0


Tanya : Assalamu’alaikum … ustadz Abu, bagaimana pendapat ustadz mengenai waritsan untuk anak hasil dari perzinahan, maksud saya apakah dia akan mendapatkan dari yang melahirkan (ibu) dan dari laki-laki yang menzinahi ibunya? Wassalam RKI
Jawab : Wa’alaikumussalam … ada beberapa sebab seseorang itu mendapat bagian warits, diantaranya : Pertama, disebabkan adanya pernikahan. Seperti istri akan mendapatkan warits dari suami, atau sebaliknya. Hal ini dikarenakan ada hubungan pernikahan yang sah. Tetapi jika pernikahannya tidak sah secara syar’I (Islam), atau kedua orang tuanya bukan Muslim dan melahirkan anak, maka anak tersebut dinasabkan hanya kepada ibunya saja. Hubungan nasab (darah) dengan ayahnya terputus. Dan anak itu hanya dinisbatkan kepada ibunya, atau anak tersebut hanya mendapat bagian dari ibunya. Oleh karena itu sebab mendapat warits yang Kedua adanya hubungan nasab (keturunan), seprti anak dari ayah atau ibu, atau sebaliknya.
Hemat kami anak hasil dari perzinahan atau perselingkuhan hanya dapat waritsan dari yang melahirkan (ibu). Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Juni 2013 di Bab. Mawarits


Tanya : Bismillah … pak ustadz punten (maaf) saya mau bertanya mengenai wasiat. Begini ustadz, saya merupakan tiga saudara, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Saudara saya yang perempuan sudah lama meninggal dua bulan setelah ayah kami meninggal. Dan saudara perempuan itu mempunyai dua orang anak. Kurang lebih dua minggu yang lalu ibu kami meninggal. Pada saat mau dibagikan waritsan peninggalan ibu, saya dan kakak bersepakat untuk memberikan sebagian waritsan (yang tentu merupakan bagian kami berdua) kepada kedua anak saudara perempuan kami kurang lebih 2/4 dari waritsan itu karena untuk mereka berdua. Artinya kami dan keponakan sama-sama menerima 1/4 dari waritsan ibu. Apakah hal tersebut menyalahi wasiat? DG

Jawab : Bapak DG, perlu dipahami bahwa wasiat itu bukan kesepakatan dan bukan datang dari ahli warits. Wasiat merupakan amanat yang disampaikan dari yang akan meninggal bertalian dengan harta yang akan ditinggalkannya.
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. 2:180)
Artinya wasiat itu (kalau dalam peristiwa bapak) adalah yang disampaikan atau ditulis oleh ibu sebelum meninggal. Jadi, kesepakatan bapak berdua bukan wasiat dan juga tidak menyalahi wasiat. Bahkan jika bapak berdua bersepakat mau memberikan semua harta untuk kedua anak saudara perempuan tersebut, hal itu tidak menyalahi aturan hukum warits. Allohu A’lam

Dikirim pada 28 Maret 2013 di Bab. Mawarits


Tanya : Assalamu’alaikum, mau nanya mengenai warits : 1. (Misal) rumah waritsan sedang dijual, tetapi sebelum terjual salah satu ahli warits meninggal. Apakah anak-anaknya dari yang meninggal itu mendapat bagian? 2. Sebelum bapaknya meninggal terlebih dahulu anaknya meninggal, apakah setelah bapak (kakeknya) meninggal anak2 (cucu) dari yang meninggal itu mendapat bagian? Dan bagaimana dengan istri (mantu) dari bapak itu dapat bagian? YH Tasikmalaya
Jawab : Wa’alaikumussalam … Yang mendapat bagian waritsan adalah ahli warits pada waktu ditinggal mati ia masih ada (hidup). Jadi untuk no 1 (satu), maka tetap ahli warits yang meninggal mendapat bagian dari rumah yang dijual itu. Yang tentu menjadi waritsannya buat anak dan istri/suaminya. Jadi anak-anaknya itu bukan mendapat warits dari rumah yang terjual, namun mendapat warits dari bagian orang tuanya yang sebelum terjual sudah meninggal. Disinilah perlunya disegerakan pembagian harta pusaka (waritsan), supaya yang berhak dapat bagiannya.
Untuk nomor 2 (dua) Jika anak meninggal lebih dahulu, justru bapak diantara ahli warits itu dari anaknya yang meninggal dan bukan sebaliknya. Mengenai jika bapak meninggal apakah cucu dapet bagian? Tentu saja harus dilihat apakah cucu tersebut merupakan bagian dari ahli warits atau bukan. Sebab jika cucu itu dari anak perempuan, maka hal tersebut bukan termasuk ahli warits. Tetapi jika cucu itu dari anak laki-laki, maka ini termasuk ahli warits. Hal ini-pun tidak otomatis mendapat bagian, tergantung apakah ada golongan yang menghalanginya. Dan salah satu yang menghalangi cucu mendapat warits adalah anak laki-laki dari yang meninggal itu. Maka cucu terhalang dan tidak mendapat bagian. Kecuali diberi oleh ahli warits atau adanya wasiat dari yang meninggal. Mengenai mantu, tentu saja bukan ahli warits dari mertua. Allahu A’lam

Dikirim pada 25 Februari 2012 di Bab. Mawarits


Tanya : Aslm. Afwan konsultasi waris. Ada seorang suami menikah lagi setelah istri pertama meninggal tanpa anak. jika suami kelak wafat, apakah istri pertama masih mendapatkan bagian harta dari suaminya yang akan dibagikan ke saudara istrinya (ipar)? Haeruddin
Jawab : Wa`alaikumussalam. Yang disebut ahli warits adalah mereka yang masih ada (hidup) dan ditinggal mati oleh seseorang, baik oleh suami, istri, anak, ayah, ibu dll. Jika suami meninggal, maka salah satu ahli waritsnya adalah istrinya, begitupun sebaliknya. Dalam kasus pertama diatas justru salah satu ahli warits adalah suami dari peninggalan istri (pertama) yang meninggal. Kemudian jika suami itu meninggal, maka istri yang ada (kedua) menjadi salah satu dari ahli waritsnya. Dan saudara dari istri pertama (adik atau kakak ipar) bukanlah ahli waritsnya. Adik atau kakak ipar bukanlah ahli warits dari yang meninggal. Allohu A`lam

Dikirim pada 11 November 2011 di Bab. Mawarits
Awal « 1 2 3 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.925.640 kali


connect with ABATASA