0


Tanya : Assalamu`alaikum … pak Abu Alifa Shihab yang saya hormati. Begini pak, diantara saudara kami banyak yang masih kekurangan dari sisi ekonomi. Apakah dibenarkan kita menyalurkan zakat (termasuk zakat fitrah) kepadanya? Syukran
Jawab : Wa`alaikumussalam … dalam ayat Al-Quran Allah swt melalui firmannya telah merinci golongan-golongan yang berhak menerima zakat (shadaqah). Ada yang untuk dirinya ada juga untuk membebaskan beban dirinya.
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu`allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS.9 : 60)
Maka jika orang tersebut termasuk dalam 8 asnaf diatas, maka tentu ia berhak untuk menerima bagian dari zakat, termasuk kerabat ibu tersebut bahkan termasuk kepada suami jika termasuk kategori diatas. Hanya jumhur ulama membatasi bahwa bagi suami tidak dibenarkan memberikan zakat kepada tanggungannya. Jumhur ulama menjelaskan bahwa yang menjadi tanggungan itu adalah anak, istri dan orang tua. Sedang bagi istri dibenarkan zakat ataupun shadaqah kepada suaminya.
Dari Abu Sa`id Al Khurdri ra; Rasulullah saw keluar menuju lapangan tempat shalat untuk melaksanakan shalat `Iedul Adhha atau `Iedul Fithri. Setelah selesai Beliau memberi nasehat kepada manusia dan memerintahkan mereka untuk menunaikan Zakat seraya bersabda: "Wahai manusia, bershadaqahlah (berzakat lah)." Kemudian Beliau mendatangi jama`ah wanita lalu bersabda: "Wahai kaum wanita, bershadaqahlah. Sungguh aku melihat kalian adalah yang paling banyak akan menjadi penghuni neraka." Mereka bertanya: "Mengapa begitu, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Kaliankufur terhadap suami dan kebaikannya". Tidaklah aku melihat orang yang lebih kurang akal dan agamanya melebihi seorang dari kalian, wahai para wanita". Kemudian Beliau mengakhiri khuthbahnya lalu pergi. Sesampainya Beliau di tempat tinggalnya, datanglah Zainab, isteri Ibu Mas`ud meminta izin kepada Beliau, lalu dikatakan kepada Beliau; "Wahai Rasulullah saw, ini adalah Zainab". Beliau bertanya: "Zainab siapa?". Dikatakan: "Zainab isteri dari Ibnu Mas`ud". Beliau berkata,: "Oh ya, persilakanlah dia". Maka dia diizinkan kemudian berkata,: "Wahai Nabi Allah, sungguh anda hari ini sudah memerintahkan shadaqah (Zakat ) sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak menZakat kannya namun Ibnu Mas`ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini. Maka Nabi saw bersabda: "Ibnu Mas`ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih barhak kamu berikan shadaqah." (H.R. Bukhari)
Bahkan jika kita memberikan zakat (shadaqah) kepada kerabat kita (tentu yang termasuk 8 asnaf itu), maka ada dua kebaikan yang kita raih, yaitu pahala menyambung kekerabatan (silaturahim), dan pahala zakatnya (HR.Bukhary). Allohu A`lam

Dikirim pada 09 Agustus 2012 di Bab. Perzakatan



Tanya : Assalamu’alaikum… Pak ustadz Abu yang saya hormati. Nama saya Defa dari Banten. Yang ingin saya tanyakan adalah berkenaan dengan shadaqah. Bolehkah suami memberikan shadaqah kepada istrinya, atau anaknya dan juga sebaliknya istri memberikan shadaqah kepada suami dan anaknya?
Jawab : Wa’alaikumussalam, menyalurkan/memberikan shadaqah atau zakat, bukanlah ditentukan kepada orang jauh atau kerabat, melainkan kepada orang yang membutuhkan atau yang berhak menerimanya yakni yang 8 golongan itu (lihat QS.At-Taubah 60). Terlebih diantara yang delapan golongan itu merupakan keluarga kita. Dan tentu yang diberikan itu shadaqah wajib (zakat) maupun shadaqah sunnat.
Bahkan jika kita memberikannya kepada kaum kerabat terkandung dua pahala, sebagaimana hal ini pernah ditanyakan oleh Zainab istri Abdullah ra. Kepada Nabi saw :
“… Ya Rasulullah, apakah cukup (sah) jika aku memberikan shadaqah kepada suami dan kepada anak yatim yang ada dalam tanggunganku? Rasulullah saw bersabda : (Tentu) baginya bahkan dua pahala, (yaitu) pahala atas shadaqahnya dan pahala (membantu) keluarga (HR.Bukhary Muslim dan lainnya).
Dalam riwayat lain bahwa “shadaqah yang diberikan kepada miskin, (pahalanya) satu shadaqah, sedangkan kepada (miskin dari) kerabat, ada dua (yaitu) shadaqahnya dan (pahala) hubungan silaturahimnya” (HR.Ibn Majah). Allohu A’lam

Dikirim pada 27 Februari 2012 di Bab. Perzakatan
25 Nov


Tanya : pa ustadz yang sy mulyakan...! sy mau tanya: kalo bersedekah katanya kita harus ikhlas, tidak boleh ria, tetapi sy dengar pernyataan bahwa bersedekah boleh ria asal pada bulan maulid, bagaimana apakah benar begitu? terima kasih. RATNA WATI
Jawab : Dalam semua ibadah termasuk ibadah shadaqah, jika ingin diterima amal tersebut, maka salah satu unsure yang harus ada adalah unsure ikhlas. Ikhlas tidak mengenal waktu atau bulan. Mungkin yang dimaksud itu bukan boleh riya, tapi boleh terang-terangan. sebab shadaqah itu boleh secara sembunyi (tidak diketahui oleh yang lainnya) tapi tetap unsure ikhlas harus ada. Sebab ikhlas itu letaknya dalam hati. Di bulan apapun shadaqah boleh dilakukan dengan terang-terangan, boleh secara sembunyi dan harus ikhlas. Allohu A`lam

Dikirim pada 25 November 2011 di Bab. Perzakatan



Tanya : Bismillah …Assalamu`alaikum ustadz. Mw tanya mengenai zakat perhiasan [emas/perak] . Kan wajib dikeluarkan zakat.y 2.5% ,, itu maksud.y 2.5% per gram atau 2.5% dari uang yg qta kluarkan untuk membeli emas tsb ?? Hatur nuhun tadz sateuacana.qta kluarkan untuk membeli emas tsb ?? Hatur nuhun tadz sateuacana. Gradasi

Jawab : Wa`alaikumussalam, Zakat perhiasan yang dikeluarkan adalah 2,5 % dari harga yang dibelanjakan untuk emas/perak. Jika kita membeli emas seharga Rp. 6.000.000, maka zakatnya adalah 2,5% dari Rp. 6.000.000. tersebut. Allahu A`lam

Dikirim pada 14 Oktober 2011 di Bab. Perzakatan
Awal « 1 2 3 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.786.645 kali


connect with ABATASA