0


Tanya : asslmlkm.wr.wb
Yth. Ustad
saya mau konsultasi, saya punya pacar yang sayang pada saya, tapi saya ingin putus sama dia, karena perbutan yang dilarang oleh islam. Saya takut menyakiti hatinya dan tidak akan memaafkan apa yang sudah saya perbuat padanya. Saya menyasal karena sudah tau dilarag tapi tetep saja saya lakuin berpacaran. Sekarang saya ingin bertaoubat mumpung saya masih hidup.
Ustad kasih solusinya ?? Terima kasih johan Sukris

Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb. … berpacaran dalam pengertian perbuatan yang melanggar ketentuan syariat tentu haram. Sekalipun namanya "Ta`aruf atau khitbah", namun setelah itu melakukan dan melanggar syariat, maka tetap dari sisi pelanggarannya itu haram. (Coba baca tentang pertanyaan yang menyangkut pacaran di www.ghazi.abatasa.com).
Jika alasannya hanya takut menyakiti pacar , tentu tidak bisa dibenarkan. Bukankah dengan demikian akhi menyakiti sang Pencipta dengan pelangaran itu? Artinya akhi merasa khawatir dengan makhluk dan tidak merasa khawatir dengan sang Khaliq (Allah swt).
Jika tidak ingin terus-menerus dihantui rasa khawatir, baik merasa berdosa atau diputuskan khawatir menyakiti, maka laksanakan perintah Allah swt, yaitu segeralah menikah! Dengan menikah insya Allah dua hal tersebut bisa teratasi. Allohu A`lam

Dikirim pada 23 Oktober 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb. selamat pagi …..pa ustad saya mau bertanya seputar pernikahan,karna saya sebentar lg akan menikah. pa ustad yg wajib membayar buat ke lebe/KUA itu sebenar`y pihak laki" atau pihak perempuan ??ada yg bilang itu kewajiban dr pihak laki". apakah bener pa ustad ?? dan apakah kewajiban pihak laki selain memberikan mahar ?? mohon pencerahan`y pa ustad .. terimakasih.. Wassalamualaikum Wr. Wb. Mety Jern

Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb. … Seharusnya tentu saja tidak harus bayar, sebab itu sudah menjadi kewajiban pihak pemerintah. Jika memang wajib bayar siapa saja tentu boleh membayarkan hal itu, baik kedua calon yang akan menikah atau pihak keluarga. Hanya biasanya pihak KUA sering berceloteh "masa bayar segitu aja tidak mampu, sementara pesta (resepsi) nikahnya lebih dari membayar KUA". Akan tetapi kalaupun menggunakan dalil, maka khithab perintah dan jika mampu itu kembali kepada calon, terutama calon suami. Hanya pada dasarnya baik ke KUA atau-pun untuk resepsi, jika ada yang mau membayarnya hal itu tidak lantas nikahnya tidak sah.
Sementara mahar (mas kawin) merupakan hak istri dan kewajiban suami yang mesti diberikan. Sementara pemberian yang lainnya seperti barang bawaan itu bagian dari shadaqah. Adapaun untuk walimah (resepsi) itu sesuai dengan kemampuan yang ada pada suami ataupun keluarganya. Allohu A`lam

Dikirim pada 21 September 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum wr wb
Permisi pak ustadz saya ada pertanyaan mengenai wali nikah. Jadi begini saya seorang laki laki anak kedua dari dua bersaudara, kakak saya seorang wanita muslimah yang sebentar lagi akan menikah. Ibu saya sudah lama bercerai dengan bapak saya sejak saya masih dikandungan Untuk kepentingan pernikahan tersebut kakak saya menunjuk saya sebagai wali hakim dikarenakan ayah saya yang telah bercerai susah dicari dimana keberadaannya kami tidak tahu serta keluarga ayah saya juga tidak diketahui keberdaannya Yang saya tanyakan apakah saya dapet menggantikan ayah saya sebagai wali jika memang ayah saya susah ditemukan?karena kami tidak tahu domisislinya yang sekarang Bagaimana pendapat pak ustadz mengenai maslah perwalian ini?
Demikian pak ustadz, saya mengharapkan balasan masukan dan solusi dari bapak Terima Kasih Wassalamualaikum wr wb M Putra Dwigantara mpdwigantara@gmail.com
Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb …. Tidak ada dalil yang menyebutkan siapa yang paling berhak menjadi wali nikah bagi anak perempuan. Para ulama ada yang bersepakat dan ada pula yang berselisih berkaitan dengan siapa yang paling dekat dengan anak perempuan tersebut dikarenakan tidak adanya dalil yang merincikannya. Allah berfirman :
آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا

"…(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." (QS An-Nisa : 11)
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ayah kandung perempuan tersebut adalah orang yang paling berhak menjadi wali bagi anaknya, kemudian setelah ayah adalah kakek dari ayah tersebut. beginilah dalam madzhab Syafi`i, Hambali dan sebagian yang lain.
Bahkan dalam kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:
1. Ayah kandung
2. Kakek, atau ayah dari ayah
3. Saudara kandung
4. Saudara se-ayah saja
5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
7. Saudara laki-laki ayah
8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah
Jadi anda bukan wali hakim … dan anda berhak menikahkan saudara kandung perempuan (kakak anda), apalagi ayah anda dan kakak anda sulit dilacak. Sekalipun ayah anda yang tidak diketahui alamatnya, kemudian anda menikahkan (menjadi wali nikah) kakak anda, maka pernikahannya sah. Artinya anda sah menjadi wali saudara kandung perempuan (kakak kandung anda). Allohu A`lam

Dikirim pada 21 September 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalammualaikum Wr Wb
Selamat malam Pak.
Perkenalkan saya Jendri Salti Tangnga Rissing. Saya sebenarnya lahir dan dibesarkan di dalam keluarga non muslim. Awal perubahan saya muncul dari bulan April yang lalu. Awalnya saya diterima bekerja di tempat kerja yang baru pada bulan November tahun lalu. Disitu saya berkenalan dan kemudian menjalin hubungan dengan seorang laki laki Muslim bernama Muhammad Azam. Seiring berjalannya waktu sering banyak perdebatan diantara kami apalagi setelah kami memutuskan untuk membawa hubungan kami ke arah yang lebih serius lagi.
Awalnya saya tetap teguh dengan keyakinan awal saya. Tetapi perhatian, kesabaran dak perjuangannya selama ini membuatku luluh. Ternyata keyakinan yang dia pegang membawa ketenangan batin buat dia sehi8ngga apapun masalah kami dihadapi dengan kepala dingin. secara pelan2 dia mulai mengajarkan aku hal2 baik dari agama Islam.
Sampai sekarang dari hati yang paling dalam, Saya ingin belajar dan memeluk agama Islam. Dia dan keluarganya begitu terbuka dengan kehadiranku. Tapi dari sisi keluargaku,aku masih takut untuk terbuka. kepada orang tuakuaku sudah menjelaskan. Mereka menyerahkan semuanya kepadaku, tapi jelas di raut wajah dan suara mereka, kalau mereka belum sepenuh hati memberikanku iizin. Terutama keluarga besarku. Yang pasti aku pasti mendapat marah dari mereka apalagi dari semua keluarga besarku baru aku yang memilih jalanku sendiri.
yang aku mau tanyakan.
1. bagaimana caranya aku meyakinkan keluargaku kalau ini adalah pilihan dari hatiku, murni bukan hanya karena aku berhubungan dengan pacarku yang Muslim?
2. setelah aku mendapat restu dari kedua orang tuaku, aku sudah boleh menikah dan memeluk agama Islam walaupun keluarga besarku tidak pernah setuju?
Terima Kasih!!! jeyrissing@gmail.com
Jawab : Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Alhamdulillah saudariku … ke-Islamannya ternyata bukan karena keterpaksaan. Semoga Allah swt meneguhkan pendiriannya dan tetap dalam hidayahNya. Saya ucapkan selamat bergabung dengan dienul-haq (agama yang lurus) … Sebenarnya memberi tahu merupakan bagian dari rasa hormat (akhlak), yang dalam Islam sekalipun orang tua kita tidak seaqidah (bukan muslim) tetap kita berkewajiban untuk berbuat baik kepadanya. Akan tetapi jika menyangkut hal keyakinan kita harus punya prinsip. Sampaikanlah dengan baik kepada keduanya, mudah2an orang tua anda mendapat petunjuk sebagaimana anda sendiri.
Meminta restu (kepada orang tua) mau menikah dengan laki-laki yang seagama, itu juga merupakan bagian dari akhlak kita. Sekalipun jika mereka tidak merestuinya, anda berhak menentukan. Sebab sewaktu nanti anda menikah, maka wali bukan orang tua anda, akan tetapi wali hakim, sebab orang tua anda berlainan agama (bukan muslim). Jika mereka (keluarga besar anda) tidak setuju, tidak akan menghalangi sah tidaknya pernikahan anda. Sekali lagi permintaan restu baik kepada orang tua maupun keluarga besar anda yang berlainan aqidah bukan untuk menentukan sah tidaknya pernikahan anda, akan tetapi bagian dari birrul-walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua), yang dalam Islam kita dituntut hal tersebut, baik orang tua itu lain agama apalagi seagama. Allahu A’lam

Dikirim pada 05 Agustus 2012 di Bab. Nikah
Awal « 2 3 4 5 6 7 8 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.054.596 kali


connect with ABATASA