0




Tanya : Assalamu’alaikum … pak ustadz, banyak dari para mubaligh yang menerangkan keutamaan puasa sunat yaitu enam hari dibulan syawal. Tapi begini ustadz, saya mempunyai hutang puasa yang mesti saya qodha karena halangan yang ada pada perempuan. Terus apakah saya mesti mengqadha puasa ramadhan dahulu atau puasa syawal dahulu. Wassalam IKH

Jawab : Wa’alaikumussalam … jika ibu ada tunggakan hutang shaum ramadhan, maka tentu ibu belum sepenuhnya melaksanakan shaum ramadhan tersebut. Padahal shaum enam hari dibulan syawal itu tidak berdiri sendiri, akan tetapi dikaitkan dengan kewajiban shaum di bulan ramadhan. Hal inilah yang sering kurang cermat dalam memaknai hadits. Bahkan sering kita mendengar bahwa “shaum sunat enam hari dibulan syawal sama dengan shaum kita setahun”, ini keliru. Coba perhatikan haditsnya :

عن أبى أيوب الأنصارى - رضى الله عنه - أنه حدثه أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال « من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر ». مسلم (7/334)

Dari Abi Ayyub al-Anshary radhiyallahu anhu sesungguhnya beliau memberitakan bahwasannya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, Siapa yang puasa ramadhan lalu diikuti dengan enam hari (puasa) dibulan syawal, maka keadaannya seolah sudah berpuasa setahun (HR.Muslim)

Ini menurut hemat kami bahwa shaum enam hari dibulan syawal itu merupakan pelengkap jika ingin pahalanya seperti shaum setahun. Kalaupun tidak sempat puasa syawal karena mengqadha ramadhan, maka keutamaan sepuluh bulan sudah diraih. Intinya shaum sebulan itu sama dengan sepuluh bulan, dan shaum sunat 6 hari dibulan syawal sama dengan 60 hari (2 bulan). Jadi jika shaum ramadhan masih berhutang, maka tentu kita belum sepenuhnya melaksanakan shaum dibulan ramadhan, karena hutangnya belum dibayar. Allohu A`lam



Dikirim pada 30 Juni 2015 di Bab. Shaum


Tanya : Assalamu`alaikum warahmattullahi wa barakatuh ... ustadz Abu Alifa tolong perinciannya mengenai hal yang berkaitan selesai adzan atau kita mendengar adzan! Syukran ...!

Jawab : Wa`alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh ... Akhi Muhlis, ada beberapa anjuran yang dikaitkan dengan syariat adzan.

Pertama, ketika kita mendengar adzan yaitu mengikuti lafadz yang dikumandangkan oleh muadzin (yang adzan) kecuali lafadz "hayya `alas-shalah" dan "hayya `alal-falah". hal ini disebutkan dalam keterangan.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ‏"‏‏.‏

"...dari Abu Sa`id Al Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu`adzin (yang adzan)." (HR.Bukhary)

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، أَخْبَرَنَا أَبُو جَعْفَرٍ، مُحَمَّدُ بْنُ جَهْضَمٍ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسَافٍ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏.‏ فَقَالَ أَحَدُكُمُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ‏.‏ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ‏.‏ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ ‏.‏ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ ‏.‏ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏.‏ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ‏.‏ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ‏.‏ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ‏"‏

"... Jika muadzin mengucapkan Allahu Akbar, kemudian salah seorang diantaramu mengucapkan Allahu Akbar. Kemudian (muadzin) mengucapkan Asyhadu aan-laa ilaha illallah, lalu seorang itu mengucapkan asyhadu...", kemudian muazin mengucapkan Asyhadu anna muhammadan..." lalu seorang itu mengucapkan Asyahu anna muhammadan.... Kemudian muadzin mengucapkan Hayya alas-shalah, lalu salah seorang mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kemudian (saat) muadzin mengucapkan Hayya alal-falah, lalu seorang itu mengucapkan Laa haula walaa quwwata illa billah, Kemudian muadzin mengucapkan Allahu Akbar dan ia juga mengucapkan Allahu Akbar. Kemudian muadzin mengucapkan Laa ilaha illallah, ia juga mengucapkan Laa ilaha illallah dari dalam lubuk hatinya maka ia kan masuk surga (HR.Muslim)

Kedua, selesai adzan baik muadzin atau yang mendengar. Dalam hal ini ada beberapa ketentuan dan anjuran, diantaranya :

1. Bershalawat

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، عَنْ حَيْوَةَ، وَسَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ، وَغَيْرِهِمَا، عَنْ كَعْبِ بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ ‏"‏

"..Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, sesungguhnya ia penah mendengar Nabi saw bersabda : Jika kalian mendengar muadzin (adzan) maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan (muadzin), kemudian bershalawatlah atasku, sebab siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat (memberikan rahamat) padanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah untukku "al-washilah". Sesungguhnya (washilah) itu merupakan tempat (yang tinggi) didalam surge, yang tidak pantas (ditempati) kecuali bagi hamba dari yang dekat dengan Allah dan aku berharap Akulah yang akan menempatinya. Siapa yang memohon washilah untukku, ia akan mendapat syafaatku (HR.Muslim)

2. Membaca Do`a Washilah. Yaitu do`a yang diajarkan Nabi saw. Yang dimaksud doa`a washilah adalah :

عن جابرِ بنِ عبدِ اللهِ رضي الله عنه قال: قال رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّمَ: ((مَن قال حِينَ يَسمعُ النِّداءَ: اللهمَّ ربَّ هذه الدعوةِ التامَّةِ، والصَّلاةِ القائمةِ، آتِ محمدًا الوسيلةَ والفضيلةَ، وابعثْه مقامًا محمودًا الذي وعدتَه، حلَّتْ له شَفاعتي يومَ القيامةِ)

"... Siapa yang mendengar adzan lalu mengucapkan "Allahumma rabba hadzihid-da`watit-tammah, was-shalatil-qaimah. Aati Mumammadani-washilata wal-fadhilah, wab`atshu maqamam-mahmudanil-ladzi wa `adtah".. ia akan menempati syafaatku dihari kiamah" (HR.Muslim)

3. Membaca do`a yaitu :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ، أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ، عَنِ الْحُكَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ الْقُرَشِيِّ، ح وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنِ الْحُكَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ ‏"‏ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا ‏.‏ غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ ‏"‏

"...Dari Sa`ad bin Abi Waqash. Dari Rasulullah saw ia bersabda : Siapa yang mengucapkan saat mendengar adzan "Asyhadu anlaa ilaaha illa-llh wahdahu laa syarikalah wa anna muhammadan abduhu wa rasuluh radhitu billahi rabban wabimuhammadin rasulan wa bil--islami diinan", maka diampuni baginya dosa (HR.Muslim)

4. Memperbanyak do`a

عن أنسِ بنِ مالكٍ، رضي الله عنه قال: قال رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّمَ: ((الدُّعاءُ لا يُرَدُّ بين الأذانِ والإقامةِ؛ فادْعوا)

Dari Anas bin Malik ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. Do`a tidak akan tertolak antara adzan dan iqamah, maka berdo`alah kalian (diwaktu itu). (HR.Abu Ya`la, Tirmidzi, Nasa`i)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، أَنَّ رَجُلًا ، قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا ، فَقَالَ : رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ )

Dari Abdullah bin Amr. Sesungguhnya seseorang telah berkata, wahai Rasulullah sesungguhnya muadzinin (orang2 yg suka adzan) semuanya merupakan yang mendapat keutamaan besar diantara kami. Maka Rasulullah saw bersabda "Ucapkanlah sebagaimana yang muadzinin (orang2 adzan) ucapkan, jika sudah selesai, mintalah (berdo`alah)! pasti akan diberikan (HR.Abu Dawud)

Itulah diantara anjuran yang dikaitkan dengan syari`at adzan. Allohu A`lam





Dikirim pada 17 Juni 2015 di Bab. Adzan dan Iqomah
Awal « 1 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.839.229 kali


connect with ABATASA