0


Tanya : Assalamu’alaikum …sebelumnya saya mohon maaf jika pertanyaan yang diajukan kurang sopan. Tetapi karena keingin tahuan sebelum pada tataran pelaksanaan, saya mengajukan pertanyaan. Adakah dalam Islam cara berhubungan dengan suami, dan bagaimana caranya menurut sunnah Nabi saw. Apakah diperkenankan suami istri melihat auratnya? Dan bolehkan suami atau istri memegangnya? Sekali lagi saya mohon maaf jika pertanyaan ini tidak layak? (mohon email jgn dicantumkan). Wassalam
Jawab : Wa’alaikumussalam … tidak perlu merasa malu jika hal itu bertalian dengan syariat yang akan dilakukan. Sebab berhubungan suami istri merupakan syariat dan bernilai ibadah! Sabda Nabi saw :
“…Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah.
Diantara anjuran Nabi saw yang merupakan pedoman saat berhubungan dengan pasangan kita (suami istri), diantaranya : Pertama, berdoa sebelum akan memulai berhubungan, bahkan sebaiknya istri kita diajak shalat 2 rakaat (dulu).
Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: Aku memberi nasehat kepada seorang pria yang hendak menikahi pemudi yang masih gadis, karena ia takut isterinya akan membencinya jika ia mendatanginya, yaitu perintahkanlah (diajak) agar ia melaksanakan sholat 2 rakaat dibelakangmu dan berdoa : Ya Allah berkahilah aku dan keluargaku dan berkahilah mereka untukku. Ya Allah satukanlah kami sebagaimana telah engkau satukan kami karena kebaikan dan pisahkanlah kami jika Engkau pisahkan untuk satu kebaikan (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani dngan sanad Sahih).
Adapun do’a sebelum melakukan hubungan adalah :
“Jika salah seorang dari kalian ingin berhubungan intim dengan istrinya, lalu ia membaca do’a: [Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa], “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya” (HR. Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434).
As-Shan’ani (Subulu as-Salam Bab Nikah), Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam Fathul Bari (9: 228) mengatakan bahwa do’a tersebut diucapkan sebelum memulai berhubungan.
Kedua, melakukan mula’abah. Diantara salah satu unsure penting ketika akan melakukan jima (hubungan suami istri) adalah pendahuluan atau pemanasan yang dalam bahasa asing disebut foreplay (saya menggunakan istilah mula’abah/saling mainkan). Karena dianggap sangat penting,”prolog” sebelum berjima’ sampai Nabi saw menganjurkannya, dengan sabdanya :
“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. At-Tirmidzi).
Ciuman dalam hadits tersebut tentu bukan kiasan, akan tetapi makna yang sesunggguhnya. Hal ini bias dilihat dari hadits yang lain ketika seorang shahabat (Jabir ra) sudah melangsungkan akad nikah, kata beliau “Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis sehingga kalian bisa saling bercanda ria? Berciuma yang dapat saling mengigit bibir denganmu,” (HR. Bukhari no. 5079 dan Muslim II:1087).
Sedangkan rayuan yang dimaksud di atas adalah semua ucapan yang dapat memikat pasangan, menambah kemesraan dan merangsang gairah berjima’. Dalam istilah fiqih kalimat-kalimat rayuan yang merangsang disebut rafats, yang tentu saja haram diucapkan kepada selain istrinya.
Selain ciuman dan rayuan, unsur penting lain dalam pemanasan adalah sentuhan mesra. Bagi pasangan suami istri, seluruh bagian tubuh adalah obyek yang halal untuk disentuh, termasuk kemaluan. Terlebih jika dimaksudkan sebagai penyemangat jima’. Demikian Ibnu Taymiyyah berpendapat. Sedangkan Syaikh Nashirudin Al-Albany, mengutip perkataan Ibnu Urwah Al-Hanbali
“Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat dan meraba (termasuk memegang) seluruh lekuk tubuh pasangannya, dan kemaluan. Karena kemaluan merupakan bagian tubuh yang boleh dinikmati dalam bercumbu. Itulah diantara pandangan Imam Malik dan ulama lainnya.” Sebab istri (pasangan) diibaratkan kebun.
Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS.2 : 223)
Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seyogyanya suami istri mengetahui dengan baik titik-titik yang mudah membangkitkan gairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami istri, untuk menemukan titik-titik tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal saat berjima’.
Ketiga, ada kain yang menutupi. Sekalipun suami istri sudah halal baik melihat dan bahkan bertelanjang bulat, namun Nabi saw menganjurkan ditengah ketelanjangan itu hendaknya ditutupi oleh kain (selimut).
Dari ‘Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya (berjima’), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar. (HR Ibnu Majah).
Keempat, jangan cepat meniggalkan/melepaskan istri. Kelima, selesai berhubungan mencuci kemaluan dan berwudhu (dahulu) jika ingin mengulanginya lagi. Dari semua itu kita harus keyakinan bahwa berjima antara suami istri merupakan bentuk ibadah! Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Desember 2012 di Bab. Nikah


Tanya : asslmlkm.wr.wb
Yth. Ustad
saya mau konsultasi, saya punya pacar yang sayang pada saya, tapi saya ingin putus sama dia, karena perbutan yang dilarang oleh islam. Saya takut menyakiti hatinya dan tidak akan memaafkan apa yang sudah saya perbuat padanya. Saya menyasal karena sudah tau dilarag tapi tetep saja saya lakuin berpacaran. Sekarang saya ingin bertaoubat mumpung saya masih hidup.
Ustad kasih solusinya ?? Terima kasih johan Sukris

Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb. … berpacaran dalam pengertian perbuatan yang melanggar ketentuan syariat tentu haram. Sekalipun namanya "Ta`aruf atau khitbah", namun setelah itu melakukan dan melanggar syariat, maka tetap dari sisi pelanggarannya itu haram. (Coba baca tentang pertanyaan yang menyangkut pacaran di www.ghazi.abatasa.com).
Jika alasannya hanya takut menyakiti pacar , tentu tidak bisa dibenarkan. Bukankah dengan demikian akhi menyakiti sang Pencipta dengan pelangaran itu? Artinya akhi merasa khawatir dengan makhluk dan tidak merasa khawatir dengan sang Khaliq (Allah swt).
Jika tidak ingin terus-menerus dihantui rasa khawatir, baik merasa berdosa atau diputuskan khawatir menyakiti, maka laksanakan perintah Allah swt, yaitu segeralah menikah! Dengan menikah insya Allah dua hal tersebut bisa teratasi. Allohu A`lam

Dikirim pada 23 Oktober 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb. selamat pagi …..pa ustad saya mau bertanya seputar pernikahan,karna saya sebentar lg akan menikah. pa ustad yg wajib membayar buat ke lebe/KUA itu sebenar`y pihak laki" atau pihak perempuan ??ada yg bilang itu kewajiban dr pihak laki". apakah bener pa ustad ?? dan apakah kewajiban pihak laki selain memberikan mahar ?? mohon pencerahan`y pa ustad .. terimakasih.. Wassalamualaikum Wr. Wb. Mety Jern

Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb. … Seharusnya tentu saja tidak harus bayar, sebab itu sudah menjadi kewajiban pihak pemerintah. Jika memang wajib bayar siapa saja tentu boleh membayarkan hal itu, baik kedua calon yang akan menikah atau pihak keluarga. Hanya biasanya pihak KUA sering berceloteh "masa bayar segitu aja tidak mampu, sementara pesta (resepsi) nikahnya lebih dari membayar KUA". Akan tetapi kalaupun menggunakan dalil, maka khithab perintah dan jika mampu itu kembali kepada calon, terutama calon suami. Hanya pada dasarnya baik ke KUA atau-pun untuk resepsi, jika ada yang mau membayarnya hal itu tidak lantas nikahnya tidak sah.
Sementara mahar (mas kawin) merupakan hak istri dan kewajiban suami yang mesti diberikan. Sementara pemberian yang lainnya seperti barang bawaan itu bagian dari shadaqah. Adapaun untuk walimah (resepsi) itu sesuai dengan kemampuan yang ada pada suami ataupun keluarganya. Allohu A`lam

Dikirim pada 21 September 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamualaikum wr wb
Permisi pak ustadz saya ada pertanyaan mengenai wali nikah. Jadi begini saya seorang laki laki anak kedua dari dua bersaudara, kakak saya seorang wanita muslimah yang sebentar lagi akan menikah. Ibu saya sudah lama bercerai dengan bapak saya sejak saya masih dikandungan Untuk kepentingan pernikahan tersebut kakak saya menunjuk saya sebagai wali hakim dikarenakan ayah saya yang telah bercerai susah dicari dimana keberadaannya kami tidak tahu serta keluarga ayah saya juga tidak diketahui keberdaannya Yang saya tanyakan apakah saya dapet menggantikan ayah saya sebagai wali jika memang ayah saya susah ditemukan?karena kami tidak tahu domisislinya yang sekarang Bagaimana pendapat pak ustadz mengenai maslah perwalian ini?
Demikian pak ustadz, saya mengharapkan balasan masukan dan solusi dari bapak Terima Kasih Wassalamualaikum wr wb M Putra Dwigantara mpdwigantara@gmail.com
Jawab : Wa`alaikumussalam wr.wb …. Tidak ada dalil yang menyebutkan siapa yang paling berhak menjadi wali nikah bagi anak perempuan. Para ulama ada yang bersepakat dan ada pula yang berselisih berkaitan dengan siapa yang paling dekat dengan anak perempuan tersebut dikarenakan tidak adanya dalil yang merincikannya. Allah berfirman :
آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا

"…(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." (QS An-Nisa : 11)
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ayah kandung perempuan tersebut adalah orang yang paling berhak menjadi wali bagi anaknya, kemudian setelah ayah adalah kakek dari ayah tersebut. beginilah dalam madzhab Syafi`i, Hambali dan sebagian yang lain.
Bahkan dalam kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:
1. Ayah kandung
2. Kakek, atau ayah dari ayah
3. Saudara kandung
4. Saudara se-ayah saja
5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
7. Saudara laki-laki ayah
8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah
Jadi anda bukan wali hakim … dan anda berhak menikahkan saudara kandung perempuan (kakak anda), apalagi ayah anda dan kakak anda sulit dilacak. Sekalipun ayah anda yang tidak diketahui alamatnya, kemudian anda menikahkan (menjadi wali nikah) kakak anda, maka pernikahannya sah. Artinya anda sah menjadi wali saudara kandung perempuan (kakak kandung anda). Allohu A`lam

Dikirim pada 21 September 2012 di Bab. Nikah
Awal « 2 3 4 5 6 7 8 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.622.551 kali


connect with ABATASA