close
close
0


Tanya : Bismillah… ustadz Abu Alifa saya ingin mengetahui tata cara Umrah yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad saw. Semoga ustadz tidak keberatan menjawabnya. (Kel. Besar Jamaah Majid Al-Muthmainah)

Jawab: Ibadah Umrah meliputi pelaksanaan IHRAM, THAWAF, SHALAT DIMAQAM IBRAHIM, SA’I dan TAHALLUL.
1. IHRAM UMRAH
Setelah mandi, atau dalam kondisi sudah mandi kita mulai IHRAM dari tempat (miqat) yang telah ditentukan, lalu kita awali dengan Ihlal Ihram Umrah dengan membaca :
LABBAIKA UMRATAN (kami memenuhi panggilan Umrah-Mu)
Setelah membaca Ihlal Ihram (untuk umrah) diatas, lalu membaca talbiyah dengan nyaring (berulang-ulang) sampai menjelang pelaksanaan THAWAF. Lafadz talbiyah yang dimaksud :
LABBAILAL-LOHUMMA LABBAIK ..LABBAIKA LAA SYARIKA LAKA LABBAIK …INNAL-HAMDA WAN-NI’MATA LAKA WAL-MULK LAA SYARIKA LAK (Kami memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada serikat bagi-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, Sesungguhnya segala puji hanya milik-Mu dan kekuasaan (milik-Mu), (dan) tidak ada serikat bagi-Mu)

2. THAWAF
Ketentuan Thawaf
a. Bagi laki-laki pakaian ihramnya dengan pundak sebelah kanan terbuka
b. Dalam kondisi wudhu sebab nanti ada selesai Thawaf ada shalat di Maqam Ibrahim
c. Saat melihat Ka’bah ( Setelah masuk masjidil-Haram) membaca :
ALLOHUMMA ANTAS-SALAM WA MINKAS-SALAM FAHAYYINA RABBANA BIS-SALAM (Ya Allah, Engkaulah (sumber) keselamatan, dan dari-Mulah semua keselamatan, maka hidupkanlah kami wahai rabb kami dengan keselamatan)
Setelah itu menuju Hajar Aswad. Dan setelah sampai di Hajar Aswad atau garis lurus (jika jauh), maka bacaan talbiyah dihentikan. Lantas kita mencium hajar aswad (jika dekat), atau meraba/mengusap dengan tangan atau alat (tongkat), dan mencium tangan atau tongkat tersebut. Atau jika jauh, maka cukup dengan isyarat tangan atau tongkat TANPA menciumnya. Melakukan hal tersebut sambil membaca :
BISMILLAHI WAL-LOHU AKBAR (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Besar)
Setelah mencium atau dengan isyarat tanpa mencium, kita menghadap ke arah kanan (sehingga posisi Ka’bah ada disebelah kiri kita) untuk memmulai mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 (tujuh) putaran. Bagi laki-laki tiga putaran pertama dengan lari kecil (dari hajar aswad sampai ruknul-yamani), sedang bagi perempuan tidak ada lari kecil (berjalan saja). Saat thawaf sampai ruknul-yamani membaca do’a :
ROBBANA AATINAA FID-DUNYA HASANAH WA FIL-AKHIRATI HASANAH WA QINA ‘ADZABAN-NAAR
Hali ini dilakukan setiap putaran (thawaf). Selesai thawaf kita menuju Maqam Ibrahim untuk melaksanakan shalat. Sesampainya ditempat (sebelum shalat) membaca :
WAT-TAKHIDZUU MIM-MAQAAMI IBRAHIMA MUSHALLA

3. SHALAT DI MAQAM IBRAHIM
Yaitu shalat 2 rakaat yang dilakukan sendirian (tidak berjamaah), dengan ketentuan dirakaat pertama membaca al-fathihah dan surat al-kafirun, dan rakaat kedua al-fathihah dan surat al-ikhlash. Selesai shalat, kembali ke hajar aswad dan memegang atau isyarat sambil membaca :
BISMILLAHI WAL-LOHU AKBAR
Dan selanjutnya menuju ke bukit Shafa untuk melakukan Sa’i.

4. SA’I ANTARA SHOFA DAN MARWAH
Saat kita sampai di bukit Shafa membaca :
INNASH-SHAFA WAL-MARWATA MIN SYA’AAIRIL-LLAH
Dibukit Shafa kita menghadap Ka’bah (qiblat) sambil mengangkat tangan membaca :
ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLAL-LLAHU WAHDAHU LAA SYARIKALAH LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QADIR, LAA ILAAHA ILLAL-LAHU WAHDAH ANJAZA WA’DAH WA NASHARA ‘ABDAH WA HAZAMAL-AHZAABA WAHDAH
Lalu berdo’a (dalam posisi tetap mengangkat tangan) sesuai keinginan kita. Dilakukan bacaan dan do’a kita itu 3 kali.
Selanjutnya menuju bukit Marwah. Saat sampai lampu hijau hingga lampu hijau berikutnya, bagi laki-laki dianjurkan berlari kecil. Sampai di bukit Marwa membaca sebagaimana yang dilakukan di bukit Shafa, tapi TIDAK MEMBACA “Innas-shafa wal-marwata min sya’aairillah
Hal tersebut (sa’i) ini dilakukan tujuh balikan (dari Shafa ke Marwa dihitung satu kali, begitupun sebaliknya). Sehingga dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah.

5. TAHALLUL
Tahallul merupakan rukun terakhir dari proses ibadah Umrah. Yaitu menggunting beberapa helai rambut atau jika laki laki (dan bukan Umrah untuk Haji) dianjurkan dicukur habis. Allohu A’lam

Dikirim pada 26 Januari 2014 di Bab. Haji


Tanya : Assalamu’alaikum ... Kang Abu Alifa, apakah dibenarkan kita titip “salam”? Bagaimana jika ada yang titip salam? Apa pernah hal ini dicontohkan? Dhiyah

Jawab : Wa’alaikumussalam ... ada beberapa dalil menyebutkan tentang masalah yang dek Dhiyah tanyakan. Diantaranya :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ، هَذَا جِبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، تَرَى مَا لاَ نَرَى.
Dari Aisyah ra ia berkata: Rasulullah saw pernah berkata: “Wahai Aisyah, ini ada Jibril, dia titip salam untukmu.” Aisyah berkata: “Aku jawab, wa ‘alaihissalam wa rahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah untuknya), engkau dapat melihat apa yang tidak kami lihat.” (HR. al-Bukhari, no. 2217, Muslim, no. 2447)
عَنْ غَالِبٍ قَالَ: إِنَّا لَجُلُوْسٌ بِبَابِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: حَدَّثَنِيْ أَبِيْ عَنْ جَدِّيْ قَالَ: بَعَثَنِيْ أَبِيْ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِئْتِهِ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ. قَالَ: فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: أَبِيْ يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ. فَقَالَ: عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيْكَ السَّلاَمَ.
Dari Ghalib rahimahullah ia berkata: Sesungguhnya kami pernah duduk-duduk di depan pintu (rumah) al-Hasan al-Bashri, tiba-tiba seseorang datang (kepada kami) dan bercerita: Ayahku bercerita dari kakekku, ia (kakekku) berkata: Ayahku pernah mengutusku untuk menemui Rasulullah saw lalu ia berkata: Datangilah beliau dan sampaikan salamku kepadanya. Ia (kakekku) berkata: Maka aku menemui beliau dan berkata: Ayahku titip salam untukmu. Maka beliau menjawab: “Wa ‘alaika wa ‘ala abikassalam (semoga keselamatan tercurah kepadamu dan kepada ayahmu).” (Sunan Abi Dawud, no. 5231)
Dari hadits diatas ada beberapa point yang bisa kita simpulkan :
Nabi saw pernah menyampaikan salam (titip salamnya) Jibril yang dialamatkan kepada Aisyah ra. Dengan begitu bahwa titip salam masyru’.
Menjawab salam kepada yang nitip salam bisa sebanding atau lebih sesuai dengan lafadz salam yang masyru’.
Hal ini sesuai dengan firman Allah swt :
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْهَا.
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang semisalnya). (QS. an-Nisa: 86)
Asy-Syaukani berkata: “Penghormatan di sini adalah ucapan salam, dan makna inilah yang dimaksudkan pada ayat ini.” (Tafsir Fath al-Qadir, surat an-Nisa` ayat 86)
Sedangkan Al-Qurthubi berpendapat bahwa: “Ulama sepakat bahwa memulai salam hukumnya sunnah yang sangat dianjurkan, sedangkan menjawab salam hukumnya wajib.” (Tafsir Fath al-Qadir, surat an-Nisa` ayat 86)
Disyariatkan juga menjawab salam bukan hanya kepada juga kepada yang menyampaikannya.
Kesimpulannya menitip salam dan menyampaikan salam serta menjawab salam adalah masyru’ (disyari’atkan). Allohu A’lam

Dikirim pada 08 Desember 2013 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamu’alaikum ... Ustadz Abu Alifa, mohon dijelaskan hukum memelihara burung pake sangkar, apakah dibolehkan? Terima kasih
Jawab : Wa’alaikumussalam
Dalam sebuah hadis yang mengisyaratkan bolehnya memelihara burung. Hadis itu dari sahabat Anas bin Malik ra. Beliau memiliki adik laki-laki yang masih kanak-kanak, bernama Abu Umair. Si Adik memiliki burung kecil paruhnya merah, bernama Nughair
Anas menceritakan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ – قَالَ: أَحْسِبُهُ – فَطِيمًا، وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: «يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ» نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ

Nabi saw adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya memiliki seorang adik lelaki, namanya Abu Umair. Usianya mendekati usia baru disapih. Apabila Rasulullah saw datang, beliau memanggil, ‘Wahai Abu Umair, ada apa dengan Nughair?’ Nughair adalah burung yang digunakan mainan Abu Umair. (HR. Bukhari 6203, Muslim 2150)
Al-Hafidz Ibnu Hajar memberikan kesimpulan diantaranya:
جواز إمساك الطير في القفص ونحوه
“(Hadis ini dalil) bolehnya memelihara burung dalam sangkar atau semacamnya.” (Fathul Bari, 10/584).
Tidak ada larangan memelihara burung, tentu dengan syarat dipeliharanya dengan baik, seperti diberi makan dan lainnya. Dalam riwayat lain juga memberikan isyarat bolehnya memelihara hewan (tentu hewan yang tidak diharamkan).
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال : ( عُذّبت امرأة في هرّة ، سجنتها حتى ماتت ، فدخلت فيها النار ؛ لا هي أطعمتها ، ولا سقتها إذ حبستها ، ولا هي تركتها تأكل من خشاش الأرض ) متفق عليه.
Dari Abdullah ibn Umar ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda : Seorang wanita disiksa disebabkan seekor kucing. Ia kurung (kucing itu) sampai mati, maka wanita itupun masuk neraka. Saat mengurung (kucing tersebut) wanita itu tidak memberinya makan dan minum, dan tidak pula melepaskannya supaya kucing itu mencari serangga bumi. (Mutafaq ‘Alaih)
Dari keterangan diatas hemat kami, bukan masalah memelihara atau dikandangin binatang itu, melainkan karena tidak diurusnya (yaitu) memberikan hak hidup dengan diberi makan dan minumnya .
Jadi secara hukum boleh kita memelihara hewan termasuk burung. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 Desember 2013 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamu’alaikum...! Pak ustadz, sebelumnya saya mau cerita bahwa ditempat tinggal saya ada yang sudah menikah kurang lebih satu tahun, bahkan sudah punya anak satu. Akan tetapi ada yang bilang (dulu tetangga dekat sekarang sudah pindah) mengatakan bahwa yang menikah itu adalah saudara sesusu, sebab katanya si B (yang menikah) kepada si A pernah dititipkan selama satu minggu dan dia melihatnya sering disusui oleh orang tua si A. Pak ustadz, bagaimana hukumnya sekarang jika benar ia itu saudara sesusu. Apa yang mesti dilakukan? (Mohon nama jangan dicantumkan). Wassalam.

Jawab : Wa’alaikumussalam ... Diantara wanita/perempuan yang diharamkan untuk dinikahi adalah saudara sesusuan. Firman Allah swt :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan ayahmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan dari saudara perem-puanmu, ibu-ibu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuan yang satu susuan denganmu, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak perempuan dari isterimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum mencampurinya (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa atasmu (jika menikahinya), (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [An-Nisaa` : 23]
يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ
Haramnya karena sesusuan, sama haramnya sebagaimana haramnya hubungan nasab (HR. Bukhari)
Maka jika sudah pasti yang menikah itu adalah saudara sesusu, maka tentu harus dipisahkan (harus diceraikan) sekalipun ia sudah mempunyai anak. Hal inipun pernah terjadi pada masa Nabi saw.
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الْحَارِثِ، أَنَّهُ تَزَوَّجَ ابْنَةً لأَبِي إِهَابِ بْنِ عَزِيزٍ، فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُ عُقْبَةَ وَالَّتِي تَزَوَّجَ بِهَا‏.‏ فَقَالَ لَهَا عُقْبَةُ مَا أَعْلَمُ أَنَّكِ أَرْضَعْتِنِي وَلاَ أَخْبَرْتِنِي‏.‏ فَرَكِبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ كَيْفَ وَقَدْ قِيلَ ‏"‏‏.‏ فَفَارَقَهَا عُقْبَةُ، وَنَكَحَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ‏.‏
Dari `Uqbah bin Al Harits; bahwasanya dia menikahi seorang perempuan putri Ibnu Ihab bin `Aziz. Lalu datanglah seorang perempuan dan berkata: "Aku pernah menyusui `Uqbah dan wanita yang dinikahinya itu". Maka `Uqbah berkata kepada perempuan itu: "Aku tidak tahu kalau kamu pernah menyusuiku dan kamu tidak memberitahu aku." Maka `Uqbah mengendarai kendaraannya menemui Rasul saw di Madinah dan menyampaikan masalahnya. Maka Rasul saw bersabda: "harus bagaimana lagi, dia sudah mengatakannya (begitu)". Maka `Uqbah menceraikannya dan menikah dengan wanita yang lain. (HR. Bukhari).
Dengan demikian ia wajib untuk menceraikannya! Allohu A’lam

Dikirim pada 03 Desember 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Bismillah ... Ustadz Abu apakah sah jika khutbah nikah itu dilaksanakan setelah akad nikah (ijab qabul)? Wassalam
Jawab : Bismillahirrahmanirrahim ... Secara pribadi saya belum mendapatkan dalil yang memerintahkan atau menganjurkan dari Nabi saw bahwa khutbah nikah itu harus dilaksanakan sebelum ijab qabul. Hanya mungkin, khutbah nikah dilakukan sebelum ijab qabul, maka calon suami bisa berpikir ulang, apakah siap melaksanakan kewajibannya sebagai suami kelak setelah mendapatkan nasihat atau khutbah yang (isinya) menjelaskan tentang kewajiban dalam rumah tangga. Atau mungkin secara logika, khutbah sering dilakukan sebelum ijab qabul, sebab bekal itu diberikan sebelum ia berangkat menaiki bahtera (rumah tangga).
Terlepas dari dalih tersebut, maka secara hukum khutbah nikah baik dilaksanakan sebelum atau sesudah ijab qabul adalah sah. Allohu A`lam

Dikirim pada 24 Agustus 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum…Ustadz Abu Alifa… ditempat kami ada jamaah (bukan keluarga)yang ngajak makansahur bersama (bukan buka bersama). Apakah hal ini pernah dilakukan oleh Nabisaw? Saya khawatir hal ini menjadi bid’ah! Trim’s Sidoarjo

Jawab :Wa’alaikumussalam … perhatikan pengalaman para shahabat dalam keterangan dibawah ini.

عن أنس بن مالك عن زيد بن ثابت رضي الله عنهما قال { تسحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم . ثم قام إلى الصلاة . قال أنس : قلت لزيد : كم كان بين الأذان والسحور ؟ قال : قدر خمسين آية

Dari Anas bin Malik dan(juga) dari Zaid bin Tsabit ra. Kami pernah sahur BERSAMA Rasulullah saw. Lalukami berdiri untuk shalat (shubuh). Lalu Anas berkata kepada Zaid: berapakira-kira jarak antara shalat shubuh dan sahur? Ia menjawab : Seukuran membaca50 ayat. ( HR.Bukhary 1921 dan Muslim 1097)


Dengan demikian makan sahur bersamapernah dicontohkan oleh Nabi saw dengan para shahabat. Allohu A’lam

Dikirim pada 20 Juli 2013 di Bab. Shaum


Tanya : Assalamu’alaikum… Buya, ananda mohon maaf sedikit bercerita masalah pribadi (maaf Abi cut-ya). Jadi bagaimana hukumnya Buya, sebab ia tetap bersikukuh boleh berhubungan sehabis makan sahur! (Nama dirahasiakan)
Jawab : Wa’alaikumussalam… Ananda “A”, penolakan ananda wajar, sebab dilatar belakangi oleh kekhawatiran ananda melanggar syar’i. Disinilah wajibnya bertanya atau menuntut ilmu.
Perhatikan firman Allah swt.
“Dihalalkan bagi kamu pada malam shiyam (bulan ramadhan) bercampur dengan istri-istri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu,karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (Qs. al-Baqarah: 187).
Dalam keterangan lain :
عَنْالزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِالْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ أَنَّ أَبَاهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَ مَرْوَانَ أَنَّعَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ أَخْبَرَتَاهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ (رواه البخاري

Dari Az-Zuhriy berkata telah mengabarkan kepada saya Abu Bakar bin Abdirrahman bin Al-Harits bin Hisyam bahwa bapaknya yakni Abdurrahman telah mengabari Marwan bahwa Aisyah dan Ummu Salamah keduanya telah memberi kabar kepadanya bahwa Rasulullah saw suatu hari tiba di waktu fajar (shubuh) dan beliau dalam keadaan junub, kemudian beliau mandi dan shaum (HR.Bukhary)
عَنْعُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ وَأَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّعَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قَدْكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُفِي رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ رواه مسلم
Dari ‘Urwah bin Zubair dan Abi Bakar bin Abdirrahman bahwa Aisyah istri Nabi saw telah berkata: sungguh Rasulullah saw suatu hari tiba di waktu fajar di bulan Ramadlan dan beliau dalam keadaan junub bukan karena mimpi, lalu beliau mandi dan lalu shaum (HR.Muslim)
Jadi selama berhubungan suami itu dilakukan dimalam hari (sebelum shubuh tiba), maka tidak menggugurkan shaum yang kita akan lakukan (boleh berhubungan). Allohu A’lam

Dikirim pada 11 Juli 2013 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu’alaikum… pak ustadz apakah ada kaitannya dan dalilnya menjelang Ramadhan dengan ziarah kubur? Cilacap

Jawab : Wa’alaikumussalam… belum ditemukan dalil yang menganjurkan menjelang Ramadhan ataupun bulan-bulan yang lain untuk ziarah (dulu) ke kuburan. Ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja. Sebab inti ziarah kubur bukan dikaitkan dengan bulan, akan tetapi untuk mengingatkan kita akan kematian (akhirat).

Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad saw :

Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda: «berziarah kuburlah, karena hal itu akan mengingatkan kamu tentang akhirat. (Sunan Ibnu Majah: 1/500)

Jadi ziarah kubur merupakan sebuah anjuran, supaya kita mengingat akan kematian. Dan tidak ada hubungannya dengan bulan Ramadhan, Syawwal atau bulan yang lainnya. Ziarah kubur bias dilakukan kapan saja termasuk dibulan Ramadhan. Allohu A’lam

Dikirim pada 11 Juli 2013 di Bab. Jenazah


Tanya : Assalamu’alaikum … ustadz Abu, bagaimana pendapat ustadz mengenai waritsan untuk anak hasil dari perzinahan, maksud saya apakah dia akan mendapatkan dari yang melahirkan (ibu) dan dari laki-laki yang menzinahi ibunya? Wassalam RKI
Jawab : Wa’alaikumussalam … ada beberapa sebab seseorang itu mendapat bagian warits, diantaranya : Pertama, disebabkan adanya pernikahan. Seperti istri akan mendapatkan warits dari suami, atau sebaliknya. Hal ini dikarenakan ada hubungan pernikahan yang sah. Tetapi jika pernikahannya tidak sah secara syar’I (Islam), atau kedua orang tuanya bukan Muslim dan melahirkan anak, maka anak tersebut dinasabkan hanya kepada ibunya saja. Hubungan nasab (darah) dengan ayahnya terputus. Dan anak itu hanya dinisbatkan kepada ibunya, atau anak tersebut hanya mendapat bagian dari ibunya. Oleh karena itu sebab mendapat warits yang Kedua adanya hubungan nasab (keturunan), seprti anak dari ayah atau ibu, atau sebaliknya.
Hemat kami anak hasil dari perzinahan atau perselingkuhan hanya dapat waritsan dari yang melahirkan (ibu). Allohu A’lam

Dikirim pada 06 Juni 2013 di Bab. Mawarits


Tanya : Assalamu’alaikumwarahmatullah … Karena melihat keteladanan dan ke-ilmuannya, apakah dibolehkah seorang wanita datang kepada orang tersebut untuk dipinang atau dinikahinya?Apakah tidak menyalahi aturan syari’at? Thanks ustadz …

Jawab : Wa’alaikumussalamwarahmatullah wa barakatuh … Dari sisi kebiasaan (adat) khususnya di Indonesia,mungkin sebagian orang menganggap bahwa hal ini diluar kebiasaan yang dianut,atau bahkan dibilang wanita tersebut “tidak punya rasa malu”. Tetapi dari sudutsyariat hal tersebut tidaklah melanggar ketentuan agama (Islam).

Imam al-Bukhary mer iwayatkansatu kejadian yang bersumber cerita dari Anas r.a. bahwa ada seorang wanitayang datang menawarkan diri kepada Rasulullah saw dan berkata: "Ya Rasulallah!Apakah Engkau membutuhkan daku?" Putri Anas yang hadir dan mendengarkanperkataan wanita itu mencela sang wanita yang tidak punya harga diri dan rasamalu, "Alangkah sedikitnya rasa malunya, sungguh memalukan, sungguh memalukan." Anas berkata kepada putrinya: "Dia lebih baik darimu, Diasenang kepada Rasulullah saw lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau!"(HR Bukhari).

Bahkan dalam kitab shahihnyaImam al-Bukhary memuat satu bab “Wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki soleh”.Ibn Hajar menyimpulkan bahwa hadits yang termaktub dalam shahih Bukhary menunjukkankebolehan bagi wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki, dan boleh memberitahukanbahwa ia menyukainya. Perbuatan ini tidak menjadikan wanita rendah martabatnya.Allohu A’lam

Dikirim pada 25 Mei 2013 di Bab. Nikah
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.497.404 kali


connect with ABATASA