0


Tanya : Assalamu`alaikum pak ustadz Abu Alifa ...! Hanya satu yang saya tanyakan, apakah sah shalat idul fitri dilakukan pada hari kedua dibulan syawal? TG
Jawab : Wa`alaikumussalam ... Jika hal itu dikarenakan informasi tentang jatuhnya awal bulan/hilal (Syawal) terlambat, maka tentu sama kasusnya seperti pada masa Nabi saw.
عَنْ أَبِي عُمَيْرِ بْنِ أَنَس عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنَ اَلصَّحَابَةِ أَنَّ رَكْبًا جَاءُوا فَشَهِدُوا أَنَّهُمْ رَأَوُا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ فَأَمَرَهُمْ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُفْطِرُوا وَإِذَا أَصْبَحُوا يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ
Dari Abu Umair bin Anas Radliyallaahu ‘anhu dari paman-pamannya di kalangan shahabat bahwa suatu kafilah telah datang, lalu mereka bersaksi bahwa kemarin mereka telah melihat hilal (bulan sabit tanggal satu), maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar berbuka dan esoknya menuju tempat sholat mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa, keterlambatan berita hilal yang baru diketahui esok harinya. Maka saat mendapat informasi itu Nabi saw memerintahkan untuk membatalkan shaumnya, karena sudah masuk 1 Syawal, akan tetapi Nabi saw melaksanakan shalatnya (Ied), keesokan harinya (tanggal 2 Syawal).
Imam As-Shan`ani berpendapat bahwa hadits tersebut diatas merupakan dalil bahwa pelaksanaan shalat Ied boleh dilakukan pada hari kedua dibulan Syawal hal ini karena informasi datangnya berita "hilal" sudah lewatnya waktu pelaksanaan shalat ied (Subulu as-Salam 2/64). Allohu A`lam

Dikirim pada 06 Agustus 2015 di Bab. Sholat


Tanya : Bismillah ... Ustadz Abu Alifa, selama ini yang ana lakukan dalam shalat dhuhur dan ashar, ataupun dua rakaat terakhir yang jumlah rakaat dalam shalat wajib itu lebih dari dua rakaat, bacaan shalatnya adalah hanya membaca surat al-fathihah. Akan tetapi ditempat pegajian ada seorang mubaligh yang membahas masalah ini bahwa ada haditsnya juga setelah al-fathihah dicontohkan membaca lagi surat yang lain. Artinya beliau membolehkannya. Bagaimana pandangan ustadz Abu Alifa mengenai hal ini? Hatur Nuhun MD Pangandaran
Jawab : Apa yang bapak MD lakukan dalam shalat dhuhur dsb yang hanya membaca surat al-fathihah di dua rakaat terakhir, berdasarkan beberapa keterangan diantaranya :
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَال : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنْ صَلاةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ , يُطَوِّلُ فِي الأُولَى , وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ , وَيُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَاناً ، وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ فِي الأُولَى , وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ . وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى مِنْ صَلاةِ الصُّبْحِ , وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ
Dari Abi Qatadah al-Anshary radhiyallahu anh berkata. Bahwa Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam membaca di dua rakaat pertama shalat dhuhur surat al-fathihah dan dua surat yang lain, (cukup) panjang dirakaat pertama, dan memendekkan di rakaat kedua (suratnya), dan terkadang kedengaran bacaannya. Dan beliau juga membaca di shalat Ashar al-fatihah dan dua surat, begitupun rakaat pertama panjang bacaannya, dan mengurangi (panjang) dirakaat kedua. Dan di dua rakaat akhir (hanya) membaca surat al-fatihah. Dan keadaan Nabi-pun membaca surat yang panjang dirakaat awal shalat shubuh dan mengurangi (panjangnya) dirakaat kedua (HR.Bukhari Muslim)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ وَأَبَانُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا وَيَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
"...Dari Abi Qatadah dari bapaknya, bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam membaca di dua rakaat pertama shalat dhuhur dan ashar dengan al-afathihah dan surat (yang lainnya), bahkan terkadang suka diperdengarkan bacaan ayat-ayat itu. Dan beiau (hanya) membaca di dua rakaat terakhir dengan al-fathihah (HR.Muslim)

"...أن ابن مسعود كان يقرأ في الظهر والعصر في الركعتين الأوليين بفاتحة الكتاب وما تيسر وفي الأخريين بفاتحة الكتاب
Sesungguhnya Ibnu Mas`ud membaca dalam shalat dhuhur dan ashar di dua rakaat pertama al-fatihah dan (surat) yang mudah (hafal selain al-fatihah). Dan di dua rakaat terakhir hanya membaca al-fatihah (Ibn Abi Syaibah)
Sedangkan yang "membolehkan" membaca surat selain al-fatihah didua rakaat akhir, diantaranya didasarkan pada keterangan :

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه ، قال : كنا نحزر قيام رسول الله صلى الله عليه وسلم في الظهر والعصر ، فحزرنا قيامه في الركعتين الأوليين من الظهر قدر قراءة : الم تنزيل السجدة - وفي رواية - : في كل ركعة قدر ثلاثين آية ، وحزرنا قيامه في الأخريين قدر النصف من ذلك ، وحزرنا في الركعتين الأوليين من العصر على قدر قيامه في الأخريين من الظهر ، وفي الأخريين من العصر على النصف من ذلك ، رواه مسلم

Dari Abi Sa`id al-Khudri radhiyallahu anh berkata : Kami memperhatikan berdirinya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di shalat dhuhur dan ashar. Kami perhatian berdirinya beliau di dua rakaat pertama dhuhur seukuran membaca (surat) alif lam mim tanzil as-Sajdah- dalam satu riwayat- tiap rakaat seukuran 30 ayat- dan kami perhatikan lamanya berdiri didua rakaat akhir setengahnya dari dua rakaat pertama. Sedangkan kami perhatikan lamanya berdiri dalam shalat ashar di dua rakaat pertama seukuran lamanya dua rakaat akhir shalat dhuhur. Dan lamanya dua rakaat akhir shalat ashar setengahnya dari dua rakaat pertamanya. (HR.Muslim)
Dengan demikian sebagian ulama membolehkan membaca di dua rakaat terahir untuk shalat dzuhur dan ashar lebih dari surat al-Fatihah. Ini termasuk perbedaan pendapat ulama yang sifatnya mubah. Bukan perbedaan yang satu hukumnya terlarang dan yang satu mubah. Boleh saja di dua rakaat terakhir, pada masing-masing rakaat seseorang membaca al-Fatihah saja. Boleh juga di dua rakaat terakhir dia tambahi dengan surat lain setelah al-Fatihah (lihat Ibnu Khuzaimah1/256) . Allohu A`lam

Dikirim pada 17 April 2015 di Bab. Sholat


D. "Hisbah" Para Shahabat Tentang Qashar
1. IBNU ABBAS RA

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، وَحُصَيْنٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ أَقَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم تِسْعَةَ عَشَرَ يَقْصُرُ، فَنَحْنُ إِذَا سَافَرْنَا تِسْعَةَ عَشَرَ قَصَرْنَا، وَإِنْ زِدْنَا أَتْمَمْنَا‏



Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma`il berkata, telah menceritakan kepada kami Abu `Awanah dari `Ashim dari Hushain dari `Ikrimah dari Ibnu `Abbas radliallahu `anhuma berkata: "Nabi shallallahu `alaihi wasallam pernah menetap (dalam bepergian) selama sembilan belas hari dengan mengqashar (meringkas) shalat. Maka kami bila bepergian selama sembilan belas hari mengqashar solat. Bila lebih dari itu, kami menyempurnakan shalat. (Shahih Bukhary "Kitabu al-Taqshir")

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَابْنُ، بَشَّارٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ مُوسَى بْنِ سَلَمَةَ الْهُذَلِيِّ، قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ أُصَلِّي إِذَا كُنْتُ بِمَكَّةَ إِذَا لَمْ أُصَلِّ مَعَ الإِمَامِ ‏.‏ فَقَالَ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ أَبِي الْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم

"...Aku (Musa bin Salamah) pernah bertana kepada Ibnu Abbas, bagaimana kaifiyat (jika) aku shalat di Makkah jika tidak berjamaah (dengan penduduk/Imam Makkah)? Beliau (Ibn Abbas) menjawab : (Shalatlah) dua rakaat, sebab itu merupakan sunnah Abi Qasim (Nabi) saw. (Shahih Muslim bab Shalat Musafirin wa Qashriha)

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ سَافَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَفَرًا فَصَلَّى تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنٍ ‏.‏ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَنَحْنُ نُصَلِّي فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ تِسْعَ عَشْرَةَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فَإِذَا أَقَمْنَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا

"...Dari Ibnu Abbas ra, berkata. Rasululllah saw telah berangkat dalam satu bepergian, maka beliau shalat (tidak hentinya) dua rakaat-dua rakaat selama 19 hari. Berkata (berpendapat) Ibnu Abbas , "Maka kami jika shalat (dalam safar) sampai 19 hari, kami shalat dua rakaat-dua rakaat, tapi lebih dari itu, maka (selebihnya) kami shalat 4 rakaat (Jami` at-Tirmidhi 548)

2. IBNU UMAR RA

أَخْبَرَنِي أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا الْعَلاَءُ بْنُ زُهَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا وَبَرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُصَلِّي قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا ‏.‏ فَقِيلَ لَهُ مَا هَذَا قَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ

Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Yahya dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Nu`aim dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al `Ala bin Zuhair dia berkata; telah menceritakan kepada kami Wabarah bin `Abdurrahman dia berkata; "Shalat Ibnu Umar dalam Safar (perjalanan) tidak pernah melebihi dua raka`at, dan dia tidak mengerjakan shalat sunnah sesudah maupun sebelumnya. Lalu Ibnu Umar ditanya, "Apa ini? ` Ia menjawab; `Begitulah, aku melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam melakukannya (Sunan An-Nasa`i 1456)

أَخْبَرَنِي نُوحُ بْنُ حَبِيبٍ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ، كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ فِي سَفَرٍ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى طِنْفِسَةٍ لَهُ فَرَأَى قَوْمًا يُسَبِّحُونَ قَالَ مَا يَصْنَعُ هَؤُلاَءِ قُلْتُ يُسَبِّحُونَ ‏.‏ قَالَ لَوْ كُنْتُ مُصَلِّيًا قَبْلَهَا أَوْ بَعْدَهَا لأَتْمَمْتُهَا صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى الرَّكْعَتَيْنِ وَأَبَا بَكْرٍ حَتَّى قُبِضَ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ - رضى الله عنهم - كَذَلِكَ

Telah mengabarkan kepadaku Nuh bin Habib dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa`id dia berkata; telah menceritakan kepada kami `Isa bin Hafsh bin `Ashim dia berkata; bapakku telah menceritakan kepadaku, dia berkata; "Aku pernah bersama Ibnu Umar dalam suatu perjalanan. Dia mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar dua raka`at, kemudian pergi ke tikarnya. Setelah itu ia melihat suatu kaum yang sedang bertasbih, maka dia berkata, `Apa yang sedang mereka perbuat? ` Aku menjawab, `Mereka sedang bertasbih`. Dia berkata lagi, `Seandainya aku shalat sebelum dan sesudahnya, maka aku pasti menyempurnakannya. Aku pernah menemani Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, dan beliau dalam perjalanan tidak pernah shalat lebih dari dua raka`at. Begitu pula Abu Bakar hingga wafat, Umar, serta Utsman Radliallahu`anhum (Sunan An-Nasa`i 1457)


وقال النافع : أقام ابن عمر بأدربيجان ستة أشهر يصلى ركعتين وقد حال الثلج بينه و بين الدخول

Nafi` berkata : Ibnu Umar pernah menetap di Adribaizan selama enam bulan, ia senantiasa shalat dua rakaat, ia terhalang salju saat mau memasukinya (A.Zakaria Al-Hidayah h.8)



3. ABU BAKAR, UMAR & UTSMAN RA

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَمَعَ عُثْمَانَ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ ثُمَّ أَتَمَّهَا‏

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari `Ubaidullah berkata, telah mengabarkan kepada saya Nafi` dari `Abdullah bin `Umar radliallahu `anhuma berkata: "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu `alaihi wasallam di kota Mina dua raka`at. Begitu juga ketika aku shalat bersama Abu Bakar, `Umar dan juga bersama `Utsman pada awal pemerintahannya. Namun beliau di kemudian hari menyempurnakannya (empat raka`at) (Bukhary Bab Shalat bi Mina)


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ بَعْدَهُ وَعُمَرُ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ وَعُثْمَانُ صَدْرًا مِنْ خِلاَفَتِهِ ثُمَّ إِنَّ عُثْمَانَ صَلَّى بَعْدُ أَرْبَعًا ‏.‏ فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ صَلَّى أَرْبَعًا وَإِذَا صَلاَّهَا وَحْدَهُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

"...Dari Ibn Umar berkata : Nabi saw shalat di Mina dua rakaat, begitupun (masa) Abu Bakar, Umar juga Ustman di awal pemerintahannya. Namun setelah itu Ustman shalat (di Mina) empat rakaat. Maka keadaan (pendapat) Ibnu Umar "jika ia shalat berjamaah (dg Ustman) ia shalat empat rakaat, tapi jika menyendiri ia shalat dua rakaat (Shahih Muslim)

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، عَنِ الأَعْمَشِ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ، قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَزِيدَ، يَقُولُ صَلَّى بِنَا عُثْمَانُ بِمِنًى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَقِيلَ ذَلِكَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ فَلَيْتَ حَظِّي مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَانِ مُتَقَبَّلَتَانِ

"...Aku (Ibrahim) pernah mendengar Abdurrahman bin Yazid berkata : Ustman pernah shalat bersama kami di Mina empat rakaat, lalu aku tanyakan hal tersebut (tentang shalat empat rakaat) kepada Abdullah bin Mas`ud. Lantas (Abdullah bin Mas`ud) istirja`, beliau berkata : Aku pernah shalat bersama Rasul saw di Mina (hanya) dua rakaat, begitupun ketika aku shalat bersama Abu Bakar Shiddiq di Mina dua rakaat, begitu juga bersama Umar shalat di Mina dua rakaat. Semoga baik yang empat atau yang dua rakaat (Alloh) menerimanya. (Shahih Muslim)


أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ بُكَيْرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُثْمَانَ رَكْعَتَيْنِ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ

"....Dari Anas bin Malik ia berkata; "Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di Mina. Juga pernah bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman pada awal pemerintahannya (Sunan an-Nasa`i 1446)


أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ أَنْبَأَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ - رضى الله عنه - رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُمَرَ - رضى الله عنه - رَكْعَتَيْنِ

"....Dari Ibnu `Umar dia berkata; "Aku pernah shalat dua raka`at bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di Mina. Aku juga shalat dua raka`at bersama Abu Bakar Radliallahu`anhu dan Umar Radliallahu`anhu."( Sunan an-Nasa`i 1449)

4. `AISYAH RA

أَخْبَرَنِي أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الصُّوفِيُّ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا الْعَلاَءُ بْنُ زُهَيْرٍ الأَزْدِيُّ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا اعْتَمَرَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ حَتَّى إِذَا قَدِمَتْ مَكَّةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي قَصَرْتَ وَأَتْمَمْتُ وَأَفْطَرْتَ وَصُمْتُ ‏.‏ قَالَ ‏ "‏ أَحْسَنْتِ يَا عَائِشَةُ ‏"‏ ‏.‏ وَمَا عَابَ عَلَىَّ
Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Yahya Ash Shufi dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Nu`aim dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al `Alaa bin Zuhair Al Azdi dia berkata; telah menceritakan kepada kami `Abdurrahman bin Al Aswad dari `Aisyah bahwasanya ia melaksanakan umrah bersama Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wa Sallam dari Madinah ke Makkah. Tatkala sampai di Makkah Aisyah berkata; Wahai Rasulullah, demi Bapak dan Ibuku, bagaimana engkau mengqashar shalat padahal aku menyempurnakan shalatku, dan engkau berbuka sedangkan aku berpuasa? Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wa sallam menjawab: Engkau telah berbuat baik wahai ` Aisyah, namun aku pun tidak tercela. (Sunan an-Nasa`i 1455)


عن عائشة قالت : خرجت مع النبى ص م فى عمرة رمضان فأفطر وصمت وقصر وأتممت فقلت بأبى وأمى, أفطرت وصمت وقصرت وأتممت, فقال: أحسنت يا عائشة ـرواه الدارقطنىـ

Dari Aisyah berkata : Aku pernah keluar bersama Nabi dalam Umrah Ramadhan, lalu Nabi berbuka sedangkan saya tetap shaum. Begitu juga Nabi mengqashar sedangkan saya menyempurnakannya (empat rakaat). Lalu aku bertanya kepadanya, "Demi ayah dan ibuku! Engkau berbuka dan saya tetap shaum, engkau mengqashar, sedangkan saya sempurna (empat rakaat)". Nabi bersabda : "Engkau hebat (bagus) wahai Aisyah". (HR.Ad-Daruqutni, A.Zakaria dalam Al-Hidayah)
5. ANAS BIN MALIK RA

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا، يَقُولُ خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ، فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ‏.‏ قُلْتُ أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا قَالَ أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا‏


Telah menceritakan kepada kami Abu Ma`mar berkata, telah menceritakan kepada kami `Abdul Warits berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq berkata; Aku mendengar Anas radliallahu `anhu berkata: "Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu `alaihi wasallam dari kota Madinah menuju kota Makkah, selama kepergian itu Beliau melaksanakan shalat dua raka`at dua raka`at hingga kami kembali ke Madinah. Aku tanyakan: `Berapa lama kalian menetap di Makkah?" Dia menjawab: "Kami menetap disana selama sepuluh hari (Shahih al-Bukhari 1081)


وقال حفص بن عبيد الله : أقام أنس بن مالك بالشام سنتين يصلى صلاة المسافر

Hafsha bin Ubaidillah berkata : Anas bin Malik pernah menetap di Syam selama dua tahun, ia melakukan shalat safar (qashar). (Al-Hidayah A.Zakaria h.9)

وقال أنس : أقام أصحاب النبي ص م برام هرمز سبعة أشهر يقصرون الصلا ة
Anas berkata : Para shahabat Nabi saw pernah menetap di Rum Hurmuz selama tujuh bulan, mereka menqashar shalatnya (Ibid)

Bersambung...!

Dikirim pada 20 Januari 2015 di Bab. Sholat



Tanya : Bismillah …pak ustadz Abu, bagaimana hukumnya shalat tarawih setelah 8 rakaat diselingi ceramah? Mohon pencerahannya! Jama’ah M.Muthmainnah

Jawab : Secara hukum hemat kami shalat tarawih tersebut sah. Akan tetapi akan lebih baik jika shalat tarawih itu tidak diselingi oleh ceramah, mengingat 11 rakaat itu satu “paket” shalat malam dibulan ramadhan. Hal itupun supaya tidak ada penilaian atau kesan bahwa ceramah itu bagian dari shalat tarawih, atau penilaian bahwa 3 rakaat (witir) itu seolah dilaksanakan setelah ceramah (terlebih dahulu). Maka secara pribadi saya mengusulkan kepada pengurus masjid, kalaupun ada ceramah sebaiknya dilaksanakan setelah shalat Isya atau menjelang qiyam ramadhan yang 11 rakaat itu. Allohu A’lam

Dikirim pada 14 Juli 2014 di Bab. Sholat
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.815.396 kali


connect with ABATASA