0


DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM
Pada Sidang Dewan Hisbah II Pasca Muktamar XIII
Di PC Persis Banjaran, 03 Rabi`uts Tsani 1428 H
21 April 2007 M
بسم الله الرحمن الرحيم
Tentang :
"HUKUM JUM`AT BAGI MUSAFIR"
Dewan Hisbah Persatuan islam setelah :
MENGINGAT :
1. Firman Allah tentang wajib Jum`at
ياايها الذين امنوا ءاذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا ءالى ذكر الله وذروا البيع ذلكم خير لكم ءان كنتم تعلمون
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Q.S. Al-Jumu`ah : 9
2. Hadis Rasulullah saw. tentang golongan yang dikecualikan dari kewajiban Jum`at

عن طارق بن شهاب عن النبى ص قال الجمعة حق واجب على كل مسلم فى جماعة إلا أربعة عبد مملوك او امرأة أو صبي أو مريض
Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi saw. beliau bersabda, "Jum`at itu hak yang wajib bagi setiap muslim secara berjama`ah kecuali empat golongan; hamba sahaya, perempuan, anak-anak, dan yang sakit. H.R. Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 347
3. Hadis yang menerangkan bahwa pada saat wukuf yang jatuh pada hari Jum`at di Arafah Rasulullah saw. shalat zhuhur dijama` dengan ashar
فأجاز حتى أتى عرفة فوجد القبة قد ضربت له بنمرة فنزل بها حتى إذا زاغت الشمس أمر بالقصواء فرحلت له فأتى بطن الوادي فخطب الناس ثم أقام فصلى الظهر ثم أقام فصلى العصر ولم يصل بينهما شيئا ...
"... Selanjutna beliau berangkat hingga sampai di Arafah, maka beliau menemukan tenda yang telah dibangun untuknya di Namirah, kemudian beliau singgah di namirah, sehingga tatkala tergelincir matahari, beliau menyuruh dibawakan Qaswa (unta beliau), kemudian unta itu diserahkan padanya. Selanjutnya beliau sampai dilembah, terus beliau memberi hutbah pada manusia, kemudian dikumandangkan adzan selanjutnya iqamat, terus beliau shalat Dzuhur, kemudian iqamat, dan terus shalat Ashar, serta beliau tidak shalat apapun diantara kedua salat itu. H.R. Muslim, Shahih Muslim, II : 886
4. Hadis Ibnu Umar yang melaksanakan Jum`at ketika safar sebagai berikut :
عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ كَانَ إِذَا كَانَ بِمَكَّةَ فَصَلَّى الْجُمُعَةَ تَقَدَّمَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ تَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعًا وَإِذَا كَانَ بِالْمَدِينَةِ صَلَّى الْجُمُعَةَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى بَيْتِهِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَلَمْ يُصَلِّ فِي الْمَسْجِدِ فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَفْعَلُ ذَلِكَ
Dari Atha, dari Ibnu Umar, ia berkata, "Beliau (Ibnu Umar) berada di Mekah, lalu shalat Jum`at, (setelah selesai) ia melangkah ke depan untuk shalat sunat dua raka`at, kemudian melangkah kedepan untuk shalat sunat empat raka`at. Dan bila berada di Madinah ia shalat Jum`at, lalu kembali ke rumahna, maka salat dua rakaat dan tidak shalat dimasjid. Maka ditanyakan kepadanya, lalu ia berkata, "Rasulullah saw melakukan hal itu (salat sunat ba`da Jum`at di rumahnya)". H.R. Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 363
5. Hadis tentang Ibnu Umar ang tidak melaksanakan Jum`at ketika safar sebagai berikut :
عن نافع أن ابن عمر ض ذكرله أن سعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل وكان بدريا مرض فى يوم جمعة فركب إليه بعد أن تعالى النهار واقتربت الجمعة و ترك الجمعة
Dari Nafi` sesungguhnya Ibnu Umar diterangkan kepada beliau bahwa Sa`id bin Zaid bin Amr bin Nufel, dan ia orang Badar, sakit pada hari Jum`at. lalu Ibnu Umar berangkat untuk menengoknya menjelang siang, dan telah dekat waktu Jum`at, dan Ibnu Umar tidak melaksanakan Jum`at. H.R. Bukhari, Fathul Bari, VII : 360, No. 3991
MENDENGAR :
1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Shalehudin
2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis K.H.Drs. Shiddiq Amien, MBA
3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh K.H. Luthfi Abdullah Ismail,Lc
4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut diatas
MENIMBANG :
1. Keputusan Dewan Hisbah tahun 2001 yang beristinbath bahwa "Musafir tidak dikecualikan dari kewajiban Jum`at"
2. Hadis-hadis tentang empat golongan ang dikecualikan dari wajib jum`at adalah sahih
3. Hadis-hadis tentang musafir yang dikecualikan dari wajib Jum`at semuanya daif
4. Wukuf di Arafah terjadi pada hari Jum`at, 9 Dzulhijjah tahun 10 H dan Nabi melaksanakan salat zhuhur dan ashar dijama dan diqashar
5. Ada pemahaman wukuf Nabi di Arafah terjadi pada hari Sabtu, 10 Dzulhijjah tahun 10 H. Dengan demikian, pada hari Jum`at Nabi berada di Mina dan beliau melaksanakan salat zhuhur dan Ashar bukan salat Jum`at.
6. Ada pemahaman bahwa musafir tidak wajib jum`at karena tidak ditemukan keterangan Nabi saw salat Jum`at waktu safar termasuk waktu pelaksanaan haji.
7. Tidak ditemukan satu keteranganpun selama Nabi melakukan safar haji atau lainnya melakukan Jum`at.
8. Ditemukan keterangan bahwa Ibnu Umar salat Jum`at ketika safar di Mekah.
9. Ditemukan keterangan bahwa Ibnu Umar ketika menjenguk yang sakit di Badar tidak melaksanakan Jum`at.
10. Orang yang sedang melaksanakan ibadah haji adalah musafir.
11. Perlu dipertegas kembali tentang hukum jum`at bagi musafir
Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan islam
MENGISTINBATH :
1. Merevisi keputusan Dewan Hisbah tahun 2001 yang menetapkan bahwa "Musafir tidak dikecualikan dari kewajiban Jum`at"
2. Musafir boleh tidak melaksanakan Jum`at
3. Musafir yang tidak melaksanakan Jum`at wajib salat zhuhur.
Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.
الله ياءخذ باءيدينا الى ما فيه خير للاء سلام و المسلمين
Bandung, 03 R. Tsani 1428 H
21 A p r i l 2007 M
Ketua Sekretaris
ttd ttd
KH.Usman Shalehuddin KH.Wawan Shofwan Sh
NIAT : 05336 NIAT : 30400

Dikirim pada 30 Januari 2015 di KAJIAN UTAMA


E. Shalat Nafilah (Sunat) Bagi Musafir
Mengenai shalat sunat yang dilakukan oleh musafir (orang yang dalam perjalanan) maka ada perbedaan diantara ulama tentang hukum tersebut. Diantaranya :
1. Disyariatkan secara mutlaq
Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak mengapa dan tidak makruh shalat nafilah/ tathawwu’ bagi musafir yang mengqashar shalatnya, baik nafilah yang merupakan sunnah rawatib (qobliyah dan ba’diyah) maupun yang lainnya.
وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- : أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ اَلظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلْغَدَاةِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ
Dari `Aisyah Radliyallaahu`anha bahwa Nabi Shallallaahu `alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkan (sholat sunat) empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh. (Riwayat Bukhari)
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي التَّطَوُّعَ وَهْوَ رَاكِبٌ فِي غَيْرِ الْقِبْلَةِ‏
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu`aim berkata, telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Muhammad bin `Abdurrahman bahwa Jabir bin `Abdullah telah mengabarkan kepadanya bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam mendirikan shalat sunnat sambil mengendarai hewan tunggangannya dalam keadaan tidak menghadap qiblat (Shahih al-Bukhari 1094)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، أَنَّ عَامِرَ بْنَ رَبِيعَةَ، أَخْبَرَهُ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ، يُومِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ‏
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari `Uqail dari Ibnu Syihab dari `Abdullah bin `Amir bin Rabi`ah bahwa `Amir bin Rabi`ah mengabarkannya berkata: "Aku melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di atas hewan tunggangannya bertasbih dengan memberi isyarat dengan kepala beliau kearah mana saja hewan tunggangannya menghadap. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam tidak pernah melakukan seperti ini untuk shalat-shalat wajib (al-Bukhari 1097)
حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ، قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ‏
Telah menceritakan kepada kami Mu`adz bin Fadhalah berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Muhammad bin `Abdurrahman bin Tsauban berkata, telah menceritakan kepada saya Jabir bin `Abdullah, bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam mendirikan shalat diatas hewan tunggangannya menghadap ke Timur. Jika Beliau hendak melaksanakan shalat wajib, maka Beliau turun dan melaksanakannya dengan menghadap qiblat (Sahih al-Bukhari 1099)
حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ، قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، قَالَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ وَيُوتِرُ عَلَيْهَا، وَيُخْبِرُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَفْعَلُهُ‏
"...dari Nafi` berkata; Ibnu `Umar radliallahu `anhumaa pernah mengerjakan shalat diatas hewan tunggangannya dan juga shalat witir dan dia mengabarkan bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam mengerjakannya pula (Shahih Bukhary)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، قَالَ‏:‏ مَا أَخْبَرَنِي أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الضُّحَى إِلا أُمُّ هَانِئٍ، فَإِنَّهَا حَدَّثَتْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ فَسَبَّحَ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ مَا رَأَيْتُهُ صلى الله عليه وسلم، صَلَّى صَلاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ‏
"... Dari Abdurrahman bin Abi Laily berkata :Tidak ada yang memberi tahu saya bahwa bahwa ia telah melihat Nabi saw melakukan dhuha selain Ummi Haani. Dia menceritakan bahwa Rasulullah saw datang ke rumahnya di hari Makkah ditaklukkan. Beliau mandi, kemudian shalat delapan rakaat. Dan aku belum pernah melihat Rasulullah saw melakukan shalat-pun lebih ringan dari ini, meskipun dia melakukan setiap ruku` dan sujud dengan sempurna. (Sunan Abu Dawud)
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي سُبْحَتَهُ حَيْثُمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ نَاقَتُهُ
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat sunnah kemana pun untanya menghadap” (HR. Muslim 33).
Bahkan Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membuat judul “bab bolehnya shalat sunnah di atas binatang tunggangan dalam safar kemana pun binatang tersebut menghadap“.
أن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كان يوترُ على البعيرِ
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat witir di atas unta” (HR. Al Bukhari 999, Muslim 700).

2. Tidak Disyari`atkan Secara Mutlaq
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، أَنَّ حَفْصَ بْنَ عَاصِمٍ، حَدَّثَهُ قَالَ سَافَرَ ابْنُ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ فَقَالَ صَحِبْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ أَرَهُ يُسَبِّحُ فِي السَّفَرِ، وَقَالَ اللَّهُ جَلَّ ذِكْرُهُ ‏{‏لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ‏}‏‏.‏
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Wahb berkata, telah menceritakan kepada saya `Umar bin Muhammad bahwa Hafsh bin `Ashim menceritakan kepadanya berkata; " Ibnu `Umar radliallahu `anhumaa mengadakan perjalanan lalu berkata: "Aku pernah menemani Nabi shallallahu `alaihi wasallam dan aku tidak melihat Beliau melaksanakan shalat sunnah dalam safarnya". Dan Allah subhanahu wata`ala telah berfirman: "Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu"(QS. Ahzab 21). Shahih Bukhary

وَحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، سَمِعَ حَفْصَ بْنَ عَاصِمٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى صَلاَةَ الْمُسَافِرِ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ ثَمَانِيَ سِنِينَ أَوْ قَالَ سِتَّ سِنِينَ ‏.‏ قَالَ حَفْصٌ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُصَلِّي بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَأْتِي فِرَاشَهُ ‏.‏ فَقُلْتُ أَىْ عَمِّ لَوْ صَلَّيْتَ بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ ‏.‏ قَالَ لَوْ فَعَلْتُ لأَتْمَمْتُ الصَّلاَةَ
"... Dari Ibn Umara berkata : Nabi saw pernah shalat di Mina (yaitu) shalat musafir (qashar), (begitu juga) Abu Bakar, Umar, dan Usman melakukannya selama 8 tahun atau enam tahun. Berkata Hafs (perawi), "dan keadaan Ibnu Umar juga shalat di Mina dua rakaat kemudian kembali ke tempat istirahatnya. Maka Aku (Hafs) berkata kepadanya (Ibnu Umar), Hai paman, (saya berharap) engkau shalat dua rakaat sesudahnya. Ibnu Umar mengatakan : "Kalau aku melakukan shalat sunat sesudahnya, tentu aku melakukan shalat wajibnya sempurna (empat rakaat). Shahih Muslim 694
Ibnu al-Qayyim mengatakan : “Hal itu merupakan bentuk pemahaman Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma yang mendalam. Karena Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi telah memberikan keringanan kepada musafir untuk mengerjakan dua raka’at saja dari shalat empat raka’at. Seandainya disyari’atkan lagi dua raka’at sebelum dan sesudahnya, maka sepatutnya menyempurnakan shalat fardhu yang diqashar. Dan seandainya disyariatkan shalat sunnat sebelum dan sesudahnya maka yang lebih patut dikerjakan adalah menyempurnakan shalat fardhu (tidak mengqasharnya) (Zaadu al-Ma’aad I/316)

3. Tidak Disyari`atkan Sunnat Rawatib Kecuali Shubuh & Sunnat Yang Lain.

Shalat sunnat Rawâtib Subuh termasuk shalat sunnat yang paling ditekankan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya dan tidak meninggalkannya, baik saat bepergian ataupun tidak.
Di antara dalil yang menunjukkannya, yaitu hadits Abu Maryam yang berbunyi:
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَسْرَيْنَا لَيْلَةً فَلَمَّا كَانَ فِي وَجْهِ الصُّبْحِ نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَامَ وَنَامَ النَّاسُ فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا بِالشَّمْسِ قَدْ طَلَعَتْ عَلَيْنَا فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤَذِّنَ فَأَذَّنَ ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ

Kami dahulu pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, lalu kami berjalan saat malam hari. Ketika menjelang waktu Subuh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti dan tidur, dan orang-orang pun ikut tidur. Beliau tidak bangun kecuali matahari telah terbit. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan muadzin (untuk beradzan), lalu ia pun mengumandangkan adzan. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka`at sebelum shalat Subuh, kemudian memerintahkan sang muadzin beriqamah, lalu beliau mengimami orang-orang (shalat Subuh). (HR an-Nasâ-i, kitab al-Mawaqif, Bab: Kaifa Yaqdhi al-Fâit minash-Shalat, no. 605. Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan an-Nasâ-i. Syaikh berkata, "Shahîh dengan hadits Abu Hurairah ra)
Demikian juga Imam al-Bukhâri telah menyebutkan dalam Shahihnya (Kitab al-Jum`at) memuat secara khusus, yaitu :
بَاب مَنْ تَطَوَّعَ فِي السَّفَرِ فِي غَيْرِ دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَقَبْلَهَا وَرَكَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي السَّفَرِ

(Bab orang yang melakukan shalat tathawu` (sunnah) dalam perjalanan pada selain waktu sesudah dan sebelum shalat fardhu (Rawâtib), dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dua rakaat al-Fajr dalam safarnya (bepergiannya)

Ibnu al-Qayyim berkata,"Di antara petunjuk yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safarnya, yaitu (beliau) mencukupkan diri dengan melaksanakan shalat yang fardhu, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui melakukan shalat Sunnah Rawâtib sebelum dan sesudah shalat fardhu kecuali shalat witir dan Sunnah Rawâtib Subuh, karena beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat itu, baik saat muqîm (tidak sedang bepergian) maupun saat bepergian".(Zâdu al-Ma`ad 1/456)
Hal ini, juga sebagaimana pernyataan `Aisyah ra:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللّه عَنْهُمَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ. أخرجه الشيخان
Dari `Aisyah Radhiyallahu anhuma , ia berkata, "Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat Sunnah yang dilakukan secara terus-menerus melebihi dua rakaat (shalat Rawatib) Subuh".(HR al-Bukhari Muslim

reureuh heula...(bersambung)!

Dikirim pada 22 Januari 2015 di KAJIAN UTAMA


DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM
Pada Sidang Dewan Hisbah VI
Di PC Persis Lembang, 15 Sya`ban 1425 H
29 September 2004 M
Tentang :
"MENGEPALKAN TANGAN WAKTU BANGKIT DARI SUJUD UNTUK BERDIRI"
Bismillahirrahmanirrahim

Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah :
MENGINGAT :
1. Hadits-hadits tentang bangkit dari sujud, antara lain
Dari Wail bin Hujr, ia berkata : "Saya melihat Nabi saw bila sujud, beliau menempatkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan bila bangkit beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya (tidak seperti unta). HR.Ahmad, An-Nasa`i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah
2. Hadits-hadits khusus tentang bangkit dari duduk karena udzur
a) Menekankan tangan pada tanah
Dari Abi Qilabah, ia berkata, "Malik bin al-Huwairits datang kepada kami ketika kami berada dimasjid. Lalu ia berkata, "Sesungguhnya aku akan shalat, dan saya tidak bermaksud shalat, tapi saya akan mengajar shalat sebagaimana aku melihat Rasulullah saw shalat. Ayub berkata, "Maka aku bertanya kepada Abu Qilabah, bagaimana kaifiyat shalatnya? Ia berkata, "Seperti kaifiyat syeikh kita ini, yakni Amr bin Salamah", Ayub berkata, "Dan syeikh itu menyempurnakan takbir, dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud kedua, beliau duduk dan menekankan tangannya pada tanah, kemudian berdiri". HR.Al-Bukhary
b) Menekankan tangan pada paha
Dari Wail bin Hujr, ia berkata, "Saya melihat Nabi saw bila sujud beliau menempatkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan bila bangkit beliau bangkit atas kedua lututnya dan menekankan pada pahanya. HR.Abu Dawud
3. Hadits-hadits tentang mengepalkan tangan ketika bangkit dari duduk istirahat
Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah saw apabila berdiri (bangkit) pada shalatnya, beliau menempatkan tangannya pada lantai sebagaimana AL-`AJIN menempatkan tangannya. Talkhisul Habir 1:423 No.hadits 392
Dari Al-Azraq, saya melihat Abdullah bin Umar ber-`ajan ketika shalat, yaitu bertopang dengan kedua tangannya apabila berdiri sebagaimana yang dilakukan `ajin ketika ber-`ajan. HR.At-Thabrani, al-Mu`jamu al-Ausath, III;210, V:16 No hadits 4019
MENDENGAR :
1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.A.Syuhada
2. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh KH.Abdurrahman Ks dan KH.Aceng Zakaria
3. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah tentang maslah tersebut diatas
MENIMBANG :
1. Perlu adanya kejelasan tentang kedudukan mengepalkan tangan ketika bangkit dari sujud
2. Bangkit dari sujud dengan cara mengepalkan tangan sambil menekankan tangan itu ketanah hadits-haditsnya dhaif
MENGISTINBAT :
Bangkit dari sujud dengan cara mengepalkan tangan sambil menekankan tangan itu ke tanah tidak disyari`atkan.
Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.
Allohu ya`khudzu biaidina ila maa fihi khairun lil-islami wal-muslimin
Bandung, 15 Sya`ban 1425 H
29 September 2009 M
DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM
Ketua Sekretaris
ttd ttd
KH. AKHYAR SYUHADA DR.HM.ABDURRAHMAN MA
NIAT : 1632 NIAT : 7070

Dikirim pada 18 Januari 2015 di KAJIAN UTAMA



DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM
Pada Sidang Dewan Hisbah VIII - 2009
Di PC Persis Soreang, 02 Agustus 2009 M

Tentang :
"HUKUM WALI DALAM PERNIKAHAN"

Bismillahirrahmanirrahim

Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah :

MENGINGAT :
Hadits-hadits yang mensyaratkan wali dalam pernikahan



وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلاَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللهُ يَدْعُوا إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu`min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu`min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu`min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan idzin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. QS.Albaqarah : 221

Dari Abu Burdah dari Abu Musa ra, dari Nabi saw bahwasannya beliau bersabda, "Tidak ada pernikahan tanpa wali" (HR.Al-Arba`ah dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Madini, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dan ia menyatakan cacat disebabkan irsalnya. Subulus salam III : 117)

Dari Aisyah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Siapapun perempuan yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal. Jika pasangannya itu menyetubuhinya, maka milik perempuan mahar itu disebabkan menyetubuhinya. Dan jika berselisih, maka sulton (penguasa) merupakan wali bagi yang tidak punya wali. (HR.Al-Arba`ah kecuali Nasa`i. Dinyatakan shahih oleh Abu Awanah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim Subulus Salam III : 117)

Hadits-hadits yang menyatakan sahnya pernikahan tanpa wali :

Dari Abdullah bin Buraidah dari Aisyah, ia berkata : Seorang pemudi datang kepada Rasulullah saw, ia berkata "wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku menikahkan saya kepada anak saudaranya, ia menghilangkan kehinaannya dengan menikahiku. Maka jadikanlah urusan itu kepada pemudi itu. Ia berkata Sungguh aku telah bayar apa yang diperbuat bapak saya. Tetapi saya ingin agar perempuan tahu bagi para bapak tidak ada hak memaksa sedikitpun. (HR.Ibnu Majah, 1 : 602)

Dari Ibnu Abbas bahwasannya seorang gadis datang kepada Nabi saw, lalu menerangkan bahwa bapaknya menikahkan dirinya padahal ia tidak suka. Maka Nabi saw memberikannya pilihan. (HR.Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan dinyatakan cacat karena ke-mursal-annya)

Dari Sahl bin Saad As-Saidi bahwasannya Rasulullah didatangi oleh seorang perempuan. Ia berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya hibahkan diri saya kepada Anda. maka Rasulullah saw berdiri cukup lama. Maka berdirilah seseorang seraya berkata, Wahai Rasulullah, nikahkanlah ia kepada saya, jika tuan tidak menghendakinya .... beliau bersabda, "Aku telah nikahkan kamu dengan yang kamu hafal dari AlQuran".(HR.Ahmad dan Bukhary)

Dari Umu Salamah bahwasannya Rasulullah saw melamar Umu Salamah, ia berkata, Wahai Rasulullah, bahwasannya tidak ada seorangpun yang menjadi waliku, yakni saksi, maka Rasulullah saw bersabda, bahwasannya tidak ada seorangpun saksi hadir atau tidak hadir yang menolak itu. (Musnad Ahmad VI : 317)

MENDENGAR :
1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin
2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis KH.Drs.Shiddiq Amien MBA
3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh KH.Aceng Zakaria
4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut diatas

MENIMBANG :
1. Perlu kejelasan dan ketegasan status hukum tentang kedudukan wali dalam pernikahan
2. Munculnya banyak fenomena pernikahan ditengah masyarakat yang tidak jelas status walinya
3. Beberapa hadits dan pendapat ulama tentang kedudukan wali dalam pernikahan
4. Wali memiliki dua pengertian, yaitu wali pemegang ijab dan wali dalam kaitan nasab

Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBAT :

1. Laki-laki dan perempuan haram menikahkan dirinya sendiri
2. Wali (pelaku ijab) dalam nikah termasuk rukun
3. Meminta izin kepada wali (orang tua) sebagai birrul walidain hukumnya wajib


Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut.

Allohu ya`khudzu biayidina ila maa fihi khairun lil islam wal muslimin

Bandung, 11 Sya`ban 1430 H / 02 Agustus 2009
DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Ketua Sekretaris

ttd ttd

KH.USMAN SHOLEHUDDIN KH.WAWAN SHOFWAN
NIAT : 05536 NIAT : 30400

Dikirim pada 10 Januari 2015 di KAJIAN UTAMA
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.790.742 kali


connect with ABATASA