0


Tanya : Assalamu`alaikum ... Mas Abu Alifa, ada yang menerangkan (seorang Kyai) bahwa seluruh hamba Allah nanti diakhirat akan melihat Allah dengan jelas. Benarkah? Wassalam MG
Jawab : Wa`alaikumussalam ... tentu "hamba Allah" yang dimaksud "Kyai" adalah orang-orang yang beriman (ahli surga). Hal ini berdasarkan salah satu firman Allah swt .
كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin:15).
Sedangkan bagi orang-orang yang beriman (ahli surga), maka mereka akan bertemu sekaligus melihat langsung sang pencipta (Allah swt). Hal ini berdasarkan firman Allah swt. :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Wajah-wajah (ahli surga) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23)
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. (QS. Yunus: 26)
Para ahli tafsir maupun ahli hadist semisal Ibnu Katsir, At-Thabary, Ar-Razi, Ath-Thahawi, Ash-Shabuny, Imam Syafi`i, Ibnu Huzaimah, Imam Ahmad dan lain-lain, baik saat ahli tafsir "mengupas` surat Yunus 26 mengenai lafadz "tambahannya", bahwa yang dimaksud dengan tambahan disurga itu adalah melihat Allah swt. Sedangkan tidak demikian dengan orang-orang kafir.
Begitu juga dalam beberapa hadits dijelaskan mengenai posisi orang-orang yang beriman bahwa mereka disamping akan dimasukkan ke dalam surganya Allah swt., mereka juga akan langsung melihat Allah swt.
Ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kamu yang (bisa) melihat Rabb-nya (Allah) Ta’ala sampai dia mati (di akhirat nanti).” (HSR. Muslim no. 169)
Dari Jarir ra beliau berkata: Kami sedang duduk-duduk bersama Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, lantas beliau memandang bulan purnama dan bersabda : “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, tidak terhalangi dalam melihatnya.” (Shahih Bukhari no. 7434, Kitab Tauhid, Bab Qauluhu wujuuhu yaumaidzin naadhirah ilaa rabbihaa naazhirah)
Dari Shuhaib bin Sinan ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca QS. Yunus ayat 26. ( Shahih Muslim no. 181). Allohu A`lam

Dikirim pada 23 Maret 2015 di Bab. Aqidah


Tanya : Assalamu`alaikum … pak ustadz Abu yang saya hormati. Didaerah tempat saya tinggal, ada kebiasaan atau tradisi menguburkan ari-ari (plasenta) bayi yang baru lahir didepan rumah dan memberikan lampu (penerangan) dimalam harinya dengan lentera atau lilin sampai beberapa hari. Hal itu mereka yakini (terutama orang tua), jika tidak dipasang lampu, akan menyebabkan hati bayi tersebut menjadi gelap. Bagaimana sebenarnya menurut pandangan syariat Islam. Wassalam JAT Jawa Tengah
Jawab : Wa`alaikumussalam … mengubur ketuban tidak ada masalah dalam syariat Islam. Bahkan sebagian ulama memandang sunnat, seperti halnya dalam kitab Nihayatu al-Muhtaj bab Menguburkan Mayat. Bahkan dalam Hasil Musyawarah Bahtsul Matsa’il NU tentang Mengubur Ari-Ari bahwa mengubur ari-ari disunnahkan.
Dalam kitab Nihayatul Muhtaj
وَيُسَنُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ حَالاًّ أَوْ مِمَّنْ شَكَّ فِي مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ ، وَدَمِ نَحْوِ فَصْدٍ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا.
“Dan disunnahkan mengubur anggota badan yang terpisah dari orang yang masih hidup dan tidak akan segera mati, atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, ‘alaqah (gumpalan darah), dan darah akibat goresan, demi menghormati orangnya”
Sedangkan memberikan wewangian, bunga, kunyit, lampu dan bawang hukumnya haram karena termasuk idla’atul mal. Sedangkan peletakan jenang merah dipojok pembakaran batu bata hukumnya haram. Akan tetapi, jika hal itu dikaitkan dengan kepercayaan atau keyakinan, seperti halnya yang ibu sebutkan, maka tentu ini menyalahi syariat Islam.
Artinya kebiasaan memberikan penerangan dengan memasang lampu ataupun menabur bunga-bunga diatas timbunan ketuban atau ari-ari bayi yang dikubur, jelas tidak dikenal dalam ajaran Islam. Apalagi meyakini bahwa jika tidak dikasih lampu penerangan, maka hati bayi yang dilahirkan gelap. Sebab adat atau kebiasaan yang diperbolehkan menurut syara’ adalah sejauh tidak ada unsur tathayyur, istizlam, idla’atul mal yang tidak ada tujuan yang benar. Jika meyakini bahwa lampu atau tabur bunga ada kaitannya dengan kepercayaan terhadap sesuatu, hal seperti itu jelas termasuk kedalam katagori perbuatan syirik. Allohu A`lam

Dikirim pada 01 Februari 2015 di Bab. Aqidah


Tanya : Bismillah… pak ustadz Abu Alifa, apakah benar Nabi saw Isra’ Mi’raj naik kendaraan “Buraq”. Kemudian apakah Nabi saw Isra’ Mi’raj itu ruhnya saja (dalam mimpi) atau ruh dan jasad beliau yang pergi itu! Wassalam NTA
Jawab : Bismillah … Meyakini terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan bagian dari keimanan kita kepada Rasulullah saw. Bentuk keimanan pada dasarnya terletak pada sesuatu diluar nalar manusia melalui wahyu yang disampaikan oleh para Rasul-Nya. Bentuk keimanan seseorang belum memadai manakala sebagian yang diberitakan dan diajarkan didustainya.
Dalam shahihain (Bukhary dan Muslim) dalam melakukan Isra’ Mi’raj, Nabi disertai oleh para malaikat yang dipimpin oleh Malaikat Jibril as, dengan kendaraan buraq termasuk hewan ghaib yang menyerupai kuda hanya lebih kecil, namun lebih besar dari keledai. Dalam mi’raj-nya Nabi saw ditemani Jibril menempuh beberapa (tingkatan) langit. Dan pada tingkatan langit itu Nabi berjumpa dengan beberapa Nabi, diantaranya Nabi Adam, Nabi Yahya dan Isa, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa dan Nabi Ibrahim ‘alaihimus-salam.
Mengenai ruh dan jasad Nabi saw pada saat Isra dan Mi’raj, memang ada perbedaan. Pertama, bahwa Isra’ Mi’raj-nya Nabi hanya berupa Ruh saja. Hal ini didasarkan keterangan (riwayat) yang disandarkan kepada Siti Aisyah ra yang berkata :
…Jasad Rasulullah tidak pernah hilang, akan tetapi Allah meng-isra’kannya dengan ruh“.
Disamping riwayat diatas ada beberapa riwayat yang mengatakan bahwa Isra Mi’raj Nabi saw adalah mimpi yang benar.
Keterangan mengenai Nabi saw Isra’ Mi’raj hanya dalam bentuk ruh dan mimpi tercatat dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah seperti karya Ibn Hisyam, Ibn Ishaq dan Ibn Katsir.
Kedua, Isra’ dan Mi’raj Nabi saw terjadi pada ruh dan jasad. Hal ini didasarkan pada firman Allah swt (QS.Al-Isra ayat 1) yang dalam ayat tersebut menggunakan kalimat “‘abdun” (hamba) yang tentu mencakup ruh dan jasad. Disamping itu dipergunakannya kendaraan yang dipakai Nabi, inipun membuktikan bahwa ruh dan jasad Nabi yang pergi. Jika hanya mimpi atau ruhnya saja, maka bentuk kemu’jizatan tidak terlihat, sebab mimpi adalah hal yg biasa.
Adapun mengenai riwayat diatas, para ulama tafsir maupun ulama hadits menolak, sebab riwayat tersebut tidak shahih. Dengan demikian sebagai sebuah mu’jizat dan diperlukan keimana untuk mempercai peristiwa itu, maka Isra dan Mi’raj Nabi terjadi secara ruh dan jasad dan dalam keadaan terjaga bukan mimpi. Allohu A’lam

Dikirim pada 09 Mei 2014 di Bab. Aqidah


Tanya : Assalamu’alaikum …! Pak ustadz Abu Alifa yang saya hormati, teman saya berencana akan menikahi seorang wanita. Dan wanita itu sudah pasti akan cerai dengan suaminya, apakah dibolehkan temen saya ini nikah dengan wanita tersebut, dikarena kepastian cerai yag dinyatakan oleh calon istrinya itu? (maaf emailnya jg dicantumkan)
Jawab : Wa’alaikumussalam… Diantara wanita yang diharamkan syariat (Islam) untuk dinikahi adalah wanita tersebut sudah bersuami. Kalau-pun suaminya sudah menthalaq istri wanita tersebut, tentu tidak lantas wanita yang di thalaqnya itu boleh menikah (lagi). “..Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri tiga kali quru’(haidh)..” (QS. 2:228)
Jadi haram hukumnya temen akhi menikahi wanita tersebut, sekalipun wanita itu mengatakan saya pasti cerai. Allohu A’lam

Dikirim pada 08 Februari 2013 di Bab. Aqidah
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.861.632 kali


connect with ABATASA