0


Tanya : Assalamu’alaikum … pak ustadz Abu Alifa yang saya hormati. Benarkah bahwa berhubungan suami istri itu berpahala bagi keduanya? KL Medan
Jawab : Wa’alaikumussalam … Dalam sebuah hadits Nabi saw pernah bersabda :
….”وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرً
"Dan pada kemaluan (bercampur/jima’) kalian terdapat sedekah. Mereka (para sahabat) bertanya, Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang menyalurkan syahwatnya akan mendapatkan pahala?` Beliau bersabda, `Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan pada tempat yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala." (HR. Muslim dari Abu Dzar ra)
Dengan demikian bercampurnya suami istri berpahala! Allohu A’lam

Dikirim pada 13 April 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum pak ustadz sebenarnya kedudukan melamar perempuan dalam Islam itu bagaimana? Apakah jika tidak melamar dulu dan langsung aqad nikah dibolehkan?
Jawab : Wa’alaikumussalam .. Dalam Al-Quran sebenarnya sudah disinggung adanya masalah melamar atau meminang (khitbah).
وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِۦ مِنْ خِطْبَةِ ٱلنِّسَآءِ أَوْ أَكْنَنتُمْ فِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِن لَّا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّآ أَن تَقُولُوا۟ قَوْلًۭا مَّعْرُوفًۭا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا۟ عُقْدَةَ ٱلنِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ ٱلْكِتَٰبُ أَجَلَهُۥ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ فَٱحْذَرُوهُ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌۭ
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita (yang suaminya telah meninggal dan masih dalam ‘iddah) itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf (sindiran yang baik). Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis ‘iddahnya. (QS.2 : 235)
Khitbah atau melamar, meski bagaimanapun tak lebih hanya untuk menguatkan dan memantapkannya atau menentukan waktu untuk melaksanakan akad nikah saja. Dan khitbah bagaimanapun keadaannya tidak akan dapat memberikan hak apa-apa kepada si peminang melainkan hanya dapat menghalangi lelaki lain untuk meminangnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Tidak boleh salah seorang diantara kamu meminang pinangan saudaranya.” (Muttafaq ‘alaih)
Karena itu, yang penting dan harus diperhatikan di sini bahwa wanita yang telah dipinang atau dilamar tetap merupakan orang asing (bukan mahram) bagi si pelamar sampai terjadinya aqad nikah.
Melamar atau khitbah diibaratkan sebagai sebuah tangga yang bias saja dilewati, jika mampu untuk loncat atau naik keatas. Artinya jika ia datang dan langsung aqad nikah, maka tentu hal tersebut tidak menyalahi syariat. Dengan catatan kedua belah pihak setuju untuk dilangsungkan aqad nikah. Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Maret 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum … pak Abu Alifa, bagaimana jika suami menceraikan (menthalaq) istrinya pada sedang hamil, apakah thalaq yang dijatuhkannya sah atau tidak? Trims … Wassalamu’alaikum
Jawab : Wa’alaikumussalam… Allah swt berfirman :
Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS.Ath-Thalaq 4)
Ayat diatas memberikan pemahaman bahwa jika suami menthalaq istri yang dalam kondisi hamil, maka thalaqnya sah. Dan iddah istri yang dithalaqnya adalah sampai melahirkan. Artinya si istri tidak boleh menikah (lagi) dengan yang lain selama masih mengandung. Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Desember 2012 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum … ustadz Abu Alifa yang saya hormati, jika saya membuka internet tidak lepas membuka blog yang ustadz asuh, sebab saya merasa ada sesuatu yang membantu dalam mendalami syariat Islam. Tetapi karena belum saya temukan orang yang bertanya yang ada kaitannya dengan masalah yang saya alami, maka saya ikut “nimrung” bertanya. Begini ustadz Abu, saya seorang suami beristri 2 (berpoligami). Yang jadi ganjalan saya adalah saat melangsungkan aqad nikah yang kedua, saya tidak pernah memberitahu dan meminta idzin akan nikah lagi. Bagaimana hukum yang saya lakukan, apakah melanggar hokum atau bagaimana? Bagimana kalau istri pertama saya tahu dan meminta pisah? Trims (farh_aem@ymail.com)
Jawab : Wa’alaikumussalam … Ta’addud (poligami) merupakan syariat yang tertuang dalam Al-Quran :
Artinya : “Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa : 3)
Dalam ayat tersebut ada perintah “menikah” hal itulah yang pokok dalam ayat tersebut. Sedangkan ta’addud (dua, tiga atau empat) istri merupakan sebuah pilihan, sebab dalam ayat selanjutnya dijelaskan jika dikhawatirkan tidak berlaku adil serta dzalim, maka tetaplah nikah dengan satu istri. Artinya poligami (ta’addud) bukanlah sebuah kewajiban didalam islam namun bagi siapa yang memiliki kemampuan untuk melakukannya tanpa berbuat zhalim didalamnya maka dibolehkan baginya berpoligami. Sebaliknya bagi siapa yang tidak mampu berlaku adil atau akan berbuat zhalim jika dirinya berpoligami maka hendaklah tidak menambah isterinya lebih dari satu.
Secara hukum tidaklah ada keharusan bagi seorang suami jika hendak menikah dengan yang kedua mendapatkan ridho (idzin) dari isteri pertamanya. Akan tetapi diantara keutamaan akhlak dan kebaikan didalam mu’asyarah (pergaulaan suami isteri) adalah meminimalisir dampaknya serta meringankan sakit hatinya yang merupakan tabiat para wanita dalam perkara seperti ini, maka hal ini tentu amatlah baik untuk dimusyawarahkan dan member pengertian kepada istri (pertama) kita. Memang menjadi tabiat wanita adanya kecemburuan didalam dirinya ketika terdapat wanita selainnya di dalam kehidupan rumah tangganya. Akan tetapi hendaklah dirinya tidak dikuasai oleh kecemburuannya itu untuk melanggar apa-apa yang telah disyariatkan Allah swt. Jadi tidak seharusnya bagi isteri anda menuntut perceraian dikarenakan poligami anda karena alasan semacam ini bukanlah yang dibenarkan baginya. Berilah pengertian kepada istri alasan yang sebenarnya ta’addud anda.
“Siapapun istri yang meminta cerai kepada suaminya bukan karena kesalahan, maka diharamkan baginya harumnya surga” (Abu Dawud). Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Desember 2012 di Bab. Nikah
Awal « 1 2 3 4 5 6 7 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 3.173.212 kali


connect with ABATASA