0


PERKEMBANGAN SYI’AH DI INDONESIA

Diawal tahun 1980 yaitu pasca revolusi Iran dipenghujung 1979, ajaran Syi’ah mulai masuk ke Indonesia. Ada beberapa tokoh yang punya andil yaitu meyakinkan pemerintah Indonesia bahwa yang dating itu bukan murid-murid Khumaini, akan tetapi lawan-lawan politiknya serta mereka tidak membawa ajaran Khumaini. Sejak itu masuklah ajaran Syi’ah di negeri Indonesia. Tiga puluh tahun lebih sejak mulai menancapkan kukunya di Indonesia, kini pengikut Syi’ah Indonesia sudah berani memperlihatkan sebagian ajaran mereka dengan terang-terangan. Berbagai cara mereka lakukan untuk mencapkan ajarannya kesemua lapisan masyarakat. Menurut al-Ustadz Abdul Hakim Abdat, cara mereka memberikan pemahaman sangatlah halus dan awalnya tidak diketahui. Diantara cara yang mereka lakukan menurut beliau antara lain :
1. Mereka mengatasnamakan diri (pecinta) ahlu-bait.
2. Menggunakan ayat-ayat dan tafsir-tafsir tanpa hadits.
3. Mengkritik sebagian shahabat
4. Mengkritik hadits-hadits
5. Memberikan kesan bahwa Syi’ah merupakan madzhab yang kelima dalam Islam dan perbedaan mereka lebih kepada masalah furu’iyah
6. Mendakwahkan ajaran menarik yakni Mut’ah
7. Memberikan kesan buruk terhadap sebuah ajaran yang mereka benci yaitu wahabi.
Lebih lanjut mereka memasuki semua lapisan masyarakat dengan cara-cara yang berbeda disesuaikan dengan tingkatan pemahaman masyarakat yakni dilihat dari latar belakang pendidikannya.

Tingkatan pertama, mereka mempengaruhi masyarakat awam dengan cara yang dapat diterima. Mengahadapi orang awam, pegiat Syi’ah tidak akan mampu untuk mengkafirkan seluruh atau bahkan sebagian shahabat. Sebab orang awam sekalipun pemahaman agamanya “terbatas” dan lebih bersipat ikut-ikutan, tapi dasar cinta kepada Nabi, istrinya dan para shahabat luar biasa. Biasanya ketingkat ini mereka membuat cara bagaimana supaya orang awam itu mengkultuskan kepada keturunan Ali dan Fathimah (ahlul-bait), baik melalui syair-syair ataupun dengan cara yang lainnya.

Tingkatan kedua, menghadapi para pelajar dan terutama mahasiswa. Untuk lapisan ini, mereka masuk melalui sesuatu yang trend, baru dan menjadi keinginan anak muda, karena para pemuda dan mahasiswa sangat aktif dan mencari hal-hal yang dianggap baru dan tidak biasa. Salah satunya melalui penyebaran nikah mut’ah.

Tingkatan ketiga, memasuki media masa baik cetak maupun elektronik. Melalui media ini mereka menampilkan pesan dan paham ajarannya sedikit demi sedikit.

Tingkatan keempat, mendekati para pejabat, kalau bias menempati jabatan strategis dalam pemerintahan pusat atau daerah.

Tingkatan kelima, masuk ke berbagai partai politik dan berusaha menjadi wakil partai di dewan yang membuat undang-undang.
Ini merupakan gerakan Syi’ah di Indonesia yang sudah mulai terlihat dalam melakukan. (lihat Majalah Sunnah edisi XII TAHUN 1431 H)

Dari sisi jumlah komunitas Syi’ah di Indonesia, menurut data penelitian pemerintah menyatakan jumlah pengikut aliran Syiah di Indonesia berkisar 500 orang. Jumlah itu tersebar di pelbagai daerah. Namun, menurut Jalaluddin Rahmat (Ketua Dewan Syura IJABI) jumlah itu hanya perkiraan terendah. “Ada perkiraan tertinggi, 5 juta orang. Tapi, ada sekitar 2,5 jiwa,” kata Kang Jalal. Menurut dia, keberadaan penganut Syiah tidak banyak diketahui karena menganut taqiyah, yaitu menyembunyikan jati diri dan bersikap layaknya pemeluk Islam pada umumnya.

Menurut Tempo, orang yang pertama kali mengaku sebagai penganut Syiah di Jawa adalah Habib Abdul Kadir Bafaqih. Ia merupakan pemimpin Pondok Pesantren Al Qairat Bangsri di Jepara, Jawa Tengah. Setelah itu, bermunculan wadah bagi penganut Syiah. Misalnya, Yayasan Nuruts Tsaqolain dengan pusat kegiatan di Masjid Husainiyyah Nuruts Tsaqolain, Semarang. Yayasan ini berdiri sejak 1984. Hingga kini, jemaah Syiah di Kota Semarang terus bertambah.

Farid ahmad okbah menjelaskan tentang penyebaran syiah di indonesia: “Setelah meletusnya revolusi Iran pada tahun 1979 M, paham Syi’ah Imamiyah (Syi’ah Itsna Asyariyah) mulai masuk ke Indonesia. Diantara tokoh yang terpengaruh dengan paham Syi’ah adalah Husain al-Habsy, Direktur Pesantren Islam YAPI Bangil. Al-Habsy kemudian aktif menyebarkan ideologi Syi’ah dengan kemasan apik dan berslogan persatuan kaum muslimin.

Pada tahun 1980-an, al-Habsy mengirim sejumlah santrinya untuk belajar di Hauzah Ilmiyah di Qum, Iran. Sepulang dari Qum, para santri kemudian menyebarkan ajaran Syi’ah melalui sejumlah kegiatan, baik di bidang politik, pendidikan, media, sosial, ekonomi, maupun kesehatan. Dalam bidang politik, mereka masuk ke partai-partai. Dalam bidang pendidikan mereka mendirikan sekolah dari TK sampai Perguruan Tinggi. Dibidang media mereka mendirikan koran, majalah, televisi, penerbitan buku, selebaran, dsb. Dalam bidang sosial, mereka mempraktekkan nikah mut’ah. Dalam bidang ekonomi mereka membuka toko-toko, membeli angkutan-angkutan umum, dan aktif dalam dunia perdagangan secara umum. Dalam bidang medis, mereka membangun rumah sakit dan klinik pengobatan. Pada tahun 1993, jati diri al-Habsy sebagai orang Syi’ah terkuak saat dia mengirimkan laporan kegiatan Syi’ah Indonesia ke Ayatullah di Iran dan saat itu 13 guru yang bermadzhab Ahlussunnah keluar dari pesantrennya”

Menurut pusat data lembaga penelitian Syi’ah di Yogyakarta, Rausyan Fikr, seperti disampaikan dalam makalah yang ditulis oleh Pengurus wilayah Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Yogyakarta, AM Safwan, pada tahun 2001, terdapat 36 Yayasan Syi’ah di Indonesia dengan 43 kelompok pengajian. Sebanyak 21 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat provinsi, dan 33 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat kabupaten. Kota.

Tidak hanya melalui pengajian, upaya penyebaran paham Syi’ah juga gencar dilakukan melalui penerbitan buku. Menurut hasil hitungan Rausyan Fikr, hingga Februari 2001 saja, tidak kurang 373 judul buku mengenai Syi’ah telah diterbitkan oleh 59 penerbit yang ada di Indonesia.
Sementara jika dilihat dari tempat, secara umum penyebaran dan kegiatan komunitas Syi’ah lebih terkonsentrasi di pulau Jawa. Sekalipun di luar pulau Jawa terdapat banyak komunitas Syi’ah, seperti Kalimantan Selatan (Banjarmasin dan Martapura), Balikpapan di Kalimantan Timur, Makasar Sulawesi Selatan, Palu Sulawesi Tengah dan tempat-tempat yang lainnya.

Dalam buku Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah Di Indonesia, setidaknya ada lima poros kegiatan Syi’ah dipulau Jawa.
1. Poros Jakarta di Islamic Cultural Centre (ICC)
2. Poros Pekalongan – Semarang, dianranya berpusat di Ponpes Al-Hadi Pekalongan
3. Poros Yogyakarta di Yayasan Rausyan Fikr
4. Poros Bangil dan Pasuruan di Ponpes YAPI Bangil
5. Poros Bandung di Yayasan Muthahari dan Ijabi

BERIKUT DATA-DATA ASET DAN BENTUK KEGIATAN SYIAH DI INDONESIA

A. YAYASAN
1. Yayasan Fatimah, Condet, Jakarta
2. Yayasan Al-Muntazhar, Jakarta
3. Yayasan Al-Aqilah
4. Yayasan Ar-Radhiyah
5. Yayasan Mulla Shadra, Bogor
6. Yayasan An-Naqi
7. Yayasan Al-Kurba
8. YAPI, Bangil
9. Yayasan Al-Itrah, Jember
10. Yayasan Rausyan Fikr, Jogya.
11. Yayasan BabIIm, Jember
12. Yayasan Muthahhari, Bandung
13. YPI Al-Jawad, Bandung
14. Yayasan Muhibbin, Probolinggo
15. Yayasan Al-Mahdi, Jakarta Utara
16. Yayasan Madina Ilmu, Bogor
17. Yayasan Insan Cita Prakarsa, Jakarta
18. Yayasan Asshodiq, Jakarta Timur
19. Yayasan Babul Ilmi, Pondok Gede
20. Yayasan Azzahra Cawang
21. Yayasan Al Kadzim
22. Yayasan Al Baro’ah, Tasikmalaya
23. Yayasan 10 Muharrom, Bandung
24. Yayasan As Shodiq, Bandung
25. Yayasan As Salam, Majalengka
26. Yayasan Al Mukarromah, Bandung
27. Yayayasan Al-Mujataba, Purwakarta
28. Yayasan Saifik, Bandung
29. Yayasan Al Ishlah, Cirebon
30. Yayasan Al-Aqilah, Tangerang
31. Yayasan Dar Taqrib, Jepara
32. Yayasan Al Amin, Semarang
33. Yayasan Al Khoirat, Jepara
34. Yayasan Al Wahdah, Solo
35. Yay. Al Mawaddah, Kendal
36. Yay.Al Mujtaba, Wonosobo
37. Yay.Safinatunnajah, Wonosobo
38. Yayasan Al Mahdi, Jember
39. Yay.Al Muhibbiin, Probolinggo
40. Yayasan Attaqi, Pasuruan
41. Yayasan Azzhra, Malang
42. Yayasan Ja’far Asshodiq, Bondowoso
43. Yayasan Al Yasin, Surabaya
44. Yapisma, Malang
45. Yayasan Al Hujjah, Jember
46. Yayasan Al Kautsar, Malang
47. Yayasan AL Hasyimm, Surabaya
48. Yayasan Al Qoim, Probolinggo
49. Yayasan al-Kisa’, Denpasar
50. Yayasan Al Islah, Makasar
51. Yayasan Paradigma, Makasar
52. Yayasan Fikratul Hikmah, Jl Makasar
53. Yayasan Sadra. Makasar
54. Yayasan Pinisi,, Makassar
55. Yayasan LSII, Makasar
56. Yayasan Lentera, Makassar
57. Yayasan Nurtsaqolain, Sulsel
58. Yas Shibtain, Tanjung Pinang Kep Riau
59. Yayasan Al Hakim, Lampung
60. Yayasan Pintu Ilmu, Palembang
61. Yayasan Al Bayan, Palembang
62. Yayasan Ulul Albab, Aceh
63. Yayasan Amali, Medan
64. Yayasan Al Muntadzar, Samarinda
65. Yayasan Arridho, Banjarmasin

B. MAJLIS TAKLIM
1. MT. Ar-Riyahi
2. Pengajian Ummu Abiha, Pondok Indah
3. Pengajian Al Bathul, Cililitan
4. Pengajian Haurah, Sawangan
5. Majlis Taklim Al Idrus, Purwakarta
6. Majlis Ta’lim An-Nur, Tangerang
7. MT Al Jawad, Tasikmalaya
8. Majlis Ta’lim Al-Alawi, Probolinggo

C. IKATAN
1. Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI)
2. Ikatan Pemuda Ahlulbait Indonesia (IPABI), Bogor
3. HPI – Himpunan Pelajar Indonesia-Iran
4. Shaf Muslimin Indonesia, Cawang
5. MMPII, condet
6. FAHMI (Forum Alumni HMI) Depok
7. Himpunan Pelajar Indonesia di Republik Iran (ISLAT)
8. Badan KerjaSama Persatuan Pelajar Indonesa Se- Timur Tengah dan Sekitarnya (BKPPI).
9. Komunitas Ahlul Bait Indonesia (TAUBAT)
10. Ahlul Bait Indonesia (ABI)

D. LEMBAGA
1. Islamic Cultural Center (ICC), Pejaten
2. Tazkia Sejati, Kuningan
3. Al Hadi, Pekalongan
4. Al-Iffah, Jember
5. Lembaga Komunikasi Ahlul Bait (LKAB), wadah alumni qom, di motori oleh ICC Jakarta yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah Republik Islam Iran (RII). LKAB membawai Yayasan AI Munthazar, Fathimah Aqilah, Ar Radiyah, Mulla Sadra, An Naqi, Al Kubra, AI Washilah, MT Ar Riyahi dan gerakan dakwah Al Husainy.

E. SEKOLAH ATAU PESANTREN
1. SMA PLUS MUTHAHARI di Bandung dan Jakarta
2. Pendidikan Islam Al-Jawad
3. Icas (Islamic College for Advanced Studies) – Jakarta Cabang London
4. Sekolah Lazuardi dari Pra TK sampai SMP, Jakarta
5. Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok
6. Madrasah Nurul Iman, Sorong
7. Pesantren Al-Hadi Pekalongan
8. Pesantren YAPI, Bangil

F. PENERBIT BUKU-BUKU SYIAH
Lentera
Pustaka Hidayah
MIZAN
YAPI JAKARTA
YAPI Bangil
Rosdakarya
Al-Hadi
CV Firdaus
Pustaka Firdaus
Risalah Masa
Al-Jawad
Islamic Center Al-Huda
Muthahhari Press/Muthahhari Papaerbacks
Mahdi
Ihsan
Al-Baqir
Al-Bayan
As-Sajjad
Basrie Press
Pintu Ilmu
Ulsa Press
Shalahuddin Press
Al-Muntazhar
Mulla Shadra
CAHAYA

G. PENULIS-PENULIS SYIAH
Husain Ardilla
Alwi Husein, Lc
Muhammad Taqi Misbah
O.Hashem
Jalaluddin Rakhmat
Husein al-Habsyi
Muhsin Labib
Riza Sihbudi
Husein Al-Kaff
Sulaiman Marzuqi Ridwan
Dimitri Mahayana

H.. MAHASISWA QOM
1. Muhammad Taqi Misbah Yazdi
2. Euis Daryati, Mahasiswi S2 Jurusan Tafsir Al-Quran, Sekolah Tinggi Bintul Huda Qom. Ketua Fathimiah HPI 2006-2007.
3. Nasir Dimyati, S2 Jurusan Ulumul Quran Universitas Imam Khomeini Qom. Saat ini aktif di BKPPI.
4. Usman Al-Hadi, Mahasiswa S1 Jurusan Ulumul Quran Univ. Imam Khomeini Qom.
5. Abdurrahman Arfan, S1 Jurusan Ushul Fiqh di Jamiatul Ulum Qom, Republik Islam Iran.
6. M. Turkan, S1 Jurusan Filsafat & Irfan di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran
7. Siti Rabiah Aidiah, Mahasiswi di Jamiah Bintul Huda, Qom, Jurusan Ulumul Quran.
8. Muchtar Luthfi, Ketua Umum Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) di Republik Islam Iran periode 2006-2007, Sekjen Badan Kerjasama Perhimpunan Pelajar Indonesia (BKPPI) se-Timur Tengah dan Sekitarnya.
9. Herry Supryono, Mahasiswa S1 Fiqh dan Maarif Islamiyah di Madrasah Hujjatiyah Qom, Republik Islam Iran.
10. Saleh Lapadi, asal Sorong, alumni YAPI Bangil, Sekarang menempuh S2 di Qom Iran, pimred islat (islam alternatif)
11. Afifah Ahmad, Mahasiswi S1, Jurusan Maarif Islam di Jamiatul Bintul Huda, Qom Republik Islam Iran
12. Emi Nur Hayati Ma’sum Said, Mahasiswi S2 Jurusan Tarbiyah Islamiyah & Akhlak di Universitas Jamiah Azzahra, Qom-Iran
13. A. Luqman Vichaksana S1 Jurusan Filsafat & Irfan di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran
14. Ammar Fauzi Heryadi, mahasiswa Jurusan Filsafat & Irfan di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran.
I. ALUMNI QOM
1. DR. Abdurrahman Bima, Alumni dari Hawzah Ilmiah Qom, judul desertasi “Pengaruh Filsafat dalam Konsep Politik Khomeni”.
2. DR. Khalid Al-Walid, Alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, judul desertasi “Pandangan Eskatologi Mulla Shadra”
3. Muhsin Labib, Alumnus Hauzah Ilmiah Qom, Republik Islam Iran. Kandidat Doktor Filsafat Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Ali Ridho Al-Habsy cucu dari Habib Ali Kwitang, tahun 1974.
5. Umar Shahab, tahun 1976
6. Syamsuri Ali
7. Jalaludin Rahmat
8. Ahmad Barakbah

J. TENTANG QOM
• Tahun 1990 ada 50 orang belajar di Qom
• Tahun 1999 jumlah alumni sudah lebih dari 100 orang
• Tahun 2001, 50 mahasiswa indonesia melanjutkan studi di Qom
• Tahun 2004, 90 mahasiswa Indonesia melanjutkan studi di Qom

K. MAJALAH / JURNAL
1. Majalah Syi’ar
2. Jurnal Al-Huda
3. Jurnal Al-Hikmah
4. Majalah Al-Musthafa
5. Majalah Al-Hikmah
6. Majalah Al-Mawaddah
7. Majalah Yaum Al-Quds
8. Buletin Al-Tanwir
9. Buletin Al-Jawwad
10. Buletin Al-Ghadir
11. Buletin BabIIm

M.. RADIO / TV
1. IRIB (Radio Iran siaran bahasa Indonesia)
2. Hadi TV, tv satelite (haditv.com)
3. TV Al-Manar, Libanon, dpt diakses sejak April 2008, bekerja sama dengan INDOSAT
4. Myshiatv.com
5. Shiatv.net

N. WEBSITE
http://abatasya.net
http://www.jalal-center.com
http://www.fatimah.org
http://www.icc-jakarta.org
www. babilm.4t.com
http://www.ahl-ul-bait.org
http://ahmadsamantho.wordpress.com
http://www.islamalternatif.net
ICAS (icas-indonesia.org)
Islamfeminis.wordpress.com
http://www.wisdoms4all.com/ind/
Yapibangil.org
Alitrah.com

O. .BLOGROLL
Ahmad Samontho http://ahmadsamantho.wordpress.com/
Anak bangsa http://umfat.wordpress.com/
blog Ahlul Bait http://www.aimislam.com/links.html
Cahaya ISLAM http://abuaqilah.wordpress.com/
cinta Rasul http://cintarasulullah.wordpress.com/
Eraalquran http://eraalquran.wordpress.com/
GENCAR AHLULBAYT NUSANTARA http://musadiqmarhaban.wordpress.com/
Haidarrein http://haidarrein.wordpress.com/
Hikmah Islam http://farterh04.wordpress.com
ICC http://www.icc-jakarta.com/
Info syiah http://infosyiah.wordpress.com/
ISLAM FEMINIS http://islamfeminis.wordpress.com/
Islam syiah http://islamsyiah.wordpress.com/
Jakfari http://jakfari.wordpress.com/
Lateralbandung http://lateralbandung.wordpress.com/
Luthfis http://luthfis.wordpress.com/
Luthfullah http://luthv.wordpress.com/
Ma’ashshadiqin http://comein.blogs.friendster.com/
Madinah Al-hikmah http://madinah-al-hikmah.net/
Nargis http://mashumah.wordpress.com/
Pak Jalal http://www.jalal-center.com/
Ressay http://ressay.wordpress.com/
Pelita zaman http://www.pelitazaman.blogspot.com/
Sahib Al-Zaman http://haidaryusuf.wordpress.com/
Suara keadilam http://iwans.wordpress.com/
TASNIM http://eurekamal.wordpress.com/
Telaga Hikmah http://www.telagahikmah.org/id/index.php
Wahabisme http://wahabisme.wordpress.com/
Musa http://musakazhim.wordpress.com/
Ahlulbayt http://keluargaabi.wordpress.com/
Dsb, masih banyak lagi

P. RITUAL
1. Peringatan Maulid Nabi
2. Peringatan Idul Ghadir
3. Pelaksanaan ritual Shalat Iedain
4. Pelaksanaan ritual Lailatul Qadr
5. Peringatan Asyura.
6. 7. Majlis Doa Kumail, malam Jumat.

Q. UNIVERSITAS YANG DILINK OLEH AL-SHIA.ORG
1. Institut Seni Indonesia Yogyakarta
2. Politeknik Negeri Jakarta
3. Sekolah Tinggi Informatika & Komputer Indonesia
4. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas
5. STMIK AKAKOM Yogyakarta
6. Universitas Gajah Mada
7. Unibersitas Pembangunan Nasbional “Veteran” Jakarta
8. Universitas Airlangga
9. Brawijaya University
10. Universitas Darma Persada Jakarta
11. Universitas Gunadarma
12. Universitas Islam Indonesia
13. Universitas Muhammadiyah Jakarta
14. Universitas Negri Malang
15. Universitas Negeri Manado
16. Universitas Negeri Semarang
17. Universitas Pendidikan Indonesia
18. Universitas Pertanian Bogor
19. Institut Teknologi Nasional Malang
20. Politeknik Negeri Ujung Pandang
21. Institut Seni Indonesia Yogyakarta
22. STIE Nusantara
23. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
24. Universitas Klabat
25. Universitas Malikussaleh
26. Universitas Negeri Makasar
27. Universitas Sriwijaya
28. UPN Veteran Jawa Timur

R. ULAMA RUJUKAN DI QOM
Di Qom terdapat 23 ulama yang bisa menjadi rujukan untuk diikuti. Di bawah ini beberapa marja’ yang cukup terkenal di Qom.
1. Ayatullah Sayyid Ali al-Khamenei, 68 tahun. Pemimpin besar (Rahbar) ini adalah pengganti Imam Khomeini
2. Ayatullah Muhammad Imami Kasyani
3. Ayatullah al-Uzhma Syeikh Muhammad Taqi Bahjat Fumani


PENUTUP

Dari tulisan yang terbatas ini semoga aqidah kita terjaga dari berbagai virus yang setiap saat terus menggerogoti agama (Islam). Tentu saja kita jangan merasa puas hanya dengan kajian beberapa jam membaca “kitab kecil” ini, sebab titik kelemahan kita justru berhentinya mengkaji, sementara musuh-musuh Islam senantiasa terus berupaya melemahkan dengan berbagai trik, yang jika kita tidak mendalaminya, bisa-bisa kita terjerembab kedalam lubang yang mereka persiapkan. Selamatkan anak, saudara kita dari kesesatan dan penyimpangan aqidah.


BIBLIOGRAFI (MARAJI’)

1. Abdul Husain al-Musawi, Isu-Isu Ikhtilaf Sunnah-Syi’ah, (Mizan dan Al-Huda, 2002)
2. Abdul Hakim bin Amir Abdat, Sepak Terjang Syi’ah di Indonesia, Majalah As-Sunnah, edisi 12/Th.XIII, Rabi’ul Awwal 1431H/Maret 2010M
3. Abu Alifa Shihab, Solusi Islam : Kumpulan Tanya Jawab, Dalam Abu Alifa Shihab Menjawab, (Jakarta : Pembela Islam, 2011)
4. ——, Solusi Islam 2 ; Kumpulan Tanya Jawab, Dalam Abu Alifa Shihab Menjawab, (Naskah pdf)
5. Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah fi al-Siyasah wa al-Aqaid, (Cairo : Daar al-Fikr al-Arabi, tt)
6. Abu Ihsan Al-Atsari, Kekejaman Kaum Syi’ah Terhadap Ahlu Sunnah, (Majalah As-Sunnah)
7. Abdullah bin Muhammad, Menyingkap Hakikat Aqidah Syi’ah, (terjemahan) (Jaringan Pembela Terhadap Sunnah, tt)
8. Al-Alusi, Mahmud Syukri, Shobb al-‘Adzab ala Man Sabb al-Ashab, (Riyadh : Adhwa’ Salaf, 1997)
9. Ali Ahmad As-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah, (Pusataka al-Kautsar, 2001)
10. Ali Muhammad As-Shallabi, Khawarij dan Syi’ah Dalam Timbangan Ahlusunnah Wal Jamaah, (Pustaka Al-Kautsar, 2011)
11. Al-Syahrastani, Muhammad bin Abdul-Karim, al-Milal wa al-Nihal, (Beirut : Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1992)
12. Al-Khathib al-Bagdadi, al-Kifayah fi ‘ilmi al-Riwayah, (naskah pdf Maktabah Waqfeya)
13. Al-Tunsawi, Muhammad Abdul Sattar, Buthlanu ‘Aqaidi al-Syi’ah, tt. Pakistan
14. Hamid Enyat, Reaksi Politik Sunni dan Syi’ah, Pemikiran Politik Modern Menghadapi Abad ke-20 (Bandung : Pustaka, 1988)
15. Ibnu Taymiah, al-Sunnah al-Nabawiah, tahqiq Dr.Muhammad Rasyad Salim (cet.1986)
16. Jalaluddin Rakhmat, Al-Mustafa : Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi, (Muthahhari Press)
17. ———, Catatan Kang Jalal : Visi Media, Politik dan Pendidikan, (Rosdakarya Bandung, cet.2 1998)
18. Muhammad Thalib, Nubuwat Rasulullah Tentang Syi’ah, (Makalah)
19. Majalah As-Sunnah, Rabi’ul Awwal 1431 H
20. Majalah An-Najah edisi 96 Muharram 1435 H
21. Majalah Hidayatullah, Rabi’ul Tsani 1430H/ April 2009
22. M.H.Thabathabai, Islam Syi’ah ; Asal-Usul dan Perkembangannya, (Jakarta : Grafiti, 1989)
23. Majlis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa MUI, (Jakarta : Erlangga, 2011)
24. Nashir bin Abdullah al-Qifari, Ushul Madzhab Syi’ah al-Imamiyah Itsna Asyariyah, (Riyadh : Jami’at al-Imam, 1994)
25. ———-, Masalat al-Taqrib bayna Ahl al-Suinnah wa al-Syi”ah, (Riyadh : Dar Thayibah, 1413 H)
26. Shiddiq Amien, Mengenal Syi’ah (Makalah Daurah Duaat PP.Persis Bandung)
27. Tim Penulis MUI Pusat, Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah Di Indonesia, (Jakarta : Formas, 2013)
28. Seminar Nasional LPPI, Mengapa Kita Menolak Syi’ah, (Jakarta : LPPI, 1997)
29. Syarafuddin al-Musawi, Dialog Sunnah-Syi’ah, (Mizan, 1983)
30. Tim Ahlul Bait Indonesia, Buku Putih Mazhab Syi’ah, (ABI : September 2012)
31. http://www.ghazi.abatasa.com
32. http://www.ghazi01.wordpress.com
33. http://www.abualifa.blogspot.com
34. Arrahmah.com
35. Eramuslim.com
36. Dll.
Tamat

Dikirim pada 02 Juni 2014 di KAJIAN UTAMA


SHAHABAT NABI SAW DALAM PANDANGAN SYI’AH
Setiap para Nabi mempunyai pengikut dan pendukung setia tentu orang-orang pilihan dangenerasi terbaik dari umat Nabi tersebut atau yang kita kenal dengan shahabat.Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw :

“…Tidaklah ada seorang Nabi-pun yang diutus kepada suatu umat sebelumku, kecualimempunyai para pendamping dan shahabat setia, yang senantiasa mengikutiajarannya dan berpedoman dengan perintahnya. Sepeninggal mereka, datanglahsuatu generasi yang biasa mengatakan sesuatu yang mereka tidak perbuat, sertamelakukan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan.” (HR.Muslim)

Akantetapi lain halnya dengan Syi’ah, hal ini bias kita perhatikan dalamriwayat-riwayat versi mereka.
Dari Sudair, ia riwayatkan dari Abi ja’fardan berkata : sepeninggal Nabi saw seluruh manusia murtad selama satu tahun,kecuali tiga orang. As-Sudair bertanya, siapa yang dimaksud tiga orangtersebut? Ia menjawab, al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salmanal-Farisi, lalu beliau berkata, Mereka itulah orang-orang yang tetap kokohdengan pendiriannya dan menolak membai’at (Abu Bakar pen), hingga didatangkanAmirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib pen.)…” (lihat al-Majlisi Biharual-Anwar 22/351 dan Tafsir Nur Ats-Tsaqalain 1/396)
Syaikhal-Mufid juga meriwayatkan dalam Al-Ikhtishash hal. 6;
“..Seluruhmanusia menjadi murtad sepeninggal Nabi saw. Kecuali tiga orang, al-Miqdad binal-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi. Setelah itu manusiamenyadari, dan kembali masuk Islam.
Dalamriwayat lain, mereka menambah jumlah yang tetap dalam ke-Islamannya menjadiempat.
“…Sesungguhnyaketika Rasulullah saw meninggal dunia, seluruh manusia kembali kepada kehidupanjahiliyyah, kecuali empat orang saja, (yaitu) Ali, al-Miqdad, Salman dan AbuDzar. (lihat al-Majlisi dalam Baharu al-Anwar 22/333
Jikademikian, tentu yang jadi pertanyaan kita adalah bagaimana dengan ke-IslamanFathimah, Hasan serta Husain?
Syi’ahmempropagandakan sebagai pecinta ahlul-bait dan pembela mereka, akan tetapifaktanya mereka secara tidak sadar (atau mungkin sadar) telah menghinakanahlul-bait.
Keterangandiatas, menjadi alasan bagi Imam Amir bin Syurahil asy-Sya’bi untuk berkomentartentang sekte Syi’ah, “Kaum Yahudi danNasrani mempunyai satu kelebihan bila dibandingkan dengan agama Syi’ah. Biladitanyakan kepada Yahudi, siapakah orang terbaik dari penganut agamamu? Merekatentu akan menjawab, Tentu para shahabat Nabi Musa. Dan bila ditanyakan kepadaNasrani, siapa yang terbaik dari penganut agamamu? Tentu mereka akan menjawab,Tentu para sahabat sekaligus pengikut setia Nabi Isa. AKAN TETAPI, jikaditanyakan kepada Rafidhah (Syi’ah), Siapakah yang terjelek dari penganutagamamu? Niscaya mereka jawab, Tentu para sahabat sekaligus pengikut setia NabiMuhammad”.
Berikutini merupakan diantara bentuk penghinaan kepada para shahabat:
“…Kitaharus membersihkan diri dari berhala yang empat (yaitu), Abu Bakar, Umar, Usmandan Mu’awiyah. Dan berhala wanita yang empat pula (yaitu), Aisyah, Hafsah,Hindun dan Umi Hakam. Serta seluruh pengikutnya, mereka adalah sejelek-jeleknyamakhluk dipermukaan bumi. Tidak sempurna iman seseorang kepada Allah dan Rasulserta Imam-Imam, kecuali melepeaskan/membersihkan diri dari musuh-musuhtersebut”. (Muhammad Baqir al-Majlasi, Haqqul Yakin halaman 519)
RiwayatAbu Hamzah at-Tamali (al-Majlasi hal522), saat bertanya kepada Imam Zainal Abidin tentang Abu Bakar dan Umar, iamenjawab : “Keduanya adalah kafir dansiapa yang mengangkatnya jadi khalifah juga kafir…”
Danbanyak lagi ungkapan-ungkapan penghinaaan yang dialamatkan kepada parashahabat, termasuk para istri Nabi saw.

AQIDAH TAQIYAH
Taqiyah menurut etimologi Bahasa Arabmempunyai arti menyembunyikan atau menjaga (lisanu-‘arab 15/401 danal-Muhith hal.1731). Sedangkan secara syar’I (terminologi), taqiyah mempunyaimakna menyembunyikan keyakinan atau keimanan karena dorongan keterpaksaan untukmenyelamatkan dan menjaga jiwa, kehormatan maupun hartanya ditengah-tengahkejahatan yang dilakukan oleh luar Islam (baca : kafir). Taqiyah ditempuhdisebabkan karena benar-benar dalam keadaan dipaksa untuk mengucapkan ataumengerjakan kekufuran (an-Nahl, 106).
Sedangkandalam pandangan Syi’ah, taqiyah adalah menampakkankesamaan dengan keyakinan agama orang-orang yang menyelisihi mereka karenaadanya rasa takut (Yusuf al-Bahrani, Al-Kasyful1/202). Artinya dalam aqidah Syi’ah, taqiyah dijadikan alat atau senjata untuk mengelabui golongan yangberbeda faham atau keyakinan dan tidak membedakan apakah taqiyah mereka amalkandihadapan kaum muslimin atau orang-orang kafir.
Taqiyahdalam faham Syi’ah merupakan ajaran yang mempunyai kedudukan dan keutamaansangat istimewa, diantaranya :
Pertama, taqiyah adalah ajaran agama.Dalam Ushul-Kafi hal 482 disebutkan “..bahwaSembilan persepuluh dari agama adalah taqiyah, tidak sempurna agama kecualiterdapat ajaran taqiyah…”.
Juga dari Abu Ja’far menukilkan bahwataqiyyah “merupakan agamaku dan agamapendahuluku. Tidak ada keimanan bagi seseorang yang tidak ber-taqiyah”(al-Kafi 2/174). Dalam riwayat lain dari Abu Abdillah dikatakan, “tidak ada agama bagi seorang yang tidakbertaqiyyah”.
Kedua, taqiyyah adalah kemuliaan agamaseseorang. Al-Kulaini (al-Kafi 2/176) meriwayatkan dari Abu Abdillah saatberkata kepada Sulaiman bin Khalid, “WahaiSulaiman, sesungguhnya engkau diatas agama yang apabila seseorangmenyembunyikannya (ber-taqiyyah), maka Allah akan muliakan dia. (Tetapi) jika menampakkannya maka Allah akan hinakandia”.
Ketiga, taqiyah merupakan sebuah ibadahyang paling dicintai Allah. Abu Abdillah (al-Kafi 2/219) mengatakan, “Tidaklah Allah di ibadahi dengan suatuamalan yang lebih Dia cintai daripada al-Khab’u”, Aku (periwayat) bertanya,“apa itu al-Khab’u?”. Ia menjawab, “taqiyah”.
Keempat,taqiyah merupakan seutama-utamanya amalan. Didalam Tafsir al-Askari halaman 163disebutkan, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Taqiyah merupakan salah satu amalan mukmin yang paling utama”. Diamenjaga diri dan saudaranya dengan taqiyah dari orang-orang jahat.
Kelima,taqiyah merupakan perisai yang beriman. AlKulaini (ushul-kafi hal.484)meriwayatkan dari Abi Abdillah, bahwa bapaknya pernah berkata : Sesuatu yang paling aku senangi adalahtaqiyah, taqiyah itu adalah perisai orang beriman.


MUT’AH (KAWIN KONTRAK)
Sengaja masalah mut’ah ini dalam sub.judultersendiri (sekalipun dalam sub.judul sebelumnya sudah disinggung), mengingatsalah satu ajaran yang ditawarkan sekte Syi’ah dan paling digemari oleh parapengikutnya adalah mut’ah (kawin kontrak). Perkawinan jenis ini terjadiberdasarkan bilangan waktu (lamanya) yang telah disebutkan, misalnya untukjangka waktu satu minggu atau satu bulan dan seterusnya. Fathullah al-Kasyani dalam Minhajual-Shadiqin hal. 356, dijelaskan, “bahwamut’ah bagian dari agamaku … dananak yang dilahirkan melalui mut’ah jaun lebihmemiliki keutamaan dibandingkan melalui istri tetap, dan orang yang mengingkarimut’ah adalah kafir dan murtad”.

1.NikahMut`ah bukan pernikahan yang membatasi istri hanya empat.

DariAbubakar bin Muhammad Al Azdi dia berkata :aku bertanya kepada Abu Hasantentang mut`ah, apakah termasuk dalam pernikahan yang membatasi 4 istri? Diamenjawab tidak. Al Kafi. Jilid 5 hal. 451 .
Wanita yang dinikahi secara mut`ah adalah wanita sewaan, jadidiperbolehkan nikah mut`ah walaupun dengan 1000 wanita sekaligus, karena akadmut`ah bukanlah pernikahan. Jika memang pernikahan maka dibatasi hanya dengan 4istri.
DariZurarah dari Ayahnya dari Abu Abdullah, aku bertanya tentang mut`ah pada beliauapakah merupakan bagian dari pernikahan yang membatasi 4 istri? Jawabnya :menikahlah dengan 1000 wanita, karena wanita yang dimut`ah adalah wanitasewaan. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 452.
Ja’far Sadiq a.s berkata : tak apamenikahi (mut’ah) gadis perawan, jika memang gadis itu ridho tanpa persetujuanorang tuanya. (Mustadrak Al wasail juz.4 hal.459)
Begitulah wanita bagi imam maksum syi’ah adalah barang sewaan yang dapatdisewa lalu dikembalikan lagi tanpa ada tanggungan apa pun. Tidak ada bedanyadengan mobil yang setelah disewa dapat dikembalikan. Duhai malangnya kaumwanita. Sudah saatnya pada jaman emansipasi ini wanita menolak untuk dijadikansewaan, namun kita masih heran, mengapa masih ada mazhab yang menganggap wanitasebagai barang sewaan.

2.Syarat UtamaNikah Mut`ah
Dalamnikah mut`ah yang terpenting adalah waktu dan mahar. Jika keduanya telahdisebutkan dalam akad, maka sahlah akad mut`ah mereka berdua. Karena sepertiyang akan dijelaskan kemudian bahwa hubungan pernikahan mut`ah berakhir denganselesainya waktu yang disepakati. Jika waktu tidak disepakati maka tidak akanmemiliki perbedaan dengan pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam.
DariZurarah bahwa Abu Abdullah berkata : Nikah mut`ah tidaklah sah kecuali denganmenyertakan 2 perkara, waktu tertentu dan bayaran tertentu. AlKafi Jilid. 5 Hal. 455.

Ja`farSadiq berkata : "Dan di perbolehkan bagi laki2 menikahi sebanyakmungkin..tanpa wali dan tanpa saksi" (Al Wasa`iljuz 21.hal.64)
Sama seperti barang sewaan, misalnya mobil. Jika kita menyewa mobilharus ada dua kesepakatan dengan si pemilik mobil, berapa harga sewa dan berapalama kita ingin menyewa.

3.Batas minimal mahar mut`ah
Di atas disebutkan bahwa rukun akad mut`ahadalah adanya kesepakatan atas waktu dan mahar. Berapa batas minimal maharnikah mut`ah?
DariAbu Bashir dia berkata : aku bertanya pada Abu Abdullah tentang batas minimalmahar mut`ah, lalu beliau menjawab bahwa minimal mahar mut`ah adalah segenggammakanan, tepung, gandum atau korma. Al KafiJilid. 5 Hal. 457.
Semua tergantung kesepakatan antara dua belah pihak.

4. Tidak ada talak dalam mut`ah
Dalam nikah mut`ah tidak dikenal istilahtalak, karena seperti di atas telah diterangkan bahwa nikah mut`ah bukanlahpernikahan yang lazim dikenal dalam Islam. Jika hubungan pernikahan yang lazimdilakukan dalam Islam selesai dengan beberapa hal dan salah satunya adalahtalak, maka hubungan nikah mut`ah selesai dengan berlalunya waktu yang telahdisepakati bersama. Seperti diketahui dalam riwayat di atas, kesepakatan atasjangka waktu mut`ah adalah salah satu rukun/elemen penting dalam mut`ah selainkesepakatan atas mahar.
DariZurarah dia berkata masa iddah bagi wanita yang mut`ah adalah 45 hari. Seakansaya melihat Abu Abdullah menunjukkan tangannya tanda 45, jika selesai waktuyang disepakati maka mereka berdua terpisah tanpa adanya talak. AlKafi . Jilid. 5 Hal. 458.

5. Jangka waktu minimal mut`ah.
Dalam nikah mut`ah tidak ada batas minimalmengenai kesepakatan waktu berlangsungnya mut`ah. Jadi boleh saja nikah mut`ahdalam jangka waktu satu hari, satu minggu, satu bulan bahkan untuk sekalihubungan suami istri.
DariKhalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk bertanya pada AbuHasan tentang batas minimal jangka waktu mut`ah? Apakah diperbolehkan mut`ahdengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan suami istri? Jawabnya : ya. AlKafi . Jilid. 5 Hal. 460
Orang yang melakukan nikah mut`ahdiperbolehkan melakukan apa saja layaknya suami istri dalam pernikahan yanglazim dikenal dalam Islam, sampai habis waktu yang disepakati. Jika waktu yangdisepakati telah habis, mereka berdua tidak menjadi suami istri lagi, alias bukanmahram yang haram dipandang, disentuh dan lain sebagainya. Bagaimana jikaterjadi kesepakatan mut`ah atas sekali hubungan suami istri? Padahal setelahberhubungan layaknya suami istri mereka sudah bukan suami istri lagi, yang manaberlaku hukum hubungan pria wanita yang bukan mahram?
Tentunya diperlukan waktu untuk berbenah danmengenakan pakaian sebelum keduanya pergi.
DariAbu Abdillah, ditanya tentang orang nikah mut`ah dengan jangka waktu sekalihubungan suami istri. Jawabnya :”tidak mengapa, tetapi jika selesai berhubunganhendaknya memalingkan wajahnya dan tidak melihat pasangannya".Al Kafi jilid 5 hal 460

6. Nikah mut`ah berkali-kali tanpabatas.
Diperbolehkan nikah mut`ah dengan seorangwanita berkali-kali tanpa batas, tidak seperti pernikahan yang lazim, yang manajika seorang wanita telah ditalak tiga maka harus menikah dengan laki-laki laindulu sebelum dibolehkan menikah kembali dengan suami pertama. Hal ini sepertiditerangkan oleh Abu Ja`far, Imam Syiah yang ke empat, karena wanita mut`ah bukannyaistri, tapi wanita sewaan. Sebagaimana barang sewaan, orang dibolehkan menyewasesuatu dan mengembalikannya lalu menyewa lagi dan mengembalikannya berulangkali tanpa batas.
DariZurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja`far, seorang laki-laki nikah mut`ahdengan seorang wanita dan habis masa mut`ahnya lalu dia dinikahi oleh oranglain hingga selesai masa mut`ahnya, lalu nikah mut`ah lagi dengan laki-lakiyang pertama hingga selesai masa mut`ahnya tiga kali dan nikah mut`ah lagidengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama? JawabAbu Ja`far : ya dibolehkan menikah mut`ah berapa kali sekehendaknya, karenawanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut`ah adalah wanita sewaan,seperti budak sahaya. Al Kafi jilid 5 hal 460

7. Wanita mut`ah diberi mahar sesuaijumlah hari yang disepakati.
Wanita yang dinikah mut`ah mendapatkan bagian maharnya sesuai denganhari yang disepakati. Jika ternyata wanita itu pergi maka boleh menahanmaharnya.
DariUmar bin Handhalah dia bertanya pada Abu Abdullah : aku nikah mut`ah denganseorang wanita selama sebulan lalu aku tidak memberinya sebagian dari mahar,jawabnya : ya, ambillah mahar bagian yang dia tidak datang, jika setengah bulanmaka ambillah setengah mahar, jika sepertiga bulan maka ambillah sepertigamaharnya. Al Kafi . Jilid. 5 Hal. 452.
Bayaran harus sesuai dengan hari yang disepakati, supaya tidak ada“kerugian” yang menimpa pihak penyewa.

8.Nikah mut`ahdengan pelacur
Diperbolehkan nikah mut`ah walaupun denganwanita pelacur. Sedangkan kita telah mengetahui di atas bahwa wanita yangdinikah mut`ah adalah wanita sewaan. Jika boleh menyewa wanita baik-baiktentunya diperbolehkan juga menyewa wanita yang memang pekerjaannya adalahmenyewakan dirinya.
Ayatollah Udhma Ali Al Sistani mengatakan :
Diperbolehkanmenikah mut`ah dengan pelacur walaupun tidak dianjurkan, ya jika wanita itudikenal sebagai pezina maka sebaiknya tidak menikah mut`ah dengan wanita itusampai dia bertaubat. Minhaju As-shalihin. Jilid 3 hal. 8
Sebaiknya tidak, tapi jika terpaksa khannamanya tetap nikah walaupun dengan pelacur. Si pelacur akan berbahagia karenadisamping mendapat uang dan kenikmatan dalam pekerjaannya, dia juga mendapatpahala.

9. Hubungan warisan
Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunyamenuliskan : Nikah mut`ah tidakmengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berduasepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampaimengabaikan asas hati-hati dalam hal ini. Minhaju as-shalihin. Jilid3 Hal. 80 10.
Wanita yang dinikah mut`ah tidak berhakmendapatkan nafkah dari suami.
Laki-lakiyang nikah mut`ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istrimut`ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap ditempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut`ah atau akad lain yangmengikat. Minhaju as-shalihin. Jilid 3 hal 80.
Begitulah gambaran mengenai fikih nikahmut’ah.

11. Keutamaan Mut’ah
Adapun mengenai dalil dan keutamaan mut’ah diantaranya : Al-Qummiy, dalamkitabnya Al-Muqni seperti berikut :
"Tidaklah dia (orang yang melakukanmut`ah) berbicara dengannya (perempuan yang dimut`ah) satu kalimah melainkanAllah memberikan kepadanya satu kebaikan. Tidaklah dia menghulurkan tangannyakepadanya melainkan Allah menuliskan untuknya satu kebaikan. Bila diamenghampiri perempuan itu (bersetubuh), maka Allah Ta’ala mengampunkannyadengan perbuatan tersebut. Bila ia mandi, maka Allah mengampunkannya sebanyakair yang mengalir di atas bulunya (sebanyak jumlah bulunya)."
Lalu dia (Al-Qummiy) menambahkan secara dustakembali riwayat bahwasanya Malaikat Jibril `Alaihis Salam menjumpai Rasulullahsaw, kemudian berkata :
Wahai Muhammad, sesungguhnya AllahTa`ala berfirman: "Sesungguhnya Aku telah mengampuni orang-orangyang melakukan nikah mut`ah
pada umatmu dari kalangan wanita"
Terdapat dalam kitab mereka yang lain yaitu Mustadrakal-Wasail, hal. 452 oleh Ath-Thibrisi. Dijelaskan tentang keutamaan danpahala yang diperoleh orang yang melakukan mut`ah. (Riwayat no. 17257), diamenyandarkan riwayat tersebut secara dusta kepada Imam Al-Baqir seperti berikut:
"Adakah orang yang melakukan mut’ahmendapat pahala? Dia (Al-Baqir) menjawab: "Jika dia melakukannya (mut`ah)karena Allah `Azza wa Jalla dan menyelisihi si fulan, maka Tidaklah dia(orang yang melakukan mut`ah) berbicara dengannya (perempuan yang dimut`ah)satu kalimah melainkan Allah memberikan kepadanya satu kebaikan. Tidaklah diamenghulurkan tangannya kepadanya melainkan Allah menuliskan untuknya satukebaikan. Bila dia menghampiri perempuan itu (bersetubuh), maka Allah Ta’alamengampunkannya dengan perbuatan tersebut. Bila ia mandi, maka Allahmengampunkannya sebanyak air yang mengalir di atas bulunya. Aku (perawi)berkata: “Sebanyak jumlah bulu? Dia menjawab: “Ya! Sebanyak jumlah bulu"
Kemudian pada riwayat no. 17258 yang disandarkan secara dusta kepadaImam Ash Shadiq, ia berkata
"Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jallamengharamkan setiap minuman yang memabukkan atas Syi`ah kami, dan menggantinyadengan mut`ah."
Kemudian riwayat no. 17259 yang disandarkan secara dusta kembali kepadaAl-Baqir, ia berkata:
Rasulullah saw bersabda: "Ketika Akudi-Isra-kan ke langit, Jibril menemuiku, lalu berkata: ``WahaiMuhammad, sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berfirman: "SesungguhnyaAku telah mengampuni orang-orang yang melakukan nikah mut`ah pada umatmu darikalangan wanita"
Disebutkan pula dalam Tafsir Minhajus Shadiqin oleh dedengkot FathullahAl-Kasyani seperti berikut :
"Barangsiapa melakukan mut`ah sekalidimerdekakan sepertiganya dari api neraka, barangsiapa melakukan mut`ah duakali dimerdekakan dua pertiganya dari api neraka dan barangsiapa yang melakukanmut’ah tiga kali dimerdekakan total dirinya dari neraka."

Barang siapa yang telah ber tamattu`/mut`ahlalu langsung mandi junub , maka Allah akan memberikan ganjaran dari setiaptitis air mandinya 70 malaikat yang memintakan ampunan untuk nya selama harikiamat (Al Wasail. juz 1 halaman.16)
"Barangsiapa yang melakukan nikah mut`ahsekali maka dia telah selamat dari murka Allah Yang Maha Perkasa, barangsiapamelakukannya dua kali maka akan dikumpulkan bersama orang-orang yang berbaktidan barangsiapa yang melakukannya tiga kali maka akan berdesakan denganku(Rasulullah Shallallaahu `Alaihi Wasallam) di Surga"

مَنْ تَمَتَّعَ مَرَّةً كَانَ دَرَجَتُهُ كَدَرَجَةِ الْحُسَيِنِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَمَنْ تَمَتَّعَ مَرَّتَيْنِ كَانَ دَرَجَتُهُ كَدَرَجَةِ الْحَسَنِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَمَنْ تَمَتَّعَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ كَانَ دَرَجَتُهُ كَدَرَجَةِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَمَنْ تَمَتَّعَ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ فَدَرَجُتُهُ كَدَرَجَتِي

"Barangsiapayang melakukan nikah mut`ah sekali maka derajatnya seperti Husain alaihissalam,dan barangsiapa yang nikah mut`ah dua kali maka derajat seperti derajat Hasanalaihissalam dan barangsiapa yang nikah mut`ah tiiga kali maka derajatnyaseperti derajat Ali bin Abi Tholib alaihissalam danbarangsiapa yang nikah mutah empat kali sama seperti derajatku (nabiMuhammad)" Tafsir Manhaj Ash Shodiqin 2/493

مَنْ خَرَجَ مِنَ الدُّنْيَا وَلَمْ يَتَمَتَّعْ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ أَجْدَعُ

Barang siapa yang keluar dari dunia(wafat) dan dia tidak nikah mut`ah maka dia datang pada hari kiamat sedangkankemaluannya terpotong Tafsir manhaj ash shadiqin 2/489

"Sesungguhnya mut`ah itu adalah agamakudan agama bapak-bapakku. Barangsiapa mengamalkannya maka ia mengamalkan agamakami dan yang mengingkarinya maka ia mengingkari agama kami, bahkan ia memelukagama selain agama kami. DAN ANAK HASILMUT`AH LEBIH UTAMA DARIPADA ANAK DARI ISTRI DAIM (tetap). Dan yangmengingkari mut’ah adalah kafir murtad"

12.Rukun Mut’ah
Al-Kasyanidalam tafsirnya al-Minhaju al-Shadiqin halaman 357, menyebutkan : “…Ketahuilah bahwa rukun mut’ah itu ada lima(yaitu); Laki-laki, perempuan (calon yang akan mut’ah), mahar, penentuan waktu,sighat (ijab dan qabul)”.


KITAB –KITAB POKOK RUJUKAN SYI’AH
Sebenarnyadari mana umat Syi’ah mengambil ajaran agamanya? Mengapa kita sering mendengarkawan-kawan syiah berdalil dari Shahih Bukhari?
SebagaimanaAhlussunah memiliki kitab hadits yang berasal dari Nabi,maka sebagai mazhab,syiah harus memiliki kitab-kitab yang berisi sabda para imam ahlulbait, mereka yang wajib diikutibagi penganut syiah. Lalu mengapa syiah mengemukakan dalil dari kitab-kitabhadits sunni seperti shahih Bukhari dan Muslim? Mereka menggunakanhadits-hadits itu dalam rangka mendebat ahlussunah, bukan karena beriman padaisi hadits itu. Lalu apa saja rujukan syiah Imamiyah?
SyiahImamiyah menganggap sabda 12 imam ahlulbait sebagai ajaran yang wajib diikuti,ini sesuai dengan ajaran mereka yang menganggap 12 imam ahlulbait sebagaipenerus risalah Nabi. Sabda-sabda tersebut tercantum dalam kitab-kitab syiah,namun sayangnya kitab-kitab itu tidak begitu dikenal atau tepatnya sengajatidak disebarluaskan oleh penganut syiah di Nusantara. Insya Allah kami akanmemudahkan pembaca untuk mendownload sebagian kitab rujukan mereka yang memuatsabda-sabda para imam ahlulbait. Tapi kita pasti penasaran untuk membaca sabdaahlulbait, karena salah satu murid Imam Ja’far As Shadiq yang bernama Zurarahmengatakan dalam sebuah riwayat dari Al Kisyi yang meriwayatkan dalam bukunyaRijalul Kisyi dengan sanadnya dari Muhammad bin Ziyad bin Abi Umair dari Alibin Atiyyah bahwa Zurarah berkata: jikaaku menceritakan seluruh yang kudengar dari Abu Abdillah (Ja’far Asshadiq) makalaki-laki yang mendengar perkataan Imam Ja’far pasti akan berdiri kemaluannya. RijalulKisyi hal 134 (kira-kira cerita apa yang dibawa oleh Imam Ja’far sehinggamembuat kemaluan berdiri?)
Literatursyiah yang dianggap sebagai literatur utama yang memuat riwayat sabda ahlulbaitada 8 kitab utama, ulama mereka menyebutnya dengan sebutan “al jawami’ ats tsamaniah” (kitabkumpulan yang delapan) ini sesuai dengan yang tercantum dalam kitab MuftahulKutub Al Arba’ah jilid 1 hal 5 dan A’yanus Syiah jilid 1 hal 288. Dalammakalahnya yang berjudul metode praktis untuk pendekatan sunnah syiah (dimuatdalam masalah Risalatus Islam, juga dimuat bersama makalah lain yang diambildari majalah yang sama dengan judul “persatuan islam” hal 233, Muhammad ShalehAl Ha’iri mengatakan: kitab shahih imamiyah ada delapan, empat di antaranya ditulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup terdahulu, tiga lagiditulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup setelah tiga yangpertama, yang kedelapan ditulis oleh Al Husein Nuri Thabrasi.
Kitab pertama dan yang “tershahih” di antara delapan kitab di atas adalah AlKafi. Ini seperti disebutkan dalam kitab Adz Dzari’ah jilid 17 hal 245,Mustadrak Al Wasa’il jilid 3 ha 432, Wasa’il Asy Syi’ah jilid 20 hal 71.kitab-kitab di atas menyebutkan bahwa kitab Al Kafi adalah kitab yang tershahihdari empat kitab utama mereka, karena kitab Al Kafi ditulis pada era GhaibahSughra, yang mana saat itu masih mungkin untuk mengecek validitas riwayat yangada dalam kitab itu. karena pada era ghaibah sughra imam mahdi masih dapatdihubungi melalui “duta yang empat”yang dapat berhubungan dengan imam mahdi dan menerima seperlima bagian dariharta syi’ah.
Jumlahriwayat kitab Al Kafi ada 16099, seperti diterangkan dalam kitab A’yanus Syi’ahjilid 1 hal 280. Kitab Al Kafi dijelaskan oleh para Ulama Syi’ah, di antaranyaadalah Al Majlisi –penulis Biharul Anwar- yang menulis penjelasan kitab Al Kafidan diberi judul Mir’aatul Uquul.Dalam kitabnya itu Majlisi juga menilai validitas hadits Al Kafi, di antarahadits yang dianggapnya shahih adalah hadits yang menerangkan bahwa Al Qur’antelah diubah. Berikut terjemahan nukilan dari Mir’atul Uqul:
Abu Abdillah berkata: “Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah 17 ribu ayat”. AlKafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi berkata bahwa riwayat iniadalah muwathaqah. Lihat di Mir’atul Uqul jilid 2 hal 525.
Begitu jugaada kitab lain yang berisi penjelasan riwayat Al Kafi, yaitu Syarh Jami’ yangditulis oleh Al Mazindarani begitu juga terdapat kitab yang berjudul As Syafi fi Syarhi Ushulil Kafi, adalagi kitab yang judulnya At Ta’liqah AlaKitabil Kafi yang ditulis oleh Muhammad Baqir Al Husaini, tapi hanyamenjelaskan sampai Kitabul Hujjah saja. Ada lagi kitab Al Hasyiyah Ala Ushulil Kafi karanganRafi’uddin Muhammad bin Haidar An Na’ini, juga Badruddin bin Ahmad Al HusainiAl Amili.. Sementaraitu Ali Akbar Al-Ghifari, pentahqiq kitab Al-Kafi menyatakan: “Madzhab Imamiyah telah sepakat bahwa seluruhisi kitab Al-Kafi adalah shahih.”
Diantara isiatau bab kitab utama Syi’ah (Al-Kafi) memuat :
Bab Wajib taat kepada para imam.
Bab para imam adalah pembawa petunjuk.
Bab para imam adalah pembawa perintah Allahdan penyimpan ilmu-Nya.
Bab Para imam adalah cahaya Allah.
Bab para imam adalah tiang bumi.
Bab bahwa ayat yang disebutkan oleh Allahdalam kitab-Nya adalah para imam.
Bab bahwa ahli dzikir yang diperintahkan bagimanusia untuk bertanya pada mereka adalah para imam.
Bab bahwa orang yang diberikan ilmu yangdisebutkan dalam Al-Qur’an adalah para imam.
Bab bahwa orang yang dalam ilmunya adalahpara imam.
Bab bahwa Al-Qur’an menunjukkan pada imam.
Bab para imam mewarisi ilmu Nabi Muhammad danseluruh Nabi dan washi sebelumnya.
Bab para imam memiliki seluruh kitab suciyang diturunkan oleh Allah.
Bab tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’anyang lengkap selain para imam, dan mereka mengetahui ilmu Al-Qur’an seluruhnya.
Bab para imam memiliki mukjizat para Nabi.
Bab para imam memiliki senjata danbarang-barang peninggalan Nabi.
Bab jumlah para imam bertambah pada malamjum’at.
Bab para imam jika mereka ingin mengetahuisesuatu mereka pun akan dapat mengetahuinya.
Bab bahwa para imam mengetahui kapan merekamati, dan mereka hanya mati pada saat mereka berkehendak.
Bab para imam akan memberitahukan rahasiaorang walaupun mereka tidak diberitahu.
Bab bumi dan seisinya adalah milik para imam.
Bab para imam mengetahui seluruh ilmu yangdiberikan pada malaikat, Nabi dan Rasulullah ‘Alaihis salam.
Bab Para imam mengetahui apa yang telahterjadi dan apa yang belum terjadi, tidak ada sesuatu pun yang tidak merekaketahui.
Kitab kedua adalah Man la Yahdhuruhul Faqih yang ditulis oleh Muhammad bin Babawaih AlQummi, yang juga dikenal dengan sebutan As Shaduq, keterangan mengenai kitabini adapat dilihat dalam kitab Raudhatul Jannat jilid 6 hal 230-237, A’yanusSyi’ah jilid 1 hal 280, juga dalam Muqaddimah kitab Man La Yahdhuruhul Faqih,kitab ini memuat 176 bab, yang pertama adalah bab Thaharah dan ditutup denganbab Nawadir. Kitab ini memuat 9044 riwayat.
Disebutkandalam pengantar bahwa penulisnya sengaja menghapus sanad dari setiap riwayatagar tidak terlalu memperbanyak isi kitab, juga disebutkan bahwa penulisnyamengambil riwayat untuk ditulis dalam buku ini dari kitab-kitab yang terkenaldan dapat diandalkan, penulis hanya mencantumkan riwayat yang diyakinivaliditasnya. Ditambah lagi dengan kitab Tahdzibul Ahkam, keterangan mengenaikitab ini dapat ditemui dalam kitab mustadrakul wasa’il jilid 4 hal 719, kitabadzari’ah jilid 4 hal 504, juga dalam pengantar tahdzibul ahkam sendiri. Kitabini ditulis untuk memecahkan kontradiksi yang terjadi pada banyak sekaliriwayat syiah, kitab ini berisi 393 bab.
Begitu jugakitab Al Istibshar, yang terdiri dari tiga jilid, dua jilid memuatbab ibadah, sementara pembahasan fiqih lainnya dicantumkan pada jilid ketiga.Kitab ini memuat 393 bab, dalam kitabnya ini penulis hanya mencantumkan 5511hadits dan mengatakan: saya membatasinya supaya tidak terjadi tambahan maupunpengurangan. Sementara dalam kitab Adz Dzari’ah ila Tashanifisy Syi’ahdisebutkan bahwa jumlah haditsnya ada 6531, berbeda dengan penuturan penulisnyasendiri. Silahkan dirujuk ke Ad Dzari’ah jilid 2 hal 14, A’yanus Syi’ah jilid 1hal 280, pengantar Al Istibshar, tulisan Hasan Al Khurasan. Kedua kitab di atas– Tahdzibul Ahkam dan Al Istibshar- adalah karya ulama tersohor syiah yangbergelar “ Syaikhut Tha’ifah” yaitu Abu Ja’far Muhamamd bin Hasan Al Thusi (wafat360 H). Al Faidh Al Kasyani dalam Al Wafi jilid 1 hal 11 mengatakan: seluruhhukum syar’i hari ini berporos pada empat kitab pokok, yang seluruh riwayatyang ada di dalamnya dianggap shahih oleh penulisnya.
Agho BarzakTahrani – salah satu mujtahid syiah masa kini- mengatakan dalam kitab AdzDzari’ah jilid 2 hal 14 : empat kitab ditambah dengan kitab kumpulan haditsadalah dasar bagi hukum syar’I hingga saat ini. Pada abad 11 Hijriah para ulamasyiah menyusun beberapa kitab, empat di antaranya disebut oleh ulama syiah hariini dengan : Al Majami’ Al Arba’ah Al Mutaakhirah” (empat kitab kumpulan haditsbelakangan); empat kitab itu adalah: Al Wafi yang disusun oleh Muhamad binMurtadha yang dikenal dengan julukan Mulla Muhsin Al Faidh Al Kasyani –wafattahun 1091 H– terdiri dari tiga jilid tebal, dicetak di Iran, memuat 273 bab.Muhammad Bahrul Ulum mengatakan bahwa kitab Al Wafi memuat 50 000 hadits (lihatfootnoote kitab Lu’lu’atul Bahrain hal 122) sementara Muhsin Al Amin mengatakanbahwa Al Wafi memuat 44244 hadits, bisa dilihat dalam A’yanus Syi’ah.
Lalu kitabBiharul Anwar Al Jami’ah Li Durar Akhbar Aimmatil At-har karya Muhammad BaqirAl Majlisi –wafat tahun 1110 atau 1111 H-. Ulama syiah menyatakan bahwa BiharulAnwar adalah kitab terbesar yang memuat hadits dari kitab-kitab rujukan syiah,bisa dilihat keterangan mengenai kitab ini dalam Adz Dzari’ah jilid 3 hal 27,juga A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 293. selain itu juga ada kitab wasa’ilus syi’ahila tahsil masa’ilisy syari’ah yang disusun oleh Muhammad bin Hasan Al Hurr AlAmili, yang dianggap sebagai kitab terlengkap yang memuat hadits hukum fiqihbagi syiah imamiyah.
Dalam kitabini terkumpul riwayat dari kitab empat utama dan ditambah dengan riwayat laindari kitab-kitab lain yang dianggap sebagai rujukan, yangkonon jumlahnyamencapai tujuh puluh kitab-seperti dikatakan oleh penulis kitab Adz Dzari’ah.Tetapi Syirazi dalam pengantar kitab wasa’il menyebutkan jumlah kitab yangmenjadi rujukan adalah 180 kitab lebih, Al Hurr Al Amili menyebutkan judul-judulkitab yang menjadi rujukannya yang berjumlah lebih dari delapan puluh kitab,dia juga menyebutkan bahwa dia mengambil rujukan dari kitab0kitab selain yangtelah disebutkan, tetapi dia merujuknya dengan perantaraan nukilan kitab lain.Silahkan merujuk pada Muqaddimatul Wasa’il yang situlis oleh Asyirazi, begitujuga A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 292-293, Adz Dzari’ah jilid 4 hal 352-353,Wasa’ilusy Syi’ah jilid 1 hal 408, jilid 20 hal 36-49.
Jadi Syi’ah setidaknyamemiliki empat referensi utama dalam membangun alirannya. Yaitu :
1. Al-Kafi yangditulis oleh Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq Al-Kulaini. Dia adalah seorang ulamaSyi’ah terbesar di zamannya. Dalam kitab itu terdapat 16.199 hadits. Menurutkalangan Syi’ah, Al-Kafi adalah kitab yang paling terpercaya.
2. Man LaaYahdhuruhu Al-Faqih, dikarang oleh Muhammad bin Babawaihal-Qummi. Terdapat di dalamnya 3.913 hadits musnad dan 1.050 hadits mursal.
3. At-Tahzib diitulisoleh Muhammad At-Tusi yang dijuluki LautanIlmu.
4. Al-Istibshar, jugaditulis oleh Al-Qummi mencakup 5.001 hadits.
Bersambung ...>>>>

Dikirim pada 02 Juni 2014 di KAJIAN UTAMA


Oleh: al-Ustadz Amin Saefullah Muchtar
Sogok/suap dan hadiah merupakan fenomena yang tidak asing dalam masyarakat kita. Banyak istilah yang digunakan untuk kedua masalah ini, seperti dari ucapan terima kasih, parsel, money politik, uang pelicin, pungli dan lain sebagainya. Hanya saja istilah hadiah di samping mengandung makna positif juga mengandung makna negatif. Dalam Bahasa Indonesia hadiah bisa diartikan sebagai suatu penghargaan atas prestasi seseorang dalam suatu kompetisi atau pemberian atas kebaikan hati seseorang. Selain itu hadiah juga bisa bermakna sebuah pemberian yang berhubungan dengan kepentingan-kepentingan pribadi.
Dari sudut pandang hukum Islam, wawasan masyarakat sangat terbatas mengenai masalah sogok dan hadiah. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa sogok bukan sebuah kejahatan, tetapi hanya kesalahan kecil. Sebagian lain, walaupun mengetahui bahwa sogok adalah terlarang, namun mereka tidak peduli dengan larangan tersebut. Apalagi karena terpengaruh dengan keuntungan yang didapatkan.
Di pihak lain masayarakat menganggap sogok itu sebagai hadiah atau tanda terima kasih. Bahkan ada yang beranggapan sebagai uang jasa atas bantuan yang telah diberikan seseorang, sehingga mereka tidak merasakan hal itu sebagai sebuah kesalahan atau pelanggaran apalagi kejahatan.
Sudah menjadi rahasia umum betapa banyak risywah terjadi di bidang peradilan yang diberikan untuk memenangkan perkara. Demikian pula di bidang pekerjaan, baik Pegawai Negeri Sipil (PNS), swasta, anggota polisi dan tentara, dan malah di dunia pendidikan pun hal ini terjadi. Perbuatan tersebut tanpa ada perasaan risih dilakukan oleh orang yang mengerti hukum dan aturan.
Sejauhmana sebenarnya batas-batas pemisah antara sogok dan risywah juga hadiah dalam pandangan Hukum Islam? Hal ini memerlukan kajian yang mendalam dari sudut pandang hukum Islam, agar umat memahami dan mengerti dengan baik sehingga mereka berbuat sesuai dengan ajaran Islam.
Pengertian Risywah
Secara haqiqah lughawiyah (hakikat bahasa) kata risywah (رشوةِ) berasal dari kata risya (رشاء) maknanya
الَّذِي يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى الْمَاءِ
“tali timba yang berfungsi mengantarkan timba sehingga bisa sampai ke air” (an-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, II:546)
Secara haqiqah ‘urfiyah (hakikat adat kebiasaan) kata risywah (رشوةِ) maknanya
الوُصْلَةُ إِلَى الْحَاجَةِ بِالْمُصَانَعَةِ
“alat penghubung terwujudnya kebutuhan dengan suap” (al-Faiq fi Gharib Al-Hadits, II:60)
Namun dapat bermakna pula al-ja’lu/al-ju’lu, yaitu
مَا يُعْطِيهِ الشَّخْصُ الْحَاكِمَ أَوْ غَيْرَهُ لِيَحْكُمَ لَهُ ، أَوْ يَحْمِلَهُ عَلَى مَا يُرِيْدُ
“Pemberian seseorang kepada hakim atau yang lainnya supaya memberikan keputusan yang menguntungkannya atau membuat orang yang diberi melakukan apa yang diinginkan oleh yang memberi” (Lihat, Tajul ‘Arus min Jawahiril Qamus, XXXVIII:153)
Secara haqiqah syar’iyyah (hakikat syariat) kata risywah (رشوةِ) maknanya
مَا يُعْطَى لإِبْطَالِ حَقٍّ أَوْ لإِحْقَاقِ بَاطِلٍ
“Pemberian untuk membatalkan kebenaran dan membenarkan yang batil” (Lihat, Syarhus Sunnah, X:88)
Berbagai pendekatan di atas menunjukkan bahwa makna risywah secara istilah syar’i lebih spesifik, yaitu pemberian kepada seseorang supaya yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Jadi, secara syariat suatu pemberian dapat dikategorikan delik risywah jika membuat yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Tentu saja salah dan benar yang dimaksud di sini menurut parameter syariat, bukan semata-mata ‘urf atau adat kebiasaan manusia.
Secara praktek dapat dipastikan bahwa risywah melibatkan dua pihak (ar-rasyi dan al-murtasyi). Namun terkadang melibatkan pula pihak ketiga (ar-Raisy).
Imam Ibnul Jauzi menjelaskan:
الرَّاشِي الَّذِيْ يُعْطِي مَنْ يُعِينُهُ عَلَى البَاطِلِ والمُرْتَشِي الآخِذُ وَالَّذِيْ يَسْعَى بَيْنَهُما يُسَمَّى الرَّائشُ
“Ar-Rasyi adalah orang yang memberikan harta kepada orang lain yang membantunya pada kebathilan. Al Murtasyi adalah yang mengambil harta tersebut. Dan yang berperan (perantara) di antara keduanya disebut ar-Raisy”. (Lihat, Gharib Al-Hadits, I:395)
Imam as-Shan’ani menjelaskan:
والرَاشِي: هُوَ الَّذِي يُبَذِّلُ الْمَالَ لِيَتَوَصَّلُ اِلَى البَاطِلِ.
Ar-Rasyi adalah orang yang memberikan harta agar sampai kepada kebathilan.
وَالْمُرْتَشِي: آخْذُ الرُّشْوَةِ
Al Murtasyi adalah yang mengambil risywah.
وَالرَّائِشُ : وَهُوَ الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا
Ar Raisy adalah yang mengadakan terjadinya risywah (perantara). (Lihat, Subul as-Salam Syarh Bulugh Al-Maram, III:423)
Keharaman Risywah
Di dalam ayat Alquran istilah risywah tidak disebutkan secara tersurat. Namun Alquran menggunakan ungkapan lain yang bermakna risywah, yaitu as-suht. Allah berfirman:
سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ
”Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram” Q.s. Al Maidah:42
Kalimat akkaaluna lissuhti secara umum sering diterjemahkan dengan memakan harta yang haram. Namun konteksnya adalah memakan harta berstatus risywah. Penafsiran ini sesuai dengan penjelasan Nabi:
كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ بِالسُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ وَمَا السُّحْتُ ؟ قَالَ الرِّشْوَةُ فِى الْحُكْمِ – رواه ابن جرير عن عمر -
“Setiap daging yang tumbuh karena as-suht, maka api nereka lebih utama kepadanya” Mereka bertanya, “Wahai Rasul, apa as-suht itu?” beliau menjawab, “Risywah dalam hukum”(H.r. Ibnu Jarir, dari Umar)
Jadi risywah identik dengan memakan barang yang diharamkan oleh Allah swt.
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (Q.s. Al Baqarah:188)
Sedangkan dalam sunah keharaman risywah diungkap secara sharih (tegas dan jelas), antara lain sebagai berikut:
لَعْنَةُ الله عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي في الحُكْمِ
“Laknat Allah bagi penyuap dan yang menerima suap dalam hukum” (H.r. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
لَعْنَةُ الله عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي
“Laknat Allah bagi penyuap dan yang menerima suap” (H.r. al-Khamsah kecuali an-Nasa’i dan di shahihkan oleh at-Tirmidzi)
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ يَعْنِي الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا
“Rasulullah saw. melaknat ar-rasyi dan al-murtasyi, yakni yang berjalan (perantara) di antara keduanya ” (H.r. Ahmad)
Dalam riwayat Ahmad, Abu Daud, dan at-Tirmidzi (dari Abu Hurairah) risywah itu dilarang dalam bidang peradilan. Akan tetapi dalam riwayat al-khamsah selain an-Nasai (dari Abdullah bin Amr dan Tsauban) pelarangan risywah berlaku secara umum tanpa mengkhususkan dalam bidang peradilan. Kedua hadis ini menunjukkan pelarangan risywah berlaku di bidang apapun. Hanya saja risywah di dunia peradilan memiliki peluang yang sangat besar, karena dalam bidang peradilan terjadi perebutan hak bagi bagi orang-orang yang berperkara. Risywah dalam bidang ini disebut as-suht.
Yang Termasuk Diharamkan Terkait dengan Risywah
Kalau diperhatikan lebih seksama ternyata hadis-hadis itu bukan hanya mengharamkan memakan harta hasil dari risywah, melainkan juga mengharamkan peran aktif berbagai pihak yang terlibat dalam terwujudnya risywah itu. Adapun pihak-pihak yang diharamkan ada tiga: yaitu (1) rasyi (pemberi sogokan), (2) murtasyi (penerima sogokan), (3) raisy (Mediator terjadinya sogokan).
Hal itu dapat dimengerti karena tanpa peran aktif dari ketiga pihak itu “transaksi” risywah tidak akan berjalan dengan lancar, bahkan tidak terwujud. Artinya, tidak akan mungkin terjadi seseorang “memakan” harta berstatus risywah, kalau tidak ada rasyi. Maka rasyi pun termasuk mendapat laknat dari Allah. Karena pekerjaan dan inisiatif dialah ada orang yang makan harta berstatus risywah. Dan dalam kasus tertentu selalu ada pihak yang menjadi mediator atau perantara yang bisa memuluskan jalan. Sebab bisa jadi pihak rasyi tidak mau menampilkan diri, maka dia akan menggunakan pihak lain sebagai mediator. Atau sebaliknya, pihak murtasyi tidak mau bertemu langsung dengan rasyi, maka peran mediator itu penting. Dan sebagai mediator ia mendapatkan kompensasi tertentu dari hasil kerjanya itu.
Secara praktik kasus suap pada zaman Umar dapat kita jadikan contoh:
عن زيد بن أسلم، عن أبيه: كان عمر إذا بعثني إلى بعض ولده قال: لا تعلمه لما أبعث إليه مخافة أن يلقنه الشيطان كذبة. فجاءت امرأة لعبيدالله بن عمر ذات يوم، فقالت: إن أبا عيسى لا ينفق علي ولا يكسوني.فقال: ويحك ومن أبو عيسى ؟ قالت: ابنك.قال: وهل لعيسى من أب ؟ فبعثني إليه وقال: لا تخبره. فأتيته وعنده ديك ودجاجة هنديان، قلت: أجب أباك. قال: وما يريد ؟، قلت: نهاني أن أخبرك. قال: فإني أعطيك الديك والدجاجة. قال فاشترطت عليه أن لا يخبر عمر، وأخبرته فأعطانيهما.فلما جئت إلى عمر، قال: أخبرته ؟ – فوالله ما استطعت أن أقول لا – فقلت: نعم فقال: أرشاك ؟ قلت: نعم، وأخبرته، فقبض على يدي بيساره، وجعل يمصعني بالدرة وأنا أنزو. فقال: إنك لجليد
Aslam (Maula Umar) berkata: “Umar, bila mengutus aku kepada sebagian putranya, ia berkata, ‘Janganlah kamu memberi tahu kepadanya mengapa aku mengutusmu khawatir setan membisikan kedustaan kepadanya’. Ia berkata, “Pada suatu hari datang istri Ibnu Umar (menemui Umar), lalu berkata, ‘Sesungguhnya Abu Isa tidak memberi nafkah dan pakaian kepadaku’ Maka ia berkata, ‘Celaka, siapa Abu Isa itu?’ Ia menjawab, ‘Putramu’ Ia berkata, ‘Apakah Isa punya bapak!’ Maka Ia (Umar) mengutusku untuk menemuinya, dan ia berpesan, “Janganlah kamu memberitahu kepadanya” Ia berkata, “Lalu aku menemuinya dan ia punya ayam jantan dan ayam betina India” Aku berkata, “Penuhilah panggilan ayahmu Amirul Mukminin” Ia berkata, “Apa yang dikehendaki beliau dariku?” Aku berkata, “Beliau melarangku untuk mengabarkannya kepadamu, aku tidak tahu” Kata Ibnu Umar, “Kalau kamu memberitahuku, aku akan memberi ayam jantan dan ayam betina” Ia berkata, “Aku menetapkan syarat kepadanya agar ia tidak memberi tahu Umar (bahwa aku membocorkannya), maka aku memberitahukannya. Lalu ia memberiku ayam jantan dan betina sebagai kompensasi pemberitahuanku. Ketika aku mendatangi Umar, ia berkata, ‘Apakah kamu memberitahunya’ Demi Allah aku tidak sanggup mengatakan ‘tidak’, maka aku katakan ‘Ya’ Ia berkata, ‘Apakah dia menyuapmu’ Aku katakan, ‘Ya’ Ia berkata, ‘Apa yang diberikan kepadamu?’ Aku katakan, “ayam jantan dan betina” Maka beliau memegang tanganku dengan tangan kirinya, lalu memukul aku dengan durrah, dan aku merasa malu/hina. Maka beliau berkata, ‘Sesungguhnya kamu pasti dijilid’.” (H.r. al-Qa’nabi, Tarikh al-Islam Imam adz-Dzahabi, IV:99-100; H.r Ibnu Syabah, Tarikh al-Madinah, II:321 dengan sedikit perbedaan redaksi. Riwayat ini sahih, sebagaimana dinyatakan pula oleh Abdus Salam bin Muhsin Ali Isa (Dirasah Naqdiyah fil Marwiyat al-waridah fi Syakhshiyah Umar bin al-Khatab, hal. 251)
Risywah untuk Memperoleh Hak & mencegah kezaliman
Jumhur ulama membolehkan risywah yang dilakukan untuk memperoleh hak dan mencegah kezhaliman seseorang. Kebolehan itu berdasarkan hadis Nabi saw. dan atsar Ibnu Mas’ud sebagai berikut:
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ إنِّي لَأُعْطِي أَحَدَهُمْ الْعَطِيَّةَ فَيَخْرُجُ بِهَا يَتَأَبَّطُهَا نَارًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلِمَ تُعْطِيهِمْ ؟ قَالَ يَأْبُونَ إلَّا أَنْ يَسْأَلُونِي وَيَأْبَى اللَّهُ لِي الْبُخْلَ
Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya aku memberi seseorang pemberian, lalu dengan pemberian tersebut dia terhindar dari api. Lalu sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau memberi mereka ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, “Mereka enggan, kecuali mereka meminta kepadaku. Allah pun enggan kalau aku bakhil” (H.r. Ahmad)
عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ ابْن مَسْعُودٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ لَمَّا أَتَى أَرْضَ الْحَبَشَةِ أَخَذَ بِشَىْءٍ فَتُعُلِّقَ بِهِ فَأَعْطَى دِينَارَيْنِ حَتَّى خُلِّىَ سَبِيلُهُ
Dari al-Qasim bin Abdurrahman, dari Ibnu Mas’ud, sesungguhnya ketika ia datang ke negeri Habsyah, ia membawa sesuatu, maka ia ditahan karena sesuatu itu. Lalu ia memberi dua dinar sehingga ia dibebaskan. (H.r. al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, juz X:139)
Dalam riwayat Ibnu Abu Syaibah dengan redaksi
لَمَّا أَتَى أَرْضَ الْحَبَشَةِ أُخِذَ فِي شَيْءٍ فَأَعْطَى دِينَارَيْنِ حَتَّى خُلِّي سَبِيلَهُ.
Dari Ibnu Mas’ud, sesungguhnya ketika ia datang ke negeri Habsyah, ia ditahan karena sebab sesuatu. Lalu ia memberi dua dinar sehingga ia dibebaskan. (al-Mushannaf, VI:557)
Dalam konteks ini kita dapat memahami pernyataan Jabir bin Zaid:
لَمْ نَجِدْ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ لَنا شَيْئاً أَنْفَعَ لَنَا مِنَ الرِّشَا.
“Pada zaman itu, kami tidak mendapatkan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi kami selain risywah” (H.r. Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, VI:557)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pada saat itu (zaman kekuasaan Ziyad dari Bani Umayyah) risywah merupakan sarana yang paling efektif untuk melindungi jiwa dan harta dari sikap penguasa yang bertindak sewenang-wenang.
Sehubungan dengan itu para ulama dari kalangan tabi’in, antara lain Jabir bin Zaid dan as-Sya’bi berpendapat:
لاَ بَأْسَ أَنْ يُصَانِعَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَالِهِ إذَا خَافَ الظُّلْمَ
“Tidak mengapa seseorang menyuap untuk (keselamatan) diri dan hartanya apabila khawatir terhadap kezaliman” (H.r. Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, VI:557)
وقيل لوهب بن منبه : الرشوة حرام فى كل شىء ؟ قال لا إنما يكره من الرشوة أن ترشى لتعطى ما ليس لك ، أو تدفع حقا قد لزمك ، فأما أن ترشى لتدفع عن دينك ومالك ودمك فليس بحرام
Wahb bin Munabbih ditanya apakah risywah itu diharamkan pada segala sesuatu, maka ia menjawab: ”Tidak, risywah itu diharamkan jika engkau memberi sesuatu pada orang lain supaya engkau diberi sesuatu yang bukan hakmu atau supaya engkau bebas dari kewajibanmu. Adapun jika engkau melakukan risywah dalam rangka membela agamamu, nyawamu, atau hartamu maka tidaklah haram”. (H.r. al-Baihaqi)
Meskipun demikian para ulama sepakat bahwa dalam konteks ini murtasyi (orang yang menerima suap) tetap haram dan berdosa. Lihat, Kasyaful Qana’, VI:316, Nihayatul Muhtaj, VIII:243, Hasyiah Ibnu Abidin, IV:304.
Adapun yang dimaksud dengan hak disini adalah hak secara khusus, bukan hak secara umum. Artinya urusan/sesuatu itu sudah dapat dipastikan menjadi hak orang tersebut. Karena itu, jika seseorang tidak bisa mendapatkan haknya kecuali dengan syarat harus membayar uang/barang sejumlah tertentu maka pembayaran itu tidak dikategorikan risywah yang diharamkan. Sebagai misal:
bila seseorang dirampas harta miliknya dan tidak akan diberikan kecuali dengan memberikan sejumlah harta, maka pemberian itu tidak dikategorikan risywah yang diharamkan, karena harta itu memang harta miliknya secara khusus.
Satu perusahaan, karena telah memenuhi persyaratan tertentu, dipastikan memenangkan tender suatu proyek. Berarti proyek itu menjadi hak perusahaan tersebut. Namun proyek itu tidak akan segera turun kecuali dengan memberikan sejumlah harta, maka pemberian itu tidak dikategorikan risywah yang diharamkan, karena proyek itu memang telah menjadi haknya secara khusus.
Kasus Ibnu Mas’ud di atas dapat kita jadikan acuan atau landasan hukum terkait hak secara khsusus.
Sedangkan yang dimaksud dengan hak secara umum adalah urusan/sesuatu itu berhak dimiliki oleh siapapun selama memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang terhadap hak umum itu. Karena itu, jika seseorang tidak memenuhi persyaratan tersebut namun mendapatkan hak umum dengan jalan membayar uang/barang sejumlah tertentu maka pembayaran itu dikategorikan risywah yang diharamkan, karena ia bukan termasuk orang yang berhak atas urusan tersebut. Sebagai misal, menjadi pegawai negeri merupakan hak warga negara. Artinya siapa saja memang berhak jadi pegawai negeri, jika benar-benar telah lulus tes sesuai ketentuan. Kalau harus membayar uang/barang dalam jumlah tertentu maka dapat dikategorikan risywah yang diharamkan. Karena risywah itulah yang menyebabkan hak umum beralih atau jatuh ke tangan orang yang bukan “pemilik”nya.
Perbedaan Risywah dengan Hadiah
Risywah dan hadiah memiliki kesamaan juga perbedaan. Dikatakan sama karena kedua-duanya masuk didalam kategori pemberian kepada seseorang. Dikatakan beda dilihat dari motif, fungsi, dan eksesnya.
Kata hadiah (هدِيَّة) berarti إهداء (pemberian), اللُّهْنَة (oleh-oleh), التَّقدِمَة (hadiah). Sebelum menjelasan definisi hadiah, perlu dijelaskan beberapa istilah yang terkadang masih belum dipahami oleh sebagian orang, sehingga sulit dibedakan. Istilah tersebut adalah: hibah, hadiah dan sadaqah.
Imam asy-Syafi’i membagi kebajikan (tabarru’) seseorang dengan hartanya kepada dua bentuk. Pertama kebajikan yang berkaitan dengan kematian, yaitu wasiat. Kedua, kebajikan ketika masih hidup yang dibedakannya antara kebajikan murni (mahdhah) dengan waqaf. Kebajikan murni ada tiga macam, yaitu hibah, hadiah dan shadaqah tathawu’.
Selanjutnya dijelaskan, jika kebajikan harta bertujuan untuk menghormati dan memuliakan seseorang disebut dengan hadiah. Adapun hibah, pada asalnya dilihat dari jenis harta yang diberikan, yaitu kalau yang diberikan itu harta tidak bergerak (tetap). Sedangkan disebut shadaqah kalau kebajikan harta itu bertujuan untuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah dan mengharapkan pahala akhirat.
Dari penjelasan di atas dapat didefinisikan bahwa hadiah adalah pemberian harta kepada orang lain dengan tujuan untuk menghormati (ikram), memuliakan (ta’zhim), mengasihi (tawaddud) dan mencintainya (tahabbub).
Dalil Kebolehan Hadiah
Dalil-dalil yang digunakan oleh ulama dalam pembahasan ini pada umumnya berasal dari hadis, antara lain sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ: أَهَدِيَّةٌ أَمْ صَدَقَةٌ فَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ، قَالَ لأَصْحَابِهِ: كُلُوا، وَلَمْ يَأْكُلْ وَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ، ضَرَبَ بِيَدِهِ صلى الله عليه وسلم، فَأَكَلَ مَعَهُمْ
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. apabila diberi makanan beliau bertanya: apakah makanan ini hadiah atau sadaqah. Jika dijawab: ‘Sadaqah’, beliau mengatakan pada para sahabatnya, ‘Makanlah oleh kalian’, sedangkan beliau tidak memakannya. Akan tetapi bila dijawab: ‘Hadiah’, maka beliau (Nabi saw) mengambil dengan tangannya lalu makan bersama mereka” (H.r. Al-Bukhari)
عَنْ عَلِيِّ قَالَ : إِنَّ كِسْرى أَهْدَى إِلَى رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم هَدِيَّة مِنْه، وَإِنَّ الْمُلُوْكَ أَهْدَوْا إِلَيْهِ فَقَبِلَ مِنْهُمْ
Dari Ali, ia berkata, “Sesungguhnya Kisra memberi hadiah kepada Nabi saw. dan raja-raja lain juga memberi hadiah kepada beliau dan beliau menerima hadiah tersebut dari mereka” (H.r. At-Tirmidzi)
Anjuran saling memberi hadiah, di kalangan ulama telah terjadi Ijma’, karena Ia memberikan pengaruh yang positif di masyarakat; baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Bagi yang memberi, itu sebagai cara melepaskan diri dari sifat bakhil, sarana untuk saling menghormati dan sebagainya. Sedangkan kepada yang diberi, sebagai salah satu bentuk memberi kelapangan terhadapnya, hilangnya kecemburuan dan kecurigaan, bahkan mendatangkan rasa cinta dan persatuan dengan sesama.
Hadiah bagi pejabat atau pemegang kebijakan
Jika dalam menjalankan tugas atau jika terkait dengan tugasnya, seseorang yang memiliki jabatan atau mempunyai wewenang tertentu diberi hadiah oleh pihak lain dengan harapan pejabat tersebut dapat memberi kemudahan tertentu atau memberi keringanan tertentu atas suatu tuntutan, maka hadiah yang demikian dikategorikan sebagai ghulul (korupsi). Hal ini dapat dipahami secara logis, sebab hadiah, tips, bingkisan atau parcel tersebut, sedikit atau banyak mempengaruhi kebijakan dan keputusannya sebagai pejabat/pegawai. Contoh yang paling nyata adalah pegawai/pejabat tingkat atas yang mendapat bingkisan/hadiah tertentu dari bawahannya demi memperoleh keuntungan tertentu. Tindakan demikian dapat merusak sistem yang dilandaskan pada asas keadilan dan kejujuran dan tentu akan merugikan kepentingan umum.
Terkait hadiah bagi para pejabat atau pegawai publik, Rasulullah saw. telah memberikan pedoman sebagaimana dijelaskan pada riwayat sebagai berikut:
عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيّ قَالَ اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى صَدَقَةٍ فَجَاءَ فَقَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَجِيءُ فَيَقُولُ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَفَلَا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَأْتِي أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا بِشَيْءٍ إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثًا
Dari Abu Hamid as-Sa’adi, ia berkata, “Nabi saw. pernah mengangkat/mempekerjakan seseorang dari Bani al-Azad, ada yang mengatakan namanya Ibn al-Lutbiyah, untuk mengumpulkan sadaqah. Setelah kembali ia mengatakan kepada Rasulullah, ‘Ini untukmu dan ini dihadiahkan untukku’. Lalu Nabi saw. berdiri berkhutbah sambil memuji Allah swt. Dalam khutbahnya beliau bersabda, ‘Seorang karyawan yang kita utus mengumpul sadaqah datang dan berkata, ‘Ini untukmu dan ini untukku’. Kenapa dia tidak duduk saja sambil menunggu di rumah bapaknya atau ibunya, apakah dia akan diberi hadiah atau tidak ? Demi yang diri Muhammad di tangan-Nya, tidaklah kami mengutus seseorang di antara kamu mengambil sesuatu kecuali datang dia pada hari kiamat membawa di lehernya, jika dia menerima unta akan berbunyi unta, begitu juga sapi akan berbunyi sapi, kambing akan berbunyi kambing. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga terlihat ketiaknya, lalu berdoa, ‘Ya Allah, apakah aku sudah menyampaikannya’. Doa itu diucapkannya tiga kali” (H.r. al-Bukhari)
Dalam pemberian sesuatu kepada Pegawai/pejabat publik terbagi dalam tiga bagian:
Pertama, Pemberian yang diharamkan, baik bagi pemberi maupun penerima
Kaidahnya, pemberian tersebut bertujuan untuk sesuatu yang batil, ataukah pemberian atas sebuah tugas yang memang wajib dilakukan oleh seorang pegawai. Misalnya pemberian kepada pegawai setelah ia menjabat atau diangkat menjadi pegawai pada sebuah instansi. Dengan tujuan mengambil hatinya tanpa hak, baik untuk kepentingan sekarang maupun untuk masa akan datang, yaitu dengan menutup mata terhadap syarat yang ada untuknya, dan atau memalsukan data, atau mengambil hak orang Lain, atau mendahulukan pelayanan kepadanya daripada orang yang lebih berhak, atau memenangkan perkaranya, dan sebagainya.
Diantara permisalan yang juga tepat dalam permasalahan ini adalah, pemberian yang diberikan oleh perusahaan atau toko kepada pegawainya, agar pegawainya tersebut merubah data yang seharusnya, atau merubah masa berlaku barang, atau mengganti nama perusahaan yang memproduksi, dan sebagainya.
Kedua, pemberian yang terlarang mengambilnya, dan diberi keringanan dalam Memberikannya. Kaidahnya, pemberian yang dilakukan secara terpaksa, karena apa yang menjadi haknya tidak dikerjakan, atau disengaja diperlambat oleh pegawai bersangkutan yang seharusnya memberikan pelayanan. Sebagai misal, pemberian seseorang kepada pegawai atau pejabat, yang ia lakukan karena untuk mengambil kembali haknya, atau untuk menolak kezhaliman terhadap dirinya. Apalagi Ia melihat, jika sang pegawai tersebut tidak diberi sesuatu (uang, misalnya), maka ia akan melalaikan, atau memperlambat prosesnya.
Ibnu Taimiyyah berkata, “Jika seseorang memberi hadiah (dengan maksud) untuk menghentikan sebuah kezaLiman atau menagih haknya yang wajib, maka hadiah ini haram bagi yang mengambil, dan boleh bagi yang memberi. Sebagaimana Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku seringkali memberi pemberian kepada seseorang, lalu ia keluar menyandang api (neraka),” ditanyakan kepada beliau,”Ya, Rasulullah. Mengapa engkau memberi juga kepada mereka?” Beliau menjawab, “Mereka tidak kecuali meminta kepadaku, dan Allah tidak menginginkanku bakhil.”
Ketiga, pemberian yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan memberi dan mengambilnya. Kaidahnya, suatu pemberian dengan tujuan mengharapkan ridha Allah Swt. untuk memperkuat tali silaturahim atau menjalin ukhuwah Islamiah, dan bukan bertujuan memperoleh keuntungan duniawi.
Di bawah ini ada beberapa permasalahan, yang hukumnya masuk dalam bagian ini, sekalipun yang afdhal bagi pegawai, tidak menerima hadiah tersebut, sebagai upaya untuk menjauhkan diri dari tuduhan dan sadduz zari’ah (tindakan preventif) baginya dari pemberian yang haram.
Hadiah seseorang yang tidak mempunyai kaitan dengan pekerjaan (usahanya). Sebelum orang tersebut menjabat, ia sudah sering juga memberi hadiah, karena hubungan kerabat atau yang lainnya. Dan pemberian itu tetap tidak bertambah, meskipun yang ia beri sekarang sedang menjabat.
Hadiah orang yang tidak biasa memberi hadiah kepada seorang pegawai yang tidak berlaku persaksiannya, seperti Qodi bersaksi untuk anaknya, dan hadiah tersebut tidak ada hubungannya dengan usahanya.
Hadiah yang telah mendapat izin dari pemerintah atau instansinya.
Hadiah atasan kepada bawahannya.
Hadiah setelah ia meninggalkan jabatannya.

Dikirim pada 19 Februari 2013 di KAJIAN UTAMA


Perpolitikan Indonesia menjelang perhelatan akbar baik regional seperti Pilgub Jabar maupun nasional 2014 dibuat terperangah. Hampir semua media memberitakan bahwa petinggi (presiden) PKS yang berinisial LHI sudah ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap dalam kasus impor daging sapi. Bahkan LHI sudah dibawa ke gedung KPK dan mungkin dilakukan penahanan. Sekalipun status tersangka belum tentu bersalah, akan tetapi penilaian ditengah masyarakat seolah sudah menjadi consensus bahwa yang bersangkutan sudah terlibat dan melakukan pelanggaran. Dan sudah barang tentu akan berinplikasi pada menurunya dukungan public.

Selama ini LHI merupakan diantara petinggi PKS yang paling rajin menggembar gemborkan bahwa partainya merupakan salah satu diantara yang paling bersih. Para kadernyapun belum pernah diberitakan bersentuhan dengan lembaga anti korupsi yang bernama KPK itu. Bahkan partai yang diusungnya merupakan partai anti korupsi dan pemberantasan korupsi itu sudah menjadi komitmen PKS. Namun demikian, sekali bersentuhan dengan KPK, ternyata orang nomor wahid yang langsung menjadi tersangka. Yang jadi pertanyaan apakah ditetapkannya LHI sebagai tersangka akan berdampak pula pada penurunan jumlah dukungan terhadap pasangan Her-Der (Heryawan - Dedi Mizwar) pada 24 Februari mendatang?

Jika kasus mengenai LHI ini tidak cepat mendapat respon dan diselesaikan oleh para petinggi PKS, maka sedikit banyaknya akan membawa dampak yang merugikan dalam pemenangan pemilukada di Jabar. Apalagi menjelang perhelatan ditahun 2014. Sebab bagaimanapun juga masyarakat sudah semakin akrab dengan dunia informasi. Disamping itu hal ini pun akan menjadi senjata ampuh bagi lawan politiknya, terutama mantan tokoh PKS yang "sakit hati" karena “diusir” ataupun tokoh luar maupun partai politik yang sering mendapat “sentilan” dari PKS. Jika terbukti tidak terlibat, mampukan PKS khususnya para petingginya melawan opini publik? Tentunya hal ini menjadi pe-er besar bagi PKS. Kita doakan semoga para petinggi dan kader PKS mampu mengatasinya!

Dikirim pada 31 Januari 2013 di KAJIAN UTAMA
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.685.142 kali


connect with ABATASA