0
21 Jul


Tanya : Assalamualaikum,,Pak Ustadz, sy mau bertanya tentang wali nikah. Calon istri sy adalah seorang anak tunggal dari ibu yg tunggal juga. Ayahnya sudah lama meninggal dan saudara laki-laki kandung dr ayahnya tidak ada yg muslim. Kakeknya pun sudah meninggal. Kira-kira dg keadaan seperti itu apakah bisa kami menikah dg wali hakim..? Mohon bantuan petunjuk dr pak ustadz..Terimakasih....Wassalamualaikum ..Indra.Powered by Telkomsel BlackBerry®
Jawab : Wa’alaikumussalam …Sabda Nabi saw ”Aku adalah wali bagi mereka yang tidak punya wali.” Artinya jika memang wali nasab (yang seakidah/Islam) tidak ada, maka tentu penguasa (sulthan/hakim) berhak untuk menikahkannya. Jadi jika anda menikah dengan wali hakim seperti itu, maka pernikahan anda sah. Allohu A’lam

Dikirim pada 21 Juli 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum ustad, saya seorang wanita muslimah berumur 25 tahun, saat ini saya sudah menjalani masa pacaran selama hampir 10 tahun dengan seorang lelaki, dan pada bulan juni 2012 ini kami sudah berencana untuk menikah. Kami sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan pernikahan tersebut, namun sampai saat kami memiliki 1 kendala yang cukup besar, yaitu belum mendapatkan restu dari orang tua calon suami saya. Pada awal dulu kami berpacaran tidak ada tanda--tanda bahwa hubungan ini tidak direstui,namun semenjak calon suami saya mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan dari dahulu, ibu nya sepertinya tidak rela mengikhlaskan kami untuk menikah. Bahkan ibu calon suami saya beranggapan yang pantas untuk jadi calon menantunya harus dari kalangan dokter/perawat,dikarenakan ibu calon suami saya jg seorang perawat. Saat ini saya juga bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahan swasta,tapi itu mungkin tidak cukup membanggkan bagi orangtuanya. Orangtua saya tidak bisa berbuat apa2 dalam hal ini,mereka menyerahkan sepenuhnya kepada kami berdua,karena kami sudah dianggap dewasa untuk memutuskan jalan kami sendiri.yang mau saya tanyakan adalah: 1. apakah jika pernikahan ini akan tetap dilaksanakan, bagaimana hukumnya bagi calon suami saya? 2. bagaimana caranya agar ibu calon suami saya luluh dan terbuka hatinya utk merestui hub kami ini? 3. apakah calon suami saya bisa disebut durhaka bila tetap menikahi saya?
saya mohon bantuan ustad untuk memberi masukan dari masalah yang saya hadapi, terus terang semakin mendekati hari pernikahan saya merasa masih ada yang terganjal dihati. Mohon maaf bila cerita saya cukup panjang. Terima kasih atas bantuannya. Wassalam
Jawab : Wa’alaikumussalam … Pertama, pernikahan itu tetap sah. Dan calon suami berhak menentukan siapa wanita yang akan dijadikannya sebagai seorang istri, dengan syarat satu aqidah (agama). Kedua, kalau alasannya hanya masalah pekerjaan suami tentu kurang tepat jika orang tua lantas tak merestuinya. Oleh karena buktikan oleh anda berdua, bahwa ukhti tidak seperti sangkaannya yang hanya memilih harta saja. Dan mesti dibuktikan dengan perbuatan dan akhlak yang baik terhadap sang mertua. Dan kepada suami, anda harus tetap memperhatikan kedua orangtua dan tetap menjaga silaturrahim dengan cara membantu (jika kekurangan). Ketiga, jika tidak melanggar syariat suami anda tidak dikatakan durhaka! Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Juli 2012 di Bab. Nikah
05 Jul


Tanya : Assalamualaikum wr.wb .
pak ustadz.. saya ingin bertanya bagai mana hukum pernikahan menurut islam jika pernikahan di paksa atau di jodohkan tetapi tidak ada ke ridhoan dari calon pengantin nya..?? Terimakasih ustadz mohon di jawab..!! kamalcool50@yahoo.co.id
Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb.
Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “Dengan ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)
Dari Ibnu Abbas ra. bahwasannya Nabi saw bersabda:
“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim no. 1421)
Dari Khansa’ binti Khidzam Al-Anshariyah ra:
“Bahwa ayahnya pernah menikahkan dia -ketika itu dia janda- dengan laki-laki yang tidak disukainya. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (untuk mengadu) maka Nabi saw membatalkan pernikahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5138)
Al-Bukhari memberikan judul bab terhadap hadits ini, “Bab: Jika seorang lelaki menikahkan putrinya sementara dia tidak senang, maka nikahnya tertolak (tidak sah). Allohu A’lam

Dikirim pada 05 Juli 2012 di Bab. Nikah
08 Jun


Tanya : Assalamualaikum pak ustadz
Saya sedikit minta pendapat tentang masalah yang saya hadapi, saya seorang suami telah menikah selama 7 tahun dan dikaruniai 2 anak, sudah selama 7 bulan ini saya dan istri pisah kamar, ini karena istri sudah tidak bisa menerima saya lagi sebagai suami, dan pernah mengajukan khulu, karena menanggap takut tidak bisa berfungsi lagi sebagai istri. Latar belakang ini semua karena memang ternyata istri saya ketika menikah dulu dari awal tidak cinta kepada saya, bukan karena paksaan dari orang tua, tapi karena dia coba-coba, karena saya mengajukan lamaran dan dia menerimanya, yg sebelumnya dia pernah punya pacar tapi tidak mau diajak nikah.
Sejalan dengan pernikahan istri saya menyadari kalau memang tidak bisa memaksakan diri dan akhirnya dia mengajukan khulu, hmm selama pernikahan istri saya pernah ketahuan jalan dengan mantannya itu,dia minta maaf dan saya memaafkan karena ingat dengan anak dan saya juga mencintainya, nah terakhir dia ketauan bermain hati lagi dengan teman kantornya, dengan alasan memang sudah tidak bisa menerima saya lagi sebagai suaminya, dan sampai meminta khulu, awalnya saya tidak mengabulkan, tapi seiring saya melihat perkembangan, saya ikhlas, karena buat kebaikan dia juga takut semakin kufur, walau berat hati mengingat anak2 yang masih sangat kecil, (paling besar wanita 6 th, dan paling kecil laki-laki umur 3 th).
Orang tua dia tidak setuju dengan permintaan khulu istri saya, dan berharap saya untuk bersabar, tapi dari saya melihat memang selama pernikahan saya merasa kalau istri seperti terpaksa, walau saya yakin dia itu istri yang baik.
yang jadi pertanyaan, bagaimana saya harus bersikap, saya sendiri sudah ikhlas karena khawatir istri akan semakin kufur, tapi sementara orang tua meminta untuk bertahan, karena saya tau orang tua(mertua) khawatir dengan cucu-cucunya,
oh ya saya sudah utarakan ke istri kalau ikhlas n mengabulkan khulunya, nah apakah hukumnya dengan pernyataan tersebut, walau orangtua (mertua) tidak setuju. Odie dwitiap@yahoo.com
Jawab : Wa’alaikumussalam … Salah satu penyebab khulu’ pada masa Nabi saw, karena setelah menikah si istri tidak mencintainya. Atau bisa juga setelah beberapa tahun menikah ternyata si istri menjadi tidak suka (baca: cinta). Maka dalam islam jika terjadi seperti itu, tidak lantas istri memaksakan diri melayani suami, sekalipun si suami menyukainya. Disinilah adanya khulu’ yaitu mengembalikan kebun (mahar) kepada suami itu. Dengan kata lain cerai yang diajukan istri. Salah satu pertimbangan khulu’ adalah dikhawatirkan terjadi kekufuran istri terhadap suami yang merupakan dosa besar. Bahkan mungkin untuk kondisi spt sekarang adanya (maaf), main dibelakang! Kalau masalah anak itu sudah jelas tidak bisa dipisahkan dari kedua orang tua. Namun permasalahan yang ditimbulkan, suami seolah tidak punya istri dan begitupun sebaliknya. Maka dosa yang akan terus-menerus terjadi (terutama pihak istri). Kalau suami sudah menerima khulu’ (gugatan cerai) dari istri sekalipun mertua tidak menyetujuinya, tapi suami menerimanya, dengan sendirinya ikatan nikah anda sudah lepas. Lebih lanjut lihat pada soal jawab yang telah lalu tentang khulu’ pada bab.Nikah Allohu A’lam

Dikirim pada 08 Juni 2012 di Bab. Nikah
Awal « 2 3 4 5 6 7 8 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.858.831 kali


connect with ABATASA