0


Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb. selamat pagi …..pa ustad saya mau bertanya seputar pernikahan,karna saya sebentar lg akan menikah. pa ustad yg wajib membayar buat ke lebe/KUA itu sebenar`y pihak laki" atau pihak perempuan ??ada yg bilang itu kewajiban dr pihak laki". apakah bener pa ustad ?? dan apakah kewajiban pihak laki selain memberikan mahar ?? mohon pencerahan`y pa ustad .. terimakasih.. Wassalamualaikum Wr. Wb. Mety Jern

Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb. … Seharusnya tentu saja tidak harus bayar, sebab itu sudah menjadi kewajiban pihak pemerintah. Jika memang wajib bayar siapa saja tentu boleh membayarkan hal itu, baik kedua calon yang akan menikah atau pihak keluarga. Hanya biasanya pihak KUA sering berceloteh "masa bayar segitu aja tidak mampu, sementara pesta (resepsi) nikahnya lebih dari membayar KUA". Akan tetapi kalaupun menggunakan dalil, maka khithab perintah dan jika mampu itu kembali kepada calon, terutama calon suami. Hanya pada dasarnya baik ke KUA atau-pun untuk resepsi, jika ada yang mau membayarnya hal itu tidak lantas nikahnya tidak sah.
Sementara mahar (mas kawin) merupakan hak istri dan kewajiban suami yang mesti diberikan. Sementara pemberian yang lainnya seperti barang bawaan itu bagian dari shadaqah. Adapaun untuk walimah (resepsi) itu sesuai dengan kemampuan yang ada pada suami ataupun keluarganya. Allohu A`lam

Dikirim pada 21 September 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum wr wb
Permisi pak ustadz saya ada pertanyaan mengenai wali nikah. Jadi begini saya seorang laki laki anak kedua dari dua bersaudara, kakak saya seorang wanita muslimah yang sebentar lagi akan menikah. Ibu saya sudah lama bercerai dengan bapak saya sejak saya masih dikandungan Untuk kepentingan pernikahan tersebut kakak saya menunjuk saya sebagai wali hakim dikarenakan ayah saya yang telah bercerai susah dicari dimana keberadaannya kami tidak tahu serta keluarga ayah saya juga tidak diketahui keberdaannya Yang saya tanyakan apakah saya dapet menggantikan ayah saya sebagai wali jika memang ayah saya susah ditemukan?karena kami tidak tahu domisislinya yang sekarang Bagaimana pendapat pak ustadz mengenai maslah perwalian ini?
Demikian pak ustadz, saya mengharapkan balasan masukan dan solusi dari bapak Terima Kasih Wassalamualaikum wr wb M Putra Dwigantara mpdwigantara@gmail.com
Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb …. Tidak ada dalil yang menyebutkan siapa yang paling berhak menjadi wali nikah bagi anak perempuan. Para ulama ada yang bersepakat dan ada pula yang berselisih berkaitan dengan siapa yang paling dekat dengan anak perempuan tersebut dikarenakan tidak adanya dalil yang merincikannya. Allah berfirman :
آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا

"…(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." (QS An-Nisa : 11)
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ayah kandung perempuan tersebut adalah orang yang paling berhak menjadi wali bagi anaknya, kemudian setelah ayah adalah kakek dari ayah tersebut. beginilah dalam madzhab Syafi`i, Hambali dan sebagian yang lain.
Bahkan dalam kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:
1. Ayah kandung
2. Kakek, atau ayah dari ayah
3. Saudara kandung
4. Saudara se-ayah saja
5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
7. Saudara laki-laki ayah
8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah
Jadi anda bukan wali hakim … dan anda berhak menikahkan saudara kandung perempuan (kakak anda), apalagi ayah anda dan kakak anda sulit dilacak. Sekalipun ayah anda yang tidak diketahui alamatnya, kemudian anda menikahkan (menjadi wali nikah) kakak anda, maka pernikahannya sah. Artinya anda sah menjadi wali saudara kandung perempuan (kakak kandung anda). Allohu A`lam

Dikirim pada 21 September 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalammualaikum Wr Wb
Selamat malam Pak.
Perkenalkan saya Jendri Salti Tangnga Rissing. Saya sebenarnya lahir dan dibesarkan di dalam keluarga non muslim. Awal perubahan saya muncul dari bulan April yang lalu. Awalnya saya diterima bekerja di tempat kerja yang baru pada bulan November tahun lalu. Disitu saya berkenalan dan kemudian menjalin hubungan dengan seorang laki laki Muslim bernama Muhammad Azam. Seiring berjalannya waktu sering banyak perdebatan diantara kami apalagi setelah kami memutuskan untuk membawa hubungan kami ke arah yang lebih serius lagi.
Awalnya saya tetap teguh dengan keyakinan awal saya. Tetapi perhatian, kesabaran dak perjuangannya selama ini membuatku luluh. Ternyata keyakinan yang dia pegang membawa ketenangan batin buat dia sehi8ngga apapun masalah kami dihadapi dengan kepala dingin. secara pelan2 dia mulai mengajarkan aku hal2 baik dari agama Islam.
Sampai sekarang dari hati yang paling dalam, Saya ingin belajar dan memeluk agama Islam. Dia dan keluarganya begitu terbuka dengan kehadiranku. Tapi dari sisi keluargaku,aku masih takut untuk terbuka. kepada orang tuakuaku sudah menjelaskan. Mereka menyerahkan semuanya kepadaku, tapi jelas di raut wajah dan suara mereka, kalau mereka belum sepenuh hati memberikanku iizin. Terutama keluarga besarku. Yang pasti aku pasti mendapat marah dari mereka apalagi dari semua keluarga besarku baru aku yang memilih jalanku sendiri.
yang aku mau tanyakan.
1. bagaimana caranya aku meyakinkan keluargaku kalau ini adalah pilihan dari hatiku, murni bukan hanya karena aku berhubungan dengan pacarku yang Muslim?
2. setelah aku mendapat restu dari kedua orang tuaku, aku sudah boleh menikah dan memeluk agama Islam walaupun keluarga besarku tidak pernah setuju?
Terima Kasih!!! jeyrissing@gmail.com
Jawab : Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Alhamdulillah saudariku … ke-Islamannya ternyata bukan karena keterpaksaan. Semoga Allah swt meneguhkan pendiriannya dan tetap dalam hidayahNya. Saya ucapkan selamat bergabung dengan dienul-haq (agama yang lurus) … Sebenarnya memberi tahu merupakan bagian dari rasa hormat (akhlak), yang dalam Islam sekalipun orang tua kita tidak seaqidah (bukan muslim) tetap kita berkewajiban untuk berbuat baik kepadanya. Akan tetapi jika menyangkut hal keyakinan kita harus punya prinsip. Sampaikanlah dengan baik kepada keduanya, mudah2an orang tua anda mendapat petunjuk sebagaimana anda sendiri.
Meminta restu (kepada orang tua) mau menikah dengan laki-laki yang seagama, itu juga merupakan bagian dari akhlak kita. Sekalipun jika mereka tidak merestuinya, anda berhak menentukan. Sebab sewaktu nanti anda menikah, maka wali bukan orang tua anda, akan tetapi wali hakim, sebab orang tua anda berlainan agama (bukan muslim). Jika mereka (keluarga besar anda) tidak setuju, tidak akan menghalangi sah tidaknya pernikahan anda. Sekali lagi permintaan restu baik kepada orang tua maupun keluarga besar anda yang berlainan aqidah bukan untuk menentukan sah tidaknya pernikahan anda, akan tetapi bagian dari birrul-walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua), yang dalam Islam kita dituntut hal tersebut, baik orang tua itu lain agama apalagi seagama. Allahu A’lam

Dikirim pada 05 Agustus 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Asslm ustaz, Saya sudah baca blog ustaz dan saya suka karena uraian nya objektif dan wawasan sangat luas. untuk itu saya mengajukan pertanyaan sbb " Saya lelaki muslim 50 tahun 1 istri 4 anak yang besar 18 tahun yang kecil 11 tahun. 1 tahun lalu saya bertemu dengan mantan pacar 28 tahun yang lalu. Wanita Jawa usia saat ini jalan 47 tahun anak 1. Menurut keterangan anak itu adalah anak diluar nikah karena ia diperkosa saat masih muda dulu. Saya gak tahu benar atau tidak ceritanya Ia tinggal dan kerja di surabaya , anak dan ibunya di yogya , Ia beragama kristen katolik, . singkat cerita kangen kangenan dan sampai akhirnya agar tidak terjerumus dalam dosa zina , saya ajak dia menikah . Ia mau. dan ridla dengan kehidupan seperti ini (dia di surabaya dan saya di jakarta) Ia menawarkan pemberkatan di gereja, Saya menolak, Saya mau menikah dengan cara islam karena kalau dengan cara katolik tetap saja saya tidak menikah. Ia setuju nikah dengan cara islam. Saya PNS dan sudah punya istri. sehingga tidak mungkin menikah di KUA kalau mau pakai wali nasab , Ayahnya sudah meninggal, kakak dan adik lelaki katolik dan pasti tidak menyetujui pernikahan ini karena saya sudah beristri Wali nasab yang lain dari pihak ayah juga tidak menyetujui ya karena saya sudah punya istri itu, Ia juga ingin agar keluarganya tidak tahu karena saat ini ibunya sakit Jantung parah dan dikhawatirkan kalau mendengar pernikahan ini jantungnya akan makin parah, Yang jadi pertanyaan 1. apakah saya dan dia bisa menikah dengan menggunakan Wali Muhakkam. 2. Apakah ia harus masuk islam dulu agar bisa menggunakan wali muhakkam ini 3. Apakah ustaz bersedia menjadi wali muhakkam dalam pernikahan kami ini ?, Saya sangat takut berzina ustaz takut hukum Allah .zina khan hukum mati Saya berharap dengan pernikahan ini ia mengenal islam dan berharap ia masuk islam Terima kasih Wassl gunturaa@gmail.com
Jawab : Wa`alaikumussalam … kekeliruan anda adalah diawali adanya "kangen-kangenan" yang akhirnya kangen beneran. Semestinya anda menjaga jarak apalagi ia berbeda aqidah. Anda sebenarnya sudah beruntung mempunyai istri yang seakidah dan mempunyai keturunan. Kenapa sampai "tergoda" dengan wanita yang berlainan agama? Sekalipun anda beralasan ingin menjauhi perbuatan yang melanggar agama, tapi anda sendiri tidak menyadari bahwa "kangen-kangenan" merupakan pintu yang akan membuat anda menerobos jurang pelanggaran (lihat Fatwa MUI tentang nikah berlainan agama/aqidah). Sebenarnya jika ia beragama Islam (se-aqidah) dan orang tuanya berlainan aqidah dengan anaknya, maka tentu yang menjadi wali adalah kerabat dari orang tua wanita itu yang Islam. Dan jka tidak ada, maka sulthan (penguasa) yang berhak menjadi wali dalam pernikahan itu (wali hakim). Jika anda takut berbuat zina, saya sarankan jauhi wanita itu, apalagi berbeda aqidah. Sekalipun tentu bukan sebuah pelanggaran syariat (Islam), jika anda mempunyai istri lebih dari satu. Hanya pertimbangkan masalahat (keutuhan, kedamaian, ketentraman dengan istri yang sudah seaqidah anda) …dan pertimbangkan mafsadatnya (keruksakan, keretakan, kehancuran) yang diakibatkan dengan tindakan anda menikahi wanita yang berlainan aqidah! Allohu A`lam

Dikirim pada 04 Agustus 2012 di Bab. Nikah
Awal « 2 3 4 5 6 7 8 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.892.093 kali


connect with ABATASA