0


Oleh : DR.H.Jeje Zainuddin M.Ag

Mengingat masalah ini bukanlah masalah baru melainkan masalah yang sudah ada sejak adanya perintah bershalawat bagi Nabi saw. yang menurut sebagian para ahli asbabun-nuzulul-quran turun pada tahun ke dua setelah hijrahnya Nabi ke Madinah. Akan tetapi karena adanya pemahaman dan pengamalan yang bervariasi (sebagaimana umumnya masalah-masalah cabang Agama), maka masalah shalawat ini seringkai dipertanyakan kembali. Untuk memberi latar dan kerangka bagi pemikiran dan pengamalan masalah-masalah yang diperselisihkan, terlebh dahulu saya merasa perlu menyampaikan pendahuluan.

Dalam setiap pemkiran dan tradisi keagamaan, tidak terkecuali pada kalangan pemeluk Islam, selau didapati dua kecenderungan negatif, yaitu al-ghuluwwu (berfikir dan bertindak secara berlebihan) dan al-tatharruf (berfikir dan bertindak secara berkekurangan). Karena itu dalam sejarah dan tradisi pemikiran-pengamalan Islam dikenal madzhab bathiniyah dan madzhab dhahiriyah. Yang pertama mewakili kelompok substansialis ekstrim yang liberal dalam memahami makna dalil-dalil agama, sedang yang kedua mewakili kelompok formalis ekstrim yang sangat kaku memahami dalil-dalil agama. Yang satu menghilangkan sisi hukum fiqih formal Islam dan memalingknnya kepada kiasan-kiasan, sedang satunya lagi engesankan bahwa Islam itu semata-mata hukum fiqih-formal saja. Yang satu terlau berat menekankan agama kearah qalbu dan alam ghaib dari diri manusia, sdang satunya lagi terlau kuat memaksakan pemahaman agama hanya ditinjau dari gerak-gerik ibadah lahiriyah badani. Diantara kedua kubu ekstrim itu tentu saja selau ada kelompok yang konsisten berpegang tegh kepada ajaran agama yang murni. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang shahih.

"Dikalangan umatku senantiasa ada golongan yang menegakkan kebenaran, mereka tidak dirugikan oleh orang-orang yang menentang mereka sehingga datang keputusan Allah kepada mereka dan mereka dalam keadaan demikian". (Bukhary dalam Kitabul-I`tisham bersumber dari Muawiyah bin Abi Sufyan dan Muslim dalam Kitabul-Imarat bersumber dari Tsauban. Hadits-hadits yang semakna dengan itu, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Mughirah bin Su`bah, Jabir bin Abdillah, Jabir bin Samurah, Sa`ad bin Abu Waqas dan Abdullah bn Amr bin Ash).

Sebab ghuluw dan tatharruf dalam pemikiran dan pengamalan agama lebih disebabkan penguasaa ajaran agama yang parsial atau belum utuh dan semangat keagamaan yang tinggi tapi tidak dibarengi ilmu yang memadai dari para pemeluknya. Sementara disisi lain dalam ajaran Islam itu sendiri ada dalil-dalil tertentu yang jika dipahami secara sepihak dapat menimbulkan pemahaman dan pengamalan beragama yang berat sebelah, disamping ada juga dalil-dalil palsu yang disengaja ataupun bukan disengaja dibuat untuk menimbulkan kekacauan dalam pemahaman ajaran Islam. Sebagai misal dalam pengamalan membaca al-Quran, berdzikir, berdo`a, shalat sunnat, shaum sunnat, penghormatan kepada para kyai, dan shalawat kepada Nabi.

Saking kuatnya motivasi keutamaan membaca al-Quran, ayat-ayat tertentu, berdzikir, berdo`a, dan bershalawat yang dimuat dalam dalil-dalil yang lemah atau dalam dalil yang shahih tapi salah penafsiran telah menggiring sebagian kaum muslimin kepada pemikiran dan pengamalan beragama yang berlebihan. Ada kalanya dikalangan komunitas muslim tertentu membaca surat Yasin, shalawat, dan wirid-wirid tertentu dimalam jum`at seakan menjadi sunnah muakkad untuk mencapai niat-niat tertentu. Begitu pula macam-macam shalat dan shaum sunnat seperti shalat sunnat nisfu sya`ban, shaum rajab, shaum wedalan dan sebagainya. Dzikir-dzikir, do`a-do`a, dan shalawat beraneka macam diciptakan untuk menambah semarak pengamalannya yang biasanya diamalkan penuh keyakinan dan kekhusyuan untuk meraih pahala yang besar dan mencapai apa yang dicita-citakan.

Disisi lain, sebagian komunitas muslim yang berbeda telah menyadari kekeliruan pemahaman dan pengamalan agama seperti itu. Mereka memandang bahwa pemahaman dan pengamalan seperti itu membawa kebekuan pemikiran dan pengamalan ajaran Islam hanya ramai dalam formalitas dan ritualitasnya tapi miskin dalam aktualitasnya. Al-Quran hanya diperindah suara bacaannya, dihapal diluar kepala ayat-ayatnya, diperlombakan, dan dimuliakan mushafnya, akan tetapi tak pernah dikaji apa isi kandungannya. Dzikir, do`a, dan shalawat disenandungkan penuh hidmat dalam upacara-upacara tertentu dengan keyakinan dapat mendatangkan pahala yang besar, rizki yang melimpah dan syafaat dihari qiyamat, akan tetapi kosong dari pemahaman terhadap isi dan pesan-pesan ajarannya. Padahal ajaran Islam itu penuh ajaran yang sangat dalam dan didikan yang tinggi bagi kecerdasan akal manusia. Karena itu, dalam pandangan kelompok muslim yang ini, yang paling penting adalah pemahaman yang mendalam terhadap maksud quran dan hadits Nabi serta memerangi pengamalan Islam yang bid`ah.

Saking semangatnya memerangi bid`ah dan mengutamakan pemahaman terhadap arti Quran dan hadits maka forum yang sering diselenggarakan adalah forum kajian pemahaman dan menyoroti apa yang jadi tradisi pengamalan agama kelompok lain. Akan tetapi ada kalanya berdampak melupakan aspek pengamalan dan penghayatan. Bahkan tidak jarang mencurigai bahwa apa saja yang menjadi pemahaman dan pengamalan kelompok lain sebagai sesuatu yang selalu salah dan bid`ah meskipun pada kenyataannya justru itu adalah sunnah yang shahihah tapi tidak diamalkannya. Ketika kelompok muslim yang ghuluw sangat antusias dengan menghafal Al-Quran, menggemarkan memperindah suaranya dan bahkan memperlombakannya sehingga melahirkan banyak penghafal dan pembaca yang sangat merdu suaranya, maka dikalangan yang tatharruf mengalami kemiskinan para penghafal al-Quran. Bahkan untuk sekedar mencari yang dapat membaca Quran dengan fasih, merdu dan indah pun kesulitan. Ini disebabkan tatharruf, berlebihan dalam mengurangkan, akibat terlalu bersemangat membid`ahkan memperlombakan bacaan Al-Quran, membaca Yasin dimalam jumat dan sebagainya, sehingga yang tidak bid`ah-nyapun ikut dihilangkan. Malahan beberapa sunnah yang jelas-jelas disebutkan dalam hadits shahihpun diabaikan dan dicurigai sebagai bid`ah juga. Seumpama keutamaan membaca surat al-Ikhlash, An-Naas, al-Falaq dan ayat Kursi, atau kebolehan meruqyah dengan al-fatihah sebagai syirik dan bid`ah.

Disatu sisi sekelompok orang sangat antusias menggemarkan dzikir hingga melampaui keharusan dan menyalahi sunnah Nabi dengan membuat wirid-wirid, tata cara, dan upacara yang bid`ah. Kita mendapati dari mereka begitu nkmat dan sejuknya jiwa mereka dengan dzikir hingga memancar menjadi cahaya wajah yang menggambarkan kekhusyuan dan kedamaian jiwa. Disisi lain sekelompok muslim sangat pelit dari berdzikir karena merasa khawatir jatuh bid`ah, sampai-sampai yang sudah jelas dalilnya pun diabaikan pula, hingga terkesan jiwanya kering dan gersang jauh dari sifat ke tawadhuan dan kekhusyuan.

Demikian pula halnya dengan masalah shalawat, sebagian kelompok muslim demikian semangatnya bershalawat dengan dalih mengamalkan perintah Alah dan hadits Nabi, mereka bershalawat kapan saja dan dimana saja menurut ketentuan yang dianggap baik bagi mereka. Terkadang mereka menyelenggarakan majlis shalawatan dan membuat lafaz shalawat khusus dengan hasiat kegunaan yang khusus pula menurut anggapan diri mereka sendiri. Bahkan tak tanggung-tanggung ada kelompok muslim yang membuat organisasi khusus "Masyarakat Shalawat Indonesia". Di sisi lain sebagian kelompok muslim yang menyadari penyimpangan dalam shalawat ini ada kalanya terlau khawatir bahwa setiap pengamalan shalawat yang diamalkan orang itu semuanya salah, sehingga membatasi shalawat hanya pada shalat saja dan meninggalkan shalawat diwaktu lain yang dianjurkan oleh hadits Nabi yang shahih. Untuk itu tulisan ini berusaha memaparkan kedudukan masalah shalawat secara proporsional dengan mengacu kepada dalil-dalil al-Quran, hadits-hadits yang shahih, pengamalan para shahabat, pandangan para ulama dalam kitab-kitab mereka, dan analisis penulis sendiri. Demi runtutnya pembahasan, tulisan (makalah) ini disajikan dengan beberapa sub bahasan yaitu, pengertian shalawat, hukum bershalawat kepada Nabi Muhammad dan kepada yang lainnya, redaksi shalawat, dan tempat-tempat shalawat.

Pengertian Shalawat

Berdasarkan para ulama yang ahli dibidang bahasa dan tafsir, semisal Ibnu al-Mandhur dalam Lisanul-Arab, Imam al-Raghib dalam al-mufradat fi gharibil-quran, Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Ibnu Hajar dalam syarah Bukhari, Ashabuni dalam tafsir Ahkam, dan yang lainnya, dapat diambil kesimpulan bahwa shalawat secara bahasa artinya do`a, mohon ampunan, mohon rahmat, dan mohon berkah. Kalau shalawat itu dinisbatkan kepada Allah seumpama kalimat "shalawat Allah atas Nabi Muhammad", maka maknanya adalah Allah memuliakan, menyanjung, memberi rahmat, memberi ampunan, mengagungkan kedudukannya diantara makhluknya yang lain. Jika shalawat itu dari Malaikat kepada Nabi maka artinya para Malaikat memohonkan ampunan, rahmat, kemuliaan, dan kedudukan yang agung bagi Nabi. Dan jika shalawat itu dari umatnya kepada nabi, maka maknanya adalah memohon ditetapkan dan ditambahkan kepada Nabi segala kemuliaan, keagungan, rahmat, dan ampunan Allah ta`ala, kemudian ia akan mendapat pahala dengan perbuatannya itu sebagai amal ibadah mencintai Nabi dan mentaati perintah Allah swt.

Hukum Bershalawat

Perintah bershalawat dengan tegas di firmankan Allah dalam surat al-Ahzab ayat 56.

"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai segenap orang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan salam dengan sebenar-benarnya".

Ayat ini dengan tegas mengandung kalimat perintah dan setiap perintah pada asalnya adalah wajib kecuali ada dalil yang memalingkan dari kewajibannya. Dan tidak ada satu keteranganpun yang memalingkan dari kewajiban ini.

Dalam ayat ini perintah shalawat ditujukan kepada uat yang beriman bagi Nabi saw. Tetapi pada ayat yang lain Allah juga menyebutkan adanya shalawat dari Allah dan dari Nabi bagi orang-orang yang beriman. Firman Allah,

"Mereka itulah yang mendapat shalawat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang mendapat petunjuk". (QS.al-Baqarah 157)

Pada ayat lain Allah berfirman :

"Dan diantara penduduk Arab pegunungan ada orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat dan menjadikan apa-apa yang mereka infaqkan sebagai mendekatkan diri kepada Allah dan shalawat Rasul ....". (QS.at-Taubah 99)

Pada ayat yang lain lagi difirmankan :

"Ambilah dari harta sebagai sedekah (zakat) yang dengannya membersihkan (harta) mereka dan mensucikan (jiwa) mereka dan bershalawatlah atas mereka, sesungguhnya shalawatmu menjadi ketenangan bagi mereka". (QS.at-Taubah 103)

Pada surat al-Baqarah 17 disebutkan shalawat dari Tuhan untuk orang-orang yang mukmin yang selalu bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Para mufassir menafsirkan shalawat dari Allah bagi orang-orang sabar itu maknanya pengampunan, keridhaan dan pemberian rahmat atas mereka. Sedang pada surat at-Taubah 99 dan 103, shalawat disebutkan dari Rasul bagi orang-orang mukmin yang memberikan shadaqah dan mengeluarkan zakat. Dengan ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah dan Rasul-Nya ternyata juga memberikan shalawat kepada orang-orang beriman. Apakah Malaikat juga bershalawat kepada orang-orang mukmin?

Didalam surat al-Ahzab ayat 41-43 difirmankan :

"Hai orang-orang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah (Allah) yang memberi shalawat kepada kamu sekalian dan para Malaikat-Nya (juga bershalawat bagimu) supaya Dia mengeluarkan kamu sekalian dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia adalah Maha penyayang kepada orang-orang beriman".

Ketika menafsirkan tiga ayat diatas, Imam Ibnu Katsir mengutip beberapa riwayat dari para ulama salaf, diantaranya dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas yang mengatakan, "Allah telah berfirman ; (Ingatlah Allah dengan mengingat yang sebanyak-banyaknya) sesungguhnya tidaklah Allah memerintahkan suatu kewajiban kepada hamba-Nya melainkan ada batasan pengamalannya dan memberi keringanan jika ada uzur kecuali dzikir, karena sungguh Allah tidak menjadikan batasan mengerjakannya dan tidak ada kerukhshahan untuk meninggalkannya, sebagaimana firman-Nya, (berdzikirlah kalian kepada Allah dalam keadaan berdiri, keadaan duduk, dan keadaan berbaring) diwaktu malam atau siang, didaratan atau lautan, diperjalanan ataupun dikampung halaman, disaat kaya ataupun miskin, disaat sehat ataupun sakit, secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan dan dalam setiap keadaan. Allah berfirman (dan sucikanlah Dia diwaktu pagi dan sore hari) maka jika kalian melakukan itu niscaya Allah dan para Malaikat-Nya akan bershalawat bagi kalian".

Dari seluruh ayat ini sudah sangat terang bahwa Allah, para Malaikat dan Rasul-Nya semuanya menyampaikan shalawat kepada orang-orang mukmin yang penyabar dalam menghadapi berbagai cobaan dan ujian hidup, yang banyak bersedekah, infaq dan mengeluarkan zakat, serta banyak berdzikir dan bertasbih kepada Allah swt.

Manipestasi shalawat Allah kepada kaum mukmin berupa pengampunan, keridhaan, rahmat, memuji mereka dihadapan para Malaikat-Nya, dan segala bentuk kebaikan. Sebagaimana diisyaratkan oleh beberapa hadits shahih. Diantaranya adalah sabda Rasulullah saw. :

"Sesungguhnya Allah mempunyai Malaikat-Malaikat yang berkeliling dijalan-jalan mencari ahli-ahli dzikir, jika mereka sudah menemukan kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka saling memanggil ; "Kesinilah kepada apa yang kalian cari!". Lalu mereka mengerumuni kaum itu dengan sayap-sayap mereka sampai ke langit dunia. Kemudian Allah bertanya kepada para Malaikat, meskipun Dia lebih Maha tahu, "Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?". "Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan bertamjid kepada-Mu". Jawab Malaikat. "Apakah mereka melihat-Ku". Malaikat berkata, "Demi Allah mereka tidak melihat-Mu". "Bagaimana sekiranya mereka dapat melihat-Ku?". "Sekiranya mereka melihat-Mu pastilah mereka akan lebih sangat lagi beribadah, mengagungkan dan mensucikan-Mu!". "Apa yang mereka minta?" "Mereka memohon surga!". "Apakah mereka melihat surga?". "Demi Allah mereka belum melihatnya!". "Bagaimana jika mereka melihatnya?". "Jika mereka melihatnya pastilah mereka akan lebih menginginkannya lagi dan lebih sungguh-sungguh mencarinya". "Apa yang mereka harapkan dijauhkan dari mereka?". "Mereka memohon diselamatkan dari api neraka!". "Apakah mereka melihat neraka?". "Demi Allah, mereka belum melihatnya!" "Bagaimana sekiranya mereka melihatnya?". "Jika mereka meihatnya pastilah mereka akan lebih lari dan takut dari padanya!". Kemudian Allah berfirman, "Saksikanlah oleh kalian Aku telah mengampuni mereka!". Seorang malaikat berkata, "Diantara mereka ada si fulan yang bukan kelompoknya, ia datang karena ada suatu keperluan!". Allah berfirman lagi, "Mereka adalah kumpulan yang tidak rugi siapapun yang duduk dengan mereka!". (Shahih Bukhari 11 : 177, Shahih Muslim no. 2689, Sunan Tirmidzi no. 3595)

Dalam hadits lain disabdakan Nabi saw. :

"Tidak ada kelompok orang yang berkumpul di suatu majlis dimana mereka berdzikir kepada Allah melainkan para Malaikat akan mengerumuni mereka, dikucuri rahmat, diturunkan ketentraman kepada mereka, dan Allah menyanjung mereka dihadapan para Malaikat-Nya". (Shahih Muslim, no. 2700)

Dalam dua hadits ini disebutkan contoh dari manifestasi shalawat Allah bagi kaum mukmin yang senantiasa berdzikir yaitu diampuni dosa-dosa mereka dan disanjung Allah dihadapan Malaikat-Nya.

Adapun manifestasi shalawatnya Malaikat kepada orang mukmin adalah mendo`akan pengampunan, memberikan dorongan kekuatan ketabahan, memberikan perlindungan, dan menyampaikan segala do`a kebaikan.

"Malaikat-malaikat yang memikul arasy dan malaikat yang berada disekelilingnya bertasbih mensucikan dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepadanya serta memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman dengan mengucapkan, "Ya, Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala. Ya, Tuhan kami, masukkan mereka kedalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan kepada turunan mereka semua. Sesungguhnya Engkau yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana. Dan periharalah mereka dari kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar". (QS.al-Mukmin 7-9)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "janganlah kamu merasa takut dan jangan kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepada kamu semua. Kami adalah pelindung-pelindungan kalian dalam kehidupan dunia dan diakhirat..." (QS.Fushilat 30-31)

Rasulullah saw bersabda :

"Tidak ada seorangpun dari hamba Allah diwaktu pagi melainkan ada dua malaikat yang turun. Yang satu berdo`a, "Ya Allah, berikanlah gantinya bagi orang yang sdekah!". Yang satu lagi berdo`a, "Ya Allah, berikanlah kerugian kepada orang yang pelit!". (Shahih Bukhari, III : 241, Muslim : 1010, Ahmad, II : 305)

Sedang manifestasi shalawat Nabi atas kaum mukminin adalah berupa do`a kebaikan, rahmat, ampunan dan do`a keteguhan serta ketentraman hati dalam iman.

Imam Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah senantiasa mendo`akan kepada orang yang membawa sedekah kepadanya, maka bapakku pergi membawa sedekah kepada Nabi, lalu Rasulullah berdo`a, "Allohumma shalli `ala ali abi aufa". Pada hadits yang lain disebutkan bahwa seorang wanita datang kepada Nabi dan berkata, "Wahai Rasulullah, shalawatlah bagiku dan suamiku!". Rasulullah berdo`a, "Shallallahu `alaika wa `ala zaujiki".
Cara Bershalawat Kepada Nabi

Imam Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari jalan Abu Mas`ud al-Anshari yang mengatakan :

"Ketika kami berada di majlis Sa`ad bin Ubadah, Rasulullah datang menemui kami. Kemudian Basyir bin Sa`ad berkata kepada beliau ; Allah ta`ala memerintahkan kami untuk bershalawat kepada engkau, wahai utusan Allah, bagaimanakah kami bershalawat kepada engkau? Rasulullah terdiam sehingga kami beranggapan sekiranya tidak dilontarkan pertanyaan seperti itu. Lalu beliau bersabda : Ucapkanlah oleh kalian ; Allahumma shalli ala muhammad wa ala ali muhammad kama shallaita ala ali ibrahim, wa barik ala muhammad wa ala ali muhammad kama barakta ala ali ibrahim fil-alamina innaka hamidun majid, sedang salam adalah apa yang telah kalian ketahui".
Hadist ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan yang lainnya.

Imam Ahmad dalam Musnad-nya meriwayatkan dari Abu Mas`ud, Uqbah bin Amr ia mengatakan ;

"Seorang laki-laki datang lalu duduk dihadapan Rasulullah, sementara kami sedang berada disampingnya. Ia berkata : Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahui salam kepada engkau, maka bagaimana jika kami shalawat kepada engkau dalam shalat kami? Rasulullah diam sehingga kami menginginkan sekiranya orang itu tidak bertanya. Kemudian beliau bersabda, katakanlah! "Allahumma shalli ala muhammadin nabiyil ummiyi wa ala ali muhammad kama shallaita ala ibrahim wa ala ali ibrahim, wa barik ala muhammadin nabiyyil ummiyi awa ala ali muhammad kama barakta ala ibrahim wa ala ali ibrahim, innaka hamidun majid".
Hadits ini diriwayatkan pula oleh ulama ahli hadits seperti Abu Dawud, Daruquthni, Al-Hakim, Nasai, Baihaqi dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ibnu Hibban dan Hakim.

Imam Bukhari dalam shahihnya meriwayatkan dari Abdul Rahman bin Abi Laila yang mengatakan ;

"Saya berjumpa dengan Ka`ab bin Ujrah, ia berkata kepadaku, Maukah kamu aku beri hadiah yang aku pernah mendengarnya dari Nabi? Tentu, hadiahkanlah ia kepadaku! Jawabku. Ia berkata lagi, Kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimanakah kami bershalawat kepada engkau, wahai ahlul-bait, karena Allah telah mengajarkan kepada kami cara bersalam kepada engkau? Beliau menjawab, Ucapkanlah ; Allahumma shalli ala muhammad wa ala ali muhammad kama shallaita ala ibrahim wa ala ali ibrahim innaka hamidun majid. Allahumma barik ala muhammad wa ala ali muhammad kama barakta ala ibrahim wa ala ali ibrahim innaka hamidun majid".
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan yang lainnya.

Imam Bukhari juga meriwayatkan dalam shahihnya dari jalan Abu Humaid Assaidi, bahwa para shahabat bertanya kepada Nabi, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah kami bershalawat kepada engkau? Beliau menjawab, ucapkanlah; Allahumma shalli ala muhammad wa ala azwajihi wa dzurriyyatihi kama shallaita ala ibrahim, wa barik ala muhammad wa azwajihi wa dzurriyyatihi kama barakta ala ali ibrahim innaka hamidun majid".

Dengan bersumber dari Abu Said al-Khudri, Imam Bukhari juga meriwayatkan dalam shahihnya.
"Kami (para shahabat) berkata, Wahai Rasulullah, mengenai salam kami telah mengetahui, bagaimanakah cara bershalawat kepada engkau? Beliau bersabda, katakanlah ; Allahumma shalli ala muhammad abdika wa rasulika kama shallaita ala ali ibrahim, wa barik ala muhammad wa ala ali muhammad kama barakta ala ali ibrahim".

Imam Ahmad dalam Musnad-nya meriwayatkan dari shahabat Nabi bahwa beliau SAW. bershalawat (kepada diri beliau sendiri) dengan mengucapkan, "Allahumma shalli ala muhammadin wa ala ahli baitihi wa ala azwajihi wa dzurriyatihi kama shallaita ala ali ibrahim innaka hamidun majid, wa barik ala muhammadin wa ala ahli baitihi wa ala azwajihi wa dzurriyatihi kama barakta ala ali ibrahim innaka hamidun majid".
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam at-Thahawi dalam Musykilul-Atsar. Syeikh Nashiruddin al-Bani telah menilai shahih hadits ini dan Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat telah menyelidikinya serta menyatakan bahwa hadits ini shahih atas syarat Bukhari dan Muslim.

An-Nasai dalam Amalul Yaum wal Lailah meriwayatkan dari Abu Harairah, ia berkata, "Wahai Rasulullah bagaimanakah kami bershalawat kepada engkau? Beliau menjawab, Katakanlah, "Allahumma shalli ala muhammad wa ala ali muhammad wa barik ala muhammad wa ala ali muhammad kama shallaita wa barakta ala ibrahim wa ali ibrahim innaka hamidun majid".
Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Jalaul Afham dan oleh Imam Nashiruddin al-Bani dalam Shifat Shalat Nabi.

Masih banyak sekali hadits Nabi tentang redaksi shalawat tetapi pada dasarnya berkisar kepada apa yang telah dikemukakan diatas. Dengan memperhatikan keseluruhan hadits-hadits tersebut kita dapat menetapkan :

Pertama, bahwa dalam pengucapan shalawat kepada Nabi mencakup dua doa utama, yaitu permohonan shalawat dan keberkahan.

Kedua, pengucapan shalawat dan keberkahan kepada Nabi ada yang menggunakan lafadz ala muhammad wa ala ali muhammad (atas Nabi dan keluarga Nabi) saja, ada yang menggunakan tambahan lafadz, ala muhammad wa ala azwajihi wa dzurriyatihi (atas muhammad, atas istri-istrinya, dan keturunannya), dan ada juga dengan lafadz ala muhammad, ahlul baitihi, wa azwajihi wa dzurriyatihi (atas muhammad, ahlu baitnya, istri-istri dan anak cucunya)

Ketiga, dalam menyebut nama Nabi Muhammad, terdapat lafadz yang berbeda, yaitu ala muhammad saja, ala muhammadin nabiyyil ummiyi, dan ala muhammadin abdika wa rasulika.

Keempat, lafadz innaka hamidun majid ada yang satu kali di akhir saja, dan ada yang dua kali antara shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, serta setelah memohon keberkahan bagi Nabi Muhammad dan keluarganya dan bagi ibrahim beserta keluarganya.
Kelima, lafadz shalawat bagi Nabi Ibrahim ada yang pakai ala ibrahim wa ala ali ibrahim dan ada yang tidak pakai ala ibrahim, melainkan langsung wa ala ali ibrahim saja.

Dari hadits diatas juga disebutkan bahwa Nabi sendiri bershalawat bagi diri beliau dan keluarganya. Dan pada sub bahasan paling awal beliaupun mendo`akan dengan shalawat kepada umatnya, yang dicontohkan kepada Abi Aufa dan seorang wanita shahabiyat.

Setelah jelas lafadz-lafadz shalawat yang di imlakan langsung oleh Rasulullah kepada para shahabatnya, masih terselip pertanyaan, Apakah lafadz-lafadz shalawat diatas khusus dalam shalat ataukah umum? Bagaimanakah jika bershalawat didalam shalat dengan lafadz yang tidak dicontohkan Nabi secara sempurna? Dalam hal ini para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama membolehkan dengan menyebutkan sebagian saja dari lafadz shalawat, seumpama hanya sampai allahumma shalli ala muhammad, sebab itupun sudah memenuhi perintah untuk bershalawat. Sebagian lagi mengharuskan secara penuh sebab dinamakan shalawat yang masyru`, yang disyariatkan itu yang lengkap dari Nabi. Adapun diluar shalat maka para ulama memandang cukup dan memadai jika menyampaikan shalawat dan salam dengan lafadz shallallahu alaihi wa sallam, meskipun tentu yang paing utama dengan redaksi yang lengkap dari Nabi.

Adapun lafadz-lafadz shalawat yang diada-adakan tanpa contoh dari Nabi, para shahabat maupun imam-imam salaf, seperti yang mereka namakan dengan shalawat badriyah, shalawat kamilah, shalawat munfarijah, dan lain-lain, dengan membuat ketentuan waktu-waktu membacanya, jumlah bilangan bacaannya, serta hasiat-hasiat kegunaannya, semua itu jelas merupakan bid`ah yang menyalahi sunnah disyariatkannya shalawat dan karenanya kau muslimin seharusnya meninggalkannya.

Waktu-Waktu Diperintahkan Bershalawat

Sebagaimana disebutkan pada pembahasan dimuka bahwa Allah memerintahkan kaum mukmin agar bershalawat kepada Nabi saw. sedang asal dari perintah adalah wajib. Hanya saja, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalamTafsirnya, para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban bershalawat itu. Ada ulama yang memahami kewajiban bershalawat itu hanya satu kali seumur hidup dan selain yang sekali itu hanyalah sunnat. Ada juga yang menyatakan wajib disetiap saat dan tempat yang dikhususkan oleh syara dan selain yang ditentukan hukumnya anjuran saja. Sebagian lagi dari ulama membedakan, saat dan tempat tertentu yang diperintahkan untuk bershalawatpun tidaklah sama hukumnya, ada yang wajib dan ada yang sunat saja.

Perbedaan paham para ulama itu adalah wajar, sebab jika kita mencoba mencermati ayat perintah bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara seksama maka akan memberikan beberapa alternatif pemahaman.

Pertama, bahwa shalawat itu wajib satu kai sja seumur hidup dengan alasan bahwa asal perintah tidak menuntut berulangkali, sedang diluar yang satu kali itu hanyalah sunnah dan anjuran saja. Sebagaimana perintah ibadah haji tidak menuntut berulang kali.

Kedua, memahami kewajiban shalawat secara mutlaq disegala tempat dan di segala waktu yang orang dapat bershalawat padanya serta dengan lafadz yang umum yang mencakup doa shalawat dan salam, sebab al-quran sendiri tidak membatasi pada keadaan dan tempat-tempat tertentu untuk shalawat. Adapun mengenai anjuran shalawat yang dihubungkan dengan waktu-waktu tertentu itu tidak berarti bahwa diluar waktu itu tidak disyariatkan, sebab dalam kaidah ushul dinyatakan penyebutan sebagian lafadz umum tidak berarti penghususan, maka adanya perntah shalawat pada waktu-waktu tertentu menunjukkan bahwa disaat tersebut lebih layak lagi memanjatkan shalawat dan jika meninggalkannya berarti meninggalkan kelayakan yang ditetapkan agama. Terlebih-lebih jika mengingat esensi shalawat adalah do`a, berdoa diperintahkan disetiap saat dan tempat yang layak sesuai dengan kebutuhan. Adanya perintah berdoa disaat dan tempat tertentu dengan lafadz tertentu pula tidak boleh dipahami bahwa diluar itu tidak boleh berdoa. Hal serupa juga berlaku dalam memahami dzikir kepada Allah swt.

Ketiga, memahami perintah shalawat dengan cara, redaksi, dan tempat atau waktu-waktu yang ditetapkan oleh syariat saja, sedang diluar itu tidak dibenarkan. Dengan argumen bahwa shalawat itu ibadah makhdhah yang sudah ditetapkan waktu, tempat dan kaifiyatnya.

Menurut hemat penulis, adalah benar bahwa ayat perintah shalawat dan salam kepada Nabi mengandung makna yang umum dan mutlaq. Jadi pada dasarnya diperintahkan dimana dan kapan saja dengan lafadz yang mengandung arti shalawat dan salam. Tetapi meskipun demikian ada waktu dan tempat serta lafadz yang dihususkan oleh Nabi bagi umatnya. Maka pada waktu, tempat dan lafadz yang khusus itu seharusnyalah kaum muslimin berpegang kepada apa yang dicontohkan Nabi. Sedang diluar itu tidaklah salah kalau orang bershalawat dengan lafadz yang lain yang mencakup makna shalawa dan salam kepada Nabi. Sebagaimana tidaklah salah kalau orang bershalawat diluar waktu yang ditentukan dengan bahasanya sendiri. Karena itulah para ulama membolehkan dengan lafadz shallallahu alaihi wasallam meskipun lafadz itu tidak ada contoh langsung dari Nabi. Tetapi diambil dari pemahaman ketika Nabi memberi shalawat kepada Abu Aufa dan kepada seorang wanita shahabiyat. Allahumma shalli ala abi aufa, dan shallallahu alaika wa ala zaujika.

Yang penting diingat juga bahwa shalawat itu bagian dari jenis doa dimana doa sudah diatur tatacara pelaksanaannya dalam hal merendahkan suara, khusyu` dan tadharru`an.

Adapun waktu-waktu yang diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi, disini penulis akan mengutip apa yang diuraikan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yaitu :

1. Dalam Tasyahud Shalat

Para ulama sepakat mengenai keharusan membaca shalawat dalam tasyahud shalat. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai status hukumnya. Apakah wajib atau sunnah saja dan apakah keharusan itu dalam setiap tasyahud, awal dan akhir, atau pada tasyahud akhir saja? Terlepas dari perbedaan pendapat diatas kita mengambil hal yang disepakatinya yaitu keharusan membaca shalawat dalam tasyahud shalat baik yang awal atau yang akhir sesuai dengan hadits Nabi saw.

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya hadits shahih dari Fadhalah bin Ubaid ia mengatakan;
"Rasulullah mendengar seorang berdoa dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan shalawat kepada Nabi. Beliau bersabda, Orang ini telah tergesa-gesa! Kemudian memanggilnya lalu bersabda kepada orang itu atau kepada orang lain, "Jika seorang diantaramu shalat maka mulailah dengan memuji dan menyanjung Tuhannya (dalam satu riwayat "memuji dan menyanjung Allah") kemudian bershalawatlah kepada Nabi kemudian sesudah itu ia berdoa dengan yang ia sukai". (Sunan Abu Dawud, no.1481. Diriwayatkan pula oleh Imam Nasai, Tirmidzi, Ahmad, dan yang lainnya)

2. Setiap Duduk Di suatu Majlis

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersbda, "Tidak ada satu kaum yang duduk disuatu majlis, mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi-nya, melainkan akan menjadi kerugian dihari kiamat. Jika Dia menghendaki Dia mengadzab mereka dan jika Dia menghendaki Dia mengampuni mereka" (Riwayat Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim)

3. Di Malam & Hari Jum`at

Dari Aus ia berkata, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya diantara hari-hari kaian yang paling utama adalah hari jum`at, pada hari itu diciptakan Adam, dan pada hari itu diwafatkannya, pada hari itu ditiupkan tanda kiamat, dan pada hari itu dimatikan semua mahluk. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kaian itu akan disampaikan ke hadapanku. Para shahabat bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana ditampakkannya shalawat kami kepada engkau, padahal engkau telah menjadi tulang belulang? Rasul menjawab, Sesungguhnya Allah mengharamkan atas bui memakan jasad para Nabi". (Hadits shahih dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai dan yang lainnya)

Dari Anas ia berkata, "Perbanyaklah oleh kalian shalawat kepadaku pada hari dan malam jum`at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan membalas shalawat kepadanya sepuluh kali". (Hadits Hasan Riwayat Al-Baihaqi. Silsilah hadits shahih al-Bani, no.1407)

4. Pada Waktu Berdo`a

Dalilnya sama dengan dalil nomor 1 dari Fudhalah bin Ubaid, dimana Nabi saw. menganjurkan kita agar bershalawat sebelum berdo`a. (lihat silsilah hadits shahih al-Bani 2035)

5. Ketika Masuk & Keluar Mesjid

Dari Abu Humaid atau Abu Usaid al-Anshari ia berkata, Rasulullah bersabda, "Apabila kamu masuk mesjid maka ucapkan salam kepada Nabi kemudian ucapkanlah, Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu! Dan Jika kamu keluar katakanlah, Ya Allah, sesungguhnya aku memohon karunia-Mu". (Hadits shahih riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ad-Darimi)

6. Pada Shalat Jenazah

Disunnahkan membaca shalawat kepada Nabi pada shalat jenazah setelah takbir ke-dua. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umamah bin Sahl dari seorang shahabat Nabi bahwa sunnah dalam shalat jenazah hendaklah Imam bertakbir kemudian membaca fathihah setelah takbir pertama dengan membacanya sirr (pelan), kemudian bershalawat kepada Nabi, dan ia mengikhlaskan doa bagi jenazah pada setiap takbir. Tidak membaca (surat) pada takbir-takbir tersebut. Kemudian ia salam dengan sirr". (Musnad asy-Syafi`i no 581)

7. Sesudah Mendengar Adzan

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, beliau mendengar Nabi saw. bersabda, "Jika kalian mendengar muadzin beradzan maka ucapkanlah seperti ucapan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah bagiku wasilah karena ia adalah tempat disurga yang tidak layak bagi siapapun kecuali bagi seorang hamba Allah dan aku berharap akulah orangnya, barangsiapa memohonkan wasilah bagiku, maka halal baginya syafaat(ku)". (Riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Huzaimah)

8. Setiap Disebut Nama Nabi

Dari Husein bin Ali bin Abi Thalib ia berkata, Rasulullah bersabda, "Orang yang bakhil (kikir) adalah yang disebut namaku disisinya tapi tidak bershalawat kepadaku". (Hadits shahih riwayat Tirmidzi, Ahmad, Nasai, Ibnu Hibban dan Hakim)

Dari Abu Hurairah Rasulullah saw bersabda, "Hinalah seseorang yang disebut namaku disisinya tapi tidak bershalawat kepadaku". (Hadits shahih riwayat Tirmidzi dan Hakim)

Dikirim pada 23 Maret 2015 di KAJIAN UTAMA


Tanya : Assalamu`alaikum ... Mas Abu Alifa, ada yang menerangkan (seorang Kyai) bahwa seluruh hamba Allah nanti diakhirat akan melihat Allah dengan jelas. Benarkah? Wassalam MG
Jawab : Wa`alaikumussalam ... tentu "hamba Allah" yang dimaksud "Kyai" adalah orang-orang yang beriman (ahli surga). Hal ini berdasarkan salah satu firman Allah swt .
كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin:15).
Sedangkan bagi orang-orang yang beriman (ahli surga), maka mereka akan bertemu sekaligus melihat langsung sang pencipta (Allah swt). Hal ini berdasarkan firman Allah swt. :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Wajah-wajah (ahli surga) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23)
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. (QS. Yunus: 26)
Para ahli tafsir maupun ahli hadist semisal Ibnu Katsir, At-Thabary, Ar-Razi, Ath-Thahawi, Ash-Shabuny, Imam Syafi`i, Ibnu Huzaimah, Imam Ahmad dan lain-lain, baik saat ahli tafsir "mengupas` surat Yunus 26 mengenai lafadz "tambahannya", bahwa yang dimaksud dengan tambahan disurga itu adalah melihat Allah swt. Sedangkan tidak demikian dengan orang-orang kafir.
Begitu juga dalam beberapa hadits dijelaskan mengenai posisi orang-orang yang beriman bahwa mereka disamping akan dimasukkan ke dalam surganya Allah swt., mereka juga akan langsung melihat Allah swt.
Ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kamu yang (bisa) melihat Rabb-nya (Allah) Ta’ala sampai dia mati (di akhirat nanti).” (HSR. Muslim no. 169)
Dari Jarir ra beliau berkata: Kami sedang duduk-duduk bersama Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, lantas beliau memandang bulan purnama dan bersabda : “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, tidak terhalangi dalam melihatnya.” (Shahih Bukhari no. 7434, Kitab Tauhid, Bab Qauluhu wujuuhu yaumaidzin naadhirah ilaa rabbihaa naazhirah)
Dari Shuhaib bin Sinan ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca QS. Yunus ayat 26. ( Shahih Muslim no. 181). Allohu A`lam

Dikirim pada 23 Maret 2015 di Bab. Aqidah


Tanya : Assalamu`alaikum warahmatullahi wa barakatuh ... kami sekeluarga di Kuningan mendo`akan semoga ustadz Abu Alifa diberi kesehatan. Maaf ustadz, saya mendapatkan nasihat dari beberapa "sepuh" bahwa jangan melakukan hubungan badan di 3bulan kehamilan saya, yang jadi alasannya karena kebetulan hamil saya yang pertama dikhawatirkan terjadi keguguran. Sebenarnya dalam Islam itu bagaimana mengenai hal ini ustadz. Syukran TR Kuningan
Jawab : Wa`alaikumussalam wa rahmatullahi- wabaraokatuh ... Aamiin! Pada dasarnya tidak ada larangan dalam Islam suami istri melakukan hubungan (bercampur) saat istri hamil.Yang dilarang melakukan hubungan suami istri adalah manakala istri sedang dalam kondisi haidh atau nifas. Sekalipun kapan saja termasuk dalam kondisi hamil dibenarkan berhubungan, maka tentu kita (terutama suami) harus melihat kondisi sang istri diantaranya kesehatannya. Baik kesehatan istri maupun yang dikandungnya atau akibatnya. Apalagi jika menurut pemeriksaan ahli berhubungan itu akan mengakibatkan keberlangsungan janin.
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
"...Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf" (QS. Al-Baqarah: 228)
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
"...Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut". (An-Nisa`: 19)

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي .أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ.
Dari ummul-mukminin Aisyah rhadiyallahu anha berkata. Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (istri)nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)ku". (HR.Tirmidzi)
Sebaiknya konsultasikan dengan ahlinya jika ibu merasa khawatir dengan kondisi janin yang ada didalam rahim saat berhubungan. Hal tersebut untuk meyakinkan ibu, apakah akan ada efek samping jika melakukan hubungan dengan suami. Akan tetapi pada dasarnya dalam Islam tidak ada larangan melakukan hubungan (bercampur) dalam kondisi istri sedang hamil. Allohu A`lam

Dikirim pada 26 Februari 2015 di Bab. Nikah


Masih ingat kisah seorang ahli ibadah yang bernama Juraij?
“…. Juraij adalah seorang laki-laki ahli Ibadah, dia membangun sendiri tempat ibadahnya. Ceritanya, pada suatu hari di saat ia sedang solat ibunya memanggil, ‘Wahai Juraij.’ Juraij berkata, ‘Ya Rabbi, apakah akan saya jawab panggilan ibuku atau aku meneruskan solatku?’ Juraij meneruskan solatnya. Lalu ibunya pergi.
Keesokan harinya, Ibu Juraij datang ketika ia sedang solat lagi. Sang Ibu memanggil, ‘Wahai Juraij!’ Juraij mengadukan kepada Allah, ‘Ya Rabbi, aku memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan solatku?’ Ia meneruskan solatnya. Lalu ibunya pergi meninggalkan Juraij.
Pada pagi hari Ibu Juraij datang lagi, ketika itu Juraij sedang solat. Sang Ibu memanggil, ‘Wahai Juraij!’ Juraij berkata, ‘Ya Rabbi, aku memenuhi panggilan ibuku terlebih dahulu atau meneruskan solatku?’ Tetapi Juraij meneruskan solatnya.
Lalu Ibu Juraij bersumpah, ‘Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia, sehingga ia melihat pelacur!’Orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut ketekunan ibadah Juraij.
Dan tersebutlah dari mereka seorang pelacur yang sangat cantik berkata, ‘Jika kalian menghendaki, aku akan memberinya fitnah.
Perempuan tersebut lalu mendatangi Juraij dan menggodanya. Tetapi Juraij tidak memperdulikannya. Lalu pelacur tersebut mendatangi seorang penggembala yang sedang berteduh di dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya ia berzina dan hamil.
Tatkala ia melahirkan seorang bayi. Orang-orang bertanya, ‘Bayi ini hasil perbuatan siapa?’ Pelacur itu menjawab, ‘Juraij’. Maka mereka mendatangi Juraij dan memaksanya keluar dari tempat ibadahnya. Selanjutnya mereka memukuli Juraij, mencaci maki dan merobohkan tempat ibadahnya.
Juraij bertanya, ‘Ada apa ini, mengapa kalian perlakukan aku seperti ini?.’ Mereka menjawab, ‘Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi.’ Ia bertanya, ‘Di mana sekarang bayi itu?’ Kemudian mereka datang membawa bayi tersebut.
Juraij berkata, ‘Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan solat!’ Lalu Juraij solat. Selesai solat Juraij menghampiri sang bayi lalu mencoleknya di perutnya seraya bertanya, ‘Wahai bayi, siapakah ayahmu?’ Sang bayi menjawab, ‘Ayahku adalah seorang penggembala.’

Serta merta orang-orang pun berhambur, menciumi dan meminta maaf kepada Juraij. Mereka berkata, ‘Kami akan membangun kembali tempat ibadah untukmu dari emas!’ Juraij menjawab, ‘Jangan! Cukup dari tanah saja sebagaimana semula.’ Mereka lalu membangun tempat ibadah sebagaimana yang dikehendaki Juraij….. (Bukhary Muslim dari Abi Hurairah)
Sengaja saya kutip kisah diatas sebagai gambaran orang yang shalih, ahli ibadah dan tentu ahli dakwah. Akan tetapi ia tidak menyadari bahwa disekelilingnya ternyata ada banyak orang atau mungkin kelompok yang merasa tersakiti, bahkan mungkin juga merasa terdzolimi oleh sikap orang shalih tersebut. Sekalipun orang shalih itu tidak bermaksud untuk mendzalimi atau menyakiti orang disekitarnya. Bukankah do’a yang terdzalimi dan orang tua itu tak terhalang??? Mungkinkah ada seorang “Juraij Baru” di Indonesia? Bercerminlah dari Juraij ya akhina ….!

Dikirim pada 21 Februari 2015 di IBRAH


DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah I Pasca Muktamar XIII
Di PC Persis Lembang, 02 R. Awwal 1427 H
01 April 2006 M

Tentang :
"KONSEP AL-KHILAFAH AL-ISLAMIYYAH"

بسم الله الرحمن الرحيم

Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah :

MENGINGAT :

1. Firman Allah tentang khalifah, antara lain :


وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".Q.s.Al-Baqarah : 30

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. QS.Shad :26


2. Hadis-hadis Rasulullah tentang kepemimpinan, anatara lain

عن ابن عباس عن النبي ص قال من كره من أميره شيئا فليصبر فإنه من خرج من السلطان شبرا مات ميتة جاهلية -رواه البخاري-

Dari Ibnu Abbas, dari Nabi saw bersabda, "Siapa yang tidak menyukai sesuatu dari pemimpinnya, maka bersabarlah, karena siapa yang keluar dari sulthan walaupun sejengkal, maka ia mati seperti matinya jahiliyyah". H.r.Bukhari

MENDENGAR :

1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Shalehuddin
2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis K.H.Drs.Shiddiq Amien MBA
3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh K.H.Dr.M.Abdurrahman
4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut diatas

MENIMBANG :

1. Perlu kejelasan konsep khilafah didalam penegakkan syariat Islam yang meliputi prinsip khilafah, karakteristik khilafah, dan sistem kekuasaannya

2. Perlu ketegasan tentang
a. Kedudukan khilafah dalam syariat Islam antara ta`abbudi dan ta;aqquli (ijtihad)
b. Wilayah/lingkup kekuasaan/kewenangan khalifah antara hirasat al-Dien (melindungi agama) dan siyasat al-dunya (mengatur dunia)
c. Hukum menegakkan khilafah atau al-imamah al-uzhma

Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBAT :

1. Subtansi dari khilafah adalah penegakkan syariat Islam
2. Khalifah atau al-Imam al-a`zham adalah pemegang kekuasaan dalam hirasatud-din (melindungi agama) wa siyasatud-dunya (mengatur dunia)
3. Cara pemilihan khalifah atau al-imam al-a`zham adalah melalui syura
4. Sumber hukum dalam sistem khilafah atau al-imamah al-uzhma adalah al-Quran dan al-Sunnah
5. Hukum menegakkan khilafah atau al-imamah al-uzhma adalah wajib

Demikian keputusan khilafah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.
الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإ سلام و المسلمين

Bandung, 02 Rabi`ul Awwal 1427
01 A p r i l 2006

Ketua Sekretaris
ttd ttd

K.H.Usman Shalehuddin HM.Rahmat Najieb S.Pd

Dikirim pada 04 Februari 2015 di KAJIAN UTAMA


Tanya : Assalamu`alaikum … pak ustadz Abu yang saya hormati. Didaerah tempat saya tinggal, ada kebiasaan atau tradisi menguburkan ari-ari (plasenta) bayi yang baru lahir didepan rumah dan memberikan lampu (penerangan) dimalam harinya dengan lentera atau lilin sampai beberapa hari. Hal itu mereka yakini (terutama orang tua), jika tidak dipasang lampu, akan menyebabkan hati bayi tersebut menjadi gelap. Bagaimana sebenarnya menurut pandangan syariat Islam. Wassalam JAT Jawa Tengah
Jawab : Wa`alaikumussalam … mengubur ketuban tidak ada masalah dalam syariat Islam. Bahkan sebagian ulama memandang sunnat, seperti halnya dalam kitab Nihayatu al-Muhtaj bab Menguburkan Mayat. Bahkan dalam Hasil Musyawarah Bahtsul Matsa’il NU tentang Mengubur Ari-Ari bahwa mengubur ari-ari disunnahkan.
Dalam kitab Nihayatul Muhtaj
وَيُسَنُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ حَالاًّ أَوْ مِمَّنْ شَكَّ فِي مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ ، وَدَمِ نَحْوِ فَصْدٍ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا.
“Dan disunnahkan mengubur anggota badan yang terpisah dari orang yang masih hidup dan tidak akan segera mati, atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, ‘alaqah (gumpalan darah), dan darah akibat goresan, demi menghormati orangnya”
Sedangkan memberikan wewangian, bunga, kunyit, lampu dan bawang hukumnya haram karena termasuk idla’atul mal. Sedangkan peletakan jenang merah dipojok pembakaran batu bata hukumnya haram. Akan tetapi, jika hal itu dikaitkan dengan kepercayaan atau keyakinan, seperti halnya yang ibu sebutkan, maka tentu ini menyalahi syariat Islam.
Artinya kebiasaan memberikan penerangan dengan memasang lampu ataupun menabur bunga-bunga diatas timbunan ketuban atau ari-ari bayi yang dikubur, jelas tidak dikenal dalam ajaran Islam. Apalagi meyakini bahwa jika tidak dikasih lampu penerangan, maka hati bayi yang dilahirkan gelap. Sebab adat atau kebiasaan yang diperbolehkan menurut syara’ adalah sejauh tidak ada unsur tathayyur, istizlam, idla’atul mal yang tidak ada tujuan yang benar. Jika meyakini bahwa lampu atau tabur bunga ada kaitannya dengan kepercayaan terhadap sesuatu, hal seperti itu jelas termasuk kedalam katagori perbuatan syirik. Allohu A`lam

Dikirim pada 01 Februari 2015 di Bab. Aqidah


DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM
Pada Sidang Dewan Hisbah II Pasca Muktamar XIII
Di PC Persis Banjaran, 03 Rabi`uts Tsani 1428 H
21 April 2007 M
بسم الله الرحمن الرحيم
Tentang :
"HUKUM JUM`AT BAGI MUSAFIR"
Dewan Hisbah Persatuan islam setelah :
MENGINGAT :
1. Firman Allah tentang wajib Jum`at
ياايها الذين امنوا ءاذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا ءالى ذكر الله وذروا البيع ذلكم خير لكم ءان كنتم تعلمون
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Q.S. Al-Jumu`ah : 9
2. Hadis Rasulullah saw. tentang golongan yang dikecualikan dari kewajiban Jum`at

عن طارق بن شهاب عن النبى ص قال الجمعة حق واجب على كل مسلم فى جماعة إلا أربعة عبد مملوك او امرأة أو صبي أو مريض
Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi saw. beliau bersabda, "Jum`at itu hak yang wajib bagi setiap muslim secara berjama`ah kecuali empat golongan; hamba sahaya, perempuan, anak-anak, dan yang sakit. H.R. Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 347
3. Hadis yang menerangkan bahwa pada saat wukuf yang jatuh pada hari Jum`at di Arafah Rasulullah saw. shalat zhuhur dijama` dengan ashar
فأجاز حتى أتى عرفة فوجد القبة قد ضربت له بنمرة فنزل بها حتى إذا زاغت الشمس أمر بالقصواء فرحلت له فأتى بطن الوادي فخطب الناس ثم أقام فصلى الظهر ثم أقام فصلى العصر ولم يصل بينهما شيئا ...
"... Selanjutna beliau berangkat hingga sampai di Arafah, maka beliau menemukan tenda yang telah dibangun untuknya di Namirah, kemudian beliau singgah di namirah, sehingga tatkala tergelincir matahari, beliau menyuruh dibawakan Qaswa (unta beliau), kemudian unta itu diserahkan padanya. Selanjutnya beliau sampai dilembah, terus beliau memberi hutbah pada manusia, kemudian dikumandangkan adzan selanjutnya iqamat, terus beliau shalat Dzuhur, kemudian iqamat, dan terus shalat Ashar, serta beliau tidak shalat apapun diantara kedua salat itu. H.R. Muslim, Shahih Muslim, II : 886
4. Hadis Ibnu Umar yang melaksanakan Jum`at ketika safar sebagai berikut :
عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ كَانَ إِذَا كَانَ بِمَكَّةَ فَصَلَّى الْجُمُعَةَ تَقَدَّمَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ تَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعًا وَإِذَا كَانَ بِالْمَدِينَةِ صَلَّى الْجُمُعَةَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى بَيْتِهِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَلَمْ يُصَلِّ فِي الْمَسْجِدِ فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَفْعَلُ ذَلِكَ
Dari Atha, dari Ibnu Umar, ia berkata, "Beliau (Ibnu Umar) berada di Mekah, lalu shalat Jum`at, (setelah selesai) ia melangkah ke depan untuk shalat sunat dua raka`at, kemudian melangkah kedepan untuk shalat sunat empat raka`at. Dan bila berada di Madinah ia shalat Jum`at, lalu kembali ke rumahna, maka salat dua rakaat dan tidak shalat dimasjid. Maka ditanyakan kepadanya, lalu ia berkata, "Rasulullah saw melakukan hal itu (salat sunat ba`da Jum`at di rumahnya)". H.R. Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 363
5. Hadis tentang Ibnu Umar ang tidak melaksanakan Jum`at ketika safar sebagai berikut :
عن نافع أن ابن عمر ض ذكرله أن سعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل وكان بدريا مرض فى يوم جمعة فركب إليه بعد أن تعالى النهار واقتربت الجمعة و ترك الجمعة
Dari Nafi` sesungguhnya Ibnu Umar diterangkan kepada beliau bahwa Sa`id bin Zaid bin Amr bin Nufel, dan ia orang Badar, sakit pada hari Jum`at. lalu Ibnu Umar berangkat untuk menengoknya menjelang siang, dan telah dekat waktu Jum`at, dan Ibnu Umar tidak melaksanakan Jum`at. H.R. Bukhari, Fathul Bari, VII : 360, No. 3991
MENDENGAR :
1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Shalehudin
2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis K.H.Drs. Shiddiq Amien, MBA
3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh K.H. Luthfi Abdullah Ismail,Lc
4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut diatas
MENIMBANG :
1. Keputusan Dewan Hisbah tahun 2001 yang beristinbath bahwa "Musafir tidak dikecualikan dari kewajiban Jum`at"
2. Hadis-hadis tentang empat golongan ang dikecualikan dari wajib jum`at adalah sahih
3. Hadis-hadis tentang musafir yang dikecualikan dari wajib Jum`at semuanya daif
4. Wukuf di Arafah terjadi pada hari Jum`at, 9 Dzulhijjah tahun 10 H dan Nabi melaksanakan salat zhuhur dan ashar dijama dan diqashar
5. Ada pemahaman wukuf Nabi di Arafah terjadi pada hari Sabtu, 10 Dzulhijjah tahun 10 H. Dengan demikian, pada hari Jum`at Nabi berada di Mina dan beliau melaksanakan salat zhuhur dan Ashar bukan salat Jum`at.
6. Ada pemahaman bahwa musafir tidak wajib jum`at karena tidak ditemukan keterangan Nabi saw salat Jum`at waktu safar termasuk waktu pelaksanaan haji.
7. Tidak ditemukan satu keteranganpun selama Nabi melakukan safar haji atau lainnya melakukan Jum`at.
8. Ditemukan keterangan bahwa Ibnu Umar salat Jum`at ketika safar di Mekah.
9. Ditemukan keterangan bahwa Ibnu Umar ketika menjenguk yang sakit di Badar tidak melaksanakan Jum`at.
10. Orang yang sedang melaksanakan ibadah haji adalah musafir.
11. Perlu dipertegas kembali tentang hukum jum`at bagi musafir
Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan islam
MENGISTINBATH :
1. Merevisi keputusan Dewan Hisbah tahun 2001 yang menetapkan bahwa "Musafir tidak dikecualikan dari kewajiban Jum`at"
2. Musafir boleh tidak melaksanakan Jum`at
3. Musafir yang tidak melaksanakan Jum`at wajib salat zhuhur.
Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.
الله ياءخذ باءيدينا الى ما فيه خير للاء سلام و المسلمين
Bandung, 03 R. Tsani 1428 H
21 A p r i l 2007 M
Ketua Sekretaris
ttd ttd
KH.Usman Shalehuddin KH.Wawan Shofwan Sh
NIAT : 05336 NIAT : 30400

Dikirim pada 30 Januari 2015 di KAJIAN UTAMA


E. Shalat Nafilah (Sunat) Bagi Musafir
Mengenai shalat sunat yang dilakukan oleh musafir (orang yang dalam perjalanan) maka ada perbedaan diantara ulama tentang hukum tersebut. Diantaranya :
1. Disyariatkan secara mutlaq
Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak mengapa dan tidak makruh shalat nafilah/ tathawwu’ bagi musafir yang mengqashar shalatnya, baik nafilah yang merupakan sunnah rawatib (qobliyah dan ba’diyah) maupun yang lainnya.
وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- : أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ اَلظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلْغَدَاةِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ
Dari `Aisyah Radliyallaahu`anha bahwa Nabi Shallallaahu `alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkan (sholat sunat) empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh. (Riwayat Bukhari)
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي التَّطَوُّعَ وَهْوَ رَاكِبٌ فِي غَيْرِ الْقِبْلَةِ‏
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu`aim berkata, telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Muhammad bin `Abdurrahman bahwa Jabir bin `Abdullah telah mengabarkan kepadanya bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam mendirikan shalat sunnat sambil mengendarai hewan tunggangannya dalam keadaan tidak menghadap qiblat (Shahih al-Bukhari 1094)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، أَنَّ عَامِرَ بْنَ رَبِيعَةَ، أَخْبَرَهُ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ، يُومِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ‏
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari `Uqail dari Ibnu Syihab dari `Abdullah bin `Amir bin Rabi`ah bahwa `Amir bin Rabi`ah mengabarkannya berkata: "Aku melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di atas hewan tunggangannya bertasbih dengan memberi isyarat dengan kepala beliau kearah mana saja hewan tunggangannya menghadap. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam tidak pernah melakukan seperti ini untuk shalat-shalat wajib (al-Bukhari 1097)
حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ، قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ‏
Telah menceritakan kepada kami Mu`adz bin Fadhalah berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Muhammad bin `Abdurrahman bin Tsauban berkata, telah menceritakan kepada saya Jabir bin `Abdullah, bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam mendirikan shalat diatas hewan tunggangannya menghadap ke Timur. Jika Beliau hendak melaksanakan shalat wajib, maka Beliau turun dan melaksanakannya dengan menghadap qiblat (Sahih al-Bukhari 1099)
حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ، قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، قَالَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ وَيُوتِرُ عَلَيْهَا، وَيُخْبِرُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَفْعَلُهُ‏
"...dari Nafi` berkata; Ibnu `Umar radliallahu `anhumaa pernah mengerjakan shalat diatas hewan tunggangannya dan juga shalat witir dan dia mengabarkan bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam mengerjakannya pula (Shahih Bukhary)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، قَالَ‏:‏ مَا أَخْبَرَنِي أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الضُّحَى إِلا أُمُّ هَانِئٍ، فَإِنَّهَا حَدَّثَتْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ فَسَبَّحَ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ مَا رَأَيْتُهُ صلى الله عليه وسلم، صَلَّى صَلاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ‏
"... Dari Abdurrahman bin Abi Laily berkata :Tidak ada yang memberi tahu saya bahwa bahwa ia telah melihat Nabi saw melakukan dhuha selain Ummi Haani. Dia menceritakan bahwa Rasulullah saw datang ke rumahnya di hari Makkah ditaklukkan. Beliau mandi, kemudian shalat delapan rakaat. Dan aku belum pernah melihat Rasulullah saw melakukan shalat-pun lebih ringan dari ini, meskipun dia melakukan setiap ruku` dan sujud dengan sempurna. (Sunan Abu Dawud)
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي سُبْحَتَهُ حَيْثُمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ نَاقَتُهُ
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat sunnah kemana pun untanya menghadap” (HR. Muslim 33).
Bahkan Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membuat judul “bab bolehnya shalat sunnah di atas binatang tunggangan dalam safar kemana pun binatang tersebut menghadap“.
أن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كان يوترُ على البعيرِ
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat witir di atas unta” (HR. Al Bukhari 999, Muslim 700).

2. Tidak Disyari`atkan Secara Mutlaq
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، أَنَّ حَفْصَ بْنَ عَاصِمٍ، حَدَّثَهُ قَالَ سَافَرَ ابْنُ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ فَقَالَ صَحِبْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ أَرَهُ يُسَبِّحُ فِي السَّفَرِ، وَقَالَ اللَّهُ جَلَّ ذِكْرُهُ ‏{‏لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ‏}‏‏.‏
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Wahb berkata, telah menceritakan kepada saya `Umar bin Muhammad bahwa Hafsh bin `Ashim menceritakan kepadanya berkata; " Ibnu `Umar radliallahu `anhumaa mengadakan perjalanan lalu berkata: "Aku pernah menemani Nabi shallallahu `alaihi wasallam dan aku tidak melihat Beliau melaksanakan shalat sunnah dalam safarnya". Dan Allah subhanahu wata`ala telah berfirman: "Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu"(QS. Ahzab 21). Shahih Bukhary

وَحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، سَمِعَ حَفْصَ بْنَ عَاصِمٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى صَلاَةَ الْمُسَافِرِ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ ثَمَانِيَ سِنِينَ أَوْ قَالَ سِتَّ سِنِينَ ‏.‏ قَالَ حَفْصٌ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُصَلِّي بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَأْتِي فِرَاشَهُ ‏.‏ فَقُلْتُ أَىْ عَمِّ لَوْ صَلَّيْتَ بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ ‏.‏ قَالَ لَوْ فَعَلْتُ لأَتْمَمْتُ الصَّلاَةَ
"... Dari Ibn Umara berkata : Nabi saw pernah shalat di Mina (yaitu) shalat musafir (qashar), (begitu juga) Abu Bakar, Umar, dan Usman melakukannya selama 8 tahun atau enam tahun. Berkata Hafs (perawi), "dan keadaan Ibnu Umar juga shalat di Mina dua rakaat kemudian kembali ke tempat istirahatnya. Maka Aku (Hafs) berkata kepadanya (Ibnu Umar), Hai paman, (saya berharap) engkau shalat dua rakaat sesudahnya. Ibnu Umar mengatakan : "Kalau aku melakukan shalat sunat sesudahnya, tentu aku melakukan shalat wajibnya sempurna (empat rakaat). Shahih Muslim 694
Ibnu al-Qayyim mengatakan : “Hal itu merupakan bentuk pemahaman Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma yang mendalam. Karena Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi telah memberikan keringanan kepada musafir untuk mengerjakan dua raka’at saja dari shalat empat raka’at. Seandainya disyari’atkan lagi dua raka’at sebelum dan sesudahnya, maka sepatutnya menyempurnakan shalat fardhu yang diqashar. Dan seandainya disyariatkan shalat sunnat sebelum dan sesudahnya maka yang lebih patut dikerjakan adalah menyempurnakan shalat fardhu (tidak mengqasharnya) (Zaadu al-Ma’aad I/316)

3. Tidak Disyari`atkan Sunnat Rawatib Kecuali Shubuh & Sunnat Yang Lain.

Shalat sunnat Rawâtib Subuh termasuk shalat sunnat yang paling ditekankan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya dan tidak meninggalkannya, baik saat bepergian ataupun tidak.
Di antara dalil yang menunjukkannya, yaitu hadits Abu Maryam yang berbunyi:
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَسْرَيْنَا لَيْلَةً فَلَمَّا كَانَ فِي وَجْهِ الصُّبْحِ نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَامَ وَنَامَ النَّاسُ فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا بِالشَّمْسِ قَدْ طَلَعَتْ عَلَيْنَا فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤَذِّنَ فَأَذَّنَ ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ

Kami dahulu pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, lalu kami berjalan saat malam hari. Ketika menjelang waktu Subuh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti dan tidur, dan orang-orang pun ikut tidur. Beliau tidak bangun kecuali matahari telah terbit. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan muadzin (untuk beradzan), lalu ia pun mengumandangkan adzan. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka`at sebelum shalat Subuh, kemudian memerintahkan sang muadzin beriqamah, lalu beliau mengimami orang-orang (shalat Subuh). (HR an-Nasâ-i, kitab al-Mawaqif, Bab: Kaifa Yaqdhi al-Fâit minash-Shalat, no. 605. Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan an-Nasâ-i. Syaikh berkata, "Shahîh dengan hadits Abu Hurairah ra)
Demikian juga Imam al-Bukhâri telah menyebutkan dalam Shahihnya (Kitab al-Jum`at) memuat secara khusus, yaitu :
بَاب مَنْ تَطَوَّعَ فِي السَّفَرِ فِي غَيْرِ دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَقَبْلَهَا وَرَكَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي السَّفَرِ

(Bab orang yang melakukan shalat tathawu` (sunnah) dalam perjalanan pada selain waktu sesudah dan sebelum shalat fardhu (Rawâtib), dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dua rakaat al-Fajr dalam safarnya (bepergiannya)

Ibnu al-Qayyim berkata,"Di antara petunjuk yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safarnya, yaitu (beliau) mencukupkan diri dengan melaksanakan shalat yang fardhu, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui melakukan shalat Sunnah Rawâtib sebelum dan sesudah shalat fardhu kecuali shalat witir dan Sunnah Rawâtib Subuh, karena beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat itu, baik saat muqîm (tidak sedang bepergian) maupun saat bepergian".(Zâdu al-Ma`ad 1/456)
Hal ini, juga sebagaimana pernyataan `Aisyah ra:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللّه عَنْهُمَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ. أخرجه الشيخان
Dari `Aisyah Radhiyallahu anhuma , ia berkata, "Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat Sunnah yang dilakukan secara terus-menerus melebihi dua rakaat (shalat Rawatib) Subuh".(HR al-Bukhari Muslim

reureuh heula...(bersambung)!

Dikirim pada 22 Januari 2015 di KAJIAN UTAMA


D. "Hisbah" Para Shahabat Tentang Qashar
1. IBNU ABBAS RA

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، وَحُصَيْنٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ أَقَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم تِسْعَةَ عَشَرَ يَقْصُرُ، فَنَحْنُ إِذَا سَافَرْنَا تِسْعَةَ عَشَرَ قَصَرْنَا، وَإِنْ زِدْنَا أَتْمَمْنَا‏



Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma`il berkata, telah menceritakan kepada kami Abu `Awanah dari `Ashim dari Hushain dari `Ikrimah dari Ibnu `Abbas radliallahu `anhuma berkata: "Nabi shallallahu `alaihi wasallam pernah menetap (dalam bepergian) selama sembilan belas hari dengan mengqashar (meringkas) shalat. Maka kami bila bepergian selama sembilan belas hari mengqashar solat. Bila lebih dari itu, kami menyempurnakan shalat. (Shahih Bukhary "Kitabu al-Taqshir")

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَابْنُ، بَشَّارٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ مُوسَى بْنِ سَلَمَةَ الْهُذَلِيِّ، قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ أُصَلِّي إِذَا كُنْتُ بِمَكَّةَ إِذَا لَمْ أُصَلِّ مَعَ الإِمَامِ ‏.‏ فَقَالَ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ أَبِي الْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم

"...Aku (Musa bin Salamah) pernah bertana kepada Ibnu Abbas, bagaimana kaifiyat (jika) aku shalat di Makkah jika tidak berjamaah (dengan penduduk/Imam Makkah)? Beliau (Ibn Abbas) menjawab : (Shalatlah) dua rakaat, sebab itu merupakan sunnah Abi Qasim (Nabi) saw. (Shahih Muslim bab Shalat Musafirin wa Qashriha)

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ سَافَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَفَرًا فَصَلَّى تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنٍ ‏.‏ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَنَحْنُ نُصَلِّي فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ تِسْعَ عَشْرَةَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فَإِذَا أَقَمْنَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا

"...Dari Ibnu Abbas ra, berkata. Rasululllah saw telah berangkat dalam satu bepergian, maka beliau shalat (tidak hentinya) dua rakaat-dua rakaat selama 19 hari. Berkata (berpendapat) Ibnu Abbas , "Maka kami jika shalat (dalam safar) sampai 19 hari, kami shalat dua rakaat-dua rakaat, tapi lebih dari itu, maka (selebihnya) kami shalat 4 rakaat (Jami` at-Tirmidhi 548)

2. IBNU UMAR RA

أَخْبَرَنِي أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا الْعَلاَءُ بْنُ زُهَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا وَبَرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُصَلِّي قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا ‏.‏ فَقِيلَ لَهُ مَا هَذَا قَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ

Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Yahya dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Nu`aim dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al `Ala bin Zuhair dia berkata; telah menceritakan kepada kami Wabarah bin `Abdurrahman dia berkata; "Shalat Ibnu Umar dalam Safar (perjalanan) tidak pernah melebihi dua raka`at, dan dia tidak mengerjakan shalat sunnah sesudah maupun sebelumnya. Lalu Ibnu Umar ditanya, "Apa ini? ` Ia menjawab; `Begitulah, aku melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam melakukannya (Sunan An-Nasa`i 1456)

أَخْبَرَنِي نُوحُ بْنُ حَبِيبٍ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ، كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ فِي سَفَرٍ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى طِنْفِسَةٍ لَهُ فَرَأَى قَوْمًا يُسَبِّحُونَ قَالَ مَا يَصْنَعُ هَؤُلاَءِ قُلْتُ يُسَبِّحُونَ ‏.‏ قَالَ لَوْ كُنْتُ مُصَلِّيًا قَبْلَهَا أَوْ بَعْدَهَا لأَتْمَمْتُهَا صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى الرَّكْعَتَيْنِ وَأَبَا بَكْرٍ حَتَّى قُبِضَ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ - رضى الله عنهم - كَذَلِكَ

Telah mengabarkan kepadaku Nuh bin Habib dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa`id dia berkata; telah menceritakan kepada kami `Isa bin Hafsh bin `Ashim dia berkata; bapakku telah menceritakan kepadaku, dia berkata; "Aku pernah bersama Ibnu Umar dalam suatu perjalanan. Dia mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar dua raka`at, kemudian pergi ke tikarnya. Setelah itu ia melihat suatu kaum yang sedang bertasbih, maka dia berkata, `Apa yang sedang mereka perbuat? ` Aku menjawab, `Mereka sedang bertasbih`. Dia berkata lagi, `Seandainya aku shalat sebelum dan sesudahnya, maka aku pasti menyempurnakannya. Aku pernah menemani Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, dan beliau dalam perjalanan tidak pernah shalat lebih dari dua raka`at. Begitu pula Abu Bakar hingga wafat, Umar, serta Utsman Radliallahu`anhum (Sunan An-Nasa`i 1457)


وقال النافع : أقام ابن عمر بأدربيجان ستة أشهر يصلى ركعتين وقد حال الثلج بينه و بين الدخول

Nafi` berkata : Ibnu Umar pernah menetap di Adribaizan selama enam bulan, ia senantiasa shalat dua rakaat, ia terhalang salju saat mau memasukinya (A.Zakaria Al-Hidayah h.8)



3. ABU BAKAR, UMAR & UTSMAN RA

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَمَعَ عُثْمَانَ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ ثُمَّ أَتَمَّهَا‏

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari `Ubaidullah berkata, telah mengabarkan kepada saya Nafi` dari `Abdullah bin `Umar radliallahu `anhuma berkata: "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu `alaihi wasallam di kota Mina dua raka`at. Begitu juga ketika aku shalat bersama Abu Bakar, `Umar dan juga bersama `Utsman pada awal pemerintahannya. Namun beliau di kemudian hari menyempurnakannya (empat raka`at) (Bukhary Bab Shalat bi Mina)


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ بَعْدَهُ وَعُمَرُ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ وَعُثْمَانُ صَدْرًا مِنْ خِلاَفَتِهِ ثُمَّ إِنَّ عُثْمَانَ صَلَّى بَعْدُ أَرْبَعًا ‏.‏ فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ صَلَّى أَرْبَعًا وَإِذَا صَلاَّهَا وَحْدَهُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

"...Dari Ibn Umar berkata : Nabi saw shalat di Mina dua rakaat, begitupun (masa) Abu Bakar, Umar juga Ustman di awal pemerintahannya. Namun setelah itu Ustman shalat (di Mina) empat rakaat. Maka keadaan (pendapat) Ibnu Umar "jika ia shalat berjamaah (dg Ustman) ia shalat empat rakaat, tapi jika menyendiri ia shalat dua rakaat (Shahih Muslim)

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، عَنِ الأَعْمَشِ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ، قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَزِيدَ، يَقُولُ صَلَّى بِنَا عُثْمَانُ بِمِنًى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَقِيلَ ذَلِكَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ فَلَيْتَ حَظِّي مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَانِ مُتَقَبَّلَتَانِ

"...Aku (Ibrahim) pernah mendengar Abdurrahman bin Yazid berkata : Ustman pernah shalat bersama kami di Mina empat rakaat, lalu aku tanyakan hal tersebut (tentang shalat empat rakaat) kepada Abdullah bin Mas`ud. Lantas (Abdullah bin Mas`ud) istirja`, beliau berkata : Aku pernah shalat bersama Rasul saw di Mina (hanya) dua rakaat, begitupun ketika aku shalat bersama Abu Bakar Shiddiq di Mina dua rakaat, begitu juga bersama Umar shalat di Mina dua rakaat. Semoga baik yang empat atau yang dua rakaat (Alloh) menerimanya. (Shahih Muslim)


أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ بُكَيْرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُثْمَانَ رَكْعَتَيْنِ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ

"....Dari Anas bin Malik ia berkata; "Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di Mina. Juga pernah bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman pada awal pemerintahannya (Sunan an-Nasa`i 1446)


أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ أَنْبَأَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ - رضى الله عنه - رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُمَرَ - رضى الله عنه - رَكْعَتَيْنِ

"....Dari Ibnu `Umar dia berkata; "Aku pernah shalat dua raka`at bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di Mina. Aku juga shalat dua raka`at bersama Abu Bakar Radliallahu`anhu dan Umar Radliallahu`anhu."( Sunan an-Nasa`i 1449)

4. `AISYAH RA

أَخْبَرَنِي أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الصُّوفِيُّ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا الْعَلاَءُ بْنُ زُهَيْرٍ الأَزْدِيُّ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا اعْتَمَرَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ حَتَّى إِذَا قَدِمَتْ مَكَّةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي قَصَرْتَ وَأَتْمَمْتُ وَأَفْطَرْتَ وَصُمْتُ ‏.‏ قَالَ ‏ "‏ أَحْسَنْتِ يَا عَائِشَةُ ‏"‏ ‏.‏ وَمَا عَابَ عَلَىَّ
Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Yahya Ash Shufi dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Nu`aim dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al `Alaa bin Zuhair Al Azdi dia berkata; telah menceritakan kepada kami `Abdurrahman bin Al Aswad dari `Aisyah bahwasanya ia melaksanakan umrah bersama Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wa Sallam dari Madinah ke Makkah. Tatkala sampai di Makkah Aisyah berkata; Wahai Rasulullah, demi Bapak dan Ibuku, bagaimana engkau mengqashar shalat padahal aku menyempurnakan shalatku, dan engkau berbuka sedangkan aku berpuasa? Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wa sallam menjawab: Engkau telah berbuat baik wahai ` Aisyah, namun aku pun tidak tercela. (Sunan an-Nasa`i 1455)


عن عائشة قالت : خرجت مع النبى ص م فى عمرة رمضان فأفطر وصمت وقصر وأتممت فقلت بأبى وأمى, أفطرت وصمت وقصرت وأتممت, فقال: أحسنت يا عائشة ـرواه الدارقطنىـ

Dari Aisyah berkata : Aku pernah keluar bersama Nabi dalam Umrah Ramadhan, lalu Nabi berbuka sedangkan saya tetap shaum. Begitu juga Nabi mengqashar sedangkan saya menyempurnakannya (empat rakaat). Lalu aku bertanya kepadanya, "Demi ayah dan ibuku! Engkau berbuka dan saya tetap shaum, engkau mengqashar, sedangkan saya sempurna (empat rakaat)". Nabi bersabda : "Engkau hebat (bagus) wahai Aisyah". (HR.Ad-Daruqutni, A.Zakaria dalam Al-Hidayah)
5. ANAS BIN MALIK RA

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا، يَقُولُ خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ، فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ‏.‏ قُلْتُ أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا قَالَ أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا‏


Telah menceritakan kepada kami Abu Ma`mar berkata, telah menceritakan kepada kami `Abdul Warits berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq berkata; Aku mendengar Anas radliallahu `anhu berkata: "Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu `alaihi wasallam dari kota Madinah menuju kota Makkah, selama kepergian itu Beliau melaksanakan shalat dua raka`at dua raka`at hingga kami kembali ke Madinah. Aku tanyakan: `Berapa lama kalian menetap di Makkah?" Dia menjawab: "Kami menetap disana selama sepuluh hari (Shahih al-Bukhari 1081)


وقال حفص بن عبيد الله : أقام أنس بن مالك بالشام سنتين يصلى صلاة المسافر

Hafsha bin Ubaidillah berkata : Anas bin Malik pernah menetap di Syam selama dua tahun, ia melakukan shalat safar (qashar). (Al-Hidayah A.Zakaria h.9)

وقال أنس : أقام أصحاب النبي ص م برام هرمز سبعة أشهر يقصرون الصلا ة
Anas berkata : Para shahabat Nabi saw pernah menetap di Rum Hurmuz selama tujuh bulan, mereka menqashar shalatnya (Ibid)

Bersambung...!

Dikirim pada 20 Januari 2015 di Bab. Sholat


Tanya : Assalamu`alaikum wr.wb. saya mohon penjelasan hukuman mati bagi yang sedang hamil dalam Perspektif Islam. Thanks stad!
Jawab : Wa`alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh ... Sekalipun wanita itu sedang hamil, maka proses hukum tetap dilakukan. Hanya saja eksekusi mati (jika hukuman mati), harus menunggu hak hidup yang sedang dikandungnya. Dengan kata lain wanita untuk tetap dihukum mati setelah melahirkan.
Hal ini-pun pernah terjadi pada masa Rasulullah saw.
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ { أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حُبْلَى مِنْ الزِّنَا – فَقَالَتْ : يَا نَبِيَّ اللَّهِ ، أَصَبْت حَدًّا ، فَأَقِمْهُ عَلَيَّ ، فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَّهَ.
فَقَالَ : أَحْسِنْ إلَيْهَا ، فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي بِهَا فَفَعَلَ .
فَأَمَرَ بِهَا فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ .
ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا ، فَقَالَ عُمَرُ : أَتُصَلِّي عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ ؟ فَقَالَ : لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِّمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ ، وَهَلْ وَجَدْت أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى } ؟ رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Imran bin Hushain, bahwa ada seorang perempuan dari juhainiyah (nama sebuah suku) datang ketempat Rasulullah saw dalam keadaan hamil karena zina. Lalu ia berkata, Ya Rasulullah aku telah berbuat pelanggaran, maka laksanakanlah hukuman itu atasku. Lalu Nabi saw. Memanggil walinya, seraya bersabda, “Peliharalah perempuan ini dengan baik, dan jika ia telah melahirkan, maka bawalah kemari”. Kemudian walinya itu mengerjakannya. Kemudian oleh Rasulullah saw. Diperintahkan supaya pakaiannya diikat rapat, lalu diperintahkan untuk dirajam, kemudian dishalati. Kemudian Umar menyanggah Rasulullah saw, apakah engkau akan menshalatinya, ya Rasulullah paadahal dia berzina? Jawab Rasulullah, “sungguh-sungguh dia telah bertaubat, yang andaikata taubatnya itu dibagi kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya akan mencukupinya. Taukah engkau orang yang lebih utama selain orang yang memperbaiki dirinya karena Allah?” (HR Muslim).
Hadits diataspun menjelaskan bahwa sekalipun wanita itu sudah melanggar (melakukan kesalahan), namun tetap harus diperlakukan dengan baik, seperti perintah Nabi saw kepada walinya. Disamping itu ketika melakukan eksekusi, maka tentu harus menutupi auratnya dan tidak boleh seenaknya memperlakukan yang akan dikenakan hukuman mati itu. Allohu A`lam

Dikirim pada 19 Januari 2015 di ABU ALIFA SHIHAB MENJAWAB :
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.858.141 kali


connect with ABATASA