close
close
0


Tanya : Bismillah… ustadz Abu Alifa saya ingin mengetahui tata cara Umrah yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad saw. Semoga ustadz tidak keberatan menjawabnya. (Kel. Besar Jamaah Majid Al-Muthmainah)



Jawab: Ibadah Umrah meliputi pelaksanaan IHRAM, THAWAF, SHALAT DIMAQAM IBRAHIM, SA’I dan TAHALLUL.

1. IHRAM UMRAH

Setelah mandi, atau dalam kondisi sudah mandi kita mulai IHRAM dari tempat (miqat) yang telah ditentukan, lalu kita awali dengan Ihlal Ihram Umrah dengan membaca :

LABBAIKA UMRATAN (kami memenuhi panggilan Umrah-Mu)

Setelah membaca Ihlal Ihram (untuk umrah) diatas, lalu membaca talbiyah dengan nyaring (berulang-ulang) sampai menjelang pelaksanaan THAWAF. Lafadz talbiyah yang dimaksud :

LABBAILAL-LOHUMMA LABBAIK ..LABBAIKA LAA SYARIKA LAKA LABBAIK …INNAL-HAMDA WAN-NI’MATA LAKA WAL-MULK LAA SYARIKA LAK (Kami memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada serikat bagi-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, Sesungguhnya segala puji hanya milik-Mu dan kekuasaan (milik-Mu), (dan) tidak ada serikat bagi-Mu)



2. THAWAF

Ketentuan Thawaf

a. Bagi laki-laki pakaian ihramnya dengan pundak sebelah kanan terbuka

b. Dalam kondisi wudhu sebab nanti ada selesai Thawaf ada shalat di Maqam Ibrahim

c. Saat melihat Ka’bah ( Setelah masuk masjidil-Haram) membaca :

ALLOHUMMA ANTAS-SALAM WA MINKAS-SALAM FAHAYYINA RABBANA BIS-SALAM (Ya Allah, Engkaulah (sumber) keselamatan, dan dari-Mulah semua keselamatan, maka hidupkanlah kami wahai rabb kami dengan keselamatan)

Setelah itu menuju Hajar Aswad. Dan setelah sampai di Hajar Aswad atau garis lurus (jika jauh), maka bacaan talbiyah dihentikan. Lantas kita mencium hajar aswad (jika dekat), atau meraba/mengusap dengan tangan atau alat (tongkat), dan mencium tangan atau tongkat tersebut. Atau jika jauh, maka cukup dengan isyarat tangan atau tongkat TANPA menciumnya. Melakukan hal tersebut sambil membaca :

BISMILLAHI WAL-LOHU AKBAR (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Besar)

Setelah mencium atau dengan isyarat tanpa mencium, kita menghadap ke arah kanan (sehingga posisi Ka’bah ada disebelah kiri kita) untuk memmulai mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 (tujuh) putaran. Bagi laki-laki tiga putaran pertama dengan lari kecil (dari hajar aswad sampai ruknul-yamani), sedang bagi perempuan tidak ada lari kecil (berjalan saja). Saat thawaf sampai ruknul-yamani membaca do’a :

ROBBANA AATINAA FID-DUNYA HASANAH WA FIL-AKHIRATI HASANAH WA QINA ‘ADZABAN-NAAR

Hali ini dilakukan setiap putaran (thawaf). Selesai thawaf kita menuju Maqam Ibrahim untuk melaksanakan shalat. Sesampainya ditempat (sebelum shalat) membaca :

WAT-TAKHIDZUU MIM-MAQAAMI IBRAHIMA MUSHALLA



3. SHALAT DI MAQAM IBRAHIM

Yaitu shalat 2 rakaat yang dilakukan sendirian (tidak berjamaah), dengan ketentuan dirakaat pertama membaca al-fathihah dan surat al-kafirun, dan rakaat kedua al-fathihah dan surat al-ikhlash. Selesai shalat, kembali ke hajar aswad dan memegang atau isyarat sambil membaca :

BISMILLAHI WAL-LOHU AKBAR

Dan selanjutnya menuju ke bukit Shafa untuk melakukan Sa’i.



4. SA’I ANTARA SHOFA DAN MARWAH

Saat kita sampai di bukit Shafa membaca :

INNASH-SHAFA WAL-MARWATA MIN SYA’AAIRIL-LLAH

Dibukit Shafa kita menghadap Ka’bah (qiblat) sambil mengangkat tangan membaca :

ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLAL-LLAHU WAHDAHU LAA SYARIKALAH LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QADIR, LAA ILAAHA ILLAL-LAHU WAHDAH ANJAZA WA’DAH WA NASHARA ‘ABDAH WA HAZAMAL-AHZAABA WAHDAH

Lalu berdo’a (dalam posisi tetap mengangkat tangan) sesuai keinginan kita. Dilakukan bacaan dan do’a kita itu 3 kali.

Selanjutnya menuju bukit Marwah. Saat sampai lampu hijau hingga lampu hijau berikutnya, bagi laki-laki dianjurkan berlari kecil. Sampai di bukit Marwa membaca sebagaimana yang dilakukan di bukit Shafa, tapi TIDAK MEMBACA “Innas-shafa wal-marwata min sya’aairillah

Hal tersebut (sa’i) ini dilakukan tujuh balikan (dari Shafa ke Marwa dihitung satu kali, begitupun sebaliknya). Sehingga dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah.



5. TAHALLUL

Tahallul merupakan rukun terakhir dari proses ibadah Umrah. Yaitu menggunting beberapa helai rambut atau jika laki laki (dan bukan Umrah untuk Haji) dianjurkan dicukur habis. Allohu A’lam

Dikirim pada 26 Januari 2014 di Bab. Haji


Tanya : Assalamu’alaikum ... Kang Abu Alifa, apakah dibenarkan kita titip “salam”? Bagaimana jika ada yang titip salam? Apa pernah hal ini dicontohkan? Dhiyah



Jawab : Wa’alaikumussalam ... ada beberapa dalil menyebutkan tentang masalah yang dek Dhiyah tanyakan. Diantaranya :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ، هَذَا جِبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، تَرَى مَا لاَ نَرَى.

Dari Aisyah ra ia berkata: Rasulullah saw pernah berkata: “Wahai Aisyah, ini ada Jibril, dia titip salam untukmu.” Aisyah berkata: “Aku jawab, wa ‘alaihissalam wa rahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah untuknya), engkau dapat melihat apa yang tidak kami lihat.” (HR. al-Bukhari, no. 2217, Muslim, no. 2447)

عَنْ غَالِبٍ قَالَ: إِنَّا لَجُلُوْسٌ بِبَابِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: حَدَّثَنِيْ أَبِيْ عَنْ جَدِّيْ قَالَ: بَعَثَنِيْ أَبِيْ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِئْتِهِ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ. قَالَ: فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: أَبِيْ يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ. فَقَالَ: عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيْكَ السَّلاَمَ.

Dari Ghalib rahimahullah ia berkata: Sesungguhnya kami pernah duduk-duduk di depan pintu (rumah) al-Hasan al-Bashri, tiba-tiba seseorang datang (kepada kami) dan bercerita: Ayahku bercerita dari kakekku, ia (kakekku) berkata: Ayahku pernah mengutusku untuk menemui Rasulullah saw lalu ia berkata: Datangilah beliau dan sampaikan salamku kepadanya. Ia (kakekku) berkata: Maka aku menemui beliau dan berkata: Ayahku titip salam untukmu. Maka beliau menjawab: “Wa ‘alaika wa ‘ala abikassalam (semoga keselamatan tercurah kepadamu dan kepada ayahmu).” (Sunan Abi Dawud, no. 5231)

Dari hadits diatas ada beberapa point yang bisa kita simpulkan :

Nabi saw pernah menyampaikan salam (titip salamnya) Jibril yang dialamatkan kepada Aisyah ra. Dengan begitu bahwa titip salam masyru’.
Menjawab salam kepada yang nitip salam bisa sebanding atau lebih sesuai dengan lafadz salam yang masyru’.
Hal ini sesuai dengan firman Allah swt :

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْهَا.

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang semisalnya). (QS. an-Nisa: 86)

Asy-Syaukani berkata: “Penghormatan di sini adalah ucapan salam, dan makna inilah yang dimaksudkan pada ayat ini.” (Tafsir Fath al-Qadir, surat an-Nisa` ayat 86)

Sedangkan Al-Qurthubi berpendapat bahwa: “Ulama sepakat bahwa memulai salam hukumnya sunnah yang sangat dianjurkan, sedangkan menjawab salam hukumnya wajib.” (Tafsir Fath al-Qadir, surat an-Nisa` ayat 86)

Disyariatkan juga menjawab salam bukan hanya kepada juga kepada yang menyampaikannya.
Kesimpulannya menitip salam dan menyampaikan salam serta menjawab salam adalah masyru’ (disyari’atkan). Allohu A’lam

Dikirim pada 08 Desember 2013 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamu’alaikum ... Ustadz Abu Alifa, mohon dijelaskan hukum memelihara burung pake sangkar, apakah dibolehkan? Terima kasih

Jawab : Wa’alaikumussalam

Dalam sebuah hadis yang mengisyaratkan bolehnya memelihara burung. Hadis itu dari sahabat Anas bin Malik ra. Beliau memiliki adik laki-laki yang masih kanak-kanak, bernama Abu Umair. Si Adik memiliki burung kecil paruhnya merah, bernama Nughair

Anas menceritakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ – قَالَ: أَحْسِبُهُ – فَطِيمًا، وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: «يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ» نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ



Nabi saw adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya memiliki seorang adik lelaki, namanya Abu Umair. Usianya mendekati usia baru disapih. Apabila Rasulullah saw datang, beliau memanggil, ‘Wahai Abu Umair, ada apa dengan Nughair?’ Nughair adalah burung yang digunakan mainan Abu Umair. (HR. Bukhari 6203, Muslim 2150)

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberikan kesimpulan diantaranya:

جواز إمساك الطير في القفص ونحوه

“(Hadis ini dalil) bolehnya memelihara burung dalam sangkar atau semacamnya.” (Fathul Bari, 10/584).

Tidak ada larangan memelihara burung, tentu dengan syarat dipeliharanya dengan baik, seperti diberi makan dan lainnya. Dalam riwayat lain juga memberikan isyarat bolehnya memelihara hewan (tentu hewan yang tidak diharamkan).

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال : ( عُذّبت امرأة في هرّة ، سجنتها حتى ماتت ، فدخلت فيها النار ؛ لا هي أطعمتها ، ولا سقتها إذ حبستها ، ولا هي تركتها تأكل من خشاش الأرض ) متفق عليه.

Dari Abdullah ibn Umar ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda : Seorang wanita disiksa disebabkan seekor kucing. Ia kurung (kucing itu) sampai mati, maka wanita itupun masuk neraka. Saat mengurung (kucing tersebut) wanita itu tidak memberinya makan dan minum, dan tidak pula melepaskannya supaya kucing itu mencari serangga bumi. (Mutafaq ‘Alaih)

Dari keterangan diatas hemat kami, bukan masalah memelihara atau dikandangin binatang itu, melainkan karena tidak diurusnya (yaitu) memberikan hak hidup dengan diberi makan dan minumnya .

Jadi secara hukum boleh kita memelihara hewan termasuk burung. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 Desember 2013 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamu’alaikum...! Pak ustadz, sebelumnya saya mau cerita bahwa ditempat tinggal saya ada yang sudah menikah kurang lebih satu tahun, bahkan sudah punya anak satu. Akan tetapi ada yang bilang (dulu tetangga dekat sekarang sudah pindah) mengatakan bahwa yang menikah itu adalah saudara sesusu, sebab katanya si B (yang menikah) kepada si A pernah dititipkan selama satu minggu dan dia melihatnya sering disusui oleh orang tua si A. Pak ustadz, bagaimana hukumnya sekarang jika benar ia itu saudara sesusu. Apa yang mesti dilakukan? (Mohon nama jangan dicantumkan). Wassalam.



Jawab : Wa’alaikumussalam ... Diantara wanita/perempuan yang diharamkan untuk dinikahi adalah saudara sesusuan. Firman Allah swt :


حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا


“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan ayahmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan dari saudara perem-puanmu, ibu-ibu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuan yang satu susuan denganmu, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak perempuan dari isterimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum mencampurinya (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa atasmu (jika menikahinya), (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [An-Nisaa` : 23]

يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ

Haramnya karena sesusuan, sama haramnya sebagaimana haramnya hubungan nasab (HR. Bukhari)

Maka jika sudah pasti yang menikah itu adalah saudara sesusu, maka tentu harus dipisahkan (harus diceraikan) sekalipun ia sudah mempunyai anak. Hal inipun pernah terjadi pada masa Nabi saw.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الْحَارِثِ، أَنَّهُ تَزَوَّجَ ابْنَةً لأَبِي إِهَابِ بْنِ عَزِيزٍ، فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُ عُقْبَةَ وَالَّتِي تَزَوَّجَ بِهَا‏.‏ فَقَالَ لَهَا عُقْبَةُ مَا أَعْلَمُ أَنَّكِ أَرْضَعْتِنِي وَلاَ أَخْبَرْتِنِي‏.‏ فَرَكِبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ كَيْفَ وَقَدْ قِيلَ ‏"‏‏.‏ فَفَارَقَهَا عُقْبَةُ، وَنَكَحَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ‏.‏

Dari `Uqbah bin Al Harits; bahwasanya dia menikahi seorang perempuan putri Ibnu Ihab bin `Aziz. Lalu datanglah seorang perempuan dan berkata: "Aku pernah menyusui `Uqbah dan wanita yang dinikahinya itu". Maka `Uqbah berkata kepada perempuan itu: "Aku tidak tahu kalau kamu pernah menyusuiku dan kamu tidak memberitahu aku." Maka `Uqbah mengendarai kendaraannya menemui Rasul saw di Madinah dan menyampaikan masalahnya. Maka Rasul saw bersabda: "harus bagaimana lagi, dia sudah mengatakannya (begitu)". Maka `Uqbah menceraikannya dan menikah dengan wanita yang lain. (HR. Bukhari).

Dengan demikian ia wajib untuk menceraikannya! Allohu A’lam

Dikirim pada 03 Desember 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Bismillah ... Ustadz Abu apakah sah jika khutbah nikah itu dilaksanakan setelah akad nikah (ijab qabul)? Wassalam

Jawab : Bismillahirrahmanirrahim ... Secara pribadi saya belum mendapatkan dalil yang memerintahkan atau menganjurkan dari Nabi saw bahwa khutbah nikah itu harus dilaksanakan sebelum ijab qabul. Hanya mungkin, khutbah nikah dilakukan sebelum ijab qabul, maka calon suami bisa berpikir ulang, apakah siap melaksanakan kewajibannya sebagai suami kelak setelah mendapatkan nasihat atau khutbah yang (isinya) menjelaskan tentang kewajiban dalam rumah tangga. Atau mungkin secara logika, khutbah sering dilakukan sebelum ijab qabul, sebab bekal itu diberikan sebelum ia berangkat menaiki bahtera (rumah tangga).

Terlepas dari dalih tersebut, maka secara hukum khutbah nikah baik dilaksanakan sebelum atau sesudah ijab qabul adalah sah. Allohu A`lam

Dikirim pada 24 Agustus 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum…Ustadz Abu Alifa… ditempat kami ada jamaah (bukan keluarga)yang ngajak makansahur bersama (bukan buka bersama). Apakah hal ini pernah dilakukan oleh Nabisaw? Saya khawatir hal ini menjadi bid’ah! Trim’s Sidoarjo



Jawab :Wa’alaikumussalam … perhatikan pengalaman para shahabat dalam keterangan dibawah ini.



عن أنس بن مالك عن زيد بن ثابت رضي الله عنهما قال { تسحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم . ثم قام إلى الصلاة . قال أنس : قلت لزيد : كم كان بين الأذان والسحور ؟ قال : قدر خمسين آية



Dari Anas bin Malik dan(juga) dari Zaid bin Tsabit ra. Kami pernah sahur BERSAMA Rasulullah saw. Lalukami berdiri untuk shalat (shubuh). Lalu Anas berkata kepada Zaid: berapakira-kira jarak antara shalat shubuh dan sahur? Ia menjawab : Seukuran membaca50 ayat. ( HR.Bukhary 1921 dan Muslim 1097)





Dengan demikian makan sahur bersamapernah dicontohkan oleh Nabi saw dengan para shahabat. Allohu A’lam

Dikirim pada 20 Juli 2013 di Bab. Shaum


Tanya : Assalamu’alaikum… Buya, ananda mohon maaf sedikit bercerita masalah pribadi (maaf Abi cut-ya). Jadi bagaimana hukumnya Buya, sebab ia tetap bersikukuh boleh berhubungan sehabis makan sahur! (Nama dirahasiakan)
Jawab : Wa’alaikumussalam… Ananda “A”, penolakan ananda wajar, sebab dilatar belakangi oleh kekhawatiran ananda melanggar syar’i. Disinilah wajibnya bertanya atau menuntut ilmu.
Perhatikan firman Allah swt.
“Dihalalkan bagi kamu pada malam shiyam (bulan ramadhan) bercampur dengan istri-istri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu,karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (Qs. al-Baqarah: 187).
Dalam keterangan lain :
عَنْالزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِالْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ أَنَّ أَبَاهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَ مَرْوَانَ أَنَّعَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ أَخْبَرَتَاهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ (رواه البخاري

Dari Az-Zuhriy berkata telah mengabarkan kepada saya Abu Bakar bin Abdirrahman bin Al-Harits bin Hisyam bahwa bapaknya yakni Abdurrahman telah mengabari Marwan bahwa Aisyah dan Ummu Salamah keduanya telah memberi kabar kepadanya bahwa Rasulullah saw suatu hari tiba di waktu fajar (shubuh) dan beliau dalam keadaan junub, kemudian beliau mandi dan shaum (HR.Bukhary)
عَنْعُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ وَأَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّعَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قَدْكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُفِي رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ رواه مسلم
Dari ‘Urwah bin Zubair dan Abi Bakar bin Abdirrahman bahwa Aisyah istri Nabi saw telah berkata: sungguh Rasulullah saw suatu hari tiba di waktu fajar di bulan Ramadlan dan beliau dalam keadaan junub bukan karena mimpi, lalu beliau mandi dan lalu shaum (HR.Muslim)
Jadi selama berhubungan suami itu dilakukan dimalam hari (sebelum shubuh tiba), maka tidak menggugurkan shaum yang kita akan lakukan (boleh berhubungan). Allohu A’lam

Dikirim pada 11 Juli 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum… pak ustadz apakah ada kaitannya dan dalilnya menjelang Ramadhan dengan ziarah kubur? Cilacap


Jawab : Wa’alaikumussalam… belum ditemukan dalil yang menganjurkan menjelang Ramadhan ataupun bulan-bulan yang lain untuk ziarah (dulu) ke kuburan. Ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja. Sebab inti ziarah kubur bukan dikaitkan dengan bulan, akan tetapi untuk mengingatkan kita akan kematian (akhirat).

Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad saw :

Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda: «berziarah kuburlah, karena hal itu akan mengingatkan kamu tentang akhirat. (Sunan Ibnu Majah: 1/500)

Jadi ziarah kubur merupakan sebuah anjuran, supaya kita mengingat akan kematian. Dan tidak ada hubungannya dengan bulan Ramadhan, Syawwal atau bulan yang lainnya. Ziarah kubur bias dilakukan kapan saja termasuk dibulan Ramadhan. Allohu A’lam

Dikirim pada 11 Juli 2013 di Bab. Jenazah


Tanya : Assalamu’alaikum … ustadz Abu, bagaimana pendapat ustadz mengenai waritsan untuk anak hasil dari perzinahan, maksud saya apakah dia akan mendapatkan dari yang melahirkan (ibu) dan dari laki-laki yang menzinahi ibunya? Wassalam RKI

Jawab : Wa’alaikumussalam … ada beberapa sebab seseorang itu mendapat bagian warits, diantaranya : Pertama, disebabkan adanya pernikahan. Seperti istri akan mendapatkan warits dari suami, atau sebaliknya. Hal ini dikarenakan ada hubungan pernikahan yang sah. Tetapi jika pernikahannya tidak sah secara syar’I (Islam), atau kedua orang tuanya bukan Muslim dan melahirkan anak, maka anak tersebut dinasabkan hanya kepada ibunya saja. Hubungan nasab (darah) dengan ayahnya terputus. Dan anak itu hanya dinisbatkan kepada ibunya, atau anak tersebut hanya mendapat bagian dari ibunya. Oleh karena itu sebab mendapat warits yang Kedua adanya hubungan nasab (keturunan), seprti anak dari ayah atau ibu, atau sebaliknya.

Hemat kami anak hasil dari perzinahan atau perselingkuhan hanya dapat waritsan dari yang melahirkan (ibu). Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Juni 2013 di Bab. Mawarits


Tanya : Assalamu’alaikumwarahmatullah … Karena melihat keteladanan dan ke-ilmuannya, apakah dibolehkah seorang wanita datang kepada orang tersebut untuk dipinang atau dinikahinya?Apakah tidak menyalahi aturan syari’at? Thanks ustadz …



Jawab : Wa’alaikumussalamwarahmatullah wa barakatuh … Dari sisi kebiasaan (adat) khususnya di Indonesia,mungkin sebagian orang menganggap bahwa hal ini diluar kebiasaan yang dianut,atau bahkan dibilang wanita tersebut “tidak punya rasa malu”. Tetapi dari sudutsyariat hal tersebut tidaklah melanggar ketentuan agama (Islam).



Imam al-Bukhary mer iwayatkansatu kejadian yang bersumber cerita dari Anas r.a. bahwa ada seorang wanitayang datang menawarkan diri kepada Rasulullah saw dan berkata: "Ya Rasulallah!Apakah Engkau membutuhkan daku?" Putri Anas yang hadir dan mendengarkanperkataan wanita itu mencela sang wanita yang tidak punya harga diri dan rasamalu, "Alangkah sedikitnya rasa malunya, sungguh memalukan, sungguh memalukan." Anas berkata kepada putrinya: "Dia lebih baik darimu, Diasenang kepada Rasulullah saw lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau!"(HR Bukhari).



Bahkan dalam kitab shahihnyaImam al-Bukhary memuat satu bab “Wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki soleh”.Ibn Hajar menyimpulkan bahwa hadits yang termaktub dalam shahih Bukhary menunjukkankebolehan bagi wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki, dan boleh memberitahukanbahwa ia menyukainya. Perbuatan ini tidak menjadikan wanita rendah martabatnya.Allohu A’lam

Dikirim pada 25 Mei 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Bismillah … ustadz Abu Alifa, dalam shalat berjamaah bolehkan seorang makmum yang berdekatan dengan Imam mengeraskan “komando” Imam, dikarenakan ucapan Imam kurang kedengaran oleh makmum yang dibelakang!? HG

Jawab : Zaid bin Sahl Al-Anshary (Abu Thalhah) meupakan diantara shahabat yang suaranya lantang dan keras. Beliaulah yang dalam shalat berjamaah suka menyambung suara Nabi saw, disebabkan “komando” atau suara Rasul hanya terdengar sampai beberapa shaff saja. Jadi boleh dikatakan bahwa Abu Thalhah merupakan “pengeras suara” Nabi saw (lihat Risalah No.1 th 51 hal.19).

Hal ini tentu saja jika alat pengeras suara ada gangguan, maka tidak ada halangan makmum yang dekat menjadi penyambung suara Imam. Allohu A’lam

Dikirim pada 25 Mei 2013 di Bab. Sholat


Tanya : Bismillah… Kang Abu (punten abi mah resep nyebat akang), bade tumaros (mau nanya) soal shalat gerhana. Apakah pada jaman Nabi saw wanita ikut shalat gerhana dimasjid? Soalna ada yang mengatakan b agiwanita tidak diperkenankan! Hatur nuhun kana waleranana.. NR Tasikmalaya

Jawab : Syaikhu al-hadits Imam Al-Bukhary dalam kitabnya memuat “Babu al-Shalati al-Nisaai ma’a al-rijaali fi al-kusuf”. Dalam bab itu ada hadits yang diterima oleh Asma’ binti Abi Bakr ra. Beliau (Asma’) bercerita :

أَتَيْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ ، وَإِذَا هِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّى فَقُلْتُ مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ . فَقُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ أَىْ نَعَمْ

“Saya mendatangi Aisyah ra –(yaitu) isteri Nabi saw- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ternyata Aisyah-pun berdiri ikut shalat. Saya (Asma’) bertanya: “Kenapa orang-orang ini?” Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan ya (HR. Bukhary no 1053)

Dengan hadits diatas cukuplah menjadi dasar dan hujjah bahwa syariat shalat kusuf pada masa Nabi saw bukan saja diikuti oleh laki-laki melainkan juga wanita. Allohu A’lam

Dikirim pada 07 Mei 2013 di Bab. Sholat


Tanya : Bismillah … ustadz Abu Alifa, menurut pendapat ustadz apakah do’a iftitah pada saat shalat tarawih atau shalat malam dibaca pada tiap di dua kali dalam 4 rakaat dan 3 rakaat diawal takbir?

Jawab : Karena 11 rakaat itu merupakan rangkaian shalat Tarawih atau shalat Malam, maka hemat kami cukup diawal saat melaksanakan shalat tarawih itu! Allohu A’lam

Dikirim pada 23 April 2013 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamu’alaikum … pak ustadz Abu Alifa yang saya hormati. Benarkah bahwa berhubungan suami istri itu berpahala bagi keduanya? KL Medan

Jawab : Wa’alaikumussalam … Dalam sebuah hadits Nabi saw pernah bersabda :

….”وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرً

"Dan pada kemaluan (bercampur/jima’) kalian terdapat sedekah. Mereka (para sahabat) bertanya, Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang menyalurkan syahwatnya akan mendapatkan pahala?` Beliau bersabda, `Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan pada tempat yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala." (HR. Muslim dari Abu Dzar ra)

Dengan demikian bercampurnya suami istri berpahala! Allohu A’lam

Dikirim pada 13 April 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Bismillah … pak ustadz punten (maaf) saya mau bertanya mengenai wasiat. Begini ustadz, saya merupakan tiga saudara, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Saudara saya yang perempuan sudah lama meninggal dua bulan setelah ayah kami meninggal. Dan saudara perempuan itu mempunyai dua orang anak. Kurang lebih dua minggu yang lalu ibu kami meninggal. Pada saat mau dibagikan waritsan peninggalan ibu, saya dan kakak bersepakat untuk memberikan sebagian waritsan (yang tentu merupakan bagian kami berdua) kepada kedua anak saudara perempuan kami kurang lebih 2/4 dari waritsan itu karena untuk mereka berdua. Artinya kami dan keponakan sama-sama menerima 1/4 dari waritsan ibu. Apakah hal tersebut menyalahi wasiat? DG



Jawab : Bapak DG, perlu dipahami bahwa wasiat itu bukan kesepakatan dan bukan datang dari ahli warits. Wasiat merupakan amanat yang disampaikan dari yang akan meninggal bertalian dengan harta yang akan ditinggalkannya.

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. 2:180)

Artinya wasiat itu (kalau dalam peristiwa bapak) adalah yang disampaikan atau ditulis oleh ibu sebelum meninggal. Jadi, kesepakatan bapak berdua bukan wasiat dan juga tidak menyalahi wasiat. Bahkan jika bapak berdua bersepakat mau memberikan semua harta untuk kedua anak saudara perempuan tersebut, hal itu tidak menyalahi aturan hukum warits. Allohu A’lam

Dikirim pada 28 Maret 2013 di Bab. Mawarits


Tanya : Assalamu’alaikum pak ustadz Abu Alifa … Begini ustadz, waktu saya selesai wudhu, diberitahu oleh teman saya bahwa ada wanita cantik. Kemudian saya melihatnya (maaf lama sekali) sampai gadis itu tidak terlihat. Kemudian saya bermaksud masuk ke masjid hendak shalat. Tiba-tiba teman saya bilang bahwa wudhu kamu batal karena barusan dengan sengaja melihat gadis tersebut lama sekali, hal tersebut haram dilakukan dan menyebabkan wudhu juga batal. Apakah benar ustadz bahwa melihat gadis atau wanita cantik seperti yang saya lakukan dapat membatalkan wudhu?

Jawab : Wa’alaikumussalam … melihat wanita baik sengaja atau tidak sengaja bukanlah termasuk dari hal-hal yang membatalkan wudhu. Jadi wudhu anda tidak batal.

Mengenai memandang wanita dengan sengaja dan bukan muhrim merupakan perbuatan yang diharamkan.

قلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ…

Katakanlah kepada para lelaki yang beriman, “Hendaknya mereka menahan sebagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”, dan katakanlah kepada para wanita yang beriman, “Hendaknya mereka menahan sebagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka…..(QS. An-Nuur 30)

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَنْ نَظْرَةِ الْفَجَاءَةِ, فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِيْ

“Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau memerintahan aku untuk memalingkan pandanganku” (HR.Muslim no 45 dari Jabir bin Abdillah ra)

Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah saw berkata kepada Ali ra
يَا عَلِيّ ُ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ

“Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama (tidak dosa) dan dosa bagimu pandangan yang berikutnya (pandangan yang kedua)” (HR Abu Dawud no 2149 Kitabun Nikah, At-Tirmidzi no 2777 Kitabul-Adab, Syaikh Al-Albani memandang sebagai hadits Hasan)

Dengan demikian memandang wanita (bukan muhrim) tidak membatalkan wudhu. Dan memandang wanita bukan muhrim termasuk perbuatan yang dilarang (haram). Allohu A’lam

Dikirim pada 09 Maret 2013 di Bab. Bersuci


Suatu hari seorang pria bertemu dengan Socrates dan berkata, “Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman Anda?” Tunggu sebentar, jawab Socrates. “Sebelum memberitahukan sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut saya namakan Ujian Saringan Tiga Lapis.” Saringan Tiga Lapis? Tanya pria tersebut. Betul …! Lanjut Socrates.

Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan tentang teman saya. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Lapis.

Saringan yang pertama adalah KEBENARAN. Sudah pastikah Anda bahwa apa yang akan Anda katakan kepada saya benar? “Tidak”, kata pria tersebut. “Sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada Anda”. “Baiklah”, kata Socrates. “Jadi anda sungguh tidak tahu hal ini benar atau tidak”.

Sekarang mari kita coba saringan kedua, yaitu KEBAIKAN. Apakah yang akan Anda katakana kepada saya mengenai teman saya adalah suatu yang baik? Tanya Socrates. “Tidak, sebaliknya mengenai hal yang buruk”. Jawab pria tersebut. Jadi, lanjut Socrates, anda ingin mengatakan sesuatu yang buruk mengenai dia, tapi Anda sendiri tidak yakin kalau itu benar!

Anda mungkin masih bias lulus ujian selanjutnya, yaitu KEGUNAAN. Apakah yang akan Anda beri tahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya? Tanya Socrates. “Tidak, sungguh tidak”, jawab pria tersebut. Kalau begitu, simpul Socrates. “Jika apa yang Anda ingin beri tahukan kepada saya tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, mengapa Anda ingin menceritakannya kepada saya?” (sumber : Manajemen Alhamdulillah)

Dikirim pada 08 Maret 2013 di IBRAH


Diceritakan pada masa silam ada seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yang bagus dan gagah. Dan suatu hari, seorang saudagar kaya ingin membeli kuda itu dengan harga yang cukup tinggi. Akan tetapi si petani miskin itu tidak berniat untuk menjualnya. Teman-temannya menyayangkan dan mengejeknya atas keputusan yang diambil petani tersebut yang menurut mereka keputusan yang “bodoh“.

Keesokan harinya kuda putih itu hilang dari kandangnya. Maka teman-temannya berkata, “Sungguh malang dan jelek nasibmu! Padahal seandainya kemarin kudamu dijual, tentu kamu akan menjadi kaya, tapi sekarang kudamu sudah hilang tak membawa keberuntungan”.

Si petani miskin hanya diam!

Beberapa hari kemudian, kuda si petai itu kembali bersama 5 ekor kuda lainnya. Lalu teman-temannya berkata, “Wah, beruntung sekali nasibmu, ternyata kudamu membawa keberuntungan”.

Si petani hanya diam!

Beberapa hari kemudian, anak si petani yang sedang melatih kuda-kuda baru terjatuh dan kakinya patah. Teman-temannya berkata, “Rupanya kuda-kuda itu membawa sial, lihat sekarang kaki anakmu patah“.

Sekali lagi, si petani tetap diam tak berkomentar!

Seminggu kemudian terjadi peperangan diwilayah itu. Semua anak muda didesa dipaksa untuk berperang, kecuali anak si petani karena tidak bisa berjalan. Sekali lagi teman-temanya mendatangi si petani sambil menangis, “Beruntung sekali nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang, sementara kami harus kehilangan anak-anak kami“.

Si petani kemudian berkomentar, “Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau jelek. Semuanya adalah suatu rangkaian proses. Syukuri dan terima keadaan yang terjadi saat ini, apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang dirasa buruk hari ini, belum tentu buruk untuk hari esok“. (Sumber : Manajemen Alhamdulillah)

Dikirim pada 07 Maret 2013 di IBRAH


Tanya : Assalamu’alaikum pak ustadz sebenarnya kedudukan melamar perempuan dalam Islam itu bagaimana? Apakah jika tidak melamar dulu dan langsung aqad nikah dibolehkan?

Jawab : Wa’alaikumussalam .. Dalam Al-Quran sebenarnya sudah disinggung adanya masalah melamar atau meminang (khitbah).

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِۦ مِنْ خِطْبَةِ ٱلنِّسَآءِ أَوْ أَكْنَنتُمْ فِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِن لَّا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّآ أَن تَقُولُوا۟ قَوْلًۭا مَّعْرُوفًۭا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا۟ عُقْدَةَ ٱلنِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ ٱلْكِتَٰبُ أَجَلَهُۥ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ فَٱحْذَرُوهُ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌۭ

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita (yang suaminya telah meninggal dan masih dalam ‘iddah) itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf (sindiran yang baik). Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis ‘iddahnya. (QS.2 : 235)

Khitbah atau melamar, meski bagaimanapun tak lebih hanya untuk menguatkan dan memantapkannya atau menentukan waktu untuk melaksanakan akad nikah saja. Dan khitbah bagaimanapun keadaannya tidak akan dapat memberikan hak apa-apa kepada si peminang melainkan hanya dapat menghalangi lelaki lain untuk meminangnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Tidak boleh salah seorang diantara kamu meminang pinangan saudaranya.” (Muttafaq ‘alaih)

Karena itu, yang penting dan harus diperhatikan di sini bahwa wanita yang telah dipinang atau dilamar tetap merupakan orang asing (bukan mahram) bagi si pelamar sampai terjadinya aqad nikah.

Melamar atau khitbah diibaratkan sebagai sebuah tangga yang bias saja dilewati, jika mampu untuk loncat atau naik keatas. Artinya jika ia datang dan langsung aqad nikah, maka tentu hal tersebut tidak menyalahi syariat. Dengan catatan kedua belah pihak setuju untuk dilangsungkan aqad nikah. Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Maret 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Bismillah … ustadz bagaimana kalau masbuq dalam shalat jenazah yang takbirnya baru tiga kali dan imam dengan jamaah lain sudah selesai. Apakah ikut salam atau menambah takbir? Apakah takbir pertama saya bacaannya langsung ke takbir kedua mengikuti imam atau bacaan takbir pertama (al-fatihah)?

Jawab : Tidak ada bedanya masbuq dalam shalat, baik shalat fardhu atau shalat sunnat yang dilakukan berjamaah seperti shalat ‘ied. Begitupun halnya dengan shalat jenazah. Apa yang kita baca disesuaikan dengan takbir yang kita lakukan. Sekalipun Imam dengan jamaah lain membaca do’a lain (karena sudah ditakbir berikutnya), tapi kita yang masbuq tetap membaca ditakbir awal kita. Dan saat imam mengucapkan salam, maka kita tambah lagi takbir yang kurang itu begitupun bacaannya.

Ibnu Hazm berkata: “Bila seseorang luput dari mendapatkan beberapa takbir dalam shalat jenazah (bersama imamnya), maka ia langsung bertakbir ketika tiba di tempat shalat tersebut tanpa menanti takbir imam yang berikutnya. Apabila imam telah salam, ia menyempurnakan apa yang luput dari takbirnya, dan berdoa di antara takbir yang satu dengan takbir yang lain sebagaimana yang ia perbuat bersama imam. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw terhadap orang yang (terlambat) mendatangi shalat berjamaah (masbuq) agar ia mengerjakan apa yang sempat ia dapatkan bersama imam dan ia sempurnakan apa yang tertinggal….” (Al-Muhalla, 3/410). Allohu A’lam

Dikirim pada 03 Maret 2013 di Bab. Jenazah


Oleh: al-Ustadz Amin Saefullah Muchtar

Sogok/suap dan hadiah merupakan fenomena yang tidak asing dalam masyarakat kita. Banyak istilah yang digunakan untuk kedua masalah ini, seperti dari ucapan terima kasih, parsel, money politik, uang pelicin, pungli dan lain sebagainya. Hanya saja istilah hadiah di samping mengandung makna positif juga mengandung makna negatif. Dalam Bahasa Indonesia hadiah bisa diartikan sebagai suatu penghargaan atas prestasi seseorang dalam suatu kompetisi atau pemberian atas kebaikan hati seseorang. Selain itu hadiah juga bisa bermakna sebuah pemberian yang berhubungan dengan kepentingan-kepentingan pribadi.

Dari sudut pandang hukum Islam, wawasan masyarakat sangat terbatas mengenai masalah sogok dan hadiah. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa sogok bukan sebuah kejahatan, tetapi hanya kesalahan kecil. Sebagian lain, walaupun mengetahui bahwa sogok adalah terlarang, namun mereka tidak peduli dengan larangan tersebut. Apalagi karena terpengaruh dengan keuntungan yang didapatkan.

Di pihak lain masayarakat menganggap sogok itu sebagai hadiah atau tanda terima kasih. Bahkan ada yang beranggapan sebagai uang jasa atas bantuan yang telah diberikan seseorang, sehingga mereka tidak merasakan hal itu sebagai sebuah kesalahan atau pelanggaran apalagi kejahatan.

Sudah menjadi rahasia umum betapa banyak risywah terjadi di bidang peradilan yang diberikan untuk memenangkan perkara. Demikian pula di bidang pekerjaan, baik Pegawai Negeri Sipil (PNS), swasta, anggota polisi dan tentara, dan malah di dunia pendidikan pun hal ini terjadi. Perbuatan tersebut tanpa ada perasaan risih dilakukan oleh orang yang mengerti hukum dan aturan.

Sejauhmana sebenarnya batas-batas pemisah antara sogok dan risywah juga hadiah dalam pandangan Hukum Islam? Hal ini memerlukan kajian yang mendalam dari sudut pandang hukum Islam, agar umat memahami dan mengerti dengan baik sehingga mereka berbuat sesuai dengan ajaran Islam.

Pengertian Risywah

Secara haqiqah lughawiyah (hakikat bahasa) kata risywah (رشوةِ) berasal dari kata risya (رشاء) maknanya

الَّذِي يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى الْمَاءِ

“tali timba yang berfungsi mengantarkan timba sehingga bisa sampai ke air” (an-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, II:546)

Secara haqiqah ‘urfiyah (hakikat adat kebiasaan) kata risywah (رشوةِ) maknanya

الوُصْلَةُ إِلَى الْحَاجَةِ بِالْمُصَانَعَةِ

“alat penghubung terwujudnya kebutuhan dengan suap” (al-Faiq fi Gharib Al-Hadits, II:60)

Namun dapat bermakna pula al-ja’lu/al-ju’lu, yaitu

مَا يُعْطِيهِ الشَّخْصُ الْحَاكِمَ أَوْ غَيْرَهُ لِيَحْكُمَ لَهُ ، أَوْ يَحْمِلَهُ عَلَى مَا يُرِيْدُ

“Pemberian seseorang kepada hakim atau yang lainnya supaya memberikan keputusan yang menguntungkannya atau membuat orang yang diberi melakukan apa yang diinginkan oleh yang memberi” (Lihat, Tajul ‘Arus min Jawahiril Qamus, XXXVIII:153)

Secara haqiqah syar’iyyah (hakikat syariat) kata risywah (رشوةِ) maknanya

مَا يُعْطَى لإِبْطَالِ حَقٍّ أَوْ لإِحْقَاقِ بَاطِلٍ

“Pemberian untuk membatalkan kebenaran dan membenarkan yang batil” (Lihat, Syarhus Sunnah, X:88)

Berbagai pendekatan di atas menunjukkan bahwa makna risywah secara istilah syar’i lebih spesifik, yaitu pemberian kepada seseorang supaya yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Jadi, secara syariat suatu pemberian dapat dikategorikan delik risywah jika membuat yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Tentu saja salah dan benar yang dimaksud di sini menurut parameter syariat, bukan semata-mata ‘urf atau adat kebiasaan manusia.

Secara praktek dapat dipastikan bahwa risywah melibatkan dua pihak (ar-rasyi dan al-murtasyi). Namun terkadang melibatkan pula pihak ketiga (ar-Raisy).

Imam Ibnul Jauzi menjelaskan:

الرَّاشِي الَّذِيْ يُعْطِي مَنْ يُعِينُهُ عَلَى البَاطِلِ والمُرْتَشِي الآخِذُ وَالَّذِيْ يَسْعَى بَيْنَهُما يُسَمَّى الرَّائشُ

“Ar-Rasyi adalah orang yang memberikan harta kepada orang lain yang membantunya pada kebathilan. Al Murtasyi adalah yang mengambil harta tersebut. Dan yang berperan (perantara) di antara keduanya disebut ar-Raisy”. (Lihat, Gharib Al-Hadits, I:395)

Imam as-Shan’ani menjelaskan:

والرَاشِي: هُوَ الَّذِي يُبَذِّلُ الْمَالَ لِيَتَوَصَّلُ اِلَى البَاطِلِ.

Ar-Rasyi adalah orang yang memberikan harta agar sampai kepada kebathilan.

وَالْمُرْتَشِي: آخْذُ الرُّشْوَةِ

Al Murtasyi adalah yang mengambil risywah.

وَالرَّائِشُ : وَهُوَ الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا

Ar Raisy adalah yang mengadakan terjadinya risywah (perantara). (Lihat, Subul as-Salam Syarh Bulugh Al-Maram, III:423)

Keharaman Risywah

Di dalam ayat Alquran istilah risywah tidak disebutkan secara tersurat. Namun Alquran menggunakan ungkapan lain yang bermakna risywah, yaitu as-suht. Allah berfirman:

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

”Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram” Q.s. Al Maidah:42

Kalimat akkaaluna lissuhti secara umum sering diterjemahkan dengan memakan harta yang haram. Namun konteksnya adalah memakan harta berstatus risywah. Penafsiran ini sesuai dengan penjelasan Nabi:

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ بِالسُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ وَمَا السُّحْتُ ؟ قَالَ الرِّشْوَةُ فِى الْحُكْمِ – رواه ابن جرير عن عمر -

“Setiap daging yang tumbuh karena as-suht, maka api nereka lebih utama kepadanya” Mereka bertanya, “Wahai Rasul, apa as-suht itu?” beliau menjawab, “Risywah dalam hukum”(H.r. Ibnu Jarir, dari Umar)

Jadi risywah identik dengan memakan barang yang diharamkan oleh Allah swt.

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (Q.s. Al Baqarah:188)

Sedangkan dalam sunah keharaman risywah diungkap secara sharih (tegas dan jelas), antara lain sebagai berikut:

لَعْنَةُ الله عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي في الحُكْمِ

“Laknat Allah bagi penyuap dan yang menerima suap dalam hukum” (H.r. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

لَعْنَةُ الله عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي

“Laknat Allah bagi penyuap dan yang menerima suap” (H.r. al-Khamsah kecuali an-Nasa’i dan di shahihkan oleh at-Tirmidzi)

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ يَعْنِي الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا

“Rasulullah saw. melaknat ar-rasyi dan al-murtasyi, yakni yang berjalan (perantara) di antara keduanya ” (H.r. Ahmad)

Dalam riwayat Ahmad, Abu Daud, dan at-Tirmidzi (dari Abu Hurairah) risywah itu dilarang dalam bidang peradilan. Akan tetapi dalam riwayat al-khamsah selain an-Nasai (dari Abdullah bin Amr dan Tsauban) pelarangan risywah berlaku secara umum tanpa mengkhususkan dalam bidang peradilan. Kedua hadis ini menunjukkan pelarangan risywah berlaku di bidang apapun. Hanya saja risywah di dunia peradilan memiliki peluang yang sangat besar, karena dalam bidang peradilan terjadi perebutan hak bagi bagi orang-orang yang berperkara. Risywah dalam bidang ini disebut as-suht.

Yang Termasuk Diharamkan Terkait dengan Risywah

Kalau diperhatikan lebih seksama ternyata hadis-hadis itu bukan hanya mengharamkan memakan harta hasil dari risywah, melainkan juga mengharamkan peran aktif berbagai pihak yang terlibat dalam terwujudnya risywah itu. Adapun pihak-pihak yang diharamkan ada tiga: yaitu (1) rasyi (pemberi sogokan), (2) murtasyi (penerima sogokan), (3) raisy (Mediator terjadinya sogokan).

Hal itu dapat dimengerti karena tanpa peran aktif dari ketiga pihak itu “transaksi” risywah tidak akan berjalan dengan lancar, bahkan tidak terwujud. Artinya, tidak akan mungkin terjadi seseorang “memakan” harta berstatus risywah, kalau tidak ada rasyi. Maka rasyi pun termasuk mendapat laknat dari Allah. Karena pekerjaan dan inisiatif dialah ada orang yang makan harta berstatus risywah. Dan dalam kasus tertentu selalu ada pihak yang menjadi mediator atau perantara yang bisa memuluskan jalan. Sebab bisa jadi pihak rasyi tidak mau menampilkan diri, maka dia akan menggunakan pihak lain sebagai mediator. Atau sebaliknya, pihak murtasyi tidak mau bertemu langsung dengan rasyi, maka peran mediator itu penting. Dan sebagai mediator ia mendapatkan kompensasi tertentu dari hasil kerjanya itu.

Secara praktik kasus suap pada zaman Umar dapat kita jadikan contoh:

عن زيد بن أسلم، عن أبيه: كان عمر إذا بعثني إلى بعض ولده قال: لا تعلمه لما أبعث إليه مخافة أن يلقنه الشيطان كذبة. فجاءت امرأة لعبيدالله بن عمر ذات يوم، فقالت: إن أبا عيسى لا ينفق علي ولا يكسوني.فقال: ويحك ومن أبو عيسى ؟ قالت: ابنك.قال: وهل لعيسى من أب ؟ فبعثني إليه وقال: لا تخبره. فأتيته وعنده ديك ودجاجة هنديان، قلت: أجب أباك. قال: وما يريد ؟، قلت: نهاني أن أخبرك. قال: فإني أعطيك الديك والدجاجة. قال فاشترطت عليه أن لا يخبر عمر، وأخبرته فأعطانيهما.فلما جئت إلى عمر، قال: أخبرته ؟ – فوالله ما استطعت أن أقول لا – فقلت: نعم فقال: أرشاك ؟ قلت: نعم، وأخبرته، فقبض على يدي بيساره، وجعل يمصعني بالدرة وأنا أنزو. فقال: إنك لجليد

Aslam (Maula Umar) berkata: “Umar, bila mengutus aku kepada sebagian putranya, ia berkata, ‘Janganlah kamu memberi tahu kepadanya mengapa aku mengutusmu khawatir setan membisikan kedustaan kepadanya’. Ia berkata, “Pada suatu hari datang istri Ibnu Umar (menemui Umar), lalu berkata, ‘Sesungguhnya Abu Isa tidak memberi nafkah dan pakaian kepadaku’ Maka ia berkata, ‘Celaka, siapa Abu Isa itu?’ Ia menjawab, ‘Putramu’ Ia berkata, ‘Apakah Isa punya bapak!’ Maka Ia (Umar) mengutusku untuk menemuinya, dan ia berpesan, “Janganlah kamu memberitahu kepadanya” Ia berkata, “Lalu aku menemuinya dan ia punya ayam jantan dan ayam betina India” Aku berkata, “Penuhilah panggilan ayahmu Amirul Mukminin” Ia berkata, “Apa yang dikehendaki beliau dariku?” Aku berkata, “Beliau melarangku untuk mengabarkannya kepadamu, aku tidak tahu” Kata Ibnu Umar, “Kalau kamu memberitahuku, aku akan memberi ayam jantan dan ayam betina” Ia berkata, “Aku menetapkan syarat kepadanya agar ia tidak memberi tahu Umar (bahwa aku membocorkannya), maka aku memberitahukannya. Lalu ia memberiku ayam jantan dan betina sebagai kompensasi pemberitahuanku. Ketika aku mendatangi Umar, ia berkata, ‘Apakah kamu memberitahunya’ Demi Allah aku tidak sanggup mengatakan ‘tidak’, maka aku katakan ‘Ya’ Ia berkata, ‘Apakah dia menyuapmu’ Aku katakan, ‘Ya’ Ia berkata, ‘Apa yang diberikan kepadamu?’ Aku katakan, “ayam jantan dan betina” Maka beliau memegang tanganku dengan tangan kirinya, lalu memukul aku dengan durrah, dan aku merasa malu/hina. Maka beliau berkata, ‘Sesungguhnya kamu pasti dijilid’.” (H.r. al-Qa’nabi, Tarikh al-Islam Imam adz-Dzahabi, IV:99-100; H.r Ibnu Syabah, Tarikh al-Madinah, II:321 dengan sedikit perbedaan redaksi. Riwayat ini sahih, sebagaimana dinyatakan pula oleh Abdus Salam bin Muhsin Ali Isa (Dirasah Naqdiyah fil Marwiyat al-waridah fi Syakhshiyah Umar bin al-Khatab, hal. 251)

Risywah untuk Memperoleh Hak & mencegah kezaliman

Jumhur ulama membolehkan risywah yang dilakukan untuk memperoleh hak dan mencegah kezhaliman seseorang. Kebolehan itu berdasarkan hadis Nabi saw. dan atsar Ibnu Mas’ud sebagai berikut:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ إنِّي لَأُعْطِي أَحَدَهُمْ الْعَطِيَّةَ فَيَخْرُجُ بِهَا يَتَأَبَّطُهَا نَارًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلِمَ تُعْطِيهِمْ ؟ قَالَ يَأْبُونَ إلَّا أَنْ يَسْأَلُونِي وَيَأْبَى اللَّهُ لِي الْبُخْلَ

Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya aku memberi seseorang pemberian, lalu dengan pemberian tersebut dia terhindar dari api. Lalu sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau memberi mereka ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, “Mereka enggan, kecuali mereka meminta kepadaku. Allah pun enggan kalau aku bakhil” (H.r. Ahmad)

عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ ابْن مَسْعُودٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ لَمَّا أَتَى أَرْضَ الْحَبَشَةِ أَخَذَ بِشَىْءٍ فَتُعُلِّقَ بِهِ فَأَعْطَى دِينَارَيْنِ حَتَّى خُلِّىَ سَبِيلُهُ

Dari al-Qasim bin Abdurrahman, dari Ibnu Mas’ud, sesungguhnya ketika ia datang ke negeri Habsyah, ia membawa sesuatu, maka ia ditahan karena sesuatu itu. Lalu ia memberi dua dinar sehingga ia dibebaskan. (H.r. al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, juz X:139)

Dalam riwayat Ibnu Abu Syaibah dengan redaksi

لَمَّا أَتَى أَرْضَ الْحَبَشَةِ أُخِذَ فِي شَيْءٍ فَأَعْطَى دِينَارَيْنِ حَتَّى خُلِّي سَبِيلَهُ.

Dari Ibnu Mas’ud, sesungguhnya ketika ia datang ke negeri Habsyah, ia ditahan karena sebab sesuatu. Lalu ia memberi dua dinar sehingga ia dibebaskan. (al-Mushannaf, VI:557)

Dalam konteks ini kita dapat memahami pernyataan Jabir bin Zaid:

لَمْ نَجِدْ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ لَنا شَيْئاً أَنْفَعَ لَنَا مِنَ الرِّشَا.

“Pada zaman itu, kami tidak mendapatkan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi kami selain risywah” (H.r. Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, VI:557)

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pada saat itu (zaman kekuasaan Ziyad dari Bani Umayyah) risywah merupakan sarana yang paling efektif untuk melindungi jiwa dan harta dari sikap penguasa yang bertindak sewenang-wenang.

Sehubungan dengan itu para ulama dari kalangan tabi’in, antara lain Jabir bin Zaid dan as-Sya’bi berpendapat:

لاَ بَأْسَ أَنْ يُصَانِعَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَالِهِ إذَا خَافَ الظُّلْمَ

“Tidak mengapa seseorang menyuap untuk (keselamatan) diri dan hartanya apabila khawatir terhadap kezaliman” (H.r. Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, VI:557)

وقيل لوهب بن منبه : الرشوة حرام فى كل شىء ؟ قال لا إنما يكره من الرشوة أن ترشى لتعطى ما ليس لك ، أو تدفع حقا قد لزمك ، فأما أن ترشى لتدفع عن دينك ومالك ودمك فليس بحرام

Wahb bin Munabbih ditanya apakah risywah itu diharamkan pada segala sesuatu, maka ia menjawab: ”Tidak, risywah itu diharamkan jika engkau memberi sesuatu pada orang lain supaya engkau diberi sesuatu yang bukan hakmu atau supaya engkau bebas dari kewajibanmu. Adapun jika engkau melakukan risywah dalam rangka membela agamamu, nyawamu, atau hartamu maka tidaklah haram”. (H.r. al-Baihaqi)

Meskipun demikian para ulama sepakat bahwa dalam konteks ini murtasyi (orang yang menerima suap) tetap haram dan berdosa. Lihat, Kasyaful Qana’, VI:316, Nihayatul Muhtaj, VIII:243, Hasyiah Ibnu Abidin, IV:304.

Adapun yang dimaksud dengan hak disini adalah hak secara khusus, bukan hak secara umum. Artinya urusan/sesuatu itu sudah dapat dipastikan menjadi hak orang tersebut. Karena itu, jika seseorang tidak bisa mendapatkan haknya kecuali dengan syarat harus membayar uang/barang sejumlah tertentu maka pembayaran itu tidak dikategorikan risywah yang diharamkan. Sebagai misal:

bila seseorang dirampas harta miliknya dan tidak akan diberikan kecuali dengan memberikan sejumlah harta, maka pemberian itu tidak dikategorikan risywah yang diharamkan, karena harta itu memang harta miliknya secara khusus.
Satu perusahaan, karena telah memenuhi persyaratan tertentu, dipastikan memenangkan tender suatu proyek. Berarti proyek itu menjadi hak perusahaan tersebut. Namun proyek itu tidak akan segera turun kecuali dengan memberikan sejumlah harta, maka pemberian itu tidak dikategorikan risywah yang diharamkan, karena proyek itu memang telah menjadi haknya secara khusus.
Kasus Ibnu Mas’ud di atas dapat kita jadikan acuan atau landasan hukum terkait hak secara khsusus.

Sedangkan yang dimaksud dengan hak secara umum adalah urusan/sesuatu itu berhak dimiliki oleh siapapun selama memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang terhadap hak umum itu. Karena itu, jika seseorang tidak memenuhi persyaratan tersebut namun mendapatkan hak umum dengan jalan membayar uang/barang sejumlah tertentu maka pembayaran itu dikategorikan risywah yang diharamkan, karena ia bukan termasuk orang yang berhak atas urusan tersebut. Sebagai misal, menjadi pegawai negeri merupakan hak warga negara. Artinya siapa saja memang berhak jadi pegawai negeri, jika benar-benar telah lulus tes sesuai ketentuan. Kalau harus membayar uang/barang dalam jumlah tertentu maka dapat dikategorikan risywah yang diharamkan. Karena risywah itulah yang menyebabkan hak umum beralih atau jatuh ke tangan orang yang bukan “pemilik”nya.

Perbedaan Risywah dengan Hadiah

Risywah dan hadiah memiliki kesamaan juga perbedaan. Dikatakan sama karena kedua-duanya masuk didalam kategori pemberian kepada seseorang. Dikatakan beda dilihat dari motif, fungsi, dan eksesnya.

Kata hadiah (هدِيَّة) berarti إهداء (pemberian), اللُّهْنَة (oleh-oleh), التَّقدِمَة (hadiah). Sebelum menjelasan definisi hadiah, perlu dijelaskan beberapa istilah yang terkadang masih belum dipahami oleh sebagian orang, sehingga sulit dibedakan. Istilah tersebut adalah: hibah, hadiah dan sadaqah.

Imam asy-Syafi’i membagi kebajikan (tabarru’) seseorang dengan hartanya kepada dua bentuk. Pertama kebajikan yang berkaitan dengan kematian, yaitu wasiat. Kedua, kebajikan ketika masih hidup yang dibedakannya antara kebajikan murni (mahdhah) dengan waqaf. Kebajikan murni ada tiga macam, yaitu hibah, hadiah dan shadaqah tathawu’.

Selanjutnya dijelaskan, jika kebajikan harta bertujuan untuk menghormati dan memuliakan seseorang disebut dengan hadiah. Adapun hibah, pada asalnya dilihat dari jenis harta yang diberikan, yaitu kalau yang diberikan itu harta tidak bergerak (tetap). Sedangkan disebut shadaqah kalau kebajikan harta itu bertujuan untuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah dan mengharapkan pahala akhirat.

Dari penjelasan di atas dapat didefinisikan bahwa hadiah adalah pemberian harta kepada orang lain dengan tujuan untuk menghormati (ikram), memuliakan (ta’zhim), mengasihi (tawaddud) dan mencintainya (tahabbub).

Dalil Kebolehan Hadiah

Dalil-dalil yang digunakan oleh ulama dalam pembahasan ini pada umumnya berasal dari hadis, antara lain sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ: أَهَدِيَّةٌ أَمْ صَدَقَةٌ فَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ، قَالَ لأَصْحَابِهِ: كُلُوا، وَلَمْ يَأْكُلْ وَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ، ضَرَبَ بِيَدِهِ صلى الله عليه وسلم، فَأَكَلَ مَعَهُمْ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. apabila diberi makanan beliau bertanya: apakah makanan ini hadiah atau sadaqah. Jika dijawab: ‘Sadaqah’, beliau mengatakan pada para sahabatnya, ‘Makanlah oleh kalian’, sedangkan beliau tidak memakannya. Akan tetapi bila dijawab: ‘Hadiah’, maka beliau (Nabi saw) mengambil dengan tangannya lalu makan bersama mereka” (H.r. Al-Bukhari)

عَنْ عَلِيِّ قَالَ : إِنَّ كِسْرى أَهْدَى إِلَى رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم هَدِيَّة مِنْه، وَإِنَّ الْمُلُوْكَ أَهْدَوْا إِلَيْهِ فَقَبِلَ مِنْهُمْ

Dari Ali, ia berkata, “Sesungguhnya Kisra memberi hadiah kepada Nabi saw. dan raja-raja lain juga memberi hadiah kepada beliau dan beliau menerima hadiah tersebut dari mereka” (H.r. At-Tirmidzi)

Anjuran saling memberi hadiah, di kalangan ulama telah terjadi Ijma’, karena Ia memberikan pengaruh yang positif di masyarakat; baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Bagi yang memberi, itu sebagai cara melepaskan diri dari sifat bakhil, sarana untuk saling menghormati dan sebagainya. Sedangkan kepada yang diberi, sebagai salah satu bentuk memberi kelapangan terhadapnya, hilangnya kecemburuan dan kecurigaan, bahkan mendatangkan rasa cinta dan persatuan dengan sesama.

Hadiah bagi pejabat atau pemegang kebijakan

Jika dalam menjalankan tugas atau jika terkait dengan tugasnya, seseorang yang memiliki jabatan atau mempunyai wewenang tertentu diberi hadiah oleh pihak lain dengan harapan pejabat tersebut dapat memberi kemudahan tertentu atau memberi keringanan tertentu atas suatu tuntutan, maka hadiah yang demikian dikategorikan sebagai ghulul (korupsi). Hal ini dapat dipahami secara logis, sebab hadiah, tips, bingkisan atau parcel tersebut, sedikit atau banyak mempengaruhi kebijakan dan keputusannya sebagai pejabat/pegawai. Contoh yang paling nyata adalah pegawai/pejabat tingkat atas yang mendapat bingkisan/hadiah tertentu dari bawahannya demi memperoleh keuntungan tertentu. Tindakan demikian dapat merusak sistem yang dilandaskan pada asas keadilan dan kejujuran dan tentu akan merugikan kepentingan umum.

Terkait hadiah bagi para pejabat atau pegawai publik, Rasulullah saw. telah memberikan pedoman sebagaimana dijelaskan pada riwayat sebagai berikut:

عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيّ قَالَ اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى صَدَقَةٍ فَجَاءَ فَقَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَجِيءُ فَيَقُولُ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَفَلَا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَأْتِي أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا بِشَيْءٍ إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثًا

Dari Abu Hamid as-Sa’adi, ia berkata, “Nabi saw. pernah mengangkat/mempekerjakan seseorang dari Bani al-Azad, ada yang mengatakan namanya Ibn al-Lutbiyah, untuk mengumpulkan sadaqah. Setelah kembali ia mengatakan kepada Rasulullah, ‘Ini untukmu dan ini dihadiahkan untukku’. Lalu Nabi saw. berdiri berkhutbah sambil memuji Allah swt. Dalam khutbahnya beliau bersabda, ‘Seorang karyawan yang kita utus mengumpul sadaqah datang dan berkata, ‘Ini untukmu dan ini untukku’. Kenapa dia tidak duduk saja sambil menunggu di rumah bapaknya atau ibunya, apakah dia akan diberi hadiah atau tidak ? Demi yang diri Muhammad di tangan-Nya, tidaklah kami mengutus seseorang di antara kamu mengambil sesuatu kecuali datang dia pada hari kiamat membawa di lehernya, jika dia menerima unta akan berbunyi unta, begitu juga sapi akan berbunyi sapi, kambing akan berbunyi kambing. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga terlihat ketiaknya, lalu berdoa, ‘Ya Allah, apakah aku sudah menyampaikannya’. Doa itu diucapkannya tiga kali” (H.r. al-Bukhari)

Dalam pemberian sesuatu kepada Pegawai/pejabat publik terbagi dalam tiga bagian:

Pertama, Pemberian yang diharamkan, baik bagi pemberi maupun penerima

Kaidahnya, pemberian tersebut bertujuan untuk sesuatu yang batil, ataukah pemberian atas sebuah tugas yang memang wajib dilakukan oleh seorang pegawai. Misalnya pemberian kepada pegawai setelah ia menjabat atau diangkat menjadi pegawai pada sebuah instansi. Dengan tujuan mengambil hatinya tanpa hak, baik untuk kepentingan sekarang maupun untuk masa akan datang, yaitu dengan menutup mata terhadap syarat yang ada untuknya, dan atau memalsukan data, atau mengambil hak orang Lain, atau mendahulukan pelayanan kepadanya daripada orang yang lebih berhak, atau memenangkan perkaranya, dan sebagainya.

Diantara permisalan yang juga tepat dalam permasalahan ini adalah, pemberian yang diberikan oleh perusahaan atau toko kepada pegawainya, agar pegawainya tersebut merubah data yang seharusnya, atau merubah masa berlaku barang, atau mengganti nama perusahaan yang memproduksi, dan sebagainya.

Kedua, pemberian yang terlarang mengambilnya, dan diberi keringanan dalam Memberikannya. Kaidahnya, pemberian yang dilakukan secara terpaksa, karena apa yang menjadi haknya tidak dikerjakan, atau disengaja diperlambat oleh pegawai bersangkutan yang seharusnya memberikan pelayanan. Sebagai misal, pemberian seseorang kepada pegawai atau pejabat, yang ia lakukan karena untuk mengambil kembali haknya, atau untuk menolak kezhaliman terhadap dirinya. Apalagi Ia melihat, jika sang pegawai tersebut tidak diberi sesuatu (uang, misalnya), maka ia akan melalaikan, atau memperlambat prosesnya.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Jika seseorang memberi hadiah (dengan maksud) untuk menghentikan sebuah kezaLiman atau menagih haknya yang wajib, maka hadiah ini haram bagi yang mengambil, dan boleh bagi yang memberi. Sebagaimana Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku seringkali memberi pemberian kepada seseorang, lalu ia keluar menyandang api (neraka),” ditanyakan kepada beliau,”Ya, Rasulullah. Mengapa engkau memberi juga kepada mereka?” Beliau menjawab, “Mereka tidak kecuali meminta kepadaku, dan Allah tidak menginginkanku bakhil.”

Ketiga, pemberian yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan memberi dan mengambilnya. Kaidahnya, suatu pemberian dengan tujuan mengharapkan ridha Allah Swt. untuk memperkuat tali silaturahim atau menjalin ukhuwah Islamiah, dan bukan bertujuan memperoleh keuntungan duniawi.

Di bawah ini ada beberapa permasalahan, yang hukumnya masuk dalam bagian ini, sekalipun yang afdhal bagi pegawai, tidak menerima hadiah tersebut, sebagai upaya untuk menjauhkan diri dari tuduhan dan sadduz zari’ah (tindakan preventif) baginya dari pemberian yang haram.

Hadiah seseorang yang tidak mempunyai kaitan dengan pekerjaan (usahanya). Sebelum orang tersebut menjabat, ia sudah sering juga memberi hadiah, karena hubungan kerabat atau yang lainnya. Dan pemberian itu tetap tidak bertambah, meskipun yang ia beri sekarang sedang menjabat.
Hadiah orang yang tidak biasa memberi hadiah kepada seorang pegawai yang tidak berlaku persaksiannya, seperti Qodi bersaksi untuk anaknya, dan hadiah tersebut tidak ada hubungannya dengan usahanya.
Hadiah yang telah mendapat izin dari pemerintah atau instansinya.
Hadiah atasan kepada bawahannya.
Hadiah setelah ia meninggalkan jabatannya.

Dikirim pada 19 Februari 2013 di KAJIAN UTAMA


Tanya : Bismillah … pak ustadz Abu anu dipihormat (yang saya hormati red.), saat saya menjenguk saudara yang berada di rumah sakit yang agak jauh, saya disuguhi makanan dan minuman. Waktu itu saya langsung minum karena merasa haus. Saat mau pulang suami saya bilang bahwa saat menjenguk yang sakit kita dilarang minum atau makan, apalagi yang disediakan oleh keluarga yag sakit, karena akan menggugurkan pahala kita. Apakah benar begitu ustadz? Wahyuningsih.



Jawab : Menjenguk orang sakit merupakan salah satu diantara tuntunan Islam. Bahkan sebagian ulama memandang syariat ini fardhu kifa’i. Banyak keterangan (hadits) yang menjelaskan tentang keutamaan menjenguk yang sakit. Diantaranya :
Sabda Nabi saw :

إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا عَادَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

“…Sesungguhnya seorang muslim bila menjenguk saudaranya sesama muslim maka ia terus menerus berada di khurfatil jannah hingga ia pulang (kembali)”. (Shahih Muslim no. 6498 dari Tsauban)

Dalam lafadz lain ada tambahan :

مَنْ عَادَ مَرِيْضًا، لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا خُرْفَةِ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: جَنَاهَا

“…Siapa yang menjenguk seorang yang sakit maka ia terus menerus berada di khurfatil jannah.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah khurfatil jannah itu?”. Beliau menjawab, “Buah-buahan yang dipetik dari surga.”(Shahih Muslim 6499).

Dibeberapa buku yang kami baca, diantara adab atau akhlak bagi yang menjenguk yaitu tidak diperbolehkan makan dan minum. Bahkan ada yang menjelaskan akan mengurangi atau menghilangkan pahala bagi yang menjenguknya. Hadits yang menjadi sandarannya adalah bahwa Nabi saw pernah bersabda :

“…Jika salah seorang di antara kamu menjengul yang sakit, maka janganlah kamu makan sedikitpun di sisi orang sakit, karena hal itu menyebabkan hilangnya pahalanya”.(HR. ad-Dailamy di dalam Musnad al-Firdaus)

Akan tetapi sebagian para ahli hadits menilai bahwa hadits diatas dhaif (lemah). Sebab didalam sanad hadits tersebut ada seorang rawi Musa bin Wirdan. Imam Adz-Dzahabi (lihat Faidhul Qadir oleh al-Munawi 1/519) berkata bahwa hadist ini telah didhaifkan oleh Ibnu Ma’in, bahkan Adz-Dzahabi menyimpan hadits ini didalam Adh-Dhu’afa (muatan hadits yang lemah).

Dengan demikian kami memandang bahwa makan dan minum saat menjenguk boleh dan tidak menghilangkan pahala. Allohu A’lam

Dikirim pada 19 Februari 2013 di Bab. Bersuci


Tanya : Assalamu’alaikum …ustadz Abu apakah kedudukan khitan bagi laki-laki sama juga kepada perempuan? Ustadz mohon penjelasannya tentang khitan! Wassalam. Irda dll. (banyak pertanyaan spt ini yang intinya sama)

Jawab : Wa’alaikumussalam … Secara bahasa khitan diambil dari kata (ختن ) yang berarti memotong. Sedangkan al-khatnu berarti memotong kulit yang menutupi kepala dzakar dan memotong sedikit daging yang berada di bagian atas farji (clitoris) serta al-khitan adalah nama dari bagian yang dipotong tersebut. (lihat Lisanul Arab, Imam Ibnu Manzhur).

Jumhur ulama memastikan bahwa khitan merupakan hal yang disyariatkan dalam Islam, baik untuk laki-laki ataupun perempuan. Hanya sebagian ulama ada yang memandang wajib ada yang memandangnya sebagai sunat.

Imam Nawawi memberikan pandangan “Yang wajib bagi laki-laki adalah memotong seluruh kulit yang menutupi kepala dzakar sehingga kepala dzakar itu terbuka semua. Sedangkan bagi wanita, maka yang wajib hanyalah memotong sedikit daging yang berada pada bagian atas farji.”(Syarah Sahih Muslim 1/543, Fathul Bari 10/340)

Diantara dalil yang memberikan isyarat bahwa khitan itu disyariatkan bagi laki-laki dan perempuan :

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : قاال رسول الله صلي الله عليه وسلم : خمس من الفطرة : الاستحداد والختان، وقص الشارب،ونتف الابط،وتقليم الأظفا ر

Dari Abu Harairah ra. Rasulullah saw bersabda : ”(Ada) lima hal yang termasuk fitrah yaitu: mencukur bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, & memotong kuku.” (HR. Imam Bukhori & Imam Muslim)

إذ التقى الختا نا ن فقد وجب الغسل

“…Apabila bertemu dua yang di khitan (bercampur), maka wajib mandi.” (HR. Tirmidzi 108, Ibnu Majah 608, Ahamad 6/161, dgn sanad shahih).

عن عائسة رضي الله عنها قالت,قال رسول الله صلي الله هليه و السلم : إذ جلس بين شهبها الأربع و مسّ الختان الختان فقد وجب الغسل

Dari ‘Aisyah ra berkata, bersabda Rasulullah saw “Apabila seorang laki-laki duduk di empat anggota badan wanita serta khitan menyentuh khitan maka wajib mandi.” (HR. Bukhori Muslim)

عن أنس بن مالك, قال رسول الله صلي الله عليه والسلم لأمّ عاطية رضي الله عنها : إذا خفضت فأشمي ولا تنهكي فإنّه أسرى للوجه وأحضى للزوج

Dari Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah saw bersabda kepada Ummu ‘athiyah,”Apabila engkau mengkhitan wanita biarkanlah sedikit, dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.”(HR. Al-Khatib). Allohu A’lam

Dikirim pada 16 Februari 2013 di Bab. Bersuci


Tanya : Assalamu’alaikum …! Pak ustadz Abu Alifa yang saya hormati, teman saya berencana akan menikahi seorang wanita. Dan wanita itu sudah pasti akan cerai dengan suaminya, apakah dibolehkan temen saya ini nikah dengan wanita tersebut, dikarena kepastian cerai yag dinyatakan oleh calon istrinya itu? (maaf emailnya jg dicantumkan)

Jawab : Wa’alaikumussalam… Diantara wanita yang diharamkan syariat (Islam) untuk dinikahi adalah wanita tersebut sudah bersuami. Kalau-pun suaminya sudah menthalaq istri wanita tersebut, tentu tidak lantas wanita yang di thalaqnya itu boleh menikah (lagi). “..Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri tiga kali quru’(haidh)..” (QS. 2:228)

Jadi haram hukumnya temen akhi menikahi wanita tersebut, sekalipun wanita itu mengatakan saya pasti cerai. Allohu A’lam

Dikirim pada 08 Februari 2013 di Bab. Aqidah


Masih ingat kisah seorang ahli ibadah yang bernama Juraij?



“…. Juraij adalah seorang laki-laki ahli Ibadah, dia membangun sendiri tempat ibadahnya. Ceritanya, pada suatu hari di saat ia sedang solat ibunya memanggil, `Wahai Juraij.` Juraij berkata, `Ya Rabbi, apakah akan saya jawab panggilan ibuku atau aku meneruskan solatku?` Juraij meneruskan solatnya. Lalu ibunya pergi.



Keesokan harinya, Ibu Juraij datang ketika ia sedang solat lagi. Sang Ibu memanggil, `Wahai Juraij!` Juraij mengadukan kepada Allah, `Ya Rabbi, aku memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan solatku?` Ia meneruskan solatnya. Lalu ibunya pergi meninggalkan Juraij.



Pada pagi hari Ibu Juraij datang lagi, ketika itu Juraij sedang solat. Sang Ibu memanggil, `Wahai Juraij!` Juraij berkata, `Ya Rabbi, aku memenuhi panggilan ibuku terlebih dahulu atau meneruskan solatku?` Tetapi Juraij meneruskan solatnya.

Lalu Ibu Juraij bersumpah, `Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia, sehingga ia melihat pelacur!`

Orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut ketekunan ibadah Juraij.



Dan tersebutlah dari mereka seorang pelacur yang sangat cantik berkata, `Jika kalian menghendaki, aku akan memberinya fitnah.

Perempuan tersebut lalu mendatangi Juraij dan menggodanya. Tetapi Juraij tidak memperdulikannya. Lalu pelacur tersebut mendatangi seorang penggembala yang sedang berteduh di dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya ia berzina dan hamil.



Tatkala ia melahirkan seorang bayi. Orang-orang bertanya, `Bayi ini hasil perbuatan siapa?` Pelacur itu menjawab, `Juraij`. Maka mereka mendatangi Juraij dan memaksanya keluar dari tempat ibadahnya. Selanjutnya mereka memukuli Juraij, mencaci maki dan merobohkan tempat ibadahnya.

Juraij bertanya, `Ada apa ini, mengapa kalian perlakukan aku seperti ini?.` Mereka menjawab, `Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi.` Ia bertanya, `Di mana sekarang bayi itu?` Kemudian mereka datang membawa bayi tersebut.



Juraij berkata, `Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan solat!` Lalu Juraij solat. Selesai solat Juraij menghampiri sang bayi lalu mencoleknya di perutnya seraya bertanya, `Wahai bayi, siapakah ayahmu?` Sang bayi menjawab, `Ayahku adalah seorang penggembala.`



Serta merta orang-orang pun berhambur, menciumi dan meminta maaf kepada Juraij. Mereka berkata, `Kami akan membangun kembali tempat ibadah untukmu dari emas!` Juraij menjawab, `Jangan! Cukup dari tanah saja sebagaimana semula.` Mereka lalu membangun tempat ibadah sebagaimana yang dikehendaki Juraij….. (Bukhary Muslim dari Abi Hurairah)



Sengaja saya kutip kisah diatas sebagai gambaran orang yang shalih, ahli ibadah dan tentu ahli dakwah. Akan tetapi ia tidak menyadari bahwa disekelilingnya ternyata ada banyak orang atau mungkin kelompok yang merasa tersakiti, bahkan mungkin juga merasa terdzolimi oleh sikap orang shalih tersebut. Sekalipun orang shalih itu tidak bermaksud untuk mendzalimi atau menyakiti orang disekitarnya. Bukankah do’a yang terdzalimi dan orang tua itu tak terhalang??? Mungkinkah ia seorang “Juraij Baru" Indonesia? Semoga ia seorang Juraij !! Bercerminlah dari Juraij ya akhina ....!

Dikirim pada 01 Februari 2013 di KONTROVERSI HUKUM


Perpolitikan Indonesia menjelang perhelatan akbar baik regional seperti Pilgub Jabar maupun nasional 2014 dibuat terperangah. Hampir semua media memberitakan bahwa petinggi (presiden) PKS yang berinisial LHI sudah ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap dalam kasus impor daging sapi. Bahkan LHI sudah dibawa ke gedung KPK dan mungkin dilakukan penahanan. Sekalipun status tersangka belum tentu bersalah, akan tetapi penilaian ditengah masyarakat seolah sudah menjadi consensus bahwa yang bersangkutan sudah terlibat dan melakukan pelanggaran. Dan sudah barang tentu akan berinplikasi pada menurunya dukungan public.



Selama ini LHI merupakan diantara petinggi PKS yang paling rajin menggembar gemborkan bahwa partainya merupakan salah satu diantara yang paling bersih. Para kadernyapun belum pernah diberitakan bersentuhan dengan lembaga anti korupsi yang bernama KPK itu. Bahkan partai yang diusungnya merupakan partai anti korupsi dan pemberantasan korupsi itu sudah menjadi komitmen PKS. Namun demikian, sekali bersentuhan dengan KPK, ternyata orang nomor wahid yang langsung menjadi tersangka. Yang jadi pertanyaan apakah ditetapkannya LHI sebagai tersangka akan berdampak pula pada penurunan jumlah dukungan terhadap pasangan Her-Der (Heryawan - Dedi Mizwar) pada 24 Februari mendatang?



Jika kasus mengenai LHI ini tidak cepat mendapat respon dan diselesaikan oleh para petinggi PKS, maka sedikit banyaknya akan membawa dampak yang merugikan dalam pemenangan pemilukada di Jabar. Apalagi menjelang perhelatan ditahun 2014. Sebab bagaimanapun juga masyarakat sudah semakin akrab dengan dunia informasi. Disamping itu hal ini pun akan menjadi senjata ampuh bagi lawan politiknya, terutama mantan tokoh PKS yang "sakit hati" karena “diusir” ataupun tokoh luar maupun partai politik yang sering mendapat “sentilan” dari PKS. Jika terbukti tidak terlibat, mampukan PKS khususnya para petingginya melawan opini publik? Tentunya hal ini menjadi pe-er besar bagi PKS. Kita doakan semoga para petinggi dan kader PKS mampu mengatasinya!

Dikirim pada 31 Januari 2013 di KAJIAN UTAMA


Tanya : Assalamu’alaikum pak ustadz …. Pak apakah sama jika seseorang keluar mazi atau wadi seperti keluarnya mani? Tolong pak ustadz jelaskan ketiganya ataupun perbedaannya! Wassalam

Jawab : Wa’alaikumussalam …Mani atau sperma adalah cairan yang keluar dari lubang kemaluan (qubul) biasanya keluar ketika rangsangan syahwat memuncak, baik karena berhubungan badan (termasuk mimpi berhubungan), onani dan cara yang lainnya. Ciri umum air mani, putih kental, keluar memancar (tadafu’), disertai rasa nikmat, badan agak lemas setelah keluar.

Jika keluar cairan mani maka orang tersebut akan dihukumi telah berhadats besar, dan wajib mandi.. Cairan mani tidak dihukumi najis, sehingga pakaian yang berlumuran mani sah digunakan untuk shalat.

"Bahwasanya aku (Aisyah ra) dahulu mengerik (air mani) dari pakaian Rasulullah SAW, kemudian beliau shalat dengan menggunakan pakaian tersebut.” (HR. Muslim dari Aisyah ra)
Sedangkan Mazi cairan dari qubul (kemaluan) yang warnanya putih bersih, bening, atau agak kuning namun licin. Biasanya ia keluar ketika awal-awal bangkit syahwat dan belum mencapai puncaknya, biasanya cairan mazi tidak berbau. Seringkali mazi keluar tanpa terasa. Mazi banyak keluar pada kaum wanita terutama ketika mereka bangkit syahwat.

“Dari Ali ra, beliau berkata: saya adalah laki-laki yang suka keluar mazi, maka saya merasa malu bertanya kepada Rasulullah saw karena posisi anak beliau (Fathimah, istri Ali ra) maka saya perintahkan Miqdad bin Aswad maka iapun bertanya kepada Rasulullah, maka jawab Rasulullah: basuhlah zakar dan berwudhuk”.(H.R Bukhary dan Muslim).

Adapun Wadi cairan keluar lewat qubul yang putih keruh kental biasanya keluar setelah buang air kecil ataupun ketika mengangkat beban yang berat. Hukum bagi orang yang keluar mazi dan wadi tidak diwajibkan mandi, namun cairan mazi dan wadi tergolong dalam najis, sehingga wajib dibasuh (dibersihkan). Allohu A’lam

Dikirim pada 26 Januari 2013 di Bab. Bersuci


Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Ustadz sebenarnya bagaimana kedudukan Bismillah saat dalam shalat, apakah dibaca atau tidak? Terima kasih atas penjelasannya.

Jawab : Wa’alaikumussalam Warahmatullah wa Barakatuh … Ada perbedaan pendapat dikalangan ulama madzhab mengenai hal yang ditanyakan . Pertama, Imam Malik melarang membacanya dalam shalat fardlu, baik secara jahr (keras) maupun secara sirr (lembut), baik dalam membuka al-Fatihah maupun dalam surat lainnya, tetapi beliau membolehkan membacanya dalam shalat nafilah (sunnah). Sedangkan kedua, Imam Abu Hanifah mengharuskan membacanya ketika membaca al-Fatihah dalam shalat secara sirr (lembut) pada setiap rakaat, dan lebih baik membacanya ketika membaca setiap surat. Sementara (ketiga) Imam asy-Syafi‘i berpendapat wajib membacanya dalam shalat secara jahr (keras) dalam shalat jahr, tetapi dalam shalat sirri wajib dibaca dengan sirri. Dan keempat, Imam Ahmad Ibnu Hanbal berpendapat harus membacanya dengan sirri dalam shalat dan tidak mensunnahkan membacanya dengan jahr.

Sumber perbedaan pendapat tersebut adalah karena perbedaan pendapat mengenai status basmalah, apakah ia termasuk bagian dari surat al-Fatihah, dan permulaan tiap-tiap surat atau bukan. Syafi‘iyyah berpendapat bahwa basmalah adalah salah satu ayat dari surat al-Fatihah dan merupakan awal dari setiap surat dalam al-Qur’an. Malikiyyah berpendapat bahwa basmalah bukan merupakan ayat, baik dari surat al-Fatihah maupun dari al-Qur’an. Sedangkan Hanafiyyah mengambil jalan tengah antara asy-Syafi‘iyyah dan al-Malikiyyah. Mereka berpendapat bahwa penulisan basmalah dalam al-Mushhaf menunjukkan bahwa basmalah adalah ayat al-Qur’an, tetapi tidak menunjukkan bahwa basmalah adalah salah satu ayat dari tiap-tiap surat. Hadits-hadits yang memberitakan bahwa basmalah tidak dibaca dengan keras dalam shalat ketika membaca al-Fatihah menunjukkan bahwa basmalah bukan salah satu ayat dari surat al-Fatihah, tetapi mereka menetapkan bahwa basmalah adalah salah satu ayat dari al-Qur’an, yang diturunkan sebagai pembatas antara satu surat dengan surat lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: Bahwa Rasulullah saw tidak mengetahui batas-batas surat sebelum diturunkan ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’.
Hemat kami bahwa membaca basmalah secara jahr (dinyaringkan) dan sir (dipelankan) dalam shalat dibenarkan. Diantara dasarnya :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . [رواه مسلم]

Dari Anas, ia berkata: Saya shalat bersama Rasulullah saw, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, tetapi saya tidak mendengar seorang pun di antara mereka yang membaca: ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’.” [HR. Muslim].

Dari Abu Hilal, diriwayatkan dari Nu’aim al-Mujammir, ia berkata: Saya shalat dibelakang Abu Hurairah (makmum). Maka beliau membaca ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’, kemudian membaca Ummul-Qur’an, hingga ketika sampai pada ‘Gairil-magdlubi ‘alaihim waladl-dlaalliin’ beliau membaca ‘Amiin’. Kemudian orang-orang yang bermakmum membaca ‘Amiin’. Dan setiap bersujud beliau membaca ‘Allahu Akbar’ dan apabila berdiri dari duduk dalam dua rakaat, beliau membaca ‘Allahu Akbar’, dan apabila membaca salam (sesudah selesai), beliau berkata: Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya saya orang yang paling mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah saw. [HR. an-Nasa`i]

‌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَجْهَرُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . [رواه النسائي]

Dari Qatadah, diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Saya shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman r.a., tetapi saya tidak mendengar seorang pun di antara mereka yang membaca ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’ dengan keras.” [HR. an-Nasa`i]

عَنْ أَبَي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأْتُمُ الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاقْرَءُوا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّهَا أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِى وَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِحْدَاهَا. [رواه الدارقطني]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Apabila kamu membaca al-Hamdu Lillah (surat al-Fatihah), maka bacalah ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’, sebab surat al-Fatihah adalah Ummul-Qur’an dan Ummul-Kitab dan Sab’ul-Matsani, adapun basmalah adalah salah satu ayat dari surat al-Fatihah.” [HR. ad-Daruquthni]

‌ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ قِرَاءَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: كَانَتْ قِرَاءَتُهُ مَدًّا … ثُمَّ قَرَأَ: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ….. [أخرجه البخاري عن أنس، قال الدارقطني اسناده صحيح]

Dari Anas r.a., bahwa ia pernah ditanya tentang bacaan Rasulullah saw (surat al-Fatihah), maka Anas menjawab: Bacaannya secara madd (panjang). Lalu ia membaca ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim, al-Hamdu Lillahi Rabbil ‘Alamin, ar-Rahmanir-Rahim, Maliki Yaumid-din, …’.” [Ditakhrijkan oleh al-Bukhari dari Anas, ad-Daruquthni mengatakan: Sanadnya shahih]. Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Desember 2012 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamu’alaikum … ustadz Abu Alifa yang saya hormati, mohon tuntunan do’a saat sakit atau saat menjenguk orang sakit! Apakah dibolehkan berdo’a dengan bahasa yang kita fahami (Indonesia)? Syukran. Wassalam

Jawab : Wa’alaikumussalam … pada dasarnya do’a yang kita panjatkan adalah keinginan dan harapan kita. Baik itu do’a untuk diri sendiri, keluarga, atau sesame. Baik sedang sehat atau dikala sakit. Artinya tidak menjadi masalah apakah do’a itu dengan bahasa Arab, Indonesia atau bahasa daerah. Hanya tentu do’a yang dicontohkan dan dipraktekan Nabi saw itu lebih utama, termasuk saat sakit atau menjenguk orang yang sakit. Dibawah ini ada beberapa do’a yang pernah dicontohkan Nabi saw, baik saat beliau menjenguk orang sakit atau yang seharus dilakukan oleh orang sakit sendiri.

“…Jika Rasulullah saw. mendatangi salah seorang keluarganya yang tengah sakit, beliau akan mengusap-usap si sakit dengan tangan kanannya sambil membaca doa,Allahuma Rabbanâ adz hibil ba’sa isyfi Anta syâfi’ la syifâ’an illâ syifâuka, syifâ’an lâ yughâdiru saqaman; Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, hilangkanlah segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali (kesembuhan) dari-Mu, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi’.” (HR Bukhari dan Muslim dari Siti Aisyah ra)

Abu Abdillah bin Abil Ash pernah mengeluhkan penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian berkata kepada Abu Abdillah, “Letakkanlah tanganmu di tempat yang sakit, lalu bacalah basmallah (tiga kali), kemudian bacalah, ‘A’ûdzu bi izzatillâhi wa qudratihi min syarri mâ ajidu wa uhâ dzîru’(tujuh kali); Aku berlindung pada kemuliaan dan kekuasaan Allah dari bahaya yang aku rasakan dan aku khawatirkan’.” (HR Muslim)

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Ketika Rasulullah saw. menjengukku, beliau berdoa, ‘Allahumma syâfi’ Sa’dan, Allahumma syâfi’ Sa’dan, Allahumma syâfi’ Sa’dan’; Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad; ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad; ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad’.” (HR Muslim)

Rasulullah saw. pernah menjenguk seorang Arab gunung (Badui). Seperti biasanya, setiap kali Rasulullah saw. menjenguk orang sakit, beliau berkata, “La ba’sa, thahûrun insya Allah; Tidak apa-apa. Semoga penyakit ini menjadi pembersih dari dosa-dosa, insya Allah.” (HR Bukhari dari Ibn Abbas ra). Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Desember 2012 di Bab. Do’a


Tanya : Assalamu’alaikum … pak Abu Alifa, bagaimana jika suami menceraikan (menthalaq) istrinya pada sedang hamil, apakah thalaq yang dijatuhkannya sah atau tidak? Trims … Wassalamu’alaikum

Jawab : Wa’alaikumussalam… Allah swt berfirman :

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS.Ath-Thalaq 4)

Ayat diatas memberikan pemahaman bahwa jika suami menthalaq istri yang dalam kondisi hamil, maka thalaqnya sah. Dan iddah istri yang dithalaqnya adalah sampai melahirkan. Artinya si istri tidak boleh menikah (lagi) dengan yang lain selama masih mengandung. Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Desember 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum … ustadz Abu Alifa yang saya hormati, jika saya membuka internet tidak lepas membuka blog yang ustadz asuh, sebab saya merasa ada sesuatu yang membantu dalam mendalami syariat Islam. Tetapi karena belum saya temukan orang yang bertanya yang ada kaitannya dengan masalah yang saya alami, maka saya ikut “nimrung” bertanya. Begini ustadz Abu, saya seorang suami beristri 2 (berpoligami). Yang jadi ganjalan saya adalah saat melangsungkan aqad nikah yang kedua, saya tidak pernah memberitahu dan meminta idzin akan nikah lagi. Bagaimana hukum yang saya lakukan, apakah melanggar hokum atau bagaimana? Bagimana kalau istri pertama saya tahu dan meminta pisah? Trims (farh_aem@ymail.com)

Jawab : Wa’alaikumussalam … Ta’addud (poligami) merupakan syariat yang tertuang dalam Al-Quran :

Artinya : “Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa : 3)

Dalam ayat tersebut ada perintah “menikah” hal itulah yang pokok dalam ayat tersebut. Sedangkan ta’addud (dua, tiga atau empat) istri merupakan sebuah pilihan, sebab dalam ayat selanjutnya dijelaskan jika dikhawatirkan tidak berlaku adil serta dzalim, maka tetaplah nikah dengan satu istri. Artinya poligami (ta’addud) bukanlah sebuah kewajiban didalam islam namun bagi siapa yang memiliki kemampuan untuk melakukannya tanpa berbuat zhalim didalamnya maka dibolehkan baginya berpoligami. Sebaliknya bagi siapa yang tidak mampu berlaku adil atau akan berbuat zhalim jika dirinya berpoligami maka hendaklah tidak menambah isterinya lebih dari satu.

Secara hukum tidaklah ada keharusan bagi seorang suami jika hendak menikah dengan yang kedua mendapatkan ridho (idzin) dari isteri pertamanya. Akan tetapi diantara keutamaan akhlak dan kebaikan didalam mu’asyarah (pergaulaan suami isteri) adalah meminimalisir dampaknya serta meringankan sakit hatinya yang merupakan tabiat para wanita dalam perkara seperti ini, maka hal ini tentu amatlah baik untuk dimusyawarahkan dan member pengertian kepada istri (pertama) kita. Memang menjadi tabiat wanita adanya kecemburuan didalam dirinya ketika terdapat wanita selainnya di dalam kehidupan rumah tangganya. Akan tetapi hendaklah dirinya tidak dikuasai oleh kecemburuannya itu untuk melanggar apa-apa yang telah disyariatkan Allah swt. Jadi tidak seharusnya bagi isteri anda menuntut perceraian dikarenakan poligami anda karena alasan semacam ini bukanlah yang dibenarkan baginya. Berilah pengertian kepada istri alasan yang sebenarnya ta’addud anda.

“Siapapun istri yang meminta cerai kepada suaminya bukan karena kesalahan, maka diharamkan baginya harumnya surga” (Abu Dawud). Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Desember 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum …sebelumnya saya mohon maaf jika pertanyaan yang diajukan kurang sopan. Tetapi karena keingin tahuan sebelum pada tataran pelaksanaan, saya mengajukan pertanyaan. Adakah dalam Islam cara berhubungan dengan suami, dan bagaimana caranya menurut sunnah Nabi saw. Apakah diperkenankan suami istri melihat auratnya? Dan bolehkan suami atau istri memegangnya? Sekali lagi saya mohon maaf jika pertanyaan ini tidak layak? (mohon email jgn dicantumkan). Wassalam

Jawab : Wa’alaikumussalam … tidak perlu merasa malu jika hal itu bertalian dengan syariat yang akan dilakukan. Sebab berhubungan suami istri merupakan syariat dan bernilai ibadah! Sabda Nabi saw :

“…Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah.

Diantara anjuran Nabi saw yang merupakan pedoman saat berhubungan dengan pasangan kita (suami istri), diantaranya : Pertama, berdoa sebelum akan memulai berhubungan, bahkan sebaiknya istri kita diajak shalat 2 rakaat (dulu).

Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: Aku memberi nasehat kepada seorang pria yang hendak menikahi pemudi yang masih gadis, karena ia takut isterinya akan membencinya jika ia mendatanginya, yaitu perintahkanlah (diajak) agar ia melaksanakan sholat 2 rakaat dibelakangmu dan berdoa : Ya Allah berkahilah aku dan keluargaku dan berkahilah mereka untukku. Ya Allah satukanlah kami sebagaimana telah engkau satukan kami karena kebaikan dan pisahkanlah kami jika Engkau pisahkan untuk satu kebaikan (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani dngan sanad Sahih).

Adapun do’a sebelum melakukan hubungan adalah :

“Jika salah seorang dari kalian ingin berhubungan intim dengan istrinya, lalu ia membaca do’a: [Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa], “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya” (HR. Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434).

As-Shan’ani (Subulu as-Salam Bab Nikah), Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam Fathul Bari (9: 228) mengatakan bahwa do’a tersebut diucapkan sebelum memulai berhubungan.

Kedua, melakukan mula’abah. Diantara salah satu unsure penting ketika akan melakukan jima (hubungan suami istri) adalah pendahuluan atau pemanasan yang dalam bahasa asing disebut foreplay (saya menggunakan istilah mula’abah/saling mainkan). Karena dianggap sangat penting,”prolog” sebelum berjima’ sampai Nabi saw menganjurkannya, dengan sabdanya :

“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. At-Tirmidzi).

Ciuman dalam hadits tersebut tentu bukan kiasan, akan tetapi makna yang sesunggguhnya. Hal ini bias dilihat dari hadits yang lain ketika seorang shahabat (Jabir ra) sudah melangsungkan akad nikah, kata beliau “Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis sehingga kalian bisa saling bercanda ria? Berciuma yang dapat saling mengigit bibir denganmu,” (HR. Bukhari no. 5079 dan Muslim II:1087).

Sedangkan rayuan yang dimaksud di atas adalah semua ucapan yang dapat memikat pasangan, menambah kemesraan dan merangsang gairah berjima’. Dalam istilah fiqih kalimat-kalimat rayuan yang merangsang disebut rafats, yang tentu saja haram diucapkan kepada selain istrinya.

Selain ciuman dan rayuan, unsur penting lain dalam pemanasan adalah sentuhan mesra. Bagi pasangan suami istri, seluruh bagian tubuh adalah obyek yang halal untuk disentuh, termasuk kemaluan. Terlebih jika dimaksudkan sebagai penyemangat jima’. Demikian Ibnu Taymiyyah berpendapat. Sedangkan Syaikh Nashirudin Al-Albany, mengutip perkataan Ibnu Urwah Al-Hanbali

“Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat dan meraba (termasuk memegang) seluruh lekuk tubuh pasangannya, dan kemaluan. Karena kemaluan merupakan bagian tubuh yang boleh dinikmati dalam bercumbu. Itulah diantara pandangan Imam Malik dan ulama lainnya.” Sebab istri (pasangan) diibaratkan kebun.

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS.2 : 223)

Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seyogyanya suami istri mengetahui dengan baik titik-titik yang mudah membangkitkan gairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami istri, untuk menemukan titik-titik tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal saat berjima’.

Ketiga, ada kain yang menutupi. Sekalipun suami istri sudah halal baik melihat dan bahkan bertelanjang bulat, namun Nabi saw menganjurkan ditengah ketelanjangan itu hendaknya ditutupi oleh kain (selimut).

Dari ‘Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya (berjima’), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar. (HR Ibnu Majah).

Keempat, jangan cepat meniggalkan/melepaskan istri. Kelima, selesai berhubungan mencuci kemaluan dan berwudhu (dahulu) jika ingin mengulanginya lagi. Dari semua itu kita harus keyakinan bahwa berjima antara suami istri merupakan bentuk ibadah! Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Desember 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum wr.wb … pak ustadz Abu Alifa, saya sedikit ingin menanyakan masalah menyembelih hewan qurban pada malam hari … apakah secara syari`at hal itu dibolehkan? Trims

Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb. … Sebelum kita mengetahui hukum penyembelihan qurban ada baiknya kita mengetahui batasan waktu menyembelihan nusuk (qurban).

Awal waktu penyembelihan sesudah shalat Ied. Tentu yang dimaksud setelah shalat Iedul-Adha yakni setelah selesai khutbah Imam, sebab khutbah merupakan rangkaian dari ibadah shalat Ied.

Dari Sahabat al-Barra` bin `Azib Radhiyallahu `Anhu, Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami. Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka itu adalah daging yang diberikan untuk keluarganya dan tidak termasuk nusuk (ibadah qurban) sedikitpun." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Jundab bin Sufyan, ia berkata:

صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ ذَبَحَ فَقَالَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

"Nabi saw pernah shalat pada hari penyembelihan (idul Adha) lalu berkhutbah lalu menyembelih serta bersabda, "Siapa yang menyembelih sebelum ia shalat (Ied) maka hendaknya ia menyembelih lagi sebagai gantinya, dan siapa yang belum menyembelih hendaknya ia menyembelih dengan nama Allah." (HR. Al-Bukhari)

Diriwayatkan juga dari Anas bin Malik, ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wasallam pernah shalat pada hari nahar (idul Adha) lalu berkhutbah, lalu beliau perintahkan orang yang telah menyembelih sebelum shalat agar mengulangi sembelihannya." (HR. Al-Bukhari)

Sedangkan akhir dari waktu penyembelihan hewan qurban (nusuk) yakni saat terbenamnya matahari dihari ke-13 Dzulhijjah(hari tasyriq).

Adapun menyembelih waktu malam dihari-hari penyembelihan tidak melanggar syariat. Sebab waktu malam sudah termasuk kepada arti hari-hari (ayyaam).

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

"Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." (QS. Al-Hajj: 28) sehingga waktu malam (yakni malam ke 11, 12 dan 13) adalah seperti siangnya yang menjadi waktu penyembelihan. Allohu A`lam.

Dikirim pada 23 Oktober 2012 di Bab. Penyembelihan


Tanya : asslmlkm.wr.wb

Yth. Ustad

saya mau konsultasi, saya punya pacar yang sayang pada saya, tapi saya ingin putus sama dia, karena perbutan yang dilarang oleh islam. Saya takut menyakiti hatinya dan tidak akan memaafkan apa yang sudah saya perbuat padanya. Saya menyasal karena sudah tau dilarag tapi tetep saja saya lakuin berpacaran. Sekarang saya ingin bertaoubat mumpung saya masih hidup.

Ustad kasih solusinya ?? Terima kasih johan Sukris



Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb. … berpacaran dalam pengertian perbuatan yang melanggar ketentuan syariat tentu haram. Sekalipun namanya "Ta`aruf atau khitbah", namun setelah itu melakukan dan melanggar syariat, maka tetap dari sisi pelanggarannya itu haram. (Coba baca tentang pertanyaan yang menyangkut pacaran di www.ghazi.abatasa.com).

Jika alasannya hanya takut menyakiti pacar , tentu tidak bisa dibenarkan. Bukankah dengan demikian akhi menyakiti sang Pencipta dengan pelangaran itu? Artinya akhi merasa khawatir dengan makhluk dan tidak merasa khawatir dengan sang Khaliq (Allah swt).

Jika tidak ingin terus-menerus dihantui rasa khawatir, baik merasa berdosa atau diputuskan khawatir menyakiti, maka laksanakan perintah Allah swt, yaitu segeralah menikah! Dengan menikah insya Allah dua hal tersebut bisa teratasi. Allohu A`lam

Dikirim pada 23 Oktober 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum … pak ustadz sekarang ini ada selebaran sms dan sejenisnya yang menggunakan hadits yang menyatakan bahwa ketika terjadi hilal (awal bulan) dzulhijjah dan mempunyai niat untuk qurban, katanya tidak boleh memotong rambut dan kuku! Padangan ustadz bagaimana? Rie-ga …. Bumi Alloh

Jawab : Wa`alaikumussalam … Perhatikan sabda Nabi saw :

Dari Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: "Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih, maka hendaknya dia menahan (yakni tidak memotong, pent) rambut dan kukunya."(HR. Muslim).

Imam Nawawi berkata: Bahwa maksud larangan tersebut adalah dilarang memotong kuku dengan gunting dan semacamnya, memotong rambut; baik gundul, memendekkan rambut,mencabutnya, membakarnya atau selain itu. Dan termasuk dalam hal ini, memotong bulu ketiak, kumis, kemaluan dan bulu lainnya yang ada di badan (Syarah Muslim 13/138).

Sekalipun hal tersebut menurut sebagian ulama tidak dihukum haram (mencukur), akan tetapi ini merupakan bentuk dari sunnah dan ketaatan kita terhadap sebuah anjuran. Allohu A`lam

Dikirim pada 22 Oktober 2012 di Bab. Penyembelihan


Tanya : Bismillah .. ustadz bagaimana hukumnya bila orang yang mengerti membeli ijazah umpamanya S1 (tanpa kuliah) karena mengejar dan ingin menjadi PNS? Dan bagaimana kedudukan membayar "uang kadeudeuh" supaya cepet diangkat pegawai? Hamba Alloh

Jawab : Haram! Allohu A`lam

Dikirim pada 24 September 2012 di Bab. Jual Beli


Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb. selamat pagi …..pa ustad saya mau bertanya seputar pernikahan,karna saya sebentar lg akan menikah. pa ustad yg wajib membayar buat ke lebe/KUA itu sebenar`y pihak laki" atau pihak perempuan ??ada yg bilang itu kewajiban dr pihak laki". apakah bener pa ustad ?? dan apakah kewajiban pihak laki selain memberikan mahar ?? mohon pencerahan`y pa ustad .. terimakasih.. Wassalamualaikum Wr. Wb. Mety Jern



Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb. … Seharusnya tentu saja tidak harus bayar, sebab itu sudah menjadi kewajiban pihak pemerintah. Jika memang wajib bayar siapa saja tentu boleh membayarkan hal itu, baik kedua calon yang akan menikah atau pihak keluarga. Hanya biasanya pihak KUA sering berceloteh "masa bayar segitu aja tidak mampu, sementara pesta (resepsi) nikahnya lebih dari membayar KUA". Akan tetapi kalaupun menggunakan dalil, maka khithab perintah dan jika mampu itu kembali kepada calon, terutama calon suami. Hanya pada dasarnya baik ke KUA atau-pun untuk resepsi, jika ada yang mau membayarnya hal itu tidak lantas nikahnya tidak sah.

Sementara mahar (mas kawin) merupakan hak istri dan kewajiban suami yang mesti diberikan. Sementara pemberian yang lainnya seperti barang bawaan itu bagian dari shadaqah. Adapaun untuk walimah (resepsi) itu sesuai dengan kemampuan yang ada pada suami ataupun keluarganya. Allohu A`lam



Dikirim pada 21 September 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum wr wb

Permisi pak ustadz saya ada pertanyaan mengenai wali nikah. Jadi begini saya seorang laki laki anak kedua dari dua bersaudara, kakak saya seorang wanita muslimah yang sebentar lagi akan menikah. Ibu saya sudah lama bercerai dengan bapak saya sejak saya masih dikandungan Untuk kepentingan pernikahan tersebut kakak saya menunjuk saya sebagai wali hakim dikarenakan ayah saya yang telah bercerai susah dicari dimana keberadaannya kami tidak tahu serta keluarga ayah saya juga tidak diketahui keberdaannya Yang saya tanyakan apakah saya dapet menggantikan ayah saya sebagai wali jika memang ayah saya susah ditemukan?karena kami tidak tahu domisislinya yang sekarang Bagaimana pendapat pak ustadz mengenai maslah perwalian ini?

Demikian pak ustadz, saya mengharapkan balasan masukan dan solusi dari bapak Terima Kasih Wassalamualaikum wr wb M Putra Dwigantara mpdwigantara@gmail.com

Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb …. Tidak ada dalil yang menyebutkan siapa yang paling berhak menjadi wali nikah bagi anak perempuan. Para ulama ada yang bersepakat dan ada pula yang berselisih berkaitan dengan siapa yang paling dekat dengan anak perempuan tersebut dikarenakan tidak adanya dalil yang merincikannya. Allah berfirman :

آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا


"…(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." (QS An-Nisa : 11)

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ayah kandung perempuan tersebut adalah orang yang paling berhak menjadi wali bagi anaknya, kemudian setelah ayah adalah kakek dari ayah tersebut. beginilah dalam madzhab Syafi`i, Hambali dan sebagian yang lain.

Bahkan dalam kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:

1. Ayah kandung

2. Kakek, atau ayah dari ayah

3. Saudara kandung

4. Saudara se-ayah saja

5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu

6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja

7. Saudara laki-laki ayah

8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah

Jadi anda bukan wali hakim … dan anda berhak menikahkan saudara kandung perempuan (kakak anda), apalagi ayah anda dan kakak anda sulit dilacak. Sekalipun ayah anda yang tidak diketahui alamatnya, kemudian anda menikahkan (menjadi wali nikah) kakak anda, maka pernikahannya sah. Artinya anda sah menjadi wali saudara kandung perempuan (kakak kandung anda). Allohu A`lam

Dikirim pada 21 September 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaykum ustad..

Saya mau bertanya tentang hukum bersalaman dengan sepupu. yang kedua tentang hukum wanita yang menjalani facial wajah? misalnya ketika membersihkan jerawat sampai mengeluarkan darah..terimakasih ustad. siti aminah (anqmuslim@gmail.com)



Jawab : Wa`alaikumussalam … Pertama, sepupu adalah anak-anak dari kakak beradik atau anak saudara laki-laki ayah atau saudara ibu, dan sepupu itu tidak termasuk bagian dari mahram, sehingga tidak boleh bersalaman (berjabat tangan) dan boleh menikah dengan sepupu. Yang termasuk mahram dalam al-Quran adalah :

"Sesungguhnya diharamkan bagi kalian (menikahi) Ibu kandung kalian, dan putri kandung kalian, dan Saudari Kandung kalian, dan Saudari kandung ayah kalian (bibi dari ayah), dan saudari kandung Ibu kalian (bibi dari ibu), dan putri putri saudara lelaki kalian (keponakan dari saudara lelaki), dan putri putri saudara perempuan kalian (keponakan dari saudara wanita), dan Ibu susu kalian, dan saudari saudari suson kalian (putri dari wanita yg menyusui kalian), dan ibu dari istri kalian (mertua), dan putri dari istri kalian (bila kita menikahi wanita yg sudah mempunyai putri, maka anak itu tak boleh kita nikahi, terkecuali bila kita belum bersanggama dg ibunya), dan putri anak anak kalian (menantu), dan menikahi dua wanita yg bersaudara, terkecuali bila salah satunya telah wafat (tidak menikahinya bersamaan, terkecuali bila salah satunya telah wafat)... (QS.An-nisaa-23)

Kedua, membersihkan kotoran termasuk jerawat tidak dilarang walaupun sampai keluar darah. Allohu A`lam

Dikirim pada 01 September 2012 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamu`alaikum … pak Abu Alifa Shihab yang saya hormati. Begini pak, diantara saudara kami banyak yang masih kekurangan dari sisi ekonomi. Apakah dibenarkan kita menyalurkan zakat (termasuk zakat fitrah) kepadanya? Syukran

Jawab : Wa`alaikumussalam … dalam ayat Al-Quran Allah swt melalui firmannya telah merinci golongan-golongan yang berhak menerima zakat (shadaqah). Ada yang untuk dirinya ada juga untuk membebaskan beban dirinya.

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu`allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS.9 : 60)

Maka jika orang tersebut termasuk dalam 8 asnaf diatas, maka tentu ia berhak untuk menerima bagian dari zakat, termasuk kerabat ibu tersebut bahkan termasuk kepada suami jika termasuk kategori diatas. Hanya jumhur ulama membatasi bahwa bagi suami tidak dibenarkan memberikan zakat kepada tanggungannya. Jumhur ulama menjelaskan bahwa yang menjadi tanggungan itu adalah anak, istri dan orang tua. Sedang bagi istri dibenarkan zakat ataupun shadaqah kepada suaminya.

Dari Abu Sa`id Al Khurdri ra; Rasulullah saw keluar menuju lapangan tempat shalat untuk melaksanakan shalat `Iedul Adhha atau `Iedul Fithri. Setelah selesai Beliau memberi nasehat kepada manusia dan memerintahkan mereka untuk menunaikan Zakat seraya bersabda: "Wahai manusia, bershadaqahlah (berzakat lah)." Kemudian Beliau mendatangi jama`ah wanita lalu bersabda: "Wahai kaum wanita, bershadaqahlah. Sungguh aku melihat kalian adalah yang paling banyak akan menjadi penghuni neraka." Mereka bertanya: "Mengapa begitu, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Kaliankufur terhadap suami dan kebaikannya". Tidaklah aku melihat orang yang lebih kurang akal dan agamanya melebihi seorang dari kalian, wahai para wanita". Kemudian Beliau mengakhiri khuthbahnya lalu pergi. Sesampainya Beliau di tempat tinggalnya, datanglah Zainab, isteri Ibu Mas`ud meminta izin kepada Beliau, lalu dikatakan kepada Beliau; "Wahai Rasulullah saw, ini adalah Zainab". Beliau bertanya: "Zainab siapa?". Dikatakan: "Zainab isteri dari Ibnu Mas`ud". Beliau berkata,: "Oh ya, persilakanlah dia". Maka dia diizinkan kemudian berkata,: "Wahai Nabi Allah, sungguh anda hari ini sudah memerintahkan shadaqah (Zakat ) sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak menZakat kannya namun Ibnu Mas`ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini. Maka Nabi saw bersabda: "Ibnu Mas`ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih barhak kamu berikan shadaqah." (H.R. Bukhari)

Bahkan jika kita memberikan zakat (shadaqah) kepada kerabat kita (tentu yang termasuk 8 asnaf itu), maka ada dua kebaikan yang kita raih, yaitu pahala menyambung kekerabatan (silaturahim), dan pahala zakatnya (HR.Bukhary). Allohu A`lam

Dikirim pada 09 Agustus 2012 di Bab. Perzakatan


Tanya : Assalammualaikum Wr Wb

Selamat malam Pak.

Perkenalkan saya Jendri Salti Tangnga Rissing. Saya sebenarnya lahir dan dibesarkan di dalam keluarga non muslim. Awal perubahan saya muncul dari bulan April yang lalu. Awalnya saya diterima bekerja di tempat kerja yang baru pada bulan November tahun lalu. Disitu saya berkenalan dan kemudian menjalin hubungan dengan seorang laki laki Muslim bernama Muhammad Azam. Seiring berjalannya waktu sering banyak perdebatan diantara kami apalagi setelah kami memutuskan untuk membawa hubungan kami ke arah yang lebih serius lagi.

Awalnya saya tetap teguh dengan keyakinan awal saya. Tetapi perhatian, kesabaran dak perjuangannya selama ini membuatku luluh. Ternyata keyakinan yang dia pegang membawa ketenangan batin buat dia sehi8ngga apapun masalah kami dihadapi dengan kepala dingin. secara pelan2 dia mulai mengajarkan aku hal2 baik dari agama Islam.

Sampai sekarang dari hati yang paling dalam, Saya ingin belajar dan memeluk agama Islam. Dia dan keluarganya begitu terbuka dengan kehadiranku. Tapi dari sisi keluargaku,aku masih takut untuk terbuka. kepada orang tuakuaku sudah menjelaskan. Mereka menyerahkan semuanya kepadaku, tapi jelas di raut wajah dan suara mereka, kalau mereka belum sepenuh hati memberikanku iizin. Terutama keluarga besarku. Yang pasti aku pasti mendapat marah dari mereka apalagi dari semua keluarga besarku baru aku yang memilih jalanku sendiri.

yang aku mau tanyakan.

1. bagaimana caranya aku meyakinkan keluargaku kalau ini adalah pilihan dari hatiku, murni bukan hanya karena aku berhubungan dengan pacarku yang Muslim?

2. setelah aku mendapat restu dari kedua orang tuaku, aku sudah boleh menikah dan memeluk agama Islam walaupun keluarga besarku tidak pernah setuju?

Terima Kasih!!! jeyrissing@gmail.com

Jawab : Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Alhamdulillah saudariku … ke-Islamannya ternyata bukan karena keterpaksaan. Semoga Allah swt meneguhkan pendiriannya dan tetap dalam hidayahNya. Saya ucapkan selamat bergabung dengan dienul-haq (agama yang lurus) … Sebenarnya memberi tahu merupakan bagian dari rasa hormat (akhlak), yang dalam Islam sekalipun orang tua kita tidak seaqidah (bukan muslim) tetap kita berkewajiban untuk berbuat baik kepadanya. Akan tetapi jika menyangkut hal keyakinan kita harus punya prinsip. Sampaikanlah dengan baik kepada keduanya, mudah2an orang tua anda mendapat petunjuk sebagaimana anda sendiri.

Meminta restu (kepada orang tua) mau menikah dengan laki-laki yang seagama, itu juga merupakan bagian dari akhlak kita. Sekalipun jika mereka tidak merestuinya, anda berhak menentukan. Sebab sewaktu nanti anda menikah, maka wali bukan orang tua anda, akan tetapi wali hakim, sebab orang tua anda berlainan agama (bukan muslim). Jika mereka (keluarga besar anda) tidak setuju, tidak akan menghalangi sah tidaknya pernikahan anda. Sekali lagi permintaan restu baik kepada orang tua maupun keluarga besar anda yang berlainan aqidah bukan untuk menentukan sah tidaknya pernikahan anda, akan tetapi bagian dari birrul-walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua), yang dalam Islam kita dituntut hal tersebut, baik orang tua itu lain agama apalagi seagama. Allahu A’lam

Dikirim pada 05 Agustus 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Asslm ustaz, Saya sudah baca blog ustaz dan saya suka karena uraian nya objektif dan wawasan sangat luas. untuk itu saya mengajukan pertanyaan sbb " Saya lelaki muslim 50 tahun 1 istri 4 anak yang besar 18 tahun yang kecil 11 tahun. 1 tahun lalu saya bertemu dengan mantan pacar 28 tahun yang lalu. Wanita Jawa usia saat ini jalan 47 tahun anak 1. Menurut keterangan anak itu adalah anak diluar nikah karena ia diperkosa saat masih muda dulu. Saya gak tahu benar atau tidak ceritanya Ia tinggal dan kerja di surabaya , anak dan ibunya di yogya , Ia beragama kristen katolik, . singkat cerita kangen kangenan dan sampai akhirnya agar tidak terjerumus dalam dosa zina , saya ajak dia menikah . Ia mau. dan ridla dengan kehidupan seperti ini (dia di surabaya dan saya di jakarta) Ia menawarkan pemberkatan di gereja, Saya menolak, Saya mau menikah dengan cara islam karena kalau dengan cara katolik tetap saja saya tidak menikah. Ia setuju nikah dengan cara islam. Saya PNS dan sudah punya istri. sehingga tidak mungkin menikah di KUA kalau mau pakai wali nasab , Ayahnya sudah meninggal, kakak dan adik lelaki katolik dan pasti tidak menyetujui pernikahan ini karena saya sudah beristri Wali nasab yang lain dari pihak ayah juga tidak menyetujui ya karena saya sudah punya istri itu, Ia juga ingin agar keluarganya tidak tahu karena saat ini ibunya sakit Jantung parah dan dikhawatirkan kalau mendengar pernikahan ini jantungnya akan makin parah, Yang jadi pertanyaan 1. apakah saya dan dia bisa menikah dengan menggunakan Wali Muhakkam. 2. Apakah ia harus masuk islam dulu agar bisa menggunakan wali muhakkam ini 3. Apakah ustaz bersedia menjadi wali muhakkam dalam pernikahan kami ini ?, Saya sangat takut berzina ustaz takut hukum Allah .zina khan hukum mati Saya berharap dengan pernikahan ini ia mengenal islam dan berharap ia masuk islam Terima kasih Wassl gunturaa@gmail.com

Jawab : Wa`alaikumussalam … kekeliruan anda adalah diawali adanya "kangen-kangenan" yang akhirnya kangen beneran. Semestinya anda menjaga jarak apalagi ia berbeda aqidah. Anda sebenarnya sudah beruntung mempunyai istri yang seakidah dan mempunyai keturunan. Kenapa sampai "tergoda" dengan wanita yang berlainan agama? Sekalipun anda beralasan ingin menjauhi perbuatan yang melanggar agama, tapi anda sendiri tidak menyadari bahwa "kangen-kangenan" merupakan pintu yang akan membuat anda menerobos jurang pelanggaran (lihat Fatwa MUI tentang nikah berlainan agama/aqidah). Sebenarnya jika ia beragama Islam (se-aqidah) dan orang tuanya berlainan aqidah dengan anaknya, maka tentu yang menjadi wali adalah kerabat dari orang tua wanita itu yang Islam. Dan jka tidak ada, maka sulthan (penguasa) yang berhak menjadi wali dalam pernikahan itu (wali hakim). Jika anda takut berbuat zina, saya sarankan jauhi wanita itu, apalagi berbeda aqidah. Sekalipun tentu bukan sebuah pelanggaran syariat (Islam), jika anda mempunyai istri lebih dari satu. Hanya pertimbangkan masalahat (keutuhan, kedamaian, ketentraman dengan istri yang sudah seaqidah anda) …dan pertimbangkan mafsadatnya (keruksakan, keretakan, kehancuran) yang diakibatkan dengan tindakan anda menikahi wanita yang berlainan aqidah! Allohu A`lam

Dikirim pada 04 Agustus 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum, pak ustadz yang saya hormati, saya sering jum`tan yang khatibnya pada saat mengawali khutbah tidak mengucapkan shalawat. Bagaimana hukumnya, apakah sah shalat jum`at yang saya lakukan? Hamba (afwan ust., emailnya jgn dicantumkan)

Jawab : Wa`laikumussalam … Dalam Al Fiqh `Alal Madzhabil Arba`ah 1/ 390-391, karya Abdurrahman Al Jaziri, disebutkan pendapat empat madzhab tentang rukun-rukun khutbah Jum`at.

1. Hanafiyyah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki satu rukun saja. Yaitu dzikir yang tidak terikat atau bersyarat. Meliputi dzikir yang sedikit ataupun banyak. Sehingga untuk melaksanakan khutbah yang wajib, cukup dengan ucapan hamdalah atau tasbih atau tahlil. Rukun ini untuk khutbah pertama. Adapun pada khutbah kedua, hukumnya sunah.

2. Syafi`iyyah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki lima rukun. Pertama. Hamdalah, pada khutbah pertama dan kedua. Kedua. Shalawat Nabi, pada khutbah pertama dan kedua. Ketiga. Wasiat taqwa, pada khutbah pertama dan kedua. Keempat. Membaca satu ayat Al Qur`an, pada salah satu khutbah. Kelima. Mendo`akan kebaikan untuk mukminin dan mukminat dalam perkara akhirat pada khutbah kedua.

3. Malikiyyah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki satu rukun saja. Yaitu, khutbah harus berisi peringatan atau kabar gembira.

4. Hanabilah.

Mereka berpendapat, bahwa khutbah memiliki empat rukun. Pertama. Hamdalah, pada awal khutbah pertama dan kedua. Kedua. Shalawat Nabi. Ketiga. Membaca satu ayat Al Qur`an. Keempat. Wasiat taqwa kepada Allah .

Akan tetapi berkaitan dengan madzhab Hanafiyyah dan Malikiyyah ada keterangan lain. Yaitu sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad dalam kitab Imamatul Masjid, Fadhluha Wa Atsaruha Fid Dakwah, hal. 82. Beliau berkata,"Adapun (para ulama) Hanafiyyah dan Malikiyyah, mereka tidak menjadikan rukun-rukun untuk khutbah Jum`at. Para ulama Hanafiyyah berkata,`Jika (khotib) mencukupkan dengan dzikrullah, (maka) hal itu boleh. Tetapi dzikir ini harus panjang yang dinamakan khutbah`."(Al Maushuli Al Hanafi. Al Ikhtiyar 1/83). Itulah khutbah jum`at menurut fiqh emapat mazhab.

Inti khutbah khutbah (Jum`at) adalah nasihat yang baik; baik dari Al Qur`an ataupun al-Sunnah. Memang benar, memuji Allah (hamdalah) dan syahadatain dalam khutbah, termasuk kesempurnaan khutbah. Dan khutbah itu memuat bacaan sesuatu ayat dari kitab Allah. Tetapi (anggapan), bahwa hal-hal itu merupakan syarat-syarat atau rukun-rukun, yang khutbah itu -dianggap- tidak sah bila tanpa semuanya itu, baik (khotib) meninggalkannya dengan sengaja, lupa, atau salah, maka anggapan seperti itu perlu kajian dan memerlukan dalil yang sharih. Setelah kita mengetahui, bahwa tidak ada dalil yang menyatakan perkara-perkara di atas sebagai rukun khutbah Juma`t, maka khutbah yang tidak ada shalawat Nabi saw hemat kami sah adanya. Sekalipun membaca shalawat saat khutbah pernah dilakukan oleh seorang shahabat.

عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ كَانَ أَبِي مِنْ شُرَطِ عَلِيٍّ رَضِي اللهُ عَنْهُ وَكَانَ تَحْتَ الْمِنْبَرِ فَحَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَعْنِي عَلِيًّا رَضِي اللهُ عَنْهُ فَحَمِدَ اللهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ وَقَالَ خَيْرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ وَالثَّانِي عُمَرُ وَقَالَ يَجْعَلُ اللهُ تَعَالَى الْخَيْرَ حَيْثُ أَحَبَّ

Dari `Aun bin Abi Juhaifah, dia berkata,"Dahulu bapakku termasuk pengawal Ali, dan berada di bawah mimbar. Bapakku bercerita kepadaku, bahwa Ali naik mimbar, lalu memuji Allah Ta`ala dan menyanjungNya, dan bershalawat atas Nabi, dan berkata, `Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya, ialah Abu Bakar, yang kedua ialah Umar,` Ali juga berkata,`Allah menjadikan kebaikan di mana Dia cintai`."(HR.Ahmad dalam Musnad-nya 1/107 dan dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir).

Sebagai tambahan di sini, kami sampaikan keterangan yang berkaitan dengan cara khutbah Nabi -dengan keyakinan kita- bahwa khutbah beliau adalah yang paling baik dan utama. Di antara petunjuk Nabi dalam berkhutbah, bahwa beliau mengucapkan salam kepada hadirin ketika naik mimbar.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى كَانَ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ سَلَّمَ

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi jika telah naik mimbar biasa mengucapkan salam. (Ibn Majah)

Demikian juga beliau biasa membuka khutbah dengan mengucapkan hamdalah, pujian kepada Allah, syahadatain, bacaan ayat-ayat taqwa, dan perkataan amma ba`d. Hal ini antara lain ditunjukkan hadits di bawah ini.

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ (نَحْمَدُهُ وَ) نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا (وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا) مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ (وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ) وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولاَ تَمُوتُنَّ إلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَحَلَقَ مِنْهَازَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْراً وَ نِ سَاءً وَ اتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ) ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ) (أَمَّا بَعْدُ)

Dari Abdullah, dia berkata, Rasulullah telah mengajari kami khutbah untuk keperluan: Alhamdulillah…..., artinya: Segala puji bagi Allah (kami memujiNya), mohon pertolongan kepadaNya, dan memohon ampunan kepadaNya. Serta kami memohon perlindungan kepadaNya dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amal kami. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, tidak ada seorangpun yang menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang memberinya petunjuk. Saya bersaksi, bahwa tidak ada yang diibadahi secara benar kecuali Allah (semata, tidak ada sekutu bagiNya), dan saya bersaksi, bahwa Muhammad n adalah hamba dan utusanNya. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Ali Imran:102). Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An Nisa:1) Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS Al Ahzab: 70-71). (Amma ba`du).(Riwayat Ahmad dan yang lainnya)

Al Albani berkata bahwa khutbah ini (yaitu perkataan `innal hamda lillah) digunakan untuk membuka seluruh khutbah-khutbah, baik khutbah nikah, khutbah Jum`at, atau lainnya." (Khutbah Hajah, hal. 31). Begitu juga dengan Imam Ibnul Qayyim yang mengatakan bahwa Tidaklah beliau (Nabi) berkhutbah, kecuali beliau membukanya dengan hamdalah, membaca dua kalimat syahadat, dan menyebut diri beliau sendiri dengan nama diri beliau." (Zadul Ma`ad 1/189.) Allohu A`lam

Dikirim pada 22 Juli 2012 di Bab. Jum’at
21 Jul


Tanya : Assalamualaikum,,Pak Ustadz, sy mau bertanya tentang wali nikah. Calon istri sy adalah seorang anak tunggal dari ibu yg tunggal juga. Ayahnya sudah lama meninggal dan saudara laki-laki kandung dr ayahnya tidak ada yg muslim. Kakeknya pun sudah meninggal. Kira-kira dg keadaan seperti itu apakah bisa kami menikah dg wali hakim..? Mohon bantuan petunjuk dr pak ustadz..Terimakasih....Wassalamualaikum ..Indra.Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jawab : Wa’alaikumussalam …Sabda Nabi saw ”Aku adalah wali bagi mereka yang tidak punya wali.” Artinya jika memang wali nasab (yang seakidah/Islam) tidak ada, maka tentu penguasa (sulthan/hakim) berhak untuk menikahkannya. Jadi jika anda menikah dengan wali hakim seperti itu, maka pernikahan anda sah. Allohu A’lam

Dikirim pada 21 Juli 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum wr.wb.
Pak ustadz yang saya hormati, pada beberapa pemilu kepada daerah .. calon yang diusung oleh Partai Islam banyak mengalami kekalahan, padahal umat Islam mayoritas. Menurut ustadz apa yang menjadi penyebabnya?

Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb. …. Saya juga merasa heran akhi, mengapa umat islam tidak tertarik dengan calon yang diusung oleh partai islam. Mudah-mudahn menjadi PR bagi para pengurus untuk instrofeksi internal! Maaf, saya tidak bisa menjawabnya, khawatir salah menilai! Allohu A`lam

Dikirim pada 12 Juli 2012 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamualaikum ustad, saya seorang wanita muslimah berumur 25 tahun, saat ini saya sudah menjalani masa pacaran selama hampir 10 tahun dengan seorang lelaki, dan pada bulan juni 2012 ini kami sudah berencana untuk menikah. Kami sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan pernikahan tersebut, namun sampai saat kami memiliki 1 kendala yang cukup besar, yaitu belum mendapatkan restu dari orang tua calon suami saya. Pada awal dulu kami berpacaran tidak ada tanda--tanda bahwa hubungan ini tidak direstui,namun semenjak calon suami saya mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan dari dahulu, ibu nya sepertinya tidak rela mengikhlaskan kami untuk menikah. Bahkan ibu calon suami saya beranggapan yang pantas untuk jadi calon menantunya harus dari kalangan dokter/perawat,dikarenakan ibu calon suami saya jg seorang perawat. Saat ini saya juga bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahan swasta,tapi itu mungkin tidak cukup membanggkan bagi orangtuanya. Orangtua saya tidak bisa berbuat apa2 dalam hal ini,mereka menyerahkan sepenuhnya kepada kami berdua,karena kami sudah dianggap dewasa untuk memutuskan jalan kami sendiri.yang mau saya tanyakan adalah: 1. apakah jika pernikahan ini akan tetap dilaksanakan, bagaimana hukumnya bagi calon suami saya? 2. bagaimana caranya agar ibu calon suami saya luluh dan terbuka hatinya utk merestui hub kami ini? 3. apakah calon suami saya bisa disebut durhaka bila tetap menikahi saya?

saya mohon bantuan ustad untuk memberi masukan dari masalah yang saya hadapi, terus terang semakin mendekati hari pernikahan saya merasa masih ada yang terganjal dihati. Mohon maaf bila cerita saya cukup panjang. Terima kasih atas bantuannya. Wassalam

Jawab : Wa’alaikumussalam … Pertama, pernikahan itu tetap sah. Dan calon suami berhak menentukan siapa wanita yang akan dijadikannya sebagai seorang istri, dengan syarat satu aqidah (agama). Kedua, kalau alasannya hanya masalah pekerjaan suami tentu kurang tepat jika orang tua lantas tak merestuinya. Oleh karena buktikan oleh anda berdua, bahwa ukhti tidak seperti sangkaannya yang hanya memilih harta saja. Dan mesti dibuktikan dengan perbuatan dan akhlak yang baik terhadap sang mertua. Dan kepada suami, anda harus tetap memperhatikan kedua orangtua dan tetap menjaga silaturrahim dengan cara membantu (jika kekurangan). Ketiga, jika tidak melanggar syariat suami anda tidak dikatakan durhaka! Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Juli 2012 di Bab. Nikah
05 Jul


Tanya : Assalamualaikum wr.wb .

pak ustadz.. saya ingin bertanya bagai mana hukum pernikahan menurut islam jika pernikahan di paksa atau di jodohkan tetapi tidak ada ke ridhoan dari calon pengantin nya..?? Terimakasih ustadz mohon di jawab..!! kamalcool50@yahoo.co.id

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb.

Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw bersabda:

“Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “Dengan ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwasannya Nabi saw bersabda:

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim no. 1421)

Dari Khansa’ binti Khidzam Al-Anshariyah ra:

“Bahwa ayahnya pernah menikahkan dia -ketika itu dia janda- dengan laki-laki yang tidak disukainya. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (untuk mengadu) maka Nabi saw membatalkan pernikahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5138)

Al-Bukhari memberikan judul bab terhadap hadits ini, “Bab: Jika seorang lelaki menikahkan putrinya sementara dia tidak senang, maka nikahnya tertolak (tidak sah). Allohu A’lam

Dikirim pada 05 Juli 2012 di Bab. Nikah
08 Jun


Tanya : Assalamualaikum pak ustadz

Saya sedikit minta pendapat tentang masalah yang saya hadapi, saya seorang suami telah menikah selama 7 tahun dan dikaruniai 2 anak, sudah selama 7 bulan ini saya dan istri pisah kamar, ini karena istri sudah tidak bisa menerima saya lagi sebagai suami, dan pernah mengajukan khulu, karena menanggap takut tidak bisa berfungsi lagi sebagai istri. Latar belakang ini semua karena memang ternyata istri saya ketika menikah dulu dari awal tidak cinta kepada saya, bukan karena paksaan dari orang tua, tapi karena dia coba-coba, karena saya mengajukan lamaran dan dia menerimanya, yg sebelumnya dia pernah punya pacar tapi tidak mau diajak nikah.

Sejalan dengan pernikahan istri saya menyadari kalau memang tidak bisa memaksakan diri dan akhirnya dia mengajukan khulu, hmm selama pernikahan istri saya pernah ketahuan jalan dengan mantannya itu,dia minta maaf dan saya memaafkan karena ingat dengan anak dan saya juga mencintainya, nah terakhir dia ketauan bermain hati lagi dengan teman kantornya, dengan alasan memang sudah tidak bisa menerima saya lagi sebagai suaminya, dan sampai meminta khulu, awalnya saya tidak mengabulkan, tapi seiring saya melihat perkembangan, saya ikhlas, karena buat kebaikan dia juga takut semakin kufur, walau berat hati mengingat anak2 yang masih sangat kecil, (paling besar wanita 6 th, dan paling kecil laki-laki umur 3 th).

Orang tua dia tidak setuju dengan permintaan khulu istri saya, dan berharap saya untuk bersabar, tapi dari saya melihat memang selama pernikahan saya merasa kalau istri seperti terpaksa, walau saya yakin dia itu istri yang baik.

yang jadi pertanyaan, bagaimana saya harus bersikap, saya sendiri sudah ikhlas karena khawatir istri akan semakin kufur, tapi sementara orang tua meminta untuk bertahan, karena saya tau orang tua(mertua) khawatir dengan cucu-cucunya,
oh ya saya sudah utarakan ke istri kalau ikhlas n mengabulkan khulunya, nah apakah hukumnya dengan pernyataan tersebut, walau orangtua (mertua) tidak setuju. Odie dwitiap@yahoo.com

Jawab : Wa’alaikumussalam … Salah satu penyebab khulu’ pada masa Nabi saw, karena setelah menikah si istri tidak mencintainya. Atau bisa juga setelah beberapa tahun menikah ternyata si istri menjadi tidak suka (baca: cinta). Maka dalam islam jika terjadi seperti itu, tidak lantas istri memaksakan diri melayani suami, sekalipun si suami menyukainya. Disinilah adanya khulu’ yaitu mengembalikan kebun (mahar) kepada suami itu. Dengan kata lain cerai yang diajukan istri. Salah satu pertimbangan khulu’ adalah dikhawatirkan terjadi kekufuran istri terhadap suami yang merupakan dosa besar. Bahkan mungkin untuk kondisi spt sekarang adanya (maaf), main dibelakang! Kalau masalah anak itu sudah jelas tidak bisa dipisahkan dari kedua orang tua. Namun permasalahan yang ditimbulkan, suami seolah tidak punya istri dan begitupun sebaliknya. Maka dosa yang akan terus-menerus terjadi (terutama pihak istri). Kalau suami sudah menerima khulu’ (gugatan cerai) dari istri sekalipun mertua tidak menyetujuinya, tapi suami menerimanya, dengan sendirinya ikatan nikah anda sudah lepas. Lebih lanjut lihat pada soal jawab yang telah lalu tentang khulu’ pada bab.Nikah Allohu A’lam

Dikirim pada 08 Juni 2012 di Bab. Nikah




Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb.

Nama Saya Ari dermawan . saya ingin bertanya nih tentang bacaan sholat pada keadaan ruku` dan sujud. mana yang benar dari kedua ini tolong terangkan

dengan dalillnya

SUBHAANA RABBIYAL ‘ADHZIM

atau


2. SUBHAANA RABBIYAL ‘ADHZIMI WA BIHAMDIH

SUBHAANA RABBIYAL A’LAA 3 kali

atau

SUBHAANA RABBIYAL A’LAA WA BIHAMDIH, 3 kali

tolong jawaabanya pak ustad

Wassalamualaikum Wr. Wb. Ari Dermawan

Jawab : Wa”alaikumussalam wr.wb. … Pada dasarnya kedua bacaan tersebut baik ruku maupun sujud ada dalilnya. Hanya para ulama terutama ahli hadits berbeda pandangan dalam menilai derajat hadits tersebut.

Dari Hudzaifah berkata. Aku pernah shalat bersama Nabi saw. (maka) ketika beliau ruku membaca “Subhaana rabbiyal-‘adzim” dan pada sujudnya (membaca) “Subhaana rabbiyal-a’laa” (HR.Al-Khamsah) lihat Nailu al-Authar 3:273, lihat juga Alhidayah fi Masail Fiqhiyyah Muta’aridhah hal.29

Sementara yang memakai “wabihamdihi” terdapat dalam Riwayat Abi Dawud dari Uqbah bin Amir. Namun Abi Dawud sendiri berkata “Aku khawatir tambahan kalimat (wabihamdihi) kurang terjaga” (Abi Dawud 1 :201). Ada juga hadits lain :

“…. Sesungguhnya Nabi saw membaca pada saat ruku “Subhaana rabbiyal-Adzim wabihamdih” 3 kali, dan dalam sujud (membaca) “Subhaana rabbiyal-a’laa wa bihamdih” 3 kali (HR. Ad-Daruquthny 1 : 341 dari Hudzaifah) lihat Al-Hidayah, fi Masaail fiqhiyyah Muta’aridhah hal 30.

Akan tetapi hadits tersebut dalam sanadnya ada rawi yang bernama Muhammad bin Abdi Rahman bin Abi Laily dan Dhaif (lihat ‘Aunu al-Ma’bud 3 : 122). Allohu A’lam

Dikirim pada 25 Mei 2012 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamu`alaikum Wr. Wb. Pak Ustad, saya ingin menanyakan kejadian yang menimpa saudara saya. Dia seorang laki-laki, sudah menikah (mereka menikah tanpa paksaan) dan dikaruniai 2 orang anak. Karena saudara saya mendapat pekerjaan di luar kota, maka tinggallah dia di luar kota. Istrinya tidak ikut ke luar kota karena dia dinas di puskesmas di Jakarta. Sebenarnya suaminya menyuruh si istri untuk tetap tinggal di rumah (rumah tersebut milik keluarga suami, yang kosong) yang sudah beberapa tahun mereka tempati di dekat tempat istrinya bekerja. Namun ibu mertuanya (ibu dari istrinya) menyuruh untuk tinggal bersama ibunya. Akhirnya si istri pindah ke rumah ibunya. Setiap mendapatkan cuti dari kantor saudara saya selalu menengok istri dan anak-anaknya. Pernah juga istri dan anak-anaknya diajak menginap di kota tempat suaminya bekerja. Setahun setelah saudara saya bekerja di luar kota, dia membeli mobil yang tujuan awalnya untuk dikendarai oleh istrinya bekerja. Di tahun kedua, istri mulai bertingkah aneh... kalau suaminya datang ke Jakarta menengoknya, si istri menghindar dan tidak mau disentuh oleh suaminya. Pada saat suaminya bertanya apa penyebabnya, si istri diam saja tidak menjawab. Pada suatu ketika saudara saya mempunyai firasat tidak enak mengenai istrinya, kemudian dia datang ke Jakarta dan mendapati istrinya menginap di sebuah hotel/wisma dengan menggunakan mobil yang dibeli oleh suaminya, sedangkan anak-anaknya ditinggal dirumah ibunya. Setelah suami istri ini berada di dalam mobil, suami bertanya apa keperluannya nginap di wisma dan dengan siapa, si istri tidak menjawab...bahkan si istri marah dan memaksa minta turun di jalan. Setelah istrinya turun di jalan, saudara saya menjemput anak-anaknya di rumah mertuanya dan membawa anak-ankanya ke kota tempat saudara saya bekerja dengan menggunakan mobil yang awalnya dibeli untuk istrinya. Beberapa bulan kemudian saudara saya menerima surat panggilan dari DepKes, karena istrinya mengajukan permohonan cerai. Karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal saudara saya baru bisa datang beberapa minggu kemudian setelah surat panggilan tersebut , namun pejabat Depkes tidak bisa ditemui saat itu. Akhirnya saudara saya membuat surat yang ditujukan ke pejabat Depkes yang intinya...apabila istrinya minta cerai, hendaknya segera dikabulkan.

Dua bulan setelah itu, saudara saya sakit parah yang membuatnya tidak bisa makan dan berat badannya terus menurun. Pada saat itu saudara saya keluar dari kerjaannya dan bersama kedua anaknya pulang ke rumah orang tuanya di Jakarta. Dalam keadaan sakit, si istri pernah 2 kali datang ke rumah orang tua saudara saya untuk mengambil anak-anaknya dengan cara yang tidak baik. Akhirnya anak pertama berusia 8 tahun tetap ikut bapaknya, anak ke dua berusia 6 tahun ikut ibunya. Saat si istri datang dan melihat suaminya dalam keadaan sakit, tidak sedikitpun dia menanyakan kesehatan suaminya. Beberapa bulan kemudian saudara saya mendapat surat panggilan lagi dari Depkes untuk dimintai keterangan sehubungan permintaan cerai istrinya...Namun karena penyakit yang diderita saudara saya bertambah parah (tidak bisa bangun dari tempat tidur), maka saudara saya tidak memenuhi panggilan tersebut.

Empat bulan kemudian saudara saya meninggal dunia. Dan sampai saat ini belum ada surat cerai dari Pengadilan Agama. Saat ini anak yang berusia 8 tahun tinggal dengan adik kandung almarhum.

Yang ingin saya tanyakan adalah :

1. Apakah si perempuan ini masih layak disebut sebagai istri almarhum, mengingat sejak suaminya masih sehat perempuan ini sudah mengajukan permohonan cerai, hanya karena dia seorang dokter maka dia harus minta ijin dari Depkes lebih dulu. Dan selama suaminya sakit parah dia tidak pernah merawat suaminya.

2. Apakah perempuan ini masih berhak atas mobil dan tabungan milik almarhum atau haknya jatuh ke anaknya.

Mohon kiranya Pak Ustad bisa memberi masukan untuk kami. Terima kasih sebelumnya.

Wassalamu`alaikum Wr.Wb. Paulita Ita

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Pertama, selama belum jatuh thalaq dari suami, maka secara hukum dia masih sah sebagai istrinya. Mengenai tidak merawat (melaksanakan kewajibannya) terhadap suami, itu merupakan dosa bagi istri tersebut. Kedua, masalah mobil (kendaraan), jika hal itu diberikan untuk istrinnya maka itu haknya, tapi jika mobil itu dibeli suami untuk kepentingan istri, maka kendaraan itu merupakan waritsan dari suami untuk para ahli warits suami. Diantara ahli warits itu adalah istri dan anak-anaknya. Begitupun harta peninggalan yang lainnya termasuk tabungan. Allohu A’lam

Dikirim pada 24 Mei 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum …. Ustadz Abu Alifa terima kasih atas berbagai blog yang ditampilkan dalam FB ustadz. Hal tersebut sangat membantu sekali bagi saya yang masih awam dalam memahami sebagain dari syariat Islam. Sebelumnya saya mohon maaf, ada yang hendak saya tanyakan kepada ustadz, yaitu mengenai Jaban Tangan saat ijab qabul pernikahan. Apakah hal itu dicontohkan oleh Nabi saw? Apakah hukum nikah sah atau tidak jika tanpa jabat tangan saat ijab qabul? Wassalam HER. Yogyakarta

Jawab : Wa’alaikumussalam… secara pribadi saya belum mendapatkan dalil atau keterangan yang mengharuskan Ijab Qabul itu mesti berjabat tangan. Mungkin itu hanya tradisi saja. Jadi secara hukum sah nikah tersebut, sekalipun tanpa jabat tangan disaat ijab qabulnya. Allohu A’lam

Dikirim pada 24 Mei 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum, punten (maaf) Ustadz.. mau Tanya lagi, karena di situs Ustadz belum ada masalah shalat sunnat setelah terjadi akad nikah (ijab qabul) yang dilaksanakan secara berjamaah dengan istri kita. Apakah hal tersebut ada keterangan yang shahih? Mang Rudiman Cibadak Majalaya

Jawab : Wa’alaikumussalam … saya belum mendapatkan keterangan bahwa setelah pernikahan (ijab qabul) ada anjuran shalat berjamaah sepasang pengantin. Hanya ada keterangan bahwa jika nanti istrimu menghampirimu (sebagaian ulama mengatakan bahwa hal ini bertalian dengan sunnah dimalam pertama), supaya suami itu mengajaknya shalat kepada istrinya dua rakaat. Hal ini berdasarkan keterangan:

Abu Sa’id (maula Abu Usaid) pernah menceritakan tentang pernikahannya dengan seorang wanita, yang pada saat nikahnya Abu Said adalah seorang budak (hamba sahaya). Di antara mereka yang menyaksikan pernikahannya adalaj Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzifah ra. Lalu tibalah waktu salat, Abu Dzar bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka mengatakan ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzar) berkata, ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Kemudian setelah shalat selesai mereka mengajariku dan berkata :

إِذَا دَخَلَ عَلَيْكَ أَهْلُكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمْ سَلِّ اللهَ مِنْ خَيْرِ مَا دَخَلَ عَلَيْكَ ، وَتَعَوُّذْ بِهِ مِنْ شَرِّهِ ، ثُمَّ شَأنُكَ وَشَأْنُ أَهْلِكَ

“Jika istrimu menghampirimu, maka shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah kebaikan apa yang datang kepadamu, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelakannya. Kemudian terserah kepadamu dan istrimu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf no. 29733). Albani mengatakan bahwa hadits tersebut adalah shahih.

Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan kepada seseorang yang baru menikah,

فَإِذَا أَتَتْكَ فَأَمَرَهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَيْنِ

“Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkanlah dia shalat dua rakaat di belakangmu”(Ibn Abi Syaibah). Allohu A’lam

Dikirim pada 21 Mei 2012 di Bab. Sholat
05 Mei


Tanya : Assalamu`alaikum ... Ustadz Abu Alifa, apakah ada larangannya perempuan mencukur alisnya.

Jawab : Wa`alaikumussalam ...

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ . [رواه البخارى: اللباس: المشتوشمة]
Dari Abdullah ra, Allah melaknat perempuan yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang yang minta dicabutkan bulu alisnya, orang-orang yang menghias giginya untuk mempercantik dirinya dengan mengubah ciptaan Allah."(HR. al-Bukhari)

Dengan keterangan diatas, jelas sekali keharaman tentang mencukur alis (Namishah). Allohu A`lam

Dikirim pada 05 Mei 2012 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamu’alaikum … ustadz Abu Alifa, bagaimana hukum mencukur rambut bagi wanita? NGT

Jawab : Wa’alaikumussalam … dalam sebuah hadits dijelaskan :

لَيْسَ عَلَى النِّسَاءِ حَلْقٌ ، إِنَّمَا عَلَى النِّسَاءِ التَّقْصِيْ

Wanita tidak boleh mencukur habis rambutnya tetapi boleh memendekkannya.” (Hadis shahih, riwayat Abu Zur’ah dalam Tarikh Dimsyaq 1/88 dan dishahihkan al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 605)

Dengan demikian hukum memotong (memendekan) rambut bagi wanita pada dasarnya mubah (boleh). Akan tetapi hukum mubahnya bisa menjadi haram, jika hal tersebut menyerupai laki-laki dan orang kafir. Dan tentu memendekan rambut tersebut harus dilakukan oleh yang muhrim. Allohu A’lam

Dikirim pada 14 April 2012 di Bab. Akhlaq


Tanya : Bismillah … Assalamu’alaikum. Ustadz Abu Alifa yang saya hormati, terus terang saya secara sendiri terbantu dengan adanya Rublik yang ustadz asuh … Ada satu pertanyaan yang ingin saya sampaikan yaitu mengenai Shalat Taubat. Bagaimana kedudukannya pak ustadz tentang shalat tersebut? Wassalam GBT Bumi Allah

Jawab : Wa’alaikumussalam … Dasar hadits tentang shalat tersebut diantaranya :

“… Ali dari Abu Bakar as-Shidiq ia berkata; Rasulullah saw bersabda : siapa saja dari hamba yang beriman, ia melakukan sebuah dosa, kemudian ia berwhudhu’ dan ia membaguskan wudhu’nya kemudian ia sholat dua rakaat, lalu ia meminta ampun kepada Allah, maka Allah akan ampunkan dosanya. Kemudian beliau membacakan ayat (QS : 3 : 135) :” … Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri., mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui…”

Hadits diatas diantaranya tercatat dalam musnad Imam Ahmad : I: 2,9,10. Imam Tirmidzie dalam kitab al-Sholat : 409 dan kitab at-Tafsir : 3009. Ibnu Jarir dalam Jami’ul-Bayan 7852/7854, Ibnu Majah dalam iqamatis sholat wa sunan fiha, dengan sanad ghorib, memalui Utsman bin Abi Zur’ah, dari Aly bin Rabi’ah dari Asma’ bin al-Hakim al-Fazarie dari Aly bin Abi Tholib, dari Abu Bakr as-Shidik. Hadits ini juga akan kita dapatkan dalam tafsir al-Thabariy, al-Qurthuby, dan Ibnu Katsir dalam tafsir surah AliImran 135.

Dalam sanad hadits tersebut ada rawi yang bernama Asma’ bin al-Hakim al-Fazary, sebagian ulama berselisih tentangnya, Imam ad-Dzahabi mentsiqatkan, Ibnu Hibban mengatakan; ia adalah seorang yang tsiqat namun sering salah dalam meriwayatkan dengan demikian Asma’ bin al-Hakim al-Fuzarie adalah seorang yang terdapat kelemahan pada hafalannya. Imam Bukhorie menulisnya dalam Tarikhul-Kabir dan tidak memberikan komentar (Jarh wa Ta’dil), Ibnu Hajr berpendapat sanad hadits ini maqbul. Dalam tahdzibul kamal dijelaskan sebab kontroversialnya Asma’ bin al-Hakim al-Fuzariy,, adalah disebabkan sediktnya ia dalam meriwayatkan hadits. Imam as-Syuyutie meng-hasankan, dan Imam as-Syaukani men-shohihkanya.

Para muhaditsin dan ulama yang menekuni ilmu rijal berbeda pendapat dalam mensikapinya. Jumhur ulama menerima perawi dalam bentuk yang seperti ini, mereka berhujjah dengan al-aslu baroatut-dimmah, seseorang tidak bisa dianggap lemah kecuali sudah ada bukti dan kesaksian atas kelemahannya. Jika seorang rawi ditulis oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab jarh wa ta’dil-nya ataupun imam Bukhori dalam tarikh-nya maka diamnya dua imam tersebut adalah sebagai bentuk ta’dil atas rawi yang ditulisnya, sebab kebiasaan mereka adalah menulis jarh (celaan) jika memang ada pada seseorang, namun jika tidak, maka diamnya mereka adalah teranggap sebagai bentuk ta’dil.

Sementara Ibnu al-Qatthan manganggap kekosongan jarh atau ta’dil (dengan ditulisnya nama seorang rowi, dan tanpa diberikan komentar atasnya baik itu berupa jarh maupun ta’dil, sebagai bentuk tajhil (bentuk isyarat bahwa perawi tersebut tidak dikenal perihal dan kedudukannya).

Sedangkan Ibnu Daqieq al-Ied terkadang sepakat dan mengambil jalan Ibnu al-Qathan, dan terkadang juga mengambil jalan dan sepakat dengan jumhur. Dengan berbagai pertimbangan, yakni melihat kitab para ulama’ jarh wa ta’dil yang lainya. Maka jika seseorang masuk dalam kitab yang memuat deretan nama perawi yang dianggap tsiqat, atau tidak didapatinya nama perawi tersebut dalam kitab yang terkumpul didalamnya nama-nama orang yang lemah atau maudhu’at, maka diamnya Imam al-Bukhori dan Ibnu Adi dianggapsebagai bentuk ta’dil.

Ibnu Qudamah al Maqdisi dalam al Mughnie (pasal sholat taubat) menggunakan dalil riwayat diatas sebagai dalil akan disyariatkannya shalat taubat. Kemudian beliau menambahkan ” dan yang paling penting adalah bahwa taubat, istighfar dan doa selalu saja teriring dalam setiap sholat. Sedangkan do’a dan permohonan ampun dengan didahului amal kebaikan seperti sholat dan bacaan al Qur’an sangat diharapkan untuk dikabulkan”. Sayyid Sabiq juga dalam fiqh sunnah juga memberikan judul tersendiri tentang shalat taubah dari deretan shalat sunnah dengan menggunakan dalil yang sama. Sedangkan Wahbah Zuhaili nampak berbeda diantara yang lainnya. Dalam fiqh islami wa adillatuha yang ditulis oleh beliau mengunakan hadits berikut sebagai dasar di sunnahkanya.

عن أمير المؤمنين عثمان بن عفان- رضي الله عنه- أنه توضأ لهم وضوء النبي صلى الله عليه وسلم ثم قال: سمعت رسول الله يقول: ” من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر له ما تقدم من ذنبه ” (متفق عليه)

Dari amirul mu’minin Uthman bin Afan ra, sesungguhnya beliau mencontohkan kepada orang-orang bagaimana wudhu’nya Nabi saw kemudian berkata’ “aku mendengar Rasulullah saw bersabada :” … barangsiapa yang berwudhu’ seperti wudhu’ ku ini kemudian sholat dua rakaat, tidak berkata kata antara wudhu’ dan sholat, maka akan Allah ampunkan dosanya.

Demikian pandangan para ahli hadits mengenai hadits shalat Taubat. Allahu A’lam

Dikirim pada 29 Maret 2012 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb.

Bismillah maaf pa ustadz saya ingin bertanya tentang shalat dhuha

apakah shalat dhuha diperbolehkan shalat langsung 4 rakaat lalu salam atau harus 2 rakaat lalu salam jika kita ingin shalat dhuha 12 rakaat karena banyak yang menyarankan bahwa shalat dhuha 2 rakaat lalu salam. Andri Maulana

Jawab : Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Shalat dhuha adalah shalat sunat yang dilakukan saat matahari mulai terik (panas) dipagi hari.

“… Bahwasannya Zaid bin Arqam, pernah melihat suatu kaum yang mengerjakan shalat Dhuha. Lalu dia berkata “Tidaklah mereka mengetahui bahwa shalat selain pada saat ini adalah lebih baik, karena sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda : Shalat awaabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta sudah merasa kepanasan”.(HR. Muslim kitab Shalaatul Musaafirin wa Qasruha, bab Shalatut Awaabiin Hiina Tarmudhil Fishaal, hadits no. 748)

Sedangkan jumlah rakaat shalat dhuha adalah dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat atau bahkan duabelas rakaat.

Dilakukan boleh 2 rakaat sebagaimana yang dijelaskan dalam keterangan dibawah ini.

“Bagi masing-masing ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahtil (Laa Ilaaha Illallaah) adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik pun juga sedekah, dan mencegah kemunkaran juga sedekah. Dan semua itu bisa disetarakan ganjarannya dengan dua rakaat shalat Dhuha”.(HR.Muslim dari Abu Dzar (lihat shahih Muslim kitab Shalaatut Musaafirin wa Qashruha, bab Istihbaabu Shalaatidh Dhuha wa Anna Aqallaha Rak’aatani wa Akmalaha Tsamaanu Raka’aatin wa Ausathuha Arba’u Raka’aatin au Sittin wal Hatstsu ‘alal Muhaafazhati ‘alaiha, no. 720. Lihat juga kitab, Jami’ul Ushuul IX/436)

Shalat Dhuha yang dikerjakan enam rakaat, ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik ra : “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat Dhuha enam rakaat” (HR.Tirmidzy)

Dan shalat Dhuha yang dikerjakan delapan rakaat berdasarkan hadits Ummu Hani, di mana dia bercerita :”Pada masa pembebasan kota Makkah, dia mendatangi Rasulullah saw ketika beliau berada di atas tempat tinggi di Makkah. Rasulullah saw beranjak menuju tempat mandinya, lalu Fathimah memasang tabir untuk beliau. Selanjutnya, Fatimah mengambilkan kain beliau dan menyelimutkannya kepada beliau. Setelah itu, beliau mengerjakan shalat Dhuha delapan rekaat”. (HR.Bukhary Muslim).

Namun sebagaian ulama memandang bahwa hadits ini bukan bertalian dengan shalat dhuha, akan tetapi memberi isyarat bahwa Nabi saw shalat Al-Fath (pembebasan) Makkah. Lihat kitab, Zaadul Ma’ad III/4100 dan juga Aunul Ma’buud I/497.

Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan dua belas rakaat ditunjukkan oleh hadits Abud Darda ra, di mana dia bercerita, Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barangsiapa shalat empat rakaat, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang danugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya” (HR Ath-Thabrani).

Namun validitas hadits inipun diperselisihkan disebabkan ada rawi yang bernama Musa bin Ya’qub Az-Zam’i, yang oleh Ibn al-Madini dinilai dhaif (lemah) dan Albani menilai bahwa hadits ini hasan. Allohu A’lam

Dikirim pada 22 Maret 2012 di Bab. Sholat


Fatimah anakku, maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan istri yang dicintai suami?” tanya sang ayah yang tak lain adalah Baginda Nabi Muhammad saw.

“Tentu, Ayahku,” jawab Fatimah.

“Tidak jauh dari rumah ini berdiam seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya dan ia merupakan wanita penduduk surga. Namanya Muthi’ah. Temuilah ia, teladani budi pekertinya yang baik itu,” kata Baginda lagi.

Gerangan amal apakah yang dilakukan Muthi’ah sehingga Rasul pun memujinya sebagai perempuan teladan?

Bergegaslah Fatimah menuju rumah Muthi’ah. Begitu gembira Muthi’ah mengetahui tamunya adalah putri Nabi saw. “Sungguh, bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu, Fatimah. Namun, aku perlu meminta izin suamiku terlebih dulu. Karena itu, pulanglah dan datanglah kembali esok hari.”

Keesokan harinya Fatimah datang lagi bersama Hasan, putranya yang masih kecil. Saat Muthi’ah melihat Fatimah datang lagi dengan membawa Hasan, berkatalah ia, “Maafkanlah aku, sahabatku, suamiku telah berpesan kepadaku untuk tidak menerima tamu lelaki di rumah ini.”

“Ini Hasan, putraku. Ia kan masih kanak-kanak,” kata Fatimah.

“Sekali lagi, maafkan aku. Aku tidak ingin mengecewakan suamiku, Fatimah.”

Fatimah mulai merasakan keutamaan Muthi’ah. Ia semakin kagum dan berhasrat menyelami lebih dalam akhlak wanita ini. Diantarlah Hasan pulang dan bergegaslah Fatimah kembali ke rumah Muthi’ah.

“Aku jadi berdebar-debar,” sambut Muthi’ah, “Gerangan apakah yang membuatmu begitu ingin ke rumahku, wahai putri Nabi?”

“Memang benar, Muthi’ah. Ada berita gembira untukmu dan ayahku sendirilah yang menyuruhku kesini. Ayahku mengatakan bahwa engkau adalah wanita berbudi sangat baik. Karena itulah aku kesini untuk meneladanimu, Muthi’ah.”

Muthi’ah gembira mendengar ucapan Fatimah, namun ia masih ragu. “Engkau bercanda, sahabatku? Aku ini wanita biasa yang tak punya keistimewaan apapun seperti yang engkau lihat sendiri.”

“Aku tidak berbohong, Muthi’ah. Karenanya, ceritakan kepadaku agar aku bisa meneladaninya.”

Muthi’ah terdiam, hening. Lalu tanpa sengaja Fatimah melihat sehelai kain kecil, kipasdan sebatang rotan di ruangan kecil itu. “Untuk apa ketiga benda ini, Muthi’ah?”

Muthi’ah tersenyum malu. Namun, setelah didesak, ia pun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras, memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, lalu kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia pun berbaring di tempat tidur melepas lelah. Lantas aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas.”

“Sungguh luar biasa pekertimu, Muthi’ah. Lalu untuk apa rotan ini?”

“Kemudian aku berdandan secantik mungkin untuknya. Setelah ia bangun dan mandi, kusiapkan makan dan minum. Setelah semua selesai, aku berkata kepadanya, ‘Suamiku, bilamana pelayananku sebagai istri dan masakanku tidak berkenan di hatimu, aku ikhlas menerima hukuman. Pukullah aku dengan rotan ini dan sebutlah kesalahanku agar tak kuulangi.’”

“Seringkah engkau dipukul oleh dia, Muthi’ah?” tanya Fatimah berdebar-debar.

“Tak pernah, Fatimah. Bukan rotan yang diambilnya, justru akulah yang ditarik dan didekapnya penuh kemesraan. Itulah kebahagiaan kami sehari-hari,” tegas Muthi’ah lagi.

“Muthi’ah, benar kata ayahku, engkau perempuan berbudi baik,” kata Fatimah terkagum-kagum.

******

Terus terang, saya tak sempat mengecek kebenaran riwayat di atas dan sejauh mana kesahihannya. Namun, sesungguhnya ada beberapa riwayat mu’tabar dan hadis sahih yang meneguhkan betapa seorang istri selayaknya memperlakukan suaminya ‘bak raja’, persis seperti yang dilakukan Muthi’ah kepada suaminya dalam kisah di atas. Di antaranya adalah riwayat penuturan Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada manusia lain, aku pasti akan memerintahkan wanita agar bersujud kepada suaminya.” (HR at-Tirmidzi).

Ada pula penuturan Asma’ binti Yazid, bahwa ia pernah datang kepada Nabi saw., dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah utusan para wanita kepadamu…Sesungguhnya Allah SWT telah mengutusmu kepada laki-laki dan wanita seluruhnya hingga kami mengimanimu dan Tuhanmu. Namun, sungguh kami (kaum wanita) terbatasi dan terkurung oleh dinding-dinding rumah kalian (para suami), memenuhi syahwat kalian, dan mengandung anak-anak kalian. Sesungguhnya kalian, wahai para lelaki, mempunyai kelebihan daripada kami dengan berkumpul dan berjamaah, berkunjung kepada orang sakit, menyaksikan jenazah, menunaikan ibadah haji, dan—yang lebih mulia lagi dari semua itu—jihad di jalan Allah…Lalu adakah kemungkinan bagi kami untuk bisa menyamai kalian dalam kebaikan, wahai Rasulullah?”

Rasulullah saw. lalu menoleh kepada wanita itu seraya bersabda, “Pergilah kepadawanita mana saja dan beritahulah mereka, bahwa kebaikan salah seorang di antara kalian dalam memperlakukan suaminya, mencari keridhaan suaminya dan mengikuti keinginannya adalah mengalahkan semua itu!

Mendengar sabda Rasul itu, wanita itu pun pergi seraya bersuka-cita (HR al-Baihaqi).

Melalui sabdanya ini, Rasul tentu tidak sedang berbasa-basi atau sekadar menghibur wanita itu. Jihad adalah puncak kebajikan. Setiap Sahabat Nabi saw. amat merindukannya. Setiap ada panggilan jihad, tak ada seorang Sahabat pun yang tak bersuka-cita menyambutnya. Jika kemudian perlakuan yang baik seorang istri kepada suaminya mengalahkan keutamaan jihad, tentu lebih layak lagi para istri manapun bersuka-cita menjalankan kewajiban ini.

Sudahkah setiap istri, khususnya istri pengemban dakwah, senantiasa bersuka-cita dalam melayani suaminya? Jika belum, bersegeralah! Hampirilah suami Anda, peluklah ia dan raihlah ridhanya. Mulai sekarang, jadilah Anda muthi’ah sejati, yang akan menjadi penghuni surga-Nya nanti. (sumber : http://zenvic.wordpress.com)

Dikirim pada 19 Maret 2012 di MUTIARA KISAH


Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami isteri itu belum dikurniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “Masih belum punya anak juga ya, masalahnya pada siapa ya? Suaminya atau isterinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi buah mulut .

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami isteri itu pergi ke salah seorang doktor untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil ujian makmal mengatakan bahwa sang isteri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang isteri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang doktor dengan membawa hasil ujian makmal dan sama sekali tidak memberitahu isterinya dan membiarkan sang isteri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki. Sang suami berkata kepada sang doktor: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada isteri saya bahwa masalahnya ada pada saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.

Terus saja sang doktor menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang doktor, akhirnya sang doktor setuju untuk mengatakan kepada sang isteri bahwa masalah tidak datangnya keturunan, ada pada sang suami dan bukan ada pada sang isteri.

Sang suami memanggil sang isteri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang isteri ia memasuki ruang doktor. Maka sang dokter membuka sampul hasil ujian makmal, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara isterimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.

Mendengar pengumuman sang doktor, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya, wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami isteri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami isteri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang isteri berkata kepada suaminya: “Wahai suami ku , saya telah bersabar selam sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang isteri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak dapat bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya boleh menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya dapat melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang isteri yang memuncak, sang suami berkata: “isteriku, ini cubaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang isteri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang isteri jatuh sakit, dan hasil ujian makmal mengatakan bahwa sang isteri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang isteri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin membelai dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”. Sang istri pun terlantar di hospital.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang isteri. “Ya, saya akan pergi kerana tugas dan sambil mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

Sehari sebelum pembedahan , datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

Saat itu sang isteri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami tak berguna dia itu, isterinya dibedah , eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang pembedahan”.

Pembedahan berhasil dengan sangat baik. Setelah satu minggu , suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan. Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang isteri, tetangga dan siapa pun selain doktor yang dipesannya agar menutup rapat rahsia tersebut.

Dan subhanallah …

Setelah sembilan (9) bulan dari pembedahan itu, sang isteri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakulti syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah mahkamah di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas out station, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang isteri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya. Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahsia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelefon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telefon isterinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulan sang isteri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berkata dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya). [sumber: www.seorangayah.wordpress.com]

Dikirim pada 17 Maret 2012 di MUTIARA KISAH


Tanya : Bismillah … maaf ustadz Abu Alifa saya ingin memahami masalah shalat Arba’in. Apakah ada keterangannya? Kalau ada bagaimana kedudukannya? Dan bolehkah kita shalat sebanyak mungin di masjid tersebut (Nabawi)! Hamba Allah Jawa Barat

Jawab : Hadits yang dipakai sandaran amal shalat Arba’in adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (HR. Ahmad juz 4, hal. 314, no. 12584) dari Anas Bin Malik ra , bahwasannya Nabi saw pernah bersabda :

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً لا يَفُوتُهُ صَلاةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ ، وَنَجَاةٌ مِنْ الْعَذَابِ ، وَبَرِئَ مِنْ النِّفَاقِ

Siapa saja yang pernah shalat di Masjidku sebanyak 40 kali shalat, ia tidak ketinggalan shalat (terus menerus), maka niscaya dituliskan baginya kelepasan dari api neraka dan keselamatan dari adzab dan terlepas dari kemunafikan.”

Ada perbedaan pandangan dalam menilai derajat hadits tersebut diatas.

Pertama, hadits diatas termasuk katagori lemah (dhaif) karena pada sanad hadits tersebut ada rawi yang bernama Nubaith bin Umar. Nubaith bukanlah seorang perawi dari perawi-perawi yang ada di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim bahkan bukan perawi yang ada di dalam kitab-kitab hadits yang enam, yaitu Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan An Nasai. Nubaith adalah seorang perawi yang majhul hal, karena hampir semua dari para ahli hadits yang menyatakan dia adalah perawi yang tidak tsiqah, Al Albani menyatakan hadits ini “Lemah” (Silsilatu al- ahaadiitsi al-dla`iifah wa al-maudluu`ah juz 1, hal. 540, no. 364), bahkan dalam kitab Dha’ifut Targhib, no hadits: 755 bahwa hadits tersebut masuk dalam kategori mungkar (istilah di dalam ilmu hadits yang maksudnya adalah: hadits yang lemah menyelisihi hadits yang shahih).

Kedua, Ibnu Hibban menyatakan bahwa Nubaith bin Umar adalah perawi yang tsiqah (terpercaya). Al Haitsamiy didalam Al-Zawaid menyebutkan bahwa Tirmidzi meriwayatkan sebagian. Imam Ahmad juga meriwayatkannya serta Thabrani meriwayatkannya didalam al Ausath dan orang-orangnya bisa dipercaya. Al Mundziriy didalam at-Targhib (2/136) mengatakan : Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan para perawinya adalah perawi-perawi yang shahih begitu pula dengan Thabrani didalam al-Ausath dan pada Tirmidzi dengan lafazh lainnya.

Itulah beberapa pandangan muhadditsin mengenai status dan derajat hadits diatas.

Adapun mengenai shalat sebanyak mungkin dimasjid Nabawi atau-pun dimasjid al-Haram, tanpa dikaitkan dengan shalat Arbain ataupun dikaitkan dengan pelaksanaan Haji, tentu saja diajurkan. Hal ini berdasarkan keterangan.

Dari Abu Hurairah r.a. ia pernah informasi bahwa Nabi saw., ”Tidaklah pelana kuda diikat (untuk bepergian), kecuali ke tiga masjid: (pertama) masjid ini, (kedua) Masjid Haram, dan (ketiga) Masjidil Aqsh.,” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari III:63 no:1189, Muslim IIL1014 no:1397, ’Aunul Ma’bud VI:15 no:2017 dan Nasa’i II:37).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali di Masjidil Haram.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari III:63 no:1190, Muslim II:1012 no:1394, Tirmidzi I:204 no:324, Nasa’i II:35). Allohu A’lam

Dikirim pada 17 Maret 2012 di Bab. Sholat
12 Mar




Tanya : rukiyah apa rukyah, pengobatan dgn doa?

Minta dasar hukum dan kedudukanya ustadz, ana awam tp pernah menyaksikan.mohon diperjelas. Nida Fitria Ciamis Buniseuri

Jawab : Dalam kamus Al Muhith ا لر قية (dhamah nun) mempunyai arti berlindung diri. Bentuk jamaknya adalah ر قى . Begitu juga dalam Al Mishbah Al Munir ر قى رقيا dari bab ر مى yang artinya berlindung diri kepada Allah swt.

Berkata Ibnu al-Atsir dalam An Nihayah fii Ghariibi Al Hadits (2/254) bahwa Ruqyah artinya berlindung diri dimana orang yang memiliki penyakit itu diruqyah seperti demam dan kerasukan serta penyakit-penyakit lainnya. Disebutkan dalam “Lisan Al Arabi” (5/293): ا لعوذة (berlindung diri), bentuk jamaknya adalahر قي dan bentuk masdar (dasarnya) adalah ر قيا و ر قية و ر قيا jika dia berlindung diri dengan cara meniupkan.

Ruqyah adalah membacakan ayat-ayat Al-Qur`an atau doa-doa perlindungan yang shahih dalam sunnah kepada orang yang sakit, yang dalam pembacaannya disertai dengan an-nafts (tiupan disertai sedikit ludah) atau membasuhkan tangan ke bagian tubuh yang terkena sakit. Ruqyah ini bisa dilakukan dengan cara apa saja sepanjang cara itu bukanlah kesyirikan. ‘Auf bin Malik Al Asyja’i berkata;

كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

“Kami biasa melakukan ruqyah pada masa jahiliyah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah! bagaimana pendapatmu tentang ruqyah?’ beliau menjawab, “Peragakanlah cara ruqyah kalian itu kepadaku. Tidak ada masalah dengan ruqyah selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim no. 4079)

Hanya saja tentunya pembolehan semua bentuk ruqyah ini, selain harus terlepas dari syirik, dia juga harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Karenanya tidak diperbolehkan seseorang memunculkan cara-cara baru dalam meruqyah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi saw. seperti meruqyah dengan adzan dll.

Sungguh Nabi saw telah meruqyah sebagaimana dalam hadits-hadits di atas, dan beliau pun menganjurkan untuk meruqyah. Dari Jabir ra dia berkata:

“Rasulullah saw pernah melarang melakukan ruqyah. Lalu datang keluarga ‘Amru bin Hazm kepada beliau seraya berkata; ‘Ya Rasulullah! Kami mempunyai cara ruqyah untuk gigitan kalajengking. Tetapi anda melarang melakukan ruqyah. Bagaimana itu? ‘ Lalu mereka peragakan cara ruqyah mereka di hadapan beliau. Maka beliau bersabda: ‘Ini tidak apa-apa. Barangsiapa di antara kalian yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah dia melakukannya.” (HR. Muslim no. 4078)

Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan pelet adalah kesyirikan.” (HR. Abu Daud no. 3385, Ibnu Majah no. 3521, dan Ahmad no. 3433)

Ruqyah bermakna membaca, dan yang ruqyah yang terlarang dalam hadits ini adalah membaca selain dari Al-Qur`an dan doa-doa yang shahih, yang doanya mengandung ibadah (meminta bantuan dan perlindungan) kepada selain Allah Ta’ala

Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:

“Nabi saw mengizinkan ruqyah dari sengatan semua hewan berbisa.” (HR. Al-Bukhari no. 5741 dan Muslim no. 2196)

Dari Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata:

“Sesungguhnya Nabi saw meniupkan kepada diri beliau sendiri dengan mu’awwidzat (doa-doa perlindungan/ta’awudz) ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Dan tatkala sakit beliau semakin parah, sayalah yang meniup beliau dengan mu’awwidzat tersebut dan saya megusapnya dengan tangan beliau sendiri karena berkahnya kedua tangan beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5735 dan Muslim no. 2192)

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha dia berkata:

“Apabila Rasulullah saw pernah menjenguk orang sakit atau ada orang yang sakit dibawa kepada beliau, beliau berdo’a: “ADZHIBIL BA`SA RABBAN NAASI ISYFII WA ANTA SYAAFI LAA SYIFAA`A ILLA SYIFAA`UKA SYIFAA`A LAA YUGHAADIRU SAQAMA (Hilangkanlah penyakit wahai Rab sekalian manusia, sembuhkanlah wahai Zat Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada penyembuhan kecuali penyembuhan dari-Mu, dengan kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit setelahnya).” (HR. Al-Bukhari no. 5243, 5301, 5302, 5309 dan Muslim )

Dalam sebuah riwayat Al-Bukhari:

“Apabila salah seorang di antara kami sakit, Rasulullah saw mengusapnya dengan tangan kanan, lalu beliau mengucapkan: ‘Adzhabil ba’sa …

Disamping itu Nabi saw sendiri saat sedang sakit pernah di ruqyah oleh Malaikat Jibril, dan ada beberapa contoh lagi lainnya yang memberikan isyarat tentang adanya ruqyah, termasuk ketika Nabi meruqyah Hasan dan Husain. Dan sebagai kesimpulan saya kutip Keputusan Dewan Hisbah tentang Ruqyah :

1. Ruqyah dalam arti dan melindungkan diri dengan kalimat (do’a pen.) yang manshuh (diucapkan oleh Nabi saw) atau susunan sendiri disyariatkan

2. Ruqyah dalam arti jimat dan jampi-jampi sekalipun menggunakan ayat al-Quran adalah syirik. Allohu A’lam

Dikirim pada 12 Maret 2012 di Bab. Do’a


Tanya : Assalamu`alaikum Wr. Wb. saya mau bertanya mengenai wali pernikahan. kebetulan saya dan pasangan ada rencana menikah Insya Allah akhir tahun ini. sebelum saya bertanya lebih lanjut,saya ingin menceritakan posisi saya di keluarga. Ibu saya dinikahi oleh bapak saya ketika beliau dalam kondisi hamil ( hal tersebut sengaja dibuat oleh orang tua saya karena mereka saat itu tidak ingin dipisahkan, dimana akhirnya mereka sudah menikah dua kali karena adanya pertentangan paham sah tidak sahnya wanita hamil dinikahi ). namun, ketika umur saya 5 tahun mereka bercerai dan sampai sekarang hubungan tidak baik. saya saat ini tinggal dengan nenek saya dari ibu, dimana nenek saya memiliki paham agama yang berbeda dari umumnya yang saya tahu khususnya mengenai wali nikah yang sah. yang saya mau tanyakan :

1. siapakah yang berhak menjadi wali dari anak yang lahir dari hubungan luar nikah tersebut ?

2. apakah harus menikah dua kali dimana yang pertama ayah saya menjadi wali dan yang kedua wali hakim yang menikahkan saya agar pernikahan tersebut sah ?

3. apakah ada hukumnya atau ajaran dari agama bahwa ketika di pelaminan jika ibu saya tidak mau bersanding dengan ayah saya ( dimana rencananya ayah saya mau mengalah tidak berada dilaminan, namun ayah tiri atau om saya tidak boleh berdiri dipelaminan mendampingi ibu saya ) maka ibu saya harus berdiri sendiri di pelaminan.
mohon informasinya sangat saya harapkan, karena saya sangat ragu dan bimbang mengenai ini semua. terima kasih. Wassalam -aNdA-

Jawab : Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Pertama, anak yang lahir dari hasil perzinahan atau istri yang tidak mempunyai suami dan hamil, maka anak itu jika lahir dinasabkan kepada ibunya. Sementara perwaliannya ada pada penguasa atau hakim. Hal ini menurut jumhur ulama. Sesuai keterangan bahwa Nabi saw pernah bersabda : Penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Kedua, jika pernikahan itu dianggap tidak sah maka tentu harus diulang.

Ketiga, tidak ada ketentuan bahwa antara ibu dan ayah (yang sudah cerai atau belum) saat anaknya nikah wajib bersanding dengan anaknya yang nikah dan duduk bersama dikursi pelaminan. Sebab kursi pelaminan saja tidak ada aturannya. Itu merupakan bagian dari tradisi, yang apabila tidak melanggar syariat Islam dilakukan boleh-boleh saja. Sebab untuk resepsi nikah saja ada yang dipisahkan antara pengantin pria dengan pengantin wanita dan tamu-tamu yang datang. Allohu A’lam

Dikirim pada 08 Maret 2012 di Bab. Nikah




Tanya : Assalamu’alaikum … pak ustadz, bolehkah kita memakai barang dari emas (umpamanya tempat minum ). Apakah sama hukumnya seperti memakai gelang atau cincin? Wass .. YT Jawa Tengah

Jawab : Wa’alaikumussalam, hukum memakai ciincin, gelang (bagi perempuan) dari emas dengan memakai wadah minum/makan yang terbuat dari emas sangat berbeda. Hal ini berdasarkan beberapa keterangan (Sabda Rasulullah saw), diantaranya :

“….Janganlah kalian minum dengan menggunakan wadah yang terbuat dari emas maupun perak! Dan jangan (pula) kalian makan dengan menggunakan wadah itu (dari emas/perak). Karena (wadah) itu (sekarang) untuk mereka (orang kafir) didunia, sedangkan untuk kalian nanti diakhirat” . (Mutafaq ‘Alaih dari Hudzaifah ibn al-Yaman)

“…(Sesungguhnya) yang minum memakai wadah dari perak, melainkan telah mencurahkan pada perutnya api neraka jahannam” (HR.Bukhary Muslim dari Ummu Salamah ra).

Dengan demikian makan maupun minum dengan menggunakan alat yang terbuat dari emas maupun perak hukumnya dilarang (haram). Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Maret 2012 di Bab. Akhlaq


DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Lengkap

Di Gedung Haji Qanul Manazil, Ciganitri Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



Tentang:

" HUKUM BANK ASI "

بسم الله الرحمن الرحيم



Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. ( QS.Al Baqarah : 233 )



وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ

“(Diharamkan atas kamu mengawini) Ibu-ibumu yang menyusui kamu dan saudara perempuan sepersusuan.” (Qs an Nisa’ : 23)



Hadits Nabi SAW :



عن ابن عباس ان النبي ص : أريد على ابنة حمزة .فقال انها لا تحل لى انها ابنة اخي من الرضاعة . ويحرم من الرضاعة ما يحرم من النسب ( متفق عليه)

Dari Ibnu Abbas : Bahwa nabi SAW. Diminta untuk menikahi anak Hamzah, maka sabdanya : “Sesungguhnya ia tidk halal bagiku, karena itu anak bagi saudara susuku. Karena haram dari penyusuan itu apa-apa yang diharamkan dengan nasab.



انَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنْ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنْ الْقُرْآنِ

"Dahulu dalam Al Qur`an susuan yang dapat menyebabkan menjadi mahram ialah sepuluh kali penyusuan, kemudian hal itu dinasakh (dihapus) dengan lima kali penyusuan saja. Lalu Rasulullah saw wafat, dan ayat-ayat Al Qur`an masih tetap di baca seperti itu." ( HR Muslim )

Kaidah Fiqhiyyah :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menghindari kerusakan-kerusakan itu harus didahulukan dari pada mengambil kemaslahatan”



MEMPERHATIKAN :

Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M Abdurrahman, MA.

Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: 1. KH. Taufik Azhar, S. Ag, 2. Dr. Hari Rayadi, Mars AV

Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas



MENIMBANG:

Air susu adalah asupan terbaik untuk bayi yang tidak tergantikan nilainya.

ASI dari seorang ibu dapat diberikan kepada bayi, walaupun bukan anaknya.

ASI bisa diberikan kepada bayi baik langsung ataupun tidak langsung.

Dalam kadar tertentu, bayi-bayi yang menyusu kepada ibu yang sama menjadi saudara sesusu dan termasuk mahram.

Keberadaan Bank ASI terus berkembang sesuai dengan kebutuhan ibu dan anak.

Pada kenyataannya, tidak semua mengerti dan memperhatikan hukum mahram akibat dari saudara sesusu.

Perlu kejelasan hukum bank ASI.



Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBATH :

Bank ASI yang tidak memelihara kejelasan asal usul ibu pendonor dan bayi penerima donor, sehingga akan mengakibatkan kerancuan nasab hukumnya haram.

Bank ASI yang memelihari kejelasan ibu pendonor dan bayi penerima donor sehingga tidak mengakibatkan kerancuan nasab, hukumnya halal.

Menjadikan ASI sebagai komoditi, hukumnya haram.

Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM



Ketua Sekretaris



KH. USMAN SHOLEHUDDIN KH. ZAE NANDANG

NIAT: 05536 NIAT: 13511





DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Lengkap

Di Gedung Haji Qanul Manazil, Ciganitri Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



Tentang:

" DONOR DARAH"

بسم الله الرحمن الرحيم



Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

Firman Allah SWT,

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (173)

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Baqarah: 173).



حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,.(QS.Al - Maidah : 3).

Dalam hal tersebut Rasulullah saw. Ditanya oleh para Sahabat yang merasa heran karena yang disamak adalah kulit bangkai. Maka beliau menjawab :

إنما حرم أكله

“ Sesungguhnya diharamkan itu memakannya”( HR.Al-Jama’ah )



Hadis-hadis Nabi SAW :

تداووا عباد الله فإن الله سبحانه لم يضع داء الا وضع معه شفاء الا الهرم

“Wahai hamba Allah, berobatlah ,karena sesungguhnya Allah menjadikan sesuatu penyakit pasti juga menjadikan obatnya ,kecuali penykit yang satu , yaitu ketuaan.” ( HR.Ahmad ).



عن جابر عن رسول الله ص أنه قال ثم لكل داء دواء فإ ذا أصيب دواء الداء برأ بإذن الله عز وجل ( رواه مسلم )

“Tiap penyakit ada obatnya ,jika penyakit telah mendap obat ( semoga) sembuh lagi ia dengan izin Allah ( HR.Muslim )

عن أنس قال : قال رسول الله ص, إذا دبغ الإهاب فقد طهر ( رواه مسلم)

Dari Anas dia berkata: Rasulullah saw.bersabda :” Kulit apabila disamak maka jadi suci” ( HR.Muslim )

من كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته (رواه البخارى ومسلم )

“ Barangsiapa memenuhi hajat seseorang,maka Allah akan memenuhi hajat orang itu” (HR.Bukhori, Muslim )



من نفس عن مسلم كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة

“Barang siapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari kesusahan dunia,niscaya Allah akan melepaskan kesusahan akhirat ( HR.Muslim ).



والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه (رواه مسلم )



“Allahu senantiasa menolong hambanya , selama ia menolong sudaranya ( HR.Muslim )



لا ضَرَ وَلاَ ضِرَار

"Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula membahayakan orang lain."



إِنَّ اللهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ, حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ


"Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sebuah kaum untuk memakan sesuatu maka Allah akan haramkan harganya.

Kaidah Fiqhiyah :

الحاجة قد تنزل منزلة الضرورة

Perkara hajat (kebutuhan) menempati posisi darurat (dalam menetapkan hukum islam), baik bersifat umum maupun khusus”.



المشقة تجلب التيسير

“Kesulitan dapat menarik kemudahan

الضرورة تبيح المحظورات

“ Keadaan darurat membolehkan perkara yang dilarang”

ما أبيح للضرورة تقدر بقدرها

Sesuatu yang dibolehkan karena darurat sekedar untuk mengatasi kesulitan tertentu “



الأصل في المنافع الإباحة

“Pada dasarnya segala sesuatu yang bermanfaat adalah mubah (halal)”





MEMPERHATIKAN :

Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.

Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: 1. K.H. Taufik Azhar, S.Ag, 2. Dr. Hary Rayadi, Mars AV

Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas



MENIMBANG:

Darah manusia pada asalnya hukumnya haram.

Mengeluarkan darah untuk kesehatan dianjurkan.

Mengeluarkan darah untuk menolong orang lain yang membutuhkan dengan tanpa madharat bagi pendonor dianjurkan.

Donor darah sudah terbukti menjadi salah satu solusi yang tidak bisa dihindarkan.

Perlu kejelasan hukum tentang donor darah.



Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam



MENGISTINBATH :

Donor darah dalam keadaan darurat hukumnya mubah.

Mendonorkan darah selama tidak membahayakan jiwa hukumnya mubah.

Mendirikan bank darah hukumnya mubah.







Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM



Ketua Sekretaris



KH. USMAN SHOLEHUDDIN KH. ZAE NANDANG

NIAT: 05536 NIAT: 13511



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Lengkap

Di Gedung Haji Qanul Manazil, Ciganitri Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



Tentang:

" SALAT JAMA` QASAR MAGRIB DAN ISYA DI ARAFAH TANGGAL 10 DZULHIJJAH"

بسم الله الرحمن الرحيم



Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT :

Hadits Nabi SAW :

فَأَجَازَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى أَتَى عَرَفَةَ فَوَجَدَ الْقُبَّةَ قَدْ ضُرِبَتْ لَهُ بِنَمِرَةَ فَنَزَلَ بِهَا حَتَّى إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِالْقَصْوَاءِ فَرُحِلَتْ لَهُ فَأَتَى بَطْنَ الْوَادِى فَخَطَبَ النَّاسَ .....ثُمَّ أَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا ثُمَّ رَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى أَتَى الْمَوْقِفَ فَجَعَلَ بَطْنَ نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ إِلَى الصَّخَرَاتِ وَجَعَلَ حَبْلَ الْمُشَاةِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ

"Lalu Rasulullah saw. melewati hingga sampai di Arafah, kemudian beliau mendapati tenda yang telah dibuat baginya di Namirah, lalu beliau singgah di sana, ketika matahari tergelincir, beliau menyuruh membawa kendaraannya, lalu ditunggangi menuju ke pusat lembah tersebut, kemudian beliau berkhutbah, .... kemudian dikumandangkan adzan lalu iqamah, kemudian beliau salat Dzuhur kemudian iqamah, lalu beliau salat Ashar, dan tidak ada salat apapun di antara keduanya, kemudian Rasulullah SAW naik (kendaraannya) berangkat menuju tempat wukuf, lalu beliau menderumkan perut unta Qashwa itu pada batu besar dan tali jalannya di hadapaannya, lalu beliau menghadap kiblat, beliau tidak henti-hentinya wukuf sampai terbenam matahari". H.r. Muslim



حَتَّى أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا شَيْئًا ثُمَّ اضْطَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ وَصَلَّى الْفَجْرَ

" Hingga sampai di Muzdalifah, lalu beliau salat Magrib dan Isya dengan satu kali adzan dan dua kali iqamah, beliau tidak melakukan salat apapun diantara keduanya, kemudian Rasulullah SAW berbaring sampai terbit fajar, lalu beliau melaksanakan salat Subuh. H.r. Muslim



عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَاهُ قَالَ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِجَمْعٍ لَيْسَ بَيْنَهُمَا سَجْدَةٌ وَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ وَصَلَّى الْعِشَاءَ رَكْعَتَيْنِ.

"Dari Ibnu Syihab sesungguhnya Ubaidillah bin Abdullah bin Umar mengabarkan kepadanya bahwa sesungguhnya ayahnya berkata, Rasulullah SAW menjama antara Magrib dan Isya di Muzdalifah, tidak ada salat apapun diantara keduanya, beliau salat Magrib tiga rakaat kemudian salat Isya dua rakaat.H.r. Muslim



عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اَلْحَجُّ عَرَفَاتٌ اَلْحَجُّ عَرَفَاتٌ اَلْحَجُّ عَرَفَاتٌ أَيَّامُ مِنًى ثَلاَثٌ { فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ } وَمَنْ أَدْرَكَ عَرَفَةَ قَبْلَ أَنْ يَطْلُعَ اْلفَجْرُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ رواه الترمذي

"Dari Abdurrahman bin Ya`mar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, Haji itu Arafah, Haji itu Arafah, Haji itu Arafah, Ayyamu Mina itu tiga hari ( Siapa yang bersegera pada dua hari, maka tidak mengapa, dan siapa yang mengakhirkannya maka tidak ada dosa padanya) dan siapa yang mendapati Arafah sebelum terbit fajar maka sungguh ia telah mendapat haji". H.r. At Tirmidzi.



عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ الدِّيلِىِّ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ بِعَرَفَةَ فَجَاءَ نَاسٌ - أَوْ نَفَرٌ - مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ فَأَمَرُوا رَجُلاً فَنَادَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَيْفَ الْحَجُّ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً فَنَادَى « الْحَجُّ الْحَجُّ يَوْمُ عَرَفَةَ مَنْ جَاءَ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَتَمَّ حَجُّهُ أبو داود

"Dari Abdurrahman bin Ya`mar Al Dili, ia berkata, Saya datang menghadap Nabi SAW, sedang beliau berada di Arafah, lalu datang sekelompok dari Nejed, kemudian mereka menyuruh seseorang, lalu bertanya kepada Rasulullah SAW bagaimana haji itu, kemudian Rasulullah mengutus seseorang lalu mengumandangkan haji itu, haji itu adalah mendapatkan wukuf pada hari Arafah, siapa yang datang sebelum Subuh dari malam Muzdalifah maka sempurna hajinya". H.r. Abu Daud.



وفي رواية أبي داود من جاء قبل صلاة الصبح من ليلة جمع فتم حجة ( فقد أدرك الحج ) فيه رد على من زعم أن الوقوف يفوت بغروب الشمس يوم عرفة ومن زعم أن وقته يمتد إلى ما بعد الفجر إلى طلوع الشمس

"Pada riwayat Abu Daud, `Siapa yang datang sebelum Salat Subuh dari malam Muzdalifah maka sempurna hajinya (sungguh mendapatkan haji) hal ini menjadi bantahan terhadap orang yang beranggapan bahwasanya wukuf itu selesai dengan terbenamnya matahari pada hari Arafah dan orang yang beranggapan bahwa waktu wukuf diperpanjang setelah fajar sampai terbit matahari" Tuhfatul Ahwadzi, juz 8:254



MEMPERHATIKAN :

Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.

Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: KH. Drs. Uus Muhammad Ruhiyat.

Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas.



MENIMBANG:

Pelaksanaan manasik haji harus sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Pelaksanaan ibadah haji terdiri dari rukun, wajib dan sunnat.

Rasulullah SAW melaksanakan shalat magrib dan isya pada malam tanggal 10 Dzul hijjah di Muzdalifah dengan cara jama takhir dan qasar.

Pada pelaksanaannya sering kali dihadapkan pada kendala.

Shalat magrib dan isya pada malam 10 Dzulhijjah di Arafah, sering terjadi.

Melaksanakan ibadah haji harus diupayakan secara maksimal agar rukun, wajib dan sunnatnya dapat terpenuhi.

Perlu kejelasan hukum mengenai salat jama` qasar magrib dan isya di arafah tanggal 10 dzulhijjah.



Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam



MENGISTINBATH :

Salat jama` ta`khir dan qasar Magrib dan Isya pada tanggal 10 Dzul Hijjah lebih utama dilakukan di Muzdalifah.

Salat Magrib dan Isya dijama` ta`khir dan qasar pada tanggal 10 Dzul Hijjah di Arafah karena kendala teknis shalat dan hajinya sah.



Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Ketua Sekretaris

KH. USMAN SHOLEHUDDIN KH. ZAE NANDANG

NIAT: 05536 NIAT: 13511




DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Lengkap

Di Gedung Haji Qanul Manazil, Ciganitri Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



Tentang:

" KHATIB DAN IMAM BERBEDA DALAM IED DAN JUM`AT"

بسم الله الرحمن الرحيم



Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r « يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ ». رواه مسلم



عن أَبَي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ : «إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ» (رواه البخاري)



عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِىُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ r يَخْطُبُ فَجَلَسَ فَقَالَ لَهُ « يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا - ثُمَّ قَالَ - إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ». (رواه مسلم)



عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِيهِ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ». (رواه أبو داود)



قال رسول الله r : «إن المسلم إذا اغتسل يوم الجمعة ثم أقبل إلى المسجد لا يؤذى أحدا فإن لم يجد الإمام خرج صلى ما بدا له وإن وجد الإمام قد خرج جلس فاستمع وأنصت حتى يقضى الإمام جمعته وكلامه إن لم يغفر له في جمعته تلك ذنوبه كلها إن تكون كفارة للجمعة التي قبلها». (رواه أحمد)



MEPERHATIKAN :

Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.

Makalah KH. Luthfi Ismail, Lc. yang disajikan oleh KH. Salam Rusyad, dan pembahasannya.

Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas.



MENIMBANG:

Khatib dan imam berbeda pada shalat jum`at dan ied, sering terjadi.

Hadis-hadis terkandung makna khabariah sekaligus isyariah bahwa imam dan khatib pada shalat ied dan jum`at adalah orang yang sama.

Tidak ada perintah agar imam dan khatib orang yang sama dan tidak ada larangan imam dan khatib orang yang berbeda.

Perlu kejelasan hukum mengenai imam dan khatib berbeda dalam shalat jum`at dan ied.



Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam



MENGISTINBATH :

Imam dan khatib pada shalat jum`at dan ied, afdhalnya tidak berbeda orang.



Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM



Ketua Sekretaris



KH. USMAN SHOLEHUDDIN KH. ZAE NANDANG

NIAT: 05536 NIAT: 13511





DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Lengkap

Di Gedung Haji Qanul Manazil, Ciganitri Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



Tentang:

" HUKUM DARAH ULAR "

بسم الله الرحمن الرحيم



Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

Firman Allah SWT :

{قُل لآأَجِدُ فِي مَآأُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَّكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَعَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ} (الأنعام : 145)

Katakanlah :` Aku tidak mendapatkan dalam apa (wahyu) yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau (makanan ) itu berupa bangkai, atau darah mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya ia rijs (kotor) atau kefasikan (seperti) yang disebut selain nama Allah. Maka barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melewati batas , maka sesungguhnyaTuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

وَمِنَ اْلأَنْعَامِ حَمُولَةً وَفَرْشًا كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ وَلاَتَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ {142}

Dan dari binatang ternak ada yang berfungsi sebagai pengangkut dan sebagai alas .Makanlah sebahagian rezeki yang telah dianugrahkanlah Allah kepada kamu dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan (mengharamkan yang halal atau sebaliknya), lantaran sesungguhnya syetan bagi manusia adalah musuh yang nyata.

قُل لآأَجِدُ فِي مَآأُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ

A.Hasan menerjemahkannya .Katakanlah:” Aku tidak dapati (makanan) yang haram dalam kitab yang diwahyukan kepadaku, bagi orang yang mau memakannya.



إِلاَّ أَن يَّكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَعَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ



Hadis Nabi SAW :

عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (أحلت لنا ميتتان ودمان فأما الميتتان فالحوت والجراد وأما الدمان فالكبد والطحال) رواه أحمد

MEMPERHATIKAN :

Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.

Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: KH. Drs. Uu suhendar, M.Ag

Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas



MENIMBANG:

Ular itu ada dua macam, ular air/laut dan ular darat.

Konsumsi darah ular sudah terjadi baik untuk tujuan kesehatan atau lainnya.

Daman masfuhan adalah darah yang keluar dari binatang, baik karena disembelih atau dengan sebab lainnya.

Daman masfuhan hukumnya haram.

Ular adalah binatang reftil yang memiliki darah yang mengalir.

Perlu kejelasan hukum mengenai darah ular.



Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam



MENGISTINBATH :

Darah ular yang masfuhan hukumnya haram.



Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM



Ketua Sekretaris



KH. USMAN SHOLEHUDDIN KH. ZAE NANDANG

NIAT: 05536 NIAT: 13511

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Lengkap

Di Gedung Haji Qanul Manazil, Ciganitri Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



Tentang:

" KRITERIA PENETAPAN AWAL BULAN QOMARIAH ; ANTARA WUJUDUL HILAL DAN IMKANUR RU`YAH"

بسم الله الرحمن الرحيم



Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

Firman Allah SWT :

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi

Artinya: Dan Telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (Setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. (Q.S. Yaa-siin [36] : 39)



Hadis Nabi SAW :



عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ) رواه البخاري





جَاءَ أعْرَبيٌّ إلىَ النَّبيِّ .ص. فَقَالَ إنِّى رَأيْتُ الهِلاَلَ قَالَ: أتَشْهَدُ أن لا إله إلا الله؟ قال نعم, قال: أتشهد أنَّ محُمَّدًا رَسُولُ اللّهِ؟ قالَ نَعَمْ , قالَ: يَا بِلالُ أذِّنْ فى النَّاسِ فَلْيَصُوْمُوْا غَدًا.

Artinya: Seorang badwi mendatangi Rasulullah saw, ia berkata: “Sesungguhnya saya telah melihat hilal (Ramadhan)” Rasul bertanya: “Apakah engkau mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah?” Orang Badwi tsb menjawab: “Ya”. Rasul bertanya lagi: “Apakah engkau mengakui bahwa Muhammad itu Rasul Allah?” Orang Badwi menjawab: “Ya”. Kemudian Rasul bersabda: “ Ya Bilal beritahukanlah kepada orang-orang supaya berpuasa esok hari”. (Sunan Abi Daud 6:283, Sunan at-Tirmidzi 3:118, Sunan an-Nasa-i 7:266, Sunan Ibnu Majah 5:152, as-Sunanul Kubro Lin-Nasa-i 2:68, al-Mustadrok Lis-Shohihain Lil Hakim 3:114 dan 4:74, Sunan ad-Darimi 5:185 dan Sunan ad-Daruquthni 5:414).



عن كريب أنّ أمّ الفضل بنت الحارث بعثه إلى معاوية بالشام قدمت الشام فقضيت حاجتها فاستهل علي رمضان وأنا بالشام فرأيت الهلال ليلة الجمعة ثم قدمت المدينة فى أخر الشهر فسئلنى عبد الله بن عباس ثم ذكر الهلال فقال متى رأيتم الهلال؟ فقلت رأيناه ليلة الجمعة فقال أنت رأيتها؟ فقلت نعم, و رأه الناس و صاموا وصام معاوية فقال لكنّ رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه فقلت أو لا تكتفى برأية معاوية و صامه؟ فقال: هكذا أمرنا رسول الله ص. (رواه مسلم)

Artinya: dari Kuraib sesungguhnya Ummul Fadlal binti al-Harits telah mengutusnya ke Mu’awiyah di Syam (Syiria). Ia berkata, saya telah sampai di Syam lalu saya menyelesaikan keperluannya (Ummul Fadlal) dan nampaklah padaku hilal bulan Ramadhan sedangkan saya berada di Syam dan saya melihat hilal pada malam Jum’at, lalu sampai di Madinah akhir bulan (Ramadhan). Saya ditanya oleh Abdullah bin Abbas lalu ia mengatakan tentang hilal, lalu ia bertanya: “Kapan kalian melihat hilal?”, saya menjawab: “Kami melihatnya malam Jum’at?” Ia bertanya: “Engkau melihatnya sendiri?”, saya menjawab: “Ya, bahkan orang-orang juga melihatnya lalu mereka shaum dan Mu’awiyah pun shaum”, Ia berkata: “Akan tetapi kami melihat hilal malam Sabtu, oleh karena itu kami akan terus shaum sampai sempurna tiga puluh hari atau kami melihat hilal”, Saya bertanya: ”Apakah anda tidak merasa cukup dengan rukyat Mu’awiyah dan shaumnya?”, Ia menjawab: “Demikianlah Rasulullah saw memerintahkan kepada kami”. (Shohih Muslim 5:367, Sunan Abi Daud 6:270, Sunan at-Tirmidzi 3:122, Sunan an-Nasa-i 7:263, Musnad Ahmad 6:185, as-Sunanul Kubra Lil Baihaqi 4:251, as-Sunanul Kubra Lin Nasa-i 2:68, Sunan ad-Daruqutni 5:471 dan Shohih Ibnu Khuzaimah 7:171).



MEMPERHATIKAN :

Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.

Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: 1. Ust. Drs. Hilman Syakani, M.Pd, 2. Ust. Syarif Ahmad Hakim, MH.

Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas.



MENIMBANG:

Terdapat dua kriteria yang berkembang dalam menentukan awal bulan qomariah yaitu wujudul hilal dan imkanur ru`yah.

Perbedaan kriteria ini sering menimbulkan keresahan di tengah ummat, terutama dalam pelaksanaan shaum dan `id.

Perlu menetapkan salah satu dari dua kriteria diatas.





Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam



MENGISTINBATH :

Kriteria awal bulan qomariyah adalah imkanur rukyah.

Kriteria Visibilitas hilal yang digunakan diserahkan kepada hasil sidang Dewan Hisab dan Rukyah Persatuan Islam.



Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 26 Rabi`ul Awwal 1433 H

19 Februari 2012 M



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM



Ketua Sekretaris



KH. USMAN SHOLEHUDDIN KH. ZAE NANDANG

NIAT: 05536 NIAT: 13511

Dikirim pada 03 Maret 2012 di KAJIAN UTAMA


DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Lengkap

Di Gedung Haji Qanul Manazil, Ciganitri Bandung, 25 Rabi`ul Awwal 1433 H

18 Februari 2012 M



Tentang:

"PEMANFAATAN SEL PUNCA UNTUK PENELITIAN DAN KESEHATAN DALAM TINJAUAN SYARI`AT"

بسم الله الرحمن الرحيم



Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

Firman Allah SWT :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي ءَادَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. Q.s. Al-Isra:70

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami Telah menjadikan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian dari segumpal daging yang Sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, Kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, Kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya Telah diketahuinya. dan kamu lihat bumi Ini kering, Kemudian apabila Telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Q.s. Alhaj : 5

لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ التَّقْوِيْمِ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Q.s. At-Tin:4



مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الأْرْضِ لَمُسْرِفُونَ

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. Q.s. 5/Al-Maidah : 32



{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَْرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } - النساء : 1 -

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.: Q.s. 4/An-Nisa : 1

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka,: Janganlah kalian merusak di Bumi ini. Mereka berkata,”Hanyalah kami yang membuat kemaslahatan. Q.s. Albaqarah : 11



إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Q.s. An-Nahl:115



قُلْ لاَ أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ



Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi --karena sesungguhnya semua itu kotor-- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Q.s. Al-An`am : 145.



وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (205)

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan (QS Al-Baqarah : 205)



Sabda Rasulullah saw. :

تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ مَعَهُ شِفَاءً إِلاَّ الْمَوْتَ وَالْهَرَمَ

Wahai hamba Allah berobatlah, karena sesungguhnya Allah swt tidak menurunkan suatu penyakit pun kecuali ia telah menciptakan penyembuhnya selain kematian dan ketuaan. H.r, Ahmad :17726 Musnad al-Imam Ahmad VII:301 No:4267



كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا فِي الإِثْمِ

“Merusak tulang (tubuh) mayat dosanya sama dengan merusak tulang (tubuh) organnya ketika ia masih hidup.” H.r. Abu Daud dan Ibnu Majah. Al-Jami’us Shagir : 232.



عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ t قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ r إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ – رواه أبو داود -

Dari Abu Darda, ia berkata, “Sungguh Allah menurunkan penyakit itu beserta obatnya dan Allah menjadikan obat bagi setiap penyakit. Oleh Karena itu, berobatlah kalian dan jangan berobat dengan yang haram. H.r. Musnad Ahmad bin Hanbal, III:156,no.12618, Sunan Abu Daud, IV : 6, no.3876.



عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ t أَنَّ رَسُولَ اللهِ r قَالَ فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ …

Dari Ibnu Abas sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Maka sesungguhnya darah-darah, harta-harta, dan kehormatan kamu, haram atas kamu (wajib kamu pelihara). H.r.Musnad Ahmad bin Hanbal, III:313,no.14405, Al-Bukhari,I : 71,no.67, Sahih Muslim, V : 107,no.4477.



عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللَّهِ t أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ r يَقُولُ عَامَ الْفَتْحِ وَهُوَ بِمَكَّةَ : إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لَا هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ .

Dari Jabir bin Abdulah r.a., bahwasannya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda pada putuh mekah dan beliau di Mekah,”Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan menjual khomer, bangkai, babi dan patung-patung sembahan.’ Ditanyakan,’ Apa pandangan tuan tentang lemak-lemak bangkai karena perahu-perahu dilaburi dengan itu, diminyaki kulit-kulit, dan dibuat penerangan oleh orang-orang?’ Beliau menjawab,’Tidak, itu haram’ Kemudian Rasulullah saw. bersabda,’Allah telah mebinasakan yahudi, sesuhnguhnya Allah telah mengharamkan lemak bangkai, tapi mereka mengolah, mereka menjual, dan memakan harga hasilnya.” H.r. Musnad Ahmad bin hanbal, III : 326,no.14535, Sahih Al-bukhari,V : 493,no.2236, Sahih Muslim, V : 41,no.4132.



عَنْ طَاوُسٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ t يَقُولُ بَلَغَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَنَّ فُلَانًا بَاعَ خَمْرًا فَقَالَ قَاتَلَ اللَّهُ فُلاَنًا أَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ حُرِّمَتْ عَلَيْهِمْ الشُّحُومُ فَجَمَلُوهَا فَبَاعُوهَا

Dari Thawus bahwa ia mendengar Ibnu Abas r.a berkta," Telah sampai (berita) kepada Umar bin Khatab bahwa seseorang membeli khamer, maka ia berkata,"Allah membunuh si polan, tidakkah ia tahu bahwa Rasulullah saw. telah bersabda,"Allah telah membunuh Yahudi (melaknat), diharamkan atas mereka lemak-lemak babi, mereka mengolahnya dan menjualnya." Shahih Al-Bukhari, I : 168 dan Shahih Muslim, III : 1208.



عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ t أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abdulah bin Umar bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda,"Muslim itu sodaranya muslim, tidak menzaliminya, dan tidak mengabaikannya. Siapa yang dalam kebutuhan sodaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya. Dan siapa yang membebaskan seorang muslim dari kesulitannya, Allah akan melepaskan kesulitan dari kesulitan-kesulitan hari kiamat. Dan siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.`" H.r. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II : 862, Sahih Muslim, IV : 1993, dan Abu Daud, IV : 273.

عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ t قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

Dari Abu Darda, ia berkata,"Rasulullah saw. telah bersabda,"Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat dan menjadikan bagi setiap penyakit obatnya. Maka berobatlah dan janganlah berobat dengan yang haram.". H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, VII : 4 dan Al-Baehaqi, Sunan Al-Baehaqi Al-kubra, X : 5.



عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ t أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ r يَقُولُ عَامَ الْفَتْحِ وَهُوَ بِمَكَّةَ : إِنَّ اللهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لاَ هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ r عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ .

Dari Jabir bin Abdulah r,., bahwasannya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda pada putuh mekah dan beliau di Mekah,”Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan menjual khomer, bangkai, babi dan patung-patung sembahan.’ Ditanyakan,’ Apa pandangan tuan tentang lemak-lemak bangkai karena perahu-perahu dilaburi dengan itu, diminyaki kulit-kulit, dan dibuat penerangan oleh orang-orang?’ Beliau menjawab,’Tidak, itu haram’ Kemudian Rasulullah saw. bersabda,’Allah telah mebinasakan yahudi, sesuhnguhnya Allah telah mengharamkan lemak bangkai, tapi mereka olah, mereka jual dan memakan harga hasilnya” H.r. Sahih Al-Bukhari, V : 493,no.2236,



Kaidah Fiqhiyyah :



لاَ حَرَامَ مَعَ الضَّرُورَةِ وَلاَ كَرَاهَةَ مَعَ الْحَاجَةِ

Tidak ada haram bersama darurat dan tidak ada makruh bersama kebutuhan.

وَالْحَاجَةُ قَدْ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُورَةِ

Pada kondisi tertentu, hajat manusia menempati kedudukan darurat



الضَّرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ

Keadaan darurat itu membolehkan hal-hal yang dilarang



الضَّرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ

Keadaan darurat itu membolehkan hal-hal yang dilarang

مَا أُبِيْحَ لِلضَّرُوْرَةِ بِقَدْرِ تَعَذُّرِهَا

Sesuatu yang diperbolehkan karena terpaksa, adalah menurut kadar halangannya.

إِرْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرُوْرَيْنِ وَاجِبٌ

Menempuh salah satu tindakan yanglebih ringan dari dua hal yang berbahaya itu wajib

الضَّرَرُ لاَ يُزَالُ بِالضَّرَرِ

Menghilangkan kemadaratan tidak boleh dilakukan dengan cara yang mendatangkan madarat (lainnya)

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Menghindari madarat atau bahaya harus didahulukan atas mencari maslahat atau kebaikan



MEMPERHATIKAN :

Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M Abdurrahman, MA.

Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: 1. KH. Wawan Shofwan 2. Drs. H. Iskandar

Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas.



MENIMBANG:

Manusia adalah makhluk yang terhormat dan wajib dijaga kehormatannya, baik ruhiyah maupun jasadiyah.

Sel Punca secara penelitian maupun praktek kesehatan terus berkembang.

Pemanfaatan sel punca telah terbukti dapat dijadikan diantara solusi untuk masalah kesehatan.

Mengambil sel punca embrionik dari sel telur yang sudah dibuahi setelah berusia 5-7 hari dan dari janin berumur 5-7 bulan merupakan perusakan dan atau pembunuhan.

Mengambil Sel punca diambil dari tali plasenta dan plasenta hukumnya haram.

Sel punca diambil dari sumsum tulang manusia, baik dari diri sendiri ataupun orang lain termasuk perusakan.

Perlu kejelasan hukum mengenai pemanfaatan sel punca untuk penelitian dan kesehatan.



Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam



MENGISTINBATH :

Mengambil sel punca dari Sperma laki-laki dan ovum perempuan, dibuahkan untuk keperluan pengambilan/pembibitan sel punca yang kaya. embrio pada fase blastosit (5-7 hari setelah pembuahan). dipanen pada hari ke 5 – 7 . (bahan dari suami istri dan bukan, termasuk dari bank sperma) hukumnya haram.

Mengambil sel punca dari janin berumur 5-9 minggu (bahan dari suami istri dan bukan, termasuk dari bank sperma) hukumnya haram.

Mengambil sel punca diambil Dari tali ari-ari dan dari ari-ari (Plasenta) hukumnya haram.

Sel punca diambil dari sumsum tulang berupa jaringan spons yang terdapat dalam tulang-tulang besar seperti tulang pinggang, tulang dada, tulang punggung, dan tulang rusuk, baik dari diri sendiri atau orang lain termasuk perusakan yang hukumnya haram.

Menjadikan sel punca sebagai komoditas, hukumnya haram.

Dalam keadaan hajatul ‘amah (kebutuhan manusia) dan kedaruratan hal-hal yang haram pada poin 1 – 5, baik untuk penelitian maupun praktek kesehatan hukumnya mubah.



Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 25 Rabi`ul Awwal 1433 H

18 Februari 2012 M



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM



Ketua Sekretaris



KH. USMAN SHOLEHUDDIN KH. ZAE NANDANG

NIAT: 05536 NIAT: 13511





DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Lengkap

Di Gedung Haji Qanul Manazil, Ciganitri Bandung, 25 Rabi`ul Awwal 1433 H

18 Februari 2012 M



Tentang:

"KELUAR DARI MINA MENUJU ARAFAH TENGAH MALAM DAN SHALAT SUBUH DI ARAFAH"

بسم الله الرحمن الرحيم



Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

1.Nabi Saw., masuk Mina pada hari Tarwiyah

....فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ تَوَجَّهُوا إِلَى مِنًى فَأَهَلُّوا بِالْحَجِّ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَصَلَّى بِهَا الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ

….Ketika hari tarwiyah mereka(bersama Nabi) pergi menuju Mina, mereka ber ihram untuk haji kemudian rasulullah Saw., naik kendaraan, kemudian shalat zhuhur, ‘ashar,maghrib, Isya dan subuh.(H.R Muslim,1:511)

2.Nabi Saw., pergi dari Mina ke Arofah pagi hari setelah terbit matahari.

...ثُمَّ مَكَثَ قَلِيلاً حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ وَأَمَرَ بِقُبَّةٍ مِنْ شَعَرٍ تُضْرَبُ لَهُ بِنَمِرَةَ فَسَارَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلاَ تَشُكُّ قُرَيْشٌ إِلاَّ أَنَّهُ وَاقِفٌ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ كَمَا كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصْنَعُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَأَجَازَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى أَتَى عَرَفَةَ فَوَجَدَ الْقُبَّةَ قَدْ ضُرِبَتْ لَهُ بِنَمِرَةَ فَنَزَلَ بِهَا

....kemudian Nabi Saw., tinggal sebentar sampai terbit matahari, Nabi saw memerintahkan membuat qubah dari bulu untuknya di Namirah , kemudian Rasulullah Saw., berangakat.Orang Quraisy tidak ragu bahwa Nabi Saw., akan wuquf di Masy’aril Haram sebagaimana orang Quraisy lakukan dijaman jahiliyyah. Kemudian Rasulullah Saw melewatinya sampai tiba di ‘Arofah singgah di Namirah.(H.R Muslim,1:511)

حَتىَّ إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِالْقَصْوَاءِ فَرُحِلَتْ لَهُ فَأَتَى بَطْنَ الْوَادِى فَخَطَبَ النَّاسَ

"...Sehingga diwaktu tergelincir matahari Nabi Saw., memerintahkan Qashwa (unta NAbi) untuk berangkat, kemudian Nabi Saw., tiba di Bathil Wadhi (lembah) kemudian Nabi Saw., berkhutbah”.(Muslim, 1:511)

فَجَاءَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنَا مَعَهُ يَوْمَ عَرَفَةَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ فَصَاحَ عِنْدَ سَرَادِقِ الْحُجَّاجِ فَخَرَجَ وَعَلَيْهِ مِلْحَفَةٌ مُعَصْفَرَةٌ فَقَالَ مَا لَكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ الرَّوَاحَ إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ السُّنَّةَ قَالَ هَذِهِ السَّاعَةَ قَالَ نَعَمْ

“Kemudian Ibn Umar datang dan aku bersamanya pada hari ‘arafah disaat tergelincir matahari, maka ia berteriak dari tenda-tenda haji, kemudian ia keluar dengan memakai selimut kuning, kemudian Malik berkata:”Apa itu wahai Abu Abdurrahman?maka ia menjawab:”Pergi jika engkau mau melaksanakan sunnah.”Ia berkata:”Sekarang?”ia menjawab:”Ya!(Q.S Bukhari,1:288).

4.Nabi Saw.,keluar dari ‘Arafah setelah Maghrib.

فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَذَهَبَتِ الصُّفْرَةُ قَلِيلاً حَتَّى غَابَ الْقُرْصُ وَأَرْدَفَ أُسَامَةَ خَلْفَهُ وَدَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“…Nabi Saw., tidak henti-hentinya wuquf sampai terbenam matahari dan hilang kekuning-kuningan sedikit sampai hilang bulatannya, kemudian Usamah menyertai Nabi Saw.,dibelakangnya lalu Rasulullah berangkat.”(H.R Muslim, 1:512).

5.Nabi Saw., tiba dimuzdalifah kira-kira Isya.

حَتَّى أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ

“… Sampai Nabi tiba di Muzdalifah kemudian Nabi shalat maghrib dan ‘isya dengan satu kali adzan dan dua kali iqamat.(H.R Muslim, 1:512).

6.Nabi Saw., keluar dari Muzdalifah sebelum terbit matahari;

ثُمَّ اضْطَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ وَصَلَّى الْفَجْرَ - حِينَ تَبَيَّنَ لَهُ الصُّبْحُ - بِأَذَانٍ وَإِقَامَةٍ ثُمَّ رَكِبَ الْقَصْوَاءَ حَتَّى أَتَى الْمَشْعَرَ الْحَرَامَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَدَعَاهُ وَكَبَّرَهُ وَهَلَّلَهُ وَوَحَّدَهُ فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى أَسْفَرَ جِدًّا فَدَفَعَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ

“… kemudian Nabi Saw., berbaring sampai terbit fajar lalu shalat fajar ketika betul-betul tiba waktu shubuh dengan satu adzan dan iqamat, kemudian Nabi naik qashwa hingga tiba di Masy’aril Haram kemudian menghadap qiblat lalu berdoa, bertakbir, bertahlil, dan mengesakan Allah. Maka terus Nabi wuquf (Tinggal di Masy’aril Haram) sampai kekuning-kuningan, kemudian Nabi berangkat sebelum terbit matahari.”(H.R Muslim, 1:512).

7.Nabi tiba di Mina setelah Ifadhah dan Shalat Zhuhur di Mina

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَفَاضَ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ رَجَعَ فَصَلَّى الظُّهْرَ بِمِنًى. قَالَ نَافِعٌ فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُفِيضُ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ يَرْجِعُ فَيُصَلِّى الظُّهْرَ بِمِنًى وَيَذْكُرُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَعَلَهُ.

Dari Ibn Umar.”Sesungguhnya Rasulullah Saw., melakukan Ifadhah pada hai raya ( 10 Dzulhijjah) kemudian kembali (ke Mina)lalu shalat zhuhur dimina. Nafi’ berkata:”Ibn Umar juga melakukan ifadhah pada hari raya kemudian kembali dan shalat zhuhur di Mina, ia menyebutkan bahwa Nabi Saw., melakukan seperti itu.(H.R Muslim, 1:547)



Pada dasarnya kita dituntut untuk melaksanakan sebagaimana yang dilaksanakan oleh NAbi Saw., sebagaimana dalam hadits dinyatakan:

خُذُوْا عَنيِّ مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku peraktek ibadah haji kamu”

Dalam beberapa hal Nabi membenarkan atau memberikan rukhshah (keringanan)kepada mereka yang tidak tepat waktu, seperti keterangan di bawah ini:

1.عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ كَانَتِ امْرَأَةً ثَبْطَةً.فَاسْتَأْذَنَتْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَدْفَعَ مِنْ جَمْعٍ قَبْلَ دَفْعَةِ النَّاسِ فَأَذِنَ لَهَا.

Dari Aisyah:”Sesungguhnya Saudah binti Zam’ah adalah istri yang berat/gemuk, kemudian ia meminta izin untuk keluar dari mudzdalifah sebelum orang-orang keluar, maka Nabi Saw mengizinkan-Nya.”(H.R Ibn Majah, 2:1007)

2. عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ يَعْمَرَ : أَنَّ نَاسًا مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ أَتُوْا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِعَرَفَةَ فَسَأَلُوْهُ فَأَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى: اَلْحَجُّ عَرَفَةٌ. مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ

Dari Abdirrahman ibn Ya’mar:”Sesungguhnya orang-orang dari Najd datang kepada Rasulullah Saw., sedang beliau di ‘Arafah, maka bertanya kepada Nabi Saw., memerintahkan untuk mengumandangkan: “Haji itu ‘Arafah.” Siapayang datang ke Arafah pada malam Muzdalifah sebelum terbit fajar, maka sungguh ia mendapatkan haji (Sah hajinya).” (H.R Tirmidzi; Tuhfah al-Ahwadzi, 3:633)

3. عَنْ عُرْوَةَ بْنِ مُضَرِّسٍ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِالْمُزْدَلِفَةِ حِيْنَ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي جِئْتُ مِنْ جَبَليْ طَيِّءٍ. أَكَلْلتُ رَاحَتِي وَأَتَّعَبْتُ نَفْسِي وَاللهِ ! مَا تَرَكْتُ مِنْ جَبَلٍ إِلاَّ وَقَفْتُ عَلَيْهِ فَهَلْ لِي مِنْ حَجٍّ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَهِدَ صَلاَتَنَا هذِهِ وَوَقَفَ مَعَنَا حَتَّى نَدْفَعَ وَقَدْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ قَبْلَ ذاَلِكَ لَيْلاً أَوْ نَهَارًا فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ وَقَضَى تَفَثَهُ .

Dari Urwah bin mudharris, ia berkata:”Aku dating kepada Rasulullah Saw., di Muzdalifah ketika Nabi Saw., keluar untuk shalat, aku bertanya: Aku melewati dua gunung thayyi, kendaraanku lelah dan aku pun cape, demi Allah tidak aku tinggalkan satu gunung kecuali aku berhenti dulu, apakah haji saya sah? RAsulullah Saw., menjawab:”Barangsiapa yang menyaksikan shalatku yang ini, pernah wuquf (tinggal), bersama kami samapi keluar dan sebelumnya pernah wuquf di”Arafah baik siang atau malam, maka sungguh sempurna hajinya dan melaksanakan yang semestinya.”(H.R Tirmidzi)



MEMPERHATIKAN :

Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.

Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: KH. Aceng Zakaria

Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas



MENIMBANG:

Pelaksanaan manasik haji harus sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Pelaksanaan ibadah haji terdiri dari rukun, wajib dan sunnat.

Mabit di Mina sebelum wukuf di Arafah sampai shalat subuh hukumnya sunnat, dan mabit pada sebagian malamnya sah.

Pada pelaksanaannya sering kali dihadapkan pada kendala.

Keluar dari Mina menuju Arafah tengah malam karena suatu hambatan yang tidak bisa dihindari, sering terjadi.

Melaksanakan ibadah haji harus diupayakan secara maksimal agar rukun, wajib dan sunnatnya dapat terpenuhi.

Perlu kejelasan hukum mengenai keluar dari mina waktu malam hari dan shalat shubuh tanggal 9 Dzulhijjah di Arafah.





Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam



MENGISTINBATH :

Keluar dari Mina menuju ‘Arafah pada waktu tengah malam dan shalat shubuh di Arofah karena suatu halangan, ibadah hajinya sah.



Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 25 Rabi`ul Awwal 1433 H

18 Februari 2012 M



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM



Ketua Sekretaris



KH. USMAN SHOLEHUDDIN KH. ZAE NANDANG

NIAT: 05536 NIAT: 13511



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Lengkap

Di Gedung Haji Qanul Manazil, Ciganitri Bandung, 25 Rabi`ul Awwal 1433 H

18 Februari 2012 M

Tentang:



"FINGER PRINT UNTUK MENENTUKAN BAKAT DAN KEMAMPUAN MELALUI SIDIK JARI"

بسم الله الرحمن الرحيم



Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

Firman Allah SWT :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا . إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا. [الجن: 26، 27]

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya (Surat Al Jinn: 26-27)

{ قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ} [النمل: 65]

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.

Hadis Nabi SAW :

وقال النبي صلى الله عليه وسلم : (من اقتبس شعبة من النجوم فقد اقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد) ( صحيح ) رواه أحمد ( 1 / 227 ، 311 ) ، وأبو داود ( 3905 ) ، وابن ماجه ( 3726 ) ، والبيهقي ( 8 / 138 ) وقد سكت عنه الإمام أبو داود وصححه الألباني ، وقال الشيخ أحمد شاكر : إسناده صحيح

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mempelajari satu bagian dari ilmu nujum berarti telah mempelajari satu cabang dari sihir. Bertambah sesuai tambahannya”.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ [فصلت: 53]

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً [الإسراء: 70]

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُونَ [الذاريات: 21]

dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ . بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَه [القيامة: 3، 4]

Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (Al-Qiyamah: 3-4)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ وَهُوَ مَسْرُورٌ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَلَمْ تَرَيْ أَنَّ مُجَزِّزًا الْمُدْلِجِيَّ دَخَلَ عَلَيَّ فَرَأَى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ وَزَيْدًا وَعَلَيْهِمَا قَطِيفَةٌ قَدْ غَطَّيَا رُءُوسَهُمَا وَبَدَتْ أَقْدَامُهُمَا فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ الْأَقْدَامَ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ

Dari Aisyah ra berkata, “Suatu hari Rasulullah masuk ke rumah ku dengan wajah yang ceria. Beliau berkata, “Wahai Aisyah, tahukah kamu bahwa Mujazziz al Mudliji masuk ke rumah ku kemudian ia melihat Usamah bin Zaid dan Zaid (ayahnya) sedang tidur berselimut menutupi kepala keduanya, sedang telapak kaki mereka nampak. Kemudian ia (Mujazziz) berkata, “Sesungguhnya telapak kaki-telapak kaki ini sebagiannya dari yang lainnya”. (Imam Bukhary meriwayatkan dalam Shahihnya Bab Al Qâif dan pada Bab Manaqib Zaid bin Haritsah; Imam Muslim dalam Bab Al ‘Amal biilhaq al Qâif al Walad)

Bahwa yang dimaksud dengan syirik itu adalah :

أن ترى لبعض المخلوقات سلطة غيبية وراء الأسباب العادية

"Memandang sebagian makhluk mempunyai kekuasaan (pengetahuan) ghaib, dibalik sebab-sebab yang biasa"



MEMPERHATIKAN :

Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.

Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: K.H. Jeje Zaenudin M.Ag.

Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas.



MENIMBANG:

Fingerprint (sidik jari) merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah pada tangan manusia.

Pemanfaatan sidik jari untuk menganalisa forensik telah sejak dahulu terjadi dan hasilnya diyakini kebenarannya.

Pemanfaatan sidik jari untuk mengetahui potensi bakat, karakter dan kemampuan, telah terjadi.

Ghaib dibagi dua ; Ghaib Mutlak (Absolut) dan Ghaib Nisbi (Relatif).

Perlu kejelasan hukum tentang mengetahui potensi bakat, karakter dan kemampuan seseorang melalui test sidik jari.

Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBATH :

Fingerprint Test yang digunakan untuk mengetahui potensi bakat dan kemampuan seseorang yang bersifat nisbi (relatif), tidak termasuk syirik.

Menggunakan sidik jari dan telapak tangan untuk meramal nasib adalah syirik.



Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 25 Rabi`ul Awwal 1433 H

18 Februari 2012 M



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM



Ketua Sekretaris



KH. USMAN SHOLEHUDDIN KH. ZAE NANDANG

NIAT: 05536 NIAT: 13511





DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Lengkap

Di Gedung Haji Qanul Manazil, Ciganitri Bandung, 25 Rabi`ul Awwal 1433 H

18 Februari 2012 M



Tentang:

"SYADDUDZARI`AH DAN IMPLEMENTASINYA"

بسم الله الرحمن الرحيم



Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

Firman Allah SWT :

Surat Hud/11:113



Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan”

.

An-Nisa/4: 58-59

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.58. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (59).



Al-Maidah/5: 2

“…dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.



Al-Hijru/:15 88

Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang Telah kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.



Diperintahkan makanan halalan thayyiba.



Sunnah Nabi SAW :

Mukminin dengan mukmin adalah saudara

Tidak boleh bahaya dan membahayakan. (HR. Malik)

Tolong menolong bagian dari amal salih



قال ( لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ )

Rasul bersabda, “Tidak sempurna iman seorang kalian sehingga mencinati sahabtanya, serbagaimana mencintai terhadap dirinya sendiri”.

وقال ( : ( الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحْقِرُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ ولايُسْلِمُهُ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ لْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ ) .

Rasul bersabda, “Muslim itu adalah saudaranya muslim yang lain tidak menghina, merendahkan, tidak menyerahkan (pada yang lain. Perhitungan seseorang sesuai dengan kesalahan untuk merendahkan saudaranya yang lain. Setiap Muslim atas muslim haram darah, harta dan kehormatannya.



وقال عليه الصلاة والسلام : ( لا تَبَاغَضُوا وَلا تَدَابَرُوا وَلا تَنَاجَشُوا ولايَبعْ بَعضُكُمْ عَلى بَيعِ بعضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إخوانَاً ) .

Rasul bersabda, “Jangan saling membnci, jangan saling membelakangi, jangan menjual barang di atas harga yang seharusnya, jangan menjual jujalan orang ;lain, dan jadikanlah hamba-hamba Allah sebagai saudara.





MEMPERHATIKAN :

Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.

Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.

Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas



MENIMBANG:

Keselamatan ummat dalam aqidah, ibadah dan mu`amalah harus menjadi prioritas Pimpinan Pusat Persatuan Islam.



Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam



MEREKOMENDASIKAN :

Dewan Hisbah menerima kaidah "Saddu Dzari`ah" dan "Fathu Dzari`ah".

Ummat Islam wajib melaksanakan Saddu Dzari`ah sesuai dengan kemampuan.

Pimpinan Pusat Persatuan Islam wajib melaksanakan Saddu Dzari`ah dengan hal-hal sebagai berikut :

Menjadi patner pemerintah dan memberikan masukan-masukan tentang kaidah Saddu Dzari`ah dan implementasinya untuk menyelamatkan jam`iyyah Persatuan Islam dan ummat Islam.

Membuat rumusan-rumusan dalam aspek ekonomi, sosial dan aspek lainnya yang dapat dilaksanakan oleh ummat jam`iyyah Persatuan Islam sebagai implementasi Saddu Dzari`ah.

Demikian rekomendasi Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 25 Rabi`ul Awwal 1433 H

18 Februari 2012 M



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM



Ketua Sekretaris



KH. USMAN SHOLEHUDDIN KH. ZAE NANDANG

NIAT: 05536 NIAT: 13511



Dikirim pada 03 Maret 2012 di KAJIAN UTAMA




Tanya : Bismillah … Ustadz, apa benar bahwa salah satu mengucapkan salam itu diharuskan dari yang kecil (muda) kepada yang tua? Bagaimana kalau sebaliknya? BN Ciawi Tasikmalaya

Jawab : Ibn Hajr al-Asqalani dalam kitabnya Bulughu al-Maram, menempatkan hadits yang ibu maksud dalam Bab Adab (sopan santun). Hal ini menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari adab (akhlaq) yang semestinya dilakukan (diantaranya) mengucapkan salam yang semestinya diawali oleh yang muda kepada yang tua. Hadits yang dimaksud diantaranya :

Dari Abi Hurairah berkata : Bersabda Rasulullah saw : (Selayaknya) memberi salam yang muda kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak (HR.Bukhary Muslim), dalam riwayat Muslim ada tambahan “Dan yang berkendaraan kepada yang berjalan”. (Bulughu al-Maram Bab Adab, lihat Lu’lu wa al-Marjan Kitab Salam no.1396)

Hal tersebut bukan artinya yang tua tidak boleh mengucapkan salam kepada yang muda. Sebab dalam hadits lain ternyata Nabi saw pernah mengucapkan salam kepada anak-anak.

“…Sesungguhnya Anas bin Mali ra pernah melewati dan berjumpa dengan anak-anak, maka ia (Anas) mengucapkan salam kepada mereka. Anas berkata : Bahwa Nabi saw pernah melakukan hal itu (Bukhary Bab al-Taslim ‘ala al-Shibyan 15, lihat pula Lu’lu wa al-Marjan Bab Istihbab al-Salam ‘ala al-Shibyan hal 53 no. 1041 dari Anas bin Malik ra). Allohu A’lam

Dikirim pada 29 Februari 2012 di Bab. Akhlaq




Tanya : Assalamu’alaikum … Ustadz Abu, apakah benar bahwa daging kuda itu haram untuk dimakan? Saya mohon penjelasannya! JPK Jawa Tengah

Jawab : Wa’alaikumussalam … Mengenai binatang yang pengharamannya secara mutlak adalah yang terdapat dalam Al-Quran (lihat QS.Al-Baqarah : 178, al-Maidah :3, An-Nahl :115 dan al-An’am :145). Sedangkan mengenai kuda tidak termasuk yang disebut dalam pengharaman. Bahkan dalam beberapa keterangan (hadist), mengindikasikan bahwa daging kuda itu boleh dimakan. Diantaranya :

“…(Rasulullah saw) memberikan idzin (makan) daging-daging kuda (Mutattafaq ‘Alaih dari Jabir ra).

Dalam hadits lain :

Dari Asma’ binti Abi Bakr Berkata :Kami pernah menyembelih kuda pada masa Nabi saw, dan kmai semua memakannya (HR.Bukhary Muslim).

Dengan demikian secara hukum kuda tidak termasuk binatang yang diharamkan dan boleh memakannya (jika suka). Allohu A’lam

Dikirim pada 28 Februari 2012 di Bab. Penyembelihan




Tanya : Assalamu’alaikum… Pak ustadz Abu yang saya hormati. Nama saya Defa dari Banten. Yang ingin saya tanyakan adalah berkenaan dengan shadaqah. Bolehkah suami memberikan shadaqah kepada istrinya, atau anaknya dan juga sebaliknya istri memberikan shadaqah kepada suami dan anaknya?

Jawab : Wa’alaikumussalam, menyalurkan/memberikan shadaqah atau zakat, bukanlah ditentukan kepada orang jauh atau kerabat, melainkan kepada orang yang membutuhkan atau yang berhak menerimanya yakni yang 8 golongan itu (lihat QS.At-Taubah 60). Terlebih diantara yang delapan golongan itu merupakan keluarga kita. Dan tentu yang diberikan itu shadaqah wajib (zakat) maupun shadaqah sunnat.

Bahkan jika kita memberikannya kepada kaum kerabat terkandung dua pahala, sebagaimana hal ini pernah ditanyakan oleh Zainab istri Abdullah ra. Kepada Nabi saw :

“… Ya Rasulullah, apakah cukup (sah) jika aku memberikan shadaqah kepada suami dan kepada anak yatim yang ada dalam tanggunganku? Rasulullah saw bersabda : (Tentu) baginya bahkan dua pahala, (yaitu) pahala atas shadaqahnya dan pahala (membantu) keluarga (HR.Bukhary Muslim dan lainnya).

Dalam riwayat lain bahwa “shadaqah yang diberikan kepada miskin, (pahalanya) satu shadaqah, sedangkan kepada (miskin dari) kerabat, ada dua (yaitu) shadaqahnya dan (pahala) hubungan silaturahimnya” (HR.Ibn Majah). Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Februari 2012 di Bab. Perzakatan




Tanya : Assalamu’alaikum … Pak Ustadz Abu Alifa, apakah memang ada dalilnya bahwa Nabi saw tidak menshalatkan orang yang mati karena bunuh diri? Mohon dalinya! GT Tangerang

Jawab : Wa’alaikumussalam, keterangan (hadits) yang menunjukkan bahwa Rasulullah saw tidak menshalatkan orang yang mati karena bunuh diri tercatat diantaranya dalam kitab Bulughu al-Maram bab Al-Janaiz.

Dari Jabir bin Samurah berkata: Pernah dibawa kehadapan Nabi saw seseorang yang mati bunuh diri dengan tumbak. Maka beliau (Nabi) tidak menshalatkannya (HR.Muslim). Allohu A’lam

Dikirim pada 26 Februari 2012 di Bab. Jenazah




Tanya : Assalamu’alaikum … benarkah bahwa pada penutup shalat malam yakni witir yang tiga rakaat itu harus membaca surat “sabbihismarabbika… qulya ayyuhal-kafirun… dan qul huwalloh”, apakah boleh membaca selain ketiga surat itu dalam shalat witir? NM Cirebon



Jawab : Wa’alaikumussalam… dalam membaca surat selain dari al-fatihah, Nabi memerintahkan membaca surat yang mudah dan hafal (HR.Bukhary dan yang lainnya dari Abi Hurairah lihat Bulughu al-Maram bab Sifat Shalat). Dalam beberapa hadits memang sering diterangkan oleh para shahabat tentang kebiasaan Nabi saw membaca surat tertentu dalam shalat. Seperti rasul membaca surat al-ghasiyah pada shalat ied dan lain-lain. Namun bukan artinya Nabi saw mengharuskan membaca surat tersebut. Begitu pula dalam masalah shalat witir. Dalam sebuah keterangan Abdul ‘Aziz bin Juraij pernah bertanya kepada Aisyah ra tentang surat apa yang (biasa) dibaca oleh Nabi saw ketika witir, maka ia (Aisyah ra) menjawab :

“… Beliau (Nabi saw) membaca (surat) Sabbihisma rabbikal-a’la pada rakaat pertama, (surat) Qul ya ayyuhal-kafirun pada rakaat kedua, dan Qul huwa-llohu ahad dan surat mu’awwidzatain (al-falaq dan an-naas) pada rakaat yang ketiga (lihat Al-Mustadrak ‘ala ash-shahihain 2 :566 dan Sunan at-Tirmidzy 2:326).

Dalam Hadits yang lain :

Dari Ubay bin Ka’ab berkata : Biasanya Rasulullah saw shalat witir (membaca) “Sabbihisma rabbikal-a’la, dan Qulya ayyuhal-kafirun, dan Qul huwallahu ahad (HR.Ahmad, Abi Dawud dan Nasa’i). Allohu A’lam

Dikirim pada 26 Februari 2012 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamu’alaikum, mau nanya mengenai warits : 1. (Misal) rumah waritsan sedang dijual, tetapi sebelum terjual salah satu ahli warits meninggal. Apakah anak-anaknya dari yang meninggal itu mendapat bagian? 2. Sebelum bapaknya meninggal terlebih dahulu anaknya meninggal, apakah setelah bapak (kakeknya) meninggal anak2 (cucu) dari yang meninggal itu mendapat bagian? Dan bagaimana dengan istri (mantu) dari bapak itu dapat bagian? YH Tasikmalaya

Jawab : Wa’alaikumussalam … Yang mendapat bagian waritsan adalah ahli warits pada waktu ditinggal mati ia masih ada (hidup). Jadi untuk no 1 (satu), maka tetap ahli warits yang meninggal mendapat bagian dari rumah yang dijual itu. Yang tentu menjadi waritsannya buat anak dan istri/suaminya. Jadi anak-anaknya itu bukan mendapat warits dari rumah yang terjual, namun mendapat warits dari bagian orang tuanya yang sebelum terjual sudah meninggal. Disinilah perlunya disegerakan pembagian harta pusaka (waritsan), supaya yang berhak dapat bagiannya.

Untuk nomor 2 (dua) Jika anak meninggal lebih dahulu, justru bapak diantara ahli warits itu dari anaknya yang meninggal dan bukan sebaliknya. Mengenai jika bapak meninggal apakah cucu dapet bagian? Tentu saja harus dilihat apakah cucu tersebut merupakan bagian dari ahli warits atau bukan. Sebab jika cucu itu dari anak perempuan, maka hal tersebut bukan termasuk ahli warits. Tetapi jika cucu itu dari anak laki-laki, maka ini termasuk ahli warits. Hal ini-pun tidak otomatis mendapat bagian, tergantung apakah ada golongan yang menghalanginya. Dan salah satu yang menghalangi cucu mendapat warits adalah anak laki-laki dari yang meninggal itu. Maka cucu terhalang dan tidak mendapat bagian. Kecuali diberi oleh ahli warits atau adanya wasiat dari yang meninggal. Mengenai mantu, tentu saja bukan ahli warits dari mertua. Allahu A’lam

Dikirim pada 25 Februari 2012 di Bab. Mawarits


Tanya : Assalamu’alaikum… pak ustadz Abu, belakangan ini ngetrend dalam mengubah penampilan supaya kelihatan lebih ganteng/cantik memakai wig. Bagaimana sebenarnya menurut syariat Islam hukum memakai wig itu? Wass… TD Mojokerto Jatim

Jawab : Wa’alaikumussalam … Dalam sebuah hadits diceritakan :

“… Bahwasannya seorang wanita pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Ia mengatakan “Ya Rasulullah sesungguhnya anak gadis saya terkenan penyakit, yang membuat rambutnya pada rontok, padahal sebentar lagi akan dinikahkannya. Apakah boleh saya menyambungkan rambutnya”? Rasulullah bersabda : “Allah mela’nati yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya”. (HR.Bukhary Muslim dari Asma ra).

Dengan hadits ini sudah sangat jelas (sekalipun alasan sakit) Nabi saw menjelaskan tentang la’nat Allah, apalagi dengan alasan hanya untuk mempercantik diri. Jadi hukum menyambung rambut termasuk dengan memakai wig hukumnya haram. Allohu A’lam

Dikirim pada 24 Februari 2012 di Bab. Akhlaq




Tanya : Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh,.., Saya Furqan fidel. saya ingin menikahi seorang wanita (gadis), tapi orang tua saya melarang karna kami satu suku,. dalam adat kami (minang, menganut sistim matrilinear/menurut keturunan ibu, jadi suku sianak sama dengan suku si ibu) satu suku berarti sedarah, jadi dilarang untuk menikah, dan aturan ini (aturan adat) dibuat berdasarkan pada aturan agama, tidak boleh menikah dengan laki2/wanita yang sedarah. tapi kami tidak lah bersaudara, bahkan kakek / nenek kami pun tidak bersaudara. mungkin buyut dari buyut-buyut mereka terdahulu memang bersaudara, makanya kami sama suku. jika kami tetap menikah, maka kami akan diusir dari kampung dan tentunya orang tua akan menanggung malu karna diangaap gagal mendidik anak. saya minta nasehat dan pencerahan ustad untuk memecahkan masalah ini. dalam kasus ini apakah kami memang tidak boleh atau tidak bisa untuk menikah.

Jawab : Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh … memang benar dalam Islam haram hukumnya menikah karena hubungan sedarah. Namun perlu diingat, dalam Islam hubungan sedarah bukanlah karena satu adat melainkan karena hubungan nasab (keturunan) seperti kakak dengan adik dan sebagainya. Dibawah ini kami rinci golongan yang tidak boleh dinikahi :

Orang yang tidak boleh dinikahi terbagi menjadi beberapa golongan :

1. Haram dinikahi karena nasab, yaitu:

a. Ibu kandung

b.Anak perempuan kandung

c. Saudara perempuan

d. Bibi dari pihak ayah

e. Bibi dari pihak ibu

f. Anak perempuan kakak atau adik laki-laki (keponakan)

g. Anak perempuan kakak atau adik perempuan (keponakan)

2.Haram dinikahi karena ikatan perkawinan, yaitu:

a. Ibu istri (ibu mertua)

Haramnya ini tidak disyaratkan adanya persetubuhan terlebih dahulu, tapi semata karena telah terjadi pernikahan.

b.Anak perempuan dari istri yang sudah digauli.

Karena itu, manakala akad nikah dengan seorang wanita yang telah memiliki anak, namun dicerai sebelum sempat menggaulinya, anak perempuan wanita tersebut halal baginya. Hal ini didasarkan pada firman Allah, “…tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa kamu mengawininya…” (An-Nisa’: 23).

c. Istri anak kandung (menantu perempuan).

Ia haram dinikahi setelah dilangsungkan akad nikah (tanpa menunggu digauli).

d. Istri bapak (ibu tiri).

Seorang anak haram menikahi istri bapaknya (ibu tirinya) setelah terjadi ijab qabul.

3.Haram dinikahi karena susuan

Ibu susuan berkedudukan sebagaimana ibu kandung. semua orang yang haram dikawini oleh anak laki-laki dari jalur ibu kandung, haram pula dinikahi oleh bapak susuan. Jadi, yang haram dinikahi, yaitu:

a.Ibu susu

b.Ibu dari ibu susunya (nenek)

c.Ibu dari bapak susunya (kakek)

d.Adik atau kakak perempuan ibu susunya

e.Adik atau kakak perempuan bapak susunya

f.Cucu perempuan Ibu susuan

g.Adik atau kakak perempuan sesusuan.

Selain golongan tersebut diatas, maka tentu halal untuk dinikahi dan adat tidak menjadikannya sedarah. Allohu A’lam

Dikirim pada 20 Februari 2012 di Bab. Nikah
14 Feb


Tanya : Assalamu’alaikum … ustadz mohon diterangkan cara mandi janabat dengan hadits yang shahih. GD Bengkulu

Jawab : Wa’alaikumussalam … mandi janabat merupakan bagian dari ta’abbudi (ibadah) sebagaimana wudhu. Hal ni tentu harus berdasarkan contoh dari Nabi saw. Diantara hadits yang menerangkan tentang mandi janabatnya Nabi saw yaitu

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

“Bahwa Nabi shallallaahu `alaihi wasallam apabila mandi janabat, beliau memulai mencuci kedua tangannya. Lalu berwudhu sebagaimana sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambut kepalanya. Setelah itu beliau menyiram kepalanya tiga kali dengan air sepenuh dua telapak tangannya, lalu meratakannya ke seluruh tubuh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra)

أَدْنَيْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُسْلَهُ مِنْ الْجَنَابَةِ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ ثُمَّ أَفْرَغَ بِهِ عَلَى فَرْجِهِ وَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ ثُمَّ ضَرَبَ بِشِمَالِهِ الْأَرْضَ فَدَلَكَهَا دَلْكًا شَدِيدًا ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ مِلْءَ كَفِّهِ ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ثُمَّ تَنَحَّى عَنْ مَقَامِهِ ذَلِكَ فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ فَرَدَّهُ

“Saya pernah menyiapkan air untuk mandi janabat Rasulullah Sallllahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau lalu mencuci kedua telapak tangannya 2 kali atau 3 kali, kemudian memasukkan kedua tangan kanannya ke dalam wadah air (untuk menciduk air), lalu mencuci kemaluan beliau dengan tangan kiri. Setelah itu beliau meletakkan tangan kirinya di tanah, lalu menggosok–gosoknya sampai benar-benar bersih. Selanjutnya beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk mengerjakan shalat. Kemudian beliau menyiram kepalanya dengan air sepenuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu beliau menyiram seluruh tubuhnya. Setelah itu beliau bergeser dari tempat semula, lalu membasuh kedua kakinya. Selanjutnya saya memberikan handuk kepada beliau, namun beliau menolaknya.” (HR. Muslim dari Maimunah ra). Allohu A’lam

Dikirim pada 14 Februari 2012 di Bab. Bersuci




Tanya : Assalamu`alaikum … ustadz Abu Alifa, saat suami menthalaq istrinya dalam keadaan haidh. Apakah thalaqnya sah atau tidak? Hamba Allah Jawa Tengah

Jawab : Wa`alaikumussalam … Allah swt telah melarang (mengharamkan) menjatuhkan thalaq kepada istrinya, saat dalam kondisi haidh (QS.Ath-Thalaq ayat 1)

"“Wahai Nabi, apabila kalian hendak menceraikan para istri maka ceraikanlah mereka pada saat mereka dapat (menghadapi) ‘iddah-nya… .”

Jadi berdosa suami yang menceraikan istrinya dalam kondisi haidh. Ia wajib kembalikan si istri dalam perlindungannya (rujuk) untuk ia ceraikan dengan cerai yang syar’i sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Umar ra pernah menceraikan istrinya dalam keadaan haidh. Maka Umar menanyakan hal tersebut kepada Nabi saw. Mendengar hal tersebut Nabi Shallallahu `Alaihi Wa Sallam marah, kemudian beliau bersabda : “Perintahkanlah ia (yakni Ibnu Umar) agar merujuk istrinya, kemudian ia tahan hingga istrinya suci dari haidh. Kemudian (dia tahan hingga) istrinya haidh lagi (datang haidh berikutnya) lalu suci. Setelah itu jika ia mau, ia tahan istrinya (tidak diceraikan) dan jika ia mau, ia ceraikan sebelum digauli. Itulah ‘iddah yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk menceraikan wanita. (HR. Bukhari nomor 5251 dan Muslim nomor 1, 2 Kitab Ath Thalaq)

Dalam riwayat Muslim disebutkan : “Perintahkanlah dia agar merujuk istrinya, kemudian hendaklah ia menceraikannya dalam keadaan suci atau (dipastikan) hamil.”

Al Imam Ash Shan’ani menyebutkan keharaman talak dalam masa haid ini dalam kitabnya Subulus Salam (3/267), demikian juga Al Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar (6/260). Allohu A`lam

Dikirim pada 01 Februari 2012 di Bab. Nikah









Tanya : Assalamualaikuum....

.1. Bagaimana menurut ajaran islam, apakah perlu anak perempuan yang mualaf meminta restu menikah secara islam kepada ortu yang katholik?

2. Apakah dalam hukum perkawinan Islam harus ada pernyataan tertulis dari ortu yang katholik yang isinya memberikan hak perwaliannya kepada seseorang yang ditunjuk. Mohon penjelasannya dan Terima kasih. Hormat saya, Niken Ali

Jawab : Wa`alaikumussalam … Pertama, meminta restu atau minta idzin dari orang tua (sekalipun berbeda agama), merupakan bagian dari birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua). Dalam Islam sekalipun kita berbeda keyakinan (agama) dengan orang tua, maka tetap ada perintah untuk berbuat baik kepada keduanya. Akan tetapi jika orang tua itu menyuruh untuk hal yang dilarang Islam seperti untuk kembali ke agama lain, maka tentu kita wajib menolaknya dengan secara halus.



وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah-payah (pula).” (Al-Ahqaf: 15)



وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, namun pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)

Tetapi setelah meminta idzin atau restu, kemudian orang tua kita menolaknya, hal itu tidak menyebabkan anda tidak bisa menikah. Sebab jika (maaf) anda laki-laki tentu tidak membutuhkan wali. Karena wali adanya dipihak calon istri. Akan tetapi jika (maaf) anda perempuan, maka hak wali bukan orang tua anda, tapi pindah ke wali hakim. Sebab orang tua anda berbeda agama, dan tidak ada hak untuk menjadi wali.

Kedua, tidak ada dan anda tidak membutuhkan pernyataan orang tua untuk membuat surat pemindahan hak wali. Sebab jika berbeda agama, maka putus perwaliannya. Jadi ketika anda mendaftar ke KUA (umpamanya), dan menceritakan hal ini, tentu nanti anda akan dinikahkan oleh wali dari petugas KUA (wali hakim). Mudah-mudahan anda diberi keteguhan iman. Allohu A`lam

Dikirim pada 31 Januari 2012 di Bab. Nikah




Tanya : Assalamu`alaikum … pak ustadz apakah dibolehkan bermubahalah karena perbedaan pendapat? Bagaimana cara bermubahalah yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad saw? Rieke Sul

Jawab : Wa`alaikumussalam, mubahalah asal dari kata bahl, yang mempunyai arti melepas. Atau dari kata bahlah atau buhlah yang bermakna melaknat atau mengutuk. Ibn Katsir mengartikan mubahalah ini dengan berbalas laknat (mula`anah). Mubahalah menurut istilah adalah dua pihak yang saling memohon dan berdoa kepada Allah supaya menurunkan laknat dan membinasakan pihak yang bathil atau mendustai kebenaran. Mubahalah berlangsung antar kedua belah pihak dengan membawa keluarga masing-masing dan disaksikan oleh kaum muslimin.

Ayat al-Quran yang m,enjadi rujukan mubahalah adalah QS.Ali Imran ayat 61.

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la`nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

Ayat tersebut turun pada tahun ke-9 Hijrah, bertalian dengan kedatangan delegasi Nasrani dari Najran yang berjumlah kurang lebih 60 orang, saat itu Nabi saw sedang shalat di Masjid Nabawi. Usai shalat Nabi berbicara dengan 3 perwakilan mereka (yaitu) al-Aqib (Abdul Masih), al-Ayham (As-Sayyid), dan Abu haritsah bin Alqamah. Pada awalnya, mereka bertiga mau mendebat Nabi soal ketuhanan Yesus. Akan tetapi, justru mereka bertiga sendiri yang berselisih pendapat tentang Isa. Sebagian mengatakan Isa adalah tuhan. Sebagian mengatakan Isa adalah anak tuhan. Sebagian lagi mengatakan Isa adalah tuhan yang ketiga.

Kemudian Rasulullah saw berkata pada al-Aqib dan al-Ayham, "masuk Islam-lah kamu!". Keduanya menjawab, : "kami telah Islam". Rasul berkata lagi, "kamu belum masuk islam, maka masuk islam-lah". Keduanya menjawab, "tidak, kami telah Islam". Maka Rasul berkata, "Kamu berdua dusta. Kamu bukan Islam karena pengakuan kalian bahwa Allah beranak, menyembah salib dan makan daging babi".

Perdebatan itu terus berlangsung, sampai turun ayat diatas. Maka Nabi saw mengajak mereka bermubahalah, dan mereka-pun menerima tawaran itu. Besok harinya, Nabi dengan membawa keluarganya datang ke suatu tempat. Bahkan Nabi sempat berkata kepada keluarganya, "jika kalian mendengar Aku melaknat mereka, maka ucapkanlah Amiin".

Saat melihat Nabi saw membawa keluarganya, mereka dihantui rasa takut, sampai al-Aqib berkata : "….Sesungguhnya kita akan binasa dan takkan ada lagikaum Nasrani yang akan tersisa setelah itu diatas muka bumi ini…"(HR.Bukhary, Muslim, Tirmidzy, Nasa`I dan Ibn Majah)

Di Indonesia, pada tahun 1930-an, A Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis) juga pernah menantang kelompok Ahmadiyah untuk bermubahalah. Namun tantangan mubahalah itu tak pernah berani dilakukan oleh Ahmadiyah sampai saat ini. Meski begitu, Nabi palsu yang juga pentolan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad pernah melakukan mubahalah yang berakibat pada tewasnya Mirza Ghulam Ahmad dalam keadaan sakit parah di tempat buang hajat.

Hindari mubahalah sesama muslim. Sebab tidak pernah dicontohkan oleh Nabi saw karena perbedaan pendapat dengan sesama muslim sampai melakukan mubahalah. Apalagi perbedaan tersebut hanya masalah khilafiyah dalam bidang furu`iyah. Allohu A`lam

Dikirim pada 29 Januari 2012 di Bab. Do’a


Tanya : Assalamu`alaikum … pak ustadz Abu Alifa, saya minta penjelasan mengenai Li`an. Katanya suami istri yang Li`an dengan sendirinya berpisah dan tidak boleh kembali. Adakah kejadian yang mendasari Li`an? Apa sebenarnya Li`an itu? Dan kapan atau mengapa terjadi adanya saling mela`nat (li`an)? Marwah D Kal

Jawab : Wa`alaikumussalam, Hilal bin Umayyah, pernah mendatangi Rasulullah saw mengadukan dan menuduh istrinya selingkuh (zina) dengan laki-laki yang bernama Syuraik bin Sahma. Setelah beliau mendengar cerita dari Hilal, maka Nabi saw mengatakan "Engkau harus menunjukkan bukti (saksi), atau hukuman cambuk dipunggungmu". Tentu saja bagi seorang yang menuduh zina tanpa ada saksi 4 orang, maka hukuman dera sebanyak 80 kali. Hilal bin Umayyah mengatakan "apakah jika suami mendapatkan dan melihat seorang laki-laki diatas tubuh istrinya, ia harus mencari bukti?". Maka turunlah setelah itu surat An-Nuur 6-9, yang mensyariatkan adanya li`an.

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah Sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar (QS.An-Nuur 6-9)

Dan dua-duanya bersumpah atas nama Allah sebanyak 4 kali bahwa ia adalah termasuk orang yang jujur (benar), dan pada sumpah yang ke 5, laknat Allah akan menimpanya jika berdusta.

Dengan demikian kata Li`an diambil dari sumpah yang kelima. Secara bahasa Li`an diambil dari la`n, yang mempunyai makna kutukan atau laknat. Ada juga pendapat yang mengartikan li`an sebagai "mengusir" atau "menjauhkan". Hal ini disebabkan ketika terjadi mula`anah (saling melaknat), maka suami istri dijauhkan karena pasti diantara salah satunya berdusta atas nama Allah. Dan konsekwensinya dari keduanya berpisah untuk selamanya, tak ada kesempatan untuk bersatu kembali dalam hubungan nikah.

Dalam Tafsir al-Misbah Quraish Shihab mengatakan, bahwa ketetapan hokum li`an itu mengundang konsekuensi pemutusan hubungan suami dan istri secara abadi karena dalam ikatan pernikahan, haruslah didasari oleh rasa saling percaya. Didalam sumpah Li`an itu, sudah jelas dan terang bahwa salah satu diantara pasangan tersebut pasti ada yang salah (dusta).

Dari Li`an ini, maka bagi suami yang menuduh zina istrinya terbebas dari hukum dera, begitu juga dengan istri akan terbebas dari hukuman ranjam, dan tentu harus berpisah selamanya dengan (mantan) istrinya. Allohu A`lam

Dikirim pada 28 Januari 2012 di Bab. Nikah




Tanya : Assalamu`alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Bismillaah... Ustadz Abu Alifa yang semoga selalu mendapatkan Rahmat dan Kasih Sayang Allah. Saya seorang pemuda yang ingin bertanya seputar Khitbah. Seperti apakah Tata Cara Khitbah yang dianjurkan dan sesuai dengan Syariat Islam?? Dan apakah memberikan Hadiah sebagai "Pengikat" pada saat Khitbah itu termasuk Adat atau Bagian dari Agama? (Seperti memberi cincin, barang barang bawaan atau uang). Ataukah Khitbah itu cukup dengan Ucapan (Ikrar) dan Komitmen? Mohon penjelasannya Ustadz... Agar saya faham. Jazakallah Khair atas Ilmunya. (Ibnu di Bontang)

Jawab : Wa`alaikumumussalam warahmatullahi wa barakatuh, Khitbah atau meminang (sunda = narosan), merupakan salah satu yang pernah dicontohkan Nabi saw. Baik itu dilakukan oleh sendiri atau melalui perantara yang lain. Meminang bisa diartikan mengajak menikah dengan menyimpan omongan kepada orang tua sigadis dan setelah disetujui oleh gadis tersebut. Oleh karena itu wanita (gadis) yang sudah dipinang tidak boleh menerima pinangan orang lain sebelum memutuskan pinangan yang sebelumnya. Atau mendapat idzin dari yang sudah meminangnya. Kita juga dilarang meminang yang ada dalam masa iddah, apalagi yang sudah mempunyai suami.



Dari Abu Hurairah, Ia berkata,”Rasulullah SAW bersabda,”Seorang lelaki tidak boleh meminang perempuan yang telah dipinang saudaranya”(HR. Ibnu Majah)

Dalam meminang diperbolehkan yang bersangkutan atau wakil orang itu melihat wanita yang dipinangnya. Melihat yang dimaksudkan disini adalah melihat diri wanita yang ingin dinikahi dengan tetap berpanutan pada aturan syar’i.

”Dari Anas bin Malik, ia berkata,”Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan. Lalu rasulullah Saw. Bersabda,”Pergilah untuk melihat perempuan itu karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua”. Lalu ia melihatnya, kemudian menikahi perempuan itu dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu (HR.Ibn Majah, Tirmidzy dan Nasa`i).

Memberikan "sesuatu" saat meminang belum pernah dicontohkan oleh Nabi saw, apalagi tukar cincin. Tapi jika bermaksud memberikan sesuatu hal itu bukan bagian dari meminang, tapi pemberian biasa (sadaqah) atau hadiah saja. Sebab pengikat dalam pinangan adalah ucapan dari yang meminang. Allohu A`lam

Dikirim pada 26 Januari 2012 di Bab. Nikah




Tanya : Assalamu`alaikum, pak ustadz Abu yang saya hormati, ada satu persoalan yang sangat mengganjal antara diterima dan tidaknya, tentang calon suami. Yang jadi pertanyaan. 1. Apakah shalat istikharah itu harus senantiasa ada pilihan diantara dua atau lebih? 2. Bagaimana cara shalat istikharah itu? 3. Apakah ada surat khusus dari al-Quran yang harus saya baca? 4. Kapan doa itu saya baca? TRU dll.

Jawab : Wa`alaikumussalam, Shalat Istikharah adalah memohon agar dipilihkan dan diberi kecondongan untuk memilih yang baik. Shalat ini tidak berlaku jika pilihan itu antara yang hak dan bathil, atau pilihan bathil (yang melanggar ketentuan syariat). Pada kasus akhwat diatas bukan terletak pada calon suami hanya satu, menjadi tidak adanya shalat istikharah. Akan tetapi pada dua pilihan antara diterima dan tidaknya dikarenakan ada ganjalan atau keraguan antara menerima dan tidaknya. Hal inilah yang pernah dilakukan oleh Zainab saat mendapat lamaran dari Rasulullah saw melalui Zaid, Zainab menjawab, “Aku tidak akan melakukan apa pun sebelum aku bermusyawarah dengan Tuhanku [dengan istikharah].” (HR Muslim).

Shalat istikharah adalah shalat dua rakaat yang dilakukan secara sendiri. Bacaan shalat istikharah sama dengan bacaan pada shalat-shalat yang lain. Dan tidak ada kekhususan harus membaca surat ini dan itu setelah membaca surat al-fatihah.

Adapun doa yang pernah diajarkan oleh rasulullah saw saat melakukan istikharah adalah :


للَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العظيم ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أن هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى ْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هذا الأمر شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْه عَنْي فاصرفني عنه ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu dengan ilmuMu dan aku memohon ketentuan daripadaMu dengan kekuasaanMu dan aku memohon daripadaMu akan limpah kurniaanMu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa sedangkan aku tidak berkuasa dan Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui dan Engkaulah Yang Maha Mengetahu segala perkara yang ghaib. Ya Allah, seandainya Engkau mengetahui bahwasanya urusan ini (sebutkan..) adalah baik bagiku pada agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku, takdirkanlah ia bagiku dan permudahkanlah serta berkatlah bagiku padanya da seandainya Engkau mengetahui bahawa urusan ini (sebutkan..) mendatangkan keburukan bagiku pada agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku, jauhkanlah aku daripadanya dan takdirkanlah yang terbaik bagiku kemudian redhailah aku dengannya”

Doa tersebut boleh dibaca dalam shalat atau sesudah shalat. Shalat ini boleh dilakukan kapan saja, tidak ada ketentuan waktu yang khusus untuk shalat ini.

Shalat Istikharah juga boleh dilakukan berulang kali jika kita ingin istikharah pada Allah dalam suatu perkara. Karena istikharah adalah do’a dan tentu saja boleh berulang kali. Ibnu Az Zubair sampai-sampai mengulang istikharahnya tiga kali. Dalam shahih Muslim, Ibnu Az Zubair mengatakan,

إِنِّى مُسْتَخِيرٌ رَبِّى ثَلاَثًا ثُمَّ عَازِمٌ عَلَى أَمْرِى

“Aku melakukan istikharah pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.” Allohu A`lam

Dikirim pada 21 Januari 2012 di Bab. Sholat




Tanya : ass wr wb, pak ustad,saya ibu/single parent dari seorang gadis yg sdh berumur 31 thn,pendidikan anak saya S2 tapi kok sdh 5thn ini anak saya menganggur belum diterima bekerja padahal sdh melamar kemana-mana dan IP anak saya jg cukup memuaskan. disamping itu juga anak saya juga belum pernah punya pacar sampai sekarang,padahal umur sdh sangat cukup, pergaulan jg cukup bagus. saya prihatin banget pak ustad,sering nangis sendiri,apa yg hrs saya lakukan. saya pernah dikasihtahu sdr katanya spy usaha ke ustad agar diobati karena ditakutkan ditutup secara magic oleh orang yg gak suka ke saya dan anak saya. pertanyaan saya, apakah kalau saya berusaha minta dilihat dan diobati termasuk syirik? mohon advis dari pak ustad, atau mungkin pak ustad bisa mengobati secara islam? terimakasih,wasslm. Iradiningsih

Jawab : Wa`alaikumussalam … Kekhawatiran dan kecemasan ibu dari seorang gadis yang cukup umur bisa saya maklumi. Akan tetapi sebagai seorang muslimah ibu juga tak perlu berlebihan, sebab tentu kepada anak ibu ada yang lebih menyayangi yaitu sang pencipta (Allah swt), sekalipun pada saat ini ibu belum bias merasakan dan mengetahui rahasia apa dibalik keadaan anak ibu itu. Kita tentunya harus berprasangka baik kepada Allah swt yang telah mengatur kehidupan kita termasuk anak ibu. Namun tentu bukan berarti kita berpangku tangan, tanpa berusaha mencari jalan. Disamping ibu dan anak ibu memohon kepada Allah swt jalan kehidupan ataupun jodoh yang terbaik, tentu harus juga dibarengi dengan ikhtiar, misalnya dengan banyak bergaul dengan orang-orang yang shalih. Bermunajatlah kepada sang pencipta dalam setiap shalat, serahkanlah sepenuhnya kepada-Nya dibarengi dengan rasa keyakinan yang sempurna.

Perlu ibu ketahui bahwa strata pendidikan anak ibu bukanlah salah satu yang dominan dan jaminan dapat pekerjaan (penghasilan). Disamping sekolah adalah untuk mencari ilmu (bukan untuk bekerja), juga masalah rizki adalah hak Allah swt. Tapi tentu, jangan berputus asa akan usaha dan ikhtiar dari anak ibu dan keluarga. Dan harus ibu ingat, bahwa keberkahan hidup bukan diukur dengan banyaknya harta dan pekerjaan (penghasilan).

Insya Allah ibu dan anak ibu baik-baik saja. Jangan kaitkan suatu persoalan dengan dugaan yang tidak-tidak, apalagi dengan kepercayaan seperti itu. Bisa jadi ibu nantinya malah menjauh dari keridha-Nya. Sampaikanlah keinginan ibu melalui untaian do`a (baik dengan bahasa sendiri ataupun bahasa al-Quran) kepada sang Pengatur Kehidupan. Sering-seringlah terjaga diwaktu malam, berwudhu dan shalat. Sampaikan keluhan ibu kepada-Nya. Mudah-mudahan Allah swt meneguhkan hati ibu dan juga mendapatkan jalan yang terbaik buat ibu terutama buat anak ibu. Amien. Alohu A`lam



Dikirim pada 20 Januari 2012 di Bab. Aqidah


Seorang Profesor bertanya kepada mahasiswa : Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?

Seorang Mahasiswa menjawab : Betul, Dia yang menciptakan semuanya.

Tuhan menciptakan semuanya? Tanya Profesor sekali lagi.

"Ya pak, semuanya, kata mehasiswa tersebut.

Prof itu berkata : Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan!

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis Prof tersebut.

Mahasiswa lain berkata, Prof, boleh saya bertanya sesuatu?

"Tentu saja," jawab si profesor.

Mahasiswa tadi mengatakan, Prof, apakah dingin itu ada?

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada".

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu 460F adalah ketiadaan panas sama sekali dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas".

Mahasiswa itu melanjutkan, "Prof, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan ketika cahaya tidak ada. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya diruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang profesor itu menjawab, "Tentu saja."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin dan gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia."

Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Cerita diatas mengilustrasikan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan desain yang telah ditetapkan oleh penciptanya. Seperti halnya gelas diciptakan sebagai wadah untuk meminum air bersih, tapi gelas dapat juga diisi dengan air kotor, yang tentu saja bukan bagian dari tujuan penciptaannya. Apakah kita sudah berperan sesuai dengan skenario Pencipta kita? (Sumber : Manajemen Alhamdulillah)

Dikirim pada 13 Januari 2012 di IBRAH


Tanya : Assalamu`alaikum, maaf pak ustadz kata temen saya, yang mimpi basah itu hanyalah laki-laki yang merupakan pertanda bahwa ia telah akil baligh. Sedangkan bagi wanita tanda akil balighnya adalah datang bulan. Mohon penjelasannya! Wassalam GTR Jawa Tengah

Jawab : Wa`alaikumussalam, wanita juga bisamengalami mimpi basah dan mengeluarkan cairan (mani) sebagaimana laki-laki. Ummu Sulaim (ibunda Anas bin Malik) ra, datang kepada Nabi saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dalam menjelaskan kebenaran. Apakah wanita wajib mandi jika mimpi basah (mengeluarkan mani)?”Nabi saw menjawab:

نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ

Ya, apabila wanita melihat air mani maka dia wajib mandi.” Ummul Mukminin Ummu Salamah ra yang waktu itu berada di sampingnya, tertawa dan bertanya, “Apakah wanita juga mimpi basah dan mengeluarkan air mani??” Nabi saw menjawab:

فَبِمَا يُشْبِهُ الْوَلَدُ

Iya. Dari mana anak itu bisa mirip (dengan ayah atau ibunya kalaupun bukan karena air (mani) tersebut)?” (H.r. Bukhari dan Muslim)

Hanya saja, air mani wanita berbeda dengan laki-laki, seperti yang disabdakan Rasulullah saw

مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيْظٌ أَبْيَضُ وَمَاءُ الْمَرْأَةِ رَقِيْقٌ أَصْفَرُ

Mani laki-laki itu kental dan berwarna putih sedangkan mani wanita tipis/halus dan berwarna kuning.” (Hadis sahih; diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, dan yang lainnya)

Al-Imam An-Nawawi berkata, “Adapun mani wanita maka dia berwarna kuning, tipis/halus. Namun, terkadang warnanya bisa memutih karena kelebihan kekuatannya. Mani wanita ini bisa ditandai dengan dua hal: pertama, aromanya seperti aroma mani laki-laki; kedua, terasa nikmat ketika keluarnya dan meredanya syahwat setelah mani keluar.” (Syarah Shahih Muslim, 3:223)

Dari hadis di atas juga bisa disimpulkan bahwa lelaki maupun wanita yang mimpi basah kemudian mengeluarkan mani maka dia wajib mandi. Sebaliknya, jika tidak mengeluarkan mani maka tidak wajib mandi, karena yang menjadi acuan mandinya adalah keluarnya mani, bukan mimpinya. Ulama sepakat tentang wajibnya seseorang mandi bila mengeluarkan mani, dan tidak ada perbedaan di sisi kami apakah keluarnya karena jima’ (senggama), ihtilam (mimpi basah),onani, atau melihat sesuatu yang membangkitkan syahwat. Sama saja, apakah keluarnya dengan syahwat atau pun tidak, dengan rasa nikmat atau tidak, banyak atau pun sedikit walaupun hanya setetes, dan sama saja apakah keluarnya di waktu tidur atau pun ketika tidak tidur, baik laki-laki maupun wanita.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 2:139).

Memang benar diantara salah satu tanda seseorang akil baligh bagi wanita adalah keluarnya darah haidh dan bagi laki-laki mimpi basah. Hal ini menunjukkan bahwa mimpi basah banyak dialami oleh kaum Adam (laki-laki). Namun perempuan juga ada yang mengalami mimpi basah sesuai dengan hadits diatas. Allohu A`lam

Dikirim pada 11 Januari 2012 di Bab. Bersuci


Tanya : aslmkum... ustad sy mau bertanya tentang setelah shalat sunat tahiyatul masjid ketika akan melakukan shalat jumat banyak orang yang melakukan bersalaman ke samping kiri/kanan, kedepan / ke belakang... yang menjadi pertanyaan :

1. apakah ada hadistnya mengenai bersalaman tsb? (karena sudah menjadikan kebiasaan dlm shalat jumat)

2. apakah kalo kita menerima salaman tsb, ketika khotib naik mimbar akan mejadikan lagho ibadah sahalt jumat kita?

tks atas jawabannya...doni,bandung

Jawab : Wa`alaikumussalam … Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu telaahan cermat untuk mendudukkan perkara ini sehingga tidak menimbulkan praduga berlebihan terhadap sesama muslimin. Dan yang lebih penting lagi adalah, mendudukkan perkara ini dengan timbangan syari’at yang benar. Mengenai (mengucapkan) salam dan bermushafahah (berjabat tangan/bersalaman), merupakan suatu hal yang dianjurkan oleh Nabi saw saat kita bertemu dengan sesama muslim. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw :

إن المؤمن إذا لقي المؤمن فسلم عليه و أخذ بيده فصافحه تناثرت خطاياهما كما يتناثر ورق الشجر

“Sesungguhnya seorang mukmin yang apabila bertemu dengan mukmin lainnya mengucapkan salam dan mengambil tangannya untuk berjabat tangan, maka pasti akan gugur dosa-dosa mereka berdua, sebagaimana gugurnya daun dari pohonnya” (Silsilah Ash-Shahiihah nomor 526, 2004, dan 2692).

Juga perkataan beliau dari Barra’ bin ‘Azib ra.:

ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يتفرقا

“Tidaklah dua orang muslim yang bertemu, kemudian mereka berdua saling berjabat tangan, melainkan akan diampuni (dosanya) sebelum keduanya berpisah” (Silsilah Ash-Shahiihah nomor 525).

Bermushafahah/berjabat tangan yang dikaitkan dan dibiasakan dengan shalat berjamaah baik sebelum maupun sesudah shalat, atau-pun dikaitkan dengan pelaksanaan shalat jum`at, hemat kami belum pernah dicontohkan oleh Nabi saw ataupun para shahabat saat menjelang shalat jum`at, apalagi sedang mendengarkan khatib jum`at.

كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام ؛ فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان أو مكان معين أو نحوهما بحيث يوهم هذا التقييد أنه مقصود شرعًا من غير أن يدلّ الدليل العام على هذا التقييد فهو بدعة

”Setiap ibadah mutlak yang telah tetap dalam syari’at dengan dalil umum, maka membatasi kemutlakan ibadah ini dengan waktu atau semacamnya sehingga memberikan anggapan bahwa pembatasan inilah yang diinginkan syari’at tanpa ada dalil umum yang menunjukkan terhadap pembatasan ini, maka ia adalah bid’ah” [Al-Baa’its (hal. 47-54), Al-I’tishaam (1/229-231, 249-252, 345, 346; 2/11) dan Ahkaamul-Janaaiz (hal. 242)].

Berjabat tangan tidak sama dengan berbicara (ngobrol), sebab para shahabatpun pernah memberikan isyarat kepada seseorang saat orang itu bertanya kepada Nabi saw pada saat beliau sedang berkhutbah.

Ketika Rasulullahh saw sedang berkhutbah di atas mimbar, berdirilah seseorang dan bertanya, “Kapan hari kiamat terjadi, wahai Nabi Allah?”. Beliau diam, tidak mau menjawab. Para sahabat lalu berisyarat pada orang tadi untuk duduk….” (HR. Bukhari no. 6167, Ibnul Mundzir no. 1807, dan Ibnu Khuzaimah no. 1796 dari Anas bin Malik). Allohu A`lam

Dikirim pada 07 Januari 2012 di Bab. Jum’at


Tanya : Assalamu`alaikum … pak ustadz Abu yang saya hormati. Didaerah tempat saya tinggal, ada kebiasaan atau tradisi menguburkan ari-ari (ketuban) bayi yang baru lahir didepan rumah dan memberikan lampu (penerangan) dimalam harinya dengan lentera atau lilin sampai beberapa hari. Hal itu mereka yakini (terutama orang tua), jika tidak dipasang lampu, akan menyebabkan hati bayi tersebut menjadi gelap. Bagaimana sebenarnya menurut pandangan syariat Islam. Wassalam JAT Jawa Tengah

Jawab : Wa`alaikumussalam … mengubur ketuban tidak ada masalah dalam syariat Islam. Bahkan sebagian ulama memandang sunnat, deperti halnya dalam kitab Nihayatu al-Muhtaj bab Menguburkan Mayat. Akan tetapi, jika hal itu dikaitkan dengan kepercayaan atau keyakinan, seperti halnya yang ibu sebutkan, maka tentu ini menyalahi syariat Islam.

Artinya kebiasaan memberikan penerangan dengan memasang lampu ataupun menabur bunga-bunga diatas timbunan ketuban atau ari-ari bayi yang dikubur, jelas tidak dikenal dalam ajaran Islam. Apalagi meyakini bahwa jika tidak dikasih lampu penerangan, maka hati bayi yang dilahirkan gelap. Mempercayai atau meyakini hal seperti itu jelas termasuk kedalam katagori perbuatan syirik. Allohu A`lam

Dikirim pada 27 Desember 2011 di Bab. Aqidah


Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb. Abu Alifa yang baik, perkenalkan saya Theresa Wulan. Saya seorang mualaf yang sedang bingung tidak tau harus bagaimana. Saya menikah sudah hampir 4 tahun, memiliki seorang putra berusia 1,5 tahun. Sudah hampir 2 tahun ini saya dan suami ada masalah besar yang membuat saya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua saya pada akhir bulan agustus lalu. Permasalahan utamanya adalah saya menemukan suami saya bermesraan dengan wanita lain melalui Facebook dan itu sudah berlangsung sejak bulan desember 2009, suami saya sudah mengakuinya dan meminta maaf tetapi batin saya tersakiti dan tidak mampu untuk memaafkan dan bertahan dalam rumah tangga ini. Kasus perselingkuhan itu banyak memicu pertengkaran diantara kami selama hampir 2 tahun belakangan ini. Karena saya sudah tidak kuat lagi maka saya memutuskan untuk meninggalkan rumah suami saya (dengan sebelumnya saya meminta ijin suami untuk sementara saling intropeksi diri), tepatnya tgl 30 Agustus 2011 lalu, sampai hari ini tepatnya 4 bulan sudah kami pisah rumah. Selama 4 bulan itu pula suami saya tidak menengok saya dan anak kami, juga tidak memberi nafkah lahir batin. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali bekerja pada bulan Oktober lalu untuk menghidupi anak saya. Yang ingin sekali saya tanyakan adalah...

1. Apakah saya bisa meminta cerai kepada suami saya karna sudah 4 bulan lamanya tidak menafkahi saya?

2. Apa yang sebaiknya saya perbuat?

3. Kemana saya harus pergi untuk mengurus perceraian tersebut?

Mohon bantuannya ustadz, karena situasi ini membuat saya sangat bingung dan sedih.... Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terimakasih. Wasalam. Sha Zoe



Jawab : Wa`alaikumussalam Wr.Wb. Ibu Sha, dalam mensikapi setiap permasalahan rumah tangga diperlukan sikap jernih dan tidak cepat memvonis antar kedua belah pihak. Apalagi jika kesalahan salah satu pihak belum begitu jelas. Apabila sudah jelas kekeliruan dari pasangan kita, cermati dan perhitungkan juga kebaikan-kebaikan yang pernah kita terima dari pasangan kita itu. Sehingga dengan demikian kita bisa mempertimbangkan masak-masak langkah selanjutnya. Terlebih kesalahan itu tidak terlalu fatal.

Suami ibu sudah minta maaf atas kekeliruan yang ia perbuat selama ini. Dengan pertimbangan diatas kiranya ibu bisa mengambil sikap yang bijak. Perasaan sakit hati ibu bisa dimaklumi sampai ibu tidak bersedia untuk memaafkan kekeliruan yang suami lakukan. Tapi ibu juga harus ingat, memaafkan kekeliruan lebih berharga dan bernilai, dibandingkan dengan mengikuti perasaan ibu selama ini. Dan didalam perasaan ibu yang paling dalam terbersit kecintaan yang luar biasa terhadap suami. Hal ini terbukti dengan keinginan untuk ditengok dan mendapatkan nafkah lahir dan bathin ibu. Mudah-mudahan hal ini menjadi pertimbangan ibu, sebelum melangkah apa yang ditanyakan ibu.

Adapun point yang ibu pertanyakan:

Pertama, menggugat cerai (minta cerai) kepada suami dalam Islam bias saja. Tapi hal tersebut tergantung alasan ibu. Sebab jika alasan itu hanya mengada-ngada, maka hal inilah yang dikatakan oleh Nabi saw : "Wanita yang meminta cerai dari suami pertanda wanita munafiq". Sebab ibu sendiri yang minta pergi dari rumah, bukan suami yang meninggalkan ibu selama ini. Apalagi suami sudah minta maaf.

Kedua, sebaiknya ibu berkomunikasi dengan suami, baik itu untuk memperbaiki rumah tangga atau keinginan ibu dilepas oleh suami. Perlu ibu ketahui bahwa suami ibu masih berhak sama ibu, sebelum ibu dithalaq oleh suami atau menggugat kepada suami.

Ketiga, tentu untuk melegalkan gugatan ibu sebaiknya langsung ke KUA. Dan disana tentu tidak akan langsung dikabulkan, akan tetapi akan ditanya permasalahannya dulu. Bahkan mungkin menjadi mediasi antara ibu dengan suami. Oleh karena itu pertimbangkan dengan cermat dan penuh kearifan. Jangan sampai hanya mengikuti perasaan ibu saja. Mudah-mudahan Allah swt memberikan jalan keluar yang terbaik untuk keberlangsungan rumah tangga ibu. Allohu A`lam



Dikirim pada 25 Desember 2011 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum, pak ustadz Abu dalam shalat kita menguap apakah bias membatalkan shalat kita? Sebab katanya jika shalat jangan sampai menguap dan harus ditahan! Syukran. JT Jawa Barat

Jawab : Wa`alaikumussalam, belum didapatkan dalil atau keterangan yang menyebutkan bahwa menguap itu membatalkan shalat. Tapi memang benar, jika dalam shalat hendak menguap Nabi saw memerintahkan supaya menahannya, bahkan jangan sampai mengeluarkan suara "ha".

Rasulullah SAW bersabda, "Menguap ketika shalat itu dari syetan. Karena itu bila kalian ingin menguap maka tahanlah sebisa mungkin" (HR Thabrani).

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, "Adapun menguap itu datangnya dari syetan, maka hendaklah seseorang mencegahnya (menahannya) selagi bisa. Dan jangan sampai mengeluarkan suara "HA", karena itu syetan tertawa dalam mulutnya" (HR Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah).

Hadits diatas tidak menjadikan shalat batal disebabkan menguap, akan tetapi menjelaskan bahwa jika hendak menguap dalam shalat maka tahanlah. Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan.


عن سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنًا لِأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ يُحَدِّثُ أَبِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ


Dari Suhail bin Abi Sholih berkata, aku mendengar putera Abi Said al-Khudri menceritakan pada ayahku, dari ayahnya dia berkata: Rasulullah saw bersabda; Jika seorang di antaramu menguap maka hendaklah menahan dengan tangannya diletakkan di mulutnya, karena syaitan akan masuk.” (Shahih Muslim 14/264). Allohu A`lam

Dikirim pada 11 Desember 2011 di Bab. Sholat


Tanya : Bismillah … ustadz Abu adakah ucapan atau doa saat ada yang iqamah atau selesai mendengar iqamah? YR Tasikmalaya

Jawab : Mengenai ucapan saat adzan berkumandang, maka bagi yang mendengar panggilan itu kita mengucapkan seperti yang diucapkan oleh yang adzan. Kecuali lafadz "Hayya `alas-sholat dan Hayya `alal-falah", maka bagi yang mendengar mengucapkan "Laa haula walaa quwwata illa billah" ” (HR. Muslim no. 848 dari Umar Ibn Khathab).

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، فَقاَلَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Apabila muadzin mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka salah seorang dari kalian mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Kemudian muadzin mengatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah”, maka dikatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.” Muadzin mengatakan setelah itu, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, maka dijawab, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alash Shalah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alal Falah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.” Kemudian muadzin berkata, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka si pendengar pun mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Di akhirnya muadzin berkata, “La Ilaaha illallah”, ia pun mengatakan, “La Ilaaha illallah” Bila yang menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti masuk surga.”

Kemudian setelah adzan atau setelah mendengar adzan kita shalawat dan memohon washilah untuk Nabi saw yaitu do`a "allohumma rabba haadzihid-da`wati .." (HR. Al-Jama`ah kecuali Buhary dan Ibn Majah : Nailu al-Authar 2 :62)

Adapun mengenai ucapan atau do`a saat iqamah dikumandangkan, saya belum menemukan haditsnya. Ada juga hadits yang di riwayatkan oleh Imam Abi Dawud dari Abi Umamah (lihat Aunu al-Ma`bud 2 : 230), yang menjelaskan :

"…Sesungguhnya Bilal mengumandangkan iqamah, ketika sampai pada lafazd "Qad qaamatis-shalat", Nabi membaca : Aqamahallohu wa adaamaha …"

Namun hadits ini oleh para ahli hadits dipandang sebagai hadits yang dhaif, sebab dalam sanadnya ada seseorang yang tidak dikenal (majhul) dan Syahr bin Husab adalah seseorang yang diperselisihkan oleh banyak pihak (Nailu Al-Authar 2 : 60). Allohu A`lam



Dikirim pada 02 Desember 2011 di Bab. Adzan dan Iqomah


Tanya : Assalamu`alaikum … pak ustadz, banyak perempuan (muslimah) yang memakai kerudung (berjilbab) tapi akhlaknya tidak baik. Tapi ada wanita muslimah tidak pake kerudung malah suka membantu. Ini bagaimana ustadz? GLK Kuningan

Jawab : Wa`alaikumussalam …Tidak setiap yang memakai kerudung ia seorang muslimah (yang mentaati syariah Islam), tapi seorang muslimah tentu wajib berjilbab (menutup aurat). Sebab orang yang berkerudung belum tentu ia menyadari kewajibannya tutup aurat, tapi mungkin karena mode pakaian atau niat yang lainnya. Akhirnya banyak wanita yang berkerudung, tapi tidak menutup aurat. Bukankah mencuri atau hal negative lainnya itu aurat (aib) yang mesti dijauhi oleh seorang muslimah? Allohu A`lam

Dikirim pada 30 November 2011 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb.

ustadz, saya Harry Darmawan, saya ingin konsultasi tentang masalah yang saya alami sekarang. saya berniat menikahi seorang perempuan yang kebetulan mualaf pada tanggal 8 Des 2011). orang tua calon isteri saya dan ibu saya sudah sama sama merestui penikahan kami. masalahnya adalah ketika keluarga calon isteri saya meminta akad nikah dilaksanakan di rumah mereka (non muslim) meskipun acara ijab kabul nya adalah tetap secara islami. keluarga saya sangat keberatan bila acara tersebut dilakukan disana, padahal mengenai makanan dan alat makan akan kami bawa dari keluarga kami yang muslim. karena kemampuan keuangan saya memang setelah akad tidak dilaksanakan resepsi besar besarn kami rencanannya hanya mengundang tetangga dan keluarga untuk makan makan setelah acara akad nikah. pertanyaan saya ustad, apakah memang ada ayat al Quran atau hadist yang melarang acara pernikahan dirumah mempelai perempuan yang kebetulan non muslim? (sebenarnya keluarga mempelai perempuan memberi pilihan akad nikah dan resepsi salah satu dilaksanakan dirumah mereka, tapi karena saya tidak memiliki kemampuan menyelenggarakan resepsi maka pilihannya hanya akad nikah dan makan sederhana di rumah mereka) Terima Kasih ustadz.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jawab : Wa`alaikumussalam Wr.Wb. Tidak ada masalah akad nikah anda dilakukan dirumah keluarga calon istri anda, dan pernikahannya sah. Sebab yang menentukan sah dan tidaknya adalah ijab qabul anda dengan wali nikah disaksikan minimal oleh dua orang saksi yang tentu muslim. Jika orang tua calon istri anda non muslim, maka tentu walinya adalah wali hakim.mengenai makanan itu hal teknis yang bisa diatur. Allohu A`lam

Dikirim pada 25 November 2011 di Bab. Nikah
25 Nov


Tanya : pa ustadz yang sy mulyakan...! sy mau tanya: kalo bersedekah katanya kita harus ikhlas, tidak boleh ria, tetapi sy dengar pernyataan bahwa bersedekah boleh ria asal pada bulan maulid, bagaimana apakah benar begitu? terima kasih. RATNA WATI

Jawab : Dalam semua ibadah termasuk ibadah shadaqah, jika ingin diterima amal tersebut, maka salah satu unsure yang harus ada adalah unsure ikhlas. Ikhlas tidak mengenal waktu atau bulan. Mungkin yang dimaksud itu bukan boleh riya, tapi boleh terang-terangan. sebab shadaqah itu boleh secara sembunyi (tidak diketahui oleh yang lainnya) tapi tetap unsure ikhlas harus ada. Sebab ikhlas itu letaknya dalam hati. Di bulan apapun shadaqah boleh dilakukan dengan terang-terangan, boleh secara sembunyi dan harus ikhlas. Allohu A`lam

Dikirim pada 25 November 2011 di Bab. Perzakatan


Tanya : Kang Abu, saya ingin bertanya mengenai hadits mengangkat (lagi) imam untuk yang masbuq, apa kang haditsnya? Kedudukan haditsnya gimana? Menurut pendapat akang gimana tentang hal ini ? Priska Bdg

Jawab : Hadits yang dijadikan sandaran bahwa dalam shalat yang makmum ketinggalan (masbuq) yang kebetulan jumlah yang masbuqnya lebih dari satu orang, boleh membuat formasi/menjadi shalat berjama’ah. Hadist ini terdapat dalam kitab shahih muslim, jilid II bab ”al-mashu ’ala an-Nashiyah" begitu juga terdapat dalam bab ”taqdimu al-jama’ah man yushalli” dengan redaksi yang sedikit berbeda. Berikut adalah haditsnya:

أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ غَزَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبُوكَ قَالَ الْمُغِيرَةُ فَتَبَرَّزَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ الْغَائِطِ فَحَمَلْتُ مَعَهُ إِدَاوَةً قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ فَلَمَّا رَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيَّ أَخَذْتُ أُهَرِيقُ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ الْإِدَاوَةِ وَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثُمَّ ذَهَبَ يُخْرِجُ جُبَّتَهُ عَنْ ذِرَاعَيْهِ فَضَاقَ كُمَّا جُبَّتِهِ فَأَدْخَلَ يَدَيْهِ فِي الْجُبَّةِ حَتَّى أَخْرَجَ ذِرَاعَيْهِ مِنْ أَسْفَلِ الْجُبَّةِ وَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ تَوَضَّأَ عَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ أَقْبَلَ قَالَ الْمُغِيرَةُ فَأَقْبَلْتُ مَعَهُ حَتَّى نَجِدُ النَّاسَ قَدْ قَدَّمُوا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فَصَلَّى لَهُمْ فَأَدْرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ فَصَلَّى مَعَ النَّاسِ الرَّكْعَةَ الْآخِرَةَ فَلَمَّا سَلَّمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُتِمُّ صَلَاتَهُ فَأَفْزَعَ ذَلِكَ الْمُسْلِمِينَ فَأَكْثَرُوا التَّسْبِيحَ فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ ثُمَّ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ قَالَ قَدْ أَصَبْتُمْ يَغْبِطُهُمْ أَنْ صَلَّوْا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا

"Bahwasannya Muqhirah bin Syu’bah menceritakan, bahwa dia berperang bersama Rasulullah Saw diperang Tabuk. Mughirah berkata; Rasulullah hendak membuang hajat, kemudia mencari tempat yang tertutup, maka aku bawakan satu ember air sebelum shalat subuh, ketika beliau kembali, aku tuangkan air dari ember itu ketangannya, beliau membasuh tiga kali, kemudian membasuh wajahnya, kemudian menyingsingkan jubahnya untuk mengeluarkan lengannya, akan tetapi lengan jubah itu sempet, maka Rasulullah memasukan tangannya kedalam jubahnya dan mengeluarkannya dari bawah jubah, maka beliau membasuh kedua tangannya sampai kedua sikunya, kemudian beliau berwudlu di atas khuf (maksudnya tidak membasuh kaki, tapi beliau cukup mengusap bagian atas khuf (semacam kaos kaki yang terbuat dari kulit), kemudian beliau bergegas (menyusul rombongan), Mughirah berkata: akupun bergegas bersama beliau, maka kami mendapati rombongan (para sahabat) sedang shalat, dan Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam mereka, dan sudah masuk rakaat terakhir. Maka ketika Abdurrahman bin Auf salam dan selesai shalat, Rasulullah menyempurnakan shalatnya, maka hal itu membuat kaum muslimin keheranan (Rasulullah menjadi ma’mum), merekapun memperbanyak tasbih, maka ketika Rasulullah selesai shalat, beliau menghadap kepada para sahabat dan berkata: ahsantum (kalian telah berbuat benar), Mughirah berkata: atau beliau waktu itu mengatakan: kalian benar, dimana mengajak manusia untuk shalat tepat pada waktunya.

Dalam riwayat lain dengan redaksi yang sedikit berbeda, namun pada kasus yang sama:


عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَخَلَّفْتُ مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى حَاجَتَهُ قَالَ أَمَعَكَ مَاءٌ فَأَتَيْتُهُ بِمِطْهَرَةٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ ثُمَّ ذَهَبَ يَحْسِرُ عَنْ ذِرَاعَيْهِ فَضَاقَ كُمُّ الْجُبَّةِ فَأَخْرَجَ يَدَهُ مِنْ تَحْتِ الْجُبَّةِ وَأَلْقَى الْجُبَّةَ عَلَى مَنْكِبَيْهِ وَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ وَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَعَلَى الْعِمَامَةِ وَعَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ رَكِبَ وَرَكِبْتُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَوْمِ وَقَدْ قَامُوا فِي الصَّلَاةِ يُصَلِّي بِهِمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَقَدْ رَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً فَلَمَّا أَحَسَّ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ فَصَلَّى بِهِمْ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقُمْتُ فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا

Dari muqhirah bin syu’bah dari ayahnya dia berkata: Rasulullah tertinggal (dari rombongan pasukan) dan aku tertinggal bersama beliau, ketika beliau selesai dari hajatnya, beliau bertanya apakah kamu ada air? Maka aku bawakan ember (tempat bersuci), kemudian membasuh kedua telapak tanganya, wajahnya dan menyingkap lengannya, namun lengan jubahnya terlalu sempit, maka beliau mengeluarkan tangannya dari bahwa jubah, dan meletakkan jubahnya di atas bahunya, kemudian beliau membasuh kedua lengannya dan mengusap ubun-ubunnya, dan bagian atas surbannya serta kedua khufnya (semacam kaos kaki dari kulit), kemudian beliau naik (kendaraan) dan akupun naik, ketika kami sampai pada rombongan kaum (para sahabat), mereka sedang shalat yang diimami oleh Abdurrahman bin Auf, dan sudah selesai satu rakaat, ketika (Abdurrahman bin Auf) menyadari kedatangan Rasulullah, dia mundur, maka Rasulullah memberi isyarat kepadanya, maka (Abdurrahman bin Auf) meneruskan tetap mengimami shalat mereka, maka ketika Abdurrahman bin Auf salam (selesai shalat), Rasulullah berdiri, dan aku berdiri, kami ruku’ (menyempurnakan) rakaat yang tertinggal.

Namun dalam hadits tersebut diatas, sejauh pemahaman saya tidak ada redaksi yang menunjukkan secara pasti bahwa Rasulullah Saw dengan Mughirah bin Syu’bah shalat secara berjama’ah ketika menyempurnakan raka’at yang tertinggal.

Mungkin lafadz “ركعنا /kami ruku’ (menyempurnakan rakaat yang tertinggal)”, itu yang difahami bahwa Rasulullah Saw dalam menyempurnakan rakaat yang tertinggal dilakukan dengan berjama’ah bersama Mughirah yang menggunakan kata kami. Sehingga dalam terjemahannya diterjemahkan berjama’ah. Padahal kata kami tidak menunjukkan bersama atau berjamaah, akan tetapi menunjukkan lebih dari satu orang (yang masbuq). Artinya Mughirah menerangkan dirinya dan Rasulullah menyempurnakan (menambah) rakaat yang tertinggal. Sekali lagi tidak ada dalam hadits tersebut lafadz yang menunjukkan kami lakukan dengan berjama’ah. Hal itu dikuatkan dengan hadits yang sebelumnya, dimana Mughirah hanya menerangkan bahwa Rasulullah kemudian menyempurnakan shalatnya, tanpa menerangkan dirinya sendiri, sehingga tidak menggunakan lafadz ”kami”. Jika ditinjau dari segi hukum fikih, bahwa makmum yang masbuq mempunyai status (nilai) berjama`ah, sebagaimana dengan jama’ah awal yang telah selesai shalat itu. Hal ini berdasarkan keterangan, diantaranya :

" …. Barangsiapa mendapati satu raka`at bersama imam berarti ia telah mendapati shalat jama`ah" (Muttafaqun `Alaihi dari Abi Harairah)

"….. Barangsiapa mendapati satu raka`at shalat Jum`at atau shalat jama`ah lainnya berarti ia telah mendapati shalat berjama`ah" (Sunan Ibnu Majah I/202 no. 1110 dari Ibn Umar)

"….Jika shalat telah ditegakkan maka janganlah kamu mendatanginya dengan tergesa-gesa. Berjalanlah dengan tenang dan kerjakanlah apa yang kamu dapati bersama imam serta sempurnakanlah apa yang terluput darinya" (Shahih Muslim I/420 no. 602 dari Abi Hurairah)

Hadits diatas menunjukkan bahwa pahala berjamaah telah terpenuhi, sekalipun hanya kebagian satu rakaat bersama imam berjamaah, tanpa harus membuat shalat berjamaah baru. Apalagi kalau kita melihat bagaimana saat para shahabat menambah satu rakaat (lagi) sampai lebih dari 2 orang (dalam shalat khauf), setelah mendapat satu rakaat masing-masing kelompok dengan Nabi saw. Dan para shahabat bahkan menambahkannya rakaat itu dikatakan masing-masing.

Dari Ibn Umar ra. berkata : Saya pernah (pergi) berperang bersama Rasulullah saw. Diarah Nejd, dan keadaan kami menghadap musuh. (Ketika mau shalat) kami membikin beberapa barisan menghadap mereka. Kemudian Rasul saw berdiri dan shalat bersama kami. Lalu satu golongan/barisan shalat (dulu) bersamanya dan satu barisan lagi menhadap musuh. Lalu Nabi ruku dan sujud dua kali (shalat satu rakaat) bersama barisan itu. Kemudian (barisan itu yang shalat) menggantikan tempat yang belum shalat (menghadap musuh). Lalu mereka (barisan penjaga musuh) datang dan Nabi shalat (juga) bersama mereka satu rakaat (ruku dan sujud), kemudian Nabi saw salam. Lalu berdiri (menambah rakaat) tiap-tiap seorang dari mereka, dan mereka ruku dan sujud dua kali (menambah satu rakaat) dengan sendiri-sendiri (HR.Bukhary Muslim). Allohu A`lam

Dikirim pada 25 November 2011 di Bab. Sholat
17 Nov


Tanya : Assalamu`alaikum .. pak ustadz apa sebenarnya walimah itu, Karena kita sering mendengar kata walimahan! Syukran FGR Banjar

Jawab : Wa`alaikumussalam, kata walimah berasal dari al-walam yang mempunyai arti al-jam`u (berkumpul), karena setelah prosesi ijab qabul dalam akad nikah keduanya biasa dan bisa berkumpul. Ada juga yang mengartikan al-walim itu makanan pengantin, yang maksudnya adalah makanan yang disediakan khusus dalam acara pesta pernikahan. Bisa juga diartikan dengan makanan untuk tamu undangan atau lainnya. Ibnu Atsir dalam kitabnya an-Nihayah (juz V/226), yang dikutip oleh Zakiyah Darajat dkk, mengemukakan bahwa walimah adalah: "yaitu makanan yang dibuat untuk pesta pernikahan". Sedangkan menurut Ibn Arabi, bahwa kata walimah mengandung makna sempurna dan bersatunya sesuatu. Sebagai istilah, walimah biasanya digunakan untuk menyebut perayaan tasyakur atas terjadinya peristiwa yang menggembirakan. Namun istilah ini mengalami penyempitan makna, digunakan sebagai istilah untuk perayaan tasyakur pernikahan (walimatu al-`urs). Hal ini merujuk kepada sebuah keterangan tentang hal itu, (yaitu) sebuah perintah Nabi saw kepada Abdurrahman bin Auf ra saat selesai akad nikah yang oleh beliau kelihatan dari dandananya. Maka sabda Nabi saw :

Selenggarakan walimah, sekalipun dengan (menyembelih) seekor kambing (al-Hadits)

Namun hukum walimah itu sendiri menurut jumhur ulama hanya sampai kepada sunnah muakkadah (sunnat yang penuh penekanan untuk dilakukan). Allohu A`lam

Dikirim pada 17 November 2011 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum … pak ustadz Abu yang insya Allah dirahmati Allah swt. Saya dari Malasyia ingin bertanya, semoga ustadz berkenan menjawabnya. Begini sy sering keluar darah yg bukan masanya haidh atau bahkan keluar setelah bbrp hari setelah bersih dari haid. Kata temen saya itu bukan haidh tapi Istihadhah. Yg sy tanyakan. Pertama, apa istihadhah itu? Kedua, apa yg membedakan darah haid dg itihdhah? Ketiga, apa sama hukum yg hrus dilakukan saat istihadhah dengan saat haid? Sykrn … MS

Jawab : Wa`alaikumussalam, Ibnu Manzhur memberikan makna bahwa istihadhah merupakan pecahan kata dari haidh, yaitu darah yang keluar terus-menerus dari wanita setelah masa haidnya (lisanu al-Arab 7/142). Secara istilah syar`I darah istihadhah adalah darah yang keluar terus-menerus bukan pada masa haidh atau nifas atau setelah (bersambung) dengan keduanya. Istihadhah merupakan darah penyakit disebabkan urat yang terputus (lihat Fiqh al-Sunnah 1/216).

Dalam beberapa tulisan, para ahli membedakan antara darah haidh dan istihadhah antara lain :

Darah haid warnanya merah pekat, kental, dan baunya tidak enak. Sedangkan darah Istihadhah warnanya merah, tidak kental, dan tidak berbau.
Darah haidh keluar dari rahim. Darah istihadhah keluar dari mulut rahim
Haidh adalah darah sehat yang keluar pada waktu-waktu tertentu. Istihadhah adalah darah penyakit yang bias keluar sewaktu-waktu, tidak ruthin pada waktu tertentu.
Darah haid tidak beku, sebab darah haid pada mulanya sudah beku didalam rahim, kemudian pecah dan mengalir. Darah istihadhah bias beku, istihadhah adalah penyakit karena urat yang erputus (lihat Majalah Al-Furqon edisi 1 th II)
Wanita yang istihadhah tidak seperti saat datang haidh. Ia harus tetap melaksanakan shalat dan shiyam. Dan setiap mau malksanakan shalat dibersihkan, kemudian jika wudhu jika belum punya wudhu dan shalat. Dan tidak wajib mandi saat mau shalat. (lihat Fathu al-Baari 1/427). Wanita istihadhah juga boleh berkumpul dengan suaminya dan boleh beri`tikaf dimasjid dan shalat.

Nabi saw pernah melakukan I`tikaf bersama salah seorang istrinya, padahal istrinya seseorang yang melihat darah dan cairan kekuningan (mustahadhah), ember kecil selalu dibawanya dan dia dalam keadaan shalat. (HR. Bukhari 310)

Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathu al-Baari 1/412) mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya wanita mustahadhah (yang istihadhah) berdiam diri dimasjid. I`tikaf dan shalatnya sah. Allohu A`lam

Dikirim pada 17 November 2011 di Bab. Bersuci
13 Nov


Tanya : Bismillah, ustadz Abu …apakah kita dibenarkan meminta pertolongan Jin? Dan apakah Jin itu bisa dilihat? Dan apakah Jin itu suka makan? Dimana tempat Jin itu? DF Klender Jakarta Timur

Jawab : Kalau kita lihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata jin diartikan sebagai makhluk halus (yang dianggap berakal). Dari segi bahasa Alquran, kata jin terambil dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf: jim, nun, nun.

Menurut pakar-pakar bahasa, semua kata yang terdiri dari rangkaian ketiga huruf ini mengandung makna ketersembunyian atau ketertutupan. Kata janna dalam Alquran surah Al-An’am ayat 76 berarti menutup. Kebun yang lebat pepohonannya sehingga menutup pandangan dinamai jannah. Surga juga dinamai jannah karena hingga kini ia masih tersembunyi, tidak terlihat oleh mata. Manusia yang tertutup akalnya (gila) dinamai majnuun, sedangkan bayi yang masih dalam perut ibu karena ketertutupannya oleh perut dinamai janin. Al-junnah adalah perisai karena dia menutupi seseorang dari gangguan orang lain, baik fisik maupun nonfisik.

Orang-orang munafik menjadikan sumpah mereka sebagai junnah demikian Alquran surah Al-Munafiqun ayat 3, yakni menjadikannya sebagai penutup kesalahan agar mereka terhindar dari kecaman atau sanksi. Kalbu manusia dinamai janaan karena ia dan isi hati tertutup dari pandangan dan pengetahuan. Karena itu pula roh dinamai janaan. Kubur, orang mati, kafan semuanya dapat dilukiskan dengan kata janaan karena ketertutupan dan ketersembunyian yang selalu berkaitan dengannya. Kata jin pun demikian, ia tersembunyi dan tertutup. Tetapi, apa makna ketertutupan dan ketersembunyiannya, serta sampai di mana batasnya?

Haram hukumnya meminta bantuan jin untuk mengetahui penyakit yang hinggap atau cara mengobatinya, atau untuk hal apapun. Karena meminta pertolongan dari jin itu syirik, berdasarkan firman Allah:

Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan..” (Q.S Al-Jin : 6)

Manusia tidak dapat melihat jin dalam bentuk yang asli karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga; ia menanggalkan pakaiannya dari keduanya untuk memperlihatkan–kepada keduanya–‘auratnya. Sesungguhnya, ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-A’raf:27)

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Setan terkadang menjelma dengan berbagai bentuk sehingga memungkinkan (bagi manusia) untuk melihatnya. Firman Allah ta’ala, ‘Sesungguhnya, ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka,’ dikhususkan pada kondisi bentuknya (yang asli) yang Allah telah ciptakan.” (Fathul Bari, penjelasan hadis no. 2311)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa suatu ketika Nabi Saw membawa sebelanga air untuk berwhudu dan berhajat. (ketika ia [Abu Hurairah] mengikutinya, Nabi Saw bersabda, "siapa ini?" ia berkata, "aku, Abu Hurairah". Nabi Saw bersabda, "bawakan aku batu (untuk bersuci), jangan tulang atau kotoran hewan". Abu Hurairah selanjutnya berkata; maka dengan ujung bajuku aku membawakan sejumlah batu dan setelah itu pergi menjauh. setelah selesai, aku berjalan bersamanya dan berkata, "mengapa (kau melarangku membawa) tulang atau kotoran binatang?" Nabi Saw bersabda, "itu makanan jin".(HRBukhary 115)

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Rasulullah saw. mendatangi tempat buang air lalu memerintahkan aku untuk mencari tiga buah batu. Aku menemukan dua buah batu dan berusaha mencari satu lagi namun tidak kutemukan. Lalu aku mengambil kotoran hewan dan membawanya kepada Rasulullah saw. Beliau mengambil dua buah batu dan membuang kotoran hewan. Beliau bersabda, ‘Benda ini adalah kotoran (najis)’,”[1] (HR Bukhari (156).

Diriwayatkan dari ‘Amir, ia berkata, “Aku bertanya kepada ‘Al-Qamah, apakah Ibnu Mas’ud turut menyaksikan bersama Rasulullah saw. pada malam beliau bertemu utusan jin?” ‘Al-Qamah berkata, “Aku telah bertanya kepada ‘Abdullah bin Mas’ud, Adakah salah seorang dari kalian yang menyertai Rasulullah saw. pada malam beliau bertemu dengan utusan jin?” Ia menjawab, “Tidak ada! Namun pada malam itu kami bersama Rasulullah saw., lalu kami kehilangan beliau. Kami telah mencari beliau di lembah dan jalan perbukitan, namun tidak menemukan beliau, hingga kami katakan, ‘Barangkali beliau dibawa jin atau beliau dibunuh secara misterius.’ Kami pun melewati malam paling kelabu dalam hidup kami. Pagi harinya tiba-tiba beliau muncul dari arah Hiraa’. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu dan kami telah berusaha mencarimu namun tidak ketemu, kami pun melewati malam paling kelabu dalam hidup kami.” Lalu beliau mengatakan, “Seorang utusan jin datang menemuiku, lalu aku pergi bersamanya. Aku membacakan Al-Qur’an kepada mereka.” Kemudian Rasulullah saw. membawa kami ke tempat itu dan memperlihatkan kepada kami jejak-jejak mereka dan bekas api unggun mereka. Mereka telah meminta bekal kepada Rasulullah saw. Beliau berkata, “Bagi kalian setiap tulang yang kalian temukan yang diucapkan nama Allah padanya. Makanan itu lebih baik bagi kamu dari pada daging, dan setiap kotoran hewan adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.” Kemudian Rasulullah saw. berkata, “Maka dari itu, janganlah kalian beristinja’ dengan kedua benda tersebut karena keduanya adalah makanan saudara kalian dari kalangan jin,” (HR Muslim 450).

Seperti halnya manusia, jin juga punya tempat tinggal dan bahkan beranak pinak. Tentu saja, tempat tinggalnya berbeda dengan tempat tinggal manusia. Rumahnya tak terlihat oleh manusia. Bahkan, dalam berbagai literatur, disebutkan bahwa sebelum Nabi Muhammad SAW diutus menjadi rasul, kaum jin pernah menduduki beberapa tempat yang ada di langit. Di sana, mereka mendengar berita dan informasi yang ada di langit. Namun, ketika Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul, para jin ini tidak lagi tinggal di tempat tersebut. Bahkan, mereka juga tak mampu mencari informasi atau kabar dari langit. Lihat surah Al-Jin ayat 8-9. Sejak tak mampu lagi menembus kabar dari langit dan bertempat tinggal di sana, para jin mencari tempat tinggal yang baru. Mereka tinggal di atas muka bumi ini. Rasul SAW mengabarkan, banyak tempat yang disukai oleh jin, di antaranya laut, kamar mandi, tempat yang kotor (sampah), dan lainnya.

Toilet adalah salah satu tempat di muka bumi yang disukai jin. Karena itu, Nabi SAW menganjurkan setiap orang yang akan memasuki toilet memohon perlindungan Allah SWT dengan membaca, "Allahumma inni a`udzu bika min al-khubutsi wa al-khaba`its (Ya, Allah, aku memohon perlindunganmu dari gangguan jin pria dan jin wanita)."
Quraish Shihab menjelaskan, pegunungan, lautan, pasar, dan atap rumah juga disebut-sebut dalam berbagai riwayat sebagai tempat yang disukai jin. Ibnu Taimiyah menulis bahwa jin banyak berada di tempat-tempat kumuh, yang di dalamnya terapat najis, seperti tempat pembuangan sampah dan kuburan.

Sebagaimana manusia dan hewan, para jin ini juga makan dan minum, menikah, dan beranak pinak. Menurut Syekh Abdul Mun`im Ibrahim, para jin ini adalah penghuni dunia yang hidup di tempat-tempat sepi dari manusia dan di padang pasir. Dan di antara para jin itu, ada yang hidup di pulau-pulau di tengah laut, di tempat sampah, di tempat rusak, dan di antara mereka ada yang hidup bersama manusia. Allohu A`lam

Dikirim pada 13 November 2011 di Bab. Aqidah


Tanya : Aslm. Afwan konsultasi waris. Ada seorang suami menikah lagi setelah istri pertama meninggal tanpa anak. jika suami kelak wafat, apakah istri pertama masih mendapatkan bagian harta dari suaminya yang akan dibagikan ke saudara istrinya (ipar)? Haeruddin

Jawab : Wa`alaikumussalam. Yang disebut ahli warits adalah mereka yang masih ada (hidup) dan ditinggal mati oleh seseorang, baik oleh suami, istri, anak, ayah, ibu dll. Jika suami meninggal, maka salah satu ahli waritsnya adalah istrinya, begitupun sebaliknya. Dalam kasus pertama diatas justru salah satu ahli warits adalah suami dari peninggalan istri (pertama) yang meninggal. Kemudian jika suami itu meninggal, maka istri yang ada (kedua) menjadi salah satu dari ahli waritsnya. Dan saudara dari istri pertama (adik atau kakak ipar) bukanlah ahli waritsnya. Adik atau kakak ipar bukanlah ahli warits dari yang meninggal. Allohu A`lam

Dikirim pada 11 November 2011 di Bab. Mawarits


Karena banyak yang bertanya tentang shaum di 10 awal bulan Dzullhijjah, baik melalui telp (10 penelp), SMS (23 SMS), maupun via email (20 email), maka kami sajikan tulisan al-Ustadz Amien Saefullah Muchtar tentang masalah tersebut.

***************

Sebagaimana telah kita maklumi bahwa pada bulan Dzulhijjah bagi kaum muslimin yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji disyariatkan melaksanakan shaum pada tanggal 9 Dzulhijjah yang dikenal dengan sebutan shaum Arafah, sebagaimana diterangkan dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً ، وَصَوْمُ عَاشُوراَءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً . - رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي -

Artinya :Dari Abu Qatadah, ia berkata,”Rasulullah saw. telah bersabda,’Shaum Hari Arafah itu akan mengkifarati (menghapus dosa) dua tahun, yaitu setahun yang telah lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum Asyura akan mengkifarati setahun yang lalu” - H.r. al-Jama’ah kecuali al-Bukhari dan at-Tirmidzi

Selain dengan sebutan shaum Arafah, shaum ini disebut pula dengan beberapa sebutan lain, yaitu:

(a) Tis’a Dzilhijjah (9 Dzulhijjah)

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ– رواه أبو داود وأحمد والبيهقي -

Dari sebagian istri Nabi saw., ia berkata, “Rasulullah saw. shaum tis’a Dzilhijjah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan” H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz VI:418, No. 2081; Ahmad, Musnad Ahmad, 45:311, No. 21302, 53:424. No. 25263, dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:285, Syu’abul Iman, VIII:268

Dalam hadis ini disebut dengan lafal Tis’a Dzilhijjah, yang berarti tanggal 9 Dzulhijjah. Hadis ini memberikan batasan miqat zamani (ketentuan waktu pelaksanaan) shaum ini, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

(2) Shaum al-‘Asyru

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ : أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَ العَشْرَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلغَدَاةِ - رواه أحمد و النسائي -

Dari Hafshah, ia berkata,” Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. : shaum Asyura, shaum arafah, shaum tiga hari setiap bulan dan dua rakaat qabla subuh.”.H.r. Ahmad, al-Musnad, X : 167. No. 26521 dan an-Nasai, Sunan an-Nasai, II : 238

Kata al-‘Asyru secara umum menunjukkan jumlah 10 hari. Berdasarkan makna umum itu, maka dapat dipahami dari hadis tersebut bahwa Rasul tidak pernah meninggalkan shaum 10 hari bulan Dzulhijjah. Namun pemahaman itu jelas bertentangan dengan ketetapan Nabi sendiri yang melarang shaum pada hari Iedul Adha (10 Dzulhijjah) (Hr. An-Nasai, as-Sunan al-Kubra, II:150) serta penjelasan Aisyah “Aku sama sekali tidak pernah melihat Nabi shaum pada 10 (Dzulhijjah)” (H.r. Muslim)

Dengan demikian kata al-Asyru pada hadis ini sama maksudnya dengan Tis’a Dzilhijjah pada hadis di atas. Adapun penamaan shaum tanggal 9 Dzulhijjah dengan al-‘Asyru, karena hari pelaksanaan shaum tersebut termasuk pada hari-hari al-‘Asyru (10 hari bulan Dzulhijjah) yang agung sebagaimana dinyatakan Rasul dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلعم وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ – رواه الترمذي

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata, ‘Rasulullah saw. Bersabda, ‘Tidak ada dalam hari-hari yang amal shalih padanya lebih dicintai Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini. Para sahabat bertanya, ‘(apakah) jihad fi Sabilillah juga tidak termasuk? Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali seseorang yang berkorban dengan jiwanya dan hartanya kemudian dia tidak mengharapkan apa-apa darinya.’ Hr. At-Tirmidzi, Tuhfah al-Ahwadzi, III: 463

Selain itu penamaan tersebut menunjukkan bahwa hari ‘Arafah itu hari yang paling agung di antara hari-hari yang sepuluh itu, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi saw.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ المَلاَئِكَةُ فَيَقُولُ : مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟ - رواه مسلم -

“Tiada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah, dan bahwa Ia dekat. Kemudian malaikat merasa bangga dengan mereka, mereka (malaikat) berkata, ‘Duhai apakah gerangan yang diinginkan mereka?’.” (H.r. Muslim, Shahih Muslim, I : 472)

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa penamaan shaum itu dengan yaum Arafah, Tis’a Dzilhijjah, dan al-Asyru menunjukkan bahwa pelaksanaan shaum tersebut terikat oleh miqat zamani, yakni tanggal 9 Dzulhijjah (hanya 1 hari).

Pertanyaan:

Bukankah pada hadis-hadis lain diterangkan bahwa shaum itu bukan hanya 9 Dzulhijjah?

Jawaban:

Benar kami temukan sekitar 5 hadis yang menunjukkan bahwa shaum di bulan Dzulhijjah itu bukan hanya shaum Arafah, namun hadis-hadis itu dhaif bahkan palsu sebagai berikut:

A. Tanggal 1 dan 9 Dzulhijjah

فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ ذِي الْحِجِّةِ وُلِدَ إِبْرَاهِيمُ : فَمَنْ صَامَ ذلِكَ اليَوْمَ كَانَ كَفَّارَةُ سِتِّينَ سَنَةً.

“Pada malam awal bulan Dzulhijah itu dilahirkan Nabi Ibrahim, maka siapa yang shaum pada siang harinya, hal itu merupakan kifarat dosa selama enam puluh tahun” (Lihat, Tadzkirrah al-Maudhu’at, hal. 119)

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ ذِي الْحِجِّةِ وُلِدَ إِبْرَاهِيمُ : فَمَنْ صَامَ ذلِكَ اليَوْمَ كَانَ كَفَّارَةُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً - وَفِي رِوَايَةٍ - سَبْعِيْنَ سَنَةً وَفِي تِسْعٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ أَنْزَلَ اللهُ تَوْبَةَ دَاوُدَ فَمَنْ صَامَ ذلِكَ اليَوْمَ كَانَ كَفَّارَةُ سِتِّينَ سَنَةً - وَفِي رِوَايَةٍ - غَفَرَ اللهُ لَهُ كَمَا غَفَرَ ذَنْبَ دَاوُدَ

“Pada malam awal bulan Dzulhijah itu dilahirkan Nabi Ibrahim, maka siapa yang shaum pada hari itu, hal itu merupakan kifarat dosa selama delapan puluh tahun. Dan pada suatu riwayat tujuh puluh tahun. Dan pada 9 Dzulhijjah Allah menurunkan taubat Nabi Daud, maka siapa yang shaum pada hari itu, hal itu merupakan kifarat dosa selama enam puluh tahun” Dan pada suatu riwayat: “Allah mengampuninya sebagaimana Dia mengampuni dosa Nabi Daud” (H.r. ad-Dailami, al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab, III:142, hadis No. 4381, II:21 No. 2136, IV:386, No. 7122; Lihat pula Tanzih as-Syari’ah, II:165 No. 50; Maushu’ah al-Ahadits wal Atsar ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah, VI:235 No. 14.953)

Keterangan:

Hadis-hadis di atas dengan berbagai variasi redaksinya adalah maudhu (palsu) karena diriwayatkan oleh seorang pendusta bernama Muhamad bin Sahl. (Lihat, Tadzkirrah al-Maudhu’at, hal. 119)

B. selama 10 hari pertama

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah padanya daripada 10 hari Dzulhijjah. Saum setiap hari padanya sebanding dengan shaum setahun. Dan qiyamul lail setiap malam padanya sebanding dengan qiyam lailatul qadr (ٍLihat, Sunan at-Tirmidzi, III:131; Syarh as-Sunnah, II:292). Dalam kitab al-‘Ilal al-Mutanahiyah, II:563, Hadis No. 925, dengan redaksi

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرَةَ ذِي الْحِجَّةِ يُعَدُّ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Keterangan:

Imam at-Tirmidzi berkata, “Saya bertanya kepada Muhamad (al-Bukhari) tentang hadis ini, maka beliau tidak mengetahuinya selain dari jalur ini” Yahya bin Sa’id al-Qathan telah memperbincangkan Nahas bin Qahm dari aspek hapalannya. (Lihat, Sunan at-Tirmidzi, III:131)

Hadis di atas daif karena pada sanadnya terdapat dua rawi yang daif:

Pertama, Mas’ud bin Washil. Kata ad-Daraquthni, “Abu Daud at-Thayalisi menyatakan bahwa ia daif” (Lihat, Ilal ad-Daraquthni, IX:200). Kata Ibnu Hajar, “Layyin al-Hadits” (Lihat, Tahdzib at-Tahdzib, X:109; Taqrib at-Tahdzib, hal. 528)

Kedua, Nahhas bin Qahm. Kata Ibnu Hiban, “Dia meriwayatkan hadis munkar dari orang-orang populer, menyalahi periwayatan para rawi tsiqat, tidak boleh dipakai hujjah” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, XXX:28) Kata Ibnu Hajar, “dha’if” (Lihat, Taqrib at-Tahdzib, hal. 566)

صِيَامُ أَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْعَشْرِ يَعْدِلُ مِائَةَ سَنَةٍ وَالْيَوْمِ الثَّانِي يَعْدِلُ مِائَتَي سَنَةٍ فَإِنْ كَانَ يَوْمَ التَّرْوِيَةِ يَعْدِلُ أَلْفَ عَامٍ وَصِيَامُ يَوْمَ عَرَفَةَ يَعْدِلُ أَلْفَي عَامٍ

“Shaum hari pertama dari 10 hari (Dzulhijjah) sebanding dengan 100 tahun. Hari kedua sebanding dengan 200 tahun, jika hari Tarwiyyah (8 Dzulhijjah) sebanding dengan 1000 tahun, dan shaum hari Arafah (9 Dzulhijjah) sebanding dengan 2000 tahun” (H.r. ad-Dailami, al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab, II:396, hadis No. 3755)

Keterangan:

Hadis ini daif, bahkan maudhu’ (palsu) karena pada sanadnya terdapat rawi Muhamad bin Umar al-Muharram. Kata Abu Hatim, “Dia pemalsu hadis” (Lihat, ad-Dhu’afa wal Matrukin, III:96). Kata Ibn al-Jauzi, “Dia manusia paling dusta” (Lihat, al-Maudhu’at, II:198)

C. Tanggal 18 Dzulhijjah

مَنْ صَامَ يَوْمَ ثَمَانِيَّةَ عَشَرَ مِنْ ذِيْ الْحِجَّةِ كَتَبَ اللهُ لَهُ صِيَامَ سِتِّيْنَ شَهْرًا

“Siapa yang shaum hari ke-18 Dzulhijjah, Allah pasti mencatat baginya (pahala) shaum 60 bulan” (Lihat, Kasyf al-Khifa wa Muzil al-Ilbas, II:258, hadis No. 2520; al-‘Ilal al-Mutanahiyah, I:226, No. 356; al-Abathil wal Manakir, II:302, No. 714)

Keterangan:

Hadis ini daif, bahkan maudhu’ (palsu). Kata Imam ad-Dzahabi, “ini hadis sangat munkar, bahkan palsu” (Lihat, Kasyf al-Khifa wa Muzil al-Ilbas, II:258)

D. Hari Terakhir Bulan Dzulhijjah dan Hari Pertama Muharram

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَأَوَّلَ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبِلَةَ بِصَوْمٍ فَقَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَّارَةَ خَمْسِينَ سَنَةً.

“Siapa yang shaum pada hari terakhir bulan Dzulhijah dan hari pertama bulan Muharam, maka ia telah menutup tahun lalu dengan shaum dan membuka tahun yang datang dengan shaum. Sungguh Allah telah menjadikan kifarat dosa selama lima puluh tahun baginya” (Lihat, al-Laali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, II:92; al-Maudhu’at, II:199; Tadzkirrah al-Maudhu’at, hal. 118; Tanzih as-Syari’ah, II:176). Dalam kitab al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, hal. 96, No. 31 dengan sedikit perbedaan redaksi pada akhir hadis:

فَقَدْ جَعَلَهُ اللهُ كَفَّارَةَ خَمْسِينَ سَنَةً

Keterangan:

Hadis ini daif, bahkan maudhu’ (palsu). Pada sanadnya terdapat dua rawi pendusta, yaitu Ahmad bin Abdullah al-Harawi dan Wahb bin Wahb. Kata Imam as-Suyuthi, “keduanya pendusta” (Lihat, al-Laali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, II:92) Kata Imam Ibn al-Jauzi, “Keduanya pendusta dan pemalsu hadis” (lihat, al-Maudhu’at, II:199)

Kesimpulan:

Shaum yang disyariatkan pada bulan Dzulhijjah adalah shaum Arafah pada 9 Dzulhijjah

Dikirim pada 05 November 2011 di Bab. Shaum


Tanya : Assalamu`alaikum, pak ustadz Abu yang saya hormati, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan : 1). Mengapa iddah itu ada dipihak perempuan? 2). Jika iddah untuk mengetahui adanya janin, bukankah sekarang bisa diperiksa dengan alat yang canggih? 3). Hikmah apa sebenarnya dibalik adanya idda bagi istri itu? MG Jawa Timur

Jawab : Wa`alaikumussalam, Secara bahasa, iddah berasal dari kata ’adad (bilangan dan ihshaak /perhitungan). Sedangkan menurut istilah ulama mendefinisikan, kata iddah ialah sebutan/nama bagi suatu masa di mana seorang wanita menanti atau menangguhkan perkawinan setelah ia ditinggalkan mati oleh suaminya atau setelah diceraikan baik dengan menunggu kelahiran bayinya, atau berakhirnya beberapa quru’, atau berakhirnya beberapa bulan yang sudah ditentukan.

Iddah bagi istri itu tidak sama, tergantung sesuatu yang terjadi pada wanita itu. Jika istri itu ditinggal mati oleh suaminya, maka iddahnya 4 bulan 10 hari (QS>Al-Baqarah 234). Tapi jika ditinggal oleh suaminya dalam keadaan hamil, maka iddahnya sampai istri itu melahirkan. ”Dan wanita-wanita yang hamil, waktu iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (At-Thalaq : 4).

Dari al-Miswar bin Makhramah bahwa, Subai’ah al-Aslamiyah r.a. pernah melahirkan dan bernifas setelah beberapa malam kematian suaminya. Lalu ia, mendatangi Nabi saw lantar meminta idzin kepada Beliau untuk kawin (lagi). Kemudian Beliau mengizinkannya, lalu ia segera menikah (lagi). (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari IX:470 no:5320 dan Muslim II:1122 no:1485).

Sedangkan istri yang ditalaq suaminya dan belum dicampuri oleh suaminya, maka tidak ada iddah baginya (QS. Al-Ahzaab:49). Dan bagi istri yang ditalaq suaminya dalam keadaan hamil, maka iddahnya sampai melahirkan (QS.AtThalaq 4).

Dari az-Zubair bin al-Awwam r.a. bahwa ia mempunyai isteri bernama Ummu Kultsum bin ’Uqbah radhiyallahu ’anha. Kemudian Ummu Kultsum yang sedang hamil berkata kepadanya, ”Tenanglah jiwaku (dengan dijatuhi talak satu).” Maka az-Zubir pun menjatuhkan padanya talak satu. Lalu dia keluar pergi mengerjakan shalat, sekembalinya (dari shalat) ternyata isterinya sudah melahirkan. Kemudian az-Zubir berkata: ”Gerangan apakah yang menyebabkan ia menipuku, semoga Allah menipunya (juga).” Kemudian dia datang kepada Nabi saw lalu beliau bersabda kepadanya, ”Kitabullah sudah menetapkan waktunya; lamarlah (lagi) dia kepada dirinya.(sebab ia sudah habis masa iddahnya)” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1546 dan Ibnu Majah I:653 no:2026).

Jika wanita yang dijatuhi talak termasuk perempuan yang masih berhaidh secara normal, maka masa iddahnya tiga kali haidh berdasarkan Firman Allah SWT, ”Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu tiga kali quru’).”. (Al-Baqarah :228).

Iddah bukan hanya sebatas mengetahui janin yang ada dalam rahim perempuan yang ditinggal atau ditalaq suaminya. Iddah adalah sebuah ketentuan Allah swt, yang secara hukum harus dijalankan. Namun bisa saja hal ini dijadikan waktu yang tepat bagi seorang istri untuk berpikir apakah ada waktu untuk kembali jika suaminya juga berpikir kembali kepadanya. Dan pihak ketiga yang berkepentingan untuk mendamaikan, atau memberi nasihat/saran agar rumah tangganya kembali normal. Jika hal itu pun bukan yang dimaksud, tentu masa iddah ini menjadi momen penting untuk mempersiapkan diri dengan status yang baru (janda). Diluar hal itu tentunya iddah adalah bagian daro ta`abbudi dan syariat yang mesti dijalankan. Dan Allah swt tidak semata-mata menurunkan sebuah syariat, jika tidak ada kemaslahatan hamba yang menjalankannya. Allohu A`lam



Dikirim pada 03 November 2011 di Bab. Nikah


Tanya : Bismillah, pak ustadz dikalangan masyarakat Sunda suka ada istilah kepada anak,"Ulah kaluar sareupna" (jangan main atau keluar menjelang maghrib), nanti ada "sanekala" (mungkin sebutan syaithan sareupna). Apakah hal itu akan merusak aqidah, atau apakah hal itu termasuk kepercayaan yang dilarang (syirik). Mohon penjelasannya. DFe Sindangkasih Jawa Barat

Jawab : Ada kalanya apa yang dikatakan orang tua dan kedengarannya yang berbau syrik itu ternyata berdasarkan pemahaman terhadap sebuah keterangan (hadits). hanya meungkin dalam mengungkapkan hal itu, disesuaikan dengan keadaan masyarakat tersebut. Perhatikan hadits dibawah ini :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ فَإِذَا ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا

قَالَ وَأَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ نَحْوَ مَا أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ وَلَمْ يَذْكُرْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "Jika kegelapan malam datang, atau kalian berada pada petang hari, jagalah anak-anak kalian karena pada saat itu setan sedang berkeliaran. Jika malam telah berlalu beberapa saat, bolehlah kalian biarkan mereka dan tutuplah pintu rumah dan sebutlah nama Allah karena setan tidak akan membuka pintu yang tertutup". Dia (Ibnu Juraij) berkata; "Dan telah mengabarkan kepadaku [`Amru bin Dinar] dia mendengar [Jabir bin `Abdullah] seperti apa yang `Atha` kabarkan kepadaku namun tidak menyebutkan kalimat dan sebutlah nama Allah". (Bukhary No. 3059, 5192, dan Muslim No. 3756 dari jabir bin Abdillah).

Kalau melihat keterangan diatas, jelas sekali bahwa (mungkin) yang dimaksud "Sanekala" dikalangan masyarakat sunda adalah ya syaithan itu. Dan memang menurut hadits tersebut anak-anak pada waktu itu jangan dibiarkan berkeliaran (keluar rumah). Allohu A`lam




Dikirim pada 02 November 2011 di Bab. Aqidah


Tanya : Assalamualaikum ustad..saya mau nanya apa benar jika kita mau pindah ke rumah yang baru harus di adzanin+pengajian dsb..apa ada hadist yg menyatakan begitu/sekedar hanya tradisi aja? Mohon penjelasaya..terima kasih. Baim Murai

Jawab : Wa`alaikumussalam, Tidak ada ketentuan bahwa jika kita pindah rumah atau menempati rumah baru harus diadzanin. Adzan itu bukan tradisi, tapi merupakan syariat. Jika adzan dikaitkan dengan menempati rumah, maka itu sama dengan syariat baru dan bisa dikatagorikan sebagai sesuatu yang bid`ah.

Rasulullah telah memberikan tuntunan kepada kita bahwa jika kita menempati rumah baru (termasuk kontrakan baru) maka kita berdo`a. Diantara doa yang pernah diajarkan Rasulullah saw :

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya." (HR. Muslim, dari Khaulah binti Hakim)

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Nabi saw bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

"Jangan kamu jadikan rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah di dalamnya."

Dengan demikian adzan untuk menempati rumah baru tidak disyariatkan. Adapun membaca al-Quran, tentu bukan hanya saat baru ditempati, akan tetapi biasakan membaca al-Qiran itu dirumah, jangan seperti dikuburan. Allohu A`lam

Dikirim pada 28 Oktober 2011 di Bab. Do’a


Tanya : Assalamualaikum ustad abu..sy mau bertanya apa benar kalau saya belum aqiqah jangan kurban dulu,maklumlah orang tua dulu mungkin belum faham, mangkanya saya belum aqiqah.apa ada hadist yang menyatakan begitu,terima kasih atas jawabannya.. Iing Sholichin

Jawab : Wa`alaikumussalam, Kami belum menemukan hadits yang menerangkan bahwa ada larangan jika belum aqiqah jangan berqurban. Sebab antara qurban dengan aqiqah lain, baik dari sisi waktu ataupun ketentuan lainnya. Sekalipun dua-duanya termasuk sembelihan hewan. Aqiqah merupakan anjuran kepada orang tua bayi itu, qurban anjuran kepada kita. Dari batasan waktu keduanya memang ada. Aqiqah dibatasi waktu saat bayi umur 7 hari (sesuai hadits yang shahih), sedangkan qurban waktunya setiap tanggal 10 atau 11, 12, 13 Dzul hijjah. Jadi tidak benar pemahaman bahwa kalau belum aqiqah dilarang berqurban. Allohu A`lam

Dikirim pada 28 Oktober 2011 di Bab. Penyembelihan


Tanya : Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad.. apakah uzair itu seorang nabi..??dan adakah nabi perempuan..?? trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm. Rizal Syahri

Jawab : Wa`alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Tidak semua Nabi disebutkan atau dikisahkan didalam al-Quran. Nabi yang diutus oleh Allah swt itu puluhan ribu. Ada juga yang dikisahkan dalam al-Quran, tapi tidak termaktub dalam 25 Nabi dan Rasul. Namun demikian bukan berarti ia tidak termasuk Nabi. Begitu juga ada yg dikisahkan dalam al-Quran, namun bukan Nabi, seperti Lukman al-Hakim, Siti Maryam dan yang lainnya. Oleh karena itu Lukman, Siti Maryam, ashabu al-kahfi dan lainnya sekalipun dikisahkan dan disebutkan dalam al-Quran namun mereka bukanlah Nabi.

Tidak ada Nabi dari kalangan perempuan, kecuali yang mengaku Nabi. Allohu A`lam

Dikirim pada 28 Oktober 2011 di Bab. Aqidah


Tanya : Abu Alifa yang baik,

Assalamualikum wr.wb perkenalkan saya pia saat ini saya sudah menjalankan pernikahan 7 tahun alhamdulilah dikarunia seorang putri, ada pertannyaa yang ingin saya sampaikan yg selama ini saya bingung untuk mencari jalan keluar yg terbaik adapun permasalahan yang saya hadapi adalah :

Saya bekerja, suami juga kerja secara penghasilam saya jauh lebih besar dr suami, dan sy tdk pernah mempermasalahkan ini, suami saya punya teman seorang janda (suaminya meninggal) mempunyai anak 3 org (dia beragama katolik) dan secara diam2 suami sy suka memberikan sejumlah uang apabila wanita tersebut meminta bantuan yang menjadi masalah, saya merasa diperlakukan tidak adil sementara saya bekerja keras untuk menghidupi keluaga untuk biaya makan dan sekolah anak sementara suami sy dengan mudahnya memberikan uang kepada wanita lain dan dia tidak pernah membicarakan ini pada saya dan dia tidak pernah bertanya apa kebutuhan saya padahal saya pun masih memerlukan biaya karena masih punya hutang pada orang tua saya untuk biaya perbaikan rumah dan juga biaya masuk sekolah, saya pernah membicarakan masalah ini pada suami tetapi dia tidak menanggapinya dan mengulangi lagi, saya terlintas untuk menghubungi wanita tersebut secara baik2 untuk tidak mengganggu kami lagi apakah langkah saya benar atau ada hal yang lebih bijak dan baik lagi tolong saya ustadz bukan saya tidak mau menolong tetapi kalau kita berzakat atau infaq juga setahu saya kan ada aturannya kecuali harta kita berlebih mkn sy juga gak akan mempermasalahkan ini. mohon bantuannya ustadz supaya saya tidak salah memilih keputusan

Situasi ini membuat saya sedih dan merasa dihianati....saya ucapkan terimakasih banyak. Wasalam.



Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb….Ibu Pia (rospiana), dalam rumah tangga kewajiban memberi nafkah ada dipundak suami. Ibu berhak menerima atau bahkan meminta nafkah kepada suami, baik untuk ibu sendiri maupun anak-anak. Sekalipun penghasilan bapak dibawah ibu, bukan berarti kewajiban memberi nafkah menjadi berpindah ke ibu, hal itu tetap menjadi tanggungan suami. Istri (jika ingin) membantu suami dalam biaya dirumah tangga itu soal lain. Artinya ibu bisa menuntut secara baik-baik tentang hak yang harus ibu terima. Dan permintaan itu harus disesuaikan dengan kemampuan suami.

Memberi bantuan kepada orang lain (sekalipun berbeda agama) merupakan hal yang baik (amal shalih). Namun tentu harus mengutamakan tanggungan terlebih dahulu. Sebab suami memberi nafkah kepada keluarga merupakan bentuk amal ibadah. Saya tidak tahu motif dibalik pemberian (pinjaman/bantuan?) suami ibu kepada wanita itu. Namun alangkah baiknya jika ingin membantu seseorang itu, apalagi ini menyangkut hal yang sensitive dibicarakan dengan istri. Berbicaralah secara terbuka namun tidak menggurui kepada suami ibu, bicaralah dengan bahasa cinta, perlihatkan kepada suami rasa kecintaannya, karena boleh jadi suami ibu merasa kurang perhatian dari ibu sendiri, sehingga mencari perhatian dari yang lain. Belum terlambat untuk memperbaiki biduk rumah tangga ibu. Utamakan suami ibu, jangan sampai hanya karena bisnis atau apalah, suami merasa dinomor duakan. Jalin komunikasi yang baik dengan suami. Suami datang kerja sambutlah dengan senyuman, berilah apresiasi kepada suami, sekalipun hasil kerja ibu lebih banyak, jangan coba-coba bandingan dihadapan suami soal hasil kerja. Perbanyaklah berdoa, rubahlah sikap kasar, menggurui (jika ada) kepada suami. Perlihatkan kecintaan ibu terhadap suami. Insya Allah suami ibu akan berpikir seratus kali, untuk mencari pelampiasan rasa diluar.

Saya merasa ibu tidak perlu bersusah payah mendatangi wanita itu. Perbaiki saja dari dalam, jangan orang lain dilibatkan. Itu akan menambah oleng biduk rumah tangga ibu. Dan khawatir kesalahan dan kekeliruan ada dipihak keluarga. Mudah-mudahan Allah swt memberikan jalan keluar yang paling baik buat keluarga ibu. Allohu A`lam

Dikirim pada 18 Oktober 2011 di Bab. Nikah
16 Okt


Tanya : Assalamu`alaikum, pak ustadz apakah puasa Arafah itu bertalian dengan orang yang haji (wukuf) atau bertalian dengan tanggal 9 Dzul hijjah? Wassalam FGT Jakarta



Jawab : Wa`alakumussalam, Idul Qurban lebih dahulu disyariatkan dari pada ibadah haji. Dan sebelum perayaan idul Adha (yakni tanggal 10) disunatkan shaum (puasa) yang disebut puasa Arafah. Maka jika dikaikan dengan wukuf tentu kurang tepat, sebab syariat shaum sunat itu lebih dahulu dibandingkan dengan syariat haji. Untuk lebih memperdalam saya sarikan tulisan al-ustadz Amin Saefulloh Muchtar :



WUKUF BUKAN MUQADDAMAH WUJUD

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa Idul Adha ditetapkan berdasarkan waktu wukuf di Arafah. Dengan perkataan lain wukuf itu sebagai standar penetapan Iedul Adha. Istinbath ini ditetapkan berdasarkan sabda Nabi saw. tentang shaum ‘Arafah dalam hadis Abu Qatadah al-Anshari:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Berdasarkan penamaan shaum ini dengan “shaumu yaumi ‘arafah” maka dipahami bahwa shaum Arafah itu waktunya harus bersesuaian dengan waktu wukuf di ‘Arafah. Karena Idul Adha didahului oleh shaum hari Arafah, maka Idul Adha pun ditetapkan berdasarkan wukuf di Arafah itu.

Hemat kami, istinbath demikian tidak tepat dilihat dari beberapa aspek:

1. Latar belakang penamaan Arafah

Ibnu Abidin menjelaskan:

عَرَفَةُ إِسْمُ اليَوْمِ وَعَرَفَاتُ إِسْمُ المَكَانِ

“Arafah adalah ismul yaum (nama hari) dan Arafaat adalah ismul makan (nama tempat)” Hasyiah Raddil Mukhtar, II:192

Menurut Imam ar-Raghib, al-Baghawi, dan al-Kirmani Arafah adalah

إِسْمٌ لِلْيَوْمِ التَّاسِعِ مِنْ ذِي الحِجَّةِ

Nama hari ke-9 dari bulan Dzulhijjah.

Hari tersebut dinamakan Arafah berkaitan dengan peristiwa mimpinya Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih anaknya. Pada pagi harinya

فَعَرَفَ أَنَّهُ مِنَ اللهِ فَسُمِّيَ يَوْمَ عَرَفَةَ

“Maka ia mengenal/mengetahui bahwa mimpi itu benar-benar (datang) dari Allah. Maka (hari itu) dinamakan hari Arafah”. Lihat, al-Mughni, III:58

Menurut Imam al-‘Aini dan ar-Raghib Arafat adalah

عَلَمٌ لِهذَا المَكَانِ المَخْصُوصِ

Nama bagi tempat yang khusus ini. (Lihat, Umdatul Qari, I:263; dalam redaksi ar-Raghib: buq’ah makhshushah [tanah/daerah yang khusus] Lihat, al-Mufradat fi Gharibil Quran, hal. 969)

Adapun tempat tersebut dinamakan Arafah berkaitan dengan peristiwa ta’arufnya antara Nabi Adam dan Hawa ditempat itu, sebagaimana dijelaskan Ibnu Abas

وَتَعَارَفَا بِعَرَفَاتِ فَلِذلِكَ سُمِّيَتْ عَرَفَاتِ

Dan keduanya ta’aruf di Arafat, karena itu dinamai ‘Arafat. (Lihat, al-Kamil fit Tarikh, I:12). Keterangan Ibnu Abas itu dijadikan pinjakan oleh para ulama, antara lain Yaqut bin Abdullah al-Hamuwi dalam Mu’jam al-Buldan (IV:104), Ahmad bin Yahya bin al-Murtadha, dalam at-Taj al-Madzhab li Ahkam al-Madzhab, (II:89); ar-Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradat fi Gharibil Quran (hal. 969).

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa

(a) Penamaan Arafah, baik sebagai ismul yaum maupun ismul makan, sudah digunakan sebelum disyariatkan ibadah haji.

(b) Penamaan Arafah bukan karena fi’lun (wukuf dalam ibadah haji). Dengan perkataan lain, fi’lun (wukuf dalam ibadah haji) bukan muqaddamah wujud penamaan Arafah.

2. Latar belakang penamaan Shaum dengan Arafah

Nabi menyatakan:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ

Kalimat Yaum Arafah disebut idhafah bayaniyyah, yakni bayan zamani (keterangan waktu), bukan idhafah makaniyyah, apalagi idhafah fi’liyyah. Berdasarkan latar belakang penamaan di atas maka struktur kalimat Shaum Yaum Arafah harus dipahami “Shaum pada hari ke-9 bulan Dzulhijjah yang disebut hari Arafah” Dengan demikian, penyandaran kata shaum pada kalimat Yaum ‘Arafah untuk menunjukkan bahwa Yaum Arafah (hari ke-9) itu sebagai muqaddamah wujud, yaitu syarat sahnya shaum tersebut. Dengan perkataan lain, shaum itu terikat oleh miqat zamani (ketentuan waktu). Apabila struktur kalimat Shaum Yaum Arafah akan dipahami bahwa “shaum itu waktunya harus bersesuaian dengan waktu wukuf di ‘Arafah”, maka harus disertakan qarinah (keterangan pendukung), karena cara pemahaman seperti ini khilaful qiyas (menyalahi kaidah), dalam hal ini kaidah tentang idhafah bayan zamani, juga dalil-dalil tentang shaum itu. Karena dalam berbagai hadis untuk shaum ini digunakan beberapa sebutan, yaitu:

(a) Tis’a Dzilhijjah (9 Dzulhijjah)

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ r قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ r يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ– رواه أبو داود وأحمد والبيهقي -

Dari sebagian istri Nabi saw., ia berkata, “Rasulullah saw. shaum tis’a Dzilhijjah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan” H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz VI:418, No. 2081; Ahmad, Musnad Ahmad, 45:311, No. 21302, 53:424. No. 25263, dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:285, Syu’abul Iman, VIII:268

Dalam hadis ini disebut dengan lafal Tis’a Dzilhijjah, yang berarti tanggal 9 Dzulhijjah. Hadis ini memberikan batasan miqat zamani (ketentuan waktu pelaksanaan) shaum ini, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

(2) Shaum al-‘Asyru

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ : أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللهِ e : صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَ العَشْرَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلغَدَاةِ - رواه أحمد و النسائي -

Dari Hafshah, ia berkata,” Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. : shaum Asyura, shaum arafah, shaum tiga hari setiap bulan dan dua rakaat qabla subuh.”.H.r. Ahmad, al-Musnad, X : 167. No. 26521 dan an-Nasai, Sunan an-Nasai, II : 238

Kata al-‘Asyru secara umum menunjukkan jumlah 10 hari. Berdasarkan makna umum itu, maka dapat dipahami dari hadis tersebut bahwa Rasul tidak pernah meninggalkan shaum 10 hari bulan Dzulhijjah. Namun pemahaman itu jelas bertentangan dengan ketetapan Nabi sendiri yang melarang shaum pada hari Iedul Adha (10 Dzulhijjah) (Hr. An-Nasai, as-Sunan al-Kubra, II:150) serta penjelasan Aisyah “Aku sama sekali tidak pernah melihat Nabi shaum pada 10 (Dzulhijjah)” (H.r. Muslim)

Dengan demikian kata al-Asyru pada hadis ini sama maksudnya dengan Tis’a Dzilhijjah pada hadis di atas. Adapun penamaan shaum tanggal 9 Dzulhijjah dengan al-‘Asyru, karena hari pelaksanaan shaum tersebut termasuk pada hari-hari al-‘Asyru (10 hari pertama bulan Dzulhijjah) yang agung sebagaimana dinyatakan Rasul dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ r مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلعم وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ – رواه الترمذي

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata, ‘Rasulullah saw. Bersabda, ‘Tidak ada dalam hari-hari yang amal shalih padanya lebih dicintai Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini. Para sahabat bertanya, ‘(apakah) jihad fi Sabilillah juga tidak termasuk? Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali seseorang yang berkorban dengan jiwanya dan hartanya kemudian dia tidak mengharapkan apa-apa darinya.’ Hr. At-Tirmidzi, Tuhfah al-Ahwadzi, III: 463

Selain itu penamaan tersebut menunjukkan bahwa hari ‘Arafah itu hari yang paling agung di antara hari-hari yang sepuluh itu, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi saw.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ المَلاَئِكَةُ فَيَقُولُ : مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟ - رواه مسلم -

“Tiada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah, dan bahwa Ia dekat. Kemudian malaikat merasa bangga dengan mereka, mereka (malaikat) berkata, ‘Duhai apakah gerangan yang diinginkan mereka?’.” (Lihat, Shahih Muslim, I : 472)

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa

(a) Penamaan Shaum itu dengan yaum Arafah, Tis’a Dzilhijjah, dan al-Asyru menunjukkan bahwa pelaksanaan shaum tersebut terikat oleh miqat zamani (tanggal 9 Dzulhijjah)

(b) Penamaan shaum Arafah bukan karena fi’lun (wukuf dalam ibadah haji). Dengan perkataan lain, fi’lun (wukuf dalam ibadah haji) bukan muqaddamah wujud disyariatkannya shaum Arafah. Karena itu, penamaan tersebut tidak dapat dijadikan dalil bahwa waktu shaum itu harus bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah.

Untuk lebih mempertegas bahwa waktu shaum itu tidak disyaratkan harus bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, maka kita kaji berdasarkan Tarikh Tasyri’ Shaum Arafah dan Iedul Adha.

3. Tarikh Tasyri’ Shaum Arafah dan Iedul Adha

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah saw. datang ke Madinah, dan mereka mempunyai dua hari yang mereka bermain-main pada keduanya pada masa jahiliyyah. Maka beliau bersabda, ‘Sungguh Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu Hari Adha dan Hari Fitri’.” H.r. Ahmad, Musnad Ahmad, XXIV:114, No. 11568; Abu Daud, Sunan Abu Daud, III:353, No. 959. Dan redaksi di atas versi Ahmad.

Sehubungan dengan hadis itu para ulama menerangkan bahwa Ied yang pertama disyariatkan adalah Iedul Fitri, kemudian Iedul Adha. Keduanya disyariatkan pada tahun ke-2 hijrah. (Lihat, Shubhul A’sya, II:444; Bulughul Amani, juz VI:119; Subulus Salam, I:60)

Dalam hal ini para ulama menerangkan:

وَإِنَّمَا كَانَ يَوْمُ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عِيدًا لِجَمِيعِ هَذِهِ الْأُمَّةِ إشَارَةً لِكَثْرَةِ الْعِتْقِ قَبْلَهُ كَمَا أَنَّ يَوْمَ النَّحْرِ هُوَ الْعِيدُ الْأَكْبَرُ لِكَثْرَةِ الْعِتْقِ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ قَبْلَهُ إذْ لَا يَوْمَ يُرَى أَكْثَرُ عِتْقًا مِنْهُ

“Yaum fitri dari Ramadhan (ditetapkan) sebagai ied bagi semua umat ini tiada lain sebagai isyarat karena banyaknya pembebasan (dari neraka), sebagaimana hari Nahar, yang dia itu ied akbar, karena banyaknya pembebasan (dari nereka) pada hari Arafah sebelum Iedul Adha. Karena tidak ada hari yang dipandang lebih banyak pembebasan daripada hari itu (Arafah)” (Lihat, Hasyiah al-Jumal, VI:203; Hasyiah al-Bajirumi ‘alal Manhaj, IV:235)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Shaum Arafah mulai syariatkan bersamaan dengan Iedul Adha, yaitu tahun ke-2 hijriah. Keduanya disyariatkan setelah syariatkannya Shaum Ramadhan dan Iedul Fitri pada tahun yang sama.

Adapun ibadah haji (termasuk di dalamnya wukuf di Arafah) mulai disyariatkan pada tahun ke-6 hijriah sebagaimana dinyatakan oleh Jumhur ulama (lihat, Fathul Bari, III:442). Namun menurut Ibnu Qayyim disyariatkan tahun ke-9/ke-10 Hijriah. (lihat, Zaadul Ma’ad, II:101, Manarul Qari, III:64)

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa

(a) Waktu tasyri’ Shaum Arafah dan Iedul Adha lebih dahulu daripada tasyri’ wukuf di Arafah.

(b) Wukuf di Arafah bukan muqaddamah wujud shaum Arafah dan Iedul Adha. Allohu A`lam

Dikirim pada 16 Oktober 2011 di Bab. Shaum


Berqurban adalah menyembelih hewan qurban/udh-hiyah/ternak (Unta, Sapi/Kerbau, Kambing, dan Domba) setelah shalat Iedul Adha dan hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Dasar perintahnya adalah:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” [Al Kautsar 2]

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” [Al Hajj 34]

Hukum Qurban

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat:
Pertama, wajib bagi orang yang berkelapangan. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad serta sebagian ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: “Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…” (lih. Syarhul Mumti’, III/408) Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672)

Pendapat kedua menyatakan Sunnah Mu’akkadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari ra. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak akan berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih).

Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya shahih) Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/367-368, Taudhihul Ahkaam, IV/454)


Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika dijabarkan semuanya menunjukkan masing-masing pendapat sama kuat.

Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasehatkan: “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam.” (Tafsir Adwa’ul Bayan, 1120)

Dasar memotong hewan Kurban pada Hari Raya Haji bersumber dari sunnah Nabi Ibrahim dan Ismail. Karena ketakwaannya yang dalam, mereka rela menjalankan perintah Allah meski itu berarti harus mengorbankan anak yang tersayang dan diri sendiri.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya.

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian” [Ash Shaaffaat 102-108]

Kita harus senantiasa bertakwa, yaitu menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, agar kurban kita mendapat ridho Allah.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…[Al Hajj 37]

Hewan kurban tidak boleh disembelih sebelum sholat Iedul Adha. Tapi dilakukan setelah shalat.

Jundab Ibnu Sufyan ra berkata: Aku mengalami hari raya Adlha bersama Rasulullah SAW Setelah beliau selesai sholat bersama orang-orang, beliau melihat seekor kambing telah disembelih. Beliau bersabda: “Barangsiapa menyembelih sebelum sholat, hendaknya ia menyembelih seekor kambing lagi sebagai gantinya; dan barangsiapa belum menyembelih, hendaknya ia menyembelih dengan nama Allah.” Muttafaq Alaihi.

Hewan Kurban tidak boleh cacat (buta meski cuma sebelah, ompong, pincang, tua, atau robek telinganya). Harus sempurna, cukup umur, dan tidak sakit. Jangan pula terlalu kurus sehingga terlihat jelas tulang rusuknya.

Al-Bara’ Ibnu ‘Azib ra berkata: Rasulullah SAW berdiri di tengah-tengah kami dan bersabda: “Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan kurban, yaitu: yang tampak jelas butanya, tampak jelas sakitnya, tampak jelas pincangnya, dan hewan tua yang tidak bersum-sum.” Riwayat Ahmad dan Imam Empat.

Ali ra berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kami agar memeriksa mata dan telinga, dan agar kami tidak mengurbankan hewan yang buta, yang terpotong telinga bagian depannya atau belakangnya, yang robek telinganya, dan tidak pula yang ompong gigi depannya. Riwayat Ahmad dan Imam Empat.

Jabir meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadis riwayat Uqbah bin Amir ra.:

Bahwa Rasulullah saw. memberinya kambing-kambing untuk dibagikan kepada para sahabat sebagai kurban. Lalu tinggallah seekor anak kambing kacang. Uqbah melaporkannya kepada Rasulullah saw. maka beliau bersabda: Sembelihlah itu olehmu! Perkataan Qutaibah kepada kawannya. (Shahih Muslim No.3633)

Umur minimal untuk Unta=5 tahun, Sapi=2 tahun, Kambing=1 tahun, dan domba=6 bulan.

Hewan qurban sebaiknya dihabiskan dalam waktu 3 hari agar terjadi pemerataan (orang-orang miskin juga kebagian).

Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra.:

Dari Abu Ubaid, ia berkata: Aku pernah salat Idul Adha bersama Ali bin Abu Thalib ra. Beliau memulai dengan salat terlebih dulu sebelum khutbah dan beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang kami makan daging kurban sesudah tiga hari. (Shahih Muslim No.3639)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:

Dari Nabi saw., beliau bersabda: Seseorang tidak boleh makan daging kurbannya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim No.3641)

Setelah ummat Islam makmur, Nabi menghapus larangan di atas:

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.: Dari Nabi saw. beliau melarang makan daging kurban sesudah tiga hari. Sesudah itu beliau bersabda: Makanlah, berbekal dan simpanlah. (Shahih Muslim No.3644)

Hadis riwayat Salamah bin Akwa` ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa di antara kalian menyembelih kurban, maka janganlah ia menyisakan sedikitpun di rumahnya sesudah tiga hari. Pada tahun berikutnya, orang-orang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami harus berbuat seperti tahun lalu? Rasulullah saw. menjawab: Tidak! Tahun itu (tahun lalu) kaum muslimin masih banyak yang kekurangan. Jadi aku ingin daging kurban itu merata pada mereka. (Shahih Muslim No.3648)

Nabi menyuruh kita menghabiskan daging kurban dalam waktu 3 hari kurang karena dulu ummat Islam banyak yang melarat. Saat ini pun di Indonesia seperti itu. Oleh karena itu kita bisa mengikuti sunnah Nabi di atas.

Untuk sapi orang bisa berserikat untuk 7 orang, dan unta untuk 10 orang:

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata: Pada tahun Hudaibiah kami berkurban bersama Rasulullah saw. dengan seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang pula. (Shahih Muslim No.2322)

Dari Ibnu Abbas ra beliau mengatakan, “Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah SAW lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Ibnu Majah 2536)

Sunah berkurban dan menyembelih sendiri, tanpa mewakilkan, serta menyebut nama Allah dan takbir

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Nabi saw. berkurban dengan dua ekor kibas berwarna putih agak kehitam-hitaman yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, seraya menyebut asma Allah dan bertakbir (bismillahi Allahu akbar). Beliau meletakkan kaki beliau di atas belikat kedua kambing itu (ketika hendak menyembelih). (Shahih Muslim No.3635)

Nabi membeli hewan Kurban/Domba seharga 1 dinar (4,25 gram emas 22 karat / sekitar Rp 1,4 juta).

Dari Urwah al-Bariqy ra bahwa Rasulullah SAW pernah mengutusnya dengan uang satu dinar untuk membelikan beliau hewan qurban.” [Bukhari]

Bolehkah orang yang berkurban memakan hewan kurban? Jawabannya boleh. Ummat Islam dulu biasa membagi daging kurban sebanyak 3 bagian. 1/3 untuk keluarga mereka, 1/3 sebagai hadiah bagi orang yang mampu, dan 1/3 lagi bagi fakir miskin.

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” [Al Hajj 28]

“… Kemudian apabila telah mati, maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta…” [Al Hajj 36]

Tukang jagal mendapat bagian/upah dari orang yang berkurban. Jadi tidak mengambil hak fakir miskin dan yang lainnya. Ada pun daging, kulit, serta bagian-bagian terbaik lain harus disedekahkan.

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:

Rasulullah saw. pernah menyuruhku untuk mengurusi hewan kurbannya, menyedekahkan dagingnya, kulitnya serta bagian-bagiannya yang terbaik dan melarangku memberikannya kepada tukang jagal. Beliau bersabda: Kita akan memberinya dari yang kita miliki. (Shahih Muslim No.2320)

Ali r.a. berkata, “Nabi menyerahkan kurban seekor unta lalu menyuruh saya. Kemudian saya mengurus kurban-kurban tersebut. Lalu beliau menyuruh saya membagi-bagikan dagingnya, pelananya, dan kulitnya. Juga agar saya tidak memberikan sedikitpun sebagai upah penyembelihannya.”[HR Bukhari]

Cara Nabi menyembelih hewan kurban:

Dari Anas Ibnu Malik ra bahwa Nabi SAW biasanya berkurban dua ekor kambing kibas bertanduk. Beliau menyebut nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kaki beliau di atas dahi binatang itu. Dalam suatu lafadz: Beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri. Dalam suatu lafadz: Dua ekor kambing gemuk. – Dalam suatu lafadz riwayat Muslim: Beliau membaca bismillahi wallaahu akbar.” [Bulughul Marom]

Menurut riwayatnya dari hadits ‘Aisyah ra bahwa beliau pernah menyuruh dibawakan dua ekor kambing kibas bertanduk yang kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah hewai itu kepada beliau. Beliau bersabda kepada ‘Aisyah: “Wahai ‘Aisyah, ambillah pisau.” Kemudian bersabda lagi: “Asahlah dengan batu.” ‘Aisyah melaksanakannya. Setelah itu beliau mengambil pisau dan kambing, lalu membaringkannya, dan menyembelihnya seraya berdoa: “Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya.” Kemudian beliau berkurban dengannya. [Bulughul Marom]

Boleh menyembelih dengan apa saja yang dapat menumpahkan darah, kecuali gigi, kuku dan tulang

Hadis riwayat Rafi` bin Khadij ra., ia berkata:Saya berkata kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasulullah, kami akan bertemu musuh besok sedangkan kami tidak mempunyai pisau. Rasulullah saw. bersabda: Segerakanlah atau sembelihlah dengan apa saja yang dapat menumpahkan darah dan sebutlah nama Allah, maka engkau boleh memakannya selama alat itu bukan gigi dan kuku. Akan kuberitahukan kepadamu: Adapun gigi maka itu adalah termasuk tulang sedangkan kuku adalah pisau orang Habasyah. Kemudian kami mendapatkan rampasan perang berupa unta dan kambing. Lalu ada seekor unta melarikan diri. Seseorang melepaskan panah ke arah unta itu sehingga unta itupun tertahan. Rasulullah saw. bersabda: Memang unta itu ada juga yang liar seperti binatang-binatang lain karena itu apabila kalian mengalami keadaan demikian, maka kalian dapat bertindak seperti tadi. (Shahih Muslim No.3638)

Menyembelih unta dalam keadaan berdiri dan terikat

“..Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat)…” [Al Hajj 36]

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:

Bahwa ia menghampiri seorang lelaki yang sedang menyembelih untanya dalam keadaan menderum lalu ia (Ibnu Umar) berkata: Bangunkanlah agar dalam keadaan berdiri dan terikat karena demikianlah sunah Nabi kamu sekalian. (Shahih Muslim No.2330)

Tempat Kurban:

“Dahulu Rasulullah SAW biasa menyembelih kambing dan onta (qurban) di lapangan tempat shalat.” (HR. Bukhari 5552).

Tata Cara Penyembelihan

Sebaiknya pemilik qurban menyembelih hewan qurbannya sendiri.
Apabila pemilik qurban tidak bisa menyembelih sendiri maka sebaiknya dia ikut datang menyaksikan penyembelihannya.
Hendaknya memakai alat yang tajam untuk menyembelih.
Hewan yang disembelih dibaringkan di atas lambung kirinya dan dihadapkan ke kiblat. Kemudian pisau ditekan kuat-kuat supaya cepat putus.
Ketika akan menyembelih disyari’akan membaca “Bismillaahi wallaahu akbar” ketika menyembelih. Untuk bacaan bismillah hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir – Allahu akbar – para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir ketika menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib. Kemudian diikuti bacaan:
hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud 2795) Atau
hadza minka wa laka ‘anni atau ‘an fulan (disebutkan nama shahibul qurban).” atau
Berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa, “Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban)”. Allohu A`lam (Dari berbagai sumber)

Dikirim pada 15 Oktober 2011 di KAJIAN UTAMA



Tanya : Bismillah …Assalamu`alaikum ustadz. Mw tanya mengenai zakat perhiasan [emas/perak] . Kan wajib dikeluarkan zakat.y 2.5% ,, itu maksud.y 2.5% per gram atau 2.5% dari uang yg qta kluarkan untuk membeli emas tsb ?? Hatur nuhun tadz sateuacana.qta kluarkan untuk membeli emas tsb ?? Hatur nuhun tadz sateuacana. Gradasi



Jawab : Wa`alaikumussalam, Zakat perhiasan yang dikeluarkan adalah 2,5 % dari harga yang dibelanjakan untuk emas/perak. Jika kita membeli emas seharga Rp. 6.000.000, maka zakatnya adalah 2,5% dari Rp. 6.000.000. tersebut. Allahu A`lam

Dikirim pada 14 Oktober 2011 di Bab. Perzakatan


Tanya : Assalamu`alaikum, Ustadz Abu yang saya hormati. Apakah status nikah yang dalam ijab qabulnya dihadapan wali dan petugas mahar itu dinyatakan tunai tapi kenyataan suami tidak (belum) memberikan mahar tersebut, apakah nikahnya sah atau tidak? MFY Sumatera



Jawab : Wa`alaikumussalam. Mahar atau mas kawin adalah kewajiban yang harus diberikan kepada istri saat nikah baik itu dengan tunai atau tempo (ngutang) atau dengan kata lain mahar merupakan hak istri sepenuhnya. Sekalipun demikian diantara ulama berpendapat bahwa mahar bukan merupakan rukun nikah. Seandainya suami berbohong seperti kasus yang ibu tanyakan, maka dosa berbohong tentu itu menjadikannya ia berdosa, tapi tidak mempengaruhi sah tidaknya nikah yang sudah dilakukan.



Jika pada saat ijab qbul memberikannya semacam simbolis, tapi pada kenyataannya belum ia bayar, tentu menjadi hutang suami yang mesti dibayar. Jadi mahar itu boleh tunai atau tempo (ngutang). Allohu A`lam

Dikirim pada 08 Oktober 2011 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum ustad...ada ga bacaan khusus setelah kita melaksanakan sholat dhuha..apa hadistnya?...Baim Murai



Jawab : Wa`alaikumussalam, Kekasihku (Nabi Muhammad) mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dalam tiap bulan, melakukan dua rakaat shalat dhuha dan melakukan sholat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim dari Abi Hurairah ra)



Dalam keterangan lain :

Tiap pagi ada kewajiban sedekah bagi tiap ruas tulang kalian, Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Muslim dari Abi Dzar ra)



Sementara bacaan surat (selain al-fatihah) dalam shalat dhuha Nabi saw tidak mencontohkan secara khusus harus membaca surat ini dan itu. Hal ini tentu disesuaikan dengan hafalan kita terhadap ayat al-Quran. Jadi jangan punya anggapan bahwa dalam shalat dhuha itu mesti bacaan surat tertentu. Hal ini belum ditemukan dalil yang mendasari amalan tersebut. Dan belum ditemukan keterangan yang menyebutkan bacaan-bacaan khusus setelah melaksanakan shalat dhuha. Allohu A`lam

Dikirim pada 05 Oktober 2011 di Bab. Sholat


Tanya : Assalaamu alaikum Ustadz yg mudah2an dirahmati Allah SWT.. Saya pemuda yg saat ini tengah menjalin hubungan khusus (pacaran) dengan wanita nasrani. awal saya memulai hubungan ini, saya memang belum sadar utk menjalankan hukum2 agama secara penuh walaupun waktu itu sebenarnya saya juga cukup mengerti bahwa pacaran itu dilarang dalam agama. saat ini saya sudah mulai menyadari bahwa pacaran itu memang dilarang karena banyak mengundang fitnah. namun yang menjadi kesulitan bagi saya saat ini adalah, karena hubungan kami sudah begitu intens menjadikan wanita tersebut sudah terlanjur terlalu dalam menyayangi saya, sehingga sangat memberatkan untuk mengakhiri hubungan ini karena akan sangat menyakiti hati wanita tersebut yg tidak ingin berpisah dengan saya.

hubungan saya dengannya pun saat ini masih terus berlanjut dan saya sebisa mungkin menghindari perbuatan2 yg mengundang fitnah, walaupun tidak mudah untuk sepenuhnya lepas dari fitnah dalam hubungan pacaran. disamping itu, perlahan-lahan saya juga mengenalkan agama Islam kepadanya dengan harapan nantinya dia bisa beriman dan masuk Islam sehingga jika nantinya kami melanjutkan hubungan ke jenjang yang serius, dia sudah beragama Islam.dengan keadaan seperti ini, saya sungguh merasakan kebimbangan yang sangat dalam yaitu :

1. jika saya memutuskan hubungan saat ini, saya akan sangat menyakiti hatinya yang mana dia sudah terlalu dalam menyayangi saya secara berlebihan dan tidak mau berpisah dengan saya.
2. sedangkan jika saya melanjutkan hubungan ini sambil memperkenalkan agama Islam kepadanya dengan harapan perlahan-lahan dia bisa beriman dan masuk Islam dan menjadi halal untuk saya nikahi, saya sangat mengkhawatirkan jika motivasinya untuk belajar agama dan masuk Islam adalah karena ingin menikah dengan saya, bukan karena semata-mata Lillahi Ta`alaa. karena menurut saya perkara keimanan adalah perkara hati sehingga tidak mudah bagi saya untuk menilai apakah nantinya dia betul-betul beriman dan masuk Islam ikhlas Lillahi Ta`alaa atau bercampur dengan niatan lain yaitu untuk dapat menikah dengan saya.
demikian kebimbangan yang saya alami, mohon bimbingan atau pendapat dari Ustadz bagaimana pilihan yang harus saya lakukan atau adakah pilihan lain yang lebih baik atas permasalahan kami ini. Saya pun juga sudah pernah melakukan sholat istikharah terkait permasalahan ini, namun sampai sekarang saya belum mendapatkan kemantapan hati untuk menentukan langkah. Terimakasih banyak Ustadz atas perhatian dan bimbingannya, Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. subkhan ni

Jawab : Wa`alaikumussalam… 1. Putusnya hubungan dikarenakan sebuah prinsip (terutama hal aqidah Islam), tentu yang menjadi pertimbangan bukan perasaan sakit dan tidaknya seseorang. Sakit dan tidaknya memutuskan hubungan anda tergantung kepada cara yang anda lakukan kepadnya. Ada seorang shahabat Nabi saw yang masuk Islam yang membuat ibunya sakit bahkan sampai mogok makan. Tapi karena itu prinsip, maka ia istiqamah (komitmen) dengan Islam, tapi kata Nabi berbaiklah sama orang tua. Perlu diketahui, rasa sayang, cinta, seneng kepad wanita yang bukan muhrim (pra-nikah), lebih didasari dengan syahwat (keinginan kuat) kepada dia.

2. Dari ungkapan anda, sebenarnya bisa dipahami bahwa anda sendiri sudah ragu dengan motif yang ada pada wanita yang anda "cintai" itu. Artinya, anda sendiri kurang begitu percaya akan ketulusan yang diperlihatkan dan ada pada wanita tersebut. Alangkah baiknya jika anda mencari yang membuat anda tidak ragu. Apalagi nikah dalam islam bukan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan biologis semata, akan tetapi merupakan bentuk dari ibadah. Bukan hanya untuk kehidupan sehari dua hari didunia, akan tetapi sampai akhirat. Jika kita menikah, tentu ada tanggung jawab yang harus anda pikul. Baik tanggung jawab sebagai suami dalam mengarahkan dan mendidik keluarga ataupun tanggung jawab istri anda. Terlebih nanti harus mempertanggung jawabkan dihadapan Allah swt. Tinggalkan yang meragukan anda cari yang yakin untuk anda. Allohu A`lam

Dikirim pada 03 Oktober 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu\`alaikum wr.wb. Pak ustadz Abu Alifa yang saya hormati, apa yang dimaksud dengan larangan menikahi istri bapak itu. Kan istri bapak itu ibu, mengapa tidak disebut ibu? FT Jawa Tengah
Jawab : Wa\`alaikumussalam wr.wb. Yang dimaksud itu adalah larangan menikahi wanita yang bukan ibu kandung yang pernah dinikahi oleh bapak kita (ibu tiri), jika ibu tiri itu diceraikan oleh bapak. Dalam QS. al-Nisaa 22 secara jelas disebutkan : "Dan janganlah kamu mengawini wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, kecuali pada masa lalu .." Intinya kita haram menikahi bekas istri ayah kita (bekas ibu tiri). Allohu A\`lam

Dikirim pada 24 September 2011 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum pak ustad,saya mau minta petunjuk….saya laki umur 24 tahun,masih kuliyah ,saya pernah terjerus mus dalam pergaulan bebas,saya pernah menjadi selingkuhan wanita sampai2 saya sdah ada 2 anak…tapi saya tak yakin itu 100% anak saya,karna wanita itu msh ada suami.tapi wanita tersebut bilang klu dia sudah tidak lagi pernah berhubungan badan dengan suaminya,mereka sudah mau cerai(kata perempuan).Saya bingung tad…dulu saya cinta dan sayang dia ,tapi lambat laun perekonomian saya kurang baik,klu kehidupan perekonomian wanita itu insyaallah berkecukupan,klu saya sendiri masih susah untuk hidup sendiri….saya ingin bertobat,tapi hal itu selalu membayang fikiran saya.apa yang harus saya lakukan…karna sampai sekarng dia masih berstatus jadi istri orang lain….mohon petunjuknyanpak ustad.Reply…terimaksih sebelumnya. PUNTJANG ARD

Jawab : Wa`alaikumussalam, sebaiknya jangan dulu berbicara yakin dan tidak kedua anak. Apa yang ARD selama ini lakukan merupakan bentuk dari dosa besar. Akan tetapi tidak ada dosa besar jika kita mau bertaubat, dan tidak ada dosa kecil jika terus-menerus dilakukan. Bukan cinta dan sayang yang ARD lakukan dan berikan serta rasa kepada wanita tersebut, akan tetapi nafsu belaka. Mulai sekarang jauhi wanita tersebut dan segera bertaubat. Sebab wanita itu sudah melakukan dengan anda perbuatan dosa berlipat. Diantaranya penghianatan terhadap suaminya dan berzina dengan anda. Mengenai status anak yang katanya hasil hubungan dengan anda, itu bukan anak anda, karena sudah jelas status wanita tersebut istri orang, sekalipun wanita tersebut mengakui bahwa itu hasil berhubungan dengan anda. Masa depan masih jauh yang perlu anda benahi!! Sekali lagi lupakan wanita itu jika anda benar-benar ingin bertaubat. Allohu A\`lam

Dikirim pada 23 September 2011 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamu’alaikum, apakah dibenarkan ketika kita mau berbicara tanpa mengucapkan salam? Sebab ada hadits yang mengatakan "Salam itu sebelum berbicara"! Trim GHR Jawa Tengah

Jawab : Wa’alaikumussalam, hadits yang dimaksud adalah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari shahabat Jabir ra dengan redaksi "Assalamu qablal kalaam" (salam diucapkan sebelum berbicara). Imam Tirmidzi menilai hadits tersebut sebagai hadits munkar (5/59). Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dengan redaksi tambahan :"Janganlah kamu mengajak seseorang untuk menikmati makanan sebelum ia mengucapkan salam" (4/48). Namun demikian menurut Iman ad-Daruqutny, Dzahabi dan Ibnu Jauzi bahwa hadist tersebut maudlu’ atau palsu, buatan Ismaill bin Abi Ziyad al-Syami. Allohu A’lam

Dikirim pada 18 September 2011 di Bab. Akhlaq


Tanya : Bismillah, pak ustadz Abu, Iedul Fitri kemarin saya sempat berziarah ke makam (kuburan) orang tua, tidak seperti biasanya, tiba-tiba ada saudara yang mencegah dan mengatakan bahwa hal itu dilarang bagi wanita! Bagaimana pendapat ustadz Abu! HT Jawa Barat

Jawab : Pelarangan Nabi saw yang dimaksud adalah berdasarkan sabda Nabi saw dalam riwayat Abi Dawud dari Ibn Abbas ra bahwa Nabi saw melaknat kepada wanita yang menziarahi kubur, membangun masjid diatas kuburan dan memberi lampu (penerangan diatas kuburan). dan juga hadits dari Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Majah dan Tirmidzy, isinya semakna dengan hadits diatas. Akan tetapi pelarangan ziarah menurut sebagian ulama ada pada awal-awal Islam. Hal ini untuk memelihara keimanan dan menghindari kemusyrikan. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa Aisyah ra ketika berziarah ke kuburan saudaranya (Abdurrahman), ia di tanya : Bukankah Nabi saw telah melarang hal tersebut? Aisyah menjawab : Ya, dahulu Nabi pernah melarangnya, tapi sekarang mempersilahkan ziarah. (Fathul bari juz III hal 180). Disamping itu Anas bin Malik pernah meriwayatkan bahwa Nabi saw pernah melihat wanita yang sedang menangis didekat kuburan. Nabi saw berkata (kepada wanita itu) : Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah (HR.Bukhary). Hemat kami ziarah itu boleh bagi wanita selama tidak memadharatkan dan membahayakan, terutama membahayakan aqidah. Allohu A’lam

Dikirim pada 15 September 2011 di Bab. Jenazah

Tanya : Assalamu’alaikum, Ustadz Abu Alifa yang saya hormati. Apakah diperbolehkan laki-laki menikah saat calon istrinya sedang haid? Wass IK Tegal
Jawab : Wa’alaikumussalam, hukum dalam pernikahan dalam kondisi apapun hal kecuali ada yang mengharamkannya. Memang dalam talak suami tidak boleh menjatuhkannya dalam kondisi istri sedang hamil. Sedangkan nikah belum ada dalil yang melarang saat calon istri sedang haid. Jadi nikahnya sah, sekali-pun calon istri kita sedang haid. Allohu A’lam.

Dikirim pada 26 Agustus 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum, pak ustadz Abu setelah melakukan hubungan dimalam hari saya mandi junub setelah adzan shubuh. Apakah puasa yang saya lakukan sah atau tidak? CBD Cilacap


Jawab : Wa’alaikumussalam, mandi janabat atau bersuci dari hadats besar tidak ada hubungannya dengan pelaksanaan sah tidaknya shaum (puasa) kita. Karena bersuci dari hadats besar (mandi) erat kaitannya dengan ibadah shalat yang akan kita lakukan. yang tidak bisa hanya dengan melakukan wudhu Jadi shaum yang bapak lakukan sah secara hukum. Allohu A’lam

Dikirim pada 19 Agustus 2011 di Bab. Bersuci

Tanya : Assalamu’alaikum, pak udtadz apakah benar kita bisa mengetahui lailat al-qadr? Apakah ada ciri-ciri menurut hadits? Wass GR Cianjur

Jawab : Wa’alaikumussalam, mengenal tanda-tandanya tentu bisa berdasarkan keterangan hadits. Akan tetapi untuk mengetahui pastinya malam itu tidak ada yang tahu. mengetahui tanda tidak lantas mengetahu waktunya. Seperti halnya mengetahui tanda munafiq diantaranya berkata dusta, namun ketika ada yang berdusta tidak lantas hal itu tergolong munafik.

Mengenai tanda-tanda terjadinya lailat qadr yang disebutkan dalam hadist antara lain :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لاَ حَارَّةَ وَلاَ بَارِدَةَ, تُصْبِحُ شَمْسُهَا صَبِيْحَتُهَا صَفِيْقَةً حَمْرَاءَ.

Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda tentang (tanda-tanda) Lailatul Qadr: “Malam yang mudah, indah, tidak (berudara) panas maupun dingin, matahari terbit (di pagi harinya) dengan cahaya kemerah-merahan (tidak terik) (HR Ath Thayalisi di Musnadnya (hal.349 no.2680). Dan hadits ini dishahihkan Al Albani. (Lihat Shahih Al Jami’ no.5475).

Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Lailatul Qadr (terjadi) pada sepuluh malam terakhir. Barangsiapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dan malam itu adalah pada malam ganjil, ke dua puluh sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau malam terakhir di bulan Ramadhan,” dan Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya tanda Lailatul Qadr adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya. Dan sesungguhnya, tanda Lailatul Qadr adalah, matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu (HR Ahmad 5 / 324)


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنِّيْ كُنْتُ أُرِيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, ثُمَّ نُسِّيْتُهِا, وَهِيَ فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ لَيْلَتِهَا, وَهِيَ لَيْلَةٌ طَلْقَةٌ بَلْجَةٌ لاَ حَارَّةَ وَلاَ بَارِدَةَ.

"Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya aku pernah diperlihatkan (bermimpi) Lailatul Qadr. Kemudian aku dibuat lupa, dan malam itu pada sepuluh malam terakhir. Malam itu malam yang mudah, indah, tidak (berudara) panas maupun dingin" (HR Ibnu Khuzaimah di Shahihnya 3/330 no.2190 , Ibnu Hibban di Shahihnya 8/443 no.3688)

Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan) (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan dari dari Watsilah bin al-Asqo’). Allohu A’lam

Dikirim pada 17 Agustus 2011 di Bab. Aqidah

Tanya : Assalamualaikum pak ustadz, saya mempunyai teman laki-laki yang dahulu akrab tp karena satu kesalahan yang sangat kecil, sampai sekarang sulitnya meminta maaaf kepadanya, saat itu saya berada di bangku SMP padahal saya sudah berulang-ulang meminta maaf tp tetap tak ada teguran dari dia hingga saya telah berumur 21 tahun ini. bagaimana seharusnya saya meminta maaf? dan apakah saya sangat berdosa kepadanya. syukron pak ustadz. Ratna Yani

Jawab : Wa’alaikumussalam. Kesalahan yang kita anggap kecil, belum tentu yang dirasakan oleh yang kena kesalahan kita. Dan tentu kita jangan sampai menganggap kecil kesalahan. Meminta maaf bukan berarti harus dimaafkan oleh yang bersangkutan. Kawajiban kita adalah meminta maaf atas segala kesalahan, tetapi soal dimaafkan atau tidak itu urusan yang bersangkutan. Kesalahan yang dilakukan melalui hamba Allah, akan Allah maafkan manakala kita meminta maaf dulu kepada yang bersangkutan, sekalipun kata minta maaf , ternyata tidak dimaafkan. Tapi kita sudah meminta maaf.

Jadi yang ukhti lakukan sudah benar, bahkan ukhti melakukannya berkali-kali. Artinya ukhti sudah lepas karena sudah meminta maaf kepadanya. Allohu A’lam

Dikirim pada 16 Agustus 2011 di Bab. Akhlaq

Tanya : Assalami’alaikum, pak Ustadz Abu Alifa yang saya banggakan dan hormati. Apakah I’tikaf itu hanya dilakukan di bulan Ramadhan? Dan apakah disebut I’tikaf manakala kita diam dimasjid dari mulai buka sampai sahur? Bolehkah I’tikaf diluar bulan Ramadhan? Wass UGU Palembang

Jawab : Wa’alaikumussalam. Pertama, Rasulullah saw telah memberikan contoh kepada umatnya untuk meningkatkan dan memaksimalkan ibadah saat memasuki 10 Terakhir Ramadhan tersebut, dan berusaha untuk mencari Lailatul Qadr :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Dahulu Rasulullah ketika memasuki 10 Terakhir dari bulan Ramadhan, belia mengencangkan tali sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (HR Al Bukhari no.1884 dari Aisyah ra)



أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Bahwasanya Rasulullah dahulu beri’tikaf ketika 10 Terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian beri’tikaflah istri-istri beliau setelah itu”.(Muttafaqun’alaih)

Dengan demikian I’tikaf yang disyari’atkan adalah I’tikaf yang dicontohkan Nabi saw yaitu pada bulan Ramadhan saja, karena Nabi saw tidak pernah melakukan I’tikaf di luar Ramadhan, kecuali pada bulan Syawâl, itupun dilakukan Nabi saw karena beliau tidak bisa melakukan I’tikâf pada bulan Ramadhan tahun itu, hal ini sebagai pengganti yang beliau tidak lakukannya ( HR Bukhâri, no. 2041 dan Muslim, no. 1173).

Kedua, secara bahasa diam dimasjid sekalipun dari mulai magrib sampai sahur bisa diartikan I’tikaf. namun secara syar"i hal itu belum memenuhi I’tikaf sebagaimana yang dicontohkan nabi saw. Ketiga, I’tikaf yang dicontohkan Nabi saw adalah 10 terakhir dibulan Ramadhan. Allohu A’lam



Dikirim pada 15 Agustus 2011 di Bab. Shaum
14 Agu


Tanya : Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad..

bagaimanakah hukumnya menerima uang tip..??meskipun sudah diizinkan oleh atasan kita..?? trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm Rizal Syahri




Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb, menerima uang tambahan (tip) dari hasil kerja dari seseorang boleh kita terima dan halal. Tapi jika disyaratkan oleh anda maka itu tidak boleh, sebab kerja anda seperti itu sudah diberi gaji atas kerja anda. Allohu A’lam



Dikirim pada 14 Agustus 2011 di Bab. Jual Beli

Tanya : Assalamu’alaikum.. Pak Ustadz saya sering membaca shalawat yang katanya fadhilahnya sangat besar. Shalawat yang dimaksud adalah Nuurul-Anwar. Mohon dijelaskan apa makna dibalik shalawat tersebut sampai diperintahkan harus sering dibaca? Wassalam PIK Kr.Pucung

Jawab : Wa’alaikumussalam, yang dimaksud shalawat nuur al-anwar yaitu :

Allahumma shalli ’alaa nuuril anwaari wasirril asraari, watiryaaqil aghyaari wamiftaahi baabil yasaari, sayyidinaa wamaulaana Muhammadinil muhtaari wa aalihil ath haari wa ash haabihil ahyaari ’adada ni’amillaahi wa ifdhaalih.

Artinya : Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada cahaya dari segala cahaya, rahasia dari segenap rahasia, penawar duka dan kebingungan, pembuka pintu kemudahan, yakni junjungan kami, Nabi Muhammad saw yang terpilih, keluarganya yang suci dan para sahabatnya yang mulia sebanyak hitungan nikmat Allah SWT dan karunia Nya.

Menurut Sayyid Ahmad Al-Badawi (yang membuat lafadz shalawat ini), jika dibaca setiap selesai shalat fardhu, maka akan terhindar dari segala mara bahaya dan memperoleh rizki dengan mudah.Jika dibaca 7 kali sebelum tidur, insya Allah akan terhindar dari sihir yang dilakukan orang jahat. Dan jika dibaca 100 kali sehari semalam, akan memperoleh cahaya Illahi, menolak bencana, mendapat rizki lahir batin.

Akan tetapi sayang sekali hal tersebut bukan bersumber dari Rasulullah saw. Jangankan hadits yang shahih dalam hadits dhaif-pun tidak ditemukan lafazd ini yang disandarkan kepada Nabi (ucapan Nabi saw). Hemat penulis shalawat model ini bukan sebuah tuntunan syariat yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Allohu A’lam





Dikirim pada 14 Agustus 2011 di Bab. Do’a

Tanya : Bismillah, pak Ustadz Abu Alifa Shihab, saya ingin menanyakan masalah zakat emas yang dikenakan anak saya dan yang saya pinjam dari orang lain :

1. Apakah ada zakatnya seandainya orang tua membelikan anaknya kalung 2 gram?

2. Apakah ada zakat bagi yang meminjam emas kepada orang lain, padahal orang yang dipinjemin sudah memberikan zakatnya saat ia beli? Trims GH Tamala

Jawab : Jika orang tua membelikan perhiasan emas untuk anak, maka sebelum dipakaikan perhiasan itu maka wajib mengeluarkan zakat 2,5 persen. Dan jika kita meminjam emas tentu tidak ada kewajiban membayar zakat perhiasan itu, apalagi sudah dizakatin oleh yang empunya. Dua persoalan diatas berdasarkan dalil.

"...Bahwa seorang perempuan mendatangi Rasul saw bersama anak perempuannya, dan ditangan anak itu terdapat dua buah gelang emas. Maka Rasul saw berkata kepadanya : Apakah telah kamu keluarkan zakat (benda) ini? Perempuan itu menjawab : Belum! Lalu rasul saw bersabda : Apakah kamu gembira jika Allah menggelangi dihari kiamat dari gelang neraka? (HR.Abi Dawud dari Abdillah bin Amr bin al-Ash). Allohu A’lam

Dikirim pada 14 Agustus 2011 di Bab. Perzakatan



Hari itu mendung tiba-tiba saja menutup langit. Dalam sekejap hujan pun turun dengan lebatnya. Tiga orang pengembara yang saat itu sedang berjalan bersama, cepat-cepat mencari perlindungan. Kebetulan ada sebuah gua di depan mereka. Tanpa pikir panjang, ketiganya segera masuk dan berteduh di dalamnya.

Hujan yang deras membuat tanah menjadi longgar, dan sebongkah batu yang besar jatuh dari atas gua dan menutup lubang guanya. Ketiga pengembara itu pun terperangkap di dalamnya.

Berkali-kali mereka mencoba mendorong batu itu, namun batu itu terlalu berat sehingga sedikit pun tidak bergeser dari tempatnya. Tiba-tiba salah seorang di antaranya berkata “Demi Alloh, tidak akan ada yang menyelamatkan kita kecuali sifat jujur dan ikhlas. Marilah kita berdoa kepada Alloh dengan perantara (wasilah) amal perbuatan yang pernah kita lakukan dengan hati yang ikhlas. Semoga Alloh mau memberikan pertolongannya.”

Mereka bergegas mensucikan diri kemudian mulai mengucapkan doa.

Pengembara pertama berdoa, “Ya Alloh, Engkau tahu bahwa hamba dulu pernah memiliki seorang pekerja yang hamba upah dengan tiga gantang padi. Suatu hari pekerjaku itu pergi tanpa mengambil upahnya. Maka aku menyemai padi-padi itu hingga membuahkan hasil. Hasilnya kau belikan seekor sapi yang kemudian beranak pinak. Saat pekerja itu datang dan menagih upahnya, aku menyuruhnya mengambil semua sapi itu. Awalnya dia menolak karena merasa upahnya hanyalah tiga gantang padi. Namun aku bersikeras karena sapi-sapi itu berasal dari tiga gantang berasnya.
Ya Alloh, jika Engkau tahu apa yang kulakukan itu hanya karena aku takut pada-Mu, maka keluarkan kami dari gua ini.”

Tiba-tiba batu besar itu bergeser sedikit, sehingga mereka bisa mengintip keluar dan mengetahui bahwa hujan telah berhenti.

Pengembara kedua berdoa, “Ya Alloh, Engkau tahu bahwa aku memiliki orang tua yang sudah tua. Aku begitu mencintai mereka. Setiap malam aku membawakan mereka susu kambing yang kuperah sendiri. Suatu malam aku terlambat memerah kambing dan mereka sudah tertidur saat aku tiba di kamar mereka. Saat itu anak dan istriku sudah menangis kelaparan, namun aku tidak mau mereka meminum susu kambing itu sebelum orang tuaku. Sementara kau tidak berani membangunkan tidur mereka. Akhirnya aku menungguinya hingga fajar tiba.
Ya Alloh, jika Engkau tahu apa yang kulakukan itu hanya karena aku takut pada-Mu, maka keluarkan kami dari gua ini.”

Batu besar itu kembali bergeser, membuat lubang yang cukup lebar, namun tidak cukup lebar untuk mereka keluar dari dalam gua.

Pengembara ketiga berdoa, “Ya Alloh, Engkau tahu bahwa aku memiliki seorang sepupu perempuan yang sangat aku cintai. Aku sering menggoda dan merayunya untuk berbuat dosa, namun ia selalu menolak. Suatu hari ia datang untuk meminjam uang sebesar 100 dinar. Aku memberinya dengan syarat dia harus memberikan kehormatannya. Dia terpaksa mengabulkanku karena dia dalam situasi yang terdesak. Namun saat aku hampir melakukan niatku, ia berkata ‘Bertaqwalah engkau kepada Alloh, janganlah kau merusak cincin kecuali sudah menjadi hakmu!’ Maka aku segera membatalkan niatku.
Ya Alloh, jika Engkau tahu apa yang kulakukan itu hanya karena aku takut pada-Mu, maka keluarkan kami dari gua ini.”

Akhirnya batu besar itu bergulir dan terbukalah mulut gua tersebut sehingga mereka dapat keluar dengan selamat.

Dikirim pada 14 Agustus 2011 di IBRAH

Seorang telah datang menemui Rasulullah s.a.w. dan telah menceritakan kepada Baginda s.a.w. tentang kelaparan yang dialami olehnya. Kebetulan pada ketika itu Baginda s.a.w. tidak mempunyai suatu apa makanan pun pada diri Baginda s.a.w. mahupun di rumahnya sendiri untuk diberikan kepada orang itu. Baginda s.a.w. kemudian bertanya kepada para sahabat,"Adakah sesiapa di antara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tetamunya pada malam ini bagi pihak aku?" Seorang dari kaum Ansar telah menyahut, "Wahai Rasulullah s.a.w. , saya sanggiup melakukan seperti kehendak tuan itu."

Orang Ansar itu pun telah membawa orang tadi ke rumahnya dan menerangkan pula kepada isterinya seraya berkata, "Lihatlah bahwa orang ini ialah tetamu Rasulullah s.a.w. Kita mesti melayaninya dengan sebaik-baik layanan mengikut segala kesanggupan yang ada pada diri kita dan semasa melakukan demikian janganlah kita tinggalkan sesuatu makanan pun yang ada di rumah kita." Lalu isterinya menjawab, "Demi Allah! Sebenarnya daku tidak ada menyimpan sebarang makanan pun, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita di rumah ini ?"

Orang Ansar itu pun berkata, "Kalau begitu engkau tidurkanlah mereka dahulu (anak-anaknya) tanpa memberi makanan kepada mereka. Apabila saya duduk berbual-bual dengan tetamu ini di samping jamuan makan yang sedikit ini, dan apabila kami mulai makan engkau padamlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali supaya tetamu itu tidakk akan ketahui bahawa saya tidak makan bersama-samanya." Rancangan itu telah berjalan dengan lancarnya dan seluruh keluarga tersebut termasuk kanak-kanak itu sendiri terpaksa menahan lapar semata-mata untuk membolehkan tetamu itu makan sehingga berasa kenyang. Berikutan dengan peristiwa itu, Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud, "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan." (Al-Hasy : 9). (sumber 1001 Teladan)

Dikirim pada 14 Agustus 2011 di IBRAH




Tanya : assalamu alaikum
ustad shihab slam knal dar saya..
maaf sbelumnya..saya ingin bertnya tntang prmasalaha saya dgn orang yang saya sayangi.
saya mnjalin hbungan pacaran dngn cowok saya slama 3tahun... waktu itu saya hmpir lulus SMA.
saya mnjalin hubungan ni smbunyi2 krn saya tau bpak gk suka anaknya pacaran.
cowok saya sdh meminta saya 2kali pd bpak saya...
1. pamannya dtang krumah dgn mksud ingin meminta saya pd ortu tp bpak menolak dgn alasan saya sdh punya
tunangan,,,pdhal wktu tu saya belum tunangan
2. cwok saya meminta ustadnya untuk meminta saya kpd bpak saya...alasannya bpak saya pun sama sdh punya
tunangan....
akhir november 2011 ada kluarga jauh yg ingin meminta saya pd bpak..wktu itu dia (si pelamar) gk langsung krumah melamar.dia ingin knal saya dulu..tp saya tdk prnah mrespon dia.
dan wktu tgl 16 desember 11..pagi hari tiba2 bpak marah kpd saya.bapak mrah krn saya msh punya hbungan dgn cwok
saya..kmudian wktu tu jg cwok saya pun dipanggil krumah. bpak saya sngguh mrah cwok saya di marahi habis2an,,,
saya pun dipukul habis2an.kmudian bpak minta kami utk tdk brhubungan lagi dngn alasan krn ibu cwok saya ni prnah
kawin lari dgn orang lain.
kemudian setelah brselang bulan juni...kluarga cwok saya tau bahwa cwok saya prnah dimarahi bpak.
kluarga mereka malu...yg kmudian bpak cwok saya ini mengikat cwok saya dengan gadis kluarganya (alias tunangan)
sngguh wktu tu saya stress berat....saya sprti orang gila.cwok saya gk bisa ninggalin saya...diapun ingin bahagiakn bpak
yg merawatnya dr kecil.smpe skrg saya msh brhubungan dgn cwok saya begitupun sebaliknya.cwok saya tdk ingin meninggalkan saya. saya mnta nasehat ustad saya minta pencerahan dr mslah ni....
apakah allah berkehendak lain???apakah cwok saya itu bkn jodoh saya atau apakah allah hnya menguji kita agar kita kmbali padanya...mohon nasehatnya. trims. Nurul Hjckds

Jawab : Wa’alaikumusslam ... pacaran dalam Islam memang tidaklah dikenal, apalagi sampai 3 tahun dan orang tua tidak mengetahuinya. Seharusnya ukhti bersikap realistis dan diukur oleh nalar dan kacamata agama yang kuat. Ukhti belum menjadi sesuatu yang diikat dengan agama, sudah sampai strees segala! Ada apa ini? Padahal rasa cinta pra-nikah (ingat!) lebih didasari oleh tipuan syetan dan nafsu belaka. Insya Allah maksud orang tua baik, sekalipun tentu sepintas yang ukhti rasakan seolah mengekang.
Ada baiknya hal tersebut direnungi dalam-dalam, apa yang melatar belakangi ukhti sampai sebegitu dekat dan tidak mau dipisahkan? Padahal belum ada ikatan apa2. Dan tentu yang paling perlu ukhti lakukan serahkan sepenuhnya kepada Sang pengatur, seraya memohon dengan melakukan shalat istikharah. Bagi seorang muslimah sejati tidak ada kata putus asa! Jika itu memang belum jodoh ukhti, pasti Allah mempersiap[kan jodoh yang lebih baik dengan catatan kita juga harus merubah diri dengan sesuatu yang baik. Tidak mungkin sesuatu yang baik bersama yang jelek, begitupun sebaliknya. Ukhti harus yakin itu. Jangan terlalu berharap kepada orang yang belum jelas, berharaplah kepada Allah! Jodoh bukan manusia yang mengatur, mintalah kepada sang pengatur jodoh yang baik! Allohu A’lam

Dikirim pada 12 Agustus 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum, pak Ustadz Abu Alifa Shihab, bolehkan sujud tilawah dalam kondisi tidak berwudhu? FH Riau

Jawab : Wa’alaikumussalam, Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tidak disyari’atkan untuk thoharoh karena sujud tilawah bukanlah shalat. Namun sujud tilawah adalah ibadah yang berdiri sendiri. Dan diketahui bahwa jenis ibadah tidaklah disyari’atkan thoharoh (Majmu’ Al Fatawa, 23/165). Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu ‘Umar, Asy Sya’bi dan Al Bukhari.

Imam Asy-Syaukani mengatakan : “Tidak ada satu hadits pun tentang sujud tilawah yang menjelaskan bahwa orang yang melakukan sujud tersebut dalam keadaan berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersujud dan di situ ada orang-orang yang mendengar bacaan beliau, namun tidak ada penjelasan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan salah satu dari yang mendengar tadi untuk berwudhu. Boleh jadi semua yang melakukan sujud tersebut dalam keadaan berwudhu dan boleh jadi yang melakukan sujud bersama orang musyrik sebagaimana diterangkan dalam hadits yang telah lewat. Padahal orang musyrik adalah orang yang paling najis, yang pasti tidak dalam keadaan berwudhu. Al Bukhari sendiri meriwayatkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar bahwa dia bersujud dalam keadaan tidak berwudhu. ” (Nailu al-Authar, 4/466, Asy Syamilah).

Dengan demikian, sekalipun dalam kondisi tidak mempunyai wudhu suhjud tilawah boleh dilakukan. Allohu A’lam

Dikirim pada 10 Agustus 2011 di Bab. Do’a
08 Agu

BUKU YANG WAJIB

ANDA MILIKI !!!!!



Jilid I (satu)

SIAP BEREDAR DIPASARAN!!

Dikirim pada 08 Agustus 2011 di PROMOSI PEMBACA





ADAKAH TELAGA DI HATI

Oleh : Nur Hasanah Sanen

Musibah - musibah itu sebenarnya merupakan penasehat terbaik bagi manusia (Dr, Aid al-Qarni)





Suatu hari, seorang tua bijak didatangi oleh seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu, pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak itu hanya mendengarkannya dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Kemudian ditaburkannya sebagian serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya!" Kata pak tua. "Pahit, pahit sekali!" jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.


Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang. Sesampainya mereka disana, Pak tua itu menaburkan serbuk pahit yang digenggamnya ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya. "Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!" perintah Pak tua. Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, "Bagaimana rasanya?" "Segar", sahut si pemuda. "Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu?" tanya pak tua. "Tidak", jawab si pemuda itu.


Pak tua tertawa terbahak - bahak sambil berkata, "anak muda, dengarkan baik-baik! Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun sama dan memang akan tetap sama, tetapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki."

Pak tua meneruskan, "Kepahitan itu didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu cara yang dapat kamu lakukan, lapangkanlah dadamu menerima semua itu, dan luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu!"

Pak tua kembali menasehatkan, "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat gelas, buatlah ia laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian!"


Dikirim pada 08 Agustus 2011 di IBRAH

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Ustadz Abu, bagaimana hukumnya menagih utang dimasjid. Adakah larangan tentang hal ini. Dan apa saja sebenarnya yang tidak boleh dilakukan dimasjid? DG Solo

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Ada beberapa hal yang tidak layak dan tidak boleh dilakukan dimasjid diantaranya: Pertama, mengumumkan kehilangan barang kita, Dalam sebuah hadits Nabi saw pernah bersabda :

Barangsiapa yang mendengar seseorang mengumumkan barang yang hilang di dalam masjid, hendaklah ia berkata (mendo’akan),”semoga Allah tidak mengembalikan lagi barang itu kepadamu karena masjid dibangun bukan untuk urusan ini. (Shahih Muslim).



Kedua, jual beli, hal ini berdasarkan keterangan :

Jika kamu melihat seseorang berjual beli dimasjid hendaklah kamu berkata kepadanya, Semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam perdaganganmu. (Shahih Ibn Khuzaimah)

Ketiga, bernyanyi. Amr r.a, berkata, “Rasulullah SAW, melarang mendendangkan syair-syair di masjid. (Sunan At Tirmidzy)

Kempat, menagih utang seseorang, hal ini berdasarkan hadits Nabi saw :

Ka’ab r.a, berkata,”Aku menagih utang kepada Ibnu Abi Hadrad di Masjid (ia berhutang kepadanya), maka Rasulullah SAW berseru,”Wahai Ka’ab!”, Ubay menjawab,”Ya Rasulullah.” Nabi bersabda,”letakkan dari utangmu ini.” Dan Rasul mengisyaratkan kepadanya, yaitu separuhnya. Ka’ab menjawab.”Sungguh aku telah melakukannya, wahai Rasulullah.”Nabi bersabda, “Berdiri dan bayarlah.” (Shahih Al Bukhari)

Kelima, membawa atau sudah memakan bau-bauan.

Orang yang makan bawang putih, bawang merah dan bawang gunda, janganlah mendekati masjid kami, karena para malaikat terganggu dengan apa-apa yang Bani Adam (manusia) terganggu darinya.” (Shahih Muslim).

Jadi menagih utang dimasjid tidak layak dan dilarang oleh Nabi saw. Allohu A’lam

Dikirim pada 07 Agustus 2011 di Bab. Akhlaq

Tanya : Assalamu’alaikum, Pak ustadz apakah yang hamil diluar nikah, kemudian dinikahkan apakah pernikahannya sah atau perlu diulang saat sudah melahirkan? Wd Jakarta.

Jawab : Wa’alaikumussalam, Jika dinikahkannya itu dengan laki-laki yang bukan menzinahinya, maka ada dua pendapat. Pertama, haram hukumnya dan jika dinikahkan juga, maka pernikahan itu tidak sah alias batil. Di antara para ulama yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama. Kedua, nikahnya sah dengan ketentuan si laki-laki yang menikahinya dilarang bergaul sebelum anak yang dikandung itu lahir. Ini pendapat dikemukakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah.

Akan tetapi jika yang menikahinya adalah laki-laki yang menzinahinya, maka para ulama memandang nikahnya sah dan tidak perlu mengulang bahkan pendapat Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah keduanya boleh bercampur. Dengan demikian hemat penulis nikahnya sah dan tidak perlu diulang. Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Agustus 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamualaikum wwb ustadz yg terhormat, Saya banyak sekali membeli barang2 dari luar negeri baik itu jacket, sepatu dan lain2. Tapi dr semua barang itu ada yg dicantumkan jenis kulit nya dan ada yang tidak. Boleh kah ustadz memberi tahu kepada saya apakah hukumnya memakai kulit babi yang sudah di samak? terima kasih .wassalam wwb
Umar Sesko Adriansyah

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Sabda Nabi saw :“Setelah kulit disamak, ia hukumnya suci” (Muslim no 336 dan Abu Dawud no 4123).

Dan beliau juga bersabda:
“Menyamak kulit binatang yang telah mati mensucikannya” (Muslim no 336 dan Abu Dawud no 4125).

“Rasulullah SAW mendapati bangkai kambing kepunyaan Maimunah, Rasulullah SAW berkata: “sebaiknya kalian memanfaatkan kulitnya”. Mereka menjawab: “ini adalah bangkai kambing”. Rasul berkata: “yang diharamkan adalah memakannya (bukan memanfaatkannya)”. HR. Bukhari-Muslim

Namun demikian kulit dari bangkai dari binatang yang disamak tetap haram untuk dikonsumsi (dimakan), sebab termasuk berasal dari bangkai yang telah di tetapkan oleh nash Al-Quran. Sedangkan kulit yang disamak dari binatang yang diharamkan (babi) baik untuk dikonsumsi maupun untuk dipergunakan selain itu tetap haram, sebab hal tersebut berasal dari binatang yang diharamkan. Jelaslah bahwa produk kulit yang berasal dari bahan kulit babi, yang sekarang banyak ditemukan di pasaran haram untuk dipakai.

“Menurut MUI setiap kulit binatang bisa suci dengan disamak, kecuali kulit babi, anjing dan keturunan keduanya. Dengan begitu, kulit binatang selain babi, anjing dan keturunan keduanya setelah disamak bisa dimanfaatkan untuk bahan berbagai produk, sedangkan kulit babi, anjing dan keturunan keduanya tidak boleh dimanfaatkan.”

Sekalipun dalam masalah ini ada silang pendapat, tetapi lebih aman menjauhi supaya terhindar dari barang yang diharamkan.

“Siapa saja yang menjauhi perkara-perkara yang tidak jelas (syubhat) telah melindungi agama dan kehormatannya” (AlBukhari no 52 dan Muslim no 1599).

“Tinggalkanlah perkara-perkara yang kamu ragukan, dan kerjakan apa-apa yang kamu tidak memiliki keraguan terhadapnya” (At-Tirmidzi no 2158). Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Agustus 2011 di Bab. Bersuci

Tanya : Assalamu’alaikum, pak Ustadz Abu Alifa Shihab yang saya hormati, dalam shalat berjamaah maghrib, isya dan shubuh pada dua rakaatnya senantiasa dijaharkan bacaan imamnya. Apakah boleh kita menjaharkan bacaan tersebut jika shalat sendirian? Wassalam. YKT Cilacap

Jawab : Wa’alaikumussaam, jahar dan tidaknya bacaan dalam shalat bukan terletak pada sisi berjamaah tidaknya shalat, akan tetapi pada bacaan yang pernah Nabi saw contohkan. Nabi saw menjaharkan bacaannya di dua rakaat pertama shalat magrib dan Isya, dan juga shalat shubuh atau shalat jumat.. Bahkan Nabi saw menjaharkan dalam dua shalat ied (hari raya) juga shalat gerhana (khusuf/kusuf). Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Agustus 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Pak Ustadz Abu Alifa Shihab, Saya ingin bertanya seputar shalat. Seseorang salah mempelajari/tidak mengerti gerakan shalat (waktu duduk diantara dua sujud) waktu masih kecil dan terbawa sampai ia dewasa. Apakah shalat-shalat yang ia kerjakan dengan gerakan yang salah sebelumnya tidak diterimah oleh Allah swt. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih banyak. Wassalam, Wida.

Jawab : Diterima tidaknya shalat seseorang kita tidak tahu. Hanya saja jika kesalahan itu disebabkan ketidaktahuan, dan kesalahan yang tidak disengaja, insya Allah hal tersebut diluar keinginan kita dan Allah memaafkan kita. Maka tentu dari mulai sekarang (sebagai tanda keliru dulu) diperbaiki shalat kita. Allahu A’lam

Dikirim pada 05 Agustus 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Bismillah, pak Ustadz Abu Alifa yang saya hormati, saya ingin bertanya tentang shalat tarawih. apakah shalat tarawih bisa dikerjakan tidak berjamaah (munfarid)? terima kasih atas jawabannya, salamalaikum wr. wb. YUS RAA

Jawab : Shalat yang dilaksanakan secara berjamaah pada malam-malam bulan Ramadhan dinamakan Tarawih. (Syarh Shahih Muslim, 6/39 dan Fathul Bari, 4/294). Karena para jamaah yang pertama kali bekumpul untuk shalat tarawih beristirahat setelah dua kali salam .–(Lisanul ‘Arab, 2/462 dan Fathul Bari, 4/294).

Hukum shalat Tarawih sendiri adalah mustahab (sunat). Hal ini berdasarkan beberapa keterangan.

"....Yang paling utama shalat setelah yang wajib (shalat lima waktu) adalah shalat malam. (HR.Bukhary Muslim)

“Barangsiapa Qiyam Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan dari Allah , niscaya diampuni dosa yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)

“Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah shalat tarawih dan ulama telah bersepakat bahwa shalat tarawih hukumnya mustahab (sunnah).” (Syarh Shahih Muslim, 6/282). Dan beliau menyatakan pula tentang kesepakatan para ulama tentang sunnahnya hukum shalat tarawih ini dalam Syarh Shahih Muslim (5/140) dan Al-Majmu’ (3/526). Ketika Al-Imam An-Nawawi menafsirkan qiyamu Ramadhan dengan shalat tarawih maka Al-Hafizh Ibnu Hajar memperjelas kembali tentang hal tersebut: “Maksudnya bahwa qiyamu Ramadhan dapat diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih dan bukanlah yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan hanya diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih saja (dan meniadakan amalan lainnya).” (Fathul Bari, 4/295)

Adapun mengenai berjamaah dan munfarid dalam shalat tersebut dan mana yang lebih utama, paling tidak ada dua pendapat. Namun hal ini menunjukkan bahwa shalat tarawih boleh dilakukan secara munfarid atau berjamah.

Pertama, Pendapat yang mengatakan lebih utama berjamaah. Diantara yang berpendapat ini adala Imam Syafi’i dan sebagian besar shahabat dan pengikutnya, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad juga sebagian pengikut Imam Malik. Bahkan ini merupakan pendapat jumhur ulama. Pendapat pertama ini berdasarkan alasan dan keterangan :

1. Sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi saw), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau n bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan di wajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih dari Aisyah ra)

2. Perbuatan Umar Ibn al-Khathab dan shahabat lain (Syarh Shahih Muslim, 6/282), ketika ‘Umar bin Al-Khathab melihat manusia shalat di masjid pada malam bulan Ramadhan, maka sebagian mereka ada yang shalat sendirian dan ada pula yang shalat secara berjamaah kemudian beliau mengumpulkan manusia dalam satu jamaah dan dipilihlah Ubai bin Ka’ab sebagai imam (lihat Shahih Al-Bukhari pada kitab Shalat Tarawih).



3. “Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya (makmum) qiyam satu malam penuh.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (1/380). Berkenaan dengan hadits di atas, Al-Imam Ibnu Qudamah mengatakan: “Dan hadits ini adalah khusus pada qiyamu Ramadhan (tarawih).” (Al-Mughni, 2/606)

Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa shalat Tarawih lebih utama dilakukan menyendiri. Inilah pendapat Al-Imam Malik dan Abu Yusuf serta sebagian pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i. Hal ini sebutkan pula oleh Al-Imam An-Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 6/282). Adapun dalil yang dijadikan sandaran diantaranya :

Hadits dari shahabat Zaid bin Tsabit ra, sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Wahai manusia, shalatlah di rumah kalian! Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat yang diwajibkan.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dengan demikian, shalat Tarawih boleh dilakukan dengan berjamah atau-pun munfarid. Hemat penulis berjamaah dalam shalat tarawih (Qiyamu Ramadhan) lebih utama. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 Agustus 2011 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamu’alaikum Wr. Wb,
Semoga Abu dalam keadaan sehat wal afiat amin..., sudi kiranya Abu menjawab pertanyaan saya . Langsung pada poko pertanyaan
Saya menikahi wanita dengan wali ayahnya, tetapi ayahnya beserta saksi dari KUA pada waktu ijab kabul tidak tahu bahwa status saya duda, dan sampai sekarang orang tua dan keluarganya tidak mengetahuinya.
yang menjadi pertanyaan :
1. Apakah sah pernikahan kami ?...
2. Apa perlu kami memberitahukan status saya kepada orang tua dan saudaranya ?...
Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terimakasih
Wassalam, Gilang Antoni

Jawab : Wa’alaikumussalam, sahnya sebuah pernikahan bukan terletak pada duda atau jandanya. Tapi pada syarat dan rukunnya. Jika calon istri kita bersedia untuk dinikahi, maka tentu pernikahan itu sah adanya, sekalipun statusnya tidak disebutkan. Memang sebaiknya anda berterus terang mengenai status itu. Namun status itu tidak ada hubungannya dengan sah tidaknya sebuah pernikahan. Jangankan duda, jika anda masih berstatus suami saja dalam Islam dibolehkan untuk menikah lagi. Allohu A’lam



Dikirim pada 04 Agustus 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamualaikum, pak Ustadz Abu Alifa Shihab, saya membaca tulisan ustadz bahwa doa yang paling baik adalah doa yang diajarkan Nabi. Yang saya ingin tanyakan adakah doa selain "Allohumma inni audzubika min adzabi jahanam dst..." dalam tasyahud akhir sebelum salam? Wassalam GRY NTB

Jawab : Wa’alaikumussalam, dalam keterangan Nabi saw mengajarkan doa, khususnya dalam tahiyat/tasyahud akhir diantaranya doa yang bapak sebutkan diatas dengan derajat yang shahih (lihat HR. Al-Bukhari 2/102 no.1377 dan Muslim 1/412 no.588 dari Abu Hurairah ra), bahkan dalam beberapa keterangan doa-doa yang diajarkan dalam tasyahud akhir diantaranya :

Pertama,

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnahnya Al-Masih Ad-Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnahnya hidup dan mati. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (berbuat) dosa dan (terlilit) hutang."

Berkatalah Aisyah, "Maka ada seseorang yang berkata, "Betapa banyaknya (seringnya) engkau meminta perlindungan dari hutang, wahai Rasulullah!" Maka Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, ketika dia berbicara maka dia berdusta dan ketika berjanji maka dia menyelisihi." (HR. Al-Bukhariy 1/202 no.832 dan Muslim 1/412 no.589)

Kedua,

اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

"Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak. Dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, serta rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (HR. Al-Bukhariy 8/168 dan Muslim 4/2078)

Ketiga,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ، وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُأَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, juga yang aku melampaui batas dan apa-apa yang Engkau ketahui dariku. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau." (HR. Muslim 1/534)

Keempat,

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya." (HR. Abu Dawud 2/86, An-Nasa`iy 3/53 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy di dalam Shahih Abu Dawud 1/284)


Kelima,

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut/pengecut. Dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling rendah. Dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnahnya dunia dan siksa kubur." (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 6/35)

Keenam,

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka." (HR. Abu Dawud, lihat Shahih Ibnu Majah 2/328)

Ketujuh,

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ يَا أَللهُ بِأَنَّكَ الْوَاحِدُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلْمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu Ya Allah, bahwasanya Engkaulah Yang Esa lagi Tunggal, Tempat bergantung. Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. (Aku mohon) agar Engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (HR. An-Nasa`iy dengan lafazhnya 3/52, Ahmad 4/338 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy di dalam Shahih An-Nasa`iy 1/280)

Kedelapan,

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الَمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwasanya segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Mu. (Engkau) Yang Maha Pemberi anugerah. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka." (HR. Ash-Haabus Sunan, lihat Shahih Ibnu Majah 2/329)

Hendaklah kita jangan melupakan salah satu dari doa diatas (jika tidak hafal semuanya). Karena di antara waktu yang mustajabah adalah berdoa setelah tasyahhud akhir sebelum salam. (Lihat Shifatu Shalaatin Nabi hal.183). Allohu A’lam

Dikirim pada 04 Agustus 2011 di Bab. Do’a

Tanya : Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad.. bagaimanakah hukumnya jika kita shalat dirumah orang kafir..?? trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm. Rizal Syahri

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Belum didapatkan dalil larangan kepada kita melaksanakan shalat ditempat atau rumah orang kafir. Bahkan dalam keterangan disebutkan.

جعلت لى اللأرض طهورا ومسجدا فأينما رجل أدركته الصلاة فليصل حيث أدركته . متفق عليه

Bumi diciptakan untukku dalam keadaan suci ( bersih ) dan sebagai masjid ( tempat untuk sholat ) maka siapa saja yang mendapatkan waktu sholat maka sholatlah dimana saja ia berada.(Mutafaq Alaih)

Ada dua tempat yang dilarang kita melaksanakan shalat berdasarkan hadits yang shahih . Sabda Rasulullah saw :

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاًّ لْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Tanah semuanya adalah masjid melainkan kuburan dan tempat kamar mandi (WC).” (HR. Abu Daud, no. 492. Tirmizi, no. 317, Ibnu Majah, no. 745 dari Abi Said Al-Khudri ra).

Pada dasarnya shalat yang dilakukan dirumah non-muslim secara hukum sah, apalagi tidak didapatkan tempat untuk shalat ditempat tersebut. Akan tetapi jika didaerah tersebut terdapat mesjid, maka tentu alangkah tepatnya kita shalat dimasjid tersebut. Allohu A’lam

Dikirim pada 04 Agustus 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad.. saya tahu bahwa didalam mazhab syafi’i ada suatu hkum dalam shalat,yaitu apabila kita shalat berjamaah dan saat itu sedang melaksanakan shalat yang dibaca jahriyah,maka apabila imam telah selesai membaca fatihah,makmum WAJIB membaca fatihah lagi,bahkan ada yang sampai terburu-buru sekali dalam membacannya.. yang saya ingin tanyakan,mengapa bisa begitu..??karna setau saya,dar yang saya pelajari dari guru2 saya bahwa hal itu tidak perlu dilakukan,karna banyak dalil yang mendukung pernyataan tersebut,diantaranya..

1. bukankah ALLAH SWT telah berfirman dlm surah al-a’raf:204,yaitu "Dan apabila DIBACAKAN QURAN,maka DENGARKANLAH baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang,agar kamu MENDAPAT RAHMAT" bukankah sudah seharusnya kita mendengarkan imam membaca surat berikutnya,agar kita mendapat rahmat..??

2.Apabila ada yang berpendapat,"membaca fatihah dalam shalat itu wajib,sedangkan mendengarkan surat setelahnya ialah sunnah", kalo begitu bagaimana dengan penjelasan sebuah atsar,ketika sayyid ibnu mas’ud mengerjakan shalat,kemudian ia mendengar oang2 membaca bacaan bersama imam. ketika beliau hendak pulang,maka beliau pun berkata,"Tidakkah kalian memahami firman ALLAH SWT,(kemudian beliau membaca surat al-a’raaf:204),sebagaimana ALLAH SWT telah perintahkan kepada kalian..??" dari sini sudah cukup jelas,bahwa makmum tak perlu lagi mengulang fatihah yang telah dibaca karna telah diwakilkan pada Imam sebelumnya,dan daripada kita main kejar2an dengan imam saat membaca Fatihah,alangkah baiknya kita dengarkan saja imam membaca surat setelahnya,agar kita mendapat rahmat.

3.didalam sebuah hadits shahih riwayat abu hurairah r.a pun sudah sangat jelas tanpa harus pentakwilan lagi,bahwa ketika Rasulullah saw berpaling dari shalat jahr,kemudian beliau bertanya,"Apakah salah seorang dari kalian tadi ada yang membaca bersamaku..??",lalu seorang laki2 menjawab,"Benar,wahai rasulullah",rasulpun lantas berkata,"Aku katakan kepadamu mengapa aku diganggu..??"maka perawipun berkata,"sejak saat itu,orang2 tidak lagi membaca bersama rasulullah ketika mengerjakan shalat jahr" tidakkah hadits ini sudah jelas..??

4.Syaikh muhammad nasib ar-rifa’i,ketika membaca&menjelaskan firman ALLAH dlm surat yunus:88-89,yaitu,"Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksan yang pedih, Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui", kemudian meyebutkan sebuah doa dari nabi Musa a.s,yang dari susunan kalimatnya menunjukan bahwa nabi harun a.s mengamini doa tersebut,sehingga ia menempati kedudukan orang yang telah berdoa,perhatikan firman ALLAH "Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua".. ini menunjukan bahwa orang yang mengamini doa seseorang,maka ia juga dianggap telah berdoa,makamakmum tak perlu membaca lagi sebab makmun ketika mengaminkan juga telah mencapai derajat berdoa..

5.mansukhnya membaca fatihah dibelakang imam dalam shalat jahriyah,memang benar sebelumnya rasul menyuruh makmum agar juga membaca fatihah dibelakang imam saat shalt jahr,tapi kemudian ada lagi hadits seperti yang telah saya sebutkan diatas,maka bukankah sudah seharusnyakita mengamalkan perintah terbaru dari rasulullah,separti halnya dulu rasul melarang ziarah kubur,namun kini sudah diperbolehkan.

6.dan bukankah ada hadits yang berbunyi,"sungguh imam itu dijadikan untuk diikuti,maka apabila ia bertakbir,bertakbirlah kalian dan bila ia membaca,maka diamlah kalian"(HR.abu daud & Muslim).

7.kemudian juga sebagai tambahan,ada hadits yang brbunyi,"barangsiapa shalat mengikuti imam,maka bacaan imam adalah bacaan aginya pula"(HR.ibnu majah,ad-daruquthany & ahmad) dan ini berlaku dalam shalat jahriyah..kecuali dalam shalt sirriyah,maka wajib baginya selalu membaca fatihah..

8.kalau memang tiap rakaat kita emang harus embaca fatihah ((dlm shalat jahr),maka mengapa makmum yang masbuk dan tidak sempat membaca fatihah (dlam cntoh ini si makmum tidak perlu tambah 1 rakaat lgi,karna masih sempat mengejar ruku) tapi tidak mengapa tak membaca fatihah,itu karna memang sudah diwakilkan oleh sang Imam bukan..??

9.lagipula ustadz,bukankah anjuran untk mendengarkan & diam jika mendengar bacaan Quran adlah perintah ALLAH SWT,yang jika kita ikuti maka kita dapat disayangi..?? jika kita mendengarkan&diam,bukankah itu artinya kita telah menahan hati&mulut,untuk memahami apa yang difirmankan ALLAH,maka ALLAH akn mengasihi kita dgn pahala atas apa yang kita kerjakan dengan yang kita pahami,yaa meskipun kita gak tau artinya,minma lkita udh dpt pahala mendengarnyakan..??kalau imam sedang membaca kita juga sibukmembaca,otomatis kita tidak dapat memahami apa yg kita baca &dengar,kalo kita ga paham,gimana kita mau mengamalkannya,kalo ga bisa diamalkan bagaimana ALLAH akn mengasihi kita..??bukan begitu ustadz..??

10. lagipula,saya juga merasa terganggu kalu disebelah saya sibuk baca sendiri,padahal saya mau fokus dengarkan,mungkin imam ga terganggu,karna suara imam sekarangkan pake speker,jadi imamga terlalu dengar kalo ada orang yang bicara dibelakangnya,lalu bagaimana dengan makmum disebelahnya??bukankah ustadz tau,menggangu orang shalat itu haram hukumnya..??

11. memang hukum membaca fatihah,meski telah dibaca oleh imam sebelumnya,adalah pendapat seorang imam besar yang tak dapat diragukan lagi kapasitasnya,namun bukankah beliau juga sudah mewanti-wanti,beliau (Imam Syafi’i r.h)berkata:"Bila kalian mendapati dalam kitabku suatu hal yang menyelisih sunnah rasulullah,maka ikutilah sunnah dan tinggalkan ucapanku"(diriwatkan oleh Ibnu Qayyim).dan masih banyak lagi pendapat beliau mengenai taklid ini,yang terlalu kepanjangan kalau saya tulis semuanya..

ini membuktikan,bahwa imam syafi’i juga hanya sorang manusia biasa,ia juga punya rasa tukut,kalau2 ucapan beliau dimasanya belum tentu benar dimasa mendatang,karna ilmu pengetahuan semakin maju dari tahun ketahun,tak bisa dipungkiri mungkin saja yang belum diketahui imam syafi’i pada masanya,karna keterbatasan2 yg ada,namun diketahui dijaman berikutnya,andaikata beliau sungguh yakin dengan semua ucapannya,tak mungkin beliau mengutarakan pendapat seperti yang tadi saya sebutkan..lalu bagaimana benarnya pak Ustadz..?? trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm. Rizal Syahri

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Benar akhi bahwa ayat al-A’raf salah satu alasan kita bahwa jika imam membaca jahar cukuplah bagi kita bacaan imam, sebab disitulah salah satu letak keikutsertaan dengan imam.

Dari Jabir berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang mempunyai imam, maka bacaan imam menjadi bacaannya juga." Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Jika dia takbir maka takbirlah kalian, jika dia membaca maka diamlah kalian, dan jika dia mengucapkan sami’allahu liman hamidah, maka katakanlah Allahumma Rabbana lakal hamdu." (HR. Nasai) Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, jika dia takbir, maka takbirlah kalian, jika dia membaca, maka diam dan simaklah (HR. Ahmad). Allohu A’lam



Dikirim pada 02 Agustus 2011 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamu’alaikum, pak ustadz mohon penjelasan mengenai bacaan beserta dzikir setelah sholat yang di contohkan oleh Nabi. Dicky Ferdiansyah


Jawab : Wa’alaikumussalam, Diantara dzikir yang pernah diajarkan Nabi saw selesai shalat fardhu adalah :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثَلاَثاً) اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَـا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ(

Astagfirullah 3x

ALLAHUMA ANTA SALAM WA MINKA SALAM TABARAKTA YA DZAL JALALI WAL IKRAM



“Aku minta ampun kepada Allah “(dibaca tiga kali), “ Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia “.

(HR.Muslim: 1/414).



Kemudian membaca :





لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، لاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ



Laailaaha illallah wahdahu la syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wa huwa ’alaa kulli syai’in Qodir Allahuma la mani’a lima a’thoita, wala mu’tia lima mana’ta, wala yanfa’u dzal jaddi minkal jadd



“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya Kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah. Nasib baik seseorang tiada berguna untuk menyelamatkan ancaman dari-Mu (HR.Bukhari: 1/225, Muslim: 1/414.)



Kemudian membaca :





سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَاللهُ أَكْبَرُ (ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْـدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ





Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x





digenapkan“keseratusnya dengan membaca :





Laailaaha illallah wahdahu la syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wa huwa ’alaa kulli syai’in Qodir

Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar “ (di-baca 33 kali), “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu “.



“Siapa yang mengucapkannya selesai shalat, Aku (Allah) ampuni kesalahan-kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan”. (HR. Muslim 1/418 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)



Kemudian Membaca Ayat Kursi yang artinya :





Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah), melainkan Dia yang hidup kekal, lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. HR.Nasa’i dalam Amalul Yaumi Walailah, no: 100, Ibnu Sunny, no. 121, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Jami’: 5/339, dan Silsilah Hadits Shahih: 2/697, no. 972.





Kemudian membaca :

Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas (HR. Abu Daud: 2/68, lihat Shahih Tirmidzi: 2/8) ketiga surat tersebut disebut juga “Al Mu’awwizaat”, lihat Fathul baari: 9/62. Allohu A’lam



Dikirim pada 31 Juli 2011 di Bab. Do’a



Tanya : Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad..saya dulu pernah bernazar jika melanggar suatu hal maka akan berpuasa slama 2 bulan berturut-turut.akhirnya saya melanggar hal tersebut,saya rasa saya tidak kuat membayarnya,andaikata memberi makan 60 faqir miskinpun saya kurang mampu,bisakah saya menggunakan firman ALLAH dlm surat al-maidah ayat 89 yaitu "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur." bisakah saya berpuasa 3 hari saja,karna menurut saya itu yang paling saya mampu lakukan.. trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm. Rizal Syahri



Jawab : Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Kaffarat nadzar ya sesuai dengan apa yang anda paparkan. Mengenai yang 60 fakir miskin adalah pelanggaran ibadah shaum ramadhan, yaitu apabila bercampur disiang hari. Maka kafaratnya, memrdekakan hamaba sahaya, shaum dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 fakir miskin. Kafarat nadzar atau sumpah ya al-Maidah 89. Janganlah sedikit-sedikit bersumpah atau bernadzar. Bernadzar menunjukkan diantara kekikiran. Allohu A’lam


Dikirim pada 30 Juli 2011 di Bab. Shaum

ABU ALIFA SHIHAB & KELUARGA



Mengucapkan



SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH SHAUM

RAMADHAN 1432 H



SEMOGA KITA MAMPU MEMAKSIMALKAN BERBAGAI BENTUK IBADAH



MOHON MAAF ATAS SEGALA KEKELIRUAN DAN KESALAHAN SELAMA INI



Wassalam


Abu Alifa Shihab & Keluarga

Dikirim pada 30 Juli 2011 di PROMOSI PEMBACA

Tanya : Assalamu’alaikum, Ustadz Abu Alifa yang kami cintai dan hormati. bila kita sedang shaum kemudian menggosok gigi menggunakan pasta gigi, apakah akan membatalkan shaum? trm ksh dg jawabannya, Yusra..


Jawab : Wa’alaikumussalam, yang termasuk perkara yang membatalkan shaum adalah makan, minum dan bercampur dimulai dari terbitnya fajar (shubuh) sampai terbenam matahari (maghrib). Maka tentu menggosok gigi tidak termasuk kepada makan dan minum, kecuali pasta giginya ditelan. Hal ini sama seperti berkumur-kumur jika tidak ditelan ya tidak membatalkan shaum kita. Allohu A’lam

Dikirim pada 30 Juli 2011 di Bab. Shaum
30 Jul

Tanya : Assalamu’alaikum, Ustadz Abu Alifa yang kami cintai dan hormati. Bila seseorang mimpi basah (mimpi jima) tetapi tidak sampai keluar mani, apakah diwajibkan untuknya mandi. Wass ... RKL Jombang

Jawab : Wa’alaikumussalam, Diantara yang mewajibkan mandi adalah karena berhubungan badan (jima), sekalipun tidak sampai keluar mani. Akan tetapi keluar mani-pun merupakan penyebab seseorang wajib mandi, meskipun bukan karena berjima (berhubungan), misalnya karena mimpi jima. Akan tetapi jika semata-mata hanya mimpi jima saja, dan tidak sampai mengeluarkan mani hal ini tidaklah wajib mandi. Sebab tidak ada jima dan tidak ada keluar mani. Artinya bukan masalah mimpinya yang dimaksud, melainkan keluar mani dalam mimpi itu. Tetapi biasanya orang yang mimpi berjima, ia mengeluarkan mani.

Sabda Nabi saw : Jika seseorang laki-laki duduk diantara bagian tubuh perempuan yang empat - maksudnya diantara dua tangan dan kakinya - kemudian ia bersungguh-sungguh (jima), maka wajiblah ia mandi, sekalipun tidak mengeluarkan mani. (HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad). Allohu A’lam

Dikirim pada 30 Juli 2011 di Bab. Bersuci
29 Jul

Tanya : Bismillah, pak Ustadz Abu Alifa Shihab yang saya hormati. Saya membaca satu keterangan bahwa anak yang lahir itu tergadai dengan aqiqahnya. Apa maksud tergadai dengan aqiqah itu? Syukran Hamba Allah

Jawab : Dalam kitab Al-Mughni para ulama menafsirkan hadits tersebut dengan beberapa pendapat. Pertama, bahwa si anak akan terhalang pertumbuhannya, dibanding dengan yang diaqiqahkan, jika si anak itu belum diaqiqahkan oleh orang tuanya. Penafsiran kedua, adalah jika si anak itu meninggal dalam usia belum baligh (anak-anak), maka ia tidak ia tidak memberi syafaat dihari kiamat. Penafsiran ketiga, wajib hukumnya kita menebus dengan aqiqah sama wajibnya seperti menebus barang yang digadaikan sebelum mengambilnya kembali. Dan penafsiran keempat, mempunyai makna bahwa anak itu tergadai dengan penyakit yang ada di kepalanya. Karena itu anak yang lahir dan usia 7 hari wajib mencukur habis rambutnya. Demikian makna hadits tersebut menurut para ulama. Allohu A’lam

Dikirim pada 29 Juli 2011 di Bab. Penyembelihan


Tanya : Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad..

seperti yang kita tau,ada didalam shalat yang dinamakan duduk istirat dalam dunia fiqh,aitu duduk setelah sujud ke 2 pada bilangan rakaat yang ganjil,yang ingin saya tanayakan ialah,apakah dari sujud ke 2 tersebut jika hendak duduk istirahat mengucapkan takbir terlebih ahulu,kemudian mengucap takbir lagi untukk bangkit menuju rakaat berikutnya..??atau bagaimana yang sesuai tuntunan rasul..??

trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm Rizal Syahril

Jawab : Wassalamu’alaikum wr.wb. Jika ingin duduk istirahat maka tentu takbir yang kita lakukan adalah takbir bangkit dari sujud, hanya saja tidak langsung berdiri melainkan duduk sebentar. Jadi dalam hadits tersebut (lihat pertanyaan jalsah istirahah) tidak ada takbir dari jalsah istirahat (duduk istirahat) melainkan takbir bangkit dari sujud kedua rakaat ganjil dan Nabi (saat mulai gemuk) tidak langsung berdiri melainkan duduk sebentar (lihat jawaban terdahulu mengenai keddudukan duduk istirahat dalam shalat). Allohu A’lam.



Dikirim pada 24 Juli 2011 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh, wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad.. apakah malaikat izrail itu lebih dari satu..??karna seperti kita ketahui bahwa siklus kematian didunia ini perdetiknya sangat banyak sekali,bagaimana malaikat izrail menjalankan tugas mencabut nyawa orang mukmin maupun kafir seperti yang sering kita baca dihadits-hadits..?? trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya wassalammualaikum wr.wb.wm. Rizal Syahril



Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Sekalipun siklus kematian makhluk itu perdetiknya banyak, jangan dibayangkan seperti dalam kehidupan kita memesan sesuatu kepada satu orang. Sebagaimana Allah memberi rizki kepada semua hamba jangan dibayangkan seperti membagi-baginya kepada manusia yang memerlukan antrian. Maka kalau yang dibayangkan seperti itu dimanakah letak kekuasaan Allah? Bagi Allah itu hal yang mudah sebagai pencipta makhluknya termasuk malaikat. Dan kalau tetap membayangkan seperti itu, sebagai ilustrasi kecil saat kita mematikan lampu listrik, kalau ingin semua mati ya tentu dari pusatnya dimatikan. Allahu A’lam





Dikirim pada 24 Juli 2011 di Bab. Aqidah
24 Jul

Tanya : Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad.. bagaimanakah siksa kubur bagi mereka yang mayatnya dibakar,hilang dilaut atau dimakan binatang buas..?? trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm. Rizal Syahri

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Alam kubur bukan "kuburan", oleh karena itu sekalipun jasad hilang atau tenggelam dan dibakar, tetap yang namanya orang yang mati dari kehidupan dunia berpindah ke alam kubur (sebagian mengatakan ke alam menunggu/barzah). Dan kita tidak bisa membayangkan apalagi mengira-ngira seperti apakah alam tersebut, sebab itu sesuatu yang ghaib yang iman dituntut disitu. Sebab letak keimanan biasanya ada pada hal yang belum kita rasakan atau jalani atau sesuatu yang ghaib. Begitupun masalah ruh itupun rahasia Allah swt semata (ini sekaligus menjawab tentang siksa kubur ruh atau jasad). Allohu A’lam

Dikirim pada 24 Juli 2011 di Bab. Aqidah

Tanya : Bismillahirrahmanirrahim, Ustadz Abu Alifa Shihab yang saya hormati. Apakah dibenarkan saat kita sedang mengqadha puasa lantas membatalkan puasa itu. Apakah sama hukumnya dengan membatalkan puasa ramadhan? Trim’s. HA

Jawab : Qadha bisa diartikan dengan mengganti ataupun membayar. Qadha shaum mengandung arti mengganti/membayar hutang shaum. Maka jika kita membayar hutang karena pernah meminjam kemudian pembayarannya itu ditarik kembali, karena ada kebutuhan mendadak, maka tentu hutang kita belum terbayar. Begitu juga dengan shaum. Hanya pembayaran/qadha shaum harus mendapat perhatian dan cepat dibayar. Allohu A’lam

Dikirim pada 08 Juli 2011 di Bab. Shaum

Tanya : Ass warrahmatullahiwabarakatuh
Pak Ustaz,
Saya menjalin hub dengan seorang warga negara asing, dari pertama kami berhubungan dia sudah menyatakan bahwa dia yakin dan serius dengan hubungan ini dan hendak menikahi saya dan bersedia masuk islam untuk dapat menikahi saya.
Saya juga yakin untuk melanjutkan hub kami ke jenjang pernikahan, melihat niat baik dia, namun yang membuat saya masih ragu adalah dia tidak pernah memeluk agama sebelumnya karena dia tidak percaya akan Tuhan.
Saya sudah memberi pengertian kepada dia bahwa saya tidak berharap dia masuk islam hanya karena semata untuk bisa menikah dengan saya, saya berharap dia masuk islam karena dia memang ingin menjadi seorang muslim dan akan berusaha menjalankan ajaran2 islam bersama-sama dengan saya nantinya dalam rumah tangga kita.
Dia pernah bertanya kepada saya apakah bisa dia masuk islam dan menjadi orang yang baik sesuai ajaran islam, tetapi dia tetap tidak percaya tuhan. Dalam pengertian saya disini tentu saja dia tidak akan menjalankan perintah اللّهُ seperti shalat,puasa, dll.
Atas saran dari saya dia setuju untuk belajar tentang islam terlebih dahulu, karena dia mau melakukan apa saja untuk bisa menikahi saya.

Tugas saya sekarang adalah mencarikan dia guru agama islam yang cocok untuk dia belajar, guru tersebut harus seseorang yang bisa membuka dan mengajarkan tentang islam kepada dia bukan hanya berdasarkan teori tetapi fakta dan rasional, karena selama ini dia hanya percaya kepada hal-hal yg rasional/science. Seperti contoh kecil, dia bertanya kepada saya kenapa tidak boleh makan babi, karena yang dia tau sekarang banyak babi yang sudah tidak lagi mengandung banyak penyakit. Hal-hal seperti itulah yang harus dijelaskan dengan baik ke dia dengan fakta yang dapat diterima.

Mohon petunjuk dari Ustaz:
Yang pertama saya bingung dan ragu, apakah saya boleh menikah dengan orang yang mau masuk islam hanya karena ingin menikahi saya.
Yang kedua, dimana saya bisa mencari guru yang tepat buat dia belajar tentang agama, dan karena dia tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa indonesiaa dengan lancar, guru tersebut harus bisa berkomunikasi bahasa inggris.
Yang ketiga, apakah menurut ustaz jika dia sudah bisa percaya akan adanya tuhan, apakah dia bisa terbuka mata hatinya dan mendapatkan hidayah untuk bisa menjadi muslim sejati?mungkin tidak dengan begitu saja tetapi dengan proses pembelajaran dalam rumah tangga kita nanti.

Terima kasih, saya berharap bisa mendapatkan response yang positif dari Pak Ustaz.
Waalaikum salam warrahmatulahiwabarakatu. AYU

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Pertama, salah satu syarat bagi wanita Islam (muslimat) untuk menikah adalah calonnya beraqidah Islam dan bukan mau masuk Islam. Artinya jika hal tersebut dilakukan sebelum masuk Islam maka hal ini haram, sekalipun ada kalimat mau masuk Islam. Tentu dalam hal ini ukhti harus berhati-hati jangan sampai keinginan itu hanya sebatas karena ingin mendapatkan ukhti saja. Dan hal ini sudah banyak terjadi yang pada akhirnya setelah mendapatkannya dia keluar lagi.Apalagi ia katanya tidak percaya kepada pencipta (Alloh). Kedua, untuk mencarikan guru khusus coba hubungi ke lembaga/ormas yang disitu dipersiapkan guru-guru dan mubaligh yang ukhti harapkan. Ketiga, masalah hidayah tidak bisa dipaksakan. Sekalipun ia percaya akan adanya Tuhan, belum tentu ia rela untuk masuk Islam. Banyak orang yang belajar Islam tapi malah jauh dari Islam. Hal ini tergantung dari hidayah Allah semata. Kita hanya ikhtiar untuk menyadarkannya. Jika tidak bisa sadar, maka jangan memaksakan diri untuk tetap bersamanya hala ini merypakan ketentuan syariat. Allohu A’lam

Dikirim pada 07 Juli 2011 di Bab. Nikah

Tanya : assalamu alaikum wrwb, salam kenal, saya mau tanya hukum memakaikan kerincing pada kucing.wassalam.sultan. SA

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Belum ditemukan dalil yang melarang akan hal tersebut. Allohu A’lam

Dikirim pada 07 Juli 2011 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamu alaykum wr. wb..
Ustadz, saya Pria (27 tahun) dimana beberapa tahun yang lalu kenal dengan wanita (26 tahun) yatim piatu. Dari kecil (kurang lebih usia 1 tahun) diambil dari yayasan yatim piatu dan di asuh oleh orang tua angkat/asuh yang sampai sekarang masih bersamanya. Sampai sekarang tidak diketahui siapa Orang tua kandung (ayah dan ibu kandung) dari anak tersebut.. pertanyan saya adalah :
1. Jika wanita tersebut ingin menikah, apakah nasab (binti) wajib disebutkan dalam ijab qabul?
2. Kalau wajib, siapa nasab (binti) yang sah dari wanita tersebut menurut syar’i?
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas bantuan nya.. Mohon maaf kalau ada salah kata.. Semoga Allah swt membalas kebaikan ustadz.. Wassalam wr wb.. AA

Jawab : Wa’alaikumussalam... Pertama, nasab merupakan salah satu dari identitas kita, bahkan yang membedakan siapa kita sebab bisa jadi nama kita ada yang sama. Oleh karena itu maka silsilah dalam nasab sesuatu yang sangat berarti dalam Islam. Kedua, pada jaman banyak yang menisbatkan nasab shahabat Zaid kepada Nabi Muhammad saw, disebabkan shahabat tersebut lama diurus oleh Nabi, maka turunlah satu ayat yang meluruskannya. Dan bahkan sebagai larangan seseorang menasabkan kepada yang bukan orang tua kandungnya sendiri. Maka yang sah adalah menasabkan keturunan kepada orang tua kandungnya (bapaknya). Jika tidak diketahui siapa nasabnya, maka wali hakimlah yang berhak menikahkannya. Allohu A’lam





Dikirim pada 07 Juli 2011 di Bab. Nikah


Tanya : Maaf, salam kenal...Saya mau nanya masalah pribadi,sy gk tau mau nanya sm siapa,,sy krj jualan ayam potong,masalahny sy kurang jelas masalah syarat sah motong ayam.Salah satu yg paling saya pertanyakan adalah bolehkah motong ayam dalam keadaan junub...Atau dlm keadaan tdk suci.Mohon bantuannya...Trima ksh.. C. Owowen

Jawab : Belum didapatkan satu ketentuan bahwa dalam menyembelih itu harus suci dari hadast besar atau kecil, atau harus mandi dan wudhu terlebih dahulu. Bahkan sembelihan orang Yahudi dan Nasrani saja dihalalkan bagi kita.

Imam al-Bukhari meriwayatkan, ada sekelompok kaum datang menemui Nabi saw., (mereka bertanya) : Wahai Rasulullah sesungguhnya ada suatu kaum yang memberi kami daging, dan kami tidak mengetahui apakah dibacakan bismillah atau tidak. Rasulullah bersabda : bacalah oleh kalian (bismillah) dan makanlah. Aisyah berkata : adalah mereka itu orang yang baru masuk islam. Allohu A’lam

Dikirim pada 02 Juli 2011 di Bab. Penyembelihan

Tanya : Assalamu’alaikum pak ustadz bagaimana sebenarnya hukum memperingati Isra’ Mi’raj? HG Jawa Tengah

Jawab : Wa’laikumussalam. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya kutip pernyataan Syaikh Ibnu Baz dalam www.salafystg.blogspot.com
Tidak diragukan lagi bahwa isra mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan kebenaran Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan keagungan kedudukan beliau di sisiNya, juga menujukkan kekua-saan Allah yang Mahaagung dan ketinggianNya di atas semua makhlukNya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isra’: 1).
Telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam secara mutawatir, bahwa beliau naik ke langit, lalu dibukakan baginya pintu-pintu langit sehingga mencapai langit yang ketujuh, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berbicara kepadanya dan mewajibkan shalat yang lima waktu kepadanya. Pertama-tama Allah Subhanahu Wa Ta’ala mewajibkannya lima puluh kali shalat, namun Nabi kita a tidak langsung turun ke bumi, tapi beliau kembali kepadaNya dan minta diringankan, sampai akhir-nya hanya lima kali saja tapi pahalanya sama dengan lima puluh kali, karena suatu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Puji dan syukur bagi Allah atas semua ni’matNya.

Tentang kepastian terjadinya malam isra mi’raj ini tidak disebutkan dalam hadits-hadits shahih, tidak ada yang menyebutkan bahwa itu pada bulan Rajab dan tidak pula pada bulan lainnya. Semua yang memastikannya tidak benar berasal dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam . Demikian menurut para ahli ilmu. Allah mempunyai hikmah tertentu dengan menjadikan manusia lupa akan kepastian tanggal kejadiannya. Kendatipun kepastiannya diketahui, kaum muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan suatu ibadah dan tidak boleh merayakannya, karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu anhum tidak pernah merayakannya dan tidak pernah mengkhususkannya. Jika perayaannya disyari’atkan, tentu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkannya kepada umat ini, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Dan jika itu disyariatkan, tentu sudah diketahui dan dikenal serta dinukilkan dari para sahabat beliau kepada kita, karena mereka senantiasa menyampaikan segala sesuatu dari Nabi mereka yang dibutuhkan umat ini, dan mereka tidak pernah berlebih-lebihan dalam menjalankan agama ini, bahkan merekalah orang-orang yang lebih dahulu melaksanakan setiap kebaikan. Jika perayaan malam tersebut disyariatkan, tentulah merekalah manusia pertama yang melaksanakannya.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling loyal terhadap sesama manusia, beliau telah menyampaikan risalah dengan sangat jelas dan telah menunaikan amanat dengan sempurna. Seandainya memuliakan malam tersebut dan merayakannya termasuk agama Allah, tentulah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak melengahkannya tidak menyembunyikannya. Namun karena kenyataannya tidak demikian, maka diketahui bahwa merayakannya dan memuliakannya sama sekali tidak termasuk ajaran Islam, dan tanpa itu Allah telah menyatakan bahwa Dia telah menyempurnakan untuk umat ini agamanya dan telah menyempurnakan nikmatNya serta mengingkari orang yang mensyariatkan sesuatu dalam agama ini yang tidak diizin-kanNya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu." (Al-Maidah: 3). Kemudian dalam ayat lain disebutkan, "Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih." (Asy-Syura:21).
Telah diriwayatkan pula dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits-hadits shahih peringatan terhadap bid’ah dan menjelaskan bahwa bid’ah-bid’ah itu sesat. Hal ini sebagai peringatan bagi umatnya tentang bahayanya yang besar dan agar mereka menjauhkan diri dari melaku-kannya, di antaranya adalah yang disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari Aisyah i, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak." Dalam riwayat Muslim disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak."

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, dari Jabir -rodhiallaahuanhu-, ia mengatakan, bahwa dalam salah satu khutbah Jum’at Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ a وَشَرُّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
"Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah,sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam , seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.
An-Nasa’i menambahkan pada riwayat ini dengan ungkapan,
وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
"Dan setiap yang sesat itu (tempatnya) di neraka."
Dalam As-Sunan disebutkan, dari Irbadh bin Sariyah -rodhiallaahuanhu-, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengimami kami shalat Shubuh, kemudian beliau berbalik menghadap kami, lalu beliau menasehati kami dengan nasehat yang sangat mendalam sehingga membuat air mata menetes dan hati bergetar. Kami mengatakan, Wahai Rasulullah, tampaknya ini seperti nasehat perpisahan, maka berwasiatlah kepada kami. Beliau pun bersabda,
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, taat dan patuh, walaupun yang memimpin adalah seorang budak hitam. Sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup setelah aku tiada, akan melihat banyak perselisihan, maka hendaklah kalian memegang teguh sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah itu dengan geraham, dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perakara yang baru, karena setiap perkara baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat."

Telah disebutkan pula riwayat dari para sahabat beliau dan para salaf shalih setelah mereka, tentang peringatan terhadap bid’ah. Semua ini karena bid’ah itu merupakan penambahan dalam agama dan syari’at yang tidak diizinkan Allah serta merupakan tasyabbuh dengan musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi dan Nashrani dalam penambahan ritual mereka dan bid’ah mereka yang tidak diizinkan Allah, dan karena melaksanakannya merupakan pengurangan terhadap agama Islam serta tuduhan akan ketidaksempurnaannya. Tentunya dalam hal ini terkandung kerusakan yang besar, kemungkaran yang keji dan bantahan terhadap firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala , "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu." (Al-Ma’idah: 3). Serta penentangan yang nyata terha-dap hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam yang memperingatkan perbuatan bid’ah dan peringatan untuk menjauhinya.
Mudah-mudahan dalil-dalil yang kami kemukakan tadi sudah cukup dan memuaskan bagi setiap pencari kebenaran untuk mengingkari bid’ah ini, yakni bid’ah perayaan malam isra mi’raj, dan mewaspadainya, bahwa perayaan ini sama sekali tidak termasuk ajaran agama Islam. Kemudian dari itu, karena Allah telah mewajibkan untuk loyal terhadap kaum muslimin, menerangkan apa-apa yang disyariatkan Allah kepada mereka dalam agama ini serta larangan menyembunyikan ilmu, maka saya merasa perlu untuk memperingatkan saudara-saudara saya kaum muslimin terhadap bid’ah ini yang sudah menyebar ke berbagai pelosok, sampai-sampai dikira oleh sebagian orang bahwa perayaan ini termasuk agama. Hanya Allah-lah tempat meminta, semoga Allah memperbaiki kondisi semua kaum muslimin dan menganugerahi mereka pemahaman dalam masalah agama. Dan semoga Allah menunjuki kita dan mereka semua untuk senantiasa berpegang teguh dengan kebenaran dan konsisten padanya serta meninggalkan segala sesuatu yang menyelisihinya. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas itu. Shalawat, salam dan berkah semoga dilimpahkan kepada hamba dan utusanNya, Nabi kita, Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Allohu A’lam

Dikirim pada 01 Juli 2011 di Bab. Bid’ah

Tanya : assalamualaikum ustadz
saya doakan ustadz selalu dibawah lindungan Allah SWT
amin....
saya mau menanyakan tentang wali pernikahan.
ustadz,kalau seandainya anak perenpuan dari ayah kandung nya menikah, boleh nggak si ayah memberikan hak wali nya kepada wali hakim? sedangkan ayah nya sudah memenuhi syarat menjadi wali nikah dan ayah nya tersebut berada di tempat akan dilaksanakan nya ijab-qabul ? Farhan Eka Putra

Jawab : Wa’alaikumussalam, sekalipun sudah memenuhi syarat sebagai wali, tentu tidak ada larangan bagi orang tua menyerahkan wali itu kepada hakim. Dan nikahnya tetap sah. Allohu A’lam

Dikirim pada 01 Juli 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum, pak Ustadz Abu Alifa yang saya hormati. Ada satu pertanyaan yang selalu mengganjal dalam pikiran saya, sekalipun agak riskan saya menanyakannya. Benarkah bahwa berhubungan antara suami istri dimalam jum’at itu merupakan sunnah? HG Jawa Timur

Jawab : Wa’alaikumussalam, berhubungan antara suami istri merupakan bentuk ibadah, baik itu dilakukan disiang hari ataupun malam hari. Hanya belum didapatkan dalil yang berkenaan bahwa bercampur dimalam jumat itu sunnah. Sekalipun kita kadang sering mendengar hal seperti itu. Allohu A’lam

Dikirim pada 25 Juni 2011 di Bab. Jum’at

Tanya : Assalamu’alaikum, pak ustadz saya masih punya utang puasa tahun sebelumnya yang belum sempat dibayar. Apakah hal tersebut bisa dilakukan ditahun depan? Bagaimana hukumnya kalau keburu datang ramadhan dan belum sempat saya bayar? JKU Jember

Jawab : Wa’alaikumussalam, Barangsiapa diantara kalian yang mendapati bulan (Ramadhan) maka hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa yang sakit atau berpergian (lalu ia tidak berpuasa) maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya di hari yang lain.(QS.2 : 185.)

Hutang shaum atau puasa wajib (ramadhan) tidak bisa gugur disebabkan telah datang lagi ramadhan. Namun ia tetap berkewajiban mengqodho’ puasanya yang ia tinggalkan, karena kewajiban mengqodho’ tidak gugur dengan sebab diakhirkan/ditunda. Maka ia tetap wajib menggantinya walaupun setelah bulan Ramadhan tahun berikutnya. Oleh karena itu sebaiknya dalam mengqadha shaum itu harus mendapat perhatian. Bahkan ada sebagian pemahaman bahwa qadha itu harus dibayar sebelum datang lagi kewajiban shaum berikutnya. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah :

Dahulu kami memiliki hutang shaum Ramadhan, dan tidaklah aku sempat membayarnya (tertunda) kecuali setelah datang bulan Sya’ban. (Shahih Bukhary No.1950). Allohu A’lam

Dikirim pada 25 Juni 2011 di Bab. Shaum

Tanya : Assalamu’alaikum. Ustadz jika kita kehilangan barang trus kita bertanya pada kyai apa itu dosa? Trus sama kyai itu disuruh membaca ayat2 sambil nyiramin pake air. Apa itu dosa?

Jawab : Wa’alaikumussalam. Kalau bertanya pada kyai itu untuk menemukan barang anda yang hilang, itu keliru. Sebab kyai bukan untuk itu. Tapi jika anda datang ke kyai meminta dido’akan supaya barang itu bisa ditemukan, silahkan. Ayat al-quran bukan diperuntukan untuk itu! Allohu A’lam

Dikirim pada 18 Juni 2011 di Bab. Aqidah



Tanya : ass.....permisi mau tanya nie... saya sdh pernah menikah siri tanpa wali, memang saya akui salah dalam bertindak, akan tetapi sebelum saya bertindak, saya pernah meminta kepada orang tua saya tetapi orang tua saya tetap tidak mau menikahkan kami dengan alasan tidak sepadan materi dan martabat, ingin menghabiskan harta orang tua saya, calon saya memelet saya dengan dukun.. terpaksa saya pergi dari rumah selama 6bulan.. pada bulan lalu calon suami saya (menurut hukum negara) diminta surat pindah nikah sama orang tua saya dan ternyata itu permainan agar saya membatalkan pengajuan wali adhol di pengadilan agama.. setelah saya mengetahui bahwa ternyata saya di permainkan dengan orang tua saya.. saya memohon ke kantor KUA untuk rujukan perkara ke pengadilan agama.. saat akan sidang 1 kerabat keluarga saya telpon bila saya datang ke pengadilan akan dijemput paksa dipengadilan.. saya urungkan sidang 1 selanjutnya sidang 2 saya datang dan benar apa kata kerabat saya bahwa ada pemaksaan.. sampai2 saya pun pingsan.. yang ingin saya tanyakan, apakah saya masih bisa menikah dengan calon pilihan saya? dengan jalan apa saya bisa melanjutkan pernikahan? apalagi skrg saya hamil 3bulan.. mohon bantuannya dan jalan keluarnya.. trima kasih wass...MU

Jawab : Wa’alaikumussalam, sangat disayangkan ukhti nikah tanpa wali, padahal wali menurut para ahl fiqh merupakan salah satu rukun yang ada dalam pernikahan. Terlepas wali itu siapa, apakah orang tua atau wali hakim. Namun yang jadi pertanyaan siapa yang menikahkan ukhti (ijab-nya)!! Kalau masalah bisa menikah tentu, setelah anda selesai dengan yang dianggap suami sekarang. Baik itu melalui gugatan cerai (minta cerai) pada suami atau dengan cara khulu (talak tebusan) dari istri ke pengadilan. Allohu A’lam

Dikirim pada 16 Juni 2011 di Bab. Nikah

KAIFIYAH (TATACARA) SHALAT GERHANA



Tidak ada satu kejadian di antara sekian banyak kejadian yang ditampakkan Allah swt di hadapan hamba-Nya, melainkan agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kekuasaan yang Allah swt tampakkan tersebut. Yang pada akhirnya, kita dituntut untuk selalu mawas diri dan melakukan muhasabah.

Di antara bukti kekuasaan Allah swt itu, ialah terjadinya gerhana. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu saw justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. (Muttafaqun ‘alaihi).

PENGERTIAN GERHANA

Dalam istilah fuqaha dinamakan kusûf. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa.1 Jadi, shalat gerhana, ialah shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya.

HUKUM SHALAT GERHANA

Jumhur ulama’ berpendapat, shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. Abu ‘Awanah Rahimahullah menegaskan wajibnya shalat gerhana matahari. Demikian pula riwayat dari Abu Hanifah Rahimahullah, beliau memiliki pendapat yang sama. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau menempatkannya seperti shalat Jum’at. Demikian pula Ibnu Qudamah Rahimahullah berpendapat, bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah.2

Adapun yang lebih kuat, ialah pendapat yang mengatakan wajib, berdasarkan perintah yang datang dari Nabi saw. Imam asy-Syaukani juga menguatkan pendapat ini. Demikian pula Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah dan Syaikh al-Albâni Rahimahullah.3 Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih ‘Utsaimin Rahimahullah berkata: “Sebagian ulama berpendapat, shalat gerhana wajib hukumnya, berdasarkan sabda Nabi saw. Jika kalian melihatnya, berdzikirlah,shalatlah ... (Mutafaq Alaih)

Sesungguhnya, gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi saw berkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Semua itu menjadi satu alasan kuat wajibnya perkara ini, kalaupun kita katakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi saw sangat menekankan tentang kejadian ini, kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya. Maka, pendapat ini perlu ditilik ulang, bagaimana bisa dikatakan sesuatu yang menakutkan kemudian dengan sengaja kita meninggalkannya? Bahkan seolah hanya kejadian
biasa saja? Dimanakah rasa takut?

Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib, memiliki argumen sangat kuat. Sehingga jika ada manusia yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di ladang; semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita diperintahkan untuk mewaspdainya. Maka pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah.4

Adapun shalat gerhana bulan, terdapat dua pendapat yang berbeda dari kalangan ulama

Pendapat pertama. Sunnah muakkadah, dan dilakukan secara berjama’ah seperti halnya shalat gerhana matahari. Demikian ini pendapat Imam asy- Syâfi’i, Ahmad, Dawud Ibnu Hazm. Dan pendapat senada juga datang dari ‘Atha, Hasan, an-Nakha`i, Ishâq dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas ra.5 Dalil mereka:

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali. (Muttafqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Tidak dilakukan secara berjama’ah. Demikian ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Mâlik.6 Dalilnya, bahwa pada umumnya, pelaksanaan shalat gerhana bulan pada malam hari lebih berat dari pada pelaksanaannya saat siang hari. Sementara itu belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw menunaikannya secara berjama’ah, padahal kejadian gerhana bulan lebih sering dari pada kejadian gerhana matahari

Manakah pendapat yang kuat? Dalam hal ini, ialah pendapat pertama, karena Nabi saw memerintahkan kepada umatnya untuk menunaikan keduanya tanpa ada pengecualian antara yang satu dengan lainnya (gerhana matahari dan bulan).7 Sebagaimana di dalam hadits disebutkan :


Maka Rasulullah saw keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya. (Muttafaqun ‘alaihi).

WAKTU SHALAT GERHANA

Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana tersebut berakhir. Berdasarkan sabda Nabi saw :

Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang. (Muttafaqun ‘alaihi).

KAPAN GERHANA DIANGGAP USAI?

Shalat gerhana matahari tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sedia kala, dan (2) gerhana terjadi tatkala matahari terbenam. Demikian pula halnya dengan shalat gerhana bulan, tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sedia kala, dan (2) saat terbit matahari.9





AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA :





1. Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi saw :

Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. (Muttafaqun ‘alaihi).

2. Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Maka Rasulullah saw keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya. (Muttafaqun ‘alaihi).

3. Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr ra berkata:

Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi saw tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat… (Muttafaqun ‘alaihi).

4. Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr ra, ia berkata:

Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah saw diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri).

5. Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah ra berkata:


Sesungguhnya Nabi saw , tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri).





TATA CARA SHALAT GERHANA

Tidak ada perbedaan di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda.

Pendapat pertama. Imam Mâlik, Syâfi’i, dan Ahmad, mereka berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at. Pada setiap raka’at ada dua kali berdiri, dua kali membaca, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas ra , ia berkata:

Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi saw , maka beliau shalat dan orang-orang ikut shalat bersamanya. Beliau berdiri sangat lama (seperti) membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dan sangat lama ruku’nya, lalu berdiri, lama sekali berdirinya namun berdiri yang kedua lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’, lama sekali ruku’nya namun ruku’ kedua lebih pendek dari ruku’ pertama. (Muttafaqun alaih)

Hadits kedua, dari ‘Aisyah ra, ia berkata :

Bahwasanya Rasulullah saw pernah melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana matahari. Rasulullah berdiri kemudian bertakbir kemudian membaca, panjang sekali bacaannya, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, kemudian mengangkat kepalanya (i’tidal) seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah,” kemudian berdiri sebagaimana berdiri yang pertama, kemudian membaca, panjang sekali bacaannya namun bacaan yang kedua lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, panjang sekali sujudnya, kemudian dia berbuat pada raka’at yang kedua sebagimana yang dilakukan pada raka’at pertama, kemudian salam… (Muttafaqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at, dan setiap raka’at satu kali berdiri, satu ruku dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya. Dalil yang disebutkan Abu Hanifah dan yang senada dengannya, ialah hadits Abu Bakrah, ia berkata:

Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah saw, maka Rasulullah keluar dari rumahnya seraya menyeret selendangnya sampai akhirnya tiba di masjid. Orang-orang pun ikut melakukan apa yang dilakukannya, kemudian Rasulullah saw shalat bersama mereka dua raka’at. (HR Bukhâri, an-Nasâ‘i).

Dari pendapat di atas, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama (jumhur ulama’), berdasarkan beberapa hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Karena pendapat Abu Hanifah Rahimahullah dan orang-orang yang sependapat dengannya, riwayat yang mereka sebutkan bersifat mutlak (umum), sedangkan riwayat yang dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah muqayyad.10 Syaikh al-Albâni Rahimahullah berkata : 11 “Ringkas kata, dalam masalah cara shalat gerhana yang benar ialah dua raka’at, yang pada setiap raka’at terdapat dua ruku’, sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi saw dengan riwayat yang shahih”. Wallahu a’lam.

Ringkasan tata cara shalat gerhana sebagai berikut.

1. Bertakbir, membaca doa iftitah, ta’awudz, membaca surat al-Fâtihah, dan membaca surat panjang, seperti al- Baqarah.

2. Ruku’ dengan ruku’ yang panjang.

3. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan : Sami’a-llohuliman hamidah ..



4. Tidak sujud (setelah bangkit dari ruku’), akan tetapi membaca surat al-Fatihah dan surat yang lebih ringan dari yang pertama.

5. Kemudian ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, hanya saja lebih ringan dari ruku’ yang pertama.

6. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan : Sami’al-llohu liman hamidah



7. Kemudian sujud, lalu duduk antara dua sujud, lalu sujud lagi.

8. Kemudian berdiri ke raka’at kedua, dan selanjutnya melakukan seperti yang dilakukan pada raka’at pertama

Demikian secara ringkas penjelasan tentang shalat gerhana, semoga bermanfaat. Allohu A’lam




Dikirim pada 15 Juni 2011 di KAJIAN UTAMA

Tanya : Assalamu’alaikum wr. wb.,

Pak, Ustadz, sebelumnya minta maaf merepoti. Numpang tanya dan mohon dijawab segera karena penting sekali bagi ketenangan batin saya. Ini pengalaman pribadi yang sangat mengganjal karena saya takut dari yang saya lakukan ada yang salah dari sisi syari’ah.
Begini ustadz,
Saya berpoligami/menikahi secara sirri (di bawah tangan) seorang janda (Sebut Ch) dg 2 anak (8 tahun/ laki2 dan 14 thn/perempuan). Pernikahan kami tanpa wali nasab dan wali hakim melainkan menggunakan wali muhakkam.

Alasanya:

1. wali nasab (bapak Ch dan keluarga lain) tidak mau menjadi wali nikah kalau pernikahannya sirri

2. saya seorang PNS sehingga perijinan menikah lagi sulit/belum memungkinkan. Untuk menghindari maksiyat saya menikah sirri dulu sambil mencari peluang mengurus perijinan resmi

3.dari beberapa wali hakim yang kami mintai bantuan tidak ada yang mau menjadi wali nikah karena ternyata penghulu di KUA sudah dibelaki “hukum” oleh depertemen agama untuk tidak menikahkan secara sirri


Akhirnya kami memutusskan menggunakan wali muhakam. Setelah beberapa waktu berjalan kami jadi ragu-ragu terhadap keABSAHan pernikahan kami karena
1. Wali muhakkam yang kami gunakan adalah seorang da’i/mubaligh yang rutin mengisi di Radio swasta di kota kami.
2. Selain seorang da’i beliau juga berpraktik pengobatan aternatif (dengan obat-obatan tradisional ramuan sendiri yang katanya berdasarkan sunnah rosul) yang saya khawatirkan berbau perdukunan
3. Saat kami mintai tolong menjadi wali nikah beliau memasang tarif tertentu!
Pertanyaan. SAHkah pernikahan kami ustadz?. Mohon dengan sangat dan hormat untuk segera dijawab, jika ada masalah solusinya ya. makasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Jika wali hakim dari kalangan pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) yang ditunjuk oleh pemerintah mempersuIit pelaksanaan pernikahan atau menuntut honor yang memberatkan orang yang hendak melangsungkan pemikahan, atau memperlambat pelaksanaan tugasnya melebihi batas waktu yang wajar sehingga menimbulkan kegelisahan bagi orang yang bersangkutan, maka mempelai wanita boleh menunjuk Wali Muhakkam dari tokoh masyarakat atau ulama setempat (Fatwa MUI DKI). Artinya pernikahan itu sah, sekalipun wali muhakkam. Adapun masalah memasang ta’rif, hal itu diluar prosesi pernikahan. Allohu A’lam

Dikirim pada 12 Juni 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Ass...sy 2 thn menikah siri dgan seorang janda,,stelah kmi menikah, usaha kami mengalami kebangkrutan,banyak teman2 yg bikang kalo itu faktor istri kedua padahal setahu sy istri ke dua sy tdk boros dan tau betul kondisi keuangan..dan kmi putuskan utkj cerai tpi akan nikah kembali,,,mohon penjelasanx p ustad....tks wassalam. SE

Jawab : Wa’alaikumussalam ... Tidak ada kaitannya dan jangan dikaitkan antara kebangkrutan usaha anda dengan pernikahan. Dan jangan sekali-kali mempermainkan pernikahan dengan mengatakan,saya akan menceraikan dan nanti akan menikahi lagi. Haram hukumnya mempermainkan nikah! Alllohu A’lam

Dikirim pada 10 Juni 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamualaikum pak ustad

mudah-mudahan pak ustad dalam keadaan sehat walafiat...saya ingin meminta masukan dan saran dari pak ustad...saya baru menikah 2 bulan yang lalu dengan status MBA ( married by accident) suami saya adalah calon duda karna perceraian dengan istri sebelumnya belum dilakukan hanya perkataan thalaq dengan saksi ibu kandung suami saya.Pernikahan saya hanya dihadiri oleh ayah kandung suami tidak dengan ibu karna pada saat itu ibu kandungnya belum mengetahui keadaan ini.Kemarin tanggal 6 juni suami saya baru memberitahu kepada ibu kandungnya bahwa kami sudah menikah,namun reaksinya beliau tidak merestui pernikahan kami dengan alasan ia masih terlalu sayang dengan anak dari suami saya yang terdahulu dan ibunya bilang tidak akan dianggap anak lagi jika suami saya masih bersama dengan saya,walaupun suami saya bilang bahwa ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya ibunya malah menyuruh membawa anak kami saja kerumahnya dan tetap tidak merestui hubungan kami.

Mohon bantuannya pak ustad... PPY

Terima Kasih..
Wassalam


Jawab : Wa’alaikumussalam ... Sekalipun masih calon duda atau bahkan masih beristri, maka tetap pernikahan ukhti sah secara hukum Islam dengan syarat terpenuhi rukun-rukunnya. Memang dalam hal thalaq tidak cukup dengan seorang saksi, apalagi saksinya ibu kandung dari suami.

Sebenarnya perasaan sayang terhadap "cucu" seharusnya tidak menyebabkan tak merestui pernikahan ukhti berdua. Sebab anak itu sudah jelas statusnya dan tidak bisa diganti. Hanya mungkin mertua ukhti belum siap kalau seandainya cucunya punya ibu tiri. Atau ibu tidak merestui anaknya mempunyai dua orang istri. Lepas dari sisi itu, ukhti harus tetap berbuat baik, bahkan harus berusaha meyakinkan kepada ibu "mertua" bahwa ukhti tidak seperti apa yang disangkakan banyak pihak. Bahkan disini ukhti sebenarnya sedang dituntut untuk menampilkan syariat Islam yang sebenarnya. Mudah-mudahan ukhti mampu menampilkan sisi yang hebat dari syariat nikah ini. Allohu A’lam

Dikirim pada 10 Juni 2011 di Bab. Nikah




Tanya : Assalamualaikum wr. wb

Pak Ustadz, saya mau nanya tentang dzikir setelah sholat jumat seperti apa dan bagaimana hukumnya jika dilakukan sendiri-sendiri atau berjemaah mengikuti imam.
atas jawabannya saya sampaikan terima kasih. IK
Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Beberapa sahabat seperti Ibnu Mas’ud r.a. dan Khabbab bin Irts r.a. justru telah menegur orang-orang yang melakukan dzikir berjamaah. Pada waktu itu ada sekumpulan orang berdzikir menggunakan hitungan kerikil, dipimpin oleh satu orang, lalu Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya belum usang pakaian para sahabat, tetapi kamu telah membuat syariat baru dalam agama ini!”



Dzikir berjamaah terlarang menurut Empat Imam Madzhab, Dalam hal ini Imam Syafii hanya membolehkan dzikir jamaah beberapa kali dalam rangka mengajari orang-orang yang belum bisa. Tetapi beliau lebih cenderung bahwa dzikir itu dilakukan sendiri-sendiri.

Imam Asy-syathibi dari Imam Malik ;

” membaca al-quran (adalah dzikir!) secara bersamaan itu adalah Bid’ah yang diada-adakan. para salaf adalah orang-orang yang sangat bersemangat melakukan kebajikan. seandainya perbuatan itu baik, tentu mereka sudah lebih dulu mengerjakannya dari pada kita “(Fatwa Asy-Syathibi, hal 206-208).

Dzikir selesai shalat jum’at adalah dzikir selesai shalat wajib. Artinya sama sepereti halnya dzikir selesai shalat shubuh dan yang lainnya, seperti membaca istighfar, subhanalloh,alhamdulillah dst. Dan dilakukan sendiri-sendiri. Allohu A’lam.

Dikirim pada 10 Juni 2011 di Bab. Jum’at

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Kyai (maaf saya lebih senang memanggilnya dengan Kyai), didaerah tempat saya tinggal, sering diadakan perayaan Maulid Nabi saw, bahkan bukan sampai disitu dalam upacara kelahiran, aqiqah maupun pernikahan tidak lepas dari pembacaan Barzanji. Menurut pa Kyai apa yang mendasarinya, dan apa pula Barzanji itu sehingga seolah wajib dibaca dalam acara-acara tersebut? Terima kasih penjelasannya. Wassalam TGR Jawa Tengah

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Salah seorang orientalis dari Universitas Leiden bernama Nico Captein (INIS 1994) menuturkan bahwa Maulid Nabi pada mulanya adalah perayaan kaum Syi’ah Fatimiyah (909-117 M) di Mesir untuk menegaskan kepada publik bahwa dinasti tersebut benar-benar keturunan Nabi. Bisa dibilang, ada nuansa politis dibalik perayaannya. Polemik bagaimana hukum perayaan maulid yang semakin terkesan sebagai hari raya kaum muslimin tambahan selain dua ‘Ied ini telah sering muncul ke permukaan. Namun jika kita berfikir dengan pikiran yang jernih tanpa fanatik kepada golongan manapun, niscaya kita akan mendapati persetujuan kita sendiri bahwa memang benar bahwa perayaan ini tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim. Cukuplah sabda Rasulullah saw yang kita pegang dalam masalah ini, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka tertolak” (Riwayat Muslim).

Akan tetapi jika itu-pun dianggap baik dengan alasan syiar Islam, maka alasan seperti inipun sebenarnya teralu dipaksakan, karena tetap saja yang mendasarinya adalah kaitan dengan perayaan itu. Bahkan dari sini muncul satu ungkapan atau kaidah Ibn Katsir ra "Lau kaana khoiron lasa baquuna ilaihi” (Seandainya suatu perbuatan itu baik, niscaya para pendahulu kita (Shahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabiin) telah melakukannya) Dan kita tahu semua bahwa perayaan ini tidak pernah kita dapati terdapat dalam hadist Nabi saw ataupun atsar dari para shahabat ra sekalipun. Maka demikian seharusnya bisa menjadi renungan bagi kita semua atas amal-amal yang telah kita lakukan termasuk amal kita merayakan maulid.

Sedangkan Al-Barzanji adalah karya tulis berupa prosa dan sajak yang isinya bertutur tentang biografi Muhammad, mencakup nasab-nya (silsilah), kehidupannya dari masa kanak-kanak hingga menjadi rasul. Selain itu, juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimilikinya, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan manusia.

Judul aslinya buku tersebut adalah ’Iqd al-Jawahir (Kalung Permata). Namun, dalam perkembangannya, nama pengaranglah yang lebih masyhur disebut, yaitu Syekh Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad al-Barzanji. Dia seorang sufi yang lahir di Madinah pada 1690 M dan meninggal pada 1766 M.

Menurut Ust.Zainal Abidin Lc.secara umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga: Pertama, cerita tentang perjalanan hidup Nabi saw dengan sastra bahasa yang tinggi yang terkadang tercemar dengan riwayat-riwayat lemah. Kedua, syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi saw dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan muatan dan sikap ghuluw (berlebihan). Ketiga, berisi sholawat kepada Nabi saw, tetapi telah bercampur aduk dengan sholawat bid’ah dan sholawat-sholawat yang tidak berasal dari Rasulullah saw.

Terlepas dari polemik mengenai hukum maulid dan pembacaan kitab Barzanji, bagi kita yang terbaik (baik itu kitab, shalawat ataupun yang lainnya) adalah yang datang dan diturunkan oleh Alloh swt melalui Rasululloh saw. Dengan hal inilah kita bisa terhindar dari perbuatan yang menjurus kepada syirik bid’ah dan haram. Allohu A’lam

Dikirim pada 04 Juni 2011 di Bab. Do’a


Tanya : Assalamu’alaikum. Pak Ustadz Abu Alifa, saya sering menyaksikan sehabis shalat saat berdzikir suka memakai "tasbeh" (semacam kalung yang ada kerikilnya). Apakah hal itu dibenarkan? Wass EKI Jawa Barat

Jawab : Wa’alaikumussalam. Sebelum menentukan syar’i (disyariatkan) tidaknya hal tersebut, baiklah saya akan mengutip asal mulanya tasbe itu. Tasbeh adalah semacam kalung sebagai alat bantu untuk berdoa dalam agama Islam. Konon, alat ini kemungkinan merupakan contoh rosario yang digunakan oleh kaum Kristen, terutama Katolik Roma. Di sisi lain tasbih sendiri kemungkinan besar berdasarkan Mala atau Ganitri yang digunakan oleh kaum Hindu dan Buddha.

Biasanya tasbih dibuat dari kayu, namun ada pula tasbih yang dibuah dari bji-biji zaitun. Umumnya sebuah tasbih terdiri dari 99 batu. Angka 99 ini melambangkan 99 Asma Allah. Namun ada pula tasbih yang terdiri dari 33 atau 11 batu-batuan. Pada kedua kasus terakhir ini, sang pengguna harus mengulangi lingkaran tiga atau sembilan kali. Meskipun begitu, ada pula tasbih yang terdiri dari 100 atau 1.000 batu.

Diperkirakan umat Muslim mencontoh penggunaan tasbih dari umat Buddha dan kemudian oleh para ksatria Perang Salib dibawa ke Eropa sebagai rosario. Paus Pius V menulis pada tahun 1596 di sebuah bul bahwa Dominicus, pendiri ordo Dominikan, memperkenalkan rosario pada tahun 1221 di Eropa (hiijrahdarisyirikdanbid’ah.blogspot.com).

Sementara hadits-hadits yang menerangkan dzikir dengan kerikil adalah dhaif (lemah) bahkan sampai ke derajat maudhu’ (palsu). Nashiruddin Al-Albani mengatakan bahwa berdzikir dengan memakai biji-bijian hukumnya bid’ah (silsilah al-hadits al-dhaifah I/185).

Dan Nabi mencontohkan bahwa beliau menghitung bacaan tasbih dengan jari-jari tangan kanannya (HR.Abi Dawud, Tirmidy dan lainnya dari Abdullah bin Amr).

Dengan demikian disamping hal tersebut bukan datangnya dari Islam dan lebih menyerupai ajaran agama lain, maka tentu yang dicontohkan Nabi saw yang harus kita lakukan. Allohu A’lam

Dikirim pada 02 Juni 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Bismillah, pak Ustadz Abu Alifa yang saya hormati. Ketika shalat (terutama bacaan yang dinyaringkan), apakah Basmallah itu dibaca, atau kita memulai dengan alhamdulillah. Mohon penjelasannya, sebab sebagian mengatakan bahwa bismillah tidak dibaca, baik dijaharkan maupun pelan. Wassalam KL Karawang


Jawab : Perlu diketahui bahwa basmallah merupakan bagian dari al-Quran. Dan tidak semua surat dalam Al-Quran diawali dengan Basmallah. Dengan demikian kita bisa memahami bahwa pencantuman kalimat tersebut terutama oleh para shahabat dalam dalam pengumpulan al-Quran bukan semata-mata atas inisiatif pengumpul al-Quran. Apa yang dilakukan oleh para shahabat tentu berdasarkan apa yang didengar dan disampaikan oleh Nabi saw.


Oleh karenanya saat kita membaca dalam shalat, maka apabila membaca yang disurat itu diawali dengan kalimat tersebut, maka tentu kita membacanya. Yang jadi masalah apakah kalimat Basmalah itu dinyaringkan atau pelan? Dalam hal ini para ulama membolehklan kedua-duanya.


Diantara Dalil tentang Basmalah


Dari Ummi Salamah : Sesungguhnya ia pernah ditanya tentang bacaan Rasul saw (dalam shalat). Ia (Ummu Salamah) menjawab : Biasanya Nabi memutus-mutuskan bacaannya satu ayat-satu ayat. (Beliau membaca) Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi rabbil-’alamin ... (HR. Ahmad dan Abu Dawud)


Dari Qatadah berkata : Pernah ditanya Anas tentang bagaimana bacaan Nabi saw. Ia jawab : (Bacaannya) panjang . Lalu membaca Bismilahirrahmanirrahim, (beliau) memanjangkan (kalimat) ar-Rahman, dan memanjangkan (kalimat) ar-Rahim ..(HR.Bukhary). Dan masih ada dalil lain yang intinya bahwa basmalah itu dibaca.


Namun dalam kesempatan lain Nabi saw pernah tidak mengeraskan (bukan tidak dibaca) kalimat basmallah tersebut. Dan Ibn Abbas menjelaskan mengenai peristiwa disirkannya (dipelabkannya) lapadz Bismillah. "...Saat Nabi menjaharkan (menyaringkan) Bismillah.. orang-orang musyrikin memperolokan (lafadz itu) dengan mengatakan : Bahwa Muhammad (sering) menyebut Ilah (sembahan) orang Yamamah. (karena) Musailamah al-Kadzdzab mempunyai nama Rohman..., maka Alloh menurunkan ayat al-Isra 110. (HR.Thabrany).


Memang sebagaian ada yang berpendapat bahwa Nabi tidak membaca Basmallah kecuali pada rakaat yang pertama dengan dalil :


Dari Abi Hurairah berkata : Keadaan Rasulullah saw apabila bangkit kepada rakaat yang kedua, memulai bacaannya dengan "Alhamdulillah..." dan tidak diam terlebih dahulu. (HR.Muslim)


Hadits diatas menunjukkan bahwa bukan tidak membaca Bismillah, akan tetapi pada rakaat yang kedua itu bacaan Nabi itu diawali dengan surat Alhamdu (al-Fathihah), tidakl diam dulu seperti padsa rakaat yang pertama. Karena pada rakaat yang pertama seperti yang Aisyah riwayatkan, bahwa beliau diam terlebih dahulu. Ketika ditanya apa yang dibaca? Nabi menjelaskan dianataranya Allohumma ba’id baini ...(do’a iftitah). Sedangkan dirakaat selanjutnya Nabi tidak diam dulu, akan tetapi langsung membaca suarat Al-Fatihah yang sering disebut juga suarat Al-Hamdu> Allohu A’lam

Dikirim pada 02 Juni 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Pak Ustadz yang terhormat, saya memberikan apresiasi atas usaha dakwah yang dilakukan lewat media ini. Tapi seharusnya sebelum menentukan hukum, lebih baik ustadz mendalami persoalannya. Saya keberatan dengan salah satu jawaban ustadz yang berkesimpulan bahwa Syiah itu kafir. Padahal Syiah itu aqidahnya sama, dan pencinta ahl al-bait. Mohon penjelasannya dan peninjauan ulang. Terima Kasih. FW Bdg

Jawab : Terima kasih atas penghargaan dan saran saudara yang tentunya berangkat dari kesadaran dan keingintahuan. Insya Alloh (terutama saran untuk memperdalam masalah) akan senantiasa terus dilakukan. Dan hidup ini adalah pembelajaran.

Mungkin Syiah yang saudara kenal (dari luar) seperti itu, dan itu saya maklumi. Dan perlu ketahui, bahwa saudara kurang begitu (maaf) faham atas jawaban itu. Coba chek ulang jawaban itu. Dalam jawaban tersebut yang sudah keluar dari jalur Islam (kafir), adalah Syiah yang menghina dan mengkafirkan hampir seluruh para shahabat sepeninggal Nabi saw, mempunyai quran baru, menghina para istri Rasul dan lain-lain (coba cek ulang jawaban terdahulu). Wal hasil jika saudara mengaku Syiah tidak seperti yang ada dalam jawaban tersebut, maka tentu saudara tidak termasuk kelompok itu. Allohu A’lam

Dikirim pada 01 Juni 2011 di Bab. Aqidah

Tanya : Bismillah.. Pak Ustadz dalam tidur saya sering mimpi buruk dan menyeramkan. Apa yang mesri saya lakukan jika hal itu terjadi lagi? ED Jakarta Barat

Jawab : Dalam beberapa keterangan dijelaskan, bahwa jika kita mengalami mimpi buruk ada beberapa hal yang dianjurkan oleh Nabi saw. Sebab mimpi buruk itu datangnya dari syaithan. Pertama, hendaklah ia meludah kesebelah kirinya tiga kali. Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir ra bahwa Nabi saw bersabda :

“Jika seseorang bermimpi sesuatu yang ia benci (buruk) hendaklah ia meludah kesebelah kirinya sebanyak tiga kali, dan memohon perlindungan dari Allah azza wa jalla dari syetan sebanyak tiga kali, serta merubah posisi tidurnya dari posisi semula ia tidur.” (HR. Muslim No. 2262)

Kedua, berta’awudz (memohon perlindungan) kepada Alloh swt. (Muslim No. 2262). Ketiga, jika ingin melanjutkan tidurnya hendaklah mengubah posisi tidurnya. Keempat, bangun dan melaksanakan shalat.

“Barangsiapa yang bermimpi sesuatu yang tidak disukainya (dalam tidur), hendaklah ia bangun kemudian melaksanakan shalat.” (HR. At-Tirmizdi 2280).

Dan kelima, jangan menceritakan mimipi tersebut kepada orang lain.

Dari Jabir ra beliau bercerita,” Seorang Arab Badui datang menemui Nabi saw seraya berkata, ‘ Wahai Rasulullah saya bermimpi seakan-akan kepala saya di penggal, dan saya sangat terpengaruh oleh mimpi tersebut, Rasulullah menjawab, “ jangan engkau ceritakan kepada orang lain tentang setan yang mempermainkanmu dalam mimpimu.” (HR. Muslim no. 2268). Allohu A’lam

Dikirim pada 29 Mei 2011 di Bab. Aqidah

Tanya : Assalamu’alaikum, pak Ustadz Abu, saya sering mendengar seseorang bernyanyi (nasyid) dimasjid. Bahkan ada yang memakai pengeras suara. Katanya tidak mengapa karena isinya seruan jihad atau memuji Alloh swt bahkan shalawat (katanya). Menurut hukum yang sebenarnya bagaimana pak ustadz? KY Solo Jawa Tengah

Jawab : Wa’alaikumussalam,fungsi masjid diantaranya merupakan sarana untuk beribadah kepada Alloh. Ibadah dalam Islam tidak ada yang dilakukan dalam bentuk nyanyian. Sekalipun isi dari syair (nasyid) itu berupa nasihat, pujian kepada Alloh termasuk shalawat. Model ibadah seperti ini jelas menyerupai dengan yang dilakukan oleh kaum yahudi dan nasrani.

Dari Ibnu Umar ra, Bersabda Rasulullah saw, Barangsiapa yang meniru satu kaum maka ia termasuk dari kaum itu.(HR.Abu Dawud dan Ahmad).

Bahkan secara tegas Nabi saw melarang akan hal itu :

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ تَنَاشُدِ الْأَشْعَارِ فِي الْمَسْجِدِ رواه النسائي والترمذي وابن ماجة

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi saw, telah melarang dari mendendangkan nyanyian di dalam masjid (HR. An-Nasa’i, Tirmidzy dan Ibn Majah). Menurut Al-Bani hadits ini Hasan.

Yang dimaksud tanasyudil-asy’ar menasyidkan syair (nyanyi). Oleh karenanya secara hukum sudah jelas Nabi melarangnya. Bahkan berdo’a atau memuji Alloh dimasjid dengan cara bernyanyi menyerupai yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, dan hukumnya haram. Allohu A’lam


Dikirim pada 28 Mei 2011 di Bab. Akhlaq

Tanya : Assalamu’alaikum, Ustadz Abu Alifa Shihab yang saya hormati. Ada ustadz yang mengatakan bahwa dalam sujud sahwi itu, bacaannya adalah sebagaimana bacaan sujud dalam shalat. Padahal yang selama ini saya pahami dan lakukan adalah " Subhana man la yanamu wa la yashu", berarti orang tersebut sudah menyalahi Nabi Muhammad saw. Bagaimana pandangan ustadz? BR Jombang Jatim.

Jawab : Wa’alaikumussalam, Kami belum mendapatkan hadits yang menjelaskan tentang bacaan sujud sahwi seperti yang bapak maksud. Lafadz tersebut hanya didapatkan dalam kitab I’anatu al-Thalibin I :197, tapi itu bukan perkataan Nabi (hadits). Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, “Doa ini tidak ditemukan di kitab hadis mana pun.” (Lihat Talkhis Al-Khabir, 2:88).

Didalam ktab Al-Mughni, 2:432–433, Ibnu Qudamah mengatakan bahwa bacaan sujud sahwi sama seperti bacaan sujud dalam shalat, karena sujud sahwi-pun merupakan bagian dalam syariat shalat. Begitu pula pendapat Ibn Hazm (lihat al-Muhalla 4 : 170). Hemat kami bacaan sujud sahwi yang sesuai dengan sunnah Nabi adalah sama seperti bacaan sujud dalam shalat (sujud biasa). Allohu A’lam.

Dikirim pada 26 Mei 2011 di Bab. Sholat

Tanya : ass.wr.wb.. pak saya mau tanya.... saya pingin menikahi seorang perempuan, tp karna status saya yang sudah menikah orang tua si perempuan tidak setuju kecuali status saya sudah jelas, sedangkan saya sendiri sudah pisah sama istri saya 1 tahun lebih, dan dari mulut saya sudah sering terucap kata cerai, itu hukumnya bagaimana?... sedangkan kami takut diantara kami terjdi perbuatan zina.. mohon bantuannya.. assalamualaikum wr.wb. ARD

Jawab : Wa’alaikumussalam ... Pisah dengan istri 1 tahun tidak menyebabkan jatuh thalaq, apalagi istri anda tidak menggugatnya. Kemudian yang namanya Thalaq itu sekalipun anda telah mengatakannya berkali-kali kepada istri, tapi harus diingat bahwa dalam thalaq itu mesti ada saksi. Dan dalam hal ini wajar apabila "calon mertua" anda minta bukti cerainya. Disamping sebagai alat bukti, juga tentu calon (mertua) tidak rela anaknya dijadikan istri yang kedua dari anda. Allohu A’lam

Dikirim pada 22 Mei 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum ... Pak Ustadz apakah memang ada dalilnya bahwa jika ada meninggal dunia dan masih mempunyai hutang tidak boleh dishalati ? GR Bangka Belitung

Jawab : Wa’alaikumussalam, Salamah bin al-Akwa meriwayatkan bahwa telah dihadirkan kepada Nabi saw satu jenazah, Beliau bertanya : Apakah ia mempunyai hutang? Mereka berkata : Tidak! Maka Nabi menyolatkannya. Kemudian dihadirkan kembali satu jenazah lain, dan Nabi bertanya (kembali) : Apakah ia punya hutang? Mereka menjawab : Ya! Nabi bersabda : Shalatilah saudaramu ini. Berkata Abu Qatadah : Ya Rasul biarkanlah hutangnya menjadi tanggunganku. Maka Nabi saw menyolatinya. (Shahih Bukhari No.213, Musnad Ahmad No.15913 dan 15930).

Dengan hadits diatas bagi kita tidak ada halangan menyolati jenazah yang mempunyai hutang, sebagaimana perintah Nabi untuk menyolatinya kepada para shahabat. Allohu A’lam

Dikirim pada 21 Mei 2011 di Bab. Jenazah
21 Mei

Tanya : ass pak ustad...
saya mau curhat,saya sudah menjalin hubungan dengan seorang pria sudah hampir 4thn,kami pun sudah niat mau nikah...tapi pihak keluarga laki2 tdk setuju dengan pernikahan kami,karna perbedaan suku.,pacar saya bilang...dia bakal nikahin saya tanpa ada persetujuan orang tua nya (diam2),pacar saya pun sudah minta izin sama orang tua saya mau nikahin saya..orang tua saya pun setuju walaupun tanpa restu kelurag laki2,karna orang tua saya takut terjadi perzinahan diantara kami..,..kami berdua udah urus surat2 syarat2 nikah,sampai ke KUA,kami pun memutus kan menikah hari sabtu,dua hari sebelum kami mau nikah,, kakak saya tetap minta izin sama pihak keluarga laki2.. datang la pihak keluarga laki2 ke rumah,mereka pun tetap tidak setuju dengan pernikahan kami...orangtu nya memberi pilihan yang sangat sulit ke pacar saya,,ibu nya memberi 2 pilihan,kalau kamu tetap nikah kamu dianggap anak laknat sama ibu.. pacar saya pun jadi takut..akhir nya dia meninggal kan saya..tanpa pamitan dan minta maaf sama keluarga saya..
lebih parah nya lagi pak ustad,saya di tuduh sama kelurga nya sudah mengguna-guna anak nya...pada hal saya tidak pernah melakukan nya...
sekelurga saya jadi malu karna saya tidak jadi menikah,persiapan nya sudah 100% selesai..tetangga udah pada datang mau bantu persiapan acara hajatan nya...kami sekeluarga jadi malu...
tapi saya dan keluarga pun sudah ikhalas dengan cobaan ini,,mungkin dia belum jodoh saya...
saya minta maaf sama ibu,bapak saya...karna saya mereka jadi malu...
hati saya sangat sedih dan kecewa pak ustad...
apa yang harus saya lakukan..?
tolong bimbing saya pak ustad. (MW.)

Jawab : Wa’alaikumussalam .. Sehebat apapun rencana manusia, maka rencana Alloh itulah yang terbaik. Kita harus menyadari bahwa jodoh tidak bisa diatur oleh kita. Akan tetapi ukhti harus yakin dan baik sangka pada Alloh swt, bahwa inilah jalan terbaik buat ukhti. Hanya saja kita belum tahu hikmah di balik "kegagalan" nikah ini. Tapi harus yakin bahwa Alloh sudah merencanakan hal yang terbaik buat ukhti. Rasa kecewa itu wajar dan manusiawi, akan tetapi jangan terlalu terbawa arus. Perasaan malu juga bisa dimengerti, namun yakinlah bahwa dibalik ini semua Alloh mengagendakan (insya Alloh) hal yang terbaik buat ukhti. Lebih mendekatlah kepada Alloh dan bergaulah dengan orang yang shalih. Perbanyaklah bangun malam dan bermunajat kepada Sang Pencipta. Mohon bimbingan dan jalan yang terbaik. Insya Alloh hati akan tenang dan tentram. Pasrahkan segala urusan kepadNya, mohonlah kekuatan, terutama kekuatan Iman. Mudah-mudahan ukhti senantiasa diberi bimbingan dan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari rencana semula. Allohu A’lam

Dikirim pada 21 Mei 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum pak Ustadz ... sebelumnya saya berharap ustadz Abu Alifa dalam keadaan sehat! Begini pak ustadz, sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang itu mendapat waritsan atau menjadi ahli warits? Dan apakah anak dari hubungan diluar nikah menjadi ahli warits? Wass YUH Tangerang Banten

Jawab : Wa’alaikumussalam. Yang menyebabkan seseorang itu menjadi ahli warits : Pertama, adanya hubungan darah (nasab), seperti anak, orang tua, adek/kakak dsb. Kedua, adanya hubungan pernikahan, seperti istri atau suami, Ketiga, adanya wala (memerdekakan seorang budak), artinya seseorang bisa menjadi ahli warits dari orang yang pernah ia merdekakan. Sementara yang menjadi penghalang mendapatkan warits (menjadi ahli warits), diantaranya karena perbedaan agama dan pembunuhan.

Sementara anak hasil hubungan diluar nikah tetap menjadi ahli warits ibunya atau sebaliknya, adapun laki-laki yang berhubungan dengan ibu (anak itu) bukan ahli warits.

Apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita merdeka atau budak wanita maka anaknya adalah anak zina yang tidak mewarisi dan tidak diwarisi.(HR.Tirmidzy dari Amer bin Syuaib)

Ibnu al-Malak menyebutkan bahwa anak (zina) itu tidaklah mewarisi laki-laki yang menzinahi (ibunya) dan tidak juga mewarisi suadara-saudara kerabatnya karena pewarisan adalah berdasarkan nasab sedangkan anak itu tidaklah memiliki hubungan nasab dengan laki-laki yang berzina tersebut. Begitu juga dengan laki-laki yang berzina dan saudara-saudara kerabatnya tidaklah mewarisi harta anak zina itu. (Tuhfah al Ahwadzi juz V hal 393). Allohu A’lam


Dikirim pada 21 Mei 2011 di Bab. Mawarits

Tanya : Asslmualaikum, wr.wb.

Pak Ustadz Abu Alifa Shihab yang saya hormati, nama saya Fariz Wadani uztad , saya mau curhat uztad, saya sudah menjalin hub dengan pacar saya kurang lebih sudah ada satu tahun. Dan sekarang kita sudah punya niat untuk menikah, tapi ada sebuah problem uztad. Saat saya membicarakan hal tersebut kepada orang tua pacar saya, ternyata beliau tidak mau menerima hub kita . beliau tdk setuju akan kesiriuasan kita tersebut dengan alasan bahwasanya antara desa yang saya tinggali dg yang pacar saya tiggali tersebut tidak boleh menikah menurut orang tua dulu, kalau tetap di laksanakan konon katanya akan jadi mala petaka, akan ada yang meninggal salah satunya , tapi kenyataannya juga banyak ustad , tetangga saya yng menikah dengan tetangga pacar saya dan juga nggak ada apa2x, aman2x aja tu uztad ,mereka semua nggak ada problem dalam rumah tangganya. Tapi kata pacar saya alasan orang tua nya yang mendasar adalah perbedaan ekonomi antara keluarga mereka dg keluarga saya. Nah ,sekarang saya mau tanya ustad , seumpama orang tua pacar saya benar 2x tidak mau menjadi wali dalam pernikahan kita entar , dan kita tetap nekat ke menikah dengan kita memakai wali hakim gimana hukumnya menurut islam. sah atau tidakkah pernikaha kita jadinya. Terima kasih banyak uztad atas perhatiaanny. dan balasannya sangat saya tunggu uztad. Wassalamualaikum. wr. wb. Fariz Wahdani
Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb., Jika alasannya bukan alasan syar"i semisal perbedaan keyakinan (agama), maka berdosa orang tua yang tidak bersedia menikahkan anaknya. Tetapi jika alasannya syar"i, maka berdosa anak yang tetap ngotot ingin menikah dengan orang yang berbeda agama. Jika seorang perempuan memaksakan diri untuk menikah dalam kondisi seperti ini, maka akad nikahnya tidak sah alias batil, meskipun dia dinikahkan oleh wali hakim. Sebab hak kewaliannya sesungguhnya tetap berada di tangan wali perempuan tersebut, tidak berpindah kepada wali hakim. Jadi perempuan itu sama saja dengan menikah tanpa wali, maka nikahnya batil. Sabda Rasulullah SAW,”Tidak [sah] nikah kecuali dengan wali.” (HR. Ahmad; Subulus Salam, III/117).

“…maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.” (TQS Al-Baqarah : 232)

Akan tetapi jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti yang anda maksud, maka hak kewaliannya bisa berpindah kepada wali hakim (Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, II/37; Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/33). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW,”…jika mereka [wali] berselisih/bertengkar [tidak mau menikahkan], maka penguasa (as-sulthan) adalah wali bagi orang [perempuan] yang tidak punya wali.” (Arab : …fa in isytajaruu fa as-sulthaanu waliyyu man laa waliyya lahaa) (HR. Al-Arba’ah, kecuali An-Nasa`i. Hadits ini dinilai shahih oleh Ibnu ‘Awanah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, Subulus Salam, III/118). Allohu A"lam

Dikirim pada 12 Mei 2011 di Bab. Nikah


Normal
0
false
false
false
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Tanya : Assalamu’alaikum wr. wb. Pak Ustadz Abu, saya mohon penjelasan lagi mengenai do’a bangun tidur. Perlu ustadz ketahui bahwa saya yang pernah bertanya tentang do’a bangun tidur. Terima kasih. HG Cilegon

Jawab : Wa’laikumussalam wr.wb. Diantara dzikir yang diajarkan Nabi saw saat bangun dari tidur diantaranya :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya (kami) dikumpulkan.” (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 11/113 dan Muslim 4/2083)

Dan juga membaca :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، رَبِّ اغْفِرْلِيْ

“Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala puji dan Dia Maka Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, dan segala puji hanya milik Allah, dan tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan Allah Maha Besar. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Ya Tuhanku, ampunilah aku.”

Sabda Nabi saw : Barang siapa yang mengucapkannya maka akan diampuni (dosa-dosanya), dan jika berdo’a maka akan dikabulkan dan jika dia bangkit lalu berwudhu` kemudian shalat maka akan diterima shalatnya. (HR. Al-Bukhariy, Fathu al-Baarii 3/39)

Juga membaca :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi keselamatan kepadaku dalam jasadku dan yang telah mengembalikan ruhku kepadaku dan yang telah mengizinkanku untuk berdzikir/mengingat-Nya.” (HR. At-Tirmidziy 5/473, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/144)

Disamping itu kita dianjurkan membaca surat Ali ‘Imran ayat 190-200. (HR. Al-Bukhariy, Fathu al-Baarii 8/237 dan Muslim 1/530) Allohu A’lam



Dikirim pada 23 April 2011 di Bab. Do’a


Normal
0
false
false
false
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}



Tanya : Assalamu’alaikum wr. wb. Bapak Ustadz Abu Alifa, Bagaimana pelaksanaan adzan jum’at itu. Wassalam DQ NTB

Jawab : Wa’alaikumussalam wr. wb. Sebelum pelaksanaan shalat fardhu (wajib) termasuk shalat jum’at, disyari’atkan terlebih dahulu mengumandangkan adzan untuk memanggil sekaligus memberitahu datangnya waktu shalat. Sedangkan iqamah dikumandangkan sebelum atau saat akan mendirikannya shalat wajib tersebut.





عن مالك بن الحويرث قال: قال لنا النبي (ص م) اذا حضرت الصلاة فليؤدن لكم احدكم





Dari Malik bin Al-Huwairits berkata: Telah bersabda kepada kami Nabi saw : Jika datang (waktu) shalat, hendaklah seorang dari kamu adzan (HR.Bukhary)






Adapun ketentuan adzan dan iqamah pada proses ibadah jum’at :





1. Adzan jum’at dikumandangkan saat imam naik mimbar setelah mengucapkan salam.





2. Iqamah dilakukan ketika imam selesai khutbah kedua saat hendak mendirikan shalat jum’at.





كان بلال يؤدن اذاجلس النبي (ص م) على المنبر و يقيم اذا نزل

Adalah Bilal (mulai) adzan (pada jum’at) apabila Nabi saw duduk diatas mimbar, dan iqamat apabila Nabi turun dari mimbar (selesai khutbah). (HR.Ahmad dam Nasa’I, Fiqh al-Sunnah I : 261). Allohu A’lam



Dikirim pada 23 April 2011 di Bab. Jum’at
20 Apr


Bismillahirrahmanirrahiem

Para pembaca dan penggemar ABU ALIFA SHIHAB MENJAWAB, merupakan kabar gembira bahwa PUSAT ZAKAT UMAT DKI.Jakarta (PZU PERSIS DKI JAKARTA) telah bersedia mempasilitasi penerbitan Tanya Jawab. Baik itu masalah penerbit maupun yang lainnya. Kita berharap semoga tidak terlalu lama Buku tersebut telah meluncur kepada ikhwatu ieman.

Wassalam

ttd

Abu Alifa Shihab

Dikirim pada 20 April 2011 di PEMBERITAHUAN

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Ustadz, saya pernah mendengar ada yang menerangkan bahwa bercampur antara suami istri pada hari raya tidak diperbolehkan. Apakah ada dalilnya? YHG Jakarta


Jawab : Wa’alikumussalam wr.wb. Adanya larangan berjima / bercampur suami istri menurut beberapa keterangan diantaranya adalah ketika sedang menjalankan ibadah shiyam (puasa), tapi hal inipun berlaku hanya disiang hari. Sedangkan malam harinya dihalalkan.


Dihalakan bagi kamu dimalam hari (bulan Ramadhan) bercampur dengan istrimu ... (QS.2 : 187)


Dilarang bercampur juga manakala sedang melaksanakan Ihram (haji maupun umrah), atau istri sedang haidl. Sedangkan mengenai bercampur di malam hari raya, belum didapatkan larangan dari al-quran maupun hadits yang shahih. Bahkan sebenarnya dengan datangnya Hari raya, maka yang sebelumnya dilarang menjadi boleh, seperti larangan makan dan minum disiang hari menjadi boleh kembali. Begitu pula larangan bercampur disiang hari saat melaksanakan shiyam (puasa) maka menjadi halal. Allohu A’lam

Dikirim pada 20 April 2011 di Bab. Nikah


Normal
0
false
false
false
MicrosoftInternetExplorer4
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Tanya : Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh

Awalan saya haturkan terima kasih kepada saudara yang berkenan menyediakan semacam yaaaa layanan publikan yang menurut saya membantu.
Saya ingin bertanya serta ingin tahu kegiatan apa yang menjadi tradisi masyarakat Yaman dalam memperingati bulam muharram? Seperti di Indonesia layaknya masyarakat di Pulau Jawa melakukan agenda Grebek Syuro memperingati 10 Assyuro dan apa pandangan anda terhadap kegiatan tersebut dilihat dari kaca mata Syariah?

Sekian pertanyaan yang saya ajukan dengan harapan saya mendapatkan jawaban guna menambah khazanah keilmuan saya. Akiron al-afu minkum wa aqululakum syukron kastiron. Ahmad Wildan Al-Jufri


Jawab : Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh

Bulan Muharram merupakan salah satu bulan dalam penanggalan Islam, bahkan bulan pertama dalam hitungan bulan-bulan Islam. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan yang dijadikan Allah sebagi bulan haram, sebagaimana firman Allah swt :

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram." (Q.S. at Taubah :36).

Dalam hadis Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perayaan demi perayaan yang dilakukan pada bulan Muharam belum ditemukan landasan dalil yang kuat, baik yang dilakukan di Yaman atau di bumi nusantara (Indonesia). Belum didapatkan Nabi saw pernah menganjurkan perayaan-perayaan seperti yang marak belakangan ini. Ada yang mengaitkannya dengan peristiwa berdarah di Karbala, yaitu terbunuhnya cucu Nabi saw., ada juga yang dikaitkan dengan lebaran anak yatim dan sebagainya. Namun hal itu semua bukan merupakan bagian dari syariat yang mesti dijalankan.

Adapun syariat yang dianjurkan pada 10 Muharram itu adalah melaksanakan ibadah shiyam (puasa). Hal ini berdasarkan beberapa keterangan :

“Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah saw- pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (Hadits Shahih Riwayat Bukhari 3/454, 4/102-244, 7/147, 8/177,178, Ahmad 6/29, 30, 50, 162, Muslim 2/792, Tirmidzi 753, Abu Daud 2442, Ibnu Majah 1733, Nasa’i dalam Al-Kubra 2/319,320, Al-Humaidi 200, Al-Baihaqi 4/288, Abdurrazaq 4/289, Ad-Darimy 1770, Ath-Thohawi 2/74 dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya 5/253)

Nabi saw tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya :”Apa ini?” Mereka menjawab :”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab :”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” (Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4/244, 6/429, 7/274, Muslim 2/795, Abu Daud 2444, Nasa’i dalam Al-Kubra 2/318, 319, Ahmad 1/291, 310, Abdurrazaq 4/288, Ibnu Majah 1734, Baihaqi 4/286,)

Yang disyariatkan pada tanggal 10 Muharam adalah melaksanakan shiyam (puasa), bahkan ditambah sehari sebelumnya yaitu tanggal 9 Muharam (Hadits Shahih Riwayat Muslim 2/796, Abu Daud 2445) sebagai bentuk perbedaan dengan orang-orang Yahudi. Allohu A’lam



Dikirim pada 19 April 2011 di Bab. Aqidah

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Ustadz Abu Alifa Shihab yang saya hormati, bolehkah kita menandai kuburan? atau menembok kuburan dan memberi nama kuburan? Wassalam RGT Pontianak

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Pertama, mengenai memberi tanda pada kuburan pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. saat beliau selesai menguburkan shahabat Ustman bin Mazh’un ra.

"Diriwayatkan dari Muthallib bin Abdullah ia berkata: Tatkala Utsman bin Mazh‘un wafat, jenazahnya dibawa keluar dan dikuburkan, Nabi saw memerintahkan kepada seorang laki­-laki supaya mengambil batu, tetapi orang itu tidak kuat mengangkatnya, lalu Rasulullah saw mendekatinya dan menyingsingkan kedua lengannya. Berkata al­Muthallib: Berkata seorang yang mengkhabarkan kepadaku seolah­olah aku melihat putih lengan Rasulullah ketika disingsingkannya. Kemudian Rasulullah saw mengangkat batu itu dan meletakkan diarahkan kepalanya, lalu berkata: Aku memberi tanda kubur saudaraku ini dan aku akan mengubur keluargaku yang meninggal di tempat itu.” (HR. Abu Dawud)

Dengan keterangan diatas, menandai kuburan dengan batu atau sejenisnya diatas kepala kuburan pernah dilakukan oleh Nabi saw.

Kedua, mengenai menembok kuburan merupakan perbuatan yang pernah dilarang oleh nabi saw : “Dari Jabir ra. ia berkata: Rasulullah saw telah melarang mencat kubur, duduk diatasnya dan membangun di atasnnya.” (HR.Muslim)

Ketiga, tentang memberi nama pada kuburan, hal ini-pun menyalahi sunnah Nabi saw.

Dari Jabir, ia berkata: “Rasulullah saw melarang menulis sesuatu pada kuburan.” (HR. Ibnu Majah: 1563).

Untuk masalah yang ketiga ini sebagian ulama ada yang membolehkan, hanya sekedar untuk memberi tanda dan memberikan pembeda supaya tidak susah mencarinya.

Syaikh Al-Albani mengatakan: "..... apabila batu yang diletakkan sebagai tanda supaya diketahui masih tidak dapat mencapai maksudnya (kuburan itu tetap tidak dikenali) bisa disebabkan oleh terlalu banyaknya kuburan (yang sama) atau terlalu banyaknya batu-batu (yang sama) yang dijadikan tanda kuburan; maka saat itu boleh ditulis pada kuburan sekadar tercapai maksud yang telah disebutkan (supaya dapat dikenali) saja.” (Majalah Al-Furqon, Edisi 01 th. ke-8 1429 H/2008). Sementara mazdhab Syafi’i dan Hambali memandang makruh saja.

Akan tetapi melihat dhahirnya hadits diatas, bahwa hukum memberi nama (menulis) pada kuburan dilarang oleh Nabi saw. Allohu A’lam.

Dikirim pada 16 April 2011 di Bab. Jenazah


Tanya : Assalamu’alaikum … Pak ustadz bolehkah ketika berwudhu secara acak? Maksudnya membasuh muka 2kali tangan satu kali kaki 3kali dan mengusap kepala 2 kali! Trims AKE Cilegon

Jawab : Wa’alaikumussalam …Dalam beberapa keterangan (hadits) bahwa wudhu itu bisa dilakukan satu kali-satu kali:



عن ابن عباس رضي اللَّه عنهما قال‏:‏ ‏توضأَ رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم مرةً مرةً‏‏



(Dari Ibnu Abbas ia berkata : Rasulullah saw pernah berwudhu satukali-satu kali (HR Al-Jamaah kecuali Muslim)

Wudhu bisa dilakukan dua kali-dua kali :

Dari Abdullah bin Zaid, bahwa Nabi SAW pernah berwudhu dengan membasuh dua kali-dua kali. (HR.Bukhari)

Juga bisa dilakukan tiga kali-tiga kali

Dari Humran, mantan budak Utsman, bahwa ia melihat Utsman bin Affan minta dibawakan tempat air, lalu aku tuangkan ke telapak tangannya tiga kali kucuran, ia pun mencuci tangannya. Kemudian ia pun berkumur dan berintinsyaq kemudian membasuh wajahnya (tiga kali), kedua tangannya hingga sikut (tiga kali), lalu mengusap kepalanya. Dan membasuh kedua kakinya (tiga kali hingga mata kaki)… (HR.Bukhari)

Dan bisa juga campuran, perhatikan keterangan dibawah ini :

Dari Abdullah bin Yazid bin Ashim Al Anshari RA, dia beerkata, "Dia pernah disuruh oleh seseorang, "Berwudhulah untuk kami seperti berwudhunya Rosululloh SAW." Kemudian dia meminta wadah berisi air lalu dikucurkan pada kedua tangannya dan membasuhnya tiga kali, kemudian dia masukkan kedua tangannya lalu dikeluarkannya, kemudian berkumur dan menghirup air dengan hidung dari satu telapak tangan. Dia melakukan itu tiga kali, kemudian dia memasukkan kedua tangannya dan mengeluarkannya lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian dia memasukkan tangannya lagi dan mengeluarkannya kemudian membasuh kedua tangannya sampai siku masing-masing dua kali, kemudian dia memasukkan tangannya dan mengeluarkannya, lalu mengusap kepalanya dengan menggerakkan kedua tangannya dari depan ke belakang, kemudian dia membasuh kedua kakinya sampai mata kaki. Lalu ia berkata, "Demikianlah cara wudhu Rosululloh SAW." (HR.Muslim 1/145)

Adapun mengenai cara mengusap kepala hanya satu kali bersamaan mengusap telinga (baik memasukan telunjuk kedalam lubang telinga maupun ibu jari mengusap bagian luar telinga).

Dari Abdullah bin Amr.­ tentang sifat wudhu nabi saw., kemudian ia berkata:"Kemudian beliau saw. mengusap kepalanya dan dimasukkan kedua jari telunjukknya dikedua telingannya, dan diusap (daun telinga) dengan kedua ibu jarinya. (HR. Abu Dawud no.135, Nasa’i no.140 dan Ibnu Majah, no.422 dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

“Dan beliau (Nabi saw) mengusap kepala satu kali.” (HR. Abu Dawud, an-Nasa`i dan at-Tirmidzi dari Abdullah bin Zaid dan Ali bin Abi Thalib).

Jadi pernah diterangkan mengenai wudhu satu kali, dua kali maupun tiga kali bahkan campuran. Hanya mengenai mengusap kepala menurut dalil yang shahih hanya satu kali. Allohu A"lam



Dikirim pada 15 April 2011 di Bab. Bersuci

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Ustadz tolong jelaskan kalau perlu memberi contoh saat selesai mnguburkan, sebab ada yang diawali dengan hamdalah seperti mau khutbah, bahkan ada yang mengucapkan beberapa sambutan masalah utang piutang atau menyampaikan terima kasih kepada yang telah mendo’akan atau menguburkan (mengurusi) jenazah itu. Sebenarnya bagaimana menurut Sunnah Nabi saw yang sebenarnya ? DIR Panumbangan Ciamis

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Yang dicontohkan oleh Nabi saw melalui hadits, bahwa jika selesai menguburkan beliau memerintahkan kepada yang hadir untuk memohonkan ampunan bagi jenazah ini. Belum didapatkan satu keteranganpun bahwa Nabi saw memulainya dengan tahmid seperti mau khutbah. Atau tidak didapatkan Nabi saw menyinggung masalah hutang piutang si mayyit, kecuali saat mau menshalatkannya. Dalam sebuah hadits diterangkan :



عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

Dari Utsman bin Affan, ia berkata; Nabi saw apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: "Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya." (HR. Abu Daud No.2804, an-Nasa’i No. 2014)
Dengan demikian maka kita hanya diperintahkan memohonkan ampun. Sebagai salah satu contoh saja:
"....Ikwatu ieman Nabi saw bersabda : Istagfiru liakhikum wassalulloha tastbita fainnahul-aana yusal ... maka kewajiban kita mohon ampun untuk saudara kita ini. Untuk itulah mari mohon ampunan kepada Allah untuk saudara kita dst ..." (cukup!)
Sebaiknya menyampaikan terima kasih kepada yang telah membatu jangan saat itu, tetapi nanti dari pihak keluarga untuk menyampaikannya selesai prosesi penguburan. Baik itu dengan mendatanginya ataupun dengan cara yang lain. Karena masalah mengurusi jenazah adalah masalah kewajiban kita yang hidup. Allohu A’lam


Dikirim pada 07 April 2011 di Bab. Jenazah
06 Apr





Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Abu Alifa apa maksud dari madharat itu? DDZ Bekasi

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Dalam al-Qur’an kata-kata mudharat banyak disebutkan, kurang lebih ada sekitar 50 kata yang diulang-ulang seperti ضارٌّ – يضارّ ء – ضررٌ- ضُرٌّ- ضرّا ضَرَّ- يضرُّ- , yang memilki arti membahayakan dan merugikan. Dalam beberapa kamus kata ّ ضرّ bisa memunculkan مضار ضرورة yang keduanya memilki arti terpaksa atau dalam bahasa indonesianya sering disebut darurat (tafsir Al-Misbah).

Oleh karena itu jika kita dalam kondisi membahayakan atau-pun merugikan pada badan kita karena tidak ada makanan kecuali yang diharamkan (babi), maka kita dibolehkan sebab dalam kondisi terpaksa (ضارٌّ).

Mudharat juga bisa diartikan dengan sempit/susah lawan dari lapang. "…(orang yang taqwa itu) yang menginfaqkan hartanya diwaktu lapang dan sempit (QS.Ali Imran). Dengan demikian ketika kondisi kita dalam waktu yang sempit karena diperjalan (safar), maka boleh kita menjama’ dan mengqashar shalat. Atau dalam ayat berikut mudharat diartikan dengan menyusahkan.



وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النَّسَاء فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلاَ تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَاراً لَّتَعْتَدُواْ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَلاَ تَتَّخِذُوَاْ آيَاتِ اللّهِ هُزُواً وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma`ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma`ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah ni`mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Terkadang lawan dari mudharat itu manfaat. atau untung, lapang, senang dan sebagainya, tergantung dari syiyaq al-kalam (rentetan kalimat) yang mengiringi lafadz dari مضار itu. Allohu A’lam

Dikirim pada 06 April 2011 di Bab. Tafsir Quran / Hadits

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Ustadz apakah duduk menjelang bangkit dari sujud yang kedua, untuk bangkit ke rakaat kedua atau ke rakaat keempat itu disyariatkan? GH Bojong Gede Bogor

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Dikalangan para ulama ada perbedaan dalam memandang hadits tentang duduk menjelang bangkit kerakaat itu. Pendapat pertama, yang menganjurkan secara mutlak bahwa hal tersebut dalam kondisi apapun dianjurkan. Salah satu alasannya adalah hadits Malik bin Huwairits ra :

أنه رأى النبي صلى الله عليه و سلم يصلي فإذا كان في وتر من صلاته لم ينهض حتى يستوي قاعدا

Bahwasanya beliau melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, apabila beliau selesai dari rakaat ganjil (satu dan tiga) maka beliau tidak bangkit sampai duduk dengan tenang” (HR. Al-Bukhary)

Berkata Asy-Syaukany:

“Di dalam hadist ini ada dalil disyari’atkannya duduk, yaitu duduk setelah sujud kedua sebelum bangkit ke rakaat kedua dan ke empat” (Nailu al-Authar 2/48)

Pendapat Kedua. yang menyatakan bahwa duduk itu tidak dianjurkan bahkan langsung bangkit sebagaimana madzhab Hambali. Hal ini disebabkan menyalahi hadits-hadits yang tidak menyebutkan duduk tersebut.


An-Nu’man bin Abi "Iyas berkata : Kami mendapatkan bukan hanya sekali dua kali dari para shahabat Nabi saw. Maka apabila bangkit dari sujud diawal rakaat dan pada rakaat ketiga (mereka) langsung berdiri tanpa duduk (terlebih dahulu. (Nailu al-Authar 2 : 103)

"... Lalu Nabi sujud hingga sempurna sujudnya, lalu bangkit sampai sempurna duduknya (duduk diantara dua sujud), lalu sujud sampai sempurna sujudnya, kemudian bangkit sampai sempurna berdirinya. (HR. Bukhary)

Pendapat Ketiga, menganggap bahwa duduk seperti ini boleh dilakukan bila duduk tersebut dibutuhkan seperti bagi orang yang lanjut usia atau sakit-sakitan yang kalau langsung berdiri mata berkunang-kunang, sementara bila tidak dibutuhkan maka duduk ini tidak mesti dilakukan. Oleh karena itu para ulama menamakan duduk model seperti ini dinamakan jalsah istirahah (duduk istirahat). Fathu al-Baary 2 : 302

"...Yang jelas bahwa duduk seperti ini dilakukan oleh Nabi saw ketika beliau (badannya) gemuk dan sudah mulai lemah (fisiknya) .. (Ta’liq bulughu al-Maram 61). Ibnu Al-Qoyyim mengatakan ... bahwa duduk seperti ini bukan merupakan sunnat shalat akan tetapi dilakukan karena suatui kondisi (Fiqh al-Sunnah I : 208).

Pandangan yang terakhir inilah yang dianggap oleh sebagian ulama, bahwa duduk tersebut boleh dilakukan jika dibutuhkan. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 April 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Ustadz di Masjid tempat kami tinggal, biasanya selesai salam Imam suka menghadap kepada Makmum. Apakah hal itu ada perintahnya? TGR Jl. Mayor Oking Bogor

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Menghadap makmum selesai shalat merupakan amal Nabi saw yang direkam oleh para shahabat. Hal ini tentunya tidak semata-mata Nabi melakukan hal itu, kecuali bagi kita mengikuti apa yang beliau contohkan. Dasar hukum perbuatan Nabi saw mengenai hal tersebut diantaranya :

عن سمرة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى صلاة أقبل علينا بوجهه - رواه البخاري
Dari Samurah ra. berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami. (HR.Bukhary)

Akan tetapi terkadang Nabi saw tidak membalikkan badannya, melainkan hanya memutar sekitar 90 derajat menghadap ke arah kanan atau terkadang ke arah kiri beliau.

Dari Bara’ bin "Azib : Jika kami shalat dibelakang Rasulullah saw. kami paling suka berada disebelah kanannya (Nabi), (karena) beliau suka menghadapkan wajahnya kearah kami. (HR. Muslim, Abu Dawud I : 14)

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, Seringkali aku melihat Rasulullah SAW berputar ke kiri (HR.Bukhary Muslim)

Keterangan diatas menunjukkan bahwa Nabi saw selesai shalat wajib suka menghadap kerah makmum. Baik itu mebalikkan badan beliau secara keseluruhan, atau hanya kesebelah kanan beliau atau ke sebelah kirinya.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim menyimpulkan bahwa adanya beberapa dalil mengenai hal tersebut, menujukkan memang terkadang beliau SAW selesai shalat menghadap ke makmum (membalikan badannya), terkadang menghadap ke samping kanan dan terkadang menghadap ke samping kiri. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 April 2011 di Bab. Sholat

Tanya : ass, sy ingin bertanya.. …Dalam rukun shalat jum’at ada tidak aturan yang mengatur klo khotib dan imam berbeda ( maksudnya ada sopir dan kernet ) sukron. KPAK Jakarta Barat.

Jawab : Wa’alaikumussalam ... belum didapatkan dalil atau-pun dalam perjalanan jumat Nabi saw maupun para shahabat yang membedakan apalagi mengatur khotibnya berbeda. Bahkan kalau kita melihat hadits, bahwa Imam itulah sang khatib yang dimaksud. perhatikan Sabda Rasulullah saw :

ذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَ اْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

“Jika pada hari Jumat engkau berkata kepada kawanmu ‘Diamlah’, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau berbuat sia-sia.” (HR. al-Bukhari: 892 dan HR. Muslim: 851 dari Abi Hurairah)

Dalam hadits lain diterangan :

"....Siapa yang berbicara pada hari Jumat padahal Imam sedang khutbah, maka ia laksana keledai yang memikul kitab-kitab..." (HR.Ahmad dari Ibn Abbas)

Dalam hadits diatas ada kalimat Imam sedang Khutbah, ini menunjukkan bahwa yang berkhutbah itu adalah Imam Jum’at atau yang menjadi Imam itu adalah yang berkhutbah. Allohu A’lam

Dikirim pada 02 April 2011 di Bab. Jum’at

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Bismillah .. Pak Ustadz apakah dibolehkan kita mengangkat tangan saat mengucapkan salam ketika bertemu? Wass UTR Pamekasan

Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Dalam sebuah riwayat yang diterima dari hadits Asma` bintu Yazid ra, lihat Ahmad (6/458), Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 1047), At-Tirmidzi (5/58 no. 2697), dan Ath-Thabarani (24/177 no. 445).

"....bahwa Nabi saw pernah mengucapkan salam kepada para wanita sambil memberi isyarat dengan tangan beliau kepada mereka".

Yang tidak sesuai sunnah Nabi ada hanya memberi isyarat, atau hanya bermushafahah (berjabat tangan) atau memeluk (tentu yang muhrim), tapi tanpa mengucapkan salam. Allohu A’lam

Dikirim pada 31 Maret 2011 di Bab. Do’a



Tanya : Assalamu’alaikum Ustadz! Dimanakah posisi saya jika berjamaah dengan suami (berdua). Apakah dibelakang atau disamping suami? Trims PTA



Jawab : Wa’alaikumussalam .. Jika hanya ada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang menjadi makmumnya seperti suami-istri maka posisi makmum tepat di belakang imam, bukan di samping kanannya. Hal ini berdasarkan keterangan (hadits) dari Anas bin Malik ra. bahwa suatu hari neneknya (Mulaikah) mengundang Rasulullah saw untuk jamuan makan yang telah dibuatnya, maka beliau pun memakannya, kemudian beliau bersabda, "Berdirilah kalian karena aku akan shalat bersama kalian!" Anas bin Malik berkata, "Maka aku berdiri menuju tikar yang sudah hitam karena sudah lama dipakai, lalu aku menggosoknya dengan air. Maka Rasulullah saw berdiri di atasnya, sementara aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya, sedangkan ibuku (Ummu Sulaim) berdiri di belakang kami. Lalu Rasulullahsaw shalat bersama kami dua raka’at, kemudian beliau pergi." (HR. Al-Bukhariy no.860 dan Muslim no.658). Allohu A’lam

Dikirim pada 29 Maret 2011 di Bab. Sholat



Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb





Pak Ustadz, sebenarnya apa makna taqiyyah itu? Dan apa hubungannya dengan taqiyahnya orang-orang Syi’i? Ammar Depok.





Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Taqiyyah menurut etimologi bahasa Arab mempunyai arti menyembunyikan atau menjaga. (Lisanul Arab 15/401 dan Al Qamus Al Muhith hal. 1731). Sedangkan secara syar’i, taqiyyah mempunyai arti menyembunyikan keyakinan atau keimanan karena dorongan keterpaksaan karena untuk menyelamatkan dan menjaga jiwa, kehormatan maupun hartanya ditengah-tengah kejahatan yang dilakukan oleh luar Islam (baca : kafir). Taqiyyah ditempuh karena dia benar-benar dalam keadaan dipaksa untuk mengucapkan atau mengerjakan kekufuran. (An Nahl: 106)





Sedangkan dalam pandangan Syi’ah seperti dalam kitab mereka Al Kasyful 1/202 karya Yusuf Al Bahrani mengatakan: “ Yang dimaksud dengan taqiyyah adalah menampakkan kesamaan dengan keyakinan agama orang-orang yang menyelisihi mereka karena adanya rasa takut.” Artinya dalam Syi’ah taqiyyah dijadikan alat untuk mengelabui golongan yang berbeda faham atau-pun keyakinan dan tidak membedakan apakah taqiyyah mereka amalkan dihadapan kaum muslimin atau orang-orang kafir.





Taqiyyah dalam Syi’ah merupakan ajaran yang mempunyai kedudukan dan keutamaan sangat Istimewa. Dalam Buletin Islam Al Ilmu Edisi 39/III/II/1425 (Syi’ah dan Taqiyyah) dipaparkan, bahwa taqiyyah dalam Syi’ah :



1. Taqiyyah adalah pokok agama mereka.
Al Kulaini di dalam Al Kafi 2/174 menukilkan –dengan dusta- ucapan Abu Ja’far: “Taqiyyah merupakan agamaku dan agama para pendahuluku. Tidak ada keimanan bagi seseorang yang tidak bertaqiyyah”. Dalam riwayat lain -dengan dusta- dari Abu Abdillah: “Tidak ada agama bagi seorang yang tidak bertaqiyyah”.
2. Taqiyyah adalah kemuliaan agama seseorang.
Al Kulaini di dalam Al Kafi 2/176 meriwayatkan –dengan dusta- ucapan Abu Abdillah kepada Sulaiman bin Khalid: “Wahai Sulaiman, sesungguhnya engkau diatas agama yang apabila seseorang menyembunyikannya (bertaqiyyah), maka Allah akan muliakan dia. Barangsiapa menampakkannya maka Allah akan hinakan dia”.
3. Taqiyyah merupakan sebuah ibadah yang paling dicintai Allah
Abu Abdillah mengatakan di dalam Al Kafi 2/219 karya Al Kulaini –dengan dusta- : “Tidaklah Allah diibadahi dengan suatu amalan yang lebih Dia cintai daripada Al Khab’u. Aku (periwayat) bertanya: “Apa itu Al Khab’u ? Beliau menjawab: “Taqiyyah”.


4. Taqiyyah merupakan seutama-utama amalan hamba.



Di dalam Tafsirul Askari hal. 163 dinukilkan -dengan dusta- bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Taqiyyah merupakan salah satu amalan mukmin yang paling utama. Dia menjaga diri dan saudaranya dengan taqiyyah dari orang-orang jahat. Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Maret 2011 di Bab. Aqidah



Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Ustadz Abu, saya minta kejelasan mengenai do’a mau tidur. Sebab katanya dianjurkan untuk membaca ayat kursi, 2 ayat terakhir al-Baqarah dan yang lainnya. Apakah hal tersebut ada dasarnya? Terima kasih. HG Cilegon





Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Ada beberapa ketentuan atau anjuran yang diajarkan oleh Rasulullah saw menjelang tidur, diantaranya : Pertama, disunatkan untuk berwudhu terlebih dahulu seperti wudhu hendak shalat (HR.Bukhary Muslim). Kedua, shalat witir jika dikhawatirkan tidak tidak bisa bangun disepertiga malam (Mutafaq ’Alaih). Ketiga, memadamkan api, mengunci pintu dan jendela, serta menutup semua tempat air dan makanan (HR.Muslim). Keempat, membersihkan tempat tidur diantaranya dengan mengibaskan ujung kain (HR.Bukhary Muslim).





Sedangkan mengenai posisi tidur Nabi saw mencontohkan miring ke sebelah kanan sehingga badan bertumpu pada lambung sebelah kanan (HR.Bukhary Muslim), meletakan tangan dibawah pipi (HR.Bukhary), tidak tidur tengkurap (HR.Abu Dawud).






Adapun mengenai dzikir (bacaan) sebelum tidur diantaranya :



1.. Membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas. Dan meniupkannya kepada kedua (telapak) tangannya, kemudian mengusap badannya semampunya dengan kedua tangannya, dimulai dari kepalanya, wajahnya dan bagian depan dari badannya. Hal ini dilakukan tiga kali. (HR. Al-Bukhariy, Fathul Baarii 9 / 62 dan Muslim 4 / 1723)


2. Membaca ayat kursi. Sabda Nabisaw : siapa yang membacanya ketika dia merebahkan dirinya di tempat tidurnya maka sesungguhnya akan senantiasa ada baginya dari sisi Allah yang akan menjaganya dan syaithan tidak akan mendekatinya sampai subuh. (HR. Al-Bukhariy, Fathul Baarii 4 / 487)



3..Membaca

surat Al-Baqarah :285-286 (dua ayat terakhir). Barangsiapa yang membaca dua ayat ini pada malam hari maka dua ayat ini akan mencukupinya. (HR. Al-Bukhariy, Fathul Baarii 9 / 94 dan Muslim 1 / 554)
4. Membaca Bismika Allohumma Amutu wa Ahya (Dengan menyebut nama-Mu, aku mati dan aku hidup) HR. Al-Bukhariy, Fathul Baarii 11/113 dan Muslim 4 / 2083





5. Membaca :



اللهم أسلمت نفسي إليك, وفوضت أمري إليك, ووجهت وجهي إليك, وألجأت ظهري إليك, رغبة ورهبة إليك, لا ملجأ ولا منجا منك إلا إليك, آمنت بكتابك الذي أنزلت وبنبيك الذي أرسلت



Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu dan aku memasrahkan urusanku kepada-Mu. Dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dalam keadaan harap dan cemas hanya kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (siksa) Mu kecuali hanya kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan (aku beriman) kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.



Rasulullah bersabda jika ia mengucapkan do’a ini: "Jika kamu mati maka kamu mati di atas fithrah (Islam)." (HR. Al-Bukhariy , Fathul Baarii 11/113 dan Muslim 4 / 2081) Allohu A’lam



Dikirim pada 26 Maret 2011 di Bab. Do’a

Tanya : Assalamu’alaikum ust, mau tanya, apakah dosa orang yang tidak memaafkan orang lain yang berbuat salah dg tanpa sengaja, padahal orang tersebut sudah menjelaskan dan meminta maaf kepadnya? terus apakah benar lebih mulia orang yang memaafkan dari pada orang yang minta maaf? syukran. AB









Jawab : Wa’alaikumussalam, Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: "Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT". Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah.Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.









Ibnu Qudamah dalam Minhaju Qashidin menjelaskan bahwa makna memberi maaf di sini ialah sebenarnya engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut balas (qishas) atasnya atau denda kepadanya. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan: Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran al’afwu yang berarti "menghapus" karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam yang membara. Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam tahap"masih menahan amarah". Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain.

Islam mengajak manusia untuk saling memaafkan. Dan memberikan posisi tinggi bagi pemberi maaf. Karena sifat pemaaf merupakan bagian dari akhlak yang sangat luhur, yang harus menyertai seorang Muslim yang bertakwa. Allah swt berfirman: "...Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah." (Q.S.Asy-Syura : 40). Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: "Rasulullah SAW bersabda, "wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu." (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).
Dalam berbagai ayat dalam Al-Quran adalah perintah untuk memberi maaf. Kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah, melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dan Allah Swt. Tidak ada alasan untuk berkata, "Tiada maaf bagimu", karena segalanya telah dijamin dan ditanggung oleh Allah Swt.



Memaafkan atau-pun meminta maaf adalah perbuatan mulia. Jadilah pemaaf dan siaplah untuk meminta maaf. Allohu A’lam

Dikirim pada 25 Maret 2011 di Bab. Akhlaq

Tanya : Assalamu’alaikum .. Pak Ustadz Abu Alifa, mohon penjelasan mengenai Fadhilah Surat Yasin! Terima kasih. FG Jawa Timur

Jawab : Wa’alaikumussalam ... Diantara dalil yang digunakan hujjah (alasan) tentang Fadhilah Yasin :

1 .Artinya : Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya, melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya"

2. Artinya : Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu".

3. Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi".

4. Artinya : Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur’an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali".

5. Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

6. Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an dua kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman

7. Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya

8. Artinya : Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid

9. Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya

10. Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya

Kedudukan dan derajat hadits diatas berdasarkan no diatas :

1. Hadist tersebut diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari dan Muslim serta Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Mizanul I’tidal IV : 90-91). Imam Bukhari berkata : setiapa yang aku katakan Munkarul-Hadits tidak bisa dipakai sebagai landasan hukum (hujjah).

2. Hadits no 2 diriwayatkan i adalah Ibnu Abi Syaibah, Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas)

3. Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Ibn Hajar berkata : Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru.(Taqrib I:355, Mizanul I’tidal II:283)

4. Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 3048) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata : Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Silsilah Hadits Dha’if No. 169, hal. 202-203). Imam Waqi’berkata : Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i : Muqatil bin Sulaiman sering dusta.(Mizanul I’tidal IV:173)


5. Hadits inipun dhaif . Jami’ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani

6. Dha’if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani

7. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi saw. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.(Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I’tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22)

8. Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa’’d bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. (Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I’tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45)

9. Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465)

10. Telah berkata Ibnul Jauzi, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944)

Sebagai kesimpulan dari riwayat-riwayat diatas Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata : Bahwa semua hadits yang isinya tentang keutamaan membaca surat ini dan ini serta akan begini dan begitu, semua haditsnya lemah dan maudhu’ (palsu). Dan hal tersebut diakui oleh yang memalsukan hadits tersebut. Mereka (yang memalsukan hadits) berkata : Dengan dibuatnya hadits tersebut kami berharap umat Islam sibuk dengan membacanya ayat dan surat tertentu, dan menjauhkan ummat dari ayat yang lain juga menjauhkan dari kajian kitab-kitab yang lainnya ( al-Manaar al-Mufish al-Shahih wa al-Dhaif h. 113-115). (Sumber diatas diambil diantaranya dari : www.konsultasisyariah.com) . Allohu A’lam

Dikirim pada 18 Maret 2011 di Bab. Do’a



Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. ... Pak Ustadz Abu Alifa yang saya hormati mohon penjelasan masalah hukum dari Qunut Shubuh. Sebab ada yang mengatakan bahwa hal itu bid’ah dan ada yang mengatakan hal tersebut sunnah! Terima kasih atas penjelasannya. HJK Jawa Tengah





Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Masalah hukum Qunut Shubuh memang merupakan salah satu masalah yang sering diperselisihkan. Ada yang berpendapat bahwa hal tersebut disyari’atkan, ada pula hal tersebut dianggapnya sebagai suatu yang tidak disyari’atkan (baca : Bid’ah). Namun demikian disyariatkan atau tidaknya sebuah ibadah bukan diukur oleh banyaknya dilakukan, melainkan ditentukan oleh dalil yang kuat (shahih).





"Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam persoalan Agama) apa yang sebenarnya bukan dari perkara kami (tidak dicontohkan), maka hal itu adalah tertolak". Dan dalam riwayat Muslim : "Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak". (HR>Bukhary Muslim dari Aisyah)





Ada beberapa pendapat/pandangan para ulama mengenai kedudukan Qunut Shubuh :





Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa Qunut shubuh itu disunnahkan secara terus-menerus. Diantara yang berpendapat seperti ini adalah Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’i. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa qunut shubuh tidak disyariatkan, termasuk qunut nazilah karena sudah dimanshuh (dihapus). Diantara yang berpendapat ini adalah Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah. Ketiga, bahwa qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.





Ketiga pendapat diatas semuanya mengemukakan dasar dan alasannya (dalilnya). Akan tetapi dua pendapat yang pertama alasan/dalil yang digunakan pada tataran derajatnya, ulama hadits menilai tidak shahih. (lihat Mizanul I’tidal 1/418, Al Baihaqy 2/202). Sedangkan pendapat ketiga dalil yang dikemukakan shahih. (lihat diantaranya Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, .Al-Baihaqy 2213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawa’id 2137)



Kami memandang, dari uraian di atas dan lemahnya dalil yang dikemukakan oleh dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga, bahwa qunut shubuh secara terus-menerus tidak disyari’atkan dan tidak dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Silahkan untuk mendalaminya permasalahan ini lihat Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Majmu 3/483-485, Nailul Author 2/155-158 dan Zadul Ma’ad 1/271-285. Allohu A’lam

Dikirim pada 15 Maret 2011 di Bab. Sholat



Tanya : Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh ..... Ustadz Abu apakah ada dalilnya do’a orang lain di"aminkan" oleh kita, disebabkan isi dari do’a itu sesuai dengan keinginan kita! Wass ... RQ Bumi Ayu Jawa Tengah





Jawab : Wa’alaikumussalam warohmatulloh wabarokatuh ... Tidak semua do’a mesti diaminkan disebabkan sesuai dengan isi do’a itu. Seperti ketika ada orang yang mendoakan keselamatan (mengucapkan salam), maka jawabannya bukan lafadz Amien melainkan membalas do’a itu dengan kalimat yang sepadan dalam menjawab salam. Akan tetapi secara umum jika ada orang yang berdo’a, bahkan doa itu sesuai dengan keinginan kita, meng-aminkan doa’a tersebut disyariatkan. Dalam satu riwayat di jelaskan :





Dari Zaid bin Haritsah berkata : Aku dan Abi Hurairah serta (shahabat) yang lain pernah berada disisi Nabi saw. Belaiu bersabda : Silahkan kalian memohon (berdo’a)! Maka kami-pun berdo’a dan Beliau (Nabi) meng-Aminkan (do’a tersebut) (HR.Al-Hakim Fathu al-Baary 1 :215).



Dengan demikian meng-Aminkan do’a masyru’. Allohu A’lam

Dikirim pada 14 Maret 2011 di Bab. Do’a

Tanya : Assalamu’alaikum WR.Wb.


Pak Ustadz bolehkah ketika sedang shalat kita berjalan, umpamanya shaf depan ada yang ditinggalkan (masih kosong) karena orang itu batal lantas kita menempati posisi itu? Apakah pindah posisi dengan berjalan bisa membatalkan shalat kita? Wass ..RWD Kendari

Jawab : Wa’alikumussalam Wr.Wb.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata ; “Aku pernah shalat bersama Nabi saw pada suatu malam. Lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian Rasulullahsaw memegang kepalaku dari belakangku, lalu beliau tempatkan aku disebelah kanannya " (Shahih Riwayat Bukhari I/177)


Dari Jab ir bin Abdullah, ia berkata ; “Nabi saw sedang berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri disebelah kiri beliau, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga beliau menempatkan aku sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliau mendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya”. (Shahih Riwayat Muslim & Abu Dawud)


Dengan keterangan tersebut berpindah dalam shalat apalagi memenuhi syarat berjamaah seperti mengisi shaf yang masih kosong tidak membatalkan shalat. Bahkan dalam sebuah keterangan Nabi saw pernah shalat sambil menggendong anak.


Dari Abi Qatadah Al Anshariy ia berkata, "Aku pernah melihat Nabi saw pernah mengimami manusia sedangkan Umamah binti Abi Al Ash dan dia ini anak perempuannya Zinab binti Nabi saw berada di pundak beliau. Maka apabila ruku beliau meletakkannya dan apabila beliau bangkit dari sujud beliau kembalikannya (yakni ke tempat semula ke atas pundak beliau). Hadits shahih dikeluarkan oleh Bukhari (no.516 dan 5996) dan Muslim (Juz 2 hal. 73 dan 74) dan Abu Dawud (no. 917, 918, 919) dan lain-lain. Lafadz hadits oleh Imam Muslim. Allohu A’lam



Dikirim pada 12 Maret 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamu’alaikum warahmataullahi wabarakaatuh

Ustadz !! ana mayu tanya adakah dalil tentang :
1. bolehnya jama qoshor shalat jum’at dan ashar?
2. apa hukumnya adzan dan komat ketika akan mendirikan sholat?.
atas jawabanya ana ucapkan jazakallah.. YA Jawa Barat

Jawab : Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarakatuh ... Pertama, Jumhur ulama memandang bahwa tidak boleh menjama shalat jum’at dengan shalat ashar, kecuali ulama pengikut Imam syafii (ulama syafiiyah).
Shalat jum’at berbeda dengan dhuhur, sekalipun dilakukan pada waktu shalat dhuhur atau orang orang yang tidak wajib jumat kembali kepada shalat dhuhur. Kami belum menemuklan dalil shalat jumat dijama dengan shalat Ashar. Bahkan ketika Nabi saw dan para shahabat ibadah haji yang kebetulan saat wukuf hari jumat Nabi dan para shahabat disebutkan dalam hadits itu menjama dhuhur dan Ashar. Artinya jika kita musafir dihari jumat dan bermaksud menjamanya, maka lakukanlah ruhshah salat dhuhur kemudian dijama qoshar dengan Ashar. Akan tetapi jika kita bergabung dan melaksanakan jumat dengan mukim, hemat kami tidak ada jama jumat dengan Ashar.
Kedua, Para ulama sepakat tentang disyariatkannya adzan dan iqomat, akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukum adzan dan iqomat, di antaranya adalah : Pendapat Jumhur Ulama adalah adzan dan iqomat hukumnya adalah sunnah untuk semua sholat fardhu dalam semua kondisi (mukim/safar). Pendapat Imam Malik Bin Anas adalah wajib mengumandangkan adzan dan iqomah di masjid yg ditegakkan sholat berjamaah di dalamnya.
Dari Malik bin al-Huwairits bahwa Nabi SAW bersabda , "Apabila (waktu) shalat tiba, maka hendaklah salah seorang di antara kamu, mengumandangkan adzan untuk dan hendaklah yang paling tua di antara kamu yang menjadi imam kamu!" (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari II: 111 no: 631 dan Muslim I: 465 no: 674).
Dan apabila shalat itu dijama’ semisal dhuhur dan Asar dijama’ (digabung), hendaklah adzan untuk waktu shalat itu dan iqomah pada setiap shalat. yaitu satu kali adzan cukup untuk dhuhur dan Asar dan iqomah untuk setiap shalat (HR. Al Bukhari: 629).
Allohu A’lam

Dikirim pada 11 Maret 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamu’alaikum... Pak Ustadz yang saya hormati! Suami saya seorang pedagang ayam potong. Yang jadi pertanyaan saya, bolehkan saya membantu suami memotong/menyembelih ayam? Halalkah sembelihan yang dilakukan wanita muslimah? Wass... KR Surabaya










Jawab : Wa’alaikumussalam... membantu suami merupakan perbuatan terpuji dan mulia. Begitu juga sebaliknya suami membantu istrinya. Dalam hal yang ibu tanyakan belum saya temukan suatu larangan bahwa wanita muslimah tidak boleh menyembelih hewan. Namun dari sisi fitrah kewanitaan dan adat bahwa yang biasa menyembelih itu adalah laki-laki. Tentu hal ini dikarenakan dalam hal memotong hewan perlu keberanian. Terlepas dari itu semua, dalam sebuah keterangan (hadits) bahwa Kaab bin Malik pernah mendapatkan jariyahnya (budak perempuan yang ditugaskan mengembala kambing) menyembelih kambingnya karena mau



Dengan demikian sembelihan wanita muslimah halal untuk dimakan! Allahu A’lam.

Dikirim pada 08 Maret 2011 di Bab. Penyembelihan



Tanya : Bismillah ... Assalamu’alaikum. Pak Ustadz mengapa Riya itu disebut syirik? Dan kenapa syirik kecil dan apa makna Riya itu? Wass YP Medan







Jawab : Wa’alaikumussalam...Syirik (al-syirku) itu perbuatannya! Orangnya disebut musyrik. Musyrik itu bukan berarti tidak percaya kepada Alloh swt, tapi lebih kepada menduakan atau mempersekutukan Allah. Saat kita beribadah dengan ada Riya dalam hati kita, pada hakikatnya kita telah menduakan Allah dalam ibadah. Atau hakikatnya kita bukan ibadah kepada Allah. Oleh karena itulah Riya merupakan penghancur nilai amal ibadah. Dalam Al-Quran dipenghujung Surat Al-Kahfi Allah swt mengisyaratkan : "....maka janganlah kalian syirik dalam beribadah kepada Allah dengan sesuatupun.







Dalam sebuah hadits dijelaskan









( أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ, مَن عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ )



’Aku adalah orang yang paling tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa yang melakukan suatu amal ibadah yang ia menyekutukan selain-ku bersama-Ku, niscaya Aku meninggalkannya dan sekutunya."(Muslim 2985 dari Abi Hurairah)




Riya disebut syrik kecil karena hal itu tidak terlihat atau tersembunyi dan adanya dalam hati orang itu. Maka dalam hal ini hanya orang itu yang tahu dan Allah yang Maha Tahu tentang seseorang itu Riya atau tidak. Tapi pada hakikatnya menduakan Allah swt.

Riya’ merupakan mashdar dari raa-a yuraa-i yang maknanya adalah memperlihatkan. Termasuk ke dalam riya’ juga yaitu sum’ah, yakni agar orang lain mendengar apa yang kita lakukan lalu kitapun dipuji dan tenar. Pengertian riya secara istilah/terminologi adalah sikap seorang muslim yang menampakkan amal shalihnya kepada manusia lain secara langsung agar dirinya mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi. Allohu A’lam

Dikirim pada 07 Maret 2011 di Bab. Aqidah

Tanya : Assalamu’alaikum ... pak Ustadz ! Seorang istri menggugat cerai (khulu)! Berapa lama masa iddah bagi istri yang mengkhulu suaminya? YT Madura

Jawab : Wa’laikumussalam ... Harus dibedakan antara menggugat cerai kepada suami dengan khulu. Menggugat cerai (minta diceraikan) kepada suami, kemudian suami menceraikannya itu bukan khulu tapi kasus cerai (thalak dari suami). Sekalipun khulu banyak yang mengartikan gugatan cerai dari istri.

Sedangkan khulu, si suami tidak menjatuhkan thalaq, akan tetapi akad nikah keduanya dibatalkan oleh pengadilan setelah mendapat gugatan dari pihak istri.. Dan dalam khulu pihak isteri diwajibkan mengembalikan kebun (mahar) yang pernah diberikan. Konsekuensi dari khulu jauh lebih berat lagi, yaitu seorang wanita yang mengkhulu suaminya lalu khulu-nya itu diresmikan pengadilan agama, maka untuk selama-lamanya dia tidak halal lagi bagi mantan suaminya.Lebih dari sekedar talak tiga, yang masih mungkin kembali lagi asalkan wanita itu sempat menikah dulu dengan laki-laki lain dan kembali kepada suami pertamanya. Oleh karenanya tolong bedakan antara khulu dengan cerai dari suami karena keinginan istri.

Rasululloh saw memberi peringatan keras bagi istri yang mengkhulu suaminya tanpa alasan yang jelas.

Dari Tsauban r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setiap wanita yang mau talak kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan agama, maka haram baginya mencium harumnya surga. (apalagi masuk)” (Shahih: Shahihul Ibnu Majah no:1682, “Aunul Ma’bud VI:308, no:2209, Ibnu Majah I:662 no:20555 dan Tirmidzi II:329 no:1199).

“Darinya (Tsauban) r.a. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Wanita-wanita yang melakukan khulu’ adalah wanita-wanita munafik.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:6681 dan Tirmidzi II:329 no:1198).



Sedangkan masa iddah bagi istri yang mengkhulu suaminya diterangkan dalam riwayat dari sabda Rasulullah SAW, di antaranya adalah hadits-hadits berikut ini.





Dari Ibnu Abbas ra bahwa isteri Tsabit bin Qais mengkhulu suaminya, maka Rasulullah SAW menjadikan masa iddahnya sekali mendapat haidh. (HR Abu Daud dan Tirimizi, serta dishahihkan oleh Al-Albani)

Namun salah satu perawi hadits ini yaitu Al-Imam At-Tirmizy justru mengatakan bahwa kedudukan atau status hadits ini hasan gharib.


Dari Ar-rabi binti Muawwaz bahwa dirinya melakukan khulu di masa Rasulullah SAW. Beliau memerintahkan untuk beriddah selama satu kali haidh. (HR Tirimizy dan Ibnu Majah serta dishahihkan oleh Al-Albani)

Ibnu Umar berkata, "Masa iddah buat seorang wanita yang mengkhulu suaminya adalah satu kali haidh." (HR Abu Daud). Allohu A’lam



Dikirim pada 05 Maret 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum ... Ust. Abu yang saya hormati, saya masih awam tentang hukum! Sebab saya baru mengenal Islam. Pertanyaan saya bolehkah berwudhu dengan menggunakan air laut? Wassalam UYG Merak

Jawab : Wa’alaikumussalam ... Dalam sebuah keterangan dijelaskan mengenai air laut :



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللهِ صلى الله عليه وسلم فِي اَلْبَحْرِ: (( هُوَ اَلطُّهُورُ مَاؤُهُ, اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ )) أَخْرَجَهُ اَلأَرْبَعَةُ , وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ؛ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَافِعِيُّ وَأَحْمَدُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tenta ng (air) laut : “Laut itu airnya thahur (suci), bangkainya pun halal.” Diriwayatkan oleh Al-Arba’ah, Ibnu Abi Syaibah -lafazh hadits ini riwayat beliau (Ibnu Abi Syaibah) -. Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan At-Tirmidzi. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Dengan demikian berwudhu, mandi bahkan meminum air laut tidak menyalahi syariat. Dan hukum berwudhu atau mandi dengan air laut sah, karena air laut itu suci dan mensucikan. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 Maret 2011 di Bab. Bersuci

Tanya : Aslmlkum Abu....!!
Apakah air yg terkena tetesan najis bisa di "sterilisasi"...sehingga bisa dipakai utk bersuci lagi...?? DD Cirebon

Jawab : Wa’alaikumus-salam kang Darmana ...!! Menurut Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin bahwa air yang najis itu bisa menjadi air yang suci dan mensucikan bila telah hilang kenajisan yang mencampuri dan merubah air tersebut dengan menggunakan cara apapun, sama saja apakah airnya sedikit ataupun banyak. Kapan najis hilang pada air tersebut maka airnya menjadi suci. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/47)

Untuk masa sekarang jangankan dengan sedikit najis yang kena air itu, berbagai najis yang "menumpuk" dengan air-pun bisa menjadikan air itu suci kembali dengan peralatan yang memungkinkan najis itu tersaring atau hilang.

Akan tetapi jika kita ragu terhadap air, apakah ia suci atau najis, maka kita kembali kepada hukum asal bahwa air itu suci. Adapun keraguan yang timbul setelah adanya keyakinan, apakah airnya ternajisi atau tidak, maka tidak perlu dihiraukan karena hukum air tersebut tetap suci. (Syarhul ‘Umdah, 1/83, Al-Furu’, 1/61, Sailul Jarrar, 1/59-60). Keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan (Al-Mughni, 1/43). ). Allohu A’lam

Dikirim pada 04 Maret 2011 di Bab. Bersuci
26 Feb



Tanya : Assalamu’alaikum ... Ustadz adakah yang namanya siksa kubur itu? Wassalam IYK Cilacap





Jawab : Wa’alaikum salam...Nabi s.a.w. mengajarkan kita agar senantiasa berdo’a dan mohon perlindungan Allah s.w.t. ketika habis membaca tasyahhud akhir kepada empat hal. Sebagaimana sabdanya : "Bila seseorang selesai membaca tasyahhud (akhir), hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah empat hal, iaitu: Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari siksa Neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah al-Masih Dajjal. (Selanjutnya, hendaklah ia berdoa memohon kebaikan utk dirinya sesuai kepentingannya)". (Hadis Riwayat Muslim, Abu ’Awanah, Nasa’i dan Ibnu jarud dalam al-muntaqa)





Dalam hadits lain Aisyah meriwayatkan :





"Seorang wanita Yahudi pernah masuk menemui A’isyah. Wanita itu menyebutkan siksa kubur seraya berkata kepada A’isyah, "Semoga Allah menjagamu dari siksa kubur. Kemudian A’isyah bertanya (kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ) tentang siksa kubur, maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Ya, siksa kubur benar ada". A’isyah berkata, "Aku tak pernah melihat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sholat setelah itu, kecuali beliau meminta perlindungan dari siksa kubur". [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya (1372)]



Dengan demikian kita harus yakin bahwa siksa kubur itu ada! Allohu A’lam

Dikirim pada 26 Februari 2011 di Bab. Aqidah

Tanya : Assalmualaikum ... Ustadz bagaimana cara mengusap kepala dalam wudhu menurut dalil/keterangan dari Nabi saw! ED Jambi

Jawab : Wassalamualaikumus-salam... Allah berfirman: S.Al­Maidah (5):6 ....... Dan usaplah kepala ­kepalamu.


Yang dimaksud disini adalah mengusap seluruh kepala, dan bukanlah sebagian kepala (LihatAl­Mughni, I:112 & I:176 dan Nailul Authar, I:84 & I:193).

Hal ini berdasarkan hadits yang menerangkan cara mengusap kepala:

Dari Abdullah bin Zaid, bahwa Rasulullahsaw. mengusap kepalanya dengan dua tangannya,lalu ia menjalankan kedua tangannya kebelakang kepala dan mengembalikannya, yaitu beliau mulai dari bagian depan kepalanya, kemudian menjalankan kedua tangannya ketengkuknya, lalu mengembalikan kedua tangannya tadi ke tempat dimana ia memulai. (HSR. Bukhory I:54­55; Muslim I:145; Sahih Tirmidzi No.29; Abu Dawud no.118; Sahih Ibnu Majah no.348; Nasa’i I:71­72 dan Ibnu Khuzaimah no.173.Dalam Fathul Baary I:289 no.185.Dalam Nailul Author I:183.

Dari Abdullah bin Amr.­ tentang sifat wudhu nabi saw., kemudian ia berkata:"Kemudian beliau saw. mengusap kepalanya dan dimasukkan kedua jari telunjukknya dikedua telingannya, dan diusap (daun telinga) dengan kedua ibu jarinya. (HR. Abu Dawud no.135, Nasa’i no.140 dan Ibnu Majah, no.422 dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Kata Ibnu Abbas: bahwa Nabi saw. mengusap kepalanya dan dua telinganya bagian luar dandalamnya (HSR. Tirmidzi no.36; Ibnu Majah no.439; Nasaiy I:74; Baihaqy I:67 dan Irwaaul-Gholil no.90).

Dari Dalil atau keterangan diatas jelaslah bahwa mengusap kepala itu dicontohkan dan dijelaskan dalam hadits Nabi berikut mengusap telinga dan dilakukan satu kali usapan. Allohu A’lam



Dikirim pada 26 Februari 2011 di KONTROVERSI HUKUM

1. DR. H.Berkhof

Menurutnya, dalam buku Sejarah Gereja halaman 321 disebutkan : "Boleh kita simpulkan bahwa Indonesia adalah suatu daerah pengkabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit firman Tuhan. Jumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih. Akan tetapi jangan lupa, kita ditengah-tengah 150 juta penduduk."

Jadi tugas zending gereja-gereja muda dibenua ini masih amat luas dan berat. Bukan saja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum muslimin yang besar yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan-pahlawan injil. Apalagi bukan hanya rakyat jelata, lapisan bawah yang harus ditaklukan oleh Kristus, terutama para pemimpin masyarakat, kaum cendekiawan, golongan atas dan menengah. (bersambung)

Sumber : Membongkar Gerakan Salibiyah Di Indonesia



Dikirim pada 23 Februari 2011 di KRISTOLOGI

Tanya : Assalamua’alaikum Pak Ustadz,
saya mohon penjelasannya tentang masalah saya ini. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih untuk blog yang sangat bagus ini. perkenalkan nama saya Hendrik Thio saya tinggal di Jakarta dan saya seorang muslim, saya mempunyai pacar yang berbeda agama dari saya kami sudah bersama menjalin hubungan ini kurang lebih selama 4 tahun, dibenak kami ada rencana atau arah melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan tetapi itu hal yang sangat tidak mungkin terjadi dan orang tua kami pun menentang keras hubungan ini. belakangan ini kami sering berbicara tentang bagaimana melanjutkan perjuangan cinta kami, dan akhirnya mendapat keputusan bahwa pacar saya mau menjadi mualaf. nah dari sini lah timbul masalah yang lebih besar lagi orang tua pacar saya ini menetang dan mengancam bahwa akan mencoret nama pacar saya dari daftar nama keluarganya. akan tetapi setelah mengetahui hal ini pacar saya tetap ingin menjadi mualaf dan menikah dengan saya meskipun dengan konsekuensi yang berat tadi. yang ingin saya tanyakan apa yang harus saya lakukan untuk menyikapi masalah ini?
dan bagaimana hukumnya jika kami menikah yang tidak direstui orang tua bahkan keluarga pacar saya? terima kasih atas kesediannya membaca email saya ini.

Jawab : Wa’alaikumussalam, Pertama, penentangan orang tua anda untuk tidak menikah dengan wanita yang berlainan keyakinan merupakan sikap orang tua muslim yang bertanggung jawab. Hal ini tentu untuk kemaslahatan hidup anda yang bukan hanya sesaat untuk didunia saja, akan tetapi untuk kemaslahatan hidup nanti diakhirat. Bukankah jika anda tetap menikahinya hal ini melanggar ketentuan Allah? Anda harus bersyukur mempunyai orang tua yang bertanggung jawab! Kedua, patut anda juga bersyukur ternyata "calon" dari istri anda bersedia untuk masuk Islam (muallaf), artinya anda tidak menentang orang tua dan terus berusaha meyakinkan bahkan mengajak calon anda untuk masuk Islam. Ini merupakan perjuangan yang tidak kecil, sampai seseorang mau masuk Islam. Sekalipun langkah selanjutnya perlu perjuangan yang lebih besar lagi yaitu mengarahkan sekaligus mendidik agar calon anda menjadi muslimah sejati. Apalagi calon anda begitu hebat pendiriannya sampai tidak masalah orang tua kandungnya mengusir dari anggota keluarganya. Perlu diingat hal ini-pun pernah terjadi pada para shahabat Nabi saw yang karena masuk Islam ibunya mogok makan, bahkan mau bunuh diri segala. Tapi sahabat tersebut tetap memegang teguh pada keyakinan Islam.

Dalam Islam, justru sebaliknya jika kita menuruti orang tua untuk maksyiat (mengikuti kemauan yang bertentangan dengan ajaran), maka patut kita menentang. Sekalipun demikian kita tetap harus bersikap baik kepada keduanya! Artinya pernikahan anda yang tidak direstui oleh orang tua calon istri tidak menjadi masalah, sebab pernikahan andapun tentu bukan oleh orang tuanya (karena bukan Islam), tapi dilakukan oleh wali hakim! Allohu A’lam

Dikirim pada 22 Februari 2011 di Bab. Nikah
21 Feb

Tanya : Assalamua’alaikum Ustadz, Saya ingin minta penjelasan mengenai hadits yang (kalau tidak salah), "ada hal yang dilkuakan serius jadi dan dilakukan main-mainpun jadi, salah satunya nikah .... yang dimaksud nikah dengan main-main bisa jadi (sah itu) apa maksudnya? Wass ... Guruh Permana Jawa Tengah

Jawab : Wa’alaikumus-salam, tentu yang dimaksud dengan main-main adalah apabila akad nikah dilakukan oleh para pihak yang mempunyai hak untuk menikahkan dan pihak yang mau nikah. Contohnya seorang ayah dari gadis mengatakan ijab sambil bercanda kepada seseorang (pemuda) dengan mengucapkan "Aku nikahkan si Fathimeh buat ente " atau ungkapan dari pemuda yang berkata "Pak nikahin ane ame si Fathimeh". Lalu si pemuda mengatakan (qabul) "OK pak" atau "Ya". Atau si ayahnya mengatakan "Ya, aku nikahkan .dst..".

Ungkapan seperti itu sekalipun dilakukan dengan main-main, maka dinilai serius dan menjadi sah dalam Islam sebagai Ijab maupun qabul. Tentu jika ia seorang muslim. Tapi pernikahannya belum bisa dikatakan sah, hal ini tergantung apakah ada 2 orang saksi atau tidak? Allohu A’lam

Dikirim pada 21 Februari 2011 di Bab. Nikah

1. Pada tanggal 9 Juni 2008 SKB 3 menteri tetang Ahmadiyah diumumkan oleh Menteri Agama, yang menyatakan :

Kep utusan Bersama Menag, Mendagri, Jaksa Agung tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau anggota anggota pengurus Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat (nomor: 3 Tahun 2008, nomor: KEP-033/A/JA/6/2008, nomor: 199 Tahun 2008)

Kesatu:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

Kedua:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

Ketiga:
Penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum Kesatu dan Diktum Kedua dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya.

Keempat:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketentraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Kelima:
Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada Diktum Kesatu dan Diktum Keempat dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Keenam:
Memerintahkan kepada aparat pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini.

Ketujuh:
Keputusan Bersama ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Juni 2008, oleh

Menteri Agama Jaksa Agung Menteri Dalam Negeri.

sumber : eramuslim

2. Diktum UUNo. 1/PNPS/1965 :

Pasal : 1

“ Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keqagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu; penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.”

Pasal 2 ayat (1) dan (2) :

“ Barangsiapa melanggarketentuan tersebut dalam Pasal 1 diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.”

“ Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat(1) dilakukan oleh Organisasi atau suatu aliran kepercayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakan organisasi atau aliran tersebut sebagai organisasi/aliran terlarang, setelah presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.”

Pasal 3

“ Apabila setelah dilakukan tindakan oleh Menteri Agama bersama-sama Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri atau Presiden Republik Indonesia menurut ketentuan dalam pasal 2 terhadap orang,organisasi atau aliran kepercayaan, mereka masih terus melanggar ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1 , maka orang, penganut dan atau anggota pengurus organisasi yang bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun.



Note :

Sheikh Abu Bakar Najar Penulis India yg masyhur menulis buku dengan Judul : “ Do You Know About Mirza in Love ? , Islamic Publication Bureau, Athlone Cape South Africa, tt, series no.5:

Pada usia Mirza yg lebih dari 50 thn dengan kondisi lemah dan sakit2an, ia jatuh cinta lagi kpd seorang dara ayu bernama Muhammadi Begum binti Mirza Ahmad Beg, paman ibunya. Dengan posisi sbg “ Superman “ pasti lamaran diterima. Ternyata lamarannya ditolak oleh dara ayu dan bapaknya itu. Kemudian Mirza mengaku turun wahyu, yang disebar kepada umatnya :



فأوحى الله الي ان اخطب صبية الكبيرة لنفسك , وقل له ليصاهرك اولا ليقتبس من قبسك , و قل اني امرت لاهبك ما طلبت من الارض وارضا اخرى معها , واحسن اليك باحسنات أخرى على ان تنكحني احدى بناتك التى هي كبيرتها ؛ وذل بينى وبينك , فان قبلت فستجدونى من المتقبلين ؛ فان لم تقبل فاعلم ان الله قد أخبرني ان انكحها رجلا اخر لا يبارك لها ولا لك , فان لم تزدجر فيصب عليك مصائب , واخر المصائب موتك , فتموت بعد النكاح الى ثلاث سنين , بل موتك قريب , ويرد عليك وانت من الغافلين ؛ وكذلك يموت بعلها الذى يصير زوجها الى حولين وستت اشهر قضاء من الله , فاصنع ما انت صانعه وانى لمن الناصحين.

Mirza Ahmad Beg dan putrinya ternyata mencuekin wahyu tsb. Malah tgl 7 April 1892 ia dinikahkan dengan Sultan Muhammad; Mirza merengek minta dibatalkan, tapi ditolak. Lalu digelar “ istighatsah “ di mesjidnya bersama para pengikutnya, tapi tdk berhasil, Turun lagi wahyu :

انها سيجعل ثيبة ويموت بعلها وابوها الى ثلاث سنة من يوم النكاح , ثم نرد اليك بعد موتهما , ولا يكون احدهما من العاصمين – تذكرة : 160-161

Wahyu itu terbukti dusta, Mirza mati lebih dulu dari pada suaminya ! Jangankan gadisnya, jandanyapun tidak dapat , kasihan!!!

Dikirim pada 21 Februari 2011 di TENTANG ALIRAN-ALIRAN SESAT

APA & MENGAPA AHMADIYYAH

Oleh : Shiddiq Amien

Ahmadiyyah : Sebuah gerakan atau paham keagamaan yang dipelopori oleh Mirza Gulam Ahmad. (MGA). Ahmadiyah didirikan pada tanggal 23 Maret 1889 di sebuah kota bernama Ludhiana – Punjab-India. Ia lahir di Qadian distrik Gurdaspur, India, tgl. 15 Pebruari 1835 dan meninggal 26 Mei 1908. Tgl. 4 Maret 1889 dia mengaku mendapat wahyu dari Tuhan. Tahun 1891 Dia membuat pengakuan yang menghebohkan sebagai Al-Masih al-Mau’ud.( Al-Masih yang dijanjikan ).
Mirza Gulam Ahmad lahir di desa Qadian distrik Gurdaspur, India tanggal 15 Pebruari 1835 dari pasangan Ghulam Murtaza dan Chirag. MGA meninggal tanggal 26 Mei 1908 karena terserang penyakit muntaber di WC / kamarnya yang sudah seperti WC, tak lama setelah mubahalah dengan Syech Abul Wafa – Pemimpin Jami’ah Ahlul Hadits di India, yang paling gigih menentang ajaran Ahmadiyah.
Identitas Mirza dijelaskan dalam beberapa buku/majalah Ahmadiyyah :
“ Hazrat Ahmad a.s. lahir pd tgl 13 Pebruari 1835 sesuai dg 14 Syawal 1250 H, hari Jum’at pada waktu shalat subuh, di rumah Mirza Gulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar, yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yg tidak berapa lama meninggal dunia. Demikianlah sempurna kabar gaib yg telah ada dalam buku-buku Agama Islam, bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar “ ( Bashiruddin M.A , Riwayat Hidup Hazrat Ahmad as, 1966 : 2 )
“ Aku mendengar dari ayahku bahwa kakek-kakekku berdarah Moghol, akan tetapi aku mendapat wahyu dari Tuhan, bahwa kakek-kakekku berdarah Parsi “ ( Mirza Gulam Ahmad, Al-Istifta, hal 75 )
“ Daripada kakek-kakekku, aku ini keturunan Parsi, sedang dari nenek-nenkku aku ini keturunan Fatimah, makabergabunglah pada diriku dua kemuliaan “ ( Mirza Gulam Ahmad, Al-Khutbatul-Ilhamiyyah, hal 87 )
“ Dari pada Tuhanku, telah turun kepadaku, bahwa dari pihak nenek-nenekku, aku ini keturunan Fatimah ahli baitin-nubuwwah. Demi Allah, telah bersatu pada diriku keturunan nabi Ishaq dan keturunan Nabi Ismail “ ( Mirza GA, Al-Istifta, hal 75 )
“ Sesungguhnya akulah Al-Mahdi itu, juga Al-Masih Mau’ud, dimana kedudukannya sudah jelas bahwa utk jabatan kedua pangkat ini harus dipegang oleh seorang dari bani Fatimah “ ( Mirza GA, Al-Khutbatul Ilhamiyyah hal : 46 )
“ Engkau ya Mirza adalah Kreshna, namamu telah dinyanyikan dalam kitab suci Gita “ ( Bashiruddin MA, Ahmadiyyah Movement : 4 )
Mirza Gulam Ahmad juga mengklaim mempunyai sederet gelar : Fadlan Kabiran ; Imamuz Zaman; Khatamul Aulia ; Muhaddats ( Org yang diajak bercakap-cakap oleh Allah ); Hajar Aswad, yang diciumi manusia utk memperoleh berkahnya; Sang Kresna, raja bangsa Aria; Rahmat Mujassam ; Sultanul Kalam, raja diraja penulis ; Al-Masih Al-Muhammady, karena al-Masih pertama Al-Masih Al-Israili; dsb ( Abdullah Hasan AlHadar, Ahmadiyyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah , 1980 : 75 )
Buku-buku yang dikarangnya : Barahin-i Ahmadiyyah, merupakan buku pertama yang ditulisnya, ia merencanakan buku tersebut terdiri dari 50 jilid, tapi hanya selesai 5jilid. Dia berkata dalam Mukadimah buku tersebut : “ Pada awalnya saya berjanji untuk menulis 50 jilid. Namun karena selisih antara 5 dan 50 adalah NOL, maka janji saya telah terpenuhi setelah menulis 5 jidil.” MGA juga menulis banyak buku lain antara lain : Fath-i Islam, Masih Hindustan Man, Kasyful-Ghita, Tersingkapnya Penutup ), Izala-i Ahwam, Mawahib ar-Rahman ( Pemberian Tuhan ), Haqiqatal-Wahyi , dan Al-Wasiyah.
5. Berikut saya cuplikan cerita tentang riwayat Nabi Palsu dari India yang saya peroleh dari http://www.alhafeez.org/rashid/indonesia3.htm :

MGA Mendapatkan pendidikan formal mengenai Quran, Hadits dsb dimulai di rumah dari Molvi Fazl Ilahi . Dia juga kemudian belajar kepada Molvi Fazal Ahmad berbagai mata pelajaran lainnya. Ia juga belajar Tata bahasa Arab kepada Gul Ali Sah.

1852/53 : Perkawinan pertama dengan Hurmat Bibi alias Phajje di Maan. Melahirkan Dua anak laki-laki yaitu Sultan Ahmad dan Fazal Ahmad. Fazal Ahmad adalah anaknya yang tidak percaya bahwa ayahnya itu nabi ataupun Masih Al-mau’ud, sehingga ketika Fazal mati, MGA tidak mau menyalatkannya.

1857/58 : Pada Perang Kemerdekaan, yang disebut Indian Mutiny (PEMBERONTAKAN INDIA) dua tahun tsb. Untuk membuktikan kesetiaannya kepada Raja Inggris, Ayah Mirza menyumbang 50 tentara berkuda untuk memerangi kaum Muslimin dalam perang Kemerdekaan tersebut. Bahkan Mirza Ghulam Qadir, abang Mirza Ghulam, yang bertugas pada Divisi 46 di Ketentaraan Inggrisd dibawah pimpinan Jendral Nicholson, tercatat membantai banyak pejuang kemerdekaan di dekat Sialkot

1864 : Mirza bekerja menjadi klerk pada pemerintah Inggris. Pengadilan di Sialkot.

1864-68 : Ikut ujian Hukum tetapi tidak lulus.

1868 : Komisi Parlemen dari Inggris datang untuk mencari cara- cara memadamkan semangat Jihad diantara kaum Muslimin. Mirza mengundurkan diri dari pekerjaannya dan pergi ke Qadian .Dia memperkenalkan diri sebagai Pembahas Islam.

1869 : Laporan Komisi Parlemen tentang ‘Kedatangan Kekaisaran Inggris di India’ diserahkan kepada Parlemen Inggris. Laporan tersebut merekomendasikan diciptakannya Kerasulan seorang Nabi untuk memadamkan Semangat Jihad di kalangan umat Muslim.

1871 : Mirza Ghulam dipilih untuk jabatan’ sebagai Rasul

1884: Mengklaim diri sendiri sebagai Mujaddid/pembaharu Islam. Kawin kedua kalinya dengan Shahjehan Begum anak dari Mir Nasir Nawab, sehingga terlahir 3 anak laki-laki yaitu Mirza Bashiruddin Mehmood (Khalifah ke-2 dan ayah dari Mirza Tahir, Khalifah yang sekarang), Mirza Bashir Ahmad (penulis Seerat-ul-Mahdi) dan Mirza Sharif Ahmad. Dia mengaku menjadi impoten dalam perkawinannya yang ke-2. Berdo’a kepada Tuhan agar diberi kekuatan sexual. Tuhan memberikan Wahyunya agar ia meracik JAMU ILAHI. Atas perintah ilahi, ia membuat jamu/jampi yang disebut ‘TIRYAQ-e-ILAHI’ agar ‘energy’nya pulih kembali. Bahan utamanya adalah ‘OPIUM’.

1888 MGA diambil sumpah setianya (Peeri-Mureedi) oleh masyarakat. Dia juga meminta Mohammadi Begum untuk perkawinan ke-3. Dia mengumumkan bahwa perkawinannya yang ke-3 ini dengan Mohammadi Begum adalah lamaran atas wahyu ilahi dan penolakan dari siapapun akan mengakibatkan konsekuensi tragis pada gadis tersebut, keluarganya, dan orang yang kawin dengan gadis ini.

Mirza Ghulam mengumumkan: “Harus dipahami oleh masyarakat bahwa tidak ada kriteria lain yang lebih baik untuk menyimpulkan kebenaran selain kenabianku.” (Aina-e-Kamalate Islam, Roohani Khazain vol 5 p.288, by Mirza Ghulam) . Mirza mengancam istri pertama beserta anaknya tentang akibat langsung jika tidak mendukung perkawinannya dengan Mohammadi Begum.

1889 MGA mengaku menerima wahyu dari Tuhan.

1891 MGA mendakwahkan diri sendiri sebagai Al-Masih Al-Mau’ud. Dia juga mengklaim dirinya sebagai Mariam/Bunda Maria. Dia mengklaim dirinya mengandung karena ditiupkan ruh Isa kedalam dirinya (Jesus). Kemudian mengklaim menjadi Isa setelah 10 bulan dalam kandungan dalam kandungannya sendiri (Maryam’s). Dan mengatakan: “Inilah muasalnya saya adalah Jesus anak Maria.” (Kishtee Nooh, Roohani Khazain vol 19 p. 87-89) .Tahun ini MGA mendirikan Gerakan Ahmadiyyah dalam Islam.

1892 Mohammadi Begum kawin dengan Mirza Sultan Baig. Untuk membalas hal ini, Mirza: o menceraikan istri pertamanya. o memaksa salah seorang anaknya untuk menceraikan istrinya. o membatalkan warisan kepada anak laki-lakinya yang kedua.

[PS Istri pertamanya ada pertalian darah dengan Mohammadi Begum.]

1898/99 : MGA mengajukan Petisi kepada gubernur Punjab mengingatkan bahwa: Kakek moyangnya selalu menjadi hamba setia. Ia sendiri adalah BENIH YANG TUMBUH SENDIRI/TERTANAM SECARA MANDIRI/SUKARELA kepada Raja-raja Inggris. Dari sejak kecil sampai sekarang setelah berumur 65 tahun, ia telah melakukan tugas-tugasnya yang penting dengan pena dan lidahnya, untuk mengubah hati ummat Muslim kedalam cinta kasih & niat baik serta simpti kepada Pemerintah Inggris dan melenyapkan konsep Jihad dari sanubari orang-orang Islam yang bodoh itu.

1900 : Mirza membatalkan Jihad. Menamakan para pengikutnya sebagai Ahmadi dan memerintahkan penggunaan identitas tersebut untuk sensus.

25 MEI 1900 Mirza Ghulam mengumumkan bahwa semua orang yang tidak menerimanya sebagai nabi adalah tidak taat pada Allah dan NabiNya dan akan tinggal di neraka

1901:Mirza mengumumkan: “Dasar dari klaim saya bukanlah Hadits tetapi Quran dan Wahyu saya sendiri; untuk mendukungnya kami juga mengutip hadits-hadits yang tidak bertentangan dengan wahyu saya. Sedangkan sisa Hadits lainnya saya buang seperti membuang kertas bekas. (Zamima Nuzoole Maseeh, Roohani Khazain vol 19 p.140)

1904 Mengklaim sebagai dewa Krishna umat Hindu.

1905 Membangun Makam Suci di Qadian. Siapa yang dimakamkan di tempat itu dijamin masuk surga, dengan syarat membeli sertifikat dengan harga sangat mahal.

1906 Mengaku menderita SAKIT JIWA dan kencing terus menerus 100 kali per hari sejak pernyataanya bahwa ia diangkat rasul oleh Allah (1879)

1907 MGA mengadakan duel doa melawan Molvi Sanaullah Amratsari. Mengumumkan doanya di Surat Kabar dimana ia berdoa keada Allah SWT agar para Pembohong itu mati selama > kebenaran masih ada dan kematian para pendusta itu adalah karena sebab Kolera atau Musibah–menurutnya ini adalah tanda kemarahan Illahi. MGA juga menyatakan bahwa Allah telah menamakannya Muhammad dan Ahmad 26 tahun yang lalu di Braheen-e-Ahmadiyya. (Haqeeqatul Wahi, Roohani Khazain vol 22 p.502) . Dia menyatakan bahwa Allah telah mewahyukan 300,000 tanda-tanda untuk mendukung klaimnya

15 Mei 1907 Menyatakan bahwa surah-surah dlm Al Quranul Karim berikut ini, yang diwahyukan untuk menghormati dan, memuji nabi besar Muhammad SAW, sekarang telah diwahyukan untuk menghormati Mirza:

1. Surah 7:17

2. Surah 55:1

3. Surah 9:33

4. Surah 53:9

5. Surah 17:1

6. Surah 3:31

7. Surah 48:10

8. Surah 48:1

9. Surah 73:15

10. Surah 107:1

11. Surah 36:3

(Haqeeqat-ul-Wahi, Roohani Khazain vol 22)

Dia Juga Mengklaim bahwa Allah telah menamakan dirinya sebagai tiap nabi, oleh karenanya ia mengatakan:

“Aku adalah Adam, Aku adalah Noah/Nuh, Aku adalah Abraham/Ibrahim, Aku adalah Isaac/Ishak, Aku adalah Jacob/Ya’kub, Aku adalah Ishmael/Ismail, Aku adalah Musa, Aku adalah Daud, Aku adalah Isa anak Maryam, Aku adalah Muhammad…(SAW).” (Haqeeqatul Wahi, Roohani Khazain vol 22 p. 521)

1908 KEMATIAN: Mirza tiba-tiba terjangkit penyakit kolera Dengan penyesalan yang dalam dan kesedihan ia mengeluarkan kata-kata terakhirnya kepada ayah mertuanya:

“Mir Sahib! Saya kejangkitan kolera”, Ia tak dapat mengeluarkan kata-kata sesudahnya dan meninggal dalam waktu singkat setelah itu. Sementara Mohammadi Begum hidup bahagia dengan suaminya 35 tahun setelah itu. Demikian juga Molvi Sanaullah Amratsari hidup selama 40 tahun setelah kematiannya itu.

Ketika Mirza meninggal, kepemimpinan dipegang oleh Khalifah pertama Maulwi Nuruddin sampai tahun 1914. Ia jatuh dari kuda dan meninggal dunia. Setelah itu digantikan oleh anak Mirza : Basiruddin Mahmud Ahmad. Konon Dialah yang menegaskan Mirza sebagai Nabi. Sebagian pengikutnya menolak, karena Mirza hanya menerima wahyu dan mengaku sebagai Al-Masih dan al-Mahdi, tidak terang-terangan mengaku nabi. Di bawah pimpinan Kwaja Kamaluddin dan Maulwi Muhammad Ali mereka memisahkan diri dan hijrah ke Lahore ( di Pakistan ).Ahmadiyah terbelah jadi dua : Ahmadiyyah Qadiyan meyakini bahwa Mirza sbg Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad saw. Dan Ahmadiyyah Lahore yang hanya meyakini Mirza sebagai “ Mujaddid “ dan “Muhaddatz “ ( yang berbicara langsung dg Allah ). Pada thn 1947, Ahmadiyyah Qadian mendapat kesulitan ketika India dan Pakistan sama-sama merdeka, Qadian menjadi bagian India, mereka inginnya jadi bagian dari Pakistan, maka pusat kegiatan pindah ke Rabwah di Pakistan. Kini pusat kekhilafahan Ahmadiyyah berada di London – Inggris.
Khalifah-Khalifah Ahmadiyah Qadian :
6.1. Hadhrat Hakim Maulana Nuruddin, Khalifatul Masih I ( 27 Mei 1908-13 Maret 1914)

6.2. Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmood Ahmad, Khalifatul Masih II ( 14 Maret 1914-7 Nopember 1965 )

6.3. Hadhrat Hafiz Mirza Nasir Ahmad, Khlaifatul Masih III ( 8 Nopember 1965 – 9 Juni 1982 )

6.4. Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV ( 10 Juni 1982 – 19 April 2003 )

6.5. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V ( 22 April 2003 – Sekarang )

Ahmadiyyah Qadian masuk ke Indonesia thn 1925 dibawa oleh Rahmat Ali, mula-mula tinggal di Tapaktuan Aceh, kemudian di Padang thn 1930 dan akhirnya di Jakarta. Ahmadiyyah Lahore dibawa ke Indonesia oleh Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad th. 1924, pertama kali tinggal di Yogyakarta. ( Ensiklopedi Islam 1 : 89-92
Jemaat Ahmadiyyah Indonesia (JAI) yang kini berpusat di Bogor terdaftar di Dep.Kehakiman tgl 3 Maret 1953. Dalam Anggaran Dasarnya disebutkan ttg : Nama dan Waktu didirikan : Jemaat Ahmadiyah bagian Indonesia diberi nama Jemaat Ahmadiyah Indonesia dapat tempat kedudukan Jakarta dan dirikan pada tahun 1925 untuk waktu yg tidak tertentu. Maksud : Maksud Jemaat ini ialah menyebarkan Agama Islam menurut Hazrat Masih Mau’ud dan Para Khalifahnya ke seluruh Indonesia, dan membantu Jema’at Ahmadiyah diluar Indonesia dalam hal itu. Sementara Ahmadiyah Lahore di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia, berpusat di Yogyakarta.
Pada waktu MUI mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Ahmadiyyah (1980) Cabang Ahmadiyah baru 45; tahun 1999 sudah 228 Cabang; dan tahun 2005 bertambah lagi menjadi 305 cabang. Khalifah ke VI Ahmadiyyah ( seperti dimuat Majalah Mingguan Al-Fadhl International, berbahasa Urdu, Nomer : 7, 13 Juli 200M ) menegaskan bahwa Indonesia pada akhir abad baru ini, akan menjadi Negara Ahmadiyyah terbesar di dunia.
UUD Sementara Pakistan thn 1981: yang ditandatangani Jenderal M.Zia Ul Haq, salah satu diktumnya menyebutkan : “ Seorang yang bukan Muslim berarti seorang yang tidak beragama Islam dan termasuk seorang yang beragama Parsi, juga yang termasuk dalam Kelompok Qadiani atau kelompok Lahore ( yang menamakan diri mereka Ahmadiyah, ataupun memakai nama lain apapun juga ), atau seorang Bahai, dan setiap orang yang termasuk ke dalam suatu kasta yang telah ditentukan
Organisasi Konprensi Islam (OKI) 6-10 April l974 / 14 s/d 18 Rabiul Awal 1394 H dalam Konprensinya di Makkah menyatakan Ahmadiyyah kafir dan di luar Islam.
Pada tgl 1 Juni 1980 MUI di bawah kepemimpinan Prof. HAMKA, mengeluarkan fatwa tentang sesatnya Ahmadiyyah dan kemudian dikuatkan dalam 11 fatwa hasil Munas MUI ke-7 yg ditutup tgl 29 Juli 2005 di Jakarta.
Keputusan raja-raja Malaysia dalam Musyawarah ke 101, tgl 18 Juni 1975 memutuskan Ahamadiyyah dinyatakan terlarang di seluruh wilayah hokum Malaysia.
Tgl 10 September 2005 MUI Beserta Para Pimpinan Ormas Islam ( a.l. : DDII,Al-Wasliyah, Persis, MDI, ICMI, Perti, SI, Al-Ittihadiyyah, Al-Irsyad, Hidayatullah, DMI, IPHI, PUI, HTI, KISDI, FUI,LPPI, KB PII, BKSPP, GPI< BKMT, KAHMI,dsb ) (Kecuali : NU dan Muhamadiyyah ) mendesak Pemerintah utk melarang Ahmadiyyah di seluruh wilayah hukum RI.
Fatwa MUI tersebut mendapat reaksi keras dari beberapa kalangan, khusunya mereka yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Madani (AMM) yang beranggotakan a.l : Dawam Raharjo, Johan Effendi, Syafii Anwar, Ulil Absar Abdalla,( Koordinator JIL), Pangeran Jatikusuma ( Penghayat Sunda Wiwitan ), Romo Edi (KWI), Pdt. Winata Sairin (PGI), Adnan Buyung Nasution dan Daniel Panjaitan ( YLBHI ). Mereka menuntut agar MUI mencabut fatwa tsb. Bahkan ada yang menuntut MUI dibubarkan. Mereka mengatakan : “ Jangan merasa benar sendiri, Jangan Menhakimi keyakinan org lain, Jangan bertindak sebagai Tuhan “ dsb.
Menjelang akhir tahun 2007 MUI dan ormas2 Islam kembali mendesak pemerintah melalui Kejaksaan Agung utk melarang/membubarkan JAI. Desakan itupun mendapat perlawanan, bukan hanya dari JAI tapi juga dari Kaum Liberal : mereka menamakan dirinya AKKBB :Indonesian Conference on Raligion and Peaece, Interfidei, Jaringan Kelompok Antar Iman se Indonesia, Wahid Institute, JIL, dsb.Mereka menyatakan a.l : Negara tidak tunduk pada fatwa, Negara trunduk pd Konstitusi; Kejagung jangan lemah, Bangkitlah, Tegakkan Konstitusi : Statemen Syafii Maarif mereka usung : Polisi Jangan Tunduk pada Preman Berjubah. Dsb.
Dalam rakor Pakem Kejagung, MUI/Ormas tdk dilibatkan. Yang keluar bukan pelarangan Ahmadiyah,melainkan : Statemen PB JAI ttg pokok2 Keyakinan dan Kemasyarakatan JAI. Terdiri dari 12 butir:
1) Kami Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagimana yang diajarkan nabi Muhammad Rasulullah saw, yaitu : Asyahadu an la ilaha ilallaha wa Asyhadu anna muhammadar Rasulullah.

2) SEjak semula kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad adalah khatamun Nabiyyin ( nabi penutup )

3) Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Gulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa kabar gembira dan peringatan, serta pengemban mubasyirat, pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yg bertugas memperkuat dakwah dan syi’ar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

4) Dst.

Banyak orang tertipu dengan kebohongan JAI. Dalam statemen tersebut. Mereka mengklaim syahadatnya sama, tapi harus diingat bahwa yang dimaksud Muhammad dalam syahadat kedua mereka adalah MGA. Dlm buku Hadhrat MGA (Imam Mahdi, Masih Mau’ud as ) Memperbaiki suatu Kesalahan, JAI Cabang Bandung, 1993 hal 3-8 : … yang sebenarnya adalah bhw itu wahyu suci dari Allah swt yg diwahyukan kepadaku di dalamnya mengandung kata-kata rasul, mursal dan nabi bukan hanya sekali atau dua kali, malah beratus-ratus kali digunakan…(hal.3)…… Sebagian dari wahyu2 Allah swt itu yg sudah tersiar dlm kitab Barahin Ahmadiyah, (hal 498) ialah sbb :

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ – (الصف : 9)

(“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama) QS. As-Shaf:6.

“Di dalam wahyu ini nyata benar, bahwa aku dipanggil dengan nama Rasul...” (hal.4)

“..Lagi pula dalam kitab ini di dekat wahyu itu ada pula wahyu Allah ta’ala :


مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ-( الفتح : 29

(Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, )

Dalam wahyu ini Allah swt menyebutkan namaku Muhammad dan Rasul (hal.5) juga di Kitab Tadzkirah : 97.

“... Dan 20 tahun yang lalu, sebagi tersebut dalam kitab Barahin Ahmadiyah Allah ta’ala sudah memberikan nama Muhammad dan Ahmad kepadaku, dan menyatakan aku wujud beliau juga. “ (hal. 16-17)


Dalam point 3 dari 12 point pernyataan petinggi JAI dinyatakan bahwa diantarkeyakinan kami ( Berarti ada keyakinan yang mereka sembunyikan, yakni MGA sbg nabi ) ini bisa dilihat jelas dari antara peran MGA yg disebut sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, itu menunjukkan klaim mereka bahwa MGA adalah nabi/rasul. Sebagaimana Allah telah menjelaskan fungsi seorang nabi/rasul itu adalah :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا - الاسراء : 105

Demikian juga dalam QS. Al-Furqan : 56

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

JAI menilai orang di luar kelompoknya itu kafir , ini bias dilihat dari pernyataan : “ Bahwa semua orang Islam harus percaya pada nabi Mirza Ghulam Ahmad; kalau tidak, berarti mereka tidak mengikuti ajaran-ajaran al-Qur’an. Dan siapa-siapa yang tidak mengikuti al-Qur’an, maka ia bukan muslim. Dan barangsiapa yang mengingkari seorang nabi, menurut istilah agama Islam disebut kafir ! “ ( Syafi R Batuah, Ahmadiyyah Apa dan Mengapa, 1968 : 41 )
Di antara penyimpangan/kesesatan utama Ahmadiyyah :
a) Meyakini bahwa MGA adalah nabi sesudah Nabi Muhammad saw, dengan mengklaim bahwa bunyi QS. As-Shaf : 6 itu untuk dirinya:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ – الصف : 6

“ Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".( QS. As-Shaf : 6 )


“ Jika orang benar-benar meneliti maksud al-Qur’an itu ( surah 61:6 ) maka akan mengetahui, bahwa yang dimaksud dengan nama AHMAD bukanlah nabi Muhammad saw, tapi seorang RASUL yang diturunkan Allah swt pada akhir zaman sekarang ini. Bagi kami ialah : Hazrat AHMAD Al-Qadiani “ ( Suara Ansharullah, Majalah Ahmadiyyah no.3 dan 4, Juli 1955 hal 18 )

Padahal “ Ahmad” dalam ayat tersebut adalah “ Muhammad saw. Ini dijelaskan dalam hadits :

عن جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ – ر البخاري و مسلم

Dari Juber bin Muth’im ra berkata, bersabda Rasulullah saw. : “ Aku punya lima nama, Aku adalah : Muhammad dan Ahmad, Aku Al-Mahi, yang Allah menghapus dengan (kedatanganku) kekufuran, aku Al-Hasyir, yang manusia dikumpulkan di bawah kakiku, Aku adalah Al-‘Aqib ( penutup ) yang tidak ada sesudahnya nabi. “ ( HR. Al-Bukhari dan Muslim)

b) Mereka juga menafsirkan “ Khataman Nabiyyin “ dalam QS. Al- Ahzab : 40 :

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا- الاحزاب : 40

“ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “ ( QS. Al-Ahzab : 40 )

Bukan dalam arti “ Penutup Para Nabi “ , tapi diartikan “ Cincin, atau cap atau stempel “ ini bisa dilihat dari dua data berikut :

“ Kalimat “ Khatam “ dapat dibaca “ Khatim “ yg berarti hiasan bagi sang pemakainya. Apabila diartikan demikian, maka Rasulullah saw. itu bagaikan hiasan indah bagi nabi-nabi. Dalam Fathul Bayan juga dikatakan, bahwa Nabi Muhammad saw adalah bagaikan hiasan cincin yg dipakai oleh para nabi, karena beliau nabi termulia. “ ( Saleh A. Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyyah, hal 34 )

“ Jadi perkataan ‘ khataman nabiyyin’ berarti cap atau stempel dari pada nabi-nabi. Yakni Nabi Muhammad saw ialah kebagusan dari pada segala nabi-nabi “ (Bashiruddin MA, Jasa Imam Mahdi a.s. terjemah Malik Ahmad Khan ).

Padahal soal kenabian dan kerasulan sudah ditutup oleh kenabian dan kerasulan Muhammad saw. Ini ditegaskan oleh Rasulullah saw :

عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ – ر احمد و الترمدي

Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terhenti, tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku.(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi )


وَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلَّا حَذَّرَ أُمَّتَهُ الدَّجَّالَ وَأَنَا آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَنْتُمْ آخِرُ الْأُمَمِ وَهُوَ خَارِجٌ فِيكُمْ لَا مَحَالَةَ .....إِنَّهُ يَبْدَأُ فَيَقُولُ أَنَا نَبِيٌّ وَلَا نَبِيَّ بَعْدِي - ر ابن ماجه

“ Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang nabipun kecuali nabi itu mengingatkan kepada umatnya akan ( bahaya ) dajjal, Aku adalah nabi terakhir dan kalian adalah umat terakhir. Dajjal itu akan datang kepada kalian pasti, Omongan pertamanya ( dia mengaku ) : “ Aku adalah nabi “, Padahal tidak ada nabi sesudahku. “( HR. Ibnu Majah. Dari Abi Umamah Al-Bahili ra )


c) Mereka mempunyai Kitab Suci Bernama “ Tadzkirah “di dalamnya a.l. disebutkan :

انا انزلناه فى ليلة القدر) القدر : 1 ), انا انزلناه للمسيح الموعود – تذكرة : 519

انا انزلناه قريبا من القاديان, وبالحق انزلناه وبالحق نزل ( الاسراء : 105 ) , صدق الله ورسوله , وكان امر الله مفعولا ( النساء: 46) , الحمد لله الذي جعلك المسيح ابن مريم – تذكرة : 637

“Sesungguhnya Aku menurunkannya ( Tadzkirah ) pada lailatul qadar, Aku turunkan kitab itu kepada al-Masil Al-Mau’ud ( hal : 519 ) Sesungguhnya Aku menurunkannya dekat Qadian, dengan membawa kebenaran aku turunkan dengan sebenar-benar turun, Maha benar Allah dan rasul-Nya, Sesungguhnya ketetapan Allah akan berlaku, Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan engkau sebagai Al-Masih Ibnu Maryam “ Tadzkirah : 637

Dari beberapa ayat di atas saja nampak ayat-ayat “ Bajakan “ dari Al-Qur’an. Kepada siapa yang tidak beriman kepadanya dinilai telah sesat sesesatnya. Ini bias dilihat dari pernyataan MGA :

“ Maka barangsiapa yang tidak percaya kepada wahyu yg diterima Imam yang dijanjikan ( Mirza Gulam Ahmad ) , maka sesungguhnya ia telah sesat, sesesat-sesatnya, dan ia akan mati dalam kematian jahiliyyah, dan ia mengutamakan keraguan atas keyakinan. “ ( Mirza Gulam Ahmad, Mawahib ar-Rahman, hal : 38 )

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ – ابرهيم : 4

“ Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. “ QS. Ibrahim : 4

d) Ahmadiyyah mempunyai Kota Suci : Qadian dan Rabwah

“ Haji ke Mekkah tanpa haji ke Qadian adalah haji yang kering dan kasar “ ( Haqiqatal Wahyi : 20 )

21. Tanggal 16 April 2008 Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) menyatakan bahwa JAI sebagai kelompok sesat dan merekomendasikan perlunya diberi peringatan keras lewat suatu keputusan bersama : menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung sesuai denganUUNo.1/PNPS/1965 agar Ahmadiyah menghentikan segala aktifitasnya.

22. Menurut Kepala Badan Litbang Departemen Agama, Atho Mudzhar, yang juga Ketua Tim Pemantau, selama tiga bulan Bakorpakem memantau 55 komunitas Ahmadiyah di 33 kabupaten, dimana 35 angota Tim Pemantau telah bertemu dengan 277 warga Ahmadiyah, ternyata ajaran Ahmadiyah tetap menyimpang. Di seluruh cabangnya, MGA tetap diyakini sebagai nabi setelah Nabi Muhammad saw. Mereka juga meyakini bahwa kitrab Tadzkirah adalah kumpulan wahyu yang diterima MGA.

23. Pada tanggal 9 Juni 2008 SKB 3 menteri tetang Ahmadiyah diumumkan oleh Menteri Agama, yang menyatakan :

Kep utusan Bersama Menag, Mendagri, Jaksa Agung tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau anggota anggota pengurus Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat (nomor: 3 Tahun 2008, nomor: KEP-033/A/JA/6/2008, nomor: 199 Tahun 2008)

Kesatu:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

Kedua:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

Dikirim pada 21 Februari 2011 di TENTANG ALIRAN-ALIRAN SESAT

Tanya : Ass, dijari tangan manakah orang mukmin mengenakan cincin dan saya mohon dasar hadistnya. terimakasih. Giri Tuji Harsana

Jawab : Wa’alaikumus-salam, Dalam sebuah keterangan Rasulullah saw memakai cincin di kelingkingnya (Shahih Bukhari hadits no.5536). Dalam keterangan yang lain bahwa Rasulullah saw melarang menggunakan cincin di jari tengah dan telunjuk (Shahih Muslim hadits no.2078),

Dari berbagai riwayat, bahwa Rasulullah suka memakai cincin (takhottum). Beliau suatu saat pernah memakai cincin di jari kelingking tangan kanan dan suatu saat yang lain beliau memakainya pada tangan sebelah kiri, sebagaimana dalam hadits shahih:

"Adalah beliau (Nabi saw) memakai cincin pada tangan kanannya." (HR. Bukhori dan Tirmidzi) "Adalah Nabi saw memakai cincin pada tangan kirinya." (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Dari sini memakai cincin baik di tangan kanan maupun tangan kiri dibolehkan. Imam As Syafi’i berpendapat bahwa memakainya di sebelah kanan itu lebih utama. Sementara Imam Malik berpendapat sebaliknya. Imam Bukhari dan Imam Al Munawi memilih meletakkan cincin pada jari kelingking tangan kanan dengan alasan tangan kanan lebih pantas untuk diperindah. Allahu A’lam

Dikirim pada 20 Februari 2011 di Bab. Akhlaq



Tanya : Assalamu’alaikum ... Pak ustadz ketika sujud dalam shalat, apakah hidung itu harus kena ketempat sujud? Dan apakah ia (hidung itu) merupakan anggota sujud? Terima kasih atas jawabannya! Lisna Jambi



Jawab : Wa’alaikumussalam ... Dalam sebuah hadits diterangkan mengenai anggota sujud :


عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : اُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلىَ سَبْعَةِ اَعْظُمٍ عَلىَ الجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ اِلىَ أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ وَالرُكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِِ القَدَمَيْنِ . رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Abbas dari Nabi saw bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang; kening –dan beliau menunjuk hidungnya- dua tangan, dua lutut dan ujung dua telapak kaki.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dengan dalil diatas hidung merupakan bagian dari anggota sujud yang tujuh itu. Ditunjuknya hidung oleh Nabi saw bersamaan dengan kening ini menunjukkan bahwa dua anggota ini adalah satu, artinya saat sujud harus meletakan kening dan hidung ketanah (tempat sujud), tidak cukup salah satunya. Allohu A’lam

Dikirim pada 19 Februari 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Aslm ...Pertanyaannya bagaimana hukum menyerahkan bayi pada orang lain, karena ...perselingkuhan .... (maaf ana cut!). Bagimana menurut Islam jika kasusnya seperti itu? Bagaimana memberikan bayi pada orang lain? Bagaimana adosi menurut Islam? Hamba Allah!

Jawab : Wa’alaikumus-salam ...Menurut agama Islam, pengangkatan anak tidak memutuskan hubungan darah antara anak dengan orang tua kandungannya. Namun demikian, tidak jarang terjadi kasus dimana, dalam mengangkat anak, orang tua angkat merahasiakan kepada anak mengenai orangtua kandungnya dengan maksud agar anak akan menganggap orang tua kandungnya. Tetapi pada umumnya maksud tersebut menjadi kontra produktif terutama setelah anak angkat menjadi dewasa dan memperoleh informasi mengenai kenyataan yang sesungguhnya.

Menyerahkan anak untuk diasuh oleh orang lain tidak menyalahi ajaran Islam. Hanya tentu tidak boleh memutuskan hubungan nasab dengan orang tua kandungnya. mengasuh atau-pun mengadopsi anak tidak akan menjadi putus hubungan orang tua kandung. Bahkan hal itu tidak menjadikannya jadi ahli warits. Artinya, anak yang kita urus/adopsi bukan ahli warits orang tua asuh maupun sebaliknya. Dan nasabnya harus tetap di kaitkan dengan orang tua kandung!! Bila kasusnya seperti yang akhi paparkan, supaya anak itu jadi hak miliknya dan tidak boleh tahu orang tua kandungnya, maka hal ini dilarang.

Hak asuh bagi anak yang akhi terangkan itu merupakan hak ibu kandungnya. Sebab ia tidak punya ayah dalam status nikah (sebab hasil perselingkuhan).



Hal tersebut diatas ternyata juga telah diakomodasikan di dalam RUU Perlindungan Anak pasal 39:

Pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Pengangkatan anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dan orangtua kandungnya
Calon orangtua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat
Pengangkatan anak oleh warga negara asing hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir
Dalam hal asal usul anak tidak diketahui, maka agama anak disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat
Hal ini juga diatur dalam pasal 40 dan 41. Di dalam peraturan dan RUU itu jelas diatur bahwa untuk pengangkatan anak itu harus berlandaskan pada kepentingan terbaik untuk anak dan sesuai dengan asas perlindungan anak. Allohu A’lam



Dikirim pada 13 Februari 2011 di Bab. Akhlaq

Tanya : Bismillah... Assalamu’alaikum ! Pak Ustadz tolong jelaskan bagaimana cara duduk diantara dua sujud! Sebab ada yang berpendapat lain dengan yang biasa kita lakukan (yaitu) mereka berpendapat bahwa duduk diantara dua sujud itu dengan cara duduk diatas dua tumitnya! Syukran... RTH Ciamis

Jawab : Wa’alaikum salam! Ada dua cara duduk diantara dua sujud. Pertama, dengan cara duduk diatas (telapak) kaki kiri dan kaki kanan ditegakkan. Hal ini berdasarkan keterangan/hadits dari Wa’il bin Hujr : "... ketika (Nabi) bangkit (duduk diantara dua sujud) ia menghamparkan telapak kaki kirinya dan menegakkan jari-jari kaki kanannya ...."(HR.Al-Baihaqy Sunanu al-Kubra 22 : 23). Duduk model ini dalam istilah fiqh dinamakan ifrosy. Kedua, dengan cara duduk pada ujung kaki (dua tumit) dan dua kaki itu ditegakkan. Hal ini berdasarkan keterangan, "... Bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya soal duduk iqa (yaitu) duduk pada dua tumitnya. Maka Ibn Abbas menjawab : Duduk iq’a itu merupakan sunnah. Selanjutnya dikatakan kepada Ibnu Abbas bahwa duduk iq’a itu (menandakan) tidak sopannya seseorang. Maka Ibn Abbas menjawab (lagi) : Duduk Iq’a merupakan sunnah Nabimu! (HR.Muslim I : 218). Duduk model ini dinamakan duduk Iq’a.

Ketika duduk diantara dua sujud baik dengan Iftirosy maupun iq’a, pandangan kami kedua-duanya tidak menyalahi sunnah Rasul. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 Februari 2011 di Bab. Sholat
31 Jan

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. ... Semoga pak Ustadz dalam keadaan sehat! Pak Ustadz adakah tunangan dalam Islam, dan mestikah orang yang mau nikah itu bertunangan? GBT Tangerang

Jawab : Wa’alaikum salam wr.wb... (Amien!!!). Bertunangan didalam bahasa arab dikenal dengan nama khitbah yang berarti ajakan untuk menikah. Khitbah ini pada umumnya merupakan sarana untuk melangsungkan pernikahan dan pada umumnya pernikahan itu tidaklah lepas dari khitbah ini meskipun khitbah ini bukanlah suatu syarat didalam sahnya pernikahan dan pernikahan tetap dianggap sah meskipun tanpa khitbah sehingga hukum khitbah ini adalah mubah (boleh) menurut jumhur ulama.

Sedangkan menurut para ulama madzhab Sayfi’i bahwa khitbah adalah disunnahkan berdasarkan perbuatan Nabi saw yang meminang Aisyah binti Abi Bakar dan beliau saw juga meminang Hafsah binti Umar

Khitbah itu sendiri bukan bagian dari pernikahan, sekalipun terkadang ketika hendak menikah ada proses tunangan (khitbah). Artinya ketika sudah khitbah, maka wanita yang kita khitbah tetap orang asing (bukan mahram) yang bisa berduaan diajak kemana-mana. Tetapi dibolehkan saat meminang si yang meminang dan yang dipinang melihatnya. Sebagian ulama bahwa yang boleh dilihat adalah wajahnya dan telapak tangan, sebab kedua bagian itu sudah cukup mewakili yang bisa mendorong untuk menikahinya.



Dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Apabila seorang dari kalian meminang seorang wanita maka jika dirinya bisa melihat bagian-bagian yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah.” (HR.Ahmad dan Abi Daud)



Dari Abu Hurairah berkata,”Aku berada disisi Nabi saw lalu datanglah seorang laki-laki dab memberitahukan bahwa dia telah meminang seorang wanita dari Anshor. Nabi bertanya,’Apakah engkau telah melihatnya?’ orang itu berkata,’belum.’ Beliau saw bersabda,’Pergi dan lihatlah dia. Sesunguhnya di mata orang-orang Anshor ada sesuatu (berwarna biru).” (HR. Muslim) . Allohu A’lam



Dikirim pada 31 Januari 2011 di Bab. Nikah

Tanya : Assalamu’alaikum wr.wb. ... Bismillah... Pak Ust. bolehkah kita berdoa dalam shalat (misalnya dalam sujud) dengan bahasa kita (Indonesia)? Wass... HR Pekalongan

Jawab : Wa’alaikum salam wr.wb... Nabi saw pernah bersabda : Adapun ruku’ maka agungkanlah Rabb-mu, sedangkan ketika sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, niscaya segera dikabulkan untuk kalian" [Diriwayatkan oleh Muslim di dalam shahihnya]. Dalam keterangan lain diriwayatkan : Jarak paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa (ketika itu) (HR.Muslim dari Abi Hurairah) .

Hadits yang semakna dengan diatas cukup banyak. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam shalat (seperti dalam sujud dan tahiyyat) disyariatkan untuk berdo’a sesuai dengan apa yang kita harapkan. Berdo’a berbeda dengan berbicara. Sekalipun dengan menggunakan bahasa Arab, tapi isinya ngobrol (bukan do’a) hal ini tidak dibenarkan dilakukan dalam shalat. Akan tetapi jika itu merupakan do’a sekalipun bahasa kita, maka hal tersebut merupakan isyarat dari hadits diatas. Sebab yang diperintahkan adalah berdo’a! Hanya tentu do’a yang diajarkan Nabi saw akan lebih utama. Allohu A’lam

Dikirim pada 22 Januari 2011 di Bab. Sholat



Tanya : Assalamu ’alaikum wr wb. Bismillaah... "Ustadz, maaf saya mau tanya. mohon penjelasan tentang Bid’ah Hasanah dan bantahannya. Karena Bid’ah Hasanah ini sering digunakan sebagai Pelegal amalan-amalan Bid’ah oleh orang-orang yg mengerjakannya. Syukran Jazakumullah khairan katsiiran.. By Ibnu".

Jawab : Wa’alaikum salam wr.wb. Untuk menambah keyakinan tentang bid’ah (karena hal ini untuk yang kedua kalinya) kami akan sarikan satu terjemahan yang disalin dari buku Al-Wala & Al-Bara, Tentang Siapa Yang hrs Dicintai & Harus Dimusuhi oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan At-Tibyan Solo, hal 47-55. Sebab selama ini ada yang beranggapan bahwa bid’ah dalam agama itu ada yang dibolehkan!


Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. seperti firman Allah :


“Artinya : Allah pencipta langit dan bumi” [Al-Baqarah : 117]

Juga firman Allah.


“Artinya : Katakanlah : ‘Aku bukanlah rasul yg pertama di antara rasul-rasul”. [Al-Ahqaf : 9].

Maksud ialah : Aku bukanlah orang yg pertama kali datang dgn risalah ini dari Allah Ta’ala kpd hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yg telah mendahuluiku.

Dan dikatakan juga : “Fulan mengada-adakan bid’ah”, maksud : memulai satu cara yg belum ada sebelumnya.

Dan peruntukan bid’ah itu ada dua bagian :

[1] Peruntukan bid’ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti ada penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalam penyingkapan-penyingkapan ilmu dgn berbagai macam-macamnya). Ini ialah mubah (diperbolehkan) ; krn asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) ialah mubah.

[2] Peruntukan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukum haram, krn yg ada dalam dien itu ialah tauqifi (tdk bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Arti : Barangsiapa yg mengadakan hal yg baru (beruntuk yg baru) di dalam urusan kami ini yg bukan dari urusan tersebut, maka peruntukan di tolak (tdk diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Arti : Barangsiapa yg beruntuk suatu amalan yg bukan didasarkan urusan kami, maka peruntukan di tolak”.

MACAM-MACAM BID’AH

Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :

[1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah : Bid’ah perkataan yg keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yg sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.

[2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah : seperti beribadah kpd Allah dgn apa yg tdk disyari’atkan oleh Allah : dan bid’ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :

[a]. Bid’ah yg berhubungan dgn pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yg tdk ada dasar dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yg tdk disyari’atkan, shiyam yg tdk disyari’atkan, atau mengadakan hari-hari besar yg tdk disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.

[b]. Bid’ah yg bentuk menambah-nambah terhadap ibadah yg disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.

[c]. Bid’ah yg terdpt pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yg sifat tdk disyari’atkan seperti membaca dzikir-dzikir yg disyariatkan dgn cara berjama’ah dan suara yg keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

[d]. Bid’ah yg bentuk menghususkan suatu ibadah yg disari’atkan, tapi tdk dikhususkan oleh syari’at yg ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasar shiyam dan qiyamullail itu di syari’atkan, akan tetapi pengkhususan dgn pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.

HUKUM BID’AH DALAM AD-DIEN

Segala bentuk bid’ah dalam Ad-Dien hukum ialah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Arti : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yg baru, krn sesungguh mengadakan hal yg baru ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Barangsiapa mengadakan hal yg baru yg bukan dari kami maka peruntukan tertolak”.

Dan dalam riwayat lain disebutkan :

من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد

“Artinya : Barangsiapa beramal suatu amalan yg tdk didasari oleh urusan kami maka amalan tertolak”.

Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yg diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat dan tertolak.

Arti bahwa bid’ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukum haram.

Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bid’ahnya, ada diantara yg menyebabkan kafir (kekufuran), seperti thawaf mengelilingi kuburan untuk mendekatkan diri kpd ahli kubur, mempersembahkan sembelihan dan nadzar-nadzar kpd kuburan-kuburan itu, berdo’a kpd ahli kubur dan minta pertolongan kpd mereka, dan seterusnya. Begitu juga bid’ah seperti bid’ah perkataan-perkataan orang-orang yg melampui batas dari golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah. Ada juga bid’ah yg mrpk sarana menuju kesyirikan, seperti membangun bangunan di atas kubur, shalat berdo’a disisinya. Ada juga bid’ah yg mrpk fasiq secara aqidah sebagaimana hal bid’ah Khawarij, Qadariyah dan Murji’ah dalam perkataan-perkataan mereka dan keyakinan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ada juga bid’ah yg mrpk maksiat seperti bid’ah orang yg beribadah yg keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shiyam yg dgn berdiri di terik matahari, juga memotong tempat sperma dgn tujuan menghentikan syahwat jima’ (bersetubuh).

Catatan :
Orang yg membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) ialah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguh setiap bentuk bid’ah ialah sesat”.

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid’ah itu ialah sesat ; dan orang ini (yg membagi bid’ah) mengatakan tdk setiap bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah yg baik !

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitab “Syarh Arba’in” mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah ialah sesat”, mrpk (perkataan yg mencakup keseluruhan) tdk ada sesuatupun yg keluar dari kalimat tersebut dan itu mrpk dasar dari dasar Ad-Dien, yg senada dgn sabda : “Arti : Barangsiapa mengadakan hal baru yg bukan dari urusan kami, maka peruntukan ditolak”. Jadi setiap orang yg mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkan kpd Ad-Dien, padahal tdk ada dasar dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri dari ; baik pada masalah-masalah aqidah, peruntukan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin.

Dan mereka itu tdk mempunyai dalil atas apa yg mereka katakan bahwa bid’ah itu ada yg baik, kecuali perkataan sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu pada shalat Tarawih : “Sebaik-baik bid’ah ialah ini”, juga mereka berkata : “Sesungguh telah ada hal-hal baru (pada Islam ini)”, yg tdk diingkari oleh ulama salaf, seperti mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu kitab, juga penulisan hadits dan penyusunannya”.

Adapun jawaban terhadap mereka ialah : bahwa sesungguh masalah-masalah ini ada rujukan dalam syari’at, jadi bukan diada-adakan. Dan ucapan Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Sebaik-baik bid’ah ialah ini”, maksud ialah bid’ah menurut bahasa dan bukan bid’ah menurut syariat. Apa saja yg ada dalil dalam syariat sebagai rujukan jika dikatakan “itu bid’ah” maksud ialah bid’ah menurut arti bahasa bukan menurut syari’at, krn bid’ah menurut syariat itu tdk ada dasar dalam syariat sebagai rujukannya.

Dan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu kitab, ada rujukan dalam syariat krn Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qur’an, tapi penulisan masih terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf (menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya.

Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat secara berjama’ah bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhir tdk bersama mereka (sahabat) khawatir kalau dijadikan sebagai satu kewajiban dan para sahabat terus sahalat Tarawih secara berkelompok-kelompok di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup juga setelah wafat beliau sampai sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadikan mereka satu jama’ah di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini bukan mrpk bid’ah dalam Ad-Dien.

Begitu juga hal penulisan hadits itu ada rujukan dalam syariat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis sebagian hadits-hadist kpd sebagian sahabat krn ada permintaan kpd beliau dan yg dikhawatirkan pada penulisan hadits masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum ialah ditakutkan tercampur dgn penulisan Al-Qur’an. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ; sebab Al-Qur’an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tdk hilang ; semoga Allah Ta’ala memberi balasan yg baik kpd mereka semua, krn mereka telah menjaga kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tdk kehilangan dan tdk rancu akibat ulah peruntukan orang-orang yg selalu tdk bertanggung jawab. Allohu A’lam



Dikirim pada 16 Januari 2011 di Bab. Aqidah

Tanya : Assalamu ’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Bismillaah... Ustadz ada sebuah pertanyaan, Apakah seorang Muslim turunan wajib bersyahadat kembali untuk menyatakan keISLAMannya yang disaksikan oleh sekelompok Muslim lainnya??? Soalnya ada Kelompok Islam yg menyatakan bahwa Syahadah itu harus diikrarkan dan harus ada saksinya. Mohon jawabannya Ustadz... Jazakumullah khairan katsiiran. AGWM Bontang

Jawab : Wa’alaikum salam Warahm,atullohi wa Barakatuh... Adanya ikrar syahadat itu karena orang tersebut masih berada diluar dan ingin masuk, atau orang yang keluar (murtad) kemudian ingin masuk kembali. Sebab pada dasarnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Oleh karena itu tidak akan kita temukan anak-anak para shahabat yang lahir, kemudian ikrar dihadapan Nabi mengucapkan syahadat. “Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1270)

Ketika Rosululloh shollallohu ‘alaih wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda kepadanya:





(إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ أَنْ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ)



“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka jadikanlah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illa Alloh”. Hadits Riwayat Bukhari no: 4347; Muslim no: 29-30)

Oleh karena itulah, tanpa syahadatain, Islam tidak ada.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat th: 728 H) berkata: “Tiap-tiap orang kafir (wajib) diajak kepada syahadatain, baik orang kafir itu adalah seorang mu’aththil (orang yang tidak percaya adanya Alloh), atau musyrik (orang yang menyekutukan Alloh), atau Kitabi (orang Yahudi atau Nashrani). Dengan syahadatain itulah orang kafir menjadi orang Islam, dan dia tidak menjadi orang Islam kecuali dengan itu”. [Dar’ut Ta’arudh, juz: 8, hlm: 7]

Harus juga dibedakan antara ikrar syahadat dengan bai’at. Sebab ada sementara golongan yang menjadikan dalil bai’at untuk syahadat kembali. “Barang siapa yang mati dan tidak ada ikatan bai’at di pundaknya maka ia pasti mati seperti mati di jaman jahiliyah”. Imam al-Qadhy ‘Iyadh berkata bahwa yang dimaksud dengan sabda Rasulullah SAW: tersebut “adalah dengan mengkasrah mim “miitatan” yaitu seperti orang yang mati di jaman Jahiliyyah karena mereka ada dalam kesesatan dan tidak melaksanakan ketaatan kepada seorang imam pun” (Ikmaalul Mu’allim bi Fawaaidi Muslim (syarah shohih Muslim 6/258). Dan hal ini tidak ada kaitannya dengan prosesi masuk Islam yang diwajibkan mengucapkan syahadatain.Maka kami berkesimpulan bahwa hukum bersyahadat kembali dihadapan Imam karena dianggap belum masuk Islam adalah Bid’ah. Allohu A’lam

Dikirim pada 15 Januari 2011 di Bab. Aqidah



Tanya : Assalamu’alaikum... pak Ustadz bagaiman cara menghadirkan khusyu dalam shalat itu? Wassalam ... IFF Rembang





Jawab : Wa’alaikum salam ... Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: "Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat,... (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)





Maka dari hal tersebut sebagai yang mendasari terjadi kekhusyuan dalam sholat adalah kemampuan kita mengamalkan tata cara sholat yang sesuai dan dicontohkan oleh Nabi.. Karena akan salah kaprah jika orang itu mengaku khusyu’ namun ia sholat tidak sesuai tata cara sholat yang diajarkan Rasulullah. Maka khusyu’ akan terkondisikan yang timbul setelah kondisi pertama terpenuhi yaitu persyaratan tata cara sholat kita telah sesuai dengan nabi. Maka niscaya Allah akan memenuhi hati kita dengan rasa khusyu’ sesungguhnya





Menurut Hujjatul-Islam Imam al-Ghazali (Ihya Ulumi al-dien) bahwa ada beberapa hal untuk menghadirkan khusyu di dalam shalat, diantaranya :





Pertama; Hudhur al-Qlabi (حضور القلب); yaitu menghadirkan hati kita ketika shalat yaitu dengan membuang dari hati segala yang tidak ada kaitannya dengan shalat kita. Maksudnya supaya hati itu dikosongkan dari segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan amalan yang sedang dikerjakan, jangan sampai hatinya mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan ibadah shalat.




Di dalam Syarah Ihya, jilid 2 hal 115 dijelaskan, “Tiap-tiap shalat yang tak hadir hati di dalamnya, maka orang yang shalat itu lebih cepat memperoleh siksa”. “Barangsiapa tiada khusyu’ dalam shalatnya, rusaklah shalatnya”. (Syarah Ihya, 2 : 115)







Kedua, at-tafahhum (التفهم); yaitu berusaha memahami yaitu melakukan usaha untuk memahami segala hal yang dilakukan di dalam shalat baik itu yang ada kaitannya dengan gerakan shalat maupun bacaanya.



Ketiga, at-Ta’dziem (التعظيم); yaitu merasakan kebesaran Allah yaitu dengan merasakan diri tidak ada artinya di hadapan Allah.
Keempat; ar-Raja’ (الرجاء); yaitu selalu menaruh harapan besar kepada Allah.





Kelima, al-Haya (الحياء); yaitu rasa malu terhadap Allah. Alperasaan malu ini timbul karena masih adanya di dalam dirinya kurang sempurna ketika mengerjakan segala perintah Allah dan merasa masih banyak dosa-dosa dalam dirinya.



Perasaan malu akan menjadi kuat, bila sudah ada pengenalan mengenai kekurangan diri sendiri, dan merasa sedikit ikhlasnya. Kecuali itu disadari pula, Allah itu Maha Mengetahui segala rahasia dan semua yang terlintas di dalam hati, sekalipun kecil dan tidak terlihat. Pengetahuan semacam ini apabila telah diperoleh dengan seyakin-yakinnya, maka dengan sendirinya akan timbul pulalah semua hal yang dinamakan perasaan malu terhadap Allah, Rasulullah SAW bersabda : “Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu. (HR. At-Tirmizi). Allohu A’lam.

Dikirim pada 14 Januari 2011 di Bab. Sholat





Tanya : Assalamu’alaikum, ... pak Ustadz ketika shalat pandangan kita tentu ditujukan pada tempat kita sujud, itu yang saya ketahui! Akan tetapi ada yang menerangkan bahwa pada saat duduk tasyahud awal atau akhir (katanya) pandangan tertuju pada telunjuk kanan kita. Apakah hal tersebut ada dasarnya? Wassalam ... RK Pandeglang Banten



Jawab : Wa’alaikum salam, .... Benar, dalam shalat itu tidak selamanya pandangan itu tertuju pada tempat sujud, diantaranya saat kita tsyahud (baik awal atau akhir), hal tersebut berdasarkan keterangan :



واشار بأصبعه السبابة لا يجاوز بصره اشارته –ابن حبان-....



... Beliau berisyarat dengan telunjuknya dan pandangannya tidak ia lepaskan kepada isyarat itu ( tertuju pada telunjuknya). (Ibn Hibban III :201). Allohu A’lam



Dikirim pada 14 Januari 2011 di Bab. Sholat

Tanya : Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Bismillaah... "Ustadz afwan saya mau tanya. Ada seseorang yg berpendapat bahwa Faham Ormas-Ormas Islam di Indonesia banyak yg berfaham Asy’ariyah. Termasuk didalamnya PERSIS dan Muhammadiyah. Mohon dijelaskan seperti apakah Faham Asy’ariyah itu? Dan Apakah PERSIS dan Muhammadiyah termasuk berfaham Asy’ariyah atau tidak? Syukran Jazakumullah khairan katsiran..." By Ibnu.

Jawab : Waalaikum salam Warahmatullahi wa barakatuh ..Boleh dikatakan bahwa Asy`ariyah adalah sebuah paham akidah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-Asy`ariy. Nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asy’ari, seorang sahabat Rasulullah saw. Kelompok Asy’ariyah menisbahkan pada namanya sehingga dengan demikian ia menjadi pendiri madzhab Asy’ariyah.

Abul Hasan Al-Asya’ari dilahirkan pada tahun 260 H/874 M di Bashrah dan meninggal dunia di Baghdad pada tahun 324 H/936 M. Ia berguru kepada Abu Ishaq Al-Marwazi, seorang fakih madzhab Syafi’i di Masjid Al-Manshur, Baghdad. Ia belajar ilmu kalam dari Al-Jubba’i, seorang ketua Muktazilah di Bashrah.

Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan Abu Ali Al-Jubba’i, salah seorang pembesar Muktazilah. Hal itu menjadikan otaknya terasah dengan permasalahan kalam sehingga ia menguasai betul berbagai metodenya dan kelak hal itu menjadi senjata baginya untuk membantah kelompok Muktazilah.

Al-Asy’ari yang semula berpaham Muktazilah akhirnya berpindah menjadi Ahli Sunnah. Sebab yang ditunjukkan oleh sebagian sumber lama bahwa Abul Hasan telah mengalami kemelut jiwa dan akal yang berakhir dengan keputusan untuk keluar dari Muktazilah. Sumber lain menyebutkan bahwa sebabnya ialah perdebatan antara dirinya dengan Al-Jubba’i seputar masalah ash-shalah dan ashlah (kemaslahatan).

Sumber lain mengatakan bahwa sebabnya ialah pada bulan Ramadhan ia bermimpi melihat Nabi dan beliau berkata kepadanya, “Wahai Ali, tolonglah madzhab-madzhab yang mengambil riwayat dariku, karena itulah yang benar.” Kejadian ini terjadi beberapa kali, yang pertama pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, yang kedua pada sepuluh hari yang kedua, dan yang ketika pada sepuluh hari yang ketiga pada bulan Ramadhan. Dalam mengambil keputusan keluar dari Muktazilah, Al-Asy’ari menyendiri selama 15 hari. Lalu, ia keluar menemui manusia mengumumkan taubatnya. Hal itu terjadi pada tahun 300 H.

Setelah itu, Abul Hasan memposisikan dirinya sebagai pembela keyakinan-keyakinan salaf dan menjelaskan sikap-sikap mereka. Pada fase ini, karya-karyanya menunjukkan pada pendirian barunya. Dalam kitab Al-Ibanah, ia menjelaskan bahwa ia berpegang pada madzhab Ahmad bin Hambal.

Abul Hasan menjelaskan bahwa ia menolak pemikirian Muktazilah, Qadariyah, Jahmiyah, Hururiyah, Rafidhah, dan Murjiah. Dalam beragama ia berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan apa yang diriwayatkan dari para shahabat, tabi’in, serta imam ahli hadits.

Pemikiran Al-Asy’ari dalam Masalah Akidah

Ada tiga periode dalam hidupnya yang berbeda dan merupakan perkembangan ijtihadnya dalam masalah akidah.

a. Periode Pertama

Beliau hidup di bawah pengaruh Al-Jubbai, syaikh aliran Muktazilah. Bahkan sampai menjadi orang kepercayaannya. Periode ini berlangsung kira-kira selama 40-an tahun. Periode ini membuatnya sangat mengerti seluk-beluk akidah Muktazilah, hingga sampai pada titik kelemahannya dan kelebihannya.

b. Periode Kedua

Beliau berbalik pikiran yang berseberangan paham dengan paham-paham Muktazilah yang selama ini telah mewarnai pemikirannya. Hal ini terjadi setelah beliau merenung dan mengkaji ulang semua pemikiran Muktazilah selama 15 hari. Selama hari-hari itu, beliau juga beristikharah kepada Allah untuk mengevaluasi dan mengkritik balik pemikiran akidah muktazilah.

Di antara pemikirannya pada periode ini adalah beliau menetapkan 7 sifat untuk Allah lewat logika akal, yaitu:

•Al-Hayah (hidup) •Al-Ilmu (ilmu) •Al-Iradah (berkehendak) •Al-Qudrah (berketetapan) •As-Sama’(mendengar) •Al-Bashar (melihat) •Al-Kalam (berbicara)

Sedangkan sifat-sifat Allah yang bersifat khabariyah, seperti Allah punya wajah, tangan, kaki, dan seterusnya, maka beliau masih menta’wilkannya. Maksudnya beliau saat itu masih belum mengatakan bahwa Allah punya kesemuanya itu, namun beliau menafsirkannya dengan berbagai penafsiran. Logikanya, mustahil Allah yang Maha Sempurna itu punya tangan, kaki, wajah dan lainnya.

c. Periode Ketiga

Pada periode ini beliau tidak hanya menetapkan 7 sifat Allah, tetapi semua sifat Allah yang bersumber dari nash-nash yang shahih. Kesemuanya diterima dan ditetapkan, tanpa takyif, ta’thil, tabdil, tamtsil dan tahrif.

Beliau para periode ini menerima bahwa Allah itu benar-benar punya wajah, tangan, kaki, dan seterusnya. Beliau tidak melakukan:

•takyif: menanyakan bagaimana rupa wajah, tangan dan kaki Allah •ta’thil: menolak bahwa Allah punya wajah, tangan dan kaki •tamtsil: menyerupakan wajah, tangan dan kaki Allah dengan sesuatu •tahrif: menyimpangkan makna wajah, tangan dan kaki Allah dengan makna lainnya.

Pada periode ini beliau menulis kitabnya "Al-Ibanah ’an Ushulid-Diyanah." Di dalamnya beliau merinci akidah salaf dan manhajnya. Al-Asyari menulis beberapa buku, menurut satu sumber sekitar tiga ratus.

Sejarah Berdirinya Asy’ariyah

Pada masa berkembangnya ilmu kalam, kebutuhan untuk menjawab tantangan akidah dengan menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena pada waktu itu sedang terjadi penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat Barat yang materialis dan rasionalis ke dunia Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal.

Al-Asy‘ari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen Barat ketika menyerang akidah Islam. Karena itulah metode akidah yang beliau kembangkan merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli.
Munculnya kelompok Asy’ariyah ini tidak lepas dari ketidakpuasan sekaligus kritik terhadap paham Muktazilah yang berkembang pada saat itu. Kesalahan dasar Muktazilah di mata Al-Asy’ari adalah bahwa mereka begitu mempertahankan hubungan Tuhan—manusia, bahwa kekuasaan dan kehendak Tuhan dikompromikan.

Penyebaran Akidah Asy-’ariyah

Akidah ini menyebar luas pada zaman wazir Nizhamul Muluk pada dinasti bani Saljuq dan seolah menjadi akidah resmi negara. Paham Asy’ariyah semakin berkembang lagi pada masa keemasan madrasah An-Nidzamiyah, baik yang ada di Baghdad maupun dikota Naisabur. Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah universitas terbesar di dunia. Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti Al-Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Juga didukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy-Syafi’i dan mazhab Al-Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan bahwa akidah Asy-’ariyah ini adalah akidah yang paling populer dan tersebar di seluruh dunia. Seakan telah merijadi konsensus tak tertulis, bahwa setiap pengikut madzhab imam empat diberbagai belahan dunia selalu beraqidah Asy’ariyah,.Syafi’i fiqihnya, Asy’ari aqidahnya. Hanafi fiqihnya, Asy’ari aqidahnya. MaLiki fiqihnya, Asy’ari aqidahnya. Hambali fiqihnya, Asy’ari aqidahnya. TimbuL pertanyaan benarkah imam-imam tersebut beraqidah Asy’ariyah?





Sungguh sangat ironis asumsi seperti Ini. Bagaimana mungkin hat itu terjadi? Padahal Imam Ahmad bin HanbaL yarng merupakan imarn termuda di antara keempat imam tersebut dan dikagumi oleh Imam Abu Al Hasan- Al Asy’ari, tidak pernah berjumpa dengan Abu Al Hasan. Imam Ahmad lahir pada tahun 164 H dan wafat tahun 241. Adapun AbuL Hasan lahir pada tahun 260 H (bahkan ada yang mengatakan talhun 270 H) dan wafat tahun 124 M. Jadi, Imam Ahmad lebih dahulu daripada Abul Hasan. Sehingga layak dipertanyakan, bagaimana mungkin Imam Ahmad mengikutl madzhab Abu AI Hasan dan menjadi Asy’ari?











Bila Imam Ahmad yang paling muda di antara empat Imam madzhab tersebut demikian keadaannya, bagaimana pula dengan Imam Syafi’I yang Lahir pada tahun 150 H dan wafat tahun 204 H. Kapan Imam Syafi’i kenal Asy’ahyah? Begitu pula dengan Imam Malik yang Lahir tahun 93 H dan wafat tahun 179 H. Lebih ke atas Lagi Abu Hanifah, beliau lahir tahun 80 H wafat tahun 150 H.











Dengan demikian, sangat tidak mungkin para imam tersebut beraqidah Asy’ariyah. Sebuah madzhab aqidah yang muncuL secara baru, sesudah para imam tersebut wafat. Bahkan secara jelas, aqidah para iman tersebut adalah satu, yaitu aqidah AhLu Sunnah.











Imam Abul Hasan AI Asy’ari sendiri aqidahnya bukan Asy’ariyah- Sebab paham Asy’arlyah telah ditinggalkannya semenjak beliau berguru kepada para murid imam Ahmad. dan kemudian beliau kembali kepada pemahaman Ahlu Sunnah, Sayangnya banyak kaum muslimin yang hanya bertaklid pada kesesatan. padahal figur-figur yang ditaklidinya tidak demikian.











Abu Al Hasan Al Asy’ari pada akhir hayatnya mengikuti madzhab AhLu Sunnah wal Hadits. Yaitu menetapkan sifat-sifat Alloh subhanahu wa ta ’ala, yang telah Alloh subhanahu wa ta ’ala tetapkan sendiri bagi diriNya dalam Al Qur’an, atau telah ditetapkan oleh Rasululloh Shalallohu’alaihi wa salam dalam hadits-haditsnya: tanpa tahrif, tanpa ta’thil, tanpa rakyif dan tanpa tamtsil. Inilah madzhab resmi Imam Abu AL Hasan Al Asy’ari . Sebab madzhab seseorang adalah madzhab yang dinyatakannya secara tegas pada akhir hayatnya. Jadi madzhab beliau bukan Asy’ariyah. Dan Ahlu Sunnah Juga tidak identik dengan Asy’ariyah. Asy’ariyah adalah madzhab baru sedangkan Ahlu Sunnah adalah para pengikut Sunnah (ajaran) Nabi Shalallohu’alaihi wa salam . Tetapi mengapa kaum muslimin banyak yang menutup mata terhadap masalah ini? Apakah karena taklid buta. (lihat Majalah Assunnah no. 03/IX/1426H/2005M)



Bila Imam yang empat saja demikian halnya, apalagi Persis yang menyatakan diri perfaham al-Quran dan al-Sunnah. Aqidah Alhlusunnah Wal jamaah adalah bukan Asy’ariyah melainkan seluruh faham yang mengikuti petunjuk dan dasar dari al-Quran dan al-Sunnah. Sepengetahuan ana Persis bukan (bermazhab) Asy’ari, mazhab (rujukan/tempat kembali pelaksanaan syariat) bagi Persis adalah Al-Quran dan Al-Sunnah. Allohu A’lam.

Dikirim pada 23 Desember 2010 di Bab. Do’a
21 Des



Tanya : Assalamualaikum wwb ... Apakah status hukum tatto dalam islam? Seingat saya hadist yang mengharamkan tatto kalo tidak salah hanya di tujukan kepada wanita? Bagaimana hukumnya untuk laki2? wassalam jazzakullah khair . Umar Sesko Adriansyah





Jawab : Wa’alaikum salam wr.wb. ..Membuat tato pada kulit adalah perbuatan yang diharamkan Allah swt, sebagaimana disebutkan didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Alqomah bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ”Allah melaknat orang-orang yang mentato dan yang minta untuk ditato.” (HR. Bukhori)

Hal itu dikarenakan bahwa tato termasuk perbuatan yang merubah ciptaan Allah swt serta menjadikan ditempat tato itu najis dengan membekunya darah dikarenakan warna bahan tato itu (QS.an-Nisa ayat 118-119). Seorang tabi’in yaitu Hasan Bashri berpendapat bahwa makna mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah salah satunya dengan mentato. (Lihat Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, 4/285, Tafsir Ibnu Katsir, 1/569)

Dalam hadits Nabi saw bersabda :

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ تَعَالَى، مَالِي لاَ أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي كِتَابِ اللهِ: وَمَا آتَاكُمْ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ




Dari Abdullah (bin Mas’ud) radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknati perempuan-perempuan yang mentato dan yang minta ditato, yang mencabut/mencukur rambut (alis), dan yang mengikir giginya untuk memperindah. Perempuan-perempuan yang mengubah ciptaan Allah swt. Abdullah ra (berkata): Mengapa aku tidak melaknati orang yang dilaknati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara hal itu juga ada dalam Kitabullah: ‘Dan apa yang Rasul bawa untuk kalian maka terimalah.’ (Al-Hasyr: 7).” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5931. Lihat takhrij-nya dalam kitab Adabuz Zifaf hal. 203 dan Ash-Shahihah no. 2792 karya Al-Albani rahimahullahu)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَعَنَ اللهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ



Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknati wanita yang menyambung rambutnya, dan yang meminta untuk disambungkan, wanita yang mentato dan meminta ditatokan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5933 dan dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma no. 5937).

Wahbah mengatakan bahwa apabila tato itu bisa dihilangkan dengan pengobatan maka hal itu wajib dilakukan namun apabila tidak memungkinkan kecuali dengan melukainya maka apabila hal itu tidak membawa bahaya yang berat atau cacat yang mengerikan pada anggota tubuh yang terlihat, seperti wajah, kedua telapak tangan maka menghilangkannya tidaklah wajib dan wajib baginya untuk bertaubat akan tetapi apabila melukai (untuk menghilangkannya) tidak membahayakan maka dia harus menghilangkannya. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz IV hal 2683).

Jadi hukum bertato dan yang membuatnya adalah haram, baik laki-laki terlebih perempuan!! Allohu A’lam.

Dikirim pada 21 Desember 2010 di Bab. Akhlaq

Tanya : Bismillahirrahmanirrahiem .... Assalamu’alaikum pak Ustadz! Saya hanya mau bertanya tentang memakai cincin bagi laki-laki. Apakah hal itu dibenarkan? Wassalam. IKL Purwokerto

Jawab : Wa’alaikum salam .... Pada dasarnya memakai cincin bagi laki-laki itu mubah (boleh), selama cincin itu bukan terbuat dari emas. Rasulullah saw sendiri memakai cincin yang terbuat dari perak dan ada ukiran (tulisan) Muhammad Rasulullah. Anas bin Malik ra meriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi saw pernah bersabda :

“Sesungguhnya aku memakai cincin dari perak dan aku lukis di atasnya, “Muhammad Rosululloh”. Maka janganlah seseorang mengukir seperti ukirannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam keterangan lain dijelaskan :

Rasulullah saw melihat seorang laki-laki memakai cincin dari emas, maka Rasulullah melepaskan (cincin itu) dan membuangnya. Kemudian beliau bersabda : "Seorang diantara kamu sengaja mengambil bara api neraka dan meletakkannya ditangannya". Setelah Rasulullah pergi, seorang shahabat menyuruh lekai-laki itu mengambil cincin yang dibuang Rasulullah itu supaya bisa dimanfaatkan. Tetapi laki-laki itu menjawab : Aku tidak akan mengambil cincin itu selamanya karena itu sudah diharamkan oleh Rasulullah saw". ( al-fiqh al-Manhaji III/94-95)

Dalam riwayat Tirmidy dari Abi Musa al-Asy’ari ra. bahwa Rosululloh bersabda, “Diharamkan pakaian sutera dan emas kepada kaum lelaki dari umatku dan dihalalkan bagi kaum wanita.” Allohu A’lam

Dikirim pada 21 Desember 2010 di Bab. Akhlaq
20 Des

Tanya : Assalamu’alaikum ... begini ustadz ada seseorang (pria) yang menyatakan cinta kepada saya. Memang pria tersebut sudah lama saya kenal, tapi baru sekarang ia menyatakan hal itu. Yang jadi pertanyaan apakah hal tersebut tidak melanggar syariat? Sebenarnya pacaran itu dibenarkan tidak? Wassalam .. GF Kendari

Jawab : Wa’alaikum salam ...Pacaran dapat diartikan bermacam-macam, tetapi intinya adalah jalinan cinta antara seorang remaja dengan lawan jenisnya. Praktik pacaran juga bermacam-macam, ada yang sekedar berkirim surat, telepon, menjemput, mengantar atau menemani pergi ke suatu tempat, apel, sampai ada yang layaknya pasangan suami istri.
Di kalangan remaja sekarang ini, pacaran menjadi identitas yang sangat dibanggakan. Biasanya seorang remaja akan bangga dan percaya diri jika sudah memiliki pacar. Sebaliknya remaja yang belum memiliki pacar dianggap kurang gaul. Karena itu, mencari pacar di kalangan remaja tidak saja menjadi kebutuhan biologis tetapi juga menjadi kebutuhan sosiologis. Maka tidak heran, kalau sekarang mayoritas remaja sudah memiliki teman spesial yang disebut "pacar".
Istilah pacaran sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Untuk istilah hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan pranikah, Islam mengenalkan istilah khitbah (meminang). Ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya dengan maksud akan menikahinya pada waktu dekat. Selama masa khitbah, keduanya harus menjaga agar jangan sampai melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Islam, seperti berduaan, memperbincangkan aurat, menyentuh, mencium, memandang dengan nafsu, dan melakukan selayaknya suami istri. Ada perbedaan yang mencolok antara pacaran dengan khitbah. Pacaran tidak berkaitan dengan perencanaan pernikahan, sedangkan khitbah merupakan tahapan untuk menuju pernikahan. Persamaan keduanya merupakan hubungan percintaan antara dua insan berlainan jenis yang tidak dalam ikatan perkawinan.
Dari sisi persamaannya, sebenarnya hampir tidak ada perbedaan antara pacaran dan khitbah. Keduanya akan terkait dengan bagaimana orang mempraktikkannya. Jika selama masa khitbah, pergaulan antara laki-laki dan perempuan melanggar batas-batas yang telah ditentukan Islam, maka itu pun haram. Demikian juga pacaran, jika orang dalam berpacarannya melakukan hal-hal yang dilarang oleh Islam, maka hal itu haram.
Menyatakan cinta sebagai kejujuran hati tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karena tidak ada satu pun ayat atau hadis yang secara eksplisit atau implisit melarangnya. Hanya saja pernyataan cinta sebelum Nikah lebih didasari syahwat. Oleh karenanya Islam memberikan batasan-batasan antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri.
Diantara batasan itu : Pertama,tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kepada perbuatan yang dilarang agama (zina). "Dan janganlah kamu mendekati zina: sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32). Kedua, tidak menyentuh perempuan yang bukan mahramnya .Rasulullah SAW bersabda, "Lebih baik memegang besi yang panas daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau ia tahu akan berat siksaannya). Ketiga,tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Dilarang laki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk berdua-duan. Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak mahramnya, karena ketiganya adalah setan." (HR. Ahmad). Keempat, harus menjaga mata atau pandangan (QS.An-Nuur 30-31). Dan kelima, menutup aurat.. Allohu a’lam


Dikirim pada 20 Desember 2010 di Bab. Nikah



J. Sekte-Sekte Syiah

Menurut Al-Hasan bi Musa An-Nubakhti, salah seorang tokoh ulama Syiah yang hidup pada abad ke 3 H dalam kitabnya Firaq Asy-Syiah dijelaskan bahwa telah terjadi perbedaan dan perselisihan dikalangan Syiah sejak awal sejarah mereka, terutama dalam menentukan siapakah yang berhak menjadi Imam, sekalipun dalam klaim mereka Imamah adalah pokok keimanan mereka dan telah ditetapkan berdasar nash.

Menurut An-Nubakhti perselisihan itu antara lain :

A) Setelah wafatnya Rasulullah saw, Syiah terpecah menjadi 3 kelompok :

Kelompok yang meyakini bahwa Ali adalah Imam yang harus ditaati dan bukan yang lainnya berdasarkan nash dari Nabi saw, beliau ma’shum, terjaga dari segala bentuk kesalahan, yang berwilayah dengannya akan selamat, dan yang memusuhinya adalah kafir dan sesat. Imamah ini terus diwarisi oleh keturunannya, sebagian kelompok ini disebut Al-Jarudiyah.
Kelompok yang meyakini bahwa Ali memang paling berhak sesudah Rasulullah saw, karena keutamaannya, sekalipun demikian mereka membenarkan imamah khlaifah Abu Bakar dan Umar dikarenakan keridhaan serta bai’at Ali terhadap keduanya secara sadar tanpa paksaan. Inilah kelompok Al-Batriyah.
Kelompok ini sama dengan kedua, hanya saja mereka berpendapat bahwa mentaati imam yang sudah ditetapkan itu hukumnya wajib, maka siapapun yang tidak mentaatinya dia kafir dan sesat.
Pada masa ini, An-Nubakhti juga menyebutkan munculnya kelompok Khawarij dari kalangan Syiah Ali, mereka kemudian mengkafirkan Ali bin Abi Thalib karena melakukan Tahkim.

B) Setelah Ali wafat, Syiah terpecah menjadi 3 kelompok :

Kelompok yang berpendapat Ali tidak mati terbunuh, dan tidak akan mati sehingga ia berhasil memenuhi bumi dengan keadilan. Inilah kelompok Ghuluw (ekstrem) pertama. Kelompok ini disebut Syiah Sabaiyyah pimpinan Abdullah bin Saba.
Kelompok yang berpendapat bahwa Ali memang wafat dan imam sesudahnya adalah putranya, Muhammad Al-Hanafiyah, sebab dia (bukan Hasan atau Husein) yang dipercaya membawa panji ayahnya Ali dalam peperangan di Basrah. Kelompok ini disebut Al-Kaisaniyyah. Mereka mengkafirkan siapapun yang melangkahi Ali dalam Imamah, juga mengkafirkan Ahlus-Shiffin, Ahlul-Jamal. Tokoh kelompok ini Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi, ia mengaku bahwa Jibril pernah menurunkan wahyu kepadanya.
Kelompok ketiga berkeyakinan bahwa Ali memang wafat, dan imam sesudahnya adalah puteranya, Al-Hasan. Ketika kemudian Al-Hasan menyerahkan khilafah kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, mereka memindahkan imamah kepada Al-Husein. Sebagian mereka mencela Al-Hasan, bahkan Al-Jarrah bin Sinan al-Anshari pernah menuduhnya sebagai musyrik dan membacok pahanya dengan pedang. Tetapi sebagian Syiah berpendapat bahwa sesudah wafat Al-Hasan, yang berhak jadi imam adalah Al-Hasan bin Al-Hasan yang bergelar Ar-Ridha.
C) Sesudah syahidnya Al-Husein ra dalam peristiwa Karbala, dimana beliau diundang oleh penduduk Kufah yang mengaku diri sebagai Syiahnya dan mereka mengaku mempunyai belasan ribu orang yang siap membela Husein. Tapi ternyata ketika Husein dikepung oleh pasukan Ubaidillah bi Ziyad di Karbala tak satupun orang yang tadinya mengundang beliau tampil membelanya, tapi justru cuci tangan, sehingga menyebabkan syahidnya Imam Husein. Seperti dikisahkan sejarawan Syiah, al-Mas’udi, Husein sebelum syahid bahkan sempat berdo’a : Ya Allah turunkanlah keputusan-Mu atas kami dan atas orang-orang yang telah mengundang kami, dengan dalih mereka akan mendukung kami, tapi kini ternyata mereka membunuhi kami. (Tarikh al-Mas’udi 2 : 71). Adapun yang ikut syahid bersama Al-Husein dalam peristiwa ini : Putera-putera Ali bin Abi Thalib yang bernama Abu Bakar, Utsman dan Abbas; Putera Al-Hasan bin Ali yakni Abu Bakar; dan putera Al-Husein bin Ali yakni Ali Al-Akbar bin Husein. Sehingga ketika jenazah Husein beserta keluarganya yang masih hidup dibawa ke Kufah dan ditangisi oleh penduduk Kufah, Ali Al-Asghar bin Husein Zainal Abidin berkomentar : Mereka menangisi kami, padahal mereka sendiri yang telah membunuhi kami. (Tarikh al-Ya’qubi 2 : 245; Al-Ihtijaj 2 : 291)

Pada periode sesudah wafatnya Al-Husein, Syiah terpecah lagi emnjadi beberapa golongan :

1. Kelompok-kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Husein, imamah berlanjut ke putera Ali yang lain, yaitu Muhammad Al-Hanafiyah. Mereka-pun terpecah, ada yang berkeyakinan bahwa Muhammad Al-Hanafiyah yang disebut oleh mereka sebagai Al-Mahdi tidak pernah meninggal. Sebagian menyatakan meninggal dan pelanjutnya adalah puteranya Abu Hasyim, kelompok ini disebut Al-Hasyimiyah. Setelah itu mereka pecah lagi, ada yang berkeyakinan bahwa Abu Hasyim berwasiat kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib untuk menjadi imam. Kelompok ini disebut Syiah Ar-Rawandiyah.

2. Kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Husein, Imamah dilanjutkan oleh puteranya yang masih hidup, Ali al-Ashgar Zainal Abidin, dari ibunya bernama Jihansyah, puteri kaisar Persia Yazdajird bin Syahriyar.

3. Kelompok yang meyakini bahwa setelah syahidnya Husein, Imamah telah selesai/terputus. Sebab menurut mereka yang disebut namanya oleh Rasulullah saw sebagai Ahlul-Bait beliau hanyalah tiga orang saja, yaitu Ali, Hasan dan Husein.

4. Kelompok yang berkeyakinan bahwa sesudah wafatnya Husein, Imamah hanya bisa dilanjutkan oleh keturunan Hasan dan Husein. Siapapun diantara mereka yang mengklaim sebagai imam, maka mereka adalah imam yang wajib ditaati. Barangsiapa yang lalai melakukannya, maka ia kafir. Kelompok ini disebut As-Sarhubiyah.

D) Sesudah wafatnya Ali Zainal Abidin, muncul kelompok Syiah antara lain :

1. Az-Zaidiyah, pengikut Zaid bin Ali bin Husein yang meyakini bahwa sekalipun Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Abu Bakar dan Umar, tetapi khilafah keduanya sah. Mereka juga berkeyakinan bahwa imamah dapat diraih oleh siapapun dari keturunan Nabi Muhammad saw apabila mereka memenuhi persyaratan dan bisa memperjuangkannya. Sepeninggal Zaid, kelompok ini dipimpin oleh putera-puteranya : Yahya dan Isa.

2. Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ali Zainal Abidin adalah puteranya, Muhammad Al-Baqir.

E) Sesudah wafatnya Muhammad Al-Baqir, Syiah pecah lagi menjadi 3 kelompok:

1. Kelompok yang mengakui imamahnya Muhammad bin Al-Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib sebagai Al-Qaim dan Al-Mahdi.

2. Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah wafatnya Muhammmad Al-Baqir adalah puteranya Ja’far Ash-Shadiq.

3. Al-Mughiriyah, pengikut Al-Mughirah bin Said. Yang mengklaim mendapat wasiat dari Imam Al-Baqir untuk jadi imam sampai munculnya Al-Qaim.

F) Sesudah wafatnya Ja’far Ash-Shadiq, Syiah pecah lagi menjadi 6 kelompok :

1. Kelompok yang meyakini Imam Ja’far sebagai Al-Mahdi, disebut An-Nawusiyah.

2. Kelomp[ok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya yang bernama Ismail. Mereka juga meyakini Ismail tidak mati sehingga berhasil memimpin umat, dialah sang Al-Qaim. Kelompok ini disebut Ismailiyah.

3. Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ja’far adalah Muhammad bin Ismail bin Ja’far, cucu Ja’far. Menurut mereka wafatnya Ismail pada masa hidup sang ayah , Ja’far, menunjukkan bahwa imam sesudah Ja’far adalah putera Islamil, Muhammad. Menurut mereka sesudah periode Hasan dan Husein, imamah tidak lagi berputar dari kakak ke adik, tapi dari ayah ke anak. Karenanya imamah sesudah Ja’far tidak berpindah dari Ismail kepada saudaranya Abdullah dan Musa, melainkan kepada putera Ismail yakni Muhammad. Kelompok ini disebut Al-Mubarakiyah. Termasuk dalam al-Ismailiyah, pengikut Abil Khattab yang popular disebut Al-Khattabiyah atau As-Sab’iyah karena meyakini bahwa jumlah imam hanya tujuh saja. Kelompok ini dikenal juga dengan sebutan Al-Qaramithah.

4. Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya Muhammad bin Ja’far, kemudian anak keturunannya. Kelompok ini disebut As-Sumaithiyah dipimpin oleh Yahya bin Abi as-Sumaith.

5. Kelompok yang meyakni bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya yang bernama Abdullah al-Afthah. Mereka berhujah dengan hadits yang disampaikan Ja’far bahwa imamah itu adanya pada anak tertua imam. Abdullah adalah putera tertua Ja’far dan telah memproklamirkan diri sebagai imam. Kelompok ini disebut Al-Afthiyah.

6. Kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Ja’far dan putera tertuanya yang lain Musa al-Kazhim, dan kemudian kepada nak keturunannya.

G) Sesudah wafatnya Musa Al-Kazhim, Syiah terpecah lagi dalam beberapa kelompok, diantaranya yang meyakini bahwa imamah sesudah Musa Al-Kazhim adalah puteranya Ali Ar-Ridha. Mereka juga meyakini bahwa imamah berhenti sampai sini. Kelompok ini disebut Al-Wakifah.

H) Sesudah wafatnya Ali Ar-Ridha, Syiah terpecah lagi dalam berbagai kelompok, diantaranya adalah yang meyakini bahwa sesudah Ali Ar-Ridha imamah berpindah ke puteranya, Muhammad bin Ali, yang baru berusia 7 tahun, sehingga menimbulkan perpecahan diantara pengikutnya. Setelah wafat Muhammad bin Ali, imamah dilanjutkan oleh Al-Hasan bin Ali Al-Askari.

I) Sesudah wafatnya Al-Hasan bin Ali Al-Askari, Syiah terpecah-pecah lagi menjadi 14 kelompok. Diantaranya ada yang berpendapat bahwa Al-Hasan tidak wafat, sebab ia tidak boleh mati, karena ia belum punya anak yang tampil sebagai pengganti, bumi ini tidak boleh kosong dari imamah. Beliaulah Al-Qaim, beliau kini sedang ghaib. Ada juga yang berkeyakinan bahwa Al-Hasan memang wafat, tapi ia mempunyai satu-satunya putera bernama Muhammad yang ketika ayahnya wafat ia berusia 5 tahun. Ia disembunyikan oleh ayahnya karena ia takut akan Ja’far saudara Hasan, juga terhadap musuh-musuhnya. Dialah Al-Qaim dan Mahdi Al-Muntazar. Namun terjadi padanya Al-Ghaibah Sugra dan Al-Ghaibah Kubra. Inilah keyakinan Syiah Itsna "Asyariyah.

Ulama Ahlus Sunnah Fakhruddin Ar-Razi dalam kitabnya Al-Muhashal hal 575 setelah memp[erhatikan fakta diatas berkomentar : "Ketahuilah bahwa adanya perbedaan sangat besar seperti itu, adalah merupakan satu bukti konkrit tentang tidak adanya wasiat teks penunjukan yang jelas dan berjumlah banyak (Nash jaliy mutawatir) tentang imam yang dua belas seperti yang mereka klaim itu".

Dr.Musa Al-Musawi salah seorang tokoh Syiah dalam bukunya Asy-Syiah wat Tashih, Ash-Shira Baina As-Syiah wat-Tasyayu’ menyebutkan bahwa sekalipun Imam Ali meyakini keutamaannya, beliau justru menegaskan keabsahan bai’at yang beliau beriokan terhadap para khalifah (Abu Bakar, Umar dan Utsman) serta pujian beliau terhadap mereka sebagaimana dilakukan umat Islam lainnya. Menurut Al-Musawi Imam Ali bahkan berpendapat tidak adanya teks penunjukan atas dirinya yang dating dari langit. Shahabat-shabat yang hidup semasa dengannya-pun berkeyakinan serupa. Mereka juga berkeyakinan tidak ada yang "mencuri" khilafah dari dirinya. Itu antara lain terbukti dari ungkapan imam Ali yang termaktub dalam Nahjul Balaghah yang menegaskan ungkapan Ali : "Sesungguhnya saya telah dibai’at oleh kelompok yang dahulu membai’at Abu Bakar, Umar, Utsman dengan materi bai’at yang sama pula, sesungguhnya syura itu ada pada al-Muhajirin dan al-Anshar. Apabila mereka bersepakat terhadap seseorang yang kemudian mereka angkat sebagai imam, mka yang demikian itukah yang diridhai Allah. Apabila sesudah itu ada yang tidak puas dengan memunculkan fitnah atau bid’ah, mereka mengajak kepada prinsip awal, tapi bila ia enggan maka mereka akan memeranginya, karena ia telah mengikuti jalan yang bukan jalannya kaum beriman".

K. Syi’ah Itsna ’Asyariyah (Rafidhah)

Dari sekian banyak sekte dalam Syiah, sekte inilah yang paling luas pengaruhnya dan paling banyak pengikutnya. Mayoritas mereka tinggal di Iran dan Irak. Sekte ini muncul pada abad ke-3 H, akan tetapi ada juga yang menyatakan bahwa sekte ini baru muncul sesudah wafatnya imam ke-11 Hasan al-Askari dan ghaibnya imam yang ke-12 Muhammad Al-Mahdi Al-Muntazar tahun 260 H. Sekte ini membatasi imamah itu hanya 12 orang :

Ali bin Abi Thalib Al-Murtadha - *) Muhammad al-Hanafiyah
Hasan bin Ali bin Abi Thalib Al-Mujataba - *)Al-Hasan bin Hasan bin Ali *)Abdullah *)Muhammad An-Nafzu Zakiyah
Husein bin Ali bin Abi Thalib Asy-Syahid
Ali bin Husein Zainal Abidin As-Sajad - *Zaid bin Ali
Muhammad bin Ali al-Baqir
Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq - *)Ismail bin Ja’far *)Abdullah bin Al-Afthah *)Ishaq *)Muhammad
Musa bin Ja’far al-Khadim
Ali bin Musa Ar-Ridha
Muhammad bin Ali Al- at-Taqi
Ali bin Muhammad al-Hadi - *)Ja’far *)Muhammad
Al-Hasan Al-Askari
Muhammad bin Hasan Al-Mahdi (?)
Dalam sekte ini masalah imamah menjadi pokok agama, sehingga dimasukkan ke dalam salah satu rukun iman mereka. Rukun imam mereka ada lima seperti dijelaskan oleh Muhammad Husein Ali Kasyiful Ghitha dalam bukunya Ahlusy-Syiah wa Ushuluha, yakni :

At-Tauhid
Al-"Adlu
An-Nubuwwah
Al-Imamah
Al-Ma’ad
Masalah imamah juga merupakan pokok terpenting dalam rukun Islam mereka. Al-Kulaini dalam kitab Al-Kafi fil Ushul 2 : 18 meriwayatkan dari Zurarah dari Abu Ja’far as berkata : Islam dibangun diatas lima perkara : Shalat, Zakat, Haji, Shaum dan al-Wilayah (Imamah). Zurarah bertanya : Mana yang paling utama? Beliau menjawab : Al-Wilayah-lah yang paling utama.

Seseorang yang tidak meyakini imamah sebagaimana keyakinan Syiah Rafidhah, dia kafir dia sesat. Didalam Al-Amali hal 586 disebutkan bahwa Ibnu Abbas ra (?) berkata : Siapa yang mengingkari kepemimpinan A;li setelahku maka dia seperti orang yang mengingkari kenabian semasa hidupku. Dan barang siapa yang mengingkari kenabianku maka dia seperti orang yang mengingkari ketuhanan Allah azza wa Jalla.

Menurut Rafidhah, imam itu lebih tinggi kedudukannya dari para Nabi dan Malaikat, mereka juga ma’shum. Al-Khomeini dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyah hal 52 berkata : Bahwasannya kedudukan Imam itu tidak bisa dicapai malaikat yang dekat dengan Allah, dan tidak bisa dicapai oleh para Nabi dan Rasul.

Dalam kitab Mizanul Hikmah 1 : 174, Muhammad Ar-Rayyi Asy-Syahri menyebutkan : Telah diketahui bahwa dia (Imam) adalah seorang yang ma’shum dari seluruh dosa, baik dosa kecil maupun besar, tidak tergelincir didalam berfatwa, tidak salah dalam menjawab, tidak lalai dan tidak lupa serta tidak lengah dengan satu perkara didunia.

Para Imam juga diyakini mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Al-Majlisi dalam kitabnya Bihar al-Anwar 26 : 109 menulis sebuah Bab bahwa para imam itu tidak terhalangi untuk mengetahui perkara ghaib dilangit dan di bumi, di surga dan di neraka. Seluruh perbendaharaan langit dan bumi diperlihatkan kepada mereka. Mereka juga mengetahui apa yang sudah terjadi dan yang belum terjadi. Padahal dalam QS.An-Naml : ^5 ditegaskan : Katakanlah, tidak ada seorangpun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah.

Tentang imam kedua belas, Sayid Husain Al-Musawi (2006 : 133-142) menjelaskan : Al-Akh Fadhil Sayid Ahmad al-Katib telah menulis tema ini dan dia menjelaskan tentang Imam yang ke-12 yang tidak ada hakikatnya, tidak ada eksistensi dan wujud orangnya. Al-Akh tersebut telah menyajikan pembahasan yang memuaskan dalam tema ini, tapi saya berkata : Bagaimana ia dinyatakan ada, sedang kitab-kitab kami yang muktabar menyatakan bahwa Hasan al-Askari (Imam ke-11) meninggal dan tidak memiliki seorang anak laki-laki pun. Mereka menyelidiki para istri dan budak perempuannya ketika beliau wafat, namun mereka tidak mendapatkan seorangpun dari mereka yang hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Lihatlah tentang ini kitab Al-Ghaibat, karangan Ath-thusi hal 74, Al-Irsyad lil-Mufid hal 354, A’lam al-Wari karangan Fadhal at-Thibrisi hal 380, Al-Maqalat wa-al-Firaq karangan Al-Asyary al-Qummi hal 102. Al-Akh Sayid Ahmad al-Katib telah meneliti masalah para wakil Imam ke-12, maka dia menetapkan bahwa mereka itu dari kelompok dajjal yang mengaku sebagai wakil imam dalam rangka mengeruk harta manusia atas nama khumus, mendapa