close
close
0

1. Pada tanggal 9 Juni 2008 SKB 3 menteri tetang Ahmadiyah diumumkan oleh Menteri Agama, yang menyatakan :
Kep utusan Bersama Menag, Mendagri, Jaksa Agung tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau anggota anggota pengurus Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat (nomor: 3 Tahun 2008, nomor: KEP-033/A/JA/6/2008, nomor: 199 Tahun 2008)

Kesatu:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

Kedua:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

Ketiga:
Penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum Kesatu dan Diktum Kedua dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya.

Keempat:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketentraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Kelima:
Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada Diktum Kesatu dan Diktum Keempat dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Keenam:
Memerintahkan kepada aparat pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini.

Ketujuh:
Keputusan Bersama ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Juni 2008, oleh

Menteri Agama Jaksa Agung Menteri Dalam Negeri.

sumber : eramuslim
2. Diktum UUNo. 1/PNPS/1965 :
Pasal : 1
“ Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keqagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu; penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.”
Pasal 2 ayat (1) dan (2) :
“ Barangsiapa melanggarketentuan tersebut dalam Pasal 1 diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.”
“ Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat(1) dilakukan oleh Organisasi atau suatu aliran kepercayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakan organisasi atau aliran tersebut sebagai organisasi/aliran terlarang, setelah presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.”
Pasal 3
“ Apabila setelah dilakukan tindakan oleh Menteri Agama bersama-sama Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri atau Presiden Republik Indonesia menurut ketentuan dalam pasal 2 terhadap orang,organisasi atau aliran kepercayaan, mereka masih terus melanggar ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1 , maka orang, penganut dan atau anggota pengurus organisasi yang bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun.

Note :
Sheikh Abu Bakar Najar Penulis India yg masyhur menulis buku dengan Judul : “ Do You Know About Mirza in Love ? , Islamic Publication Bureau, Athlone Cape South Africa, tt, series no.5:
Pada usia Mirza yg lebih dari 50 thn dengan kondisi lemah dan sakit2an, ia jatuh cinta lagi kpd seorang dara ayu bernama Muhammadi Begum binti Mirza Ahmad Beg, paman ibunya. Dengan posisi sbg “ Superman “ pasti lamaran diterima. Ternyata lamarannya ditolak oleh dara ayu dan bapaknya itu. Kemudian Mirza mengaku turun wahyu, yang disebar kepada umatnya :

فأوحى الله الي ان اخطب صبية الكبيرة لنفسك , وقل له ليصاهرك اولا ليقتبس من قبسك , و قل اني امرت لاهبك ما طلبت من الارض وارضا اخرى معها , واحسن اليك باحسنات أخرى على ان تنكحني احدى بناتك التى هي كبيرتها ؛ وذل بينى وبينك , فان قبلت فستجدونى من المتقبلين ؛ فان لم تقبل فاعلم ان الله قد أخبرني ان انكحها رجلا اخر لا يبارك لها ولا لك , فان لم تزدجر فيصب عليك مصائب , واخر المصائب موتك , فتموت بعد النكاح الى ثلاث سنين , بل موتك قريب , ويرد عليك وانت من الغافلين ؛ وكذلك يموت بعلها الذى يصير زوجها الى حولين وستت اشهر قضاء من الله , فاصنع ما انت صانعه وانى لمن الناصحين.
Mirza Ahmad Beg dan putrinya ternyata mencuekin wahyu tsb. Malah tgl 7 April 1892 ia dinikahkan dengan Sultan Muhammad; Mirza merengek minta dibatalkan, tapi ditolak. Lalu digelar “ istighatsah “ di mesjidnya bersama para pengikutnya, tapi tdk berhasil, Turun lagi wahyu :
انها سيجعل ثيبة ويموت بعلها وابوها الى ثلاث سنة من يوم النكاح , ثم نرد اليك بعد موتهما , ولا يكون احدهما من العاصمين – تذكرة : 160-161
Wahyu itu terbukti dusta, Mirza mati lebih dulu dari pada suaminya ! Jangankan gadisnya, jandanyapun tidak dapat , kasihan!!!

Dikirim pada 21 Februari 2011 di TENTANG ALIRAN-ALIRAN SESAT

APA & MENGAPA AHMADIYYAH
Oleh : Shiddiq Amien
Ahmadiyyah : Sebuah gerakan atau paham keagamaan yang dipelopori oleh Mirza Gulam Ahmad. (MGA). Ahmadiyah didirikan pada tanggal 23 Maret 1889 di sebuah kota bernama Ludhiana – Punjab-India. Ia lahir di Qadian distrik Gurdaspur, India, tgl. 15 Pebruari 1835 dan meninggal 26 Mei 1908. Tgl. 4 Maret 1889 dia mengaku mendapat wahyu dari Tuhan. Tahun 1891 Dia membuat pengakuan yang menghebohkan sebagai Al-Masih al-Mau’ud.( Al-Masih yang dijanjikan ).
Mirza Gulam Ahmad lahir di desa Qadian distrik Gurdaspur, India tanggal 15 Pebruari 1835 dari pasangan Ghulam Murtaza dan Chirag. MGA meninggal tanggal 26 Mei 1908 karena terserang penyakit muntaber di WC / kamarnya yang sudah seperti WC, tak lama setelah mubahalah dengan Syech Abul Wafa – Pemimpin Jami’ah Ahlul Hadits di India, yang paling gigih menentang ajaran Ahmadiyah.
Identitas Mirza dijelaskan dalam beberapa buku/majalah Ahmadiyyah :
“ Hazrat Ahmad a.s. lahir pd tgl 13 Pebruari 1835 sesuai dg 14 Syawal 1250 H, hari Jum’at pada waktu shalat subuh, di rumah Mirza Gulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar, yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yg tidak berapa lama meninggal dunia. Demikianlah sempurna kabar gaib yg telah ada dalam buku-buku Agama Islam, bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar “ ( Bashiruddin M.A , Riwayat Hidup Hazrat Ahmad as, 1966 : 2 )
“ Aku mendengar dari ayahku bahwa kakek-kakekku berdarah Moghol, akan tetapi aku mendapat wahyu dari Tuhan, bahwa kakek-kakekku berdarah Parsi “ ( Mirza Gulam Ahmad, Al-Istifta, hal 75 )
“ Daripada kakek-kakekku, aku ini keturunan Parsi, sedang dari nenek-nenkku aku ini keturunan Fatimah, makabergabunglah pada diriku dua kemuliaan “ ( Mirza Gulam Ahmad, Al-Khutbatul-Ilhamiyyah, hal 87 )
“ Dari pada Tuhanku, telah turun kepadaku, bahwa dari pihak nenek-nenekku, aku ini keturunan Fatimah ahli baitin-nubuwwah. Demi Allah, telah bersatu pada diriku keturunan nabi Ishaq dan keturunan Nabi Ismail “ ( Mirza GA, Al-Istifta, hal 75 )
“ Sesungguhnya akulah Al-Mahdi itu, juga Al-Masih Mau’ud, dimana kedudukannya sudah jelas bahwa utk jabatan kedua pangkat ini harus dipegang oleh seorang dari bani Fatimah “ ( Mirza GA, Al-Khutbatul Ilhamiyyah hal : 46 )
“ Engkau ya Mirza adalah Kreshna, namamu telah dinyanyikan dalam kitab suci Gita “ ( Bashiruddin MA, Ahmadiyyah Movement : 4 )
Mirza Gulam Ahmad juga mengklaim mempunyai sederet gelar : Fadlan Kabiran ; Imamuz Zaman; Khatamul Aulia ; Muhaddats ( Org yang diajak bercakap-cakap oleh Allah ); Hajar Aswad, yang diciumi manusia utk memperoleh berkahnya; Sang Kresna, raja bangsa Aria; Rahmat Mujassam ; Sultanul Kalam, raja diraja penulis ; Al-Masih Al-Muhammady, karena al-Masih pertama Al-Masih Al-Israili; dsb ( Abdullah Hasan AlHadar, Ahmadiyyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah , 1980 : 75 )
Buku-buku yang dikarangnya : Barahin-i Ahmadiyyah, merupakan buku pertama yang ditulisnya, ia merencanakan buku tersebut terdiri dari 50 jilid, tapi hanya selesai 5jilid. Dia berkata dalam Mukadimah buku tersebut : “ Pada awalnya saya berjanji untuk menulis 50 jilid. Namun karena selisih antara 5 dan 50 adalah NOL, maka janji saya telah terpenuhi setelah menulis 5 jidil.” MGA juga menulis banyak buku lain antara lain : Fath-i Islam, Masih Hindustan Man, Kasyful-Ghita, Tersingkapnya Penutup ), Izala-i Ahwam, Mawahib ar-Rahman ( Pemberian Tuhan ), Haqiqatal-Wahyi , dan Al-Wasiyah.
5. Berikut saya cuplikan cerita tentang riwayat Nabi Palsu dari India yang saya peroleh dari http://www.alhafeez.org/rashid/indonesia3.htm :
MGA Mendapatkan pendidikan formal mengenai Quran, Hadits dsb dimulai di rumah dari Molvi Fazl Ilahi . Dia juga kemudian belajar kepada Molvi Fazal Ahmad berbagai mata pelajaran lainnya. Ia juga belajar Tata bahasa Arab kepada Gul Ali Sah.
1852/53 : Perkawinan pertama dengan Hurmat Bibi alias Phajje di Maan. Melahirkan Dua anak laki-laki yaitu Sultan Ahmad dan Fazal Ahmad. Fazal Ahmad adalah anaknya yang tidak percaya bahwa ayahnya itu nabi ataupun Masih Al-mau’ud, sehingga ketika Fazal mati, MGA tidak mau menyalatkannya.
1857/58 : Pada Perang Kemerdekaan, yang disebut Indian Mutiny (PEMBERONTAKAN INDIA) dua tahun tsb. Untuk membuktikan kesetiaannya kepada Raja Inggris, Ayah Mirza menyumbang 50 tentara berkuda untuk memerangi kaum Muslimin dalam perang Kemerdekaan tersebut. Bahkan Mirza Ghulam Qadir, abang Mirza Ghulam, yang bertugas pada Divisi 46 di Ketentaraan Inggrisd dibawah pimpinan Jendral Nicholson, tercatat membantai banyak pejuang kemerdekaan di dekat Sialkot
1864 : Mirza bekerja menjadi klerk pada pemerintah Inggris. Pengadilan di Sialkot.
1864-68 : Ikut ujian Hukum tetapi tidak lulus.
1868 : Komisi Parlemen dari Inggris datang untuk mencari cara- cara memadamkan semangat Jihad diantara kaum Muslimin. Mirza mengundurkan diri dari pekerjaannya dan pergi ke Qadian .Dia memperkenalkan diri sebagai Pembahas Islam.
1869 : Laporan Komisi Parlemen tentang ‘Kedatangan Kekaisaran Inggris di India’ diserahkan kepada Parlemen Inggris. Laporan tersebut merekomendasikan diciptakannya Kerasulan seorang Nabi untuk memadamkan Semangat Jihad di kalangan umat Muslim.
1871 : Mirza Ghulam dipilih untuk jabatan’ sebagai Rasul
1884: Mengklaim diri sendiri sebagai Mujaddid/pembaharu Islam. Kawin kedua kalinya dengan Shahjehan Begum anak dari Mir Nasir Nawab, sehingga terlahir 3 anak laki-laki yaitu Mirza Bashiruddin Mehmood (Khalifah ke-2 dan ayah dari Mirza Tahir, Khalifah yang sekarang), Mirza Bashir Ahmad (penulis Seerat-ul-Mahdi) dan Mirza Sharif Ahmad. Dia mengaku menjadi impoten dalam perkawinannya yang ke-2. Berdo’a kepada Tuhan agar diberi kekuatan sexual. Tuhan memberikan Wahyunya agar ia meracik JAMU ILAHI. Atas perintah ilahi, ia membuat jamu/jampi yang disebut ‘TIRYAQ-e-ILAHI’ agar ‘energy’nya pulih kembali. Bahan utamanya adalah ‘OPIUM’.
1888 MGA diambil sumpah setianya (Peeri-Mureedi) oleh masyarakat. Dia juga meminta Mohammadi Begum untuk perkawinan ke-3. Dia mengumumkan bahwa perkawinannya yang ke-3 ini dengan Mohammadi Begum adalah lamaran atas wahyu ilahi dan penolakan dari siapapun akan mengakibatkan konsekuensi tragis pada gadis tersebut, keluarganya, dan orang yang kawin dengan gadis ini.
Mirza Ghulam mengumumkan: “Harus dipahami oleh masyarakat bahwa tidak ada kriteria lain yang lebih baik untuk menyimpulkan kebenaran selain kenabianku.” (Aina-e-Kamalate Islam, Roohani Khazain vol 5 p.288, by Mirza Ghulam) . Mirza mengancam istri pertama beserta anaknya tentang akibat langsung jika tidak mendukung perkawinannya dengan Mohammadi Begum.
1889 MGA mengaku menerima wahyu dari Tuhan.
1891 MGA mendakwahkan diri sendiri sebagai Al-Masih Al-Mau’ud. Dia juga mengklaim dirinya sebagai Mariam/Bunda Maria. Dia mengklaim dirinya mengandung karena ditiupkan ruh Isa kedalam dirinya (Jesus). Kemudian mengklaim menjadi Isa setelah 10 bulan dalam kandungan dalam kandungannya sendiri (Maryam’s). Dan mengatakan: “Inilah muasalnya saya adalah Jesus anak Maria.” (Kishtee Nooh, Roohani Khazain vol 19 p. 87-89) .Tahun ini MGA mendirikan Gerakan Ahmadiyyah dalam Islam.
1892 Mohammadi Begum kawin dengan Mirza Sultan Baig. Untuk membalas hal ini, Mirza: o menceraikan istri pertamanya. o memaksa salah seorang anaknya untuk menceraikan istrinya. o membatalkan warisan kepada anak laki-lakinya yang kedua.
[PS Istri pertamanya ada pertalian darah dengan Mohammadi Begum.]
1898/99 : MGA mengajukan Petisi kepada gubernur Punjab mengingatkan bahwa: Kakek moyangnya selalu menjadi hamba setia. Ia sendiri adalah BENIH YANG TUMBUH SENDIRI/TERTANAM SECARA MANDIRI/SUKARELA kepada Raja-raja Inggris. Dari sejak kecil sampai sekarang setelah berumur 65 tahun, ia telah melakukan tugas-tugasnya yang penting dengan pena dan lidahnya, untuk mengubah hati ummat Muslim kedalam cinta kasih & niat baik serta simpti kepada Pemerintah Inggris dan melenyapkan konsep Jihad dari sanubari orang-orang Islam yang bodoh itu.
1900 : Mirza membatalkan Jihad. Menamakan para pengikutnya sebagai Ahmadi dan memerintahkan penggunaan identitas tersebut untuk sensus.
25 MEI 1900 Mirza Ghulam mengumumkan bahwa semua orang yang tidak menerimanya sebagai nabi adalah tidak taat pada Allah dan NabiNya dan akan tinggal di neraka
1901:Mirza mengumumkan: “Dasar dari klaim saya bukanlah Hadits tetapi Quran dan Wahyu saya sendiri; untuk mendukungnya kami juga mengutip hadits-hadits yang tidak bertentangan dengan wahyu saya. Sedangkan sisa Hadits lainnya saya buang seperti membuang kertas bekas. (Zamima Nuzoole Maseeh, Roohani Khazain vol 19 p.140)
1904 Mengklaim sebagai dewa Krishna umat Hindu.
1905 Membangun Makam Suci di Qadian. Siapa yang dimakamkan di tempat itu dijamin masuk surga, dengan syarat membeli sertifikat dengan harga sangat mahal.
1906 Mengaku menderita SAKIT JIWA dan kencing terus menerus 100 kali per hari sejak pernyataanya bahwa ia diangkat rasul oleh Allah (1879)
1907 MGA mengadakan duel doa melawan Molvi Sanaullah Amratsari. Mengumumkan doanya di Surat Kabar dimana ia berdoa keada Allah SWT agar para Pembohong itu mati selama > kebenaran masih ada dan kematian para pendusta itu adalah karena sebab Kolera atau Musibah–menurutnya ini adalah tanda kemarahan Illahi. MGA juga menyatakan bahwa Allah telah menamakannya Muhammad dan Ahmad 26 tahun yang lalu di Braheen-e-Ahmadiyya. (Haqeeqatul Wahi, Roohani Khazain vol 22 p.502) . Dia menyatakan bahwa Allah telah mewahyukan 300,000 tanda-tanda untuk mendukung klaimnya
15 Mei 1907 Menyatakan bahwa surah-surah dlm Al Quranul Karim berikut ini, yang diwahyukan untuk menghormati dan, memuji nabi besar Muhammad SAW, sekarang telah diwahyukan untuk menghormati Mirza:
1. Surah 7:17
2. Surah 55:1
3. Surah 9:33
4. Surah 53:9
5. Surah 17:1
6. Surah 3:31
7. Surah 48:10
8. Surah 48:1
9. Surah 73:15
10. Surah 107:1
11. Surah 36:3
(Haqeeqat-ul-Wahi, Roohani Khazain vol 22)
Dia Juga Mengklaim bahwa Allah telah menamakan dirinya sebagai tiap nabi, oleh karenanya ia mengatakan:
“Aku adalah Adam, Aku adalah Noah/Nuh, Aku adalah Abraham/Ibrahim, Aku adalah Isaac/Ishak, Aku adalah Jacob/Ya’kub, Aku adalah Ishmael/Ismail, Aku adalah Musa, Aku adalah Daud, Aku adalah Isa anak Maryam, Aku adalah Muhammad…(SAW).” (Haqeeqatul Wahi, Roohani Khazain vol 22 p. 521)
1908 KEMATIAN: Mirza tiba-tiba terjangkit penyakit kolera Dengan penyesalan yang dalam dan kesedihan ia mengeluarkan kata-kata terakhirnya kepada ayah mertuanya:
“Mir Sahib! Saya kejangkitan kolera”, Ia tak dapat mengeluarkan kata-kata sesudahnya dan meninggal dalam waktu singkat setelah itu. Sementara Mohammadi Begum hidup bahagia dengan suaminya 35 tahun setelah itu. Demikian juga Molvi Sanaullah Amratsari hidup selama 40 tahun setelah kematiannya itu.
Ketika Mirza meninggal, kepemimpinan dipegang oleh Khalifah pertama Maulwi Nuruddin sampai tahun 1914. Ia jatuh dari kuda dan meninggal dunia. Setelah itu digantikan oleh anak Mirza : Basiruddin Mahmud Ahmad. Konon Dialah yang menegaskan Mirza sebagai Nabi. Sebagian pengikutnya menolak, karena Mirza hanya menerima wahyu dan mengaku sebagai Al-Masih dan al-Mahdi, tidak terang-terangan mengaku nabi. Di bawah pimpinan Kwaja Kamaluddin dan Maulwi Muhammad Ali mereka memisahkan diri dan hijrah ke Lahore ( di Pakistan ).Ahmadiyah terbelah jadi dua : Ahmadiyyah Qadiyan meyakini bahwa Mirza sbg Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad saw. Dan Ahmadiyyah Lahore yang hanya meyakini Mirza sebagai “ Mujaddid “ dan “Muhaddatz “ ( yang berbicara langsung dg Allah ). Pada thn 1947, Ahmadiyyah Qadian mendapat kesulitan ketika India dan Pakistan sama-sama merdeka, Qadian menjadi bagian India, mereka inginnya jadi bagian dari Pakistan, maka pusat kegiatan pindah ke Rabwah di Pakistan. Kini pusat kekhilafahan Ahmadiyyah berada di London – Inggris.
Khalifah-Khalifah Ahmadiyah Qadian :
6.1. Hadhrat Hakim Maulana Nuruddin, Khalifatul Masih I ( 27 Mei 1908-13 Maret 1914)
6.2. Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmood Ahmad, Khalifatul Masih II ( 14 Maret 1914-7 Nopember 1965 )
6.3. Hadhrat Hafiz Mirza Nasir Ahmad, Khlaifatul Masih III ( 8 Nopember 1965 – 9 Juni 1982 )
6.4. Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV ( 10 Juni 1982 – 19 April 2003 )
6.5. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V ( 22 April 2003 – Sekarang )
Ahmadiyyah Qadian masuk ke Indonesia thn 1925 dibawa oleh Rahmat Ali, mula-mula tinggal di Tapaktuan Aceh, kemudian di Padang thn 1930 dan akhirnya di Jakarta. Ahmadiyyah Lahore dibawa ke Indonesia oleh Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad th. 1924, pertama kali tinggal di Yogyakarta. ( Ensiklopedi Islam 1 : 89-92
Jemaat Ahmadiyyah Indonesia (JAI) yang kini berpusat di Bogor terdaftar di Dep.Kehakiman tgl 3 Maret 1953. Dalam Anggaran Dasarnya disebutkan ttg : Nama dan Waktu didirikan : Jemaat Ahmadiyah bagian Indonesia diberi nama Jemaat Ahmadiyah Indonesia dapat tempat kedudukan Jakarta dan dirikan pada tahun 1925 untuk waktu yg tidak tertentu. Maksud : Maksud Jemaat ini ialah menyebarkan Agama Islam menurut Hazrat Masih Mau’ud dan Para Khalifahnya ke seluruh Indonesia, dan membantu Jema’at Ahmadiyah diluar Indonesia dalam hal itu. Sementara Ahmadiyah Lahore di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia, berpusat di Yogyakarta.
Pada waktu MUI mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Ahmadiyyah (1980) Cabang Ahmadiyah baru 45; tahun 1999 sudah 228 Cabang; dan tahun 2005 bertambah lagi menjadi 305 cabang. Khalifah ke VI Ahmadiyyah ( seperti dimuat Majalah Mingguan Al-Fadhl International, berbahasa Urdu, Nomer : 7, 13 Juli 200M ) menegaskan bahwa Indonesia pada akhir abad baru ini, akan menjadi Negara Ahmadiyyah terbesar di dunia.
UUD Sementara Pakistan thn 1981: yang ditandatangani Jenderal M.Zia Ul Haq, salah satu diktumnya menyebutkan : “ Seorang yang bukan Muslim berarti seorang yang tidak beragama Islam dan termasuk seorang yang beragama Parsi, juga yang termasuk dalam Kelompok Qadiani atau kelompok Lahore ( yang menamakan diri mereka Ahmadiyah, ataupun memakai nama lain apapun juga ), atau seorang Bahai, dan setiap orang yang termasuk ke dalam suatu kasta yang telah ditentukan
Organisasi Konprensi Islam (OKI) 6-10 April l974 / 14 s/d 18 Rabiul Awal 1394 H dalam Konprensinya di Makkah menyatakan Ahmadiyyah kafir dan di luar Islam.
Pada tgl 1 Juni 1980 MUI di bawah kepemimpinan Prof. HAMKA, mengeluarkan fatwa tentang sesatnya Ahmadiyyah dan kemudian dikuatkan dalam 11 fatwa hasil Munas MUI ke-7 yg ditutup tgl 29 Juli 2005 di Jakarta.
Keputusan raja-raja Malaysia dalam Musyawarah ke 101, tgl 18 Juni 1975 memutuskan Ahamadiyyah dinyatakan terlarang di seluruh wilayah hokum Malaysia.
Tgl 10 September 2005 MUI Beserta Para Pimpinan Ormas Islam ( a.l. : DDII,Al-Wasliyah, Persis, MDI, ICMI, Perti, SI, Al-Ittihadiyyah, Al-Irsyad, Hidayatullah, DMI, IPHI, PUI, HTI, KISDI, FUI,LPPI, KB PII, BKSPP, GPI< BKMT, KAHMI,dsb ) (Kecuali : NU dan Muhamadiyyah ) mendesak Pemerintah utk melarang Ahmadiyyah di seluruh wilayah hukum RI.
Fatwa MUI tersebut mendapat reaksi keras dari beberapa kalangan, khusunya mereka yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Madani (AMM) yang beranggotakan a.l : Dawam Raharjo, Johan Effendi, Syafii Anwar, Ulil Absar Abdalla,( Koordinator JIL), Pangeran Jatikusuma ( Penghayat Sunda Wiwitan ), Romo Edi (KWI), Pdt. Winata Sairin (PGI), Adnan Buyung Nasution dan Daniel Panjaitan ( YLBHI ). Mereka menuntut agar MUI mencabut fatwa tsb. Bahkan ada yang menuntut MUI dibubarkan. Mereka mengatakan : “ Jangan merasa benar sendiri, Jangan Menhakimi keyakinan org lain, Jangan bertindak sebagai Tuhan “ dsb.
Menjelang akhir tahun 2007 MUI dan ormas2 Islam kembali mendesak pemerintah melalui Kejaksaan Agung utk melarang/membubarkan JAI. Desakan itupun mendapat perlawanan, bukan hanya dari JAI tapi juga dari Kaum Liberal : mereka menamakan dirinya AKKBB :Indonesian Conference on Raligion and Peaece, Interfidei, Jaringan Kelompok Antar Iman se Indonesia, Wahid Institute, JIL, dsb.Mereka menyatakan a.l : Negara tidak tunduk pada fatwa, Negara trunduk pd Konstitusi; Kejagung jangan lemah, Bangkitlah, Tegakkan Konstitusi : Statemen Syafii Maarif mereka usung : Polisi Jangan Tunduk pada Preman Berjubah. Dsb.
Dalam rakor Pakem Kejagung, MUI/Ormas tdk dilibatkan. Yang keluar bukan pelarangan Ahmadiyah,melainkan : Statemen PB JAI ttg pokok2 Keyakinan dan Kemasyarakatan JAI. Terdiri dari 12 butir:
1) Kami Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagimana yang diajarkan nabi Muhammad Rasulullah saw, yaitu : Asyahadu an la ilaha ilallaha wa Asyhadu anna muhammadar Rasulullah.
2) SEjak semula kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad adalah khatamun Nabiyyin ( nabi penutup )
3) Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Gulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa kabar gembira dan peringatan, serta pengemban mubasyirat, pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yg bertugas memperkuat dakwah dan syi’ar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
4) Dst.
Banyak orang tertipu dengan kebohongan JAI. Dalam statemen tersebut. Mereka mengklaim syahadatnya sama, tapi harus diingat bahwa yang dimaksud Muhammad dalam syahadat kedua mereka adalah MGA. Dlm buku Hadhrat MGA (Imam Mahdi, Masih Mau’ud as ) Memperbaiki suatu Kesalahan, JAI Cabang Bandung, 1993 hal 3-8 : … yang sebenarnya adalah bhw itu wahyu suci dari Allah swt yg diwahyukan kepadaku di dalamnya mengandung kata-kata rasul, mursal dan nabi bukan hanya sekali atau dua kali, malah beratus-ratus kali digunakan…(hal.3)…… Sebagian dari wahyu2 Allah swt itu yg sudah tersiar dlm kitab Barahin Ahmadiyah, (hal 498) ialah sbb :

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ – (الصف : 9)
(“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama) QS. As-Shaf:6.
“Di dalam wahyu ini nyata benar, bahwa aku dipanggil dengan nama Rasul...” (hal.4)
“..Lagi pula dalam kitab ini di dekat wahyu itu ada pula wahyu Allah ta’ala :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ-( الفتح : 29
(Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, )
Dalam wahyu ini Allah swt menyebutkan namaku Muhammad dan Rasul (hal.5) juga di Kitab Tadzkirah : 97.
“... Dan 20 tahun yang lalu, sebagi tersebut dalam kitab Barahin Ahmadiyah Allah ta’ala sudah memberikan nama Muhammad dan Ahmad kepadaku, dan menyatakan aku wujud beliau juga. “ (hal. 16-17)

Dalam point 3 dari 12 point pernyataan petinggi JAI dinyatakan bahwa diantarkeyakinan kami ( Berarti ada keyakinan yang mereka sembunyikan, yakni MGA sbg nabi ) ini bisa dilihat jelas dari antara peran MGA yg disebut sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, itu menunjukkan klaim mereka bahwa MGA adalah nabi/rasul. Sebagaimana Allah telah menjelaskan fungsi seorang nabi/rasul itu adalah :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا - الاسراء : 105
Demikian juga dalam QS. Al-Furqan : 56
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
JAI menilai orang di luar kelompoknya itu kafir , ini bias dilihat dari pernyataan : “ Bahwa semua orang Islam harus percaya pada nabi Mirza Ghulam Ahmad; kalau tidak, berarti mereka tidak mengikuti ajaran-ajaran al-Qur’an. Dan siapa-siapa yang tidak mengikuti al-Qur’an, maka ia bukan muslim. Dan barangsiapa yang mengingkari seorang nabi, menurut istilah agama Islam disebut kafir ! “ ( Syafi R Batuah, Ahmadiyyah Apa dan Mengapa, 1968 : 41 )
Di antara penyimpangan/kesesatan utama Ahmadiyyah :
a) Meyakini bahwa MGA adalah nabi sesudah Nabi Muhammad saw, dengan mengklaim bahwa bunyi QS. As-Shaf : 6 itu untuk dirinya:
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ – الصف : 6
“ Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".( QS. As-Shaf : 6 )

“ Jika orang benar-benar meneliti maksud al-Qur’an itu ( surah 61:6 ) maka akan mengetahui, bahwa yang dimaksud dengan nama AHMAD bukanlah nabi Muhammad saw, tapi seorang RASUL yang diturunkan Allah swt pada akhir zaman sekarang ini. Bagi kami ialah : Hazrat AHMAD Al-Qadiani “ ( Suara Ansharullah, Majalah Ahmadiyyah no.3 dan 4, Juli 1955 hal 18 )
Padahal “ Ahmad” dalam ayat tersebut adalah “ Muhammad saw. Ini dijelaskan dalam hadits :
عن جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ – ر البخاري و مسلم
Dari Juber bin Muth’im ra berkata, bersabda Rasulullah saw. : “ Aku punya lima nama, Aku adalah : Muhammad dan Ahmad, Aku Al-Mahi, yang Allah menghapus dengan (kedatanganku) kekufuran, aku Al-Hasyir, yang manusia dikumpulkan di bawah kakiku, Aku adalah Al-‘Aqib ( penutup ) yang tidak ada sesudahnya nabi. “ ( HR. Al-Bukhari dan Muslim)
b) Mereka juga menafsirkan “ Khataman Nabiyyin “ dalam QS. Al- Ahzab : 40 :
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا- الاحزاب : 40
“ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “ ( QS. Al-Ahzab : 40 )
Bukan dalam arti “ Penutup Para Nabi “ , tapi diartikan “ Cincin, atau cap atau stempel “ ini bisa dilihat dari dua data berikut :
“ Kalimat “ Khatam “ dapat dibaca “ Khatim “ yg berarti hiasan bagi sang pemakainya. Apabila diartikan demikian, maka Rasulullah saw. itu bagaikan hiasan indah bagi nabi-nabi. Dalam Fathul Bayan juga dikatakan, bahwa Nabi Muhammad saw adalah bagaikan hiasan cincin yg dipakai oleh para nabi, karena beliau nabi termulia. “ ( Saleh A. Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyyah, hal 34 )
“ Jadi perkataan ‘ khataman nabiyyin’ berarti cap atau stempel dari pada nabi-nabi. Yakni Nabi Muhammad saw ialah kebagusan dari pada segala nabi-nabi “ (Bashiruddin MA, Jasa Imam Mahdi a.s. terjemah Malik Ahmad Khan ).
Padahal soal kenabian dan kerasulan sudah ditutup oleh kenabian dan kerasulan Muhammad saw. Ini ditegaskan oleh Rasulullah saw :
عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ – ر احمد و الترمدي
Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terhenti, tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku.(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi )

وَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلَّا حَذَّرَ أُمَّتَهُ الدَّجَّالَ وَأَنَا آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَنْتُمْ آخِرُ الْأُمَمِ وَهُوَ خَارِجٌ فِيكُمْ لَا مَحَالَةَ .....إِنَّهُ يَبْدَأُ فَيَقُولُ أَنَا نَبِيٌّ وَلَا نَبِيَّ بَعْدِي - ر ابن ماجه
“ Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang nabipun kecuali nabi itu mengingatkan kepada umatnya akan ( bahaya ) dajjal, Aku adalah nabi terakhir dan kalian adalah umat terakhir. Dajjal itu akan datang kepada kalian pasti, Omongan pertamanya ( dia mengaku ) : “ Aku adalah nabi “, Padahal tidak ada nabi sesudahku. “( HR. Ibnu Majah. Dari Abi Umamah Al-Bahili ra )

c) Mereka mempunyai Kitab Suci Bernama “ Tadzkirah “di dalamnya a.l. disebutkan :
انا انزلناه فى ليلة القدر) القدر : 1 ), انا انزلناه للمسيح الموعود – تذكرة : 519
انا انزلناه قريبا من القاديان, وبالحق انزلناه وبالحق نزل ( الاسراء : 105 ) , صدق الله ورسوله , وكان امر الله مفعولا ( النساء: 46) , الحمد لله الذي جعلك المسيح ابن مريم – تذكرة : 637
“Sesungguhnya Aku menurunkannya ( Tadzkirah ) pada lailatul qadar, Aku turunkan kitab itu kepada al-Masil Al-Mau’ud ( hal : 519 ) Sesungguhnya Aku menurunkannya dekat Qadian, dengan membawa kebenaran aku turunkan dengan sebenar-benar turun, Maha benar Allah dan rasul-Nya, Sesungguhnya ketetapan Allah akan berlaku, Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan engkau sebagai Al-Masih Ibnu Maryam “ Tadzkirah : 637
Dari beberapa ayat di atas saja nampak ayat-ayat “ Bajakan “ dari Al-Qur’an. Kepada siapa yang tidak beriman kepadanya dinilai telah sesat sesesatnya. Ini bias dilihat dari pernyataan MGA :
“ Maka barangsiapa yang tidak percaya kepada wahyu yg diterima Imam yang dijanjikan ( Mirza Gulam Ahmad ) , maka sesungguhnya ia telah sesat, sesesat-sesatnya, dan ia akan mati dalam kematian jahiliyyah, dan ia mengutamakan keraguan atas keyakinan. “ ( Mirza Gulam Ahmad, Mawahib ar-Rahman, hal : 38 )
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ – ابرهيم : 4
“ Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. “ QS. Ibrahim : 4
d) Ahmadiyyah mempunyai Kota Suci : Qadian dan Rabwah
“ Haji ke Mekkah tanpa haji ke Qadian adalah haji yang kering dan kasar “ ( Haqiqatal Wahyi : 20 )
21. Tanggal 16 April 2008 Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) menyatakan bahwa JAI sebagai kelompok sesat dan merekomendasikan perlunya diberi peringatan keras lewat suatu keputusan bersama : menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung sesuai denganUUNo.1/PNPS/1965 agar Ahmadiyah menghentikan segala aktifitasnya.
22. Menurut Kepala Badan Litbang Departemen Agama, Atho Mudzhar, yang juga Ketua Tim Pemantau, selama tiga bulan Bakorpakem memantau 55 komunitas Ahmadiyah di 33 kabupaten, dimana 35 angota Tim Pemantau telah bertemu dengan 277 warga Ahmadiyah, ternyata ajaran Ahmadiyah tetap menyimpang. Di seluruh cabangnya, MGA tetap diyakini sebagai nabi setelah Nabi Muhammad saw. Mereka juga meyakini bahwa kitrab Tadzkirah adalah kumpulan wahyu yang diterima MGA.
23. Pada tanggal 9 Juni 2008 SKB 3 menteri tetang Ahmadiyah diumumkan oleh Menteri Agama, yang menyatakan :
Kep utusan Bersama Menag, Mendagri, Jaksa Agung tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau anggota anggota pengurus Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat (nomor: 3 Tahun 2008, nomor: KEP-033/A/JA/6/2008, nomor: 199 Tahun 2008)

Kesatu:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

Kedua:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

Dikirim pada 21 Februari 2011 di TENTANG ALIRAN-ALIRAN SESAT


J. Sekte-Sekte Syiah
Menurut Al-Hasan bi Musa An-Nubakhti, salah seorang tokoh ulama Syiah yang hidup pada abad ke 3 H dalam kitabnya Firaq Asy-Syiah dijelaskan bahwa telah terjadi perbedaan dan perselisihan dikalangan Syiah sejak awal sejarah mereka, terutama dalam menentukan siapakah yang berhak menjadi Imam, sekalipun dalam klaim mereka Imamah adalah pokok keimanan mereka dan telah ditetapkan berdasar nash.
Menurut An-Nubakhti perselisihan itu antara lain :
A) Setelah wafatnya Rasulullah saw, Syiah terpecah menjadi 3 kelompok :
Kelompok yang meyakini bahwa Ali adalah Imam yang harus ditaati dan bukan yang lainnya berdasarkan nash dari Nabi saw, beliau ma’shum, terjaga dari segala bentuk kesalahan, yang berwilayah dengannya akan selamat, dan yang memusuhinya adalah kafir dan sesat. Imamah ini terus diwarisi oleh keturunannya, sebagian kelompok ini disebut Al-Jarudiyah.
Kelompok yang meyakini bahwa Ali memang paling berhak sesudah Rasulullah saw, karena keutamaannya, sekalipun demikian mereka membenarkan imamah khlaifah Abu Bakar dan Umar dikarenakan keridhaan serta bai’at Ali terhadap keduanya secara sadar tanpa paksaan. Inilah kelompok Al-Batriyah.
Kelompok ini sama dengan kedua, hanya saja mereka berpendapat bahwa mentaati imam yang sudah ditetapkan itu hukumnya wajib, maka siapapun yang tidak mentaatinya dia kafir dan sesat.
Pada masa ini, An-Nubakhti juga menyebutkan munculnya kelompok Khawarij dari kalangan Syiah Ali, mereka kemudian mengkafirkan Ali bin Abi Thalib karena melakukan Tahkim.
B) Setelah Ali wafat, Syiah terpecah menjadi 3 kelompok :
Kelompok yang berpendapat Ali tidak mati terbunuh, dan tidak akan mati sehingga ia berhasil memenuhi bumi dengan keadilan. Inilah kelompok Ghuluw (ekstrem) pertama. Kelompok ini disebut Syiah Sabaiyyah pimpinan Abdullah bin Saba.
Kelompok yang berpendapat bahwa Ali memang wafat dan imam sesudahnya adalah putranya, Muhammad Al-Hanafiyah, sebab dia (bukan Hasan atau Husein) yang dipercaya membawa panji ayahnya Ali dalam peperangan di Basrah. Kelompok ini disebut Al-Kaisaniyyah. Mereka mengkafirkan siapapun yang melangkahi Ali dalam Imamah, juga mengkafirkan Ahlus-Shiffin, Ahlul-Jamal. Tokoh kelompok ini Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi, ia mengaku bahwa Jibril pernah menurunkan wahyu kepadanya.
Kelompok ketiga berkeyakinan bahwa Ali memang wafat, dan imam sesudahnya adalah puteranya, Al-Hasan. Ketika kemudian Al-Hasan menyerahkan khilafah kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, mereka memindahkan imamah kepada Al-Husein. Sebagian mereka mencela Al-Hasan, bahkan Al-Jarrah bin Sinan al-Anshari pernah menuduhnya sebagai musyrik dan membacok pahanya dengan pedang. Tetapi sebagian Syiah berpendapat bahwa sesudah wafat Al-Hasan, yang berhak jadi imam adalah Al-Hasan bin Al-Hasan yang bergelar Ar-Ridha.
C) Sesudah syahidnya Al-Husein ra dalam peristiwa Karbala, dimana beliau diundang oleh penduduk Kufah yang mengaku diri sebagai Syiahnya dan mereka mengaku mempunyai belasan ribu orang yang siap membela Husein. Tapi ternyata ketika Husein dikepung oleh pasukan Ubaidillah bi Ziyad di Karbala tak satupun orang yang tadinya mengundang beliau tampil membelanya, tapi justru cuci tangan, sehingga menyebabkan syahidnya Imam Husein. Seperti dikisahkan sejarawan Syiah, al-Mas’udi, Husein sebelum syahid bahkan sempat berdo’a : Ya Allah turunkanlah keputusan-Mu atas kami dan atas orang-orang yang telah mengundang kami, dengan dalih mereka akan mendukung kami, tapi kini ternyata mereka membunuhi kami. (Tarikh al-Mas’udi 2 : 71). Adapun yang ikut syahid bersama Al-Husein dalam peristiwa ini : Putera-putera Ali bin Abi Thalib yang bernama Abu Bakar, Utsman dan Abbas; Putera Al-Hasan bin Ali yakni Abu Bakar; dan putera Al-Husein bin Ali yakni Ali Al-Akbar bin Husein. Sehingga ketika jenazah Husein beserta keluarganya yang masih hidup dibawa ke Kufah dan ditangisi oleh penduduk Kufah, Ali Al-Asghar bin Husein Zainal Abidin berkomentar : Mereka menangisi kami, padahal mereka sendiri yang telah membunuhi kami. (Tarikh al-Ya’qubi 2 : 245; Al-Ihtijaj 2 : 291)
Pada periode sesudah wafatnya Al-Husein, Syiah terpecah lagi emnjadi beberapa golongan :
1. Kelompok-kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Husein, imamah berlanjut ke putera Ali yang lain, yaitu Muhammad Al-Hanafiyah. Mereka-pun terpecah, ada yang berkeyakinan bahwa Muhammad Al-Hanafiyah yang disebut oleh mereka sebagai Al-Mahdi tidak pernah meninggal. Sebagian menyatakan meninggal dan pelanjutnya adalah puteranya Abu Hasyim, kelompok ini disebut Al-Hasyimiyah. Setelah itu mereka pecah lagi, ada yang berkeyakinan bahwa Abu Hasyim berwasiat kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib untuk menjadi imam. Kelompok ini disebut Syiah Ar-Rawandiyah.
2. Kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Husein, Imamah dilanjutkan oleh puteranya yang masih hidup, Ali al-Ashgar Zainal Abidin, dari ibunya bernama Jihansyah, puteri kaisar Persia Yazdajird bin Syahriyar.
3. Kelompok yang meyakini bahwa setelah syahidnya Husein, Imamah telah selesai/terputus. Sebab menurut mereka yang disebut namanya oleh Rasulullah saw sebagai Ahlul-Bait beliau hanyalah tiga orang saja, yaitu Ali, Hasan dan Husein.
4. Kelompok yang berkeyakinan bahwa sesudah wafatnya Husein, Imamah hanya bisa dilanjutkan oleh keturunan Hasan dan Husein. Siapapun diantara mereka yang mengklaim sebagai imam, maka mereka adalah imam yang wajib ditaati. Barangsiapa yang lalai melakukannya, maka ia kafir. Kelompok ini disebut As-Sarhubiyah.
D) Sesudah wafatnya Ali Zainal Abidin, muncul kelompok Syiah antara lain :
1. Az-Zaidiyah, pengikut Zaid bin Ali bin Husein yang meyakini bahwa sekalipun Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Abu Bakar dan Umar, tetapi khilafah keduanya sah. Mereka juga berkeyakinan bahwa imamah dapat diraih oleh siapapun dari keturunan Nabi Muhammad saw apabila mereka memenuhi persyaratan dan bisa memperjuangkannya. Sepeninggal Zaid, kelompok ini dipimpin oleh putera-puteranya : Yahya dan Isa.
2. Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ali Zainal Abidin adalah puteranya, Muhammad Al-Baqir.
E) Sesudah wafatnya Muhammad Al-Baqir, Syiah pecah lagi menjadi 3 kelompok:
1. Kelompok yang mengakui imamahnya Muhammad bin Al-Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib sebagai Al-Qaim dan Al-Mahdi.
2. Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah wafatnya Muhammmad Al-Baqir adalah puteranya Ja’far Ash-Shadiq.
3. Al-Mughiriyah, pengikut Al-Mughirah bin Said. Yang mengklaim mendapat wasiat dari Imam Al-Baqir untuk jadi imam sampai munculnya Al-Qaim.
F) Sesudah wafatnya Ja’far Ash-Shadiq, Syiah pecah lagi menjadi 6 kelompok :
1. Kelompok yang meyakini Imam Ja’far sebagai Al-Mahdi, disebut An-Nawusiyah.
2. Kelomp[ok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya yang bernama Ismail. Mereka juga meyakini Ismail tidak mati sehingga berhasil memimpin umat, dialah sang Al-Qaim. Kelompok ini disebut Ismailiyah.
3. Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ja’far adalah Muhammad bin Ismail bin Ja’far, cucu Ja’far. Menurut mereka wafatnya Ismail pada masa hidup sang ayah , Ja’far, menunjukkan bahwa imam sesudah Ja’far adalah putera Islamil, Muhammad. Menurut mereka sesudah periode Hasan dan Husein, imamah tidak lagi berputar dari kakak ke adik, tapi dari ayah ke anak. Karenanya imamah sesudah Ja’far tidak berpindah dari Ismail kepada saudaranya Abdullah dan Musa, melainkan kepada putera Ismail yakni Muhammad. Kelompok ini disebut Al-Mubarakiyah. Termasuk dalam al-Ismailiyah, pengikut Abil Khattab yang popular disebut Al-Khattabiyah atau As-Sab’iyah karena meyakini bahwa jumlah imam hanya tujuh saja. Kelompok ini dikenal juga dengan sebutan Al-Qaramithah.
4. Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya Muhammad bin Ja’far, kemudian anak keturunannya. Kelompok ini disebut As-Sumaithiyah dipimpin oleh Yahya bin Abi as-Sumaith.
5. Kelompok yang meyakni bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya yang bernama Abdullah al-Afthah. Mereka berhujah dengan hadits yang disampaikan Ja’far bahwa imamah itu adanya pada anak tertua imam. Abdullah adalah putera tertua Ja’far dan telah memproklamirkan diri sebagai imam. Kelompok ini disebut Al-Afthiyah.
6. Kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Ja’far dan putera tertuanya yang lain Musa al-Kazhim, dan kemudian kepada nak keturunannya.
G) Sesudah wafatnya Musa Al-Kazhim, Syiah terpecah lagi dalam beberapa kelompok, diantaranya yang meyakini bahwa imamah sesudah Musa Al-Kazhim adalah puteranya Ali Ar-Ridha. Mereka juga meyakini bahwa imamah berhenti sampai sini. Kelompok ini disebut Al-Wakifah.
H) Sesudah wafatnya Ali Ar-Ridha, Syiah terpecah lagi dalam berbagai kelompok, diantaranya adalah yang meyakini bahwa sesudah Ali Ar-Ridha imamah berpindah ke puteranya, Muhammad bin Ali, yang baru berusia 7 tahun, sehingga menimbulkan perpecahan diantara pengikutnya. Setelah wafat Muhammad bin Ali, imamah dilanjutkan oleh Al-Hasan bin Ali Al-Askari.
I) Sesudah wafatnya Al-Hasan bin Ali Al-Askari, Syiah terpecah-pecah lagi menjadi 14 kelompok. Diantaranya ada yang berpendapat bahwa Al-Hasan tidak wafat, sebab ia tidak boleh mati, karena ia belum punya anak yang tampil sebagai pengganti, bumi ini tidak boleh kosong dari imamah. Beliaulah Al-Qaim, beliau kini sedang ghaib. Ada juga yang berkeyakinan bahwa Al-Hasan memang wafat, tapi ia mempunyai satu-satunya putera bernama Muhammad yang ketika ayahnya wafat ia berusia 5 tahun. Ia disembunyikan oleh ayahnya karena ia takut akan Ja’far saudara Hasan, juga terhadap musuh-musuhnya. Dialah Al-Qaim dan Mahdi Al-Muntazar. Namun terjadi padanya Al-Ghaibah Sugra dan Al-Ghaibah Kubra. Inilah keyakinan Syiah Itsna "Asyariyah.
Ulama Ahlus Sunnah Fakhruddin Ar-Razi dalam kitabnya Al-Muhashal hal 575 setelah memp[erhatikan fakta diatas berkomentar : "Ketahuilah bahwa adanya perbedaan sangat besar seperti itu, adalah merupakan satu bukti konkrit tentang tidak adanya wasiat teks penunjukan yang jelas dan berjumlah banyak (Nash jaliy mutawatir) tentang imam yang dua belas seperti yang mereka klaim itu".
Dr.Musa Al-Musawi salah seorang tokoh Syiah dalam bukunya Asy-Syiah wat Tashih, Ash-Shira Baina As-Syiah wat-Tasyayu’ menyebutkan bahwa sekalipun Imam Ali meyakini keutamaannya, beliau justru menegaskan keabsahan bai’at yang beliau beriokan terhadap para khalifah (Abu Bakar, Umar dan Utsman) serta pujian beliau terhadap mereka sebagaimana dilakukan umat Islam lainnya. Menurut Al-Musawi Imam Ali bahkan berpendapat tidak adanya teks penunjukan atas dirinya yang dating dari langit. Shahabat-shabat yang hidup semasa dengannya-pun berkeyakinan serupa. Mereka juga berkeyakinan tidak ada yang "mencuri" khilafah dari dirinya. Itu antara lain terbukti dari ungkapan imam Ali yang termaktub dalam Nahjul Balaghah yang menegaskan ungkapan Ali : "Sesungguhnya saya telah dibai’at oleh kelompok yang dahulu membai’at Abu Bakar, Umar, Utsman dengan materi bai’at yang sama pula, sesungguhnya syura itu ada pada al-Muhajirin dan al-Anshar. Apabila mereka bersepakat terhadap seseorang yang kemudian mereka angkat sebagai imam, mka yang demikian itukah yang diridhai Allah. Apabila sesudah itu ada yang tidak puas dengan memunculkan fitnah atau bid’ah, mereka mengajak kepada prinsip awal, tapi bila ia enggan maka mereka akan memeranginya, karena ia telah mengikuti jalan yang bukan jalannya kaum beriman".
K. Syi’ah Itsna ’Asyariyah (Rafidhah)
Dari sekian banyak sekte dalam Syiah, sekte inilah yang paling luas pengaruhnya dan paling banyak pengikutnya. Mayoritas mereka tinggal di Iran dan Irak. Sekte ini muncul pada abad ke-3 H, akan tetapi ada juga yang menyatakan bahwa sekte ini baru muncul sesudah wafatnya imam ke-11 Hasan al-Askari dan ghaibnya imam yang ke-12 Muhammad Al-Mahdi Al-Muntazar tahun 260 H. Sekte ini membatasi imamah itu hanya 12 orang :
Ali bin Abi Thalib Al-Murtadha - *) Muhammad al-Hanafiyah
Hasan bin Ali bin Abi Thalib Al-Mujataba - *)Al-Hasan bin Hasan bin Ali *)Abdullah *)Muhammad An-Nafzu Zakiyah
Husein bin Ali bin Abi Thalib Asy-Syahid
Ali bin Husein Zainal Abidin As-Sajad - *Zaid bin Ali
Muhammad bin Ali al-Baqir
Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq - *)Ismail bin Ja’far *)Abdullah bin Al-Afthah *)Ishaq *)Muhammad
Musa bin Ja’far al-Khadim
Ali bin Musa Ar-Ridha
Muhammad bin Ali Al- at-Taqi
Ali bin Muhammad al-Hadi - *)Ja’far *)Muhammad
Al-Hasan Al-Askari
Muhammad bin Hasan Al-Mahdi (?)
Dalam sekte ini masalah imamah menjadi pokok agama, sehingga dimasukkan ke dalam salah satu rukun iman mereka. Rukun imam mereka ada lima seperti dijelaskan oleh Muhammad Husein Ali Kasyiful Ghitha dalam bukunya Ahlusy-Syiah wa Ushuluha, yakni :
At-Tauhid
Al-"Adlu
An-Nubuwwah
Al-Imamah
Al-Ma’ad
Masalah imamah juga merupakan pokok terpenting dalam rukun Islam mereka. Al-Kulaini dalam kitab Al-Kafi fil Ushul 2 : 18 meriwayatkan dari Zurarah dari Abu Ja’far as berkata : Islam dibangun diatas lima perkara : Shalat, Zakat, Haji, Shaum dan al-Wilayah (Imamah). Zurarah bertanya : Mana yang paling utama? Beliau menjawab : Al-Wilayah-lah yang paling utama.
Seseorang yang tidak meyakini imamah sebagaimana keyakinan Syiah Rafidhah, dia kafir dia sesat. Didalam Al-Amali hal 586 disebutkan bahwa Ibnu Abbas ra (?) berkata : Siapa yang mengingkari kepemimpinan A;li setelahku maka dia seperti orang yang mengingkari kenabian semasa hidupku. Dan barang siapa yang mengingkari kenabianku maka dia seperti orang yang mengingkari ketuhanan Allah azza wa Jalla.
Menurut Rafidhah, imam itu lebih tinggi kedudukannya dari para Nabi dan Malaikat, mereka juga ma’shum. Al-Khomeini dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyah hal 52 berkata : Bahwasannya kedudukan Imam itu tidak bisa dicapai malaikat yang dekat dengan Allah, dan tidak bisa dicapai oleh para Nabi dan Rasul.
Dalam kitab Mizanul Hikmah 1 : 174, Muhammad Ar-Rayyi Asy-Syahri menyebutkan : Telah diketahui bahwa dia (Imam) adalah seorang yang ma’shum dari seluruh dosa, baik dosa kecil maupun besar, tidak tergelincir didalam berfatwa, tidak salah dalam menjawab, tidak lalai dan tidak lupa serta tidak lengah dengan satu perkara didunia.
Para Imam juga diyakini mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Al-Majlisi dalam kitabnya Bihar al-Anwar 26 : 109 menulis sebuah Bab bahwa para imam itu tidak terhalangi untuk mengetahui perkara ghaib dilangit dan di bumi, di surga dan di neraka. Seluruh perbendaharaan langit dan bumi diperlihatkan kepada mereka. Mereka juga mengetahui apa yang sudah terjadi dan yang belum terjadi. Padahal dalam QS.An-Naml : ^5 ditegaskan : Katakanlah, tidak ada seorangpun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah.
Tentang imam kedua belas, Sayid Husain Al-Musawi (2006 : 133-142) menjelaskan : Al-Akh Fadhil Sayid Ahmad al-Katib telah menulis tema ini dan dia menjelaskan tentang Imam yang ke-12 yang tidak ada hakikatnya, tidak ada eksistensi dan wujud orangnya. Al-Akh tersebut telah menyajikan pembahasan yang memuaskan dalam tema ini, tapi saya berkata : Bagaimana ia dinyatakan ada, sedang kitab-kitab kami yang muktabar menyatakan bahwa Hasan al-Askari (Imam ke-11) meninggal dan tidak memiliki seorang anak laki-laki pun. Mereka menyelidiki para istri dan budak perempuannya ketika beliau wafat, namun mereka tidak mendapatkan seorangpun dari mereka yang hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Lihatlah tentang ini kitab Al-Ghaibat, karangan Ath-thusi hal 74, Al-Irsyad lil-Mufid hal 354, A’lam al-Wari karangan Fadhal at-Thibrisi hal 380, Al-Maqalat wa-al-Firaq karangan Al-Asyary al-Qummi hal 102. Al-Akh Sayid Ahmad al-Katib telah meneliti masalah para wakil Imam ke-12, maka dia menetapkan bahwa mereka itu dari kelompok dajjal yang mengaku sebagai wakil imam dalam rangka mengeruk harta manusia atas nama khumus, mendapatkan para wanita sebagai teman tidur atau mendapat tumpukan harta dari sumbangan yang mereka terima.
Apakah yang dilakukan oleh Imam ke-12 yang dikenal dengan nama Al-Qaim atau Al-Muntazar, ketika ia muncul :
1) Menghunus pedang dan membunuhi orang Arab : Al-Majlisi meriwayatkan bahwa Al-Muntazar akan berjalan ditengah orang Arab seperti disebutkan dalam Al-Jufri Al-Ahmar, yaitu membunuhi mereka. (bihar Al-Anwar, 52/318). Tidak ada yang tersisa dengan orang Arab selain pembantaian. (Bihar Al-Anwar 52/349) . Hati-hatilah terhadap orang Arab, karena mereka memiliki kabar buruk, maka sesungguhnya tidak akan keluar seorangpun dari mereka bersama Al-Qaim (Bihar Al-Anwar, 52/333)
2) Menghancurkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi : Al-Majlisi meriwayatkan : Sesungguhnya Al-Qaim akan merobohkan Masjidil Haram dan Masjid nabawi sehingga rata dengan pondasinya. (Bihar al-Anwar 52/338). Al-Faidh al-Kasyani meriwayatkan : Wahai para penduduk Kufah, Allah azza wa jalla telah menghadiahkan kepada kamu sekalian keutamaan yang tidak dihadiahkan kepada seorangpun. Tempat shalat kamu adalah rumah Adam, rumah Nuh dan rumah Idris serta tempat shalatnya Nabi Ibrahim. Tidak akan pergi hari-hari sehingga hajar Aswad ditanam didalamnya. (Al-Wafi 1/215)
3) Menegakkan Hukum Keluarga Daud : Dari Abu Abdillah : Jika Al-Qaim dari keluarga Muhammad muncul, dia akan berhukum dengan hukum Daud dan Sulaiman. (al-Ushul min al-Kafi 1/397). Al-Majlisi meriwayatkan bahwa Al-Qaim akan membawa ajaran baru, kitab yang baru dan hukum yang baru. (Bihar al-Anwar 52/354)
Al-Musawi memberikan komentar terhadap riwayat-riwayat ini : Mengapa Al-Qaim menghunuskan pedang kepada bangsa Arab? Bukankah Rasulullah saw, Amirul Mukminin dan keturunannya juga bangsa Arab? Bukankah Al-Qaim sendiri yang akan menghunuskan pedangnya adalah bangsa Arab? Bukankah orang Arab banyak yang beriman kepada Al-Qaim dan kemunculannya? Bagaimana mngkin Al-Qaim akan menghancurkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pada Al-Haram adalah qiblat sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran …. Setelah melewati tahun-tahun yang panjang dalam mempelajari referensi-referensi induk, saya menangkap bahwa Al-Qaim adalah merupakan kiasan dari negeri Israel Raya, atau Al-Masih Al-Dajjal, karena Hasan al-Askari tidak mempunyai anak sebagaimana yang telah kami sebutkan dan kami tetapkan… Mengapa dia memberlakukan hukum Daud? Bukankah ini isyarat bagi dasar-dasar propaganda Yahudi? Ketika Negara Israel berdiri, hukum yang harus diberlakukan adalah hukum keluarga Daud. Negara Israel jika telah berdiri, maka salah satu rencananya adalah menghukum orang-orang Arab, khususnya kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum sebagainmana disebutkan dalam protocol mereka …. Obsesi dari Negara Israel adalah menghancurkan qiblat kaum muslimin dan meratakannya dengan tanah, kemudian menghancurkan Masjid Nabawi, kembali ke ngeri Yasrib dengan mengusir seluruh penduduknya. …. Sahabat-sahabat kami memilih bagi mereka sebanyak 12 imam, bilangan ini merepresentasikan keturunan Bani Israel. Mereka menamai diri mereka dengan madzhab Itsna Asyariyah dalam rangka mengharap berkah dari bilangan ini. Allohu A’lam.
Disampaikan Dalam Daurah Du’at PP.PERSIS di Bandung, Rabu, 30 Juli 2008 M


Dikirim pada 15 Desember 2010 di TENTANG ALIRAN-ALIRAN SESAT


MENGENAL SYI’AH*
Oleh : KH.Shiddiq Amien
A. Sejarah Awal
Syiah menurut etimologi Bahasa Arab mempunyai arti "Sekumpulan orang yang menyepakati suatui perkara, pengikut seseorang atau pendukung" (tahdzibu al-Lughah 3:61). Menurut terminology syariat, Syiah bermakna mereka yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya, bahwasannya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucunya sepeninggal beliau (al-Fishal fil-milali wal-ahwa wal-nihal, Ibn Hazm 2:113).
Pada awal munculnya, tasyayu’ (dukungan) kepada Ali hanyalah merupakan gerakan politik. Penggunaan term Syi’ah dimasa Khalifah Ali ra berkonotasi setia dan membela, tidak ada akidah khusus sebagaimana pada Syiah saat ini. Pasca peristiwa tahkim atau arbitrase antara Ali dan Mu’awiyah, posisi Khalifah Ali semakin lemah dan sempit, terutama sekali sesudah penumpasan pasukan Ali terhadap kaum Khawarij di Nahrawan, telah mendorong mereka untuk membentuk pasukan berani mati yang terdiri dari : Abdurrahman bin Muljam untuk membunuh Ali di Kuffah, Hajaj bin Abdillah as-Sarimi untuk membunuh Muawiyah di Damaskus, dan Zadawih untuk membunuh Amr bin Ash di Mesir. Akan tetapi dua petugas yang disebut terakhir gagal mencapai maksudnya, dengan demikian posisi Muawiyah semakin kuat.
Kelahiran Syiah sebagai suatu aliran keagamaan yang bersipat pilitis secara utuh, dilihat dari aspek ajaran atau doktrin politiknya, yakni tentang legitimasi ke-khalifahan ada pada keturunan Ali dengan Fathimah, putrid Rasulullah saw. bermula sejak munculnya tuntutan penduduk Kuffah pendukung Ali, agar masalah ke-khalifahan dikembalikan kepada Ahlul-Bait. Yang dimaksud dengan Ahlul-Bait oleh Syiah hanya dibatasi kepada Ali, Fathimah, Hasan, Husein dan keturunan Husein. Mereka tidak menganggap para istri Nabi saw, putra-putra Ali selain Hasan dan Husein, saudara-saudara perempuan Fathimah seperti Ruqayah, Ummu Kultsum dan Zainab, begitu pula keturunan Hasan bin Ali sebagai Ahlul-Bait. Dengan demikian lahirnya Syiah pada dasarnya bersamaan waktunya dengan pengangkatan Hasan bin Ali bin Abi Thalib sebagai Imam kaum Syiah. Pada masa ini posisi kaum Syiah semakin goyah karena derasnya fitnah, perselisihan dan perpecahan dikalangan mereka yang sengaja ditanamkan oleh golongan Syabaiyyah pengikut Abdullah bin Saba. Lemahnya kepemimpinan Hasan bin Ali menjadi factor yang mempersulit kaum Syiah. Usaha Hasan menumpas Syabaiyyah dan menentang pemerintahan Muawiyah, membuat banyak pendukung meninggalkannya dan berpaling kepada Muawiyah, sebagian bergabung dengan Syabaiyyah dan Khawarij. Akhirnya Hasan bin Ali memilih jalan damai dengan mengundurkan diri dari jabatan sebagai khalifah pada tahun 41H/661M. Sesudah Hasan bin Ali wafat diangkatlah saudaranya (yakni) Husein bi Ali sebagai Imam. Putera Ali kedua ini tampak memiliki semangat dan daya juang seperti bapaknya, namun saying ia harus tewas diujung pedang tentara Yazid bin Muawiyah di padang Karbala secara memilukan pada tanggal 1 Oktober 680 M.
Perubahan corak Syiah dari politik murni menjadi gerakan keagamaan antara lain dipengaruhi oleh kedengkian Yahudi dan Majusi (Persia) terhadap Islam. Karena Islam-lah yang telah menghancurkan dan mencabut akar-akar Yahudi dari jazirah Arab, negeri yang dianggap sangat penting bagi Yahudi, mereka telah lama menetap di Madinah dan Syan’a (Yaman) dan sebagian ujung-ujung jazirah Arab. Adapun Persia, mereka adalah bangsa kaya dan pernah berkuasa atas bangsa-bangsa lain termasuk bangsa Arab. Persia yang besar kerajaannya, kewibawannya tidak runtuh ditangan bangsa Romawi ataupun Mongol, tapi justru jatuh ditangan kaum muslimin yang berjumlah relative kecil dimasa kehkalifahan Umar Ibn al-Khathab ra.
Keinginan mengobarkan dendam lama nampak dari ucapan Imam Khomaeni : "…Sesungguhnya aku mengatakan dengan keberanian bahwa bangsa Iran (dulu Persia) dengan jumlah jutaan pada saat ini lebih utama dari pada bangsa Hijaz dimasa Rasulullah saw dan dari bangsa Kufah, Irak pada masa Amirul Mukminin Al-Husein bin Ali (Al-Washiyah Al-Ilahiyah hal.16).
Seorang orientalis Inggris Dr.Brown yang cukup lama tinggal di Iran untuk studi kesejarahan dalam Tarikh Adabiyat Iran jilid 1 hal 217 mengatakan : "… Diantara factor terpenting yang menyebabkan permusuhan penduduk Iran terhadap khalifah Ar-Rasyid kedua, Umar adalah karena dialah yang telah menaklukan Negara-negara non-Arab dan telah meruntuhkan kekuatan mereka. Hanya saja permusuhan mereka dibungkus dengan baju agama dan madzhab". Di bagian lain dia menjelaskan bahwa kebencian mereka kepada Umar bukan karena merampas hak-hak Ali dan Fathimah, melainkan karena dialah yang telah menaklukan Iran dan menumbangkan dinasti Sasaniyah. Kemudian dia menukil sebuah Syair lagu Persia : "Umar telah mematahkan punggung-punggung singa yang ganas dikandangnya dan telah mencabut keluarga Jamsyid (raja terbesar dari Persia), bukanlah pertentangan itu karena ia merampas hak Ali, tetapi dendam lama ketika ia menaklukan Persia. (ibid, jilid 4 hal 49)
Setelah bertemunya kepentingan Sabaiyyah dan Majusiyah, mereka menggunakan maker dengan mengeksploitasi terbunuhnya Ali bin Abi Thalib ra dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, kemudian membubuinya dengan fatwa-fatwa yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib dan keluarganya untuk kemudian membawa agama baru yang berdiri sendiri. Memiliki akidah dan syariah yang berbeda atau berpisah dari Islam, yang dibawa oleh As-Shadiq Al-Amin Muhammad saw. Maka dengan demikian tasyayu’ (dukungan) dibangun dan berdiri diatas ucapan-ucapan dan perbuatan para Imam. Jika ditentang dengan ucapan atau perbuatan Imam itu sendiri yang dimuat dalam kitab mereka, dengan ringan mereka menjawab "Itu kan Taqiyyah". Jika ditentang dengan Al-Quran, mereka menjawab "Al-Quran yang ada telah diubah dan diganti". Jika dibantah dengan Sunnah yang shahih, mereka dengan mencibir berkata "Itu riwayat dari orang-orang yang murtad".
B. Abdullah bin Saba dan Syiah
Pencetus pertama dari Syiah (rafidhah) adalah seorang Yahudi dari Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba al-Himyari atau Ibnu Sauda, yang menampakan ke-Islaman dimasa Khalifah Ustman bin Affan ra. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :"Asal usul faham ini dari munafiqin dan zanadiqah. Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba al-Zindiq. Ia menampakan sikap ekstrim didalam memuliakan Ali, dengan satu slogan bahwa Ali yang berhak jadi Imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum" (Majmu’ al-Fatawa 4:435).
Para ulama Syiah mutaakhirin banyak yang menyanggah tentang keberadaan dan keterlibatan Ibnu Sauda ini. Salah satunya Sayyid Muhammad Ali Kasyif Al-Ghitha, ketika ditanya oleh Sayyid Husain al-Musawi tentang Abdullah bin Saba, ia menjawab : "Sesungguhnya Abdullah bin Saba adalah khurafat yang dibikin-bikin oleh golongan Umawiyah dan Abbasiyah karena kedengkian mereka kepada Ahlul-Bait yang suci" (Mengapa Saya Keluar dari Syiah :11).
Padahal kitab-kitab Syiah yang dianggap mu’tabar dengan jelas mengakui keberadaan dan peran Abdullah bin Saba. Diantaranya :
Al-Kassyi dalam kitab "Rijal"-nya hal 257 menceritakan dari Ibnu Sinan, dari Abu Abdillah berkata : "Kami ahlul-bait adalah orang-orang yang jujur, tetapi selalu ada pendusta yang berdusta atas nama kami. Maka runtuhlah kejujuran kami dimata manusia. Adalah Rasulullah saw manusia paling jujur ucapannya, dan adalah Musailamah Al-Kadzab telah berani berbuat dusta atasnya. Adalah Amirul Mukminin (Ali) orang yang paling jujur yang dibersihkan oleh Alloh sepeninggal Rasululllah saw. dan Abdullah bin Saba -semoga laknat Allah- telah berani berdusta. Dan adalah Abu Abdillah Al-Husain bin Ali telah diuji dengan al-Mukhtar (Ats-Tsaqafi)".
Abu Musa, Al-Hassan bin Musa An-Nubakhti dalam kitabnya Firaq Al-Syiah hal 43-44 menjelaskan : Tatkala Ali as terbunuh, pendukungnya terpecah menjadi tiga kelompok. Kelompok yang berkata sesungguhnya Ali tidak terbunuh dan tidak akan terbunuh atau mati hingga ia menggiring bangsa Arab dengan tongkatnya dan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana telah dipenuhi dengan kezdaliman dan kecurangan. Inilah kelompok pertama yang berfaham "Waqf Ghuluw" (berlebhan). Kelompok ini disebut "Sabaiyyah", pengikut Abdullah bin Saba, orang yang telah menampakkan penghinaan kepada Abu Bakar, Umar dan Utsman dan para shahabat, serta memaklumkan "bara’ah" (berlepas diri) dari mereka. Dia orang yang mengatakan bahwa Ali yang telah menyuruhnya berbuat demikian. Maka ia ditangkap oleh Ali. Setelah ditanya ia mengakuinya, maka Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Tetapi orang-orang berteriak mengatakan : Ya Amiral Mukminin apakah engkau akan membunuh orang yang telah mengajak untuk mencintaimu dan Ahlul-Bait? Maka Ali mengusirnya ke Madain (ibu kota Persia/Iran). Sejumlah ahli ilmu shahabat Ali as mengisahkan bahwa Abdullah bin Saba asalnya Yahudi, lalu masuk Islam dan mendukung Ali. Dialah orang pertama yang menyiarkan kabar tentang kewajiban imamah Ali, yang memperlihatkan bara’ah dari musuh-musuhnya dan yang mengungkap lawan-lawannya. Dari sanalah orang diluar Syiah mengatakan bahwa asal usul Syiah diambil dari Yahudi. Tatkala Ibnu Saba di Madain mendengar wafatnya Ali, dia berkata kepada pembawa berita duka itu : "Kamu berdusta, seandainya engkau dating kepada kami dengan membawa otaknya dalam 70 kantong dan saksi adil sebanyak 70 orang tentu kami tetap yakin bahwa ia belum mati dan belum terbunuh, ia tidak akan mati sebelu menguasai bumi…"
Sayyid Ni’matullah al-Jazairi berkata : "Abdullah bin Saba berkata kepada Ali as, Kamu adalah Tuhan yang Besar. Maka Ali mengasingkannya ke Madain." (Al-Anwar An-Nu’maniyah 2:234)
Di dalam buku "Mengapa Saya Keluar dari Syiah" yang judul aslinya Lillahi Tsumma Li At-Tarikh, Sayyid Husain Al-Musawi menjelaskan bahwa lebih dari dua puluh referensi Syiah yang menyatakan eksistensi Abdullah bin Saba, seperti : Al-Gharat karya Ats-Tsaqafi, Rijal karya At-Thusi, Ar-Rijal karya Al-Hulli, Qamus Ar-Rijal karya Tasturi, Dairatul Ma’arif karya Al-Hariri, Al-Kuna wal-Alqab karya Abbas Al-Qumi, Hallul Iskal karya Ahmad bin Thusi, At-Tahrir karya Ath-Thawusi, dan sebagainya.
Diantara ajaran yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba dalam rangka merusak akidah dan memecah belah umat :
Bahwa Ali bin Abi Thalib ra telah menerima wasiat sebagai pengganti Rasulullah saw. (An-Nubakhti, Firaq asy-Syiah, hal.44).
Bahwa Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan ra adalah orang-orang dzalim yang telah merampas hak khalifah Ali sepeninggal Nabi saw. Umat Islam yang telah ikut membai’atnya dinyatakan murtad (An-Nubakhti, op.cit, hal 44).
Bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pencipta semua makhluk dan pemberi rizki (Ibnu Badran, Tahdzib At-Tarikh ad-Dimasq, 7 :430).
Bahwa Nabi Muhammad saw akan kembali lagi ke bumi sebelum hari kiamat, sebagaimana akan kembalinya Nabi Isa as (Ibnu Badran, op.cit. 7:428).
Bahwa Ali ra tidak mati melainkan tetap hidup diangkasa, petir adalah suaranya ketika marah dan kilat adalah cemetinya (Ath-Thahir Ibnu Muhammad Al-Baghdadi, Al-Farq Baina Al-Firaq, hal 234)
Bahwa Ruh al-Quds berinkarnasi kedalam diri Imam Syiah (Al-Bad’u wa At-Tarikh, juz 5, hal 129)
C. Hujatan Syiah Terhadap Rasulullah saw
Untuk menggambarkan penghinaan Syiah (Rafidhah) kepada Nabi saw bisa diperhatikan beberapa kutipan dari buku Gen Syiah, yang ditulis Mamduh Farhan Al-Buhairi : 61-63 sebagai berikut :
Ash-Shaduq didalam kitabnya Al-Amal meriwayatkan bahwa Rasulullah saw berkata kepada Ali ra : Seandainya aku tidak menyampaikan apa yang aku perintah dengannya dari perkara wilayahmu (kepemimpinanmu), maka leburlah seluruh amalku (Tafsir Nur Ats-Tsaqalain, jilid I hal 654). Sepertinya Allah swt mengutus Rasul-NYa yang mulia hanya untuk menyampaikan soal wilayah Ali, mereka telah mengecilkan kedudukan Rasulullah saw.
An-Nu’manimeriwayatkan dari Imam Muhammad al-Baqir as, ia berkata : Ketika Imam Mahdi muncul ia didukung oleh para Malaikat, dan orang yang pertama kali membai’atnya adalah Muhammad saw dan Ali as. Syaikh At-Thusi meriwayatkan dari Imam Ar-Ridha as bahwa diantara tanda-tanda munculnya Al-Mahdi adalah dia akan muncul dalam keadaan telanjang didepan bulatan matahari. (Al-Kafi Al-Ushul, I:504)
An-Nu’mani juga meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah saw mi’raj kelangit, beliau melihat Ali ra dan nak-anaknya telah sampai disana sebelum Nabi saw. Bahkan Nabi saw mengucapkan salam kepada mereka. Ketika Rasulullah saw ditanya : Dengan bahasa apakah Rabb anda berbicara dengan anda waktu mi’raj? Beliau menjawab : Dia berbicara kepadaku dengan bahasa Ali bin Abi Thalib, hingga aku bertanya : Engkaukah yang sedang berbicara kepadaku ataukah Ali? (Kasyf al-Ghummah I:106)
Ar-Ridha berkata dalam menafsirkan (QS.al-Ahzab 37) : Sesungguhnya Rasulullah saw pergi menuju rumah Zaid bin Haritsah dalam urusan yang dia inginkan, lalu ia melihat istrinya sedang mandi, maka dia berkata kepadanya, maka ia (Nabi) berkata kepadanya : Maha Suci Alloh yang telah menciptakan kamu. (Ibnu Bawaih al-Qunni, Uyunu Akhbar Ar-Ridha, hal 113).
Sayyid Ali Gharwi, salah seorang pembesar Syiah berkata : Sesungguhnya Nabi saw kemaluannya pasti akan masuk neraka, karena ia menyetubuhi beberapa wanita musyrik. Yang dimaksud wanita musyrik adalah Aisyah dan Hafshah (Mengapa Saya Keluar dari Syi’ah :27).
D. Hujatan Syiah Terhadap para Istri Nabi saw
Jika Nabi saw tidak selamat dari kejahatan dan hujatan mereka, begitu-pun para istri Nabi tidak lepas dari kejahatan mereka. Bahkan telah keluar fatwa kafir bagi ummahatul-mukminin, terutama Aisyah dan Hafshah (Bihar al-Anwar, XXII, hal 227-247). Diantara para istri Nabi yang paling dibenci mereka adalah Siti Aisyahra. Mereka merendahkan kehormatan istri yang paling dicintai Rasulullah saw tersebut dengan kedustaan-kedustaan yang nyata. Sebagai ilustrasi saya nukil beberapa riwayat sebagai berikut :
Ali Ibrahim al-Qummi dalam tafsirnya Al-Qummi 2:192 ketika menerangkan sababu an-nuzul QS.al-Ahzab :28 mengatakan : Sebab turun ayat ini ketika Rasulullah saw pulang dari perang Khaibar, beliau membawa harta keluarga Abu al-Haqiq. Maka mereka (para istri Nabi) berkata : Berikanlah kepada kami apa yang engkau dapatkan itu. Beliau menjawab : Aku akan bagikan kepada kaum muslimin sesuai perintah Allah. Maka marahlah mereka, lalu berkata : Sepertinya engkau menganggap kalau seandainya engkau menceraikan kami, maka kami tidak akan menemukan para pria berkecukupan yang akan menikahi kami. Maka Allah menentramkan hati Nabi dan memerintahkan untuk meninggalkan mereka.
Muhammad bin Mahmud bin Iyasy didalam tafsir al-Iyasy I:200, -dengan dusta- berkata bahwa Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq pernah berkata : Tahukah kalian apakah Nabi saw meninggal dunia atau dibunuh? Sesungguhnya Allah swt telah berfirman : Apakah jika dia (Muhammad) mati atau dibunuh kalian akan murtad? (QS.Ali Imran 144) Beliau sebenarnya telah diberi racun sebelum meninggalnya. Sesungguhnya dua wanita itru (Aisyah dan Hafshah) telah meminumkan racun kepada beliau sebelum wafatnya. Maka kami menyatakan : Sesungguhnya kedua wanita itu dan kedua bapaknya (Abu Bakar dan Umar) adalah sejelek-jeleknya makhluk Allah.
Dinukilkan secara dusta dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur-Rijal karya At-Thusi hal 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas ra (padahal mereka sangat membenci Ibnu Abbas) pernah berkata kepada Aisyah : Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan Rasulullah saw
Al-Bayadhi dalam kitabnya Shirathal Mustaqim 3 : 135 mengelari Aisyah ra dengan : Ummu asy-Syurur (Ibu kejelekan) dan Ummu Syaithan (biangnya syetan).
Padahal Ali bin Abi Thalib ra sewaktu perang Jamal berkata : Wahai kaum muslimin, dia (Aisyah) adalah seorang yang jujur, dan demi Allah dia seorang yang baik. Sesungguhnya tidak ada diantara kami dengan dia kecuali yang demikian itu. Dan ketahuilah dia dalah istri Nabi kalian didunia dan akhirat. (Tarikh Ath-Thabari 5 : 225).
E. Hujatan Syiah Kepada Ahlul-Bait
Kaum Syiah sering mendakwahkan diri sebagai pecinta ahlul-bait, tapi jika kita perhatikan beberapa riwayat berikut nampak jelas ungkapan cinta Ahlul-Bait itu hanya sebagai kedok untuk menutupi kebusukan ajarannya.
dari Abu Abdillah as berkata : Seseorang wanita yang buruk rupa dating kepada Amirul Mukminin, sedang ia ketika itu ada dimimbar, maka wanita itu berkata : Ini adalah pembunuh kekasihnya, maka Ali melihat kepadanya dan berkata : Wahai Salfa, wahai wanita yang lancing, wahai orang yang keji, wahai yang mengingatkan, yang tidak haid seperti haidnya wanita lain, wahai orang yang pada kemaluannya terdapat sesuatu yang jelas menggantung. (Al-Majlisi, Bihar al-Anwar 41 : 293). Ini jelas penghinaan terhdapa Ali !!
Dalam Tafsir Al-Qummi 2 : 2236 diriwayatkan ketika Fathimah menceritakan tentang Ali : Sesungguhnya para wanita Quraisy menceritakan kepadaku sesungguhnya dia (Ali) adalah seorang laki-laki gendut perutnya , panjang tangannya, besar persendiannya, blotot dua matanya, bahunya lunak seperti Unta, gigi yang berseri, tidak punya harta.
Disebutkan oleh al-Ashfahany dari Abu Ishaq bahwa ia berkata : Aku dimasukkan oleh ayahku kedalam mesjid pada hari jum’at. Ia mengangkatku, maka aku melihat Ali berkhutbah diatas mimbar, dia adalah orang tua yang botak, menonjol dahinya, bidang dadanya, jenggotnya memenuhi dadanya, dan lemah penglihatannya. (Muqatil Ath-Thalibin hal 27)
Al-Majlisi dalam Bihar Al-Anwar XII hal 213 meriwayatkan bahwa Rasulullah saw mendatangi Amirul Mukminin ketika ia tidur dimasjid dan berbantal tumpukan kerikil yang ia kumpulkan. Rasulullah membangunkannya dengan kakinya sambil berkata : Bangunlah wahai hewan Allah. Maka seorang shahabat bertanya : Wahai Rasulullah apakah sebagaian kita boleh menyebut sebagian yang lain dengan nama seperti itu? Beliau bersabda : Tidak, Demi Allah, nama tadi khusus untuknya.
Sayyid Husain Al-Musawi menjelaskan bahwa imam yang paling banyak mendapat cacian, hinaan dan ejekan adalah dua imam, yaitu : Al-Baqir dan putranya Ja’far Ash-Shadiq serta anak keduanya. Telah dinisbahkan kepadanya sebagian besar permasalahan, seperti : Taqiyyah. Muth’ah, Homoseks, meminjamkan kemaluan, dan yang lainnya. Sedangkan keduanya sama sekali terbebas dari semuanya.
Kekejian mereka nampak sekali dari penjelasan Sayyid Muhsin al-Amin : Husain membai’at dua puluh ribu penduduk Kufah, lalu mereka semua melanggar sumpah tersebut, mereka keluar untuk menentangnya, padahal bai’at masih terikat dileher-leher mereka, lalu mereka membunuhnya. (A’yanu Syi’ah I : 34)
F. Hujatan Kepada Para Shahabat.
Para Shahabat Nabi saw yang dipuji Alloh dalam QS.At-Taubah : 100 sebagai As-Sabiquna al-Awwalun, yakni orang-orang terdahulu yang pertama masuk Islam dari Muhajirin dan Anshar, Allah telah ridha pada mereka, dan Allah telah menjanjikan bagi mereka tempat kembalinya surga. Dimata kaum Rafidhah para shahabat Nabi saw itu adalah murtaddin yang busuk. Sebagai ilustrasi, saya nukilkan beberapa riwayat berikut :
Al-Kulaini didalam kitabnya Furu’ul Kafi Kitab Ar-Raudhah hal 115 menyebutkan dari Abu Ja’far as : Semua manusia telah murtad sepeninggal Nabi saw kecuali tiga orang. Saya bertanya : Siapakah ketiga orang itu? Beliau menjawab : Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.
Muhammad Al-Baqir Al-Majlisi dalam kitabnya Haqqul Yakin : 533 menjelaskan bahwa Abu Hamzah At-Tamali menceritakan bahwa dia bertanya kepada Imam Zainal Abidin tentang Abu baker dan Umar. Maka Imam menjawab : Keduanya adalah kafir dan orang-orang yang membai’at keduanya juga kafir.
Dihalaman 519 Al-Majlisi menyatakan : Akidah kami dalam hal kebencian adalah membenci empat berhala, yaitu : Abu Bakar, Umar, Utsman dan Mu’awiyah, dan empat wanita, yaitu : Aisyah, Hafshah, Hindun dan Ummul Hakam, serta seluruh orang yang mengikuti mereka. Mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk Allah dimuka bumi. Tidaklah sempurna iman kepada Allah, rasul-Nya dan para Imam kecuali setelah membenci musuh-musuh tadi.
Al-Mula Kazhim dalam Ajma’u al-Fadhaih : 157 dari Imam Zainal abiding : Barang siapa melaknat al-Jibti (Abu Bakar) dan ath-Thaghut (Umar) dengan sekali laknat, maka Allah mencatat 70 juta kebaikan dan dihapus sejuta dosa, Allah mengangkat derajatnya 70 juta derajat.
Maqbul Ahmad menyebutkan dalam Bioghrafinya hal 551 : Yang dimaksud dengan Fahsya adalah sayid yang pertama yaitu Abu Bakar, dan Munkar adalah syaikh kedua, yaitu Umar, sedangkan Baghyi adalah orang yang ketiga yaitu Utsman. Dibagian lain ia menyebutkan : Yang dimaksud dengan Kufr adalah Abu Bakar, Fusuq adalah Umar dan Ishyan adalah Utsman.
Orang-orang Syiah mempunyai sebuah doa yang mereka namai Do’a Shanamai Quraisy (Permohonan Untuk dua berhala quraisy, yakni Abu Bakar dan Umar). Do’a tersebut berbunyi : Ya Allah laknatilah kedua berhala Quraisy, kedua patung Quraisy, kedua pendusta Quraisy dan kedua putrinya. Keduanya telah menyalahi perintah-Mu, mencintai musuh-musuh-Mu, melupakan semua karunia-Mu, menelantarkan hukum-Mu, dan mengingkari bukti-bukti kebenaran-Mu. Ya Allah laknatlah keduanya dalam relung rahasiah-Mu dan dalam alam nyata-Mu, laknat yang banyak, terus-menerus, abadi selama-lamanya, tidak pernah berhenti dan tidak pernah putus, tidak pernah habis dan tidak pernah pupus, menerjang awalnya dan tidak kembali akhirnya, untuk mereka, pembantu mereka, penolong mereka, pecinta mereka, para mawali mereka, yang pasrah kepada mereka, yang cenderung kepada mereka, yang meninggikan mereka, yang meneladani ucapan mereka dan membenarkan hukum mereka. Ya Allah siksalah mereka dengan siksa yang penduduk neraka-pun berlindung dari padanya, Amin ya Rabbal-Alamin. (Tuhfah al-Awam, Manshur Husain, hal 423 dan Bihar al-Anwar, Al-Majlisi, jilid 82 hal 260)
G. Pandangan Ahlul-Bait Kepada Syiah
Banyak kitab Syiah yang menjelaskan tentang kemarahan Ahlul Bait kepada para pengikutnya, sebagai contoh :
Amirul Mukminin Ali ra berkata : Kalaulah aku bisa membedakan pengikutku, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang yang memisahkan diri. Kalaulah aku menguji mereka, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang murtad. Kalaulah aku menyeleksi seribu orang dari mereka, maka tidak akan ada yang lolos seorangpun. (al-Kafi, kitab Ar-Raudhah 8 : 338)
Imam Husein bin Ali dalam mendoakan pengikutnya berkata : Ya Allah, jika Engkau memberi ni’mat kepada mereka, maka cerai beraikanlah mereka sejadi-jadinya, jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, janganlah Engkau ridhai kepemimpinan mereka untuk selamanya, karena mereka menyeru untuk menolong kami, kemudian mereka memusuhi kami dan membunuh kami. (al-Irsyad, Muhammad An-Nu’man Al-Mufid 2 : 10)
Imam Hasan bin Ali berkata : Demi Allah, saya melihat Muawiyah lebih baik bagiku dari pada mereka, mereka mengaku sebagai pengikutku, namun mereka berusaha membunuhku dan merampas hartaku. Demi Allah untuk mengambil dari Muawiyah apa yang dapat melindungi darahku dan merasa aman ditengah-tengah keluargaku lebih baik dari pada mereka membunuhku, sehingga menjadi sia-sialah Ahlu Baitku. (Al-Ihtijaj, Ath-Thubrusi 2 : 10)
Imam Zainal Abidin berkata kepada penduduk Kufah : Apakah kamu sekalian mengetahui bahwa kalian menulis kepada bapakku lalu kalian menipunya. Kalian memberi sumpah dan janji kepadanya atas kerelaan diri kalian sendiri, tapi kemudian kalian memeranginya dan toidak menolongnya. Dengan mata yang mana kalian melihat Rasulullah saw ketika beliau bersabda : Kalian memerangi keturunanku, merusak kehormatanku, maka kalian bukanlah ummatku. (al-Ihtijaj 2 : 29)
Imam al-Baqir berkata : Kalaulah seluruh manusia adalah pengikut kami, tentu tiga perempat dari mereka adalah orang-orangyang diragukan, dan seperempatnya lagi adalah orang-orang bodoh. (Rijal Al-Kasysyi hal 79)
H. Kayakinan Syiah Terhadap Al-Quran
Kaum Syiah tidaklah meyakini akan jaminan Allah tentang keotentikan dan orisinalitas Al-Quran yang termaktub dalam QS.al-Hijr : 9, kerana mnurut keyakinan mereka Al-Quran yang ada sekarang bukan Al-Quran yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammmad saw. Ini terungkap antara lain :
Muhammad bi Ya’qub bin Ishaq Al-Kulaini dalam kitabnya Al-Kafi fi Ushul, Kitab Fadhail-Quran 2 : 634 meriwayatkan dari Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah as, dia berkata : Sesungguhnya al-Quran yang dibawa oleh Jibril as kepada Nabi Muhammad saw adalah 17.000 ayat. Padahal Al-Quran yang berada ditangan kita berjumlah 6236 ayat, berarti 2/3-nya telah hilang. Kemudian di Bab Al-Hujjah 1 : 239 dijelaskan bahwa bagi kaum Syiah memiliki kitab suci sendiri yang bernama "Mushaf Fatimah" yaitu sebuah mushaf didalamnya semisal Al-Quran yang tebalnya tiga kali lipat, dan tidak ada satu huruf-pun yang sama dengan Al-Quran.
Ni’matullah Al-Jazairi berkata : Telah diriwayatkan dalam banyak hadits bahwa mereka telah memerintahkan para Syiah mereka untuk membaca Al-Quran yang ada ini dalam shalat dan lainnya serta mengamalkan hukumnya hingga munculnya Maulana Shahib az-Zaman lalu ia mengangkat Al-Quran ini dari tangan-tangan manusia menuju langit dan mengeluarkan Al-Quran yang disusun oleh Amirul Mukminin, maka dibaca dan diamalkan hukum-hukumnya.(al-Anwar an-Nu’maniyah 2 : 363)
Mirza Husain bin Muhammad Taqiy an-Nuri Ath-Thubrusi, dalam kitabnya Fashlu al-Kitab fi Tahrif Kitab Rabbi al-Arbab hal 32 menyebutkan : Sesungguhnya Al-Quran yang ada pada kita bukanlah Al-Quran yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw, tapi telah dirubah, diganti, ditambahi dan dikurangi. Diantara contoh ayat-ayat yang ditahrif :
- ان الله اصطفى أدم ونوحا وال ابراهيم وال محمد على العالمين (ال عمران 33) فصل الخطاب : 264)
- ياايهاالذبن أمنوااتقواالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون لرسول الله والامام من بعده (ال عمران : 102) – فصل الخطاب : 267)
- ياايهاالذبن أمنواأطيعواالله وأطيعواالرسول وأولى الامر منكم من ال محمد صلواتالله عليهم (النساء : 59) فصل الخطاب : 274)
- وليستعفف الذين لايجدون نكاحا بالمتعة حتى بغذيهم الله من فضله (النور :33) فصل الخطاب : 315)
- ومن يعص الله ورسوله فى ولاية علي فاءن له نار جهنم خالدين فيها أبدا (الجن : 23)-فصل الخطاب : 240)
- ياايهاالنفس المطمئنة الى محمد ووصيه والائمة من بعده (27) ارجعي الى ربك راضية بولاية علي مرضية بالثواب (28) فادخلي في عبادي مع محمد وأهل بيته (29) وادخلي جنتي غيرمشوبة (30)-فصل الخطاب : 345)
Dalam keyakinan Syiah, disamping ada yang disebut Mushaf Fathimah ada kitab-kitab samawi lain yang diturunkan kepada Nabi saw, tapi dikhususkan untuk Amirul Mukminin (Ali). Kitab-kitab tersebut antara lain :
Al-Jami’ah : Dari Abu Bahir, dari Abu Abdillah, dia berkata : Saya Muhammad, saya memiliki Al-Jami’ah. Tidaklah mereka mengetahui pakah Al-Jami’ah itu? Dia berkata : Al-Jami’ah adalah lembaran yang tingginya tujuh puluh hasta Rasulullah saw, dia didiktekan dari ufuk, ditulis oleh Ali dengan tangan kanannya, didalamnya dituliskan tentang halal dan haram serta segala sesuatu yang dibutuhkan manusia hingga tentang diyat dalam cakaran … (al-Kafi, I/239, Bihar al-Anwar, 26/22)
Shahifah An-Namus : Dari ar-Ridha as tentang hadits tanda-tanda Imam, dia berkata : Dia memiliki shahifah yang didalamnya terdapat nama-nama pengikut mereka hingga hari kiamat, juga shahifah yang didalamnya nama-nama musuh mereka hingga hari kiamat.(Bihar al-Anwar 25/117)
Shahifah Al-Abithah : Dari Amirul Mukminin as, dia berkata : Demi Allah sesungguhnya aku memiliki shahifah yang banyak sekali yang merupakan bagian milik Rasulullah, dan Ahlul Baitnya. Diantara shahifah tersebut ada yang bernama Al-Abithah. Tidak ada yang dating kepada orang Arab terkemuka yang tidak memiliki sedikitpun bagian dalam agama Allah. (Bihar al-Anwar, 26/37)
Masih ada lagi yang disebut : Shahifah Dzuabah as-Saif, Shahifah Ali, dan Al-Jufr.
I. Keyakinan Syiah Terhadap Al-Hadits
Syiah hanya menerima hadits-hadits Nabi saw yang diriwayatkan melalui jalur Ahlul-Bait. Mereka menolak hadits yang diriwayatkan shahabat selain Ali, karena mereka menilai para shahabat itu telah murtad/kafir. Menurut Syiah hadits bukan hanya yang dating dari Nabi saw, tetapi justru lebih banyak dari imam-imam mereka. Karena perkataan imam yang juga dinilai Ma’shum sama dengan perkataan Nabi saw, bahkan perkataan imam itu sama dengan firman Allah swt. Dalam Al-Kafi 2 : 271-272 diriwayatkan, Abu Abdillah berkata : Haditsku berarti hadits ayahku, hadits ayahku berarti hadits kakekku, hadits kakekku berarti hadits Husein, hadits Husein berarti hadits Hasan, hadits Hasan berarti hadits Ali, hadits Ali berarti hadits Rasulullah saw, hadits Rasulullah saw berarti firman Allah swt. Karena Syiah berkeyakinan bahwa Imam itu ma’shum, sama dengan firman Allah, maka tidak perlu menyandarkan atau mengisnadkan ucapan Imam itu kepada Nabi saw. seorang tokoh Syiah Abdullah Fiyadh : Keyakinan bahwa Imam itu ma’shum, menjadikan semua hadits yang keluar dari mereka adalah shahih. Maka tidak diperlukan menyandarkan sanadnya kepada Rasulullah saw sebagaimana halnya dikalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. (Tarikh al-Imamiyah : 140)
Masalah rawi bagi Syiah tidak diperlukan criteria seperti dikalangan Ahlus Sunnah, yang penting rawi itu Syi’i/berpihak kepada Syiah.
Jumlah hadits dalam Syiah bertambah dan terus bertambah. Seperti diungkap Sayid Husain al-Musawi dalam bukunya Mengapa Saya Keluar dari Syiah (judul asli buku tersebut : Lillah Tsumma Lit-Tarikh) hal. 129-130 sebagai berikut : Kitab Al-Kafi adalah referensi Syiah terbesar secara mutlak, dia adalah kitab yang diakui oleh Imam kedua belas yang ma’shum, yang tidak pernah salah dan keliru. Ketika Al-Kulaini menulis kitab Al-Kafi dia menyodorkannya kepada Imam kedua belas di Sardabih, Samuria. Imam kedua belas mengatakan : Al-Kafi telah cukup bagi para pengikut kami (Syiah). (lihat Mukaddimah Al-Kafi hal.25). Sayid Muhakkik Abbas Al-Qummi berkata : Al-Kafi adalah kitab Islam yang paling agung, dan karangan keimanan yang paling besar, tidak ada bakti bagi keimanan yang sebanding dengannya. Maulana Muhammad Amin Al-Istirbadi dalam kitab Muhki Fawaid, kami mendengar guru-guru dan ulama kami berkata bahwa tidak dikarang dalam Islam kitab yang sepadan dan sebanding dengan Al-Kafi.(Al-Kunni wa al-Inqab 3 : 98). Tetapi marilah baca bersama saya beberapa perkataan berikut ini : Al-Khawansari berkata : Mereka berselisih tentang kitan Ar-Raudhah yang menghimpun beberapa bab, apakah dia salah satu kitab Al-Kafi yang merupakan karangan Al-Kulaini, ataukah tambahansesudahnya? (Ar-Raudhah Al-Jannat 6 : 1180). Syaikh yang terpercaya Sayid Husain bin Sayid Haidar Al-Karki Al-Amili yang wafat pada tahun 1076 : "Sesungguhnya kitab Al-Kafi terdiri dari lima puluh kitab yang disertai dengan sanad-sanad dari setiap hadits yang bersambung dengan para Imam Alaihimus-salam (Raudhah Al-Jannah 6 : 114). Sementara Sayid Abu Ja’far Ath-Thusi yang wafat tahun 460 H berkata : "Sesungguhnya kitab al-Kafi mencakup tiga puluh kitab". (Al-Fahrasat hal 64). Tampak bagi kita dari perkataan-perkataan diatas bahwa yang ditambahkan kepada Al-Kafi antara abad kelima hingga abad ke sebelas adalah sekitar dua puluh kitab, dan setiap kitab mencakup beberapa bab, atau prosentase penambahan yang terjadi pada Al-Kafi selama ini adalah 40 persen. Maka siapakah yang menambahkan sebanyak 20 kitab kedalam kitab Al-Kafi? Apakah mungkin dia seorang manusia yang shalih? Apakah dia seorang diri atau beberapa orang yang secara kontinyu selama berabad-abad melakukan perubahan, penggantian dan perombakan? Marilah kita mengambil yang lain, yang merupakan peringkat kedua setelah Al-Kafi. Dan kitab inipun merupakan kitab shahih yang empat, yaitu kita Tahdzib Al-Ahkam karangan Syaikh Ath-Thusi pendiri kota Najaf. Para fuqaha dan mujtahid kami menyebutkan bahwa kitab tersebut menghimpun 13.590 hadits, sementara Ath-Thusi sendiri yang merupakan penulis kitab tersebut mengatakan bahwa kitab Tahdzib Al-Ahkam menghimpun 5.000 hadits lebih atau tidak lebih dari 6.000 hadits. Maka siapakah yang menambahkan hadits kedalam kitab ini yang jumlahnya lebih besar dari pada jumlah hadits yang asli?
* Disampaikan Dalam Daurah Du’at PP.Persis di Bandung, Rabu 30 Juli 2008 M

Dikirim pada 14 Desember 2010 di TENTANG ALIRAN-ALIRAN SESAT
Awal « 1 2 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.487.131 kali


connect with ABATASA