0
05 Jul


Tanya : Assalamualaikum wr.wb .
pak ustadz.. saya ingin bertanya bagai mana hukum pernikahan menurut islam jika pernikahan di paksa atau di jodohkan tetapi tidak ada ke ridhoan dari calon pengantin nya..?? Terimakasih ustadz mohon di jawab..!! kamalcool50@yahoo.co.id
Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb.
Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “Dengan ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)
Dari Ibnu Abbas ra. bahwasannya Nabi saw bersabda:
“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim no. 1421)
Dari Khansa’ binti Khidzam Al-Anshariyah ra:
“Bahwa ayahnya pernah menikahkan dia -ketika itu dia janda- dengan laki-laki yang tidak disukainya. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (untuk mengadu) maka Nabi saw membatalkan pernikahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5138)
Al-Bukhari memberikan judul bab terhadap hadits ini, “Bab: Jika seorang lelaki menikahkan putrinya sementara dia tidak senang, maka nikahnya tertolak (tidak sah). Allohu A’lam

Dikirim pada 05 Juli 2012 di Bab. Nikah
08 Jun


Tanya : Assalamualaikum pak ustadz
Saya sedikit minta pendapat tentang masalah yang saya hadapi, saya seorang suami telah menikah selama 7 tahun dan dikaruniai 2 anak, sudah selama 7 bulan ini saya dan istri pisah kamar, ini karena istri sudah tidak bisa menerima saya lagi sebagai suami, dan pernah mengajukan khulu, karena menanggap takut tidak bisa berfungsi lagi sebagai istri. Latar belakang ini semua karena memang ternyata istri saya ketika menikah dulu dari awal tidak cinta kepada saya, bukan karena paksaan dari orang tua, tapi karena dia coba-coba, karena saya mengajukan lamaran dan dia menerimanya, yg sebelumnya dia pernah punya pacar tapi tidak mau diajak nikah.
Sejalan dengan pernikahan istri saya menyadari kalau memang tidak bisa memaksakan diri dan akhirnya dia mengajukan khulu, hmm selama pernikahan istri saya pernah ketahuan jalan dengan mantannya itu,dia minta maaf dan saya memaafkan karena ingat dengan anak dan saya juga mencintainya, nah terakhir dia ketauan bermain hati lagi dengan teman kantornya, dengan alasan memang sudah tidak bisa menerima saya lagi sebagai suaminya, dan sampai meminta khulu, awalnya saya tidak mengabulkan, tapi seiring saya melihat perkembangan, saya ikhlas, karena buat kebaikan dia juga takut semakin kufur, walau berat hati mengingat anak2 yang masih sangat kecil, (paling besar wanita 6 th, dan paling kecil laki-laki umur 3 th).
Orang tua dia tidak setuju dengan permintaan khulu istri saya, dan berharap saya untuk bersabar, tapi dari saya melihat memang selama pernikahan saya merasa kalau istri seperti terpaksa, walau saya yakin dia itu istri yang baik.
yang jadi pertanyaan, bagaimana saya harus bersikap, saya sendiri sudah ikhlas karena khawatir istri akan semakin kufur, tapi sementara orang tua meminta untuk bertahan, karena saya tau orang tua(mertua) khawatir dengan cucu-cucunya,
oh ya saya sudah utarakan ke istri kalau ikhlas n mengabulkan khulunya, nah apakah hukumnya dengan pernyataan tersebut, walau orangtua (mertua) tidak setuju. Odie dwitiap@yahoo.com
Jawab : Wa’alaikumussalam … Salah satu penyebab khulu’ pada masa Nabi saw, karena setelah menikah si istri tidak mencintainya. Atau bisa juga setelah beberapa tahun menikah ternyata si istri menjadi tidak suka (baca: cinta). Maka dalam islam jika terjadi seperti itu, tidak lantas istri memaksakan diri melayani suami, sekalipun si suami menyukainya. Disinilah adanya khulu’ yaitu mengembalikan kebun (mahar) kepada suami itu. Dengan kata lain cerai yang diajukan istri. Salah satu pertimbangan khulu’ adalah dikhawatirkan terjadi kekufuran istri terhadap suami yang merupakan dosa besar. Bahkan mungkin untuk kondisi spt sekarang adanya (maaf), main dibelakang! Kalau masalah anak itu sudah jelas tidak bisa dipisahkan dari kedua orang tua. Namun permasalahan yang ditimbulkan, suami seolah tidak punya istri dan begitupun sebaliknya. Maka dosa yang akan terus-menerus terjadi (terutama pihak istri). Kalau suami sudah menerima khulu’ (gugatan cerai) dari istri sekalipun mertua tidak menyetujuinya, tapi suami menerimanya, dengan sendirinya ikatan nikah anda sudah lepas. Lebih lanjut lihat pada soal jawab yang telah lalu tentang khulu’ pada bab.Nikah Allohu A’lam

Dikirim pada 08 Juni 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum Wr. Wb. Pak Ustad, saya ingin menanyakan kejadian yang menimpa saudara saya. Dia seorang laki-laki, sudah menikah (mereka menikah tanpa paksaan) dan dikaruniai 2 orang anak. Karena saudara saya mendapat pekerjaan di luar kota, maka tinggallah dia di luar kota. Istrinya tidak ikut ke luar kota karena dia dinas di puskesmas di Jakarta. Sebenarnya suaminya menyuruh si istri untuk tetap tinggal di rumah (rumah tersebut milik keluarga suami, yang kosong) yang sudah beberapa tahun mereka tempati di dekat tempat istrinya bekerja. Namun ibu mertuanya (ibu dari istrinya) menyuruh untuk tinggal bersama ibunya. Akhirnya si istri pindah ke rumah ibunya. Setiap mendapatkan cuti dari kantor saudara saya selalu menengok istri dan anak-anaknya. Pernah juga istri dan anak-anaknya diajak menginap di kota tempat suaminya bekerja. Setahun setelah saudara saya bekerja di luar kota, dia membeli mobil yang tujuan awalnya untuk dikendarai oleh istrinya bekerja. Di tahun kedua, istri mulai bertingkah aneh... kalau suaminya datang ke Jakarta menengoknya, si istri menghindar dan tidak mau disentuh oleh suaminya. Pada saat suaminya bertanya apa penyebabnya, si istri diam saja tidak menjawab. Pada suatu ketika saudara saya mempunyai firasat tidak enak mengenai istrinya, kemudian dia datang ke Jakarta dan mendapati istrinya menginap di sebuah hotel/wisma dengan menggunakan mobil yang dibeli oleh suaminya, sedangkan anak-anaknya ditinggal dirumah ibunya. Setelah suami istri ini berada di dalam mobil, suami bertanya apa keperluannya nginap di wisma dan dengan siapa, si istri tidak menjawab...bahkan si istri marah dan memaksa minta turun di jalan. Setelah istrinya turun di jalan, saudara saya menjemput anak-anaknya di rumah mertuanya dan membawa anak-ankanya ke kota tempat saudara saya bekerja dengan menggunakan mobil yang awalnya dibeli untuk istrinya. Beberapa bulan kemudian saudara saya menerima surat panggilan dari DepKes, karena istrinya mengajukan permohonan cerai. Karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal saudara saya baru bisa datang beberapa minggu kemudian setelah surat panggilan tersebut , namun pejabat Depkes tidak bisa ditemui saat itu. Akhirnya saudara saya membuat surat yang ditujukan ke pejabat Depkes yang intinya...apabila istrinya minta cerai, hendaknya segera dikabulkan.
Dua bulan setelah itu, saudara saya sakit parah yang membuatnya tidak bisa makan dan berat badannya terus menurun. Pada saat itu saudara saya keluar dari kerjaannya dan bersama kedua anaknya pulang ke rumah orang tuanya di Jakarta. Dalam keadaan sakit, si istri pernah 2 kali datang ke rumah orang tua saudara saya untuk mengambil anak-anaknya dengan cara yang tidak baik. Akhirnya anak pertama berusia 8 tahun tetap ikut bapaknya, anak ke dua berusia 6 tahun ikut ibunya. Saat si istri datang dan melihat suaminya dalam keadaan sakit, tidak sedikitpun dia menanyakan kesehatan suaminya. Beberapa bulan kemudian saudara saya mendapat surat panggilan lagi dari Depkes untuk dimintai keterangan sehubungan permintaan cerai istrinya...Namun karena penyakit yang diderita saudara saya bertambah parah (tidak bisa bangun dari tempat tidur), maka saudara saya tidak memenuhi panggilan tersebut.
Empat bulan kemudian saudara saya meninggal dunia. Dan sampai saat ini belum ada surat cerai dari Pengadilan Agama. Saat ini anak yang berusia 8 tahun tinggal dengan adik kandung almarhum.
Yang ingin saya tanyakan adalah :
1. Apakah si perempuan ini masih layak disebut sebagai istri almarhum, mengingat sejak suaminya masih sehat perempuan ini sudah mengajukan permohonan cerai, hanya karena dia seorang dokter maka dia harus minta ijin dari Depkes lebih dulu. Dan selama suaminya sakit parah dia tidak pernah merawat suaminya.
2. Apakah perempuan ini masih berhak atas mobil dan tabungan milik almarhum atau haknya jatuh ke anaknya.
Mohon kiranya Pak Ustad bisa memberi masukan untuk kami. Terima kasih sebelumnya.
Wassalamu`alaikum Wr.Wb. Paulita Ita
Jawab : Wa’alaikumussalam wr.wb. Pertama, selama belum jatuh thalaq dari suami, maka secara hukum dia masih sah sebagai istrinya. Mengenai tidak merawat (melaksanakan kewajibannya) terhadap suami, itu merupakan dosa bagi istri tersebut. Kedua, masalah mobil (kendaraan), jika hal itu diberikan untuk istrinnya maka itu haknya, tapi jika mobil itu dibeli suami untuk kepentingan istri, maka kendaraan itu merupakan waritsan dari suami untuk para ahli warits suami. Diantara ahli warits itu adalah istri dan anak-anaknya. Begitupun harta peninggalan yang lainnya termasuk tabungan. Allohu A’lam

Dikirim pada 24 Mei 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum …. Ustadz Abu Alifa terima kasih atas berbagai blog yang ditampilkan dalam FB ustadz. Hal tersebut sangat membantu sekali bagi saya yang masih awam dalam memahami sebagain dari syariat Islam. Sebelumnya saya mohon maaf, ada yang hendak saya tanyakan kepada ustadz, yaitu mengenai Jaban Tangan saat ijab qabul pernikahan. Apakah hal itu dicontohkan oleh Nabi saw? Apakah hukum nikah sah atau tidak jika tanpa jabat tangan saat ijab qabul? Wassalam HER. Yogyakarta
Jawab : Wa’alaikumussalam… secara pribadi saya belum mendapatkan dalil atau keterangan yang mengharuskan Ijab Qabul itu mesti berjabat tangan. Mungkin itu hanya tradisi saja. Jadi secara hukum sah nikah tersebut, sekalipun tanpa jabat tangan disaat ijab qabulnya. Allohu A’lam

Dikirim pada 24 Mei 2012 di Bab. Nikah
Awal « 2 3 4 5 6 7 8 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.744.265 kali


connect with ABATASA