0


DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah II Pasca Muktamar XIII

Di PC Persis Banjaran, 03 Rabi`uts Tsani 1428 H

21 April 2007 M

بسم الله الرحمن الرحيم

Tentang :

"HUKUM JUM`AT BAGI MUSAFIR"

Dewan Hisbah Persatuan islam setelah :

MENGINGAT :

1. Firman Allah tentang wajib Jum`at

ياايها الذين امنوا ءاذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا ءالى ذكر الله وذروا البيع ذلكم خير لكم ءان كنتم تعلمون

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Q.S. Al-Jumu`ah : 9

2. Hadis Rasulullah saw. tentang golongan yang dikecualikan dari kewajiban Jum`at


عن طارق بن شهاب عن النبى ص قال الجمعة حق واجب على كل مسلم فى جماعة إلا أربعة عبد مملوك او امرأة أو صبي أو مريض

Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi saw. beliau bersabda, "Jum`at itu hak yang wajib bagi setiap muslim secara berjama`ah kecuali empat golongan; hamba sahaya, perempuan, anak-anak, dan yang sakit. H.R. Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 347

3. Hadis yang menerangkan bahwa pada saat wukuf yang jatuh pada hari Jum`at di Arafah Rasulullah saw. shalat zhuhur dijama` dengan ashar

فأجاز حتى أتى عرفة فوجد القبة قد ضربت له بنمرة فنزل بها حتى إذا زاغت الشمس أمر بالقصواء فرحلت له فأتى بطن الوادي فخطب الناس ثم أقام فصلى الظهر ثم أقام فصلى العصر ولم يصل بينهما شيئا ...

"... Selanjutna beliau berangkat hingga sampai di Arafah, maka beliau menemukan tenda yang telah dibangun untuknya di Namirah, kemudian beliau singgah di namirah, sehingga tatkala tergelincir matahari, beliau menyuruh dibawakan Qaswa (unta beliau), kemudian unta itu diserahkan padanya. Selanjutnya beliau sampai dilembah, terus beliau memberi hutbah pada manusia, kemudian dikumandangkan adzan selanjutnya iqamat, terus beliau shalat Dzuhur, kemudian iqamat, dan terus shalat Ashar, serta beliau tidak shalat apapun diantara kedua salat itu. H.R. Muslim, Shahih Muslim, II : 886

4. Hadis Ibnu Umar yang melaksanakan Jum`at ketika safar sebagai berikut :

عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ كَانَ إِذَا كَانَ بِمَكَّةَ فَصَلَّى الْجُمُعَةَ تَقَدَّمَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ تَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعًا وَإِذَا كَانَ بِالْمَدِينَةِ صَلَّى الْجُمُعَةَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى بَيْتِهِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَلَمْ يُصَلِّ فِي الْمَسْجِدِ فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَفْعَلُ ذَلِكَ

Dari Atha, dari Ibnu Umar, ia berkata, "Beliau (Ibnu Umar) berada di Mekah, lalu shalat Jum`at, (setelah selesai) ia melangkah ke depan untuk shalat sunat dua raka`at, kemudian melangkah kedepan untuk shalat sunat empat raka`at. Dan bila berada di Madinah ia shalat Jum`at, lalu kembali ke rumahna, maka salat dua rakaat dan tidak shalat dimasjid. Maka ditanyakan kepadanya, lalu ia berkata, "Rasulullah saw melakukan hal itu (salat sunat ba`da Jum`at di rumahnya)". H.R. Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 363

5. Hadis tentang Ibnu Umar ang tidak melaksanakan Jum`at ketika safar sebagai berikut :

عن نافع أن ابن عمر ض ذكرله أن سعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل وكان بدريا مرض فى يوم جمعة فركب إليه بعد أن تعالى النهار واقتربت الجمعة و ترك الجمعة

Dari Nafi` sesungguhnya Ibnu Umar diterangkan kepada beliau bahwa Sa`id bin Zaid bin Amr bin Nufel, dan ia orang Badar, sakit pada hari Jum`at. lalu Ibnu Umar berangkat untuk menengoknya menjelang siang, dan telah dekat waktu Jum`at, dan Ibnu Umar tidak melaksanakan Jum`at. H.R. Bukhari, Fathul Bari, VII : 360, No. 3991

MENDENGAR :

1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Shalehudin

2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis K.H.Drs. Shiddiq Amien, MBA

3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh K.H. Luthfi Abdullah Ismail,Lc

4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut diatas

MENIMBANG :

1. Keputusan Dewan Hisbah tahun 2001 yang beristinbath bahwa "Musafir tidak dikecualikan dari kewajiban Jum`at"

2. Hadis-hadis tentang empat golongan ang dikecualikan dari wajib jum`at adalah sahih

3. Hadis-hadis tentang musafir yang dikecualikan dari wajib Jum`at semuanya daif

4. Wukuf di Arafah terjadi pada hari Jum`at, 9 Dzulhijjah tahun 10 H dan Nabi melaksanakan salat zhuhur dan ashar dijama dan diqashar

5. Ada pemahaman wukuf Nabi di Arafah terjadi pada hari Sabtu, 10 Dzulhijjah tahun 10 H. Dengan demikian, pada hari Jum`at Nabi berada di Mina dan beliau melaksanakan salat zhuhur dan Ashar bukan salat Jum`at.

6. Ada pemahaman bahwa musafir tidak wajib jum`at karena tidak ditemukan keterangan Nabi saw salat Jum`at waktu safar termasuk waktu pelaksanaan haji.

7. Tidak ditemukan satu keteranganpun selama Nabi melakukan safar haji atau lainnya melakukan Jum`at.

8. Ditemukan keterangan bahwa Ibnu Umar salat Jum`at ketika safar di Mekah.

9. Ditemukan keterangan bahwa Ibnu Umar ketika menjenguk yang sakit di Badar tidak melaksanakan Jum`at.

10. Orang yang sedang melaksanakan ibadah haji adalah musafir.

11. Perlu dipertegas kembali tentang hukum jum`at bagi musafir

Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan islam

MENGISTINBATH :

1. Merevisi keputusan Dewan Hisbah tahun 2001 yang menetapkan bahwa "Musafir tidak dikecualikan dari kewajiban Jum`at"

2. Musafir boleh tidak melaksanakan Jum`at

3. Musafir yang tidak melaksanakan Jum`at wajib salat zhuhur.

Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله ياءخذ باءيدينا الى ما فيه خير للاء سلام و المسلمين

Bandung, 03 R. Tsani 1428 H

21 A p r i l 2007 M

Ketua Sekretaris

ttd ttd

KH.Usman Shalehuddin KH.Wawan Shofwan Sh

NIAT : 05336 NIAT : 30400

Dikirim pada 30 Januari 2015 di KAJIAN UTAMA


E. Shalat Nafilah (Sunat) Bagi Musafir

Mengenai shalat sunat yang dilakukan oleh musafir (orang yang dalam perjalanan) maka ada perbedaan diantara ulama tentang hukum tersebut. Diantaranya :

1. Disyariatkan secara mutlaq

Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak mengapa dan tidak makruh shalat nafilah/ tathawwu’ bagi musafir yang mengqashar shalatnya, baik nafilah yang merupakan sunnah rawatib (qobliyah dan ba’diyah) maupun yang lainnya.

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- : أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ اَلظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلْغَدَاةِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari `Aisyah Radliyallaahu`anha bahwa Nabi Shallallaahu `alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkan (sholat sunat) empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh. (Riwayat Bukhari)

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي التَّطَوُّعَ وَهْوَ رَاكِبٌ فِي غَيْرِ الْقِبْلَةِ‏

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu`aim berkata, telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Muhammad bin `Abdurrahman bahwa Jabir bin `Abdullah telah mengabarkan kepadanya bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam mendirikan shalat sunnat sambil mengendarai hewan tunggangannya dalam keadaan tidak menghadap qiblat (Shahih al-Bukhari 1094)



حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، أَنَّ عَامِرَ بْنَ رَبِيعَةَ، أَخْبَرَهُ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ، يُومِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ‏

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari `Uqail dari Ibnu Syihab dari `Abdullah bin `Amir bin Rabi`ah bahwa `Amir bin Rabi`ah mengabarkannya berkata: "Aku melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di atas hewan tunggangannya bertasbih dengan memberi isyarat dengan kepala beliau kearah mana saja hewan tunggangannya menghadap. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam tidak pernah melakukan seperti ini untuk shalat-shalat wajib (al-Bukhari 1097)

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ، قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ‏

Telah menceritakan kepada kami Mu`adz bin Fadhalah berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Muhammad bin `Abdurrahman bin Tsauban berkata, telah menceritakan kepada saya Jabir bin `Abdullah, bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam mendirikan shalat diatas hewan tunggangannya menghadap ke Timur. Jika Beliau hendak melaksanakan shalat wajib, maka Beliau turun dan melaksanakannya dengan menghadap qiblat (Sahih al-Bukhari 1099)

حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ، قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، قَالَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ وَيُوتِرُ عَلَيْهَا، وَيُخْبِرُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَفْعَلُهُ‏

"...dari Nafi` berkata; Ibnu `Umar radliallahu `anhumaa pernah mengerjakan shalat diatas hewan tunggangannya dan juga shalat witir dan dia mengabarkan bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam mengerjakannya pula (Shahih Bukhary)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، قَالَ‏:‏ مَا أَخْبَرَنِي أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الضُّحَى إِلا أُمُّ هَانِئٍ، فَإِنَّهَا حَدَّثَتْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ فَسَبَّحَ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ مَا رَأَيْتُهُ صلى الله عليه وسلم، صَلَّى صَلاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ‏

"... Dari Abdurrahman bin Abi Laily berkata :Tidak ada yang memberi tahu saya bahwa bahwa ia telah melihat Nabi saw melakukan dhuha selain Ummi Haani. Dia menceritakan bahwa Rasulullah saw datang ke rumahnya di hari Makkah ditaklukkan. Beliau mandi, kemudian shalat delapan rakaat. Dan aku belum pernah melihat Rasulullah saw melakukan shalat-pun lebih ringan dari ini, meskipun dia melakukan setiap ruku` dan sujud dengan sempurna. (Sunan Abu Dawud)

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي سُبْحَتَهُ حَيْثُمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ نَاقَتُهُ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat sunnah kemana pun untanya menghadap” (HR. Muslim 33).

Bahkan Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membuat judul “bab bolehnya shalat sunnah di atas binatang tunggangan dalam safar kemana pun binatang tersebut menghadap“.

أن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كان يوترُ على البعيرِ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat witir di atas unta” (HR. Al Bukhari 999, Muslim 700).



2. Tidak Disyari`atkan Secara Mutlaq

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، أَنَّ حَفْصَ بْنَ عَاصِمٍ، حَدَّثَهُ قَالَ سَافَرَ ابْنُ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ فَقَالَ صَحِبْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ أَرَهُ يُسَبِّحُ فِي السَّفَرِ، وَقَالَ اللَّهُ جَلَّ ذِكْرُهُ ‏{‏لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ‏}‏‏.‏

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Wahb berkata, telah menceritakan kepada saya `Umar bin Muhammad bahwa Hafsh bin `Ashim menceritakan kepadanya berkata; " Ibnu `Umar radliallahu `anhumaa mengadakan perjalanan lalu berkata: "Aku pernah menemani Nabi shallallahu `alaihi wasallam dan aku tidak melihat Beliau melaksanakan shalat sunnah dalam safarnya". Dan Allah subhanahu wata`ala telah berfirman: "Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu"(QS. Ahzab 21). Shahih Bukhary



وَحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، سَمِعَ حَفْصَ بْنَ عَاصِمٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى صَلاَةَ الْمُسَافِرِ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ ثَمَانِيَ سِنِينَ أَوْ قَالَ سِتَّ سِنِينَ ‏.‏ قَالَ حَفْصٌ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُصَلِّي بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَأْتِي فِرَاشَهُ ‏.‏ فَقُلْتُ أَىْ عَمِّ لَوْ صَلَّيْتَ بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ ‏.‏ قَالَ لَوْ فَعَلْتُ لأَتْمَمْتُ الصَّلاَةَ

"... Dari Ibn Umara berkata : Nabi saw pernah shalat di Mina (yaitu) shalat musafir (qashar), (begitu juga) Abu Bakar, Umar, dan Usman melakukannya selama 8 tahun atau enam tahun. Berkata Hafs (perawi), "dan keadaan Ibnu Umar juga shalat di Mina dua rakaat kemudian kembali ke tempat istirahatnya. Maka Aku (Hafs) berkata kepadanya (Ibnu Umar), Hai paman, (saya berharap) engkau shalat dua rakaat sesudahnya. Ibnu Umar mengatakan : "Kalau aku melakukan shalat sunat sesudahnya, tentu aku melakukan shalat wajibnya sempurna (empat rakaat). Shahih Muslim 694

Ibnu al-Qayyim mengatakan : “Hal itu merupakan bentuk pemahaman Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma yang mendalam. Karena Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi telah memberikan keringanan kepada musafir untuk mengerjakan dua raka’at saja dari shalat empat raka’at. Seandainya disyari’atkan lagi dua raka’at sebelum dan sesudahnya, maka sepatutnya menyempurnakan shalat fardhu yang diqashar. Dan seandainya disyariatkan shalat sunnat sebelum dan sesudahnya maka yang lebih patut dikerjakan adalah menyempurnakan shalat fardhu (tidak mengqasharnya) (Zaadu al-Ma’aad I/316)


3. Tidak Disyari`atkan Sunnat Rawatib Kecuali Shubuh & Sunnat Yang Lain.


Shalat sunnat Rawâtib Subuh termasuk shalat sunnat yang paling ditekankan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya dan tidak meninggalkannya, baik saat bepergian ataupun tidak.

Di antara dalil yang menunjukkannya, yaitu hadits Abu Maryam yang berbunyi:

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَسْرَيْنَا لَيْلَةً فَلَمَّا كَانَ فِي وَجْهِ الصُّبْحِ نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَامَ وَنَامَ النَّاسُ فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا بِالشَّمْسِ قَدْ طَلَعَتْ عَلَيْنَا فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤَذِّنَ فَأَذَّنَ ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ


Kami dahulu pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, lalu kami berjalan saat malam hari. Ketika menjelang waktu Subuh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti dan tidur, dan orang-orang pun ikut tidur. Beliau tidak bangun kecuali matahari telah terbit. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan muadzin (untuk beradzan), lalu ia pun mengumandangkan adzan. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka`at sebelum shalat Subuh, kemudian memerintahkan sang muadzin beriqamah, lalu beliau mengimami orang-orang (shalat Subuh). (HR an-Nasâ-i, kitab al-Mawaqif, Bab: Kaifa Yaqdhi al-Fâit minash-Shalat, no. 605. Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan an-Nasâ-i. Syaikh berkata, "Shahîh dengan hadits Abu Hurairah ra)

Demikian juga Imam al-Bukhâri telah menyebutkan dalam Shahihnya (Kitab al-Jum`at) memuat secara khusus, yaitu :

بَاب مَنْ تَطَوَّعَ فِي السَّفَرِ فِي غَيْرِ دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَقَبْلَهَا وَرَكَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي السَّفَرِ


(Bab orang yang melakukan shalat tathawu` (sunnah) dalam perjalanan pada selain waktu sesudah dan sebelum shalat fardhu (Rawâtib), dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dua rakaat al-Fajr dalam safarnya (bepergiannya)


Ibnu al-Qayyim berkata,"Di antara petunjuk yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safarnya, yaitu (beliau) mencukupkan diri dengan melaksanakan shalat yang fardhu, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui melakukan shalat Sunnah Rawâtib sebelum dan sesudah shalat fardhu kecuali shalat witir dan Sunnah Rawâtib Subuh, karena beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat itu, baik saat muqîm (tidak sedang bepergian) maupun saat bepergian".(Zâdu al-Ma`ad 1/456)

Hal ini, juga sebagaimana pernyataan `Aisyah ra:


عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللّه عَنْهُمَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ. أخرجه الشيخان

Dari `Aisyah Radhiyallahu anhuma , ia berkata, "Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat Sunnah yang dilakukan secara terus-menerus melebihi dua rakaat (shalat Rawatib) Subuh".(HR al-Bukhari Muslim



reureuh heula...(bersambung)!

Dikirim pada 22 Januari 2015 di KAJIAN UTAMA


D. "Hisbah" Para Shahabat Tentang Qashar

1. IBNU ABBAS RA

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، وَحُصَيْنٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ أَقَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم تِسْعَةَ عَشَرَ يَقْصُرُ، فَنَحْنُ إِذَا سَافَرْنَا تِسْعَةَ عَشَرَ قَصَرْنَا، وَإِنْ زِدْنَا أَتْمَمْنَا‏



Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma`il berkata, telah menceritakan kepada kami Abu `Awanah dari `Ashim dari Hushain dari `Ikrimah dari Ibnu `Abbas radliallahu `anhuma berkata: "Nabi shallallahu `alaihi wasallam pernah menetap (dalam bepergian) selama sembilan belas hari dengan mengqashar (meringkas) shalat. Maka kami bila bepergian selama sembilan belas hari mengqashar solat. Bila lebih dari itu, kami menyempurnakan shalat. (Shahih Bukhary "Kitabu al-Taqshir")

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَابْنُ، بَشَّارٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ مُوسَى بْنِ سَلَمَةَ الْهُذَلِيِّ، قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ أُصَلِّي إِذَا كُنْتُ بِمَكَّةَ إِذَا لَمْ أُصَلِّ مَعَ الإِمَامِ ‏.‏ فَقَالَ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ أَبِي الْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم

"...Aku (Musa bin Salamah) pernah bertana kepada Ibnu Abbas, bagaimana kaifiyat (jika) aku shalat di Makkah jika tidak berjamaah (dengan penduduk/Imam Makkah)? Beliau (Ibn Abbas) menjawab : (Shalatlah) dua rakaat, sebab itu merupakan sunnah Abi Qasim (Nabi) saw. (Shahih Muslim bab Shalat Musafirin wa Qashriha)

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ سَافَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَفَرًا فَصَلَّى تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنٍ ‏.‏ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَنَحْنُ نُصَلِّي فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ تِسْعَ عَشْرَةَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فَإِذَا أَقَمْنَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا

"...Dari Ibnu Abbas ra, berkata. Rasululllah saw telah berangkat dalam satu bepergian, maka beliau shalat (tidak hentinya) dua rakaat-dua rakaat selama 19 hari. Berkata (berpendapat) Ibnu Abbas , "Maka kami jika shalat (dalam safar) sampai 19 hari, kami shalat dua rakaat-dua rakaat, tapi lebih dari itu, maka (selebihnya) kami shalat 4 rakaat (Jami` at-Tirmidhi 548)

2. IBNU UMAR RA



أَخْبَرَنِي أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا الْعَلاَءُ بْنُ زُهَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا وَبَرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُصَلِّي قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا ‏.‏ فَقِيلَ لَهُ مَا هَذَا قَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ

Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Yahya dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Nu`aim dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al `Ala bin Zuhair dia berkata; telah menceritakan kepada kami Wabarah bin `Abdurrahman dia berkata; "Shalat Ibnu Umar dalam Safar (perjalanan) tidak pernah melebihi dua raka`at, dan dia tidak mengerjakan shalat sunnah sesudah maupun sebelumnya. Lalu Ibnu Umar ditanya, "Apa ini? ` Ia menjawab; `Begitulah, aku melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam melakukannya (Sunan An-Nasa`i 1456)

أَخْبَرَنِي نُوحُ بْنُ حَبِيبٍ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ، كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ فِي سَفَرٍ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى طِنْفِسَةٍ لَهُ فَرَأَى قَوْمًا يُسَبِّحُونَ قَالَ مَا يَصْنَعُ هَؤُلاَءِ قُلْتُ يُسَبِّحُونَ ‏.‏ قَالَ لَوْ كُنْتُ مُصَلِّيًا قَبْلَهَا أَوْ بَعْدَهَا لأَتْمَمْتُهَا صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى الرَّكْعَتَيْنِ وَأَبَا بَكْرٍ حَتَّى قُبِضَ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ - رضى الله عنهم - كَذَلِكَ

Telah mengabarkan kepadaku Nuh bin Habib dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa`id dia berkata; telah menceritakan kepada kami `Isa bin Hafsh bin `Ashim dia berkata; bapakku telah menceritakan kepadaku, dia berkata; "Aku pernah bersama Ibnu Umar dalam suatu perjalanan. Dia mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar dua raka`at, kemudian pergi ke tikarnya. Setelah itu ia melihat suatu kaum yang sedang bertasbih, maka dia berkata, `Apa yang sedang mereka perbuat? ` Aku menjawab, `Mereka sedang bertasbih`. Dia berkata lagi, `Seandainya aku shalat sebelum dan sesudahnya, maka aku pasti menyempurnakannya. Aku pernah menemani Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, dan beliau dalam perjalanan tidak pernah shalat lebih dari dua raka`at. Begitu pula Abu Bakar hingga wafat, Umar, serta Utsman Radliallahu`anhum (Sunan An-Nasa`i 1457)


وقال النافع : أقام ابن عمر بأدربيجان ستة أشهر يصلى ركعتين وقد حال الثلج بينه و بين الدخول

Nafi` berkata : Ibnu Umar pernah menetap di Adribaizan selama enam bulan, ia senantiasa shalat dua rakaat, ia terhalang salju saat mau memasukinya (A.Zakaria Al-Hidayah h.8)



3. ABU BAKAR, UMAR & UTSMAN RA

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَمَعَ عُثْمَانَ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ ثُمَّ أَتَمَّهَا‏

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari `Ubaidullah berkata, telah mengabarkan kepada saya Nafi` dari `Abdullah bin `Umar radliallahu `anhuma berkata: "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu `alaihi wasallam di kota Mina dua raka`at. Begitu juga ketika aku shalat bersama Abu Bakar, `Umar dan juga bersama `Utsman pada awal pemerintahannya. Namun beliau di kemudian hari menyempurnakannya (empat raka`at) (Bukhary Bab Shalat bi Mina)


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ بَعْدَهُ وَعُمَرُ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ وَعُثْمَانُ صَدْرًا مِنْ خِلاَفَتِهِ ثُمَّ إِنَّ عُثْمَانَ صَلَّى بَعْدُ أَرْبَعًا ‏.‏ فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ صَلَّى أَرْبَعًا وَإِذَا صَلاَّهَا وَحْدَهُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

"...Dari Ibn Umar berkata : Nabi saw shalat di Mina dua rakaat, begitupun (masa) Abu Bakar, Umar juga Ustman di awal pemerintahannya. Namun setelah itu Ustman shalat (di Mina) empat rakaat. Maka keadaan (pendapat) Ibnu Umar "jika ia shalat berjamaah (dg Ustman) ia shalat empat rakaat, tapi jika menyendiri ia shalat dua rakaat (Shahih Muslim)

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، عَنِ الأَعْمَشِ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ، قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَزِيدَ، يَقُولُ صَلَّى بِنَا عُثْمَانُ بِمِنًى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَقِيلَ ذَلِكَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ فَلَيْتَ حَظِّي مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَانِ مُتَقَبَّلَتَانِ

"...Aku (Ibrahim) pernah mendengar Abdurrahman bin Yazid berkata : Ustman pernah shalat bersama kami di Mina empat rakaat, lalu aku tanyakan hal tersebut (tentang shalat empat rakaat) kepada Abdullah bin Mas`ud. Lantas (Abdullah bin Mas`ud) istirja`, beliau berkata : Aku pernah shalat bersama Rasul saw di Mina (hanya) dua rakaat, begitupun ketika aku shalat bersama Abu Bakar Shiddiq di Mina dua rakaat, begitu juga bersama Umar shalat di Mina dua rakaat. Semoga baik yang empat atau yang dua rakaat (Alloh) menerimanya. (Shahih Muslim)



أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ بُكَيْرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُثْمَانَ رَكْعَتَيْنِ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ

"....Dari Anas bin Malik ia berkata; "Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di Mina. Juga pernah bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman pada awal pemerintahannya (Sunan an-Nasa`i 1446)



أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ أَنْبَأَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ - رضى الله عنه - رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُمَرَ - رضى الله عنه - رَكْعَتَيْنِ

"....Dari Ibnu `Umar dia berkata; "Aku pernah shalat dua raka`at bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di Mina. Aku juga shalat dua raka`at bersama Abu Bakar Radliallahu`anhu dan Umar Radliallahu`anhu."( Sunan an-Nasa`i 1449)

4. `AISYAH RA


أَخْبَرَنِي أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الصُّوفِيُّ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا الْعَلاَءُ بْنُ زُهَيْرٍ الأَزْدِيُّ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا اعْتَمَرَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ حَتَّى إِذَا قَدِمَتْ مَكَّةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي قَصَرْتَ وَأَتْمَمْتُ وَأَفْطَرْتَ وَصُمْتُ ‏.‏ قَالَ ‏ "‏ أَحْسَنْتِ يَا عَائِشَةُ ‏"‏ ‏.‏ وَمَا عَابَ عَلَىَّ
Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Yahya Ash Shufi dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Nu`aim dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al `Alaa bin Zuhair Al Azdi dia berkata; telah menceritakan kepada kami `Abdurrahman bin Al Aswad dari `Aisyah bahwasanya ia melaksanakan umrah bersama Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wa Sallam dari Madinah ke Makkah. Tatkala sampai di Makkah Aisyah berkata; Wahai Rasulullah, demi Bapak dan Ibuku, bagaimana engkau mengqashar shalat padahal aku menyempurnakan shalatku, dan engkau berbuka sedangkan aku berpuasa? Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wa sallam menjawab: Engkau telah berbuat baik wahai ` Aisyah, namun aku pun tidak tercela. (Sunan an-Nasa`i 1455)


عن عائشة قالت : خرجت مع النبى ص م فى عمرة رمضان فأفطر وصمت وقصر وأتممت فقلت بأبى وأمى, أفطرت وصمت وقصرت وأتممت, فقال: أحسنت يا عائشة ـرواه الدارقطنىـ

Dari Aisyah berkata : Aku pernah keluar bersama Nabi dalam Umrah Ramadhan, lalu Nabi berbuka sedangkan saya tetap shaum. Begitu juga Nabi mengqashar sedangkan saya menyempurnakannya (empat rakaat). Lalu aku bertanya kepadanya, "Demi ayah dan ibuku! Engkau berbuka dan saya tetap shaum, engkau mengqashar, sedangkan saya sempurna (empat rakaat)". Nabi bersabda : "Engkau hebat (bagus) wahai Aisyah". (HR.Ad-Daruqutni, A.Zakaria dalam Al-Hidayah)

5. ANAS BIN MALIK RA

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا، يَقُولُ خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ، فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ‏.‏ قُلْتُ أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا قَالَ أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا‏


Telah menceritakan kepada kami Abu Ma`mar berkata, telah menceritakan kepada kami `Abdul Warits berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq berkata; Aku mendengar Anas radliallahu `anhu berkata: "Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu `alaihi wasallam dari kota Madinah menuju kota Makkah, selama kepergian itu Beliau melaksanakan shalat dua raka`at dua raka`at hingga kami kembali ke Madinah. Aku tanyakan: `Berapa lama kalian menetap di Makkah?" Dia menjawab: "Kami menetap disana selama sepuluh hari (Shahih al-Bukhari 1081)


وقال حفص بن عبيد الله : أقام أنس بن مالك بالشام سنتين يصلى صلاة المسافر

Hafsha bin Ubaidillah berkata : Anas bin Malik pernah menetap di Syam selama dua tahun, ia melakukan shalat safar (qashar). (Al-Hidayah A.Zakaria h.9)

وقال أنس : أقام أصحاب النبي ص م برام هرمز سبعة أشهر يقصرون الصلا ة
Anas berkata : Para shahabat Nabi saw pernah menetap di Rum Hurmuz selama tujuh bulan, mereka menqashar shalatnya (Ibid)

Bersambung...!



Dikirim pada 20 Januari 2015 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamu`alaikum wr.wb. saya mohon penjelasan hukuman mati bagi yang sedang hamil dalam Perspektif Islam. Thanks stad!

Jawab : Wa`alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh ... Sekalipun wanita itu sedang hamil, maka proses hukum tetap dilakukan. Hanya saja eksekusi mati (jika hukuman mati), harus menunggu hak hidup yang sedang dikandungnya. Dengan kata lain wanita untuk tetap dihukum mati setelah melahirkan.

Hal ini-pun pernah terjadi pada masa Rasulullah saw.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ { أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حُبْلَى مِنْ الزِّنَا – فَقَالَتْ : يَا نَبِيَّ اللَّهِ ، أَصَبْت حَدًّا ، فَأَقِمْهُ عَلَيَّ ، فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَّهَ.

فَقَالَ : أَحْسِنْ إلَيْهَا ، فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي بِهَا فَفَعَلَ .

فَأَمَرَ بِهَا فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ .

ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا ، فَقَالَ عُمَرُ : أَتُصَلِّي عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ ؟ فَقَالَ : لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِّمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ ، وَهَلْ وَجَدْت أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى } ؟ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Imran bin Hushain, bahwa ada seorang perempuan dari juhainiyah (nama sebuah suku) datang ketempat Rasulullah saw dalam keadaan hamil karena zina. Lalu ia berkata, Ya Rasulullah aku telah berbuat pelanggaran, maka laksanakanlah hukuman itu atasku. Lalu Nabi saw. Memanggil walinya, seraya bersabda, “Peliharalah perempuan ini dengan baik, dan jika ia telah melahirkan, maka bawalah kemari”. Kemudian walinya itu mengerjakannya. Kemudian oleh Rasulullah saw. Diperintahkan supaya pakaiannya diikat rapat, lalu diperintahkan untuk dirajam, kemudian dishalati. Kemudian Umar menyanggah Rasulullah saw, apakah engkau akan menshalatinya, ya Rasulullah paadahal dia berzina? Jawab Rasulullah, “sungguh-sungguh dia telah bertaubat, yang andaikata taubatnya itu dibagi kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya akan mencukupinya. Taukah engkau orang yang lebih utama selain orang yang memperbaiki dirinya karena Allah?” (HR Muslim).

Hadits diataspun menjelaskan bahwa sekalipun wanita itu sudah melanggar (melakukan kesalahan), namun tetap harus diperlakukan dengan baik, seperti perintah Nabi saw kepada walinya. Disamping itu ketika melakukan eksekusi, maka tentu harus menutupi auratnya dan tidak boleh seenaknya memperlakukan yang akan dikenakan hukuman mati itu. Allohu A`lam

Dikirim pada 19 Januari 2015 di ABU ALIFA SHIHAB MENJAWAB :
Awal « 1 2 3 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.760.305 kali


connect with ABATASA