0


Tanya : Assalamu`alaikum... Pak Ustadz Abu Alifa, apakah ada syariatnya dalam pernikahan itu ada penyematan cincin pernikahan? Wassalam TKY dan 6 orang lainnya dengan inti pertanyaan sama.
Jawab : Wa’alaikumussalam... Pemakaian cincin kawin tidak dikenal dalam Islam, meski cincin itu bukan dari emas. Ini lebih merupakan produk budaya kelompok masyarakat tertentu. Sebagian ulama mengatakan bahwa cincin kawin itu berasal dari budaya barat (baca kafir).
Bahkan secara khusus ada yang mencatat bahwa cincin kawin berasal dari tradisi orang-orang Nasrani. Ketika pengantin pria memasang cincin di ibu jari pengantin putri, dia mengatakan, “Dengan nama Bapa,” lalu cincin tadi dipindahkannya ke jari telunjuk seraya berkata, “Dengan nama Tuhan Anak,” kemudian dipindahkannya ke jari tengah seraya mengatakan, “Dengan nama Roh Kudus,” dan terakhir kalinya dia pindahkan cincin tersebut ke jari manis seraya mengucapkan, “Aamiin.”
Dalam sebuah hadits dijelaskan
قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : " من تشبه بقوم فهو منهم " رواه الطبراني في الأوسط عن حذيفة - يعني ابن اليمان - و أبو داود عن ابن عمر - رضي الله عنهما
Siapa yang menyerupai (dalam ibadah) kepada satu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.(HR.Ath-Thabrani dari Hudzaifah Ibn al-Yaman, dan Abu Dawud dari Ibn Umar)
Memang ada hadits yang menyebutkan bahwa salah satu bentuk mahar adalah cincin meskipun hanya terbuat dari besi.
Rasulullah SAW bersabda, ”Berikanlah mahar meski hanya berbentuk cincin dari besi”.
Akan tetapi hadits ini tidak mengisyaratkan adanya bentuk tukar cincin antar kedua mempelai, tapi lebih merupakan anjuran untuk memberi mahar meski hanya sekedar cincin dari besi. Jadi bukan cincin kawin yang dimaksud. Dan cincin dari besi itu diberikan pihak laki-laki sebagai mahar /mas kawin kepada pihak isteri. Sedangkan pihak isteri tidak memberi cincin itu kepada laki-laki. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 April 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum ... ustadz Abu Alifa ... saya baru di khitbah oleh seorang pria yang menurut saya calon itu memenuhi syarat terutama saya ketahui bahwa caon itu seorang yang suka menyampakai kajian (mubaligh). Akan tetapi sebagai seorang wanita kebanyakan (entahlah yang lain) saya tidak bersedia jika seandainya nanti, saya mempunyai "madu". Hal ini bukan saya tidak tahu bahwa suami dibenarkan lebih dari satu istri. Yang ingin saya ketahui, bagaimana pandangan ustadz jika saya berbicara melalui orang tua untuk disampaikan kepada calon suami saya, bahwa salah satu syarat meniakhi saya tidak diperkenankan suami menikah lagi. Apakah hal tersebut dibenarkan? PS
Jawab : Wa`alaikumussalam ... Ukhty PS, jangan berkesimpulan bahwa mubaligh senantiasa melakukan "taaddud" (bersitri lebih dari satu), sebab taaddud (poligami) itu dikaitkan dengan kemampuan yang akan melaksanakannya. Sekalipun dorongan melaksanakan poligami antara satu dengan yang lain berbeda.
Mengenai hal yang ditanyakan, ada dua pendapat dikalangan para ulama. Pendapat pertama membolehkan seorang calon istri mensyaratkan hal itu, dan kalau suami nanti melanggarnya maka si istri berhak menuntut fasakh pernikahannya (nikahnya batal) dan ia berhak menuntut dipenuhi semua haknya. Diantara yang berpendapat bolehnya mensyaratkan adalah para fuqaha dikalangan madzhab Hambali seperti misalnya Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Utsaimin, dll. Pendapat ini dipegang juga oleh sebagian shahabat diantaranya Umar bin Al-Khaththab, Abdullah bin Mas’ud, Sa’ad bin Abi Waqqash, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Dari kalangan tabi’in: Syuraih Al-Qadhi, Umar bin Abdul Aziz, Al-Laits bin Sa’d, Thawus, Az-Zuhri, Al-Auza’I, serta Sa’id bin Jubair.
Sedangkan pendapat kedua tidak membolehkan seorang wanita atau keluarganya menetapkan syarat dalam aqad nikah agar si wanita tidak dipoligami/dimadu.
Diantara para ulama yang berpendapat seperti ini adalah para fuqaha dari kalangan Hanafi, Maliki dan Syafi’i. Pendapat ini dinisbatkan juga kepada Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas serta sebagian fuqaha Tabi’in semisal Sa’id bin Al-Musayyib (Musayyab?), ‘Atha, Asy-Sya’bi, Ats-Tsauri, Al-Hasan Al-Bashri serta Ibrahim An-Nakha’i.Tidak ketinggalan Ibnu Hazm sebagai wakil dari kalangan madzhab Zhahiri ikut berbaris di sini.
Hemat kami syarat perempuan atau dari walinya yang tidak mau dimadu diboleh. Artinya (calon) Istri atau melalui walinya berhak dan boleh meletakkan syarat atas (calon) suami agar tidak dimadu alias suami tidak berpoligami, syarat seperti ini sah, tidak bertentangan dengan dibolehkannya atau disyariatkannya poligami, karena syarat ini hanya membatasi bukan melarang, suami tetap boleh menikah lagi dengan wanita kedua atau ketiga, tetapi karena istri pertama tidak mau, maka dia harus melepasnya, silakan suami menerima atau tidak, kalau suami menerima maka dia harus memegang syarat tersebut, kalau tidak menerima maka seorang laki-laki bisa beralih untuk meminang wanita yang lain.
عن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم { إن أحق الشروط أن توفوا به : ما استحللتم به الفروج }
Dari Uqbah bin Amir radhiuallahu anhu berkata. Bersabda Rasulullah saw. Syarat-syarat yang paling berhak untuk dipenuhi adalah syarat yang menghalalkan kemaluan (dalam pernikahan) (Bukhari: 2721 dan Muslim: 1418)
Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata: “Jika seorang istri memberikan syarat agar tidak dibawa keluar dari rumahnya atau dibawa keluar negeri atau ditinggal jauh atau melakukan poligami, maka suami harus memenuhinya, dan jika ia tidak memenuhinya maka istri berhak untuk memutus ikatan pernikahannya, pendapat ini diriwayatkan dari Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Amr bin ‘Ash –radhiyallahu ‘anhum-. (Al Mughni: 9/483) Allohu A’lam

Dikirim pada 28 Maret 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum ... Ustadz Abu Alifa Shihab yang saya hormati. Sebelumnya saya minta maaf jika pertanyaan ini kurang pas atau kurang sopan. Biasanya saya mengalami haid itu satu minggu, sehingga pada waktu itu tentu tidak boleh bercampur dengan suami saya. Namun karena dorongan sek yang begitu kuat dari suami, ia meminta saya untuk mempermainkan (mengocok) alat vitalnya dengan tangan saya sampai mencapai orgasme. Apakah hal tersebut terlarang? BV
Jawab : Wa`alaikumussalam ... Sekalipun sedang dalam kondisi haid jika sudah menjadi suami istri seluruh anggota tubuh termasuk alat vital halal untuk disentuh, dipegang, termasuk yang ibu maksud. Yang dilarang adalah bercampur atau melakukan penetrasi alat vital suami ke bagian alat vital istri.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, Haid itu adalah suatu kotoran.Oleh karena itu hendaklah engkau menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sampai mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu” (QS. A-Baqarah: 222)
Sedangkan istri memegang atau mengocoknya dengan tangan alat vital, sampai suami mencapai "puncak"nya, hal tersebut tidak ada larangan.

Seorang shahabat benama Anas bin Malik pernah menceritakan saat Nabi ditanya tentang bagaimana hubungan suami dengan istri yang sedang dalam kondisi haid.
Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, Lakukanlah segala sesuatu terhadap isterimu kecuali jima (penetrasi). (Shahih Ibnu Majah no:527, Muslim I:246 no 302). Allohu A`lam

Dikirim pada 27 Maret 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum warahmatullahi wa barakatuh ... kami sekeluarga di Kuningan mendo`akan semoga ustadz Abu Alifa diberi kesehatan. Maaf ustadz, saya mendapatkan nasihat dari beberapa "sepuh" bahwa jangan melakukan hubungan badan di 3bulan kehamilan saya, yang jadi alasannya karena kebetulan hamil saya yang pertama dikhawatirkan terjadi keguguran. Sebenarnya dalam Islam itu bagaimana mengenai hal ini ustadz. Syukran TR Kuningan
Jawab : Wa`alaikumussalam wa rahmatullahi- wabaraokatuh ... Aamiin! Pada dasarnya tidak ada larangan dalam Islam suami istri melakukan hubungan (bercampur) saat istri hamil.Yang dilarang melakukan hubungan suami istri adalah manakala istri sedang dalam kondisi haidh atau nifas. Sekalipun kapan saja termasuk dalam kondisi hamil dibenarkan berhubungan, maka tentu kita (terutama suami) harus melihat kondisi sang istri diantaranya kesehatannya. Baik kesehatan istri maupun yang dikandungnya atau akibatnya. Apalagi jika menurut pemeriksaan ahli berhubungan itu akan mengakibatkan keberlangsungan janin.
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
"...Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf" (QS. Al-Baqarah: 228)
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
"...Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut". (An-Nisa`: 19)

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي .أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ.
Dari ummul-mukminin Aisyah rhadiyallahu anha berkata. Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (istri)nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)ku". (HR.Tirmidzi)
Sebaiknya konsultasikan dengan ahlinya jika ibu merasa khawatir dengan kondisi janin yang ada didalam rahim saat berhubungan. Hal tersebut untuk meyakinkan ibu, apakah akan ada efek samping jika melakukan hubungan dengan suami. Akan tetapi pada dasarnya dalam Islam tidak ada larangan melakukan hubungan (bercampur) dalam kondisi istri sedang hamil. Allohu A`lam

Dikirim pada 26 Februari 2015 di Bab. Nikah
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 3.086.332 kali


connect with ABATASA