalipun wanita itu mengatakan saya pasti cerai. Allohu A’lam

Dikirim pada 08 Februari 2013 di Bab. Aqidah


Tanya : Assalamu’alaikum …sebelumnya saya mohon maaf jika pertanyaan yang diajukan kurang sopan. Tetapi karena keingin tahuan sebelum pada tataran pelaksanaan, saya mengajukan pertanyaan. Adakah dalam Islam cara berhubungan dengan suami, dan bagaimana caranya menurut sunnah Nabi saw. Apakah diperkenankan suami istri melihat auratnya? Dan bolehkan suami atau istri memegangnya? Sekali lagi saya mohon maaf jika pertanyaan ini tidak layak? (mohon email jgn dicantumkan). Wassalam

Jawab : Wa’alaikumussalam … tidak perlu merasa malu jika hal itu bertalian dengan syariat yang akan dilakukan. Sebab berhubungan suami istri merupakan syariat dan bernilai ibadah! Sabda Nabi saw :

“…Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah.

Diantara anjuran Nabi saw yang merupakan pedoman saat berhubungan dengan pasangan kita (suami istri), diantaranya : Pertama, berdoa sebelum akan memulai berhubungan, bahkan sebaiknya istri kita diajak shalat 2 rakaat (dulu).

Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: Aku memberi nasehat kepada seorang pria yang hendak menikahi pemudi yang masih gadis, karena ia takut isterinya akan membencinya jika ia mendatanginya, yaitu perintahkanlah (diajak) agar ia melaksanakan sholat 2 rakaat dibelakangmu dan berdoa : Ya Allah berkahilah aku dan keluargaku dan berkahilah mereka untukku. Ya Allah satukanlah kami sebagaimana telah engkau satukan kami karena kebaikan dan pisahkanlah kami jika Engkau pisahkan untuk satu kebaikan (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani dngan sanad Sahih).

Adapun do’a sebelum melakukan hubungan adalah :

“Jika salah seorang dari kalian ingin berhubungan intim dengan istrinya, lalu ia membaca do’a: [Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa], “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya” (HR. Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434).

As-Shan’ani (Subulu as-Salam Bab Nikah), Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam Fathul Bari (9: 228) mengatakan bahwa do’a tersebut diucapkan sebelum memulai berhubungan.

Kedua, melakukan mula’abah. Diantara salah satu unsure penting ketika akan melakukan jima (hubungan suami istri) adalah pendahuluan atau pemanasan yang dalam bahasa asing disebut foreplay (saya menggunakan istilah mula’abah/saling mainkan). Karena dianggap sangat penting,”prolog” sebelum berjima’ sampai Nabi saw menganjurkannya, dengan sabdanya :

“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. At-Tirmidzi).

Ciuman dalam hadits tersebut tentu bukan kiasan, akan tetapi makna yang sesunggguhnya. Hal ini bias dilihat dari hadits yang lain ketika seorang shahabat (Jabir ra) sudah melangsungkan akad nikah, kata beliau “Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis sehingga kalian bisa saling bercanda ria? Berciuma yang dapat saling mengigit bibir denganmu,” (HR. Bukhari no. 5079 dan Muslim II:1087).

Sedangkan rayuan yang dimaksud di atas adalah semua ucapan yang dapat memikat pasangan, menambah kemesraan dan merangsang gairah berjima’. Dalam istilah fiqih kalimat-kalimat rayuan yang merangsang disebut rafats, yang tentu saja haram diucapkan kepada selain istrinya.

Selain ciuman dan rayuan, unsur penting lain dalam pemanasan adalah sentuhan mesra. Bagi pasangan suami istri, seluruh bagian tubuh adalah obyek yang halal untuk disentuh, termasuk kemaluan. Terlebih jika dimaksudkan sebagai penyemangat jima’. Demikian Ibnu Taymiyyah berpendapat. Sedangkan Syaikh Nashirudin Al-Albany, mengutip perkataan Ibnu Urwah Al-Hanbali

“Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat dan meraba (termasuk memegang) seluruh lekuk tubuh pasangannya, dan kemaluan. Karena kemaluan merupakan bagian tubuh yang boleh dinikmati dalam bercumbu. Itulah diantara pandangan Imam Malik dan ulama lainnya.” Sebab istri (pasangan) diibaratkan kebun.

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS.2 : 223)

Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seyogyanya suami istri mengetahui dengan baik titik-titik yang mudah membangkitkan gairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami istri, untuk menemukan titik-titik tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal saat berjima’.

Ketiga, ada kain yang menutupi. Sekalipun suami istri sudah halal baik melihat dan bahkan bertelanjang bulat, namun Nabi saw menganjurkan ditengah ketelanjangan itu hendaknya ditutupi oleh kain (selimut).

Dari ‘Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya (berjima’), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar. (HR Ibnu Majah).

Keempat, jangan cepat meniggalkan/melepaskan istri. Kelima, selesai berhubungan mencuci kemaluan dan berwudhu (dahulu) jika ingin mengulanginya lagi. Dari semua itu kita harus keyakinan bahwa berjima antara suami istri merupakan bentuk ibadah! Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Desember 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb. selamat pagi …..pa ustad saya mau bertanya seputar pernikahan,karna saya sebentar lg akan menikah. pa ustad yg wajib membayar buat ke lebe/KUA itu sebenar`y pihak laki" atau pihak perempuan ??ada yg bilang itu kewajiban dr pihak laki". apakah bener pa ustad ?? dan apakah kewajiban pihak laki selain memberikan mahar ?? mohon pencerahan`y pa ustad .. terimakasih.. Wassalamualaikum Wr. Wb. Mety Jern



Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb. … Seharusnya tentu saja tidak harus bayar, sebab itu sudah menjadi kewajiban pihak pemerintah. Jika memang wajib bayar siapa saja tentu boleh membayarkan hal itu, baik kedua calon yang akan menikah atau pihak keluarga. Hanya biasanya pihak KUA sering berceloteh "masa bayar segitu aja tidak mampu, sementara pesta (resepsi) nikahnya lebih dari membayar KUA". Akan tetapi kalaupun menggunakan dalil, maka khithab perintah dan jika mampu itu kembali kepada calon, terutama calon suami. Hanya pada dasarnya baik ke KUA atau-pun untuk resepsi, jika ada yang mau membayarnya hal itu tidak lantas nikahnya tidak sah.

Sementara mahar (mas kawin) merupakan hak istri dan kewajiban suami yang mesti diberikan. Sementara pemberian yang lainnya seperti barang bawaan itu bagian dari shadaqah. Adapaun untuk walimah (resepsi) itu sesuai dengan kemampuan yang ada pada suami ataupun keluarganya. Allohu A`lam



Dikirim pada 21 September 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum wr wb

Permisi pak ustadz saya ada pertanyaan mengenai wali nikah. Jadi begini saya seorang laki laki anak kedua dari dua bersaudara, kakak saya seorang wanita muslimah yang sebentar lagi akan menikah. Ibu saya sudah lama bercerai dengan bapak saya sejak saya masih dikandungan Untuk kepentingan pernikahan tersebut kakak saya menunjuk saya sebagai wali hakim dikarenakan ayah saya yang telah bercerai susah dicari dimana keberadaannya kami tidak tahu serta keluarga ayah saya juga tidak diketahui keberdaannya Yang saya tanyakan apakah saya dapet menggantikan ayah saya sebagai wali jika memang ayah saya susah ditemukan?karena kami tidak tahu domisislinya yang sekarang Bagaimana pendapat pak ustadz mengenai maslah perwalian ini?

Demikian pak ustadz, saya mengharapkan balasan masukan dan solusi dari bapak Terima Kasih Wassalamualaikum wr wb M Putra Dwigantara mpdwigantara@gmail.com

Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb …. Tidak ada dalil yang menyebutkan siapa yang paling berhak menjadi wali nikah bagi anak perempuan. Para ulama ada yang bersepakat dan ada pula yang berselisih berkaitan dengan siapa yang paling dekat dengan anak perempuan tersebut dikarenakan tidak adanya dalil yang merincikannya. Allah berfirman :

آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا


"…(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." (QS An-Nisa : 11)

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ayah kandung perempuan tersebut adalah orang yang paling berhak menjadi wali bagi anaknya, kemudian setelah ayah adalah kakek dari ayah tersebut. beginilah dalam madzhab Syafi`i, Hambali dan sebagian yang lain.

Bahkan dalam kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:

1. Ayah kandung

2. Kakek, atau ayah dari ayah

3. Saudara kandung

4. Saudara se-ayah saja

5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu

6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja

7. Saudara laki-laki ayah

8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah

Jadi anda bukan wali hakim … dan anda berhak menikahkan saudara kandung perempuan (kakak anda), apalagi ayah anda dan kakak anda sulit dilacak. Sekalipun ayah anda yang tidak diketahui alamatnya, kemudian anda menikahkan (menjadi wali nikah) kakak anda, maka pernikahannya sah. Artinya anda sah menjadi wali saudara kandung perempuan (kakak kandung anda). Allohu A`lam

Dikirim pada 21 September 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalammualaikum Wr Wb

Selamat malam Pak.

Perkenalkan saya Jendri Salti Tangnga Rissing. Saya sebenarnya lahir dan dibesarkan di dalam keluarga non muslim. Awal perubahan saya muncul dari bulan April yang lalu. Awalnya saya diterima bekerja di tempat kerja yang baru pada bulan November tahun lalu. Disitu saya berkenalan dan kemudian menjalin hubungan dengan seorang laki laki Muslim bernama Muhammad Azam. Seiring berjalannya waktu sering banyak perdebatan diantara kami apalagi setelah kami memutuskan untuk membawa hubungan kami ke arah yang lebih serius lagi.

Awalnya saya tetap teguh dengan keyakinan awal saya. Tetapi perhatian, kesabaran dak perjuangannya selama ini membuatku luluh. Ternyata keyakinan yang dia pegang membawa ketenangan batin buat dia sehi8ngga apapun masalah kami dihadapi dengan kepala dingin. secara pelan2 dia mulai mengajarkan aku hal2 baik dari agama Islam.

Sampai sekarang dari hati yang paling dalam, Saya ingin belajar dan memeluk agama Islam. Dia dan keluarganya begitu terbuka dengan kehadiranku. Tapi dari sisi keluargaku,aku masih takut untuk terbuka. kepada orang tuakuaku sudah menjelaskan. Mereka menyerahkan semuanya kepadaku, tapi jelas di raut wajah dan suara mereka, kalau mereka belum sepenuh hati memberikanku iizin. Terutama keluarga besarku. Yang pasti aku pasti mendapat marah dari mereka apalagi dari semua keluarga besarku baru aku yang memilih jalanku sendiri.

yang aku mau tanyakan.

1. bagaimana caranya aku meyakinkan keluargaku kalau ini adalah pilihan dari hatiku, murni bukan hanya karena aku berhubungan dengan pacarku yang Muslim?

2. setelah aku mendapat restu dari kedua orang tuaku, aku sudah boleh menikah dan memeluk agama Islam walaupun keluarga besarku tidak pernah setuju?

Terima Kasih!!! jeyrissing@gmail.com

Jawab : Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Alhamdulillah saudariku … ke-Islamannya ternyata bukan karena keterpaksaan. Semoga Allah swt meneguhkan pendiriannya dan tetap dalam hidayahNya. Saya ucapkan selamat bergabung dengan dienul-haq (agama yang lurus) … Sebenarnya memberi tahu merupakan bagian dari rasa hormat (akhlak), yang dalam Islam sekalipun orang tua kita tidak seaqidah (bukan muslim) tetap kita berkewajiban untuk berbuat baik kepadanya. Akan tetapi jika menyangkut hal keyakinan kita harus punya prinsip. Sampaikanlah dengan baik kepada keduanya, mudah2an orang tua anda mendapat petunjuk sebagaimana anda sendiri.

Meminta restu (kepada orang tua) mau menikah dengan laki-laki yang seagama, itu juga merupakan bagian dari akhlak kita. Sekalipun jika mereka tidak merestuinya, anda berhak menentukan. Sebab sewaktu nanti anda menikah, maka wali bukan orang tua anda, akan tetapi wali hakim, sebab orang tua anda berlainan agama (bukan muslim). Jika mereka (keluarga besar anda) tidak setuju, tidak akan menghalangi sah tidaknya pernikahan anda. Sekali lagi permintaan restu baik kepada orang tua maupun keluarga besar anda yang berlainan aqidah bukan untuk menentukan sah tidaknya pernikahan anda, akan tetapi bagian dari birrul-walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua), yang dalam Islam kita dituntut hal tersebut, baik orang tua itu lain agama apalagi seagama. Allahu A’lam

Dikirim pada 05 Agustus 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Asslm ustaz, Saya sudah baca blog ustaz dan saya suka karena uraian nya objektif dan wawasan sangat luas. untuk itu saya mengajukan pertanyaan sbb " Saya lelaki muslim 50 tahun 1 istri 4 anak yang besar 18 tahun yang kecil 11 tahun. 1 tahun lalu saya bertemu dengan mantan pacar 28 tahun yang lalu. Wanita Jawa usia saat ini jalan 47 tahun anak 1. Menurut keterangan anak itu adalah anak diluar nikah karena ia diperkosa saat masih muda dulu. Saya gak tahu benar atau tidak ceritanya Ia tinggal dan kerja di surabaya , anak dan ibunya di yogya , Ia beragama kristen katolik, . singkat cerita kangen kangenan dan sampai akhirnya agar tidak terjerumus dalam dosa zina , saya ajak dia menikah . Ia mau. dan ridla dengan kehidupan seperti ini (dia di surabaya dan saya di jakarta) Ia menawarkan pemberkatan di gereja, Saya menolak, Saya mau menikah dengan cara islam karena kalau dengan cara katolik tetap saja saya tidak menikah. Ia setuju nikah dengan cara islam. Saya PNS dan sudah punya istri. sehingga tidak mungkin menikah di KUA kalau mau pakai wali nasab , Ayahnya sudah meninggal, kakak dan adik lelaki katolik dan pasti tidak menyetujui pernikahan ini karena saya sudah beristri Wali nasab yang lain dari pihak ayah juga tidak menyetujui ya karena saya sudah punya istri itu, Ia juga ingin agar keluarganya tidak tahu karena saat ini ibunya sakit Jantung parah dan dikhawatirkan kalau mendengar pernikahan ini jantungnya akan makin parah, Yang jadi pertanyaan 1. apakah saya dan dia bisa menikah dengan menggunakan Wali Muhakkam. 2. Apakah ia harus masuk islam dulu agar bisa menggunakan wali muhakkam ini 3. Apakah ustaz bersedia menjadi wali muhakkam dalam pernikahan kami ini ?, Saya sangat takut berzina ustaz takut hukum Allah .zina khan hukum mati Saya berharap dengan pernikahan ini ia mengenal islam dan berharap ia masuk islam Terima kasih Wassl gunturaa@gmail.com

Jawab : Wa`alaikumussalam … kekeliruan anda adalah diawali adanya "kangen-kangenan" yang akhirnya kangen beneran. Semestinya anda menjaga jarak apalagi ia berbeda aqidah. Anda sebenarnya sudah beruntung mempunyai istri yang seakidah dan mempunyai keturunan. Kenapa sampai "tergoda" dengan wanita yang berlainan agama? Sekalipun anda beralasan ingin menjauhi perbuatan yang melanggar agama, tapi anda sendiri tidak menyadari bahwa "kangen-kangenan" merupakan pintu yang akan membuat anda menerobos jurang pelanggaran (lihat Fatwa MUI tentang nikah berlainan agama/aqidah). Sebenarnya jika ia beragama Islam (se-aqidah) dan orang tuanya berlainan aqidah dengan anaknya, maka tentu yang menjadi wali adalah kerabat dari orang tua wanita itu yang Islam. Dan jka tidak ada, maka sulthan (penguasa) yang berhak menjadi wali dalam pernikahan itu (wali hakim). Jika anda takut berbuat zina, saya sarankan jauhi wanita itu, apalagi berbeda aqidah. Sekalipun tentu bukan sebuah pelanggaran syariat (Islam), jika anda mempunyai istri lebih dari satu. Hanya pertimbangkan masalahat (keutuhan, kedamaian, ketentraman dengan istri yang sudah seaqidah anda) …dan pertimbangkan mafsadatnya (keruksakan, keretakan, kehancuran) yang diakibatkan dengan tindakan anda menikahi wanita yang berlainan aqidah! Allohu A`lam

Dikirim pada 04 Agustus 2012 di Bab. Nikah
21 Jul


Tanya : Assalamualaikum,,Pak Ustadz, sy mau bertanya tentang wali nikah. Calon istri sy adalah seorang anak tunggal dari ibu yg tunggal juga. Ayahnya sudah lama meninggal dan saudara laki-laki kandung dr ayahnya tidak ada yg muslim. Kakeknya pun sudah meninggal. Kira-kira dg keadaan seperti itu apakah bisa kami menikah dg wali hakim..? Mohon bantuan petunjuk dr pak ustadz..Terimakasih....Wassalamualaikum ..Indra.Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jawab : Wa’alaikumussalam …Sabda Nabi saw ”Aku adalah wali bagi mereka yang tidak punya wali.” Artinya jika memang wali nasab (yang seakidah/Islam) tidak ada, maka tentu penguasa (sulthan/hakim) berhak untuk menikahkannya. Jadi jika anda menikah dengan wali hakim seperti itu, maka pernikahan anda sah. Allohu A’lam

Dikirim pada 21 Juli 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum ustad, saya seorang wanita muslimah berumur 25 tahun, saat ini saya sudah menjalani masa pacaran selama hampir 10 tahun dengan seorang lelaki, dan pada bulan juni 2012 ini kami sudah berencana untuk menikah. Kami sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan pernikahan tersebut, namun sampai saat kami memiliki 1 kendala yang cukup besar, yaitu belum mendapatkan restu dari orang tua calon suami saya. Pada awal dulu kami berpacaran tidak ada tanda--tanda bahwa hubungan ini tidak direstui,namun semenjak calon suami saya mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan dari dahulu, ibu nya sepertinya tidak rela mengikhlaskan kami untuk menikah. Bahkan ibu calon suami saya beranggapan yang pantas untuk jadi calon menantunya harus dari kalangan dokter/perawat,dikarenakan ibu calon suami saya jg seorang perawat. Saat ini saya juga bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahan swasta,tapi itu mungkin tidak cukup membanggkan bagi orangtuanya. Orangtua saya tidak bisa berbuat apa2 dalam hal ini,mereka menyerahkan sepenuhnya kepada kami berdua,karena kami sudah dianggap dewasa untuk memutuskan jalan kami sendiri.yang mau saya tanyakan adalah: 1. apakah jika pernikahan ini akan tetap dilaksanakan, bagaimana hukumnya bagi calon suami saya? 2. bagaimana caranya agar ibu calon suami saya luluh dan terbuka hatinya utk merestui hub kami ini? 3. apakah calon suami saya bisa disebut durhaka bila tetap menikahi saya?

saya mohon bantuan ustad untuk memberi masukan dari masalah yang saya hadapi, terus terang semakin mendekati hari pernikahan saya merasa masih ada yang terganjal dihati. Mohon maaf bila cerita saya cukup panjang. Terima kasih atas bantuannya. Wassalam

Jawab : Wa’alaikumussalam … Pertama, pernikahan itu tetap sah. Dan calon suami berhak menentukan siapa wanita yang akan dijadikannya sebagai seorang istri, dengan syarat satu aqidah (agama). Kedua, kalau alasannya hanya masalah pekerjaan suami tentu kurang tepat jika orang tua lantas tak merestuinya. Oleh karena buktikan oleh anda berdua, bahwa ukhti tidak seperti sangkaannya yang hanya memilih harta saja. Dan mesti dibuktikan dengan perbuatan dan akhlak yang baik terhadap sang mertua. Dan kepada suami, anda harus tetap memperhatikan kedua orangtua dan tetap menjaga silaturrahim dengan cara membantu (jika kekurangan). Ketiga, jika tidak melanggar syariat suami anda tidak dikatakan durhaka! Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Juli 2012 di Bab. Nikah
05 Jul


Tanya : Assalamualaikum wr.wb .

pak ustadz.. saya ingin bertanya bagai mana hukum pernikahan menurut islam jika pernikahan di paksa atau di jodohkan tetapi tidak ada ke ridhoan dari calon pengantin nya..?? Terimakasih ustadz mohon di jawab..!! kamalcool50@yahoo.co.id

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb.

Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw bersabda:

“Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “Dengan ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwasannya Nabi saw bersabda:

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim no. 1421)

Dari Khansa’ binti Khidzam Al-Anshariyah ra:

“Bahwa ayahnya pernah menikahkan dia -ketika itu dia janda- dengan laki-laki yang tidak disukainya. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (untuk mengadu) maka Nabi saw membatalkan pernikahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5138)

Al-Bukhari memberikan judul bab terhadap hadits ini, “Bab: Jika seorang lelaki menikahkan putrinya sementara dia tidak senang, maka nikahnya tertolak (tidak sah). Allohu A’lam

Dikirim pada 05 Juli 2012 di Bab. Nikah









Tanya : Assalamualaikuum....

.1. Bagaimana menurut ajaran islam, apakah perlu anak perempuan yang mualaf meminta restu menikah secara islam kepada ortu yang katholik?

2. Apakah dalam hukum perkawinan Islam harus ada pernyataan tertulis dari ortu yang katholik yang isinya memberikan hak perwaliannya kepada seseorang yang ditunjuk. Mohon penjelasannya dan Terima kasih. Hormat saya, Niken Ali

Jawab : Wa`alaikumussalam … Pertama, meminta restu atau minta idzin dari orang tua (sekalipun berbeda agama), merupakan bagian dari birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua). Dalam Islam sekalipun kita berbeda keyakinan (agama) dengan orang tua, maka tetap ada perintah untuk berbuat baik kepada keduanya. Akan tetapi jika orang tua itu menyuruh untuk hal yang dilarang Islam seperti untuk kembali ke agama lain, maka tentu kita wajib menolaknya dengan secara halus.



وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah-payah (pula).” (Al-Ahqaf: 15)



وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, namun pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)

Tetapi setelah meminta idzin atau restu, kemudian orang tua kita menolaknya, hal itu tidak menyebabkan anda tidak bisa menikah. Sebab jika (maaf) anda laki-laki tentu tidak membutuhkan wali. Karena wali adanya dipihak calon istri. Akan tetapi jika (maaf) anda perempuan, maka hak wali bukan orang tua anda, tapi pindah ke wali hakim. Sebab orang tua anda berbeda agama, dan tidak ada hak untuk menjadi wali.

Kedua, tidak ada dan anda tidak membutuhkan pernyataan orang tua untuk membuat surat pemindahan hak wali. Sebab jika berbeda agama, maka putus perwaliannya. Jadi ketika anda mendaftar ke KUA (umpamanya), dan menceritakan hal ini, tentu nanti anda akan dinikahkan oleh wali dari petugas KUA (wali hakim). Mudah-mudahan anda diberi keteguhan iman. Allohu A`lam

Dikirim pada 31 Januari 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb.

ustadz, saya Harry Darmawan, saya ingin konsultasi tentang masalah yang saya alami sekarang. saya berniat menikahi seorang perempuan yang kebetulan mualaf pada tanggal 8 Des 2011). orang tua calon isteri saya dan ibu saya sudah sama sama merestui penikahan kami. masalahnya adalah ketika keluarga calon isteri saya meminta akad nikah dilaksanakan di rumah mereka (non muslim) meskipun acara ijab kabul nya adalah tetap secara islami. keluarga saya sangat keberatan bila acara tersebut dilakukan disana, padahal mengenai makanan dan alat makan akan kami bawa dari keluarga kami yang muslim. karena kemampuan keuangan saya memang setelah akad tidak dilaksanakan resepsi besar besarn kami rencanannya hanya mengundang tetangga dan keluarga untuk makan makan setelah acara akad nikah. pertanyaan saya ustad, apakah memang ada ayat al Quran atau hadist yang melarang acara pernikahan dirumah mempelai perempuan yang kebetulan non muslim? (sebenarnya keluarga mempelai perempuan memberi pilihan akad nikah dan resepsi salah satu dilaksanakan dirumah mereka, tapi karena saya tidak memiliki kemampuan menyelenggarakan resepsi maka pilihannya hanya akad nikah dan makan sederhana di rumah mereka) Terima Kasih ustadz.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jawab : Wa`alaikumussalam Wr.Wb. Tidak ada masalah akad nikah anda dilakukan dirumah keluarga calon istri anda, dan pernikahannya sah. Sebab yang menentukan sah dan tidaknya adalah ijab qabul anda dengan wali nikah disaksikan minimal oleh dua orang saksi yang tentu muslim. Jika orang tua calon istri anda non muslim, maka tentu walinya adalah wali hakim.mengenai makanan itu hal teknis yang bisa diatur. Allohu A`lam

Dikirim pada 25 November 2011 di Bab. Nikah


Tanya : Assalaamu alaikum Ustadz yg mudah2an dirahmati Allah SWT.. Saya pemuda yg saat ini tengah menjalin hubungan khusus (pacaran) dengan wanita nasrani. awal saya memulai hubungan ini, saya memang belum sadar utk menjalankan hukum2 agama secara penuh walaupun waktu itu sebenarnya saya juga cukup mengerti bahwa pacaran itu dilarang dalam agama. saat ini saya sudah mulai menyadari bahwa pacaran itu memang dilarang karena banyak mengundang fitnah. namun yang menjadi kesulitan bagi saya saat ini adalah, karena hubungan kami sudah begitu intens menjadikan wanita tersebut sudah terlanjur terlalu dalam menyayangi saya, sehingga sangat memberatkan untuk mengakhiri hubungan ini karena akan sangat menyakiti hati wanita tersebut yg tidak ingin berpisah dengan saya.

hubungan saya dengannya pun saat ini masih terus berlanjut dan saya sebisa mungkin menghindari perbuatan2 yg mengundang fitnah, walaupun tidak mudah untuk sepenuhnya lepas dari fitnah dalam hubungan pacaran. disamping itu, perlahan-lahan saya juga mengenalkan agama Islam kepadanya dengan harapan nantinya dia bisa beriman dan masuk Islam sehingga jika nantinya kami melanjutkan hubungan ke jenjang yang serius, dia sudah beragama Islam.dengan keadaan seperti ini, saya sungguh merasakan kebimbangan yang sangat dalam yaitu :

1. jika saya memutuskan hubungan saat ini, saya akan sangat menyakiti hatinya yang mana dia sudah terlalu dalam menyayangi saya secara berlebihan dan tidak mau berpisah dengan saya.
2. sedangkan jika saya melanjutkan hubungan ini sambil memperkenalkan agama Islam kepadanya dengan harapan perlahan-lahan dia bisa beriman dan masuk Islam dan menjadi halal untuk saya nikahi, saya sangat mengkhawatirkan jika motivasinya untuk belajar agama dan masuk Islam adalah karena ingin menikah dengan saya, bukan karena semata-mata Lillahi Ta`alaa. karena menurut saya perkara keimanan adalah perkara hati sehingga tidak mudah bagi saya untuk menilai apakah nantinya dia betul-betul beriman dan masuk Islam ikhlas Lillahi Ta`alaa atau bercampur dengan niatan lain yaitu untuk dapat menikah dengan saya.
demikian kebimbangan yang saya alami, mohon bimbingan atau pendapat dari Ustadz bagaimana pilihan yang harus saya lakukan atau adakah pilihan lain yang lebih baik atas permasalahan kami ini. Saya pun juga sudah pernah melakukan sholat istikharah terkait permasalahan ini, namun sampai sekarang saya belum mendapatkan kemantapan hati untuk menentukan langkah. Terimakasih banyak Ustadz atas perhatian dan bimbingannya, Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. subkhan ni

Jawab : Wa`alaikumussalam… 1. Putusnya hubungan dikarenakan sebuah prinsip (terutama hal aqidah Islam), tentu yang menjadi pertimbangan bukan perasaan sakit dan tidaknya seseorang. Sakit dan tidaknya memutuskan hubungan anda tergantung kepada cara yang anda lakukan kepadnya. Ada seorang shahabat Nabi saw yang masuk Islam yang membuat ibunya sakit bahkan sampai mogok makan. Tapi karena itu prinsip, maka ia istiqamah (komitmen) dengan Islam, tapi kata Nabi berbaiklah sama orang tua. Perlu diketahui, rasa sayang, cinta, seneng kepad wanita yang bukan muhrim (pra-nikah), lebih didasari dengan syahwat (keinginan kuat) kepada dia.

2. Dari ungkapan anda, sebenarnya bisa dipahami bahwa anda sendiri sudah ragu dengan motif yang ada pada wanita yang anda "cintai" itu. Artinya, anda sendiri kurang begitu percaya akan ketulusan yang diperlihatkan dan ada pada wanita tersebut. Alangkah baiknya jika anda mencari yang membuat anda tidak ragu. Apalagi nikah dalam islam bukan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan biologis semata, akan tetapi merupakan bentuk dari ibadah. Bukan hanya untuk kehidupan sehari dua hari didunia, akan tetapi sampai akhirat. Jika kita menikah, tentu ada tanggung jawab yang harus anda pikul. Baik tanggung jawab sebagai suami dalam mengarahkan dan mendidik keluarga ataupun tanggung jawab istri anda. Terlebih nanti harus mempertanggung jawabkan dihadapan Allah swt. Tinggalkan yang meragukan anda cari yang yakin untuk anda. Allohu A`lam

Dikirim pada 03 Oktober 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu\`alaikum wr.wb. Pak ustadz Abu Alifa yang saya hormati, apa yang dimaksud dengan larangan menikahi istri bapak itu. Kan istri bapak itu ibu, mengapa tidak disebut ibu? FT Jawa Tengah
Jawab : Wa\`alaikumussalam wr.wb. Yang dimaksud itu adalah larangan menikahi wanita yang bukan ibu kandung yang pernah dinikahi oleh bapak kita (ibu tiri), jika ibu tiri itu diceraikan oleh bapak. Dalam QS. al-Nisaa 22 secara jelas disebutkan : "Dan janganlah kamu mengawini wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, kecuali pada masa lalu .." Intinya kita haram menikahi bekas istri ayah kita (bekas ibu tiri). Allohu A\`lam

Dikirim pada 24 September 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum, Ustadz Abu Alifa yang saya hormati. Apakah diperbolehkan laki-laki menikah saat calon istrinya sedang haid? Wass IK Tegal
Jawab : Wa’alaikumussalam, hukum dalam pernikahan dalam kondisi apapun hal kecuali ada yang mengharamkannya. Memang dalam talak suami tidak boleh menjatuhkannya dalam kondisi istri sedang hamil. Sedangkan nikah belum ada dalil yang melarang saat calon istri sedang haid. Jadi nikahnya sah, sekali-pun calon istri kita sedang haid. Allohu A’lam.

Dikirim pada 26 Agustus 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum, Pak ustadz apakah yang hamil diluar nikah, kemudian dinikahkan apakah pernikahannya sah atau perlu diulang saat sudah melahirkan? Wd Jakarta.

Jawab : Wa’alaikumussalam, Jika dinikahkannya itu dengan laki-laki yang bukan menzinahinya, maka ada dua pendapat. Pertama, haram hukumnya dan jika dinikahkan juga, maka pernikahan itu tidak sah alias batil. Di antara para ulama yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama. Kedua, nikahnya sah dengan ketentuan si laki-laki yang menikahinya dilarang bergaul sebelum anak yang dikandung itu lahir. Ini pendapat dikemukakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah.

Akan tetapi jika yang menikahinya adalah laki-laki yang menzinahinya, maka para ulama memandang nikahnya sah dan tidak perlu mengulang bahkan pendapat Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah keduanya boleh bercampur. Dengan demikian hemat penulis nikahnya sah dan tidak perlu diulang. Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Agustus 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Ass warrahmatullahiwabarakatuh
Pak Ustaz,
Saya menjalin hub dengan seorang warga negara asing, dari pertama kami berhubungan dia sudah menyatakan bahwa dia yakin dan serius dengan hubungan ini dan hendak menikahi saya dan bersedia masuk islam untuk dapat menikahi saya.
Saya juga yakin untuk melanjutkan hub kami ke jenjang pernikahan, melihat niat baik dia, namun yang membuat saya masih ragu adalah dia tidak pernah memeluk agama sebelumnya karena dia tidak percaya akan Tuhan.
Saya sudah memberi pengertian kepada dia bahwa saya tidak berharap dia masuk islam hanya karena semata untuk bisa menikah dengan saya, saya berharap dia masuk islam karena dia memang ingin menjadi seorang muslim dan akan berusaha menjalankan ajaran2 islam bersama-sama dengan saya nantinya dalam rumah tangga kita.
Dia pernah bertanya kepada saya apakah bisa dia masuk islam dan menjadi orang yang baik sesuai ajaran islam, tetapi dia tetap tidak percaya tuhan. Dalam pengertian saya disini tentu saja dia tidak akan menjalankan perintah اللّهُ seperti shalat,puasa, dll.
Atas saran dari saya dia setuju untuk belajar tentang islam terlebih dahulu, karena dia mau melakukan apa saja untuk bisa menikahi saya.

Tugas saya sekarang adalah mencarikan dia guru agama islam yang cocok untuk dia belajar, guru tersebut harus seseorang yang bisa membuka dan mengajarkan tentang islam kepada dia bukan hanya berdasarkan teori tetapi fakta dan rasional, karena selama ini dia hanya percaya kepada hal-hal yg rasional/science. Seperti contoh kecil, dia bertanya kepada saya kenapa tidak boleh makan babi, karena yang dia tau sekarang banyak babi yang sudah tidak lagi mengandung banyak penyakit. Hal-hal seperti itulah yang harus dijelaskan dengan baik ke dia dengan fakta yang dapat diterima.

Mohon petunjuk dari Ustaz:
Yang pertama saya bingung dan ragu, apakah saya boleh menikah dengan orang yang mau masuk islam hanya karena ingin menikahi saya.
Yang kedua, dimana saya bisa mencari guru yang tepat buat dia belajar tentang agama, dan karena dia tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa indonesiaa dengan lancar, guru tersebut harus bisa berkomunikasi bahasa inggris.
Yang ketiga, apakah menurut ustaz jika dia sudah bisa percaya akan adanya tuhan, apakah dia bisa terbuka mata hatinya dan mendapatkan hidayah untuk bisa menjadi muslim sejati?mungkin tidak dengan begitu saja tetapi dengan proses pembelajaran dalam rumah tangga kita nanti.

Terima kasih, saya berharap bisa mendapatkan response yang positif dari Pak Ustaz.
Waalaikum salam warrahmatulahiwabarakatu. AYU

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Pertama, salah satu syarat bagi wanita Islam (muslimat) untuk menikah adalah calonnya beraqidah Islam dan bukan mau masuk Islam. Artinya jika hal tersebut dilakukan sebelum masuk Islam maka hal ini haram, sekalipun ada kalimat mau masuk Islam. Tentu dalam hal ini ukhti harus berhati-hati jangan sampai keinginan itu hanya sebatas karena ingin mendapatkan ukhti saja. Dan hal ini sudah banyak terjadi yang pada akhirnya setelah mendapatkannya dia keluar lagi.Apalagi ia katanya tidak percaya kepada pencipta (Alloh). Kedua, untuk mencarikan guru khusus coba hubungi ke lembaga/ormas yang disitu dipersiapkan guru-guru dan mubaligh yang ukhti harapkan. Ketiga, masalah hidayah tidak bisa dipaksakan. Sekalipun ia percaya akan adanya Tuhan, belum tentu ia rela untuk masuk Islam. Banyak orang yang belajar Islam tapi malah jauh dari Islam. Hal ini tergantung dari hidayah Allah semata. Kita hanya ikhtiar untuk menyadarkannya. Jika tidak bisa sadar, maka jangan memaksakan diri untuk tetap bersamanya hala ini merypakan ketentuan syariat. Allohu A’lam

Dikirim pada 07 Juli 2011 di Bab. Nikah

Tanya : assalamualaikum ustadz
saya doakan ustadz selalu dibawah lindungan Allah SWT
amin....
saya mau menanyakan tentang wali pernikahan.
ustadz,kalau seandainya anak perenpuan dari ayah kandung nya menikah, boleh nggak si ayah memberikan hak wali nya kepada wali hakim? sedangkan ayah nya sudah memenuhi syarat menjadi wali nikah dan ayah nya tersebut berada di tempat akan dilaksanakan nya ijab-qabul ? Farhan Eka Putra

Jawab : Wa’alaikumussalam, sekalipun sudah memenuhi syarat sebagai wali, tentu tidak ada larangan bagi orang tua menyerahkan wali itu kepada hakim. Dan nikahnya tetap sah. Allohu A’lam

Dikirim pada 01 Juli 2011 di Bab. Nikah



Tanya : ass.....permisi mau tanya nie... saya sdh pernah menikah siri tanpa wali, memang saya akui salah dalam bertindak, akan tetapi sebelum saya bertindak, saya pernah meminta kepada orang tua saya tetapi orang tua saya tetap tidak mau menikahkan kami dengan alasan tidak sepadan materi dan martabat, ingin menghabiskan harta orang tua saya, calon saya memelet saya dengan dukun.. terpaksa saya pergi dari rumah selama 6bulan.. pada bulan lalu calon suami saya (menurut hukum negara) diminta surat pindah nikah sama orang tua saya dan ternyata itu permainan agar saya membatalkan pengajuan wali adhol di pengadilan agama.. setelah saya mengetahui bahwa ternyata saya di permainkan dengan orang tua saya.. saya memohon ke kantor KUA untuk rujukan perkara ke pengadilan agama.. saat akan sidang 1 kerabat keluarga saya telpon bila saya datang ke pengadilan akan dijemput paksa dipengadilan.. saya urungkan sidang 1 selanjutnya sidang 2 saya datang dan benar apa kata kerabat saya bahwa ada pemaksaan.. sampai2 saya pun pingsan.. yang ingin saya tanyakan, apakah saya masih bisa menikah dengan calon pilihan saya? dengan jalan apa saya bisa melanjutkan pernikahan? apalagi skrg saya hamil 3bulan.. mohon bantuannya dan jalan keluarnya.. trima kasih wass...MU

Jawab : Wa’alaikumussalam, sangat disayangkan ukhti nikah tanpa wali, padahal wali menurut para ahl fiqh merupakan salah satu rukun yang ada dalam pernikahan. Terlepas wali itu siapa, apakah orang tua atau wali hakim. Namun yang jadi pertanyaan siapa yang menikahkan ukhti (ijab-nya)!! Kalau masalah bisa menikah tentu, setelah anda selesai dengan yang dianggap suami sekarang. Baik itu melalui gugatan cerai (minta cerai) pada suami atau dengan cara khulu (talak tebusan) dari istri ke pengadilan. Allohu A’lam

Dikirim pada 16 Juni 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum wr. wb.,

Pak, Ustadz, sebelumnya minta maaf merepoti. Numpang tanya dan mohon dijawab segera karena penting sekali bagi ketenangan batin saya. Ini pengalaman pribadi yang sangat mengganjal karena saya takut dari yang saya lakukan ada yang salah dari sisi syari’ah.
Begini ustadz,
Saya berpoligami/menikahi secara sirri (di bawah tangan) seorang janda (Sebut Ch) dg 2 anak (8 tahun/ laki2 dan 14 thn/perempuan). Pernikahan kami tanpa wali nasab dan wali hakim melainkan menggunakan wali muhakkam.

Alasanya:

1. wali nasab (bapak Ch dan keluarga lain) tidak mau menjadi wali nikah kalau pernikahannya sirri

2. saya seorang PNS sehingga perijinan menikah lagi sulit/belum memungkinkan. Untuk menghindari maksiyat saya menikah sirri dulu sambil mencari peluang mengurus perijinan resmi

3.dari beberapa wali hakim yang kami mintai bantuan tidak ada yang mau menjadi wali nikah karena ternyata penghulu di KUA sudah dibelaki “hukum” oleh depertemen agama untuk tidak menikahkan secara sirri


Akhirnya kami memutusskan menggunakan wali muhakam. Setelah beberapa waktu berjalan kami jadi ragu-ragu terhadap keABSAHan pernikahan kami karena
1. Wali muhakkam yang kami gunakan adalah seorang da’i/mubaligh yang rutin mengisi di Radio swasta di kota kami.
2. Selain seorang da’i beliau juga berpraktik pengobatan aternatif (dengan obat-obatan tradisional ramuan sendiri yang katanya berdasarkan sunnah rosul) yang saya khawatirkan berbau perdukunan
3. Saat kami mintai tolong menjadi wali nikah beliau memasang tarif tertentu!
Pertanyaan. SAHkah pernikahan kami ustadz?. Mohon dengan sangat dan hormat untuk segera dijawab, jika ada masalah solusinya ya. makasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Jika wali hakim dari kalangan pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) yang ditunjuk oleh pemerintah mempersuIit pelaksanaan pernikahan atau menuntut honor yang memberatkan orang yang hendak melangsungkan pemikahan, atau memperlambat pelaksanaan tugasnya melebihi batas waktu yang wajar sehingga menimbulkan kegelisahan bagi orang yang bersangkutan, maka mempelai wanita boleh menunjuk Wali Muhakkam dari tokoh masyarakat atau ulama setempat (Fatwa MUI DKI). Artinya pernikahan itu sah, sekalipun wali muhakkam. Adapun masalah memasang ta’rif, hal itu diluar prosesi pernikahan. Allohu A’lam

Dikirim pada 12 Juni 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Ass...sy 2 thn menikah siri dgan seorang janda,,stelah kmi menikah, usaha kami mengalami kebangkrutan,banyak teman2 yg bikang kalo itu faktor istri kedua padahal setahu sy istri ke dua sy tdk boros dan tau betul kondisi keuangan..dan kmi putuskan utkj cerai tpi akan nikah kembali,,,mohon penjelasanx p ustad....tks wassalam. SE

Jawab : Wa’alaikumussalam ... Tidak ada kaitannya dan jangan dikaitkan antara kebangkrutan usaha anda dengan pernikahan. Dan jangan sekali-kali mempermainkan pernikahan dengan mengatakan,saya akan menceraikan dan nanti akan menikahi lagi. Haram hukumnya mempermainkan nikah! Alllohu A’lam

Dikirim pada 10 Juni 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamualaikum pak ustad

mudah-mudahan pak ustad dalam keadaan sehat walafiat...saya ingin meminta masukan dan saran dari pak ustad...saya baru menikah 2 bulan yang lalu dengan status MBA ( married by accident) suami saya adalah calon duda karna perceraian dengan istri sebelumnya belum dilakukan hanya perkataan thalaq dengan saksi ibu kandung suami saya.Pernikahan saya hanya dihadiri oleh ayah kandung suami tidak dengan ibu karna pada saat itu ibu kandungnya belum mengetahui keadaan ini.Kemarin tanggal 6 juni suami saya baru memberitahu kepada ibu kandungnya bahwa kami sudah menikah,namun reaksinya beliau tidak merestui pernikahan kami dengan alasan ia masih terlalu sayang dengan anak dari suami saya yang terdahulu dan ibunya bilang tidak akan dianggap anak lagi jika suami saya masih bersama dengan saya,walaupun suami saya bilang bahwa ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya ibunya malah menyuruh membawa anak kami saja kerumahnya dan tetap tidak merestui hubungan kami.

Mohon bantuannya pak ustad... PPY

Terima Kasih..
Wassalam


Jawab : Wa’alaikumussalam ... Sekalipun masih calon duda atau bahkan masih beristri, maka tetap pernikahan ukhti sah secara hukum Islam dengan syarat terpenuhi rukun-rukunnya. Memang dalam hal thalaq tidak cukup dengan seorang saksi, apalagi saksinya ibu kandung dari suami.

Sebenarnya perasaan sayang terhadap "cucu" seharusnya tidak menyebabkan tak merestui pernikahan ukhti berdua. Sebab anak itu sudah jelas statusnya dan tidak bisa diganti. Hanya mungkin mertua ukhti belum siap kalau seandainya cucunya punya ibu tiri. Atau ibu tidak merestui anaknya mempunyai dua orang istri. Lepas dari sisi itu, ukhti harus tetap berbuat baik, bahkan harus berusaha meyakinkan kepada ibu "mertua" bahwa ukhti tidak seperti apa yang disangkakan banyak pihak. Bahkan disini ukhti sebenarnya sedang dituntut untuk menampilkan syariat Islam yang sebenarnya. Mudah-mudahan ukhti mampu menampilkan sisi yang hebat dari syariat nikah ini. Allohu A’lam

Dikirim pada 10 Juni 2011 di Bab. Nikah

Tanya : ass.wr.wb.. pak saya mau tanya.... saya pingin menikahi seorang perempuan, tp karna status saya yang sudah menikah orang tua si perempuan tidak setuju kecuali status saya sudah jelas, sedangkan saya sendiri sudah pisah sama istri saya 1 tahun lebih, dan dari mulut saya sudah sering terucap kata cerai, itu hukumnya bagaimana?... sedangkan kami takut diantara kami terjdi perbuatan zina.. mohon bantuannya.. assalamualaikum wr.wb. ARD

Jawab : Wa’alaikumussalam ... Pisah dengan istri 1 tahun tidak menyebabkan jatuh thalaq, apalagi istri anda tidak menggugatnya. Kemudian yang namanya Thalaq itu sekalipun anda telah mengatakannya berkali-kali kepada istri, tapi harus diingat bahwa dalam thalaq itu mesti ada saksi. Dan dalam hal ini wajar apabila "calon mertua" anda minta bukti cerainya. Disamping sebagai alat bukti, juga tentu calon (mertua) tidak rela anaknya dijadikan istri yang kedua dari anda. Allohu A’lam

Dikirim pada 22 Mei 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum pak Ustadz ... sebelumnya saya berharap ustadz Abu Alifa dalam keadaan sehat! Begini pak ustadz, sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang itu mendapat waritsan atau menjadi ahli warits? Dan apakah anak dari hubungan diluar nikah menjadi ahli warits? Wass YUH Tangerang Banten

Jawab : Wa’alaikumussalam. Yang menyebabkan seseorang itu menjadi ahli warits : Pertama, adanya hubungan darah (nasab), seperti anak, orang tua, adek/kakak dsb. Kedua, adanya hubungan pernikahan, seperti istri atau suami, Ketiga, adanya wala (memerdekakan seorang budak), artinya seseorang bisa menjadi ahli warits dari orang yang pernah ia merdekakan. Sementara yang menjadi penghalang mendapatkan warits (menjadi ahli warits), diantaranya karena perbedaan agama dan pembunuhan.

Sementara anak hasil hubungan diluar nikah tetap menjadi ahli warits ibunya atau sebaliknya, adapun laki-laki yang berhubungan dengan ibu (anak itu) bukan ahli warits.

Apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita merdeka atau budak wanita maka anaknya adalah anak zina yang tidak mewarisi dan tidak diwarisi.(HR.Tirmidzy dari Amer bin Syuaib)

Ibnu al-Malak menyebutkan bahwa anak (zina) itu tidaklah mewarisi laki-laki yang menzinahi (ibunya) dan tidak juga mewarisi suadara-saudara kerabatnya karena pewarisan adalah berdasarkan nasab sedangkan anak itu tidaklah memiliki hubungan nasab dengan laki-laki yang berzina tersebut. Begitu juga dengan laki-laki yang berzina dan saudara-saudara kerabatnya tidaklah mewarisi harta anak zina itu. (Tuhfah al Ahwadzi juz V hal 393). Allohu A’lam


Dikirim pada 21 Mei 2011 di Bab. Mawarits

Tanya : Asslmualaikum, wr.wb.

Pak Ustadz Abu Alifa Shihab yang saya hormati, nama saya Fariz Wadani uztad , saya mau curhat uztad, saya sudah menjalin hub dengan pacar saya kurang lebih sudah ada satu tahun. Dan sekarang kita sudah punya niat untuk menikah, tapi ada sebuah problem uztad. Saat saya membicarakan hal tersebut kepada orang tua pacar saya, ternyata beliau tidak mau menerima hub kita . beliau tdk setuju akan kesiriuasan kita tersebut dengan alasan bahwasanya antara desa yang saya tinggali dg yang pacar saya tiggali tersebut tidak boleh menikah menurut orang tua dulu, kalau tetap di laksanakan konon katanya akan jadi mala petaka, akan ada yang meninggal salah satunya , tapi kenyataannya juga banyak ustad , tetangga saya yng menikah dengan tetangga pacar saya dan juga nggak ada apa2x, aman2x aja tu uztad ,mereka semua nggak ada problem dalam rumah tangganya. Tapi kata pacar saya alasan orang tua nya yang mendasar adalah perbedaan ekonomi antara keluarga mereka dg keluarga saya. Nah ,sekarang saya mau tanya ustad , seumpama orang tua pacar saya benar 2x tidak mau menjadi wali dalam pernikahan kita entar , dan kita tetap nekat ke menikah dengan kita memakai wali hakim gimana hukumnya menurut islam. sah atau tidakkah pernikaha kita jadinya. Terima kasih banyak uztad atas perhatiaanny. dan balasannya sangat saya tunggu uztad. Wassalamualaikum. wr. wb. Fariz Wahdani
Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb., Jika alasannya bukan alasan syar"i semisal perbedaan keyakinan (agama), maka berdosa orang tua yang tidak bersedia menikahkan anaknya. Tetapi jika alasannya syar"i, maka berdosa anak yang tetap ngotot ingin menikah dengan orang yang berbeda agama. Jika seorang perempuan memaksakan diri untuk menikah dalam kondisi seperti ini, maka akad nikahnya tidak sah alias batil, meskipun dia dinikahkan oleh wali hakim. Sebab hak kewaliannya sesungguhnya tetap berada di tangan wali perempuan tersebut, tidak berpindah kepada wali hakim. Jadi perempuan itu sama saja dengan menikah tanpa wali, maka nikahnya batil. Sabda Rasulullah SAW,”Tidak [sah] nikah kecuali dengan wali.” (HR. Ahmad; Subulus Salam, III/117).

“…maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.” (TQS Al-Baqarah : 232)

Akan tetapi jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti yang anda maksud, maka hak kewaliannya bisa berpindah kepada wali hakim (Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, II/37; Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/33). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW,”…jika mereka [wali] berselisih/bertengkar [tidak mau menikahkan], maka penguasa (as-sulthan) adalah wali bagi orang [perempuan] yang tidak punya wali.” (Arab : …fa in isytajaruu fa as-sulthaanu waliyyu man laa waliyya lahaa) (HR. Al-Arba’ah, kecuali An-Nasa`i. Hadits ini dinilai shahih oleh Ibnu ‘Awanah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, Subulus Salam, III/118). Allohu A"lam

Dikirim pada 12 Mei 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamua’alaikum Pak Ustadz,
saya mohon penjelasannya tentang masalah saya ini. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih untuk blog yang sangat bagus ini. perkenalkan nama saya Hendrik Thio saya tinggal di Jakarta dan saya seorang muslim, saya mempunyai pacar yang berbeda agama dari saya kami sudah bersama menjalin hubungan ini kurang lebih selama 4 tahun, dibenak kami ada rencana atau arah melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan tetapi itu hal yang sangat tidak mungkin terjadi dan orang tua kami pun menentang keras hubungan ini. belakangan ini kami sering berbicara tentang bagaimana melanjutkan perjuangan cinta kami, dan akhirnya mendapat keputusan bahwa pacar saya mau menjadi mualaf. nah dari sini lah timbul masalah yang lebih besar lagi orang tua pacar saya ini menetang dan mengancam bahwa akan mencoret nama pacar saya dari daftar nama keluarganya. akan tetapi setelah mengetahui hal ini pacar saya tetap ingin menjadi mualaf dan menikah dengan saya meskipun dengan konsekuensi yang berat tadi. yang ingin saya tanyakan apa yang harus saya lakukan untuk menyikapi masalah ini?
dan bagaimana hukumnya jika kami menikah yang tidak direstui orang tua bahkan keluarga pacar saya? terima kasih atas kesediannya membaca email saya ini.

Jawab : Wa’alaikumussalam, Pertama, penentangan orang tua anda untuk tidak menikah dengan wanita yang berlainan keyakinan merupakan sikap orang tua muslim yang bertanggung jawab. Hal ini tentu untuk kemaslahatan hidup anda yang bukan hanya sesaat untuk didunia saja, akan tetapi untuk kemaslahatan hidup nanti diakhirat. Bukankah jika anda tetap menikahinya hal ini melanggar ketentuan Allah? Anda harus bersyukur mempunyai orang tua yang bertanggung jawab! Kedua, patut anda juga bersyukur ternyata "calon" dari istri anda bersedia untuk masuk Islam (muallaf), artinya anda tidak menentang orang tua dan terus berusaha meyakinkan bahkan mengajak calon anda untuk masuk Islam. Ini merupakan perjuangan yang tidak kecil, sampai seseorang mau masuk Islam. Sekalipun langkah selanjutnya perlu perjuangan yang lebih besar lagi yaitu mengarahkan sekaligus mendidik agar calon anda menjadi muslimah sejati. Apalagi calon anda begitu hebat pendiriannya sampai tidak masalah orang tua kandungnya mengusir dari anggota keluarganya. Perlu diingat hal ini-pun pernah terjadi pada para shahabat Nabi saw yang karena masuk Islam ibunya mogok makan, bahkan mau bunuh diri segala. Tapi sahabat tersebut tetap memegang teguh pada keyakinan Islam.

Dalam Islam, justru sebaliknya jika kita menuruti orang tua untuk maksyiat (mengikuti kemauan yang bertentangan dengan ajaran), maka patut kita menentang. Sekalipun demikian kita tetap harus bersikap baik kepada keduanya! Artinya pernikahan anda yang tidak direstui oleh orang tua calon istri tidak menjadi masalah, sebab pernikahan andapun tentu bukan oleh orang tuanya (karena bukan Islam), tapi dilakukan oleh wali hakim! Allohu A’lam

Dikirim pada 22 Februari 2011 di Bab. Nikah
21 Feb

Tanya : Assalamua’alaikum Ustadz, Saya ingin minta penjelasan mengenai hadits yang (kalau tidak salah), "ada hal yang dilkuakan serius jadi dan dilakukan main-mainpun jadi, salah satunya nikah .... yang dimaksud nikah dengan main-main bisa jadi (sah itu) apa maksudnya? Wass ... Guruh Permana Jawa Tengah

Jawab : Wa’alaikumus-salam, tentu yang dimaksud dengan main-main adalah apabila akad nikah dilakukan oleh para pihak yang mempunyai hak untuk menikahkan dan pihak yang mau nikah. Contohnya seorang ayah dari gadis mengatakan ijab sambil bercanda kepada seseorang (pemuda) dengan mengucapkan "Aku nikahkan si Fathimeh buat ente " atau ungkapan dari pemuda yang berkata "Pak nikahin ane ame si Fathimeh". Lalu si pemuda mengatakan (qabul) "OK pak" atau "Ya". Atau si ayahnya mengatakan "Ya, aku nikahkan .dst..".

Ungkapan seperti itu sekalipun dilakukan dengan main-main, maka dinilai serius dan menjadi sah dalam Islam sebagai Ijab maupun qabul. Tentu jika ia seorang muslim. Tapi pernikahannya belum bisa dikatakan sah, hal ini tergantung apakah ada 2 orang saksi atau tidak? Allohu A’lam

Dikirim pada 21 Februari 2011 di Bab. Nikah



Tanya : Ass.wr.wb....pak saya ingin tanya nikah tdk d restui oleh bpk qta, krn calon suaminya krg mapan bgaimana tanggapan dlm islam. Ira. wassalam






Jawab : Wa’alaikum salam wr.wb.
Normal
0
false
false
false
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Pada dasarnya ada dua alasan mengapa orang tua tidak merestui pernikahan anaknya. Pertama, alasan yang sifatnya syar’i. tentu saja alasan ini dibenarkan dalam agama Islam, misalnya orang tua tidak bersedia menikahkan anaknya disebabkan anaknya sudah ada yang melamar duluan tanpa ada pembatalan, atau berbeda aqidah (baca agama). Maka hal ini wajib untuk dituruti, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa kewaliannya tidak bisa berpindah ke wali lain (wali hakim). (lihat Risalah Nikah, 1989 h.90-91).

Maka jika perempuan tetap memaksakan diri untuk menikah dalam kondisi, seperti ini, maka akad nikahnya tidak sah alias batil, meskipun dia dinikahkan oleh wali hakim. Sebab hak kewaliannya sesungguhnya tetap berada di tangan wali perempuan tersebut, tidak berpindah kepada wali hakim. Jadi perempuan itu sama saja dengan menikah tanpa wali, maka nikahnya batil. Sabda Rasulullah SAW,”Tidak [sah] nikah kecuali dengan wali.” (Ahmad; Subulus Salam)

Kedua, alasan yang tidak syar’i, yaitu alasan yang tidak dibenarkan hukum syara’. Misalnya berbeda suku, orang miskin, bukan sarjana, atau wajah tidak rupawan, dan sebagainya. Ini adalah alasan-alasan yang tidak ada dasarnya dalam pandangan syariah, maka tidak dianggap alasan syar’i. Jika wali tidak mau menikahkan anak gadisnya dengan alasan yang tidak syar’i seperti ini, maka wali tersebut disebut wali ‘adhol. Makna ‘adhol, kata Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, adalah menghalangi seorang perempuan untuk menikahkannya jika perempuan itu telah menuntut nikah. Perbuatan ini adalah haram dan pelakunya (wali) adalah orang fasik (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam, hal. 116).





“Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya[146], apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian di antara kamu. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al-Baqarah : 232)

Jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya berpindah kepada wali hakim (Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, II/37; Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/33). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW,”…jika mereka [wali] berselisih/bertengkar [tidak mau menikahkan], maka penguasa (as-sulthan) adalah wali bagi orang [perempuan] yang tidak punya wali.” (Arab : …fa in isytajaruu fa as-sulthaanu waliyyu man laa waliyya lahaa) (HR. Al-Arba’ah, kecuali An-Nasa`i. Hadits ini dinilai shahih oleh Ibnu ‘Awanah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, Subulus Salam, III/118).

Yang dimaksud dengan wali hakim, adalah wali dari penguasa, yang dalam hadits di atas disebut dengan as-sulthan. Imam Ash-Shan’ani dalam kitabnya Subulus Salam II/118 menjelaskan, bahwa pengertian as-sulthan dalam hadits tersebut, adalah orang yang memegang kekuasaan (penguasa), baik ia zalim atau adil (Arab : man ilayhi al-amru, jaa`iran kaana aw ‘aadilan). Jadi, pengertian as-sulthaan di sini dipahami dalam pengertiannya secara umum, yaitu wali dari setiap penguasa, baik penguasa itu zalim atau adil. (Bukan hanya dari penguasa yang adil). Maka dari itu, penguasa saat ini walaupun zalim, karena tidak menjalankan hukum-hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, adalah sah menjadi wali hakim, selama tetap menjalankan hukum-hukum syara’ dalam urusan pernikahan.Allahu a’lam.


Dikirim pada 05 November 2010 di Bab. Nikah

Tanya : Ass... Pak Ustadz Abu Alifa, apakah ada syariatnya dalam pernikahan itu ada penyematan cincin pernikahan? Wassalam...KJ Tangerang

Jawab : Wa’alaikum salam....Pemakaian cincin kawin tidak dikenal dalam Islam, meski cincin itu bukan dari emas. Ini lebih merupakan produk budaya kelompok masyarakat tertentu. Sebagian ulama mengatakan bahwa cincin kawin itu berasal dari budaya barat (baca kafir). Dalam sebuah hadits dijelasakan "....Siapa yang menyerupai (dalam ibadah) kepada satu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka..." Memang ada hadits yang menyebutkan bahwa salah satu bentuk mahar adalah cincin meskipun hanya terbuat dari besi. Rasulullah SAW bersabda, ”Berikanlah mahar meski hanya berbentuk cincin dari besi”. Namun hadits ini tidak memhgisyaratkan adanya bentuk tukar cincin antar kedua mempelai, tapi lebih merupakan anjuran untuk memberi mahar meski hanya sekedar cincin dari besi. Jadi bukan cincin kawin yang dimaksud. Dan cincin dari besi itu diberikan pihak laki-laki sebagai mahar /mas kawin kepada pihak isteri. Sedangkan pihak isteri tidak memberi cincin itu kepada laki-laki. Allohu A’lam

Dikirim pada 07 Juni 2010 di Bab. Nikah

Tanya : Ass, pak Ustadz Abu Alifa, saya pernah mendonorkan darah kepada seseorang, apakah orang tersebut sama seperti se’susuan yang tidak boleh nikah (ada darah saya mengalir) dengannya? EY Cilegon

Jawab : Wa’alaikum salam, mendonorkan darah tidak termasuk kategori penyebab haram dinikahi dan tidak bisa sipersamakan seperti (pernah) menyusui.

Dikirim pada 22 Mei 2010 di Bab. Nikah

Tanya : Ass..pak ustadz Abu Alifa, apakah diperboleh umpamanya seorang wanita karena melihat pria tersebut dianggap shalih, kemudian wanita tersebut datang minta untuk dinikahi ? Ukhti fillah 0852324xxxx

Jawab : Wa’alaikum salam, tidak ada masalah seorang wanita minta dinikahi kepada seorang pria. Hal ini pernah terjadi pada masa Nabi SAW. Seorang wanita mendatangi Rasul SAW dan menghibahkan diri untuk minta dinikahi...." Hanya mungkin secara adat luar biasa, sebab untuk Indonesia khususnya, biasanya yang ngajak menikah (melamar) itu ada pria.

Dikirim pada 13 Mei 2010 di Bab. Nikah

Tanya : Ass...pak Ustadz, apa yang dimaksud dengan Nikah Mut’ah itu? Trims .Jamaah Masjid As-Sahara (komp.Wali Kota Jak-Bar)

Jawab : Wa’alaikum salam, Mut"ah artinya bersenang-senang. Nikah Muth’ah adalah nikah yang dalam ijab qabulnya disyaratkan untuk waktu yang ditentukan. Atau lebih kita kenal dengan kawin kontrak. Umpamanya untuk 1 tahun atau beberapa hari yang ditentukan. Setelah masa yang ditentukan (kontraknya) habis, dengan sendirinya terpisah tanpa ada adanya thalaq. Contoh ijab qabul dalam nikah muth’ah "....saya nikahkan putri saya untuk kamu selama satu bulan dengan mahar sekian ...dst......."

Dikirim pada 13 Mei 2010 di Bab. Nikah
12 Mei

Tanya : Ass..Pak Ustadz Abu, apa hukumnya khutbah Nikah dan kapan dilaksanakannya khutbah nikah itu? Lisma Ciamis 0815256xxx

Jawab : Waalaikum salam, khutbah nikah menurut para ahli fiqh hukumnya sunnah. Dan dilaksanakan sebelum ijab qabul.

Dikirim pada 12 Mei 2010 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamualaikum pak Ustadz, maaf saya mau nanya masalah pernikahan. Pak Ustadz bolehkah menikah dibulan Ramadhan? Ariny Depok 08139897xxx

Jawab : Waalaikum salam, nikah itu kaitannya dengan "mampu" (istatha’a), jadi tidak ada hubungannya dengan hari apa atau bulan apa, termasuk bulan Ramadhan. Memang ada yang dilarang menikah bahkan menikahkan atau melamar yaitu saat ibadah haji. Jadi tidak ada masalah nikah di bulan Ramadhan ataupun dibulan-bulan yang lain.

Dikirim pada 11 Mei 2010 di Bab. Nikah

Tanya : Ustadz, apa yang dinamakan ijab qabul dalam pernikahan itu? Trims... (Hadi Cilacap)

Jawab : Ijab adalah satu pernyataan dari orang tua/wali calon mempelai wanita yang menyatakan "Mas Hadi, bapak nikahkan/kawinkan putri bapak bernama ....binti.... untuk anda, dengan maskawin....." , sedangkan qabul adalah pernyataan penerimaan dari mas Hadi dengan kalimat "Saya terima nikah/kawinya putri bapak bernama....binti... dst". Allohu A’lam

Dikirim pada 14 April 2010 di Bab. Nikah

Tanya : Sebelumnya saya minta maaf telah mengirim pertanyaan lewat SMS. Pak ust. saya sebentar lagi mau nikah. Saya bermaksud membuat undangan pake fhoto bersama dengan calon suami saya, tapi fhoto tersebut sebenarnya terpisah, hanya didesain seolah sedang bergandengan. Apakah hal itu dibolehkan? ( Hani Tangerang 0813654xxxx)

Jawab : Alhamdulillah ukhti akan mengikuti jejak Rasul SAW yaitu ibadah nikah. Semoga segala sesuatunya diberikan kemudahan dan kelancaran. Pada dasarnya bikin surat undangan itu mubah (boleh), apalagi untuk sebuah prosesi ibadah. Tentu saja ukhti punya keyakinan bahwa berduaan yang bukan muhrim dilarang dalam Islam. Terbukti ukhti tidak mau fhoto berdua, tetapi fhoto masing-masing dan didesain seolah lagi berduaan. Akan tetapi hal ini-pun akan mengundang fitnah bagi yang menerima undangan. Maka karena itu kita harus menjaga jangan sampai timbul fitnah itu. Akan lebih baik nanti ukhti bergandengan yang hak dan benar-benar bergandengan setelah akad nikah. Hal ini untuk tidak menimbulkan buruk sangka terhadap ukhti sendiri. Allohu A’lam

Dikirim pada 13 April 2010 di Bab. Nikah
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.861.704 kali


connect with ABATASA