0


Tanya : Bismillah ... Ustadz Abu Alifa, selama ini yang ana lakukan dalam shalat dhuhur dan ashar, ataupun dua rakaat terakhir yang jumlah rakaat dalam shalat wajib itu lebih dari dua rakaat, bacaan shalatnya adalah hanya membaca surat al-fathihah. Akan tetapi ditempat pegajian ada seorang mubaligh yang membahas masalah ini bahwa ada haditsnya juga setelah al-fathihah dicontohkan membaca lagi surat yang lain. Artinya beliau membolehkannya. Bagaimana pandangan ustadz Abu Alifa mengenai hal ini? Hatur Nuhun MD Pangandaran
Jawab : Apa yang bapak MD lakukan dalam shalat dhuhur dsb yang hanya membaca surat al-fathihah di dua rakaat terakhir, berdasarkan beberapa keterangan diantaranya :
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَال : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنْ صَلاةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ , يُطَوِّلُ فِي الأُولَى , وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ , وَيُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَاناً ، وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ فِي الأُولَى , وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ . وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى مِنْ صَلاةِ الصُّبْحِ , وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ
Dari Abi Qatadah al-Anshary radhiyallahu anh berkata. Bahwa Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam membaca di dua rakaat pertama shalat dhuhur surat al-fathihah dan dua surat yang lain, (cukup) panjang dirakaat pertama, dan memendekkan di rakaat kedua (suratnya), dan terkadang kedengaran bacaannya. Dan beliau juga membaca di shalat Ashar al-fatihah dan dua surat, begitupun rakaat pertama panjang bacaannya, dan mengurangi (panjang) dirakaat kedua. Dan di dua rakaat akhir (hanya) membaca surat al-fatihah. Dan keadaan Nabi-pun membaca surat yang panjang dirakaat awal shalat shubuh dan mengurangi (panjangnya) dirakaat kedua (HR.Bukhari Muslim)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ وَأَبَانُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا وَيَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
"...Dari Abi Qatadah dari bapaknya, bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam membaca di dua rakaat pertama shalat dhuhur dan ashar dengan al-afathihah dan surat (yang lainnya), bahkan terkadang suka diperdengarkan bacaan ayat-ayat itu. Dan beiau (hanya) membaca di dua rakaat terakhir dengan al-fathihah (HR.Muslim)

"...أن ابن مسعود كان يقرأ في الظهر والعصر في الركعتين الأوليين بفاتحة الكتاب وما تيسر وفي الأخريين بفاتحة الكتاب
Sesungguhnya Ibnu Mas`ud membaca dalam shalat dhuhur dan ashar di dua rakaat pertama al-fatihah dan (surat) yang mudah (hafal selain al-fatihah). Dan di dua rakaat terakhir hanya membaca al-fatihah (Ibn Abi Syaibah)
Sedangkan yang "membolehkan" membaca surat selain al-fatihah didua rakaat akhir, diantaranya didasarkan pada keterangan :

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه ، قال : كنا نحزر قيام رسول الله صلى الله عليه وسلم في الظهر والعصر ، فحزرنا قيامه في الركعتين الأوليين من الظهر قدر قراءة : الم تنزيل السجدة - وفي رواية - : في كل ركعة قدر ثلاثين آية ، وحزرنا قيامه في الأخريين قدر النصف من ذلك ، وحزرنا في الركعتين الأوليين من العصر على قدر قيامه في الأخريين من الظهر ، وفي الأخريين من العصر على النصف من ذلك ، رواه مسلم

Dari Abi Sa`id al-Khudri radhiyallahu anh berkata : Kami memperhatikan berdirinya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di shalat dhuhur dan ashar. Kami perhatian berdirinya beliau di dua rakaat pertama dhuhur seukuran membaca (surat) alif lam mim tanzil as-Sajdah- dalam satu riwayat- tiap rakaat seukuran 30 ayat- dan kami perhatikan lamanya berdiri didua rakaat akhir setengahnya dari dua rakaat pertama. Sedangkan kami perhatikan lamanya berdiri dalam shalat ashar di dua rakaat pertama seukuran lamanya dua rakaat akhir shalat dhuhur. Dan lamanya dua rakaat akhir shalat ashar setengahnya dari dua rakaat pertamanya. (HR.Muslim)
Dengan demikian sebagian ulama membolehkan membaca di dua rakaat terahir untuk shalat dzuhur dan ashar lebih dari surat al-Fatihah. Ini termasuk perbedaan pendapat ulama yang sifatnya mubah. Bukan perbedaan yang satu hukumnya terlarang dan yang satu mubah. Boleh saja di dua rakaat terakhir, pada masing-masing rakaat seseorang membaca al-Fatihah saja. Boleh juga di dua rakaat terakhir dia tambahi dengan surat lain setelah al-Fatihah (lihat Ibnu Khuzaimah1/256) . Allohu A`lam

Dikirim pada 17 April 2015 di Bab. Sholat


Jika kaum muslimin memiliki pandangan bahwa pernikahan yang sah menurut syariat Islam merupakan jalan untuk menjaga kesucian harga diri mereka, maka kaum Syi’ah Rafidhah memiliki pandangan lain. Perzinaan justru memiliki kedudukan tersendiri di dalam kehidupan masyarakat mereka.
Bagaimana tidak, perzinaan tersebut mereka kemas dengan nama agama yaitu nikah mut’ah. Tentu saja mereka tidak ridha kalau nikah mut’ah disejajarkan dengan perzinaan yang memang benar-benar diharamkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenyataan-lah yang akan membuktikan hakekat nikah mut’ah ala Syi’ah Rafidhah.
Definisi Nikah Mut’ah
Nikah mut’ah adalah sebuah bentuk pernikahan yang dibatasi dengan perjanjian waktu dan upah tertentu tanpa memperhatikan perwalian dan saksi, untuk kemudian terjadi perceraian apabila telah habis masa kontraknya tanpa terkait hukum perceraian dan warisan. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi dengan beberapa tambahan)
Hukum Nikah Mut’ah
Pada awal tegaknya agama Islam nikah mut’ah diperbolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam beberapa sabdanya, di antaranya hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui kami kemudian mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah.” (HR. Muslim)
Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata: “Telah sah bahwa nikah mut’ah dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadits-hadits yang shahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut.” (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi)
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)
Adapun nikah mut’ah yang pernah dilakukan beberapa sahabat di zaman kekhalifahan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu, maka hal itu disebabkan mereka belum mendengar berita tentang diharamkannya nikah mut’ah selama-lamanya. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1405 karya An-Nawawi)
Gambaran Nikah Mut’ah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di dalam beberapa riwayat yang sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas sekali gambaran nikah mut’ah yang dulu pernah dilakukan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Gambaran tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
1. Dilakukan pada saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat seperti perang, bukan ketika seseorang menetap pada suatu tempat. (HR. Muslim hadits no. 1404)
2. Tidak ada istri atau budak wanita yang ikut dalam perjalanan tersebut. (HR. Bukhari no. 5116 dan Muslim no. 1404)
3. Jangka waktu nikah mut’ah hanya 3 hari saja. (HR. Bukhari no. 5119 dan Muslim no. 1405)
4. Keadaan para pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah tersebut sebagaimana mendesaknya seorang muslim memakan bangkai, darah dan daging babi untuk mempertahankan hidupnya. (HR. Muslim no. 1406)
Nikah Mut’ah menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah
Dua kesalahan besar telah dilakukan kaum Syi’ah Rafidhah ketika memberikan tinjauan tentang nikah mut’ah.
Dua kesalahan tersebut adalah:
A. Penghalalan Nikah Mut’ah yang Telah Diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya
Bentuk penghalalan mereka nampak dari kedudukan nikah mut’ah itu sendiri di kalangan mereka. Ash-Shaduq di dalam kitab Man Laa Yahdhuruhul Faqih dari Ash-Shadiq berkata: “Sesungguhnya nikah mut’ah itu adalah agamaku dan agama pendahuluku. Barangsiapa mengamalkannya maka dia telah mengamalkan agama kami. Sedangkan barangsiapa mengingkarinya maka dia telah mengingkari agama kami dan meyakini selain agama kami.”
Di dalam halaman yang sama, Ash-Shaduq mengatakan bahwa Abu Abdillah pernah ditanya: “Apakah nikah mut’ah itu memiliki pahala?” Maka beliau menjawab: “Bila dia mengharapkan wajah Allah (ikhlas), maka tidaklah dia membicarakan keutamaan nikah tersebut kecuali Allah tulis baginya satu kebaikan. Apabila dia mulai mendekatinya maka Allah ampuni dosanya. Apabila dia telah mandi (dari berjima’ ketika nikah mut’ah, pen) maka Allah ampuni dosanya sebanyak air yang mengalir pada rambutnya.”
Bahkan As-Sayyid Fathullah Al Kasyaani di dalam Tafsir Manhajish Shadiqiin 2/493 melecehkan kedudukan para imam mereka sendiri ketika berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan nikah mut’ah satu kali maka derajatnya seperti Al-Husain, barangsiapa melakukannya dua kali maka derajatnya seperti Al-Hasan, barangsiapa melakukannya tiga kali maka derajatnya seperti Ali radhiyallahu ‘anhu, dan barangsiapa melakukannya sebanyak empat kali maka derajatnya seperti aku.”
B. Betapa Keji dan Kotor Gambaran Nikah Mut’ah Ala Syi’ah Rafidhah
1. Akad nikah
Di dalam Al Furu’ Minal Kafi 5/455 karya Al-Kulaini, dia menyatakan bahwa Ja’far Ash-Shadiq pernah ditanya seseorang: “Apa yang aku katakan kepada dia (wanita yang akan dinikahi, pen) bila aku telah berduaan dengannya?” Maka beliau menjawab: “Engkau katakan: Aku menikahimu secara mut’ah berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, namun engkau tidak mendapatkan warisan dariku dan tidak pula memberikan warisan apapun kepadaku selama sehari atau setahun dengan upah senilai dirham demikian dan demikian.” Engkau sebutkan jumlah upah yang telah disepakati baik sedikit maupun banyak.” Apabila wanita tersebut mengatakan: “Ya” berarti dia telah ridha dan halal bagi si pria untuk menggaulinya. (Al-Mut’ah Wa Atsaruha Fil-Ishlahil Ijtima’i hal. 28-29 dan 31)
2. Tanpa disertai wali si wanita
Sebagaimana Ja’far Ash-Shadiq berkata: “Tidak apa-apa menikahi seorang wanita yang masih perawan bila dia ridha walaupun tanpa ijin kedua orang tuanya.” (Tahdzibul Ahkam 7/254)
3. Tanpa disertai saksi (Al-Furu’ Minal Kafi 5/249)
4. Dengan siapa saja nikah mut’ah boleh dilakukan?
Seorang pria boleh mengerjakan nikah mut’ah dengan:
- wanita Majusi. (Tahdzibul Ahkam 7/254)
- wanita Nashara dan Yahudi. (Kitabu Syara’i`il Islam hal. 184)
- wanita pelacur. (Tahdzibul Ahkam 7/253)
- wanita pezina. (Tahriirul Wasilah hal. 292 karya Al-Khumaini)
- wanita sepersusuan. (Tahriirul Wasilah 2/241 karya Al-Khumaini)
- wanita yang telah bersuami. (Tahdzibul Ahkam 7/253)
- istrinya sendiri atau budak wanitanya yang telah digauli. (Al-Ibtishar 3/144)
- wanita Hasyimiyah atau Ahlul Bait. (Tahdzibul Ahkam 7/272)
- sesama pria yang dikenal dengan homoseks. (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 54)
5. Batas usia wanita yang dimut’ah
Diperbolehkan bagi seorang pria untuk menjalani nikah mut’ah dengan seorang wanita walaupun masih berusia sepuluh tahun atau bahkan kurang dari itu. (Tahdzibul Ahkam 7/255 dan Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 37)
6. Jumlah wanita yang dimut’ah
Kaum Rafidhah mengatakan dengan dusta atas nama Abu Ja’far bahwa beliau membolehkan seorang pria menikah walaupun dengan seribu wanita karena wanita-wanita tersebut adalah wanita-wanita upahan. (Al-Ibtishar 3/147)
7. Nilai upah
Adapun nilai upah ketika melakukan nikah mut’ah telah diriwayatkan dari Abu Ja’far dan putranya, Ja’far yaitu sebesar satu dirham atau lebih, gandum, makanan pokok, tepung, tepung gandum, atau kurma sebanyak satu telapak tangan. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/457 dan Tahdzibul Ahkam 7/260)
8. Berapa kali seorang pria melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita?
Boleh bagi seorang pria untuk melakukan mut’ah dengan seorang wanita berkali-kali. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/460-461)
9. Bolehkah seorang suami meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada orang lain?
Kaum Syi’ah Rafidhah membolehkan adanya perbuatan tersebut dengan dua model:
a. Bila seorang suami ingin bepergian, maka dia menitipkan istri atau budak wanitanya kepada tetangga, kawannya, atau siapa saja yang dia pilih. Dia membolehkan istri atau budak wanitanya tersebut diperlakukan sekehendaknya selama suami tadi bepergian. Alasannya agar istri atau budak wanitanya tersebut tidak berzina sehingga dia tenang selama di perjalanan!!!
b. Bila seseorang kedatangan tamu maka orang tersebut bisa meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada tamu tersebut untuk diperlakukan sekehendaknya selama bertamu. Itu semua dalam rangka memuliakan tamu!!!(Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 47)
10. Nikah mut’ah hanya berlaku bagi wanita-wanita awam.
Adapun wanita-wanita milik para pemimpin (sayyid) Syi’ah Rafidhah tidak boleh dinikahi secara mut’ah. (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 37-38)
11. Diperbolehkan seorang pria menikahi seorang wanita bersama ibunya, saudara kandungnya, atau bibinya dalam keadaan pria tadi tidak mengetahui adanya hubungan kekerabatan di antara wanita tadi. (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 44)
12. Sebagaimana mereka membolehkan digaulinya seorang wanita oleh sekian orang pria secara bergiliran.
Bahkan, di masa Al-’Allamah Al-Alusi ada pasar mut’ah, yang dipersiapkan padanya para wanita dengan didampingi para penjaganya (germo). (Lihat Kitab Shobbul Adzab hal. 239)


Para pembaca, bila kita renungkan secara seksama hakikat nikah mut’ah ini, maka tidaklah berbeda dengan praktek/transaksi yang terjadi di tempat-tempat lokalisasi. Oleh karena itu di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan tentang penentangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu –yang ditahbiskan kaum Syi’ah Rafidhah sebagai imam mereka- terhadap nikah mut’ah. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai piaraan pada saat perang Khaibar.” Beliau (Ali radhiyallahu ‘anhu) juga mengatakan bahwa hukum bolehnya nikah mut’ah telah dimansukh atau dihapus sebagaimana di dalam Shahih Al-Bukhari hadits no. 5119.
Wallahu A’lam Bish Showab.
Sumber: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 33/IV/II/1425

Dikirim pada 16 April 2015 di KONTROVERSI HUKUM


Tanya : Assalamu`alaikum.wr.wb...Sebelumnya saya ucapkan terimah kasih kepada ustadz Abu Alifa Shihab yang membuka ruang konsultasi agama. Hal ini bagi saya sangat membantu sekali dalam memahami sebagian syariat yang mesti dijalankan serta batasan-batasannya.
Maaf ustadz Abu Alifa, saya mempunyai problem yang menurut saya pribadi cukup mengganggu masa depan kehidupan saya. Saya mempunyai calon suami yang ingin secepatnya menikahi saya, dan sebenarnya saya-pun menginginkan hal itu secepatnya dilaksanakan. Akan tetapi yang jadi persoalan adalah ayahku tidak menyetujuinya. Dan salah satu sebabnya adalah masalah keberadaan calon adalah dari daerah (maaf Abu cut asal daerahnya ya?)yang menurut ayah akan mengakibatkan kemiskinan setelah menikah nanti. Pak ustadz, Apakah jika saya melangsungkan pernikahan sudah melanggar khususnya birrul-walidain? Jika saya menikah siapa wali nikah saya? Dan apakah ayah saya berdosa tidak mau menikahkan saya? MNT Jatim
Jawab : Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh …Ananda MNT yang Abu Alifa banggakan, jika seorang ayah tidak menyetujui dan tidak mau menikahkan anaknya karena sebab yang ananda jelaskan diatas, maka hemat saya termasuk orang tua atau wali yang melanggar atau membangkang ketentuan syari`at. Maka jika orang tua (ayah) menolak untuk menjadi wali nikah ananda atau tidak menyetujui bukan alasan syar’i, maka ananda dapat meminta bantuan wali hakim (misalnya pejabat di KUA) untuk menjadi wali nikah ananda (lihat Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, II/37; Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/33).
Landasannya adalah :
عن عائشة قالت: قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏‎‏: «أيما امرأة نكحت بغير إذن مواليها فنكاحها باطل. ثلاث مرات. فإن ‏دخل بها فالمهر لها بما أصاب منها. فإن تشاجروا، فالسلطان ولي من لا ولي له»
Perempuan yang menikah tanpa ijin walinya maka nikahnya batal (Nabi mengucapkannya 3x). Kemudian berkata: Apabila para wali tidak mau, maka sultan (wali hakim) dapat menjadi wali dari wanita yang tidak memiliki wali (HR. Tirmidzy dan Abu Dawud)
Tetapi menurut pendapat madzhab Hanbali atau Hanafi, apabila wali mujbir (yaitu ayah) tidak setuju, maka kewalian jatuh pada wali lain dalam urutan kekerabatan yang berhak jadi wali. Kalau semua tidak mau menikahkan, baru pindah ke Wali Hakim.
Maka tentu orang tua berdosa apabila dia menolak menikahkan Anda tanpa sebab yang dibenarkan syariah. Tapi jika alasan orang tua tidak mau menikahkan karena alasan syar’i, maka tentu yang berdosa adalah yang tetap memaksa ingin nikah. Seperti halnya calon suaminya berbeda agama (baca kafir).

فلا تعضلوهن أن ينكحن أزواجهن إذا تراضوا بينهم بالمعروف
“…Janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma`ruf. (QS Al-Baqarah 2:233).
Sekalipun demikian, ananda harus tetap berbuat baik kepada kedua orang tua termasuk ayah ananda (baik sebelum atau sesudah nikah nanti). Allohu A’lam

Dikirim pada 15 April 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum., pak ustadz saya sering mendengar orang berdoa secara khusus mengenai bulan Rajab diantara .."allhohumma baarik lanaa fi rajab wa sya’ban wa ballighna romadhon.." apa ini bisa kita amalkan? SB Ciamis
Jawab : Wa’alaikumussalam warahmatullah.. Hadist yang dimaksud adalah yang diterima dari Anas bin Malik dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ رَجَب قَالَ : « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ »
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anh. Keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika memasuki bulan Rajab, beliau berdo’a :“Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan) “. Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad I/259, Ibnu As-Sunni di dalam Amal Al-Yaum wa al-Lailah no.659, Al-Baihaqi di dalam Syu`ab al-Iman III/375, Abu Nu`aim di dalam Al-Hilyah VI/269, Al-Bazzar di dalam Musnadnya I/285 no.402, dan Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath IV/189, dan di dalam kitab Ad-Du’a I/284
Akan tetapi menurut para ahli hadits, riwayat diatas tergolong hadits yang lemah (dhaif), karena di dalam sanad (jalur periwayatan)haditsnya ada rawi diantaranya yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod al-Bahili. Zaidah adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if. Hadits ini dikatakan dho’if (lemah) oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif (218), Syaikh Al Albani dalam tahqiq Misykatul Mashobih (1369), dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Imam Ahmad. Sementara Imam al-Bukhari dan Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentang rawi tersebut dengan mengatakan bahwa: "Dia seorang perowi yang haditsnya mungkar”. Allohu A’lam

Dikirim pada 12 April 2015 di Bab. Do’a


Tanya : Assalamu`alaikum warahmatullah wa barakatuh .... al-Ustadz Abu Alifa yang kami cintai, sebelumnya saya ingin bercerita sedikit tentang salah satu kebiasaan ditempat saya bekerja. Yaitu setiap pimpinan perusahaan datang semua staff harus berdiri sebagai penghormatan kepada seorang pimpinan. Tentu saya sebagai salah satu bagian dari staff, mau tidak mau harus melakukan seperti itu. Menurut pandangan al-ustadz Abu bagaimana hal tersebut, apakah bisa merusak akidah? Wassalam GTR Cikarang
Jawab : Wa`alaikmussalam warahmatullahi wa barakatuh ... Dalam lingkungan dari mulai yang terkecil seperti keluarga sampai yang kita anggap besar seperti "negara", tentu disitu pasti ada yang mengendalikan yang kita sebut dengan pimpinan. Seorang anak wajib menghormati orang tuanya karena ia imam kita. Hanya bentuk penghormatan antara satu keluarga dengan yang lain kadang berlainan, begitupun dalam kehidupan , bisa jadi antara satu daerah, sampai negara dengan daerah dan negara lain cara penghormatan (ikram) itu tidak sama.
Mengenai yang bapak maksud, jika itu merupakan penghormatan bukan penghambaan diri, maka hal tersebut ibahah (boleh) saja. Hal ini bisa kita perhatikan dalam beberapa hadits diantaranya :
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ أَهْلَ، قُرَيْظَةَ نَزَلُوا عَلَى حُكْمِ سَعْدٍ فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِلَيْهِ فَجَاءَ فَقَالَ ‏"‏ قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ ‏"‏‏.‏ أَوْ قَالَ ‏"‏ خَيْرِكُمْ ‏"‏‏.‏ فَقَعَدَ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ‏"‏ هَؤُلاَءِ نَزَلُوا عَلَى حُكْمِكَ ‏"‏‏.‏ قَالَ فَإِنِّي أَحْكُمُ أَنْ تُقْتَلَ مُقَاتِلَتُهُمْ، وَتُسْبَى ذَرَارِيُّهُمْ‏.‏ فَقَالَ ‏"‏ لَقَدْ حَكَمْتَ بِمَا حَكَمَ بِهِ الْمَلِكُ ‏"‏‏.‏ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَفْهَمَنِي بَعْضُ أَصْحَابِي عَنْ أَبِي الْوَلِيدِ مِنْ قَوْلِ أَبِي سَعِيدٍ إِلَى حُكْمِكَ
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu`bah dari Sa`d bin Ibrahim dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif dari Abu Sa`id bahwa penduduk Bani Quraidlah telah menetapkan hukum yang akan diputuskan oleh Sa`ad. Maka Nabi shallallahu `alaihi wasallam mengutus seseorang untuk memanggilnya, ketika dia datang beliau bersabda: "Berdirilah kalian untuk menghormati orang terbaik kalian -atau beliau bersabda- pemimpin kalian." Lalu Sa`d duduk di dekat Nabi shallallahu `alaihi wasallam, setelah itu beliau melanjutkan: "Sesungguhnya mereka telah setuju dengan keputusan yang akan kamu tetapkan." Sa`ad berkata; "Aku akan memutuskan kepada mereka agar para tentara perang mereka dibunuh dan anak-anak serta wanita mereka dijadikan tawanan." Maka beliau bersabda: "Sungguh kamu telah memutuskan hukum kepada mereka dengan hukum Allah (Raja diraja)." Abu Abdullah berkata; "Sebagian sahabatku telah memahamkanku dari Al Walid dari perkataannya Abu Sa`id hingga perkataan "dengan keputusan yang kamu putuskan". (Shahih Bukhary)
حدثنا محمد بن بشار حدثنا عثمان بن عمر أخبرنا إسرائيل عن ميسرة بن حبيب عن المنهال بن عمرو عن عائشة بنت طلحة عن عائشة أم المؤمنين قالت ما رأيت أحدا أشبه سمتا ودلا وهديا برسول الله في قيامها وقعودها من فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت وكانت إذا دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم قام إليها فقبلها وأجلسها في مجلسه وكان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل عليها قامت من مجلسها فقبلته وأجلسته في مجلسها....
سنن الترمذي كتاب المناقب » باب ما جاء في فضل فاطمة بنت محمد صلى الله عليه وسلم
"... Dari Aisyah ummul mukminin berkata : Tidak pernah aku melihat seorangpun yang menyerupai dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hal berdiri dan duduknya dari Fathimah puteri Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam. Ia (Aisyah) berkata (lagi). Jika Fathimah berkunjung ke rumah Nabi, beliau (Nabi) berdiri menyabutnya serta menciumnya dan mendudukkan ditempat beliau duduk. Begitu juga jika Nabi saw berkunjung ke rumah Fathimah, ia (Fathimah) berdiri menyambutnya dan menciumnya serta mendudukkannya ditempat ia duduk ..." (Sunan At-Tirmidzy)
Jadi boleh kita berdiri sebagai rasa hormat kita sekaligus sebagai penyambutan manakala ada seseorang datang ke rumah atau ke tempat dimana kita berkerja. Allohu A`lam

Dikirim pada 11 April 2015 di Bab. Akhlaq


Tanya : Assalamu`alaikum... Pak Ustadz Abu Alifa, apakah ada syariatnya dalam pernikahan itu ada penyematan cincin pernikahan? Wassalam TKY dan 6 orang lainnya dengan inti pertanyaan sama.
Jawab : Wa’alaikumussalam... Pemakaian cincin kawin tidak dikenal dalam Islam, meski cincin itu bukan dari emas. Ini lebih merupakan produk budaya kelompok masyarakat tertentu. Sebagian ulama mengatakan bahwa cincin kawin itu berasal dari budaya barat (baca kafir).
Bahkan secara khusus ada yang mencatat bahwa cincin kawin berasal dari tradisi orang-orang Nasrani. Ketika pengantin pria memasang cincin di ibu jari pengantin putri, dia mengatakan, “Dengan nama Bapa,” lalu cincin tadi dipindahkannya ke jari telunjuk seraya berkata, “Dengan nama Tuhan Anak,” kemudian dipindahkannya ke jari tengah seraya mengatakan, “Dengan nama Roh Kudus,” dan terakhir kalinya dia pindahkan cincin tersebut ke jari manis seraya mengucapkan, “Aamiin.”
Dalam sebuah hadits dijelaskan
قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : " من تشبه بقوم فهو منهم " رواه الطبراني في الأوسط عن حذيفة - يعني ابن اليمان - و أبو داود عن ابن عمر - رضي الله عنهما
Siapa yang menyerupai (dalam ibadah) kepada satu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.(HR.Ath-Thabrani dari Hudzaifah Ibn al-Yaman, dan Abu Dawud dari Ibn Umar)
Memang ada hadits yang menyebutkan bahwa salah satu bentuk mahar adalah cincin meskipun hanya terbuat dari besi.
Rasulullah SAW bersabda, ”Berikanlah mahar meski hanya berbentuk cincin dari besi”.
Akan tetapi hadits ini tidak mengisyaratkan adanya bentuk tukar cincin antar kedua mempelai, tapi lebih merupakan anjuran untuk memberi mahar meski hanya sekedar cincin dari besi. Jadi bukan cincin kawin yang dimaksud. Dan cincin dari besi itu diberikan pihak laki-laki sebagai mahar /mas kawin kepada pihak isteri. Sedangkan pihak isteri tidak memberi cincin itu kepada laki-laki. Allohu A’lam

Dikirim pada 05 April 2015 di Bab. Nikah


Oleh : DRS.KH.SHIDDIQ AMIEN MBA

Fundamentalisme secara etimologis berasal dari kata fundamental yang mempunyai makna basic and important (mendasar dan pokok). Fundamentalisme merupakan faham dan usaha mempertahankan dan mengamalkan ajaran-ajaran pokok suatu agama. Curtis Lee Laws mendefinisikan fundamentalis sebagai seorang yang siap untuk merebut kembali wilayah yang jatuh ke Anti-kristus dan melakukan pertempuran agung untuk membela dasar-dasar agama (Karen Armstrong :2002). Istilah fundamentalisme seperti halnya istilah demokrasi, sekulerisme, sosialisme, belakangan sering dikaitkan dengan Islam, walaupun tidak memiliki akar dalam Islam, sehingga muncul istilah-istilah seperti: fundamentalisme Islam, demokrasi Islami, sosialisme Islam dan sebagainya. Fundamentalisme Islam belakangan sering diidentikan dengan teroris atau manusia yang tidak toleran, ekstrim dan terbelakang. Kalangan ilmuwan dan cendekiawan muslimpun banyak yang ikut aktif memasarkan istilah ini, bahkan menuduh bahwa keterpurukan umat Islam saat ini disebabkan oleh fundamentalisme, mereka lantas menjajakan liberalisme, yang mereka yakini sebagai sebuah ideologi yang membawa kemaslahatan dan kemajuan dunia.

Istilah Fundamentalisme dimunculkan pada awal abad 19 oleh kaum Kristen Protestan, sebagai reaksi terhadap mewabahnya sekulerisme dan kemajuan ilmu pengetahuan, yang telah membawa dampak pada interpretasi terhadap Bible yang memiliki problem teks dan orisinilitas. Interpretasi yang menggabungkan nilai-nilai sekuler dengan metoda penafsiran filsafat Yunani , yakni hermeneutika. Dengan hermeneutika keberadaan Bible dan Tuhan menjadi tidak sakral, karena dalam konsep ini teks Bible dianggap sama dengan teks-teks lainnya.

Hermeneutika bukanlah konsep asli teologi Kristen, melainkan pengaruh dari filsafat Yunani. Dulu orang Yunani menggunakannya sebagai sebuah metoda menafsirkan karya sastra dan mitos-mitos yang bersifat ketuhanan (divine). Bahkan konon hermeneutika sendiri berasal dari nama seorang tokoh dongeng Yunani, Hermes. Metoda ini kemudian diadopsi oleh kalangan Yahudi dan Kristen. Penyebab diadopsinya hermeneutika ini awalnya disebabkan problema yang dihadapi Bible.

Setidaknya ada dua problem utama dalam Bible : Pertama, Problem teks. Dalam teks Bible terdapat tiga bahasa yang digunakan : Bahasa Hebrew sebagai bahasa Kitab Perjanjian Lama ( Old Testament ); Bahasa Greek (Yunani) sebagai bahasa kitab Perjanjian Baru (New Tastemen) dan bahasa Aramaic sebagai bahasa yang digunakan Yesus. Persoalan muncul ketika hendak menerjemahkan dan menafsirkan Bible ke dalam bahasa lain. Sementara Bahasa Hebrew adalah bahasa kuno yang sudah tidak digunakan lagi, dan tidak ditemukan seorang native dalam bahasa ini. Maka untuk memahamaminya para teolog Yahudi dan Kristen terpaksa menggunakan bahasa yang serumpun denga Hebrew (rumpun semitic), yaitu Bahasa Arab untuk menangkap makna yang dikandung Bible. Dalam Encyclopedia Britanica disebutkan .... the search for the original semitic language was on...and Arabic with its primitive inflection soon became the firm favourite as the primary witness to what that original language must have looked like. Walhasil Kalau kita perhatikan penggunaan hermeneutika sebenarnya merupakan upaya menutupi kelemahan Bible.
Kedua, Problem Orsinilitas. Meski Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Hebrew merupakan kitab yang sangat tua, tapi masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan hingga kini, berkenaan dengan siapa yang menulis kitab ini. Demikian juga dengan Kitab Perjanjian Baru yang berbahasa Greek memiliki manuskrip dengan versi yang sangat banyak. Bruce M. Metzer menyebut adanya sekitar 5.000 menuskrip Perjanjian Baru, yang satu sama lainnya berbeda, bahkan kontardiktif. Disinilah peran utama hermeneutika untuk mencari “ nilai kebenaran Bible “ sekaligus juga untuk menutupi “lobang-lobang” serta kontradiksi-kontardiksi yang terdapat dalam Bible agar bisa dikompromikan dengan cara merekayasa makna, sehingga Bible bisa tetap dianggap sebagai kitab suci mereka. Dalam Ensyclopedia Britanica disebutkan : For both Jews and Christians throughout their histories, the primary purpose of hermeneutics, and of the exegetical methods employed in interpretation, has been to discover the truths and values of the Bible.

Penggunaan hermeneutika ternyata tidak otomatis menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Bible. Dalam perkembangannya malah muncul gugatan : Apakah Bible itu merupakan kalam Tuhan atau merupakan karya manusia dan interpretasi tokoh-tokoh dalam teologi Kristen? Selain itu berkembang pula tradisi-tradisi gereja, seperti : misa, api pencucian dan indulgensi (penjualan surat pengampunan dosa) oleh Paus yang kemudian dianggap sebagai tradisi gereja dan sumber keimanan disamping Bible.

Kondisi ini mendorong gerakan Protestan yang dipelopori oleh Marthin Luther (1483-1546) untuk memberontak terhadap gereja Katolik dan mengambil langkah menolak kemajuan materi. Mereka juga membentuk sejumlah organisasi. Pada tahun 1902 berdiri The Society of The Holy Scripture. Organisasi ini membuat penerbitan dengan nama “Fundamentals”. Gerakan ini dirancang oleh kaum Protestan untuk melindungi kitab suci mereka dari proses desakralisasi para penafsir liberal. Setelah itu didirikan juga Lembaga Kristen Fundamentalis Internasional dan Perhimpunan Fundamentalis Nasional pada tahun 1919. Ini merupakan akar fundamentalisme, sebuah pandangan hidup yang muncul sebagai reaksi atas kemajuan ilmu pengetahuan, sekulerisasi dan penafsiran Bible dengan menafikan makna literal.

Ketika kemajuan ilmu pengetahuan mulai menggeliat pada abad lima belas dan enam belas, baik Katolik maupun Protestan sama-sama tergagap-gagap . Ini bisa dilihat ketika mereka menolak penemuan ilmiah Johannes Kepler (1571-1630) tentang lintasan planert yang berbentuk elips, dan teori Galileo Galilea (1569-1642) yang memperkuat pendapat Copernicus tentang bumi yang mengelilingi matahari (Heliocentris), sementara Gereja bertahan dengan teori geocentri dimana bumi sebagai pusat, dan mataharilah yang beredar mengelilingi bumi. Gap yang lebar antara Bible dengan segala macam hermeneutiknya dengan penemuan-penemuan ilmiah telah membawa konsekwensi runtuhnya kepercayaan terhadap Bible dan pola interpretasi model lama yang dianggap sudah tidak memadai lagi untuk dipakai.

Dari sinilah kemudian model hermeneutika liberal mulai dikembangkan. Spirit utamanya adalah pembebasan diri dari hegemoni interpretasi pihak gereja dan tradisi-tradisi Kristen yang irrasional. Fokus utama dari metoda ini adalah bagaimana menerjemahkan dan menangkap entitas yang ada pada teks kuno Bible ke dalam bahasa yang mudah dipahami manusia modern. Salah satu tokoh utama dari hermeneutika modern adalah Schleiermacher (1768-1834). Model hermeneutikanya menyangkut dua lingkup : Lingkup pemahaman ketatabahasaan (gramatikal) dan lingkup pemahaman terhadap kondisi psikologis pengarangnya.

Konsekwensi dari model ini adalah seorang interpreter dapat mereproduksi ulang isi sebuah kitab suci lebih baik dari pengarang terdahulu, karena ia telah memahami segala motivasi dan situasi pengarang terdahulu. Selain itu terbuka peluang terjadinya desakralisasi teks yang bersifat divine (wahyu Tuhan), karena metoda ini menyamaratakan semua teks sebagai produk dari pengarangnya.. Padahal jika direnungkan bahwa jika teks-teks Bible dinilai dan dirasakan mengandung segudang masalah, maka interpretasi-nya pun akan lebih bermasalah lagi.

Jika demikian, dimanakah korelasi antara fundamentalisme dengan Islam? Sama sekali tidak ada. Kecenderungan sekarang malah kaum liberalis melabelkan sebutan fundamentalis kepada kaum muslimin yang menolak hermeneutika, sebuah tuduhan yang sangat kacau.

Islam tidak membutuhkan hermeneutika, Kitab suci Al-Qur’an tidak memiliki problem teks sebagaimana dialami Bible. Al-Qur’an juga sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad saw hingga kini dan nanti tidak memiliki problem orisinilitas. Islam telah memiliki metodologi penafsiran tersendiri, sehingga tidak membutuhkan hermeneutika. Disamping hermeneutika itu sendiri bersumber dari dongeng-dongeng Yunani kuno, yang sama sekali tidaklah layak disentuhkan dengan Al-Qur’an yang berasal dari Allah swt. Hermeneutika juga ketika menjadi subjek filsafat telah melahirkan berbagai aliran hermeneutika. Ada hermeneutika Schleiermacher, Hermeneutics of Betti, hermeneutics of Hirsch, hermeneuticts of Gadamer, dsb. yang satu sama lainnya berbeda. Wallahu’alam

Dikirim pada 03 April 2015 di TSAQAFAH ISLAMIYAH


Tanya : Assalamu`alaikum ... ustadz Abu Alifa ... saya baru di khitbah oleh seorang pria yang menurut saya calon itu memenuhi syarat terutama saya ketahui bahwa caon itu seorang yang suka menyampakai kajian (mubaligh). Akan tetapi sebagai seorang wanita kebanyakan (entahlah yang lain) saya tidak bersedia jika seandainya nanti, saya mempunyai "madu". Hal ini bukan saya tidak tahu bahwa suami dibenarkan lebih dari satu istri. Yang ingin saya ketahui, bagaimana pandangan ustadz jika saya berbicara melalui orang tua untuk disampaikan kepada calon suami saya, bahwa salah satu syarat meniakhi saya tidak diperkenankan suami menikah lagi. Apakah hal tersebut dibenarkan? PS
Jawab : Wa`alaikumussalam ... Ukhty PS, jangan berkesimpulan bahwa mubaligh senantiasa melakukan "taaddud" (bersitri lebih dari satu), sebab taaddud (poligami) itu dikaitkan dengan kemampuan yang akan melaksanakannya. Sekalipun dorongan melaksanakan poligami antara satu dengan yang lain berbeda.
Mengenai hal yang ditanyakan, ada dua pendapat dikalangan para ulama. Pendapat pertama membolehkan seorang calon istri mensyaratkan hal itu, dan kalau suami nanti melanggarnya maka si istri berhak menuntut fasakh pernikahannya (nikahnya batal) dan ia berhak menuntut dipenuhi semua haknya. Diantara yang berpendapat bolehnya mensyaratkan adalah para fuqaha dikalangan madzhab Hambali seperti misalnya Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Utsaimin, dll. Pendapat ini dipegang juga oleh sebagian shahabat diantaranya Umar bin Al-Khaththab, Abdullah bin Mas’ud, Sa’ad bin Abi Waqqash, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Dari kalangan tabi’in: Syuraih Al-Qadhi, Umar bin Abdul Aziz, Al-Laits bin Sa’d, Thawus, Az-Zuhri, Al-Auza’I, serta Sa’id bin Jubair.
Sedangkan pendapat kedua tidak membolehkan seorang wanita atau keluarganya menetapkan syarat dalam aqad nikah agar si wanita tidak dipoligami/dimadu.
Diantara para ulama yang berpendapat seperti ini adalah para fuqaha dari kalangan Hanafi, Maliki dan Syafi’i. Pendapat ini dinisbatkan juga kepada Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas serta sebagian fuqaha Tabi’in semisal Sa’id bin Al-Musayyib (Musayyab?), ‘Atha, Asy-Sya’bi, Ats-Tsauri, Al-Hasan Al-Bashri serta Ibrahim An-Nakha’i.Tidak ketinggalan Ibnu Hazm sebagai wakil dari kalangan madzhab Zhahiri ikut berbaris di sini.
Hemat kami syarat perempuan atau dari walinya yang tidak mau dimadu diboleh. Artinya (calon) Istri atau melalui walinya berhak dan boleh meletakkan syarat atas (calon) suami agar tidak dimadu alias suami tidak berpoligami, syarat seperti ini sah, tidak bertentangan dengan dibolehkannya atau disyariatkannya poligami, karena syarat ini hanya membatasi bukan melarang, suami tetap boleh menikah lagi dengan wanita kedua atau ketiga, tetapi karena istri pertama tidak mau, maka dia harus melepasnya, silakan suami menerima atau tidak, kalau suami menerima maka dia harus memegang syarat tersebut, kalau tidak menerima maka seorang laki-laki bisa beralih untuk meminang wanita yang lain.
عن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم { إن أحق الشروط أن توفوا به : ما استحللتم به الفروج }
Dari Uqbah bin Amir radhiuallahu anhu berkata. Bersabda Rasulullah saw. Syarat-syarat yang paling berhak untuk dipenuhi adalah syarat yang menghalalkan kemaluan (dalam pernikahan) (Bukhari: 2721 dan Muslim: 1418)
Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata: “Jika seorang istri memberikan syarat agar tidak dibawa keluar dari rumahnya atau dibawa keluar negeri atau ditinggal jauh atau melakukan poligami, maka suami harus memenuhinya, dan jika ia tidak memenuhinya maka istri berhak untuk memutus ikatan pernikahannya, pendapat ini diriwayatkan dari Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Amr bin ‘Ash –radhiyallahu ‘anhum-. (Al Mughni: 9/483) Allohu A’lam

Dikirim pada 28 Maret 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum ... Ustadz Abu Alifa Shihab yang saya hormati. Sebelumnya saya minta maaf jika pertanyaan ini kurang pas atau kurang sopan. Biasanya saya mengalami haid itu satu minggu, sehingga pada waktu itu tentu tidak boleh bercampur dengan suami saya. Namun karena dorongan sek yang begitu kuat dari suami, ia meminta saya untuk mempermainkan (mengocok) alat vitalnya dengan tangan saya sampai mencapai orgasme. Apakah hal tersebut terlarang? BV
Jawab : Wa`alaikumussalam ... Sekalipun sedang dalam kondisi haid jika sudah menjadi suami istri seluruh anggota tubuh termasuk alat vital halal untuk disentuh, dipegang, termasuk yang ibu maksud. Yang dilarang adalah bercampur atau melakukan penetrasi alat vital suami ke bagian alat vital istri.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, Haid itu adalah suatu kotoran.Oleh karena itu hendaklah engkau menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sampai mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu” (QS. A-Baqarah: 222)
Sedangkan istri memegang atau mengocoknya dengan tangan alat vital, sampai suami mencapai "puncak"nya, hal tersebut tidak ada larangan.

Seorang shahabat benama Anas bin Malik pernah menceritakan saat Nabi ditanya tentang bagaimana hubungan suami dengan istri yang sedang dalam kondisi haid.
Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, Lakukanlah segala sesuatu terhadap isterimu kecuali jima (penetrasi). (Shahih Ibnu Majah no:527, Muslim I:246 no 302). Allohu A`lam

Dikirim pada 27 Maret 2015 di Bab. Nikah


Oleh : DR.H.Jeje Zainuddin M.Ag

Mengingat masalah ini bukanlah masalah baru melainkan masalah yang sudah ada sejak adanya perintah bershalawat bagi Nabi saw. yang menurut sebagian para ahli asbabun-nuzulul-quran turun pada tahun ke dua setelah hijrahnya Nabi ke Madinah. Akan tetapi karena adanya pemahaman dan pengamalan yang bervariasi (sebagaimana umumnya masalah-masalah cabang Agama), maka masalah shalawat ini seringkai dipertanyakan kembali. Untuk memberi latar dan kerangka bagi pemikiran dan pengamalan masalah-masalah yang diperselisihkan, terlebh dahulu saya merasa perlu menyampaikan pendahuluan.

Dalam setiap pemkiran dan tradisi keagamaan, tidak terkecuali pada kalangan pemeluk Islam, selau didapati dua kecenderungan negatif, yaitu al-ghuluwwu (berfikir dan bertindak secara berlebihan) dan al-tatharruf (berfikir dan bertindak secara berkekurangan). Karena itu dalam sejarah dan tradisi pemikiran-pengamalan Islam dikenal madzhab bathiniyah dan madzhab dhahiriyah. Yang pertama mewakili kelompok substansialis ekstrim yang liberal dalam memahami makna dalil-dalil agama, sedang yang kedua mewakili kelompok formalis ekstrim yang sangat kaku memahami dalil-dalil agama. Yang satu menghilangkan sisi hukum fiqih formal Islam dan memalingknnya kepada kiasan-kiasan, sedang satunya lagi engesankan bahwa Islam itu semata-mata hukum fiqih-formal saja. Yang satu terlau berat menekankan agama kearah qalbu dan alam ghaib dari diri manusia, sdang satunya lagi terlau kuat memaksakan pemahaman agama hanya ditinjau dari gerak-gerik ibadah lahiriyah badani. Diantara kedua kubu ekstrim itu tentu saja selau ada kelompok yang konsisten berpegang tegh kepada ajaran agama yang murni. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang shahih.

"Dikalangan umatku senantiasa ada golongan yang menegakkan kebenaran, mereka tidak dirugikan oleh orang-orang yang menentang mereka sehingga datang keputusan Allah kepada mereka dan mereka dalam keadaan demikian". (Bukhary dalam Kitabul-I`tisham bersumber dari Muawiyah bin Abi Sufyan dan Muslim dalam Kitabul-Imarat bersumber dari Tsauban. Hadits-hadits yang semakna dengan itu, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Mughirah bin Su`bah, Jabir bin Abdillah, Jabir bin Samurah, Sa`ad bin Abu Waqas dan Abdullah bn Amr bin Ash).

Sebab ghuluw dan tatharruf dalam pemikiran dan pengamalan agama lebih disebabkan penguasaa ajaran agama yang parsial atau belum utuh dan semangat keagamaan yang tinggi tapi tidak dibarengi ilmu yang memadai dari para pemeluknya. Sementara disisi lain dalam ajaran Islam itu sendiri ada dalil-dalil tertentu yang jika dipahami secara sepihak dapat menimbulkan pemahaman dan pengamalan beragama yang berat sebelah, disamping ada juga dalil-dalil palsu yang disengaja ataupun bukan disengaja dibuat untuk menimbulkan kekacauan dalam pemahaman ajaran Islam. Sebagai misal dalam pengamalan membaca al-Quran, berdzikir, berdo`a, shalat sunnat, shaum sunnat, penghormatan kepada para kyai, dan shalawat kepada Nabi.

Saking kuatnya motivasi keutamaan membaca al-Quran, ayat-ayat tertentu, berdzikir, berdo`a, dan bershalawat yang dimuat dalam dalil-dalil yang lemah atau dalam dalil yang shahih tapi salah penafsiran telah menggiring sebagian kaum muslimin kepada pemikiran dan pengamalan beragama yang berlebihan. Ada kalanya dikalangan komunitas muslim tertentu membaca surat Yasin, shalawat, dan wirid-wirid tertentu dimalam jum`at seakan menjadi sunnah muakkad untuk mencapai niat-niat tertentu. Begitu pula macam-macam shalat dan shaum sunnat seperti shalat sunnat nisfu sya`ban, shaum rajab, shaum wedalan dan sebagainya. Dzikir-dzikir, do`a-do`a, dan shalawat beraneka macam diciptakan untuk menambah semarak pengamalannya yang biasanya diamalkan penuh keyakinan dan kekhusyuan untuk meraih pahala yang besar dan mencapai apa yang dicita-citakan.

Disisi lain, sebagian komunitas muslim yang berbeda telah menyadari kekeliruan pemahaman dan pengamalan agama seperti itu. Mereka memandang bahwa pemahaman dan pengamalan seperti itu membawa kebekuan pemikiran dan pengamalan ajaran Islam hanya ramai dalam formalitas dan ritualitasnya tapi miskin dalam aktualitasnya. Al-Quran hanya diperindah suara bacaannya, dihapal diluar kepala ayat-ayatnya, diperlombakan, dan dimuliakan mushafnya, akan tetapi tak pernah dikaji apa isi kandungannya. Dzikir, do`a, dan shalawat disenandungkan penuh hidmat dalam upacara-upacara tertentu dengan keyakinan dapat mendatangkan pahala yang besar, rizki yang melimpah dan syafaat dihari qiyamat, akan tetapi kosong dari pemahaman terhadap isi dan pesan-pesan ajarannya. Padahal ajaran Islam itu penuh ajaran yang sangat dalam dan didikan yang tinggi bagi kecerdasan akal manusia. Karena itu, dalam pandangan kelompok muslim yang ini, yang paling penting adalah pemahaman yang mendalam terhadap maksud quran dan hadits Nabi serta memerangi pengamalan Islam yang bid`ah.

Saking semangatnya memerangi bid`ah dan mengutamakan pemahaman terhadap arti Quran dan hadits maka forum yang sering diselenggarakan adalah forum kajian pemahaman dan menyoroti apa yang jadi tradisi pengamalan agama kelompok lain. Akan tetapi ada kalanya berdampak melupakan aspek pengamalan dan penghayatan. Bahkan tidak jarang mencurigai bahwa apa saja yang menjadi pemahaman dan pengamalan kelompok lain sebagai sesuatu yang selalu salah dan bid`ah meskipun pada kenyataannya justru itu adalah sunnah yang shahihah tapi tidak diamalkannya. Ketika kelompok muslim yang ghuluw sangat antusias dengan menghafal Al-Quran, menggemarkan memperindah suaranya dan bahkan memperlombakannya sehingga melahirkan banyak penghafal dan pembaca yang sangat merdu suaranya, maka dikalangan yang tatharruf mengalami kemiskinan para penghafal al-Quran. Bahkan untuk sekedar mencari yang dapat membaca Quran dengan fasih, merdu dan indah pun kesulitan. Ini disebabkan tatharruf, berlebihan dalam mengurangkan, akibat terlalu bersemangat membid`ahkan memperlombakan bacaan Al-Quran, membaca Yasin dimalam jumat dan sebagainya, sehingga yang tidak bid`ah-nyapun ikut dihilangkan. Malahan beberapa sunnah yang jelas-jelas disebutkan dalam hadits shahihpun diabaikan dan dicurigai sebagai bid`ah juga. Seumpama keutamaan membaca surat al-Ikhlash, An-Naas, al-Falaq dan ayat Kursi, atau kebolehan meruqyah dengan al-fatihah sebagai syirik dan bid`ah.

Disatu sisi sekelompok orang sangat antusias menggemarkan dzikir hingga melampaui keharusan dan menyalahi sunnah Nabi dengan membuat wirid-wirid, tata cara, dan upacara yang bid`ah. Kita mendapati dari mereka begitu nkmat dan sejuknya jiwa mereka dengan dzikir hingga memancar menjadi cahaya wajah yang menggambarkan kekhusyuan dan kedamaian jiwa. Disisi lain sekelompok muslim sangat pelit dari berdzikir karena merasa khawatir jatuh bid`ah, sampai-sampai yang sudah jelas dalilnya pun diabaikan pula, hingga terkesan jiwanya kering dan gersang jauh dari sifat ke tawadhuan dan kekhusyuan.

Demikian pula halnya dengan masalah shalawat, sebagian kelompok muslim demikian semangatnya bershalawat dengan dalih mengamalkan perintah Alah dan hadits Nabi, mereka bershalawat kapan saja dan dimana saja menurut ketentuan yang dianggap baik bagi mereka. Terkadang mereka menyelenggarakan majlis shalawatan dan membuat lafaz shalawat khusus dengan hasiat kegunaan yang khusus pula menurut anggapan diri mereka sendiri. Bahkan tak tanggung-tanggung ada kelompok muslim yang membuat organisasi khusus "Masyarakat Shalawat Indonesia". Di sisi lain sebagian kelompok muslim yang menyadari penyimpangan dalam shalawat ini ada kalanya terlau khawatir bahwa setiap pengamalan shalawat yang diamalkan orang itu semuanya salah, sehingga membatasi shalawat hanya pada shalat saja dan meninggalkan shalawat diwaktu lain yang dianjurkan oleh hadits Nabi yang shahih. Untuk itu tulisan ini berusaha memaparkan kedudukan masalah shalawat secara proporsional dengan mengacu kepada dalil-dalil al-Quran, hadits-hadits yang shahih, pengamalan para shahabat, pandangan para ulama dalam kitab-kitab mereka, dan analisis penulis sendiri. Demi runtutnya pembahasan, tulisan (makalah) ini disajikan dengan beberapa sub bahasan yaitu, pengertian shalawat, hukum bershalawat kepada Nabi Muhammad dan kepada yang lainnya, redaksi shalawat, dan tempat-tempat shalawat.

Pengertian Shalawat

Berdasarkan para ulama yang ahli dibidang bahasa dan tafsir, semisal Ibnu al-Mandhur dalam Lisanul-Arab, Imam al-Raghib dalam al-mufradat fi gharibil-quran, Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Ibnu Hajar dalam syarah Bukhari, Ashabuni dalam tafsir Ahkam, dan yang lainnya, dapat diambil kesimpulan bahwa shalawat secara bahasa artinya do`a, mohon ampunan, mohon rahmat, dan mohon berkah. Kalau shalawat itu dinisbatkan kepada Allah seumpama kalimat "shalawat Allah atas Nabi Muhammad", maka maknanya adalah Allah memuliakan, menyanjung, memberi rahmat, memberi ampunan, mengagungkan kedudukannya diantara makhluknya yang lain. Jika shalawat itu dari Malaikat kepada Nabi maka artinya para Malaikat memohonkan ampunan, rahmat, kemuliaan, dan kedudukan yang agung bagi Nabi. Dan jika shalawat itu dari umatnya kepada nabi, maka maknanya adalah memohon ditetapkan dan ditambahkan kepada Nabi segala kemuliaan, keagungan, rahmat, dan ampunan Allah ta`ala, kemudian ia akan mendapat pahala dengan perbuatannya itu sebagai amal ibadah mencintai Nabi dan mentaati perintah Allah swt.

Hukum Bershalawat

Perintah bershalawat dengan tegas di firmankan Allah dalam surat al-Ahzab ayat 56.

"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai segenap orang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan salam dengan sebenar-benarnya".

Ayat ini dengan tegas mengandung kalimat perintah dan setiap perintah pada asalnya adalah wajib kecuali ada dalil yang memalingkan dari kewajibannya. Dan tidak ada satu keteranganpun yang memalingkan dari kewajiban ini.

Dalam ayat ini perintah shalawat ditujukan kepada uat yang beriman bagi Nabi saw. Tetapi pada ayat yang lain Allah juga menyebutkan adanya shalawat dari Allah dan dari Nabi bagi orang-orang yang beriman. Firman Allah,

"Mereka itulah yang mendapat shalawat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang mendapat petunjuk". (QS.al-Baqarah 157)

Pada ayat lain Allah berfirman :

"Dan diantara penduduk Arab pegunungan ada orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat dan menjadikan apa-apa yang mereka infaqkan sebagai mendekatkan diri kepada Allah dan shalawat Rasul ....". (QS.at-Taubah 99)

Pada ayat yang lain lagi difirmankan :

"Ambilah dari harta sebagai sedekah (zakat) yang dengannya membersihkan (harta) mereka dan mensucikan (jiwa) mereka dan bershalawatlah atas mereka, sesungguhnya shalawatmu menjadi ketenangan bagi mereka". (QS.at-Taubah 103)

Pada surat al-Baqarah 17 disebutkan shalawat dari Tuhan untuk orang-orang yang mukmin yang selalu bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Para mufassir menafsirkan shalawat dari Allah bagi orang-orang sabar itu maknanya pengampunan, keridhaan dan pemberian rahmat atas mereka. Sedang pada surat at-Taubah 99 dan 103, shalawat disebutkan dari Rasul bagi orang-orang mukmin yang memberikan shadaqah dan mengeluarkan zakat. Dengan ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah dan Rasul-Nya ternyata juga memberikan shalawat kepada orang-orang beriman. Apakah Malaikat juga bershalawat kepada orang-orang mukmin?

Didalam surat al-Ahzab ayat 41-43 difirmankan :

"Hai orang-orang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah (Allah) yang memberi shalawat kepada kamu sekalian dan para Malaikat-Nya (juga bershalawat bagimu) supaya Dia mengeluarkan kamu sekalian dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia adalah Maha penyayang kepada orang-orang beriman".

Ketika menafsirkan tiga ayat diatas, Imam Ibnu Katsir mengutip beberapa riwayat dari para ulama salaf, diantaranya dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas yang mengatakan, "Allah telah berfirman ; (Ingatlah Allah dengan mengingat yang sebanyak-banyaknya) sesungguhnya tidaklah Allah memerintahkan suatu kewajiban kepada hamba-Nya melainkan ada batasan pengamalannya dan memberi keringanan jika ada uzur kecuali dzikir, karena sungguh Allah tidak menjadikan batasan mengerjakannya dan tidak ada kerukhshahan untuk meninggalkannya, sebagaimana firman-Nya, (berdzikirlah kalian kepada Allah dalam keadaan berdiri, keadaan duduk, dan keadaan berbaring) diwaktu malam atau siang, didaratan atau lautan, diperjalanan ataupun dikampung halaman, disaat kaya ataupun miskin, disaat sehat ataupun sakit, secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan dan dalam setiap keadaan. Allah berfirman (dan sucikanlah Dia diwaktu pagi dan sore hari) maka jika kalian melakukan itu niscaya Allah dan para Malaikat-Nya akan bershalawat bagi kalian".

Dari seluruh ayat ini sudah sangat terang bahwa Allah, para Malaikat dan Rasul-Nya semuanya menyampaikan shalawat kepada orang-orang mukmin yang penyabar dalam menghadapi berbagai cobaan dan ujian hidup, yang banyak bersedekah, infaq dan mengeluarkan zakat, serta banyak berdzikir dan bertasbih kepada Allah swt.

Manipestasi shalawat Allah kepada kaum mukmin berupa pengampunan, keridhaan, rahmat, memuji mereka dihadapan para Malaikat-Nya, dan segala bentuk kebaikan. Sebagaimana diisyaratkan oleh beberapa hadits shahih. Diantaranya adalah sabda Rasulullah saw. :

"Sesungguhnya Allah mempunyai Malaikat-Malaikat yang berkeliling dijalan-jalan mencari ahli-ahli dzikir, jika mereka sudah menemukan kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka saling memanggil ; "Kesinilah kepada apa yang kalian cari!". Lalu mereka mengerumuni kaum itu dengan sayap-sayap mereka sampai ke langit dunia. Kemudian Allah bertanya kepada para Malaikat, meskipun Dia lebih Maha tahu, "Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?". "Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan bertamjid kepada-Mu". Jawab Malaikat. "Apakah mereka melihat-Ku". Malaikat berkata, "Demi Allah mereka tidak melihat-Mu". "Bagaimana sekiranya mereka dapat melihat-Ku?". "Sekiranya mereka melihat-Mu pastilah mereka akan lebih sangat lagi beribadah, mengagungkan dan mensucikan-Mu!". "Apa yang mereka minta?" "Mereka memohon surga!". "Apakah mereka melihat surga?". "Demi Allah mereka belum melihatnya!". "Bagaimana jika mereka melihatnya?". "Jika mereka melihatnya pastilah mereka akan lebih menginginkannya lagi dan lebih sungguh-sungguh mencarinya". "Apa yang mereka harapkan dijauhkan dari mereka?". "Mereka memohon diselamatkan dari api neraka!". "Apakah mereka melihat neraka?". "Demi Allah, mereka belum melihatnya!" "Bagaimana sekiranya mereka melihatnya?". "Jika mereka meihatnya pastilah mereka akan lebih lari dan takut dari padanya!". Kemudian Allah berfirman, "Saksikanlah oleh kalian Aku telah mengampuni mereka!". Seorang malaikat berkata, "Diantara mereka ada si fulan yang bukan kelompoknya, ia datang karena ada suatu keperluan!". Allah berfirman lagi, "Mereka adalah kumpulan yang tidak rugi siapapun yang duduk dengan mereka!". (Shahih Bukhari 11 : 177, Shahih Muslim no. 2689, Sunan Tirmidzi no. 3595)

Dalam hadits lain disabdakan Nabi saw. :

"Tidak ada kelompok orang yang berkumpul di suatu majlis dimana mereka berdzikir kepada Allah melainkan para Malaikat akan mengerumuni mereka, dikucuri rahmat, diturunkan ketentraman kepada mereka, dan Allah menyanjung mereka dihadapan para Malaikat-Nya". (Shahih Muslim, no. 2700)

Dalam dua hadits ini disebutkan contoh dari manifestasi shalawat Allah bagi kaum mukmin yang senantiasa berdzikir yaitu diampuni dosa-dosa mereka dan disanjung Allah dihadapan Malaikat-Nya.

Adapun manifestasi shalawatnya Malaikat kepada orang mukmin adalah mendo`akan pengampunan, memberikan dorongan kekuatan ketabahan, memberikan perlindungan, dan menyampaikan segala do`a kebaikan.

"Malaikat-malaikat yang memikul arasy dan malaikat yang berada disekelilingnya bertasbih mensucikan dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepadanya serta memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman dengan mengucapkan, "Ya, Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala. Ya, Tuhan kami, masukkan mereka kedalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan kepada turunan mereka semua. Sesungguhnya Engkau yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana. Dan periharalah mereka dari kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar". (QS.al-Mukmin 7-9)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "janganlah kamu merasa takut dan jangan kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepada kamu semua. Kami adalah pelindung-pelindungan kalian dalam kehidupan dunia dan diakhirat..." (QS.Fushilat 30-31)

Rasulullah saw bersabda :

"Tidak ada seorangpun dari hamba Allah diwaktu pagi melainkan ada dua malaikat yang turun. Yang satu berdo`a, "Ya Allah, berikanlah gantinya bagi orang yang sdekah!". Yang satu lagi berdo`a, "Ya Allah, berikanlah kerugian kepada orang yang pelit!". (Shahih Bukhari, III : 241, Muslim : 1010, Ahmad, II : 305)

Sedang manifestasi shalawat Nabi atas kaum mukminin adalah berupa do`a kebaikan, rahmat, ampunan dan do`a keteguhan serta ketentraman hati dalam iman.

Imam Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah senantiasa mendo`akan kepada orang yang membawa sedekah kepadanya, maka bapakku pergi membawa sedekah kepada Nabi, lalu Rasulullah berdo`a, "Allohumma shalli `ala ali abi aufa". Pada hadits yang lain disebutkan bahwa seorang wanita datang kepada Nabi dan berkata, "Wahai Rasulullah, shalawatlah bagiku dan suamiku!". Rasulullah berdo`a, "Shallallahu `alaika wa `ala zaujiki".
Cara Bershalawat Kepada Nabi

Imam Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari jalan Abu Mas`ud al-Anshari yang mengatakan :

"Ketika kami berada di majlis Sa`ad bin Ubadah, Rasulullah datang menemui kami. Kemudian Basyir bin Sa`ad berkata kepada beliau ; Allah ta`ala memerintahkan kami untuk bershalawat kepada engkau, wahai utusan Allah, bagaimanakah kami bershalawat kepada engkau? Rasulullah terdiam sehingga kami beranggapan sekiranya tidak dilontarkan pertanyaan seperti itu. Lalu beliau bersabda : Ucapkanlah oleh kalian ; Allahumma shalli ala muhammad wa ala ali muhammad kama shallaita ala ali ibrahim, wa barik ala muhammad wa ala ali muhammad kama barakta ala ali ibrahim fil-alamina innaka hamidun majid, sedang salam adalah apa yang telah kalian ketahui".
Hadist ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan yang lainnya.

Imam Ahmad dalam Musnad-nya meriwayatkan dari Abu Mas`ud, Uqbah bin Amr ia mengatakan ;

"Seorang laki-laki datang lalu duduk dihadapan Rasulullah, sementara kami sedang berada disampingnya. Ia berkata : Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahui salam kepada engkau, maka bagaimana jika kami shalawat kepada engkau dalam shalat kami? Rasulullah diam sehingga kami menginginkan sekiranya orang itu tidak bertanya. Kemudian beliau bersabda, katakanlah! "Allahumma shalli ala muhammadin nabiyil ummiyi wa ala ali muhammad kama shallaita ala ibrahim wa ala ali ibrahim, wa barik ala muhammadin nabiyyil ummiyi awa ala ali muhammad kama barakta ala ibrahim wa ala ali ibrahim, innaka hamidun majid".
Hadits ini diriwayatkan pula oleh ulama ahli hadits seperti Abu Dawud, Daruquthni, Al-Hakim, Nasai, Baihaqi dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ibnu Hibban dan Hakim.

Imam Bukhari dalam shahihnya meriwayatkan dari Abdul Rahman bin Abi Laila yang mengatakan ;

"Saya berjumpa dengan Ka`ab bin Ujrah, ia berkata kepadaku, Maukah kamu aku beri hadiah yang aku pernah mendengarnya dari Nabi? Tentu, hadiahkanlah ia kepadaku! Jawabku. Ia berkata lagi, Kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimanakah kami bershalawat kepada engkau, wahai ahlul-bait, karena Allah telah mengajarkan kepada kami cara bersalam kepada engkau? Beliau menjawab, Ucapkanlah ; Allahumma shalli ala muhammad wa ala ali muhammad kama shallaita ala ibrahim wa ala ali ibrahim innaka hamidun majid. Allahumma barik ala muhammad wa ala ali muhammad kama barakta ala ibrahim wa ala ali ibrahim innaka hamidun majid".
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan yang lainnya.

Imam Bukhari juga meriwayatkan dalam shahihnya dari jalan Abu Humaid Assaidi, bahwa para shahabat bertanya kepada Nabi, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah kami bershalawat kepada engkau? Beliau menjawab, ucapkanlah; Allahumma shalli ala muhammad wa ala azwajihi wa dzurriyyatihi kama shallaita ala ibrahim, wa barik ala muhammad wa azwajihi wa dzurriyyatihi kama barakta ala ali ibrahim innaka hamidun majid".

Dengan bersumber dari Abu Said al-Khudri, Imam Bukhari juga meriwayatkan dalam shahihnya.
"Kami (para shahabat) berkata, Wahai Rasulullah, mengenai salam kami telah mengetahui, bagaimanakah cara bershalawat kepada engkau? Beliau bersabda, katakanlah ; Allahumma shalli ala muhammad abdika wa rasulika kama shallaita ala ali ibrahim, wa barik ala muhammad wa ala ali muhammad kama barakta ala ali ibrahim".

Imam Ahmad dalam Musnad-nya meriwayatkan dari shahabat Nabi bahwa beliau SAW. bershalawat (kepada diri beliau sendiri) dengan mengucapkan, "Allahumma shalli ala muhammadin wa ala ahli baitihi wa ala azwajihi wa dzurriyatihi kama shallaita ala ali ibrahim innaka hamidun majid, wa barik ala muhammadin wa ala ahli baitihi wa ala azwajihi wa dzurriyatihi kama barakta ala ali ibrahim innaka hamidun majid".
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam at-Thahawi dalam Musykilul-Atsar. Syeikh Nashiruddin al-Bani telah menilai shahih hadits ini dan Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat telah menyelidikinya serta menyatakan bahwa hadits ini shahih atas syarat Bukhari dan Muslim.

An-Nasai dalam Amalul Yaum wal Lailah meriwayatkan dari Abu Harairah, ia berkata, "Wahai Rasulullah bagaimanakah kami bershalawat kepada engkau? Beliau menjawab, Katakanlah, "Allahumma shalli ala muhammad wa ala ali muhammad wa barik ala muhammad wa ala ali muhammad kama shallaita wa barakta ala ibrahim wa ali ibrahim innaka hamidun majid".
Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Jalaul Afham dan oleh Imam Nashiruddin al-Bani dalam Shifat Shalat Nabi.

Masih banyak sekali hadits Nabi tentang redaksi shalawat tetapi pada dasarnya berkisar kepada apa yang telah dikemukakan diatas. Dengan memperhatikan keseluruhan hadits-hadits tersebut kita dapat menetapkan :

Pertama, bahwa dalam pengucapan shalawat kepada Nabi mencakup dua doa utama, yaitu permohonan shalawat dan keberkahan.

Kedua, pengucapan shalawat dan keberkahan kepada Nabi ada yang menggunakan lafadz ala muhammad wa ala ali muhammad (atas Nabi dan keluarga Nabi) saja, ada yang menggunakan tambahan lafadz, ala muhammad wa ala azwajihi wa dzurriyatihi (atas muhammad, atas istri-istrinya, dan keturunannya), dan ada juga dengan lafadz ala muhammad, ahlul baitihi, wa azwajihi wa dzurriyatihi (atas muhammad, ahlu baitnya, istri-istri dan anak cucunya)

Ketiga, dalam menyebut nama Nabi Muhammad, terdapat lafadz yang berbeda, yaitu ala muhammad saja, ala muhammadin nabiyyil ummiyi, dan ala muhammadin abdika wa rasulika.

Keempat, lafadz innaka hamidun majid ada yang satu kali di akhir saja, dan ada yang dua kali antara shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, serta setelah memohon keberkahan bagi Nabi Muhammad dan keluarganya dan bagi ibrahim beserta keluarganya.
Kelima, lafadz shalawat bagi Nabi Ibrahim ada yang pakai ala ibrahim wa ala ali ibrahim dan ada yang tidak pakai ala ibrahim, melainkan langsung wa ala ali ibrahim saja.

Dari hadits diatas juga disebutkan bahwa Nabi sendiri bershalawat bagi diri beliau dan keluarganya. Dan pada sub bahasan paling awal beliaupun mendo`akan dengan shalawat kepada umatnya, yang dicontohkan kepada Abi Aufa dan seorang wanita shahabiyat.

Setelah jelas lafadz-lafadz shalawat yang di imlakan langsung oleh Rasulullah kepada para shahabatnya, masih terselip pertanyaan, Apakah lafadz-lafadz shalawat diatas khusus dalam shalat ataukah umum? Bagaimanakah jika bershalawat didalam shalat dengan lafadz yang tidak dicontohkan Nabi secara sempurna? Dalam hal ini para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama membolehkan dengan menyebutkan sebagian saja dari lafadz shalawat, seumpama hanya sampai allahumma shalli ala muhammad, sebab itupun sudah memenuhi perintah untuk bershalawat. Sebagian lagi mengharuskan secara penuh sebab dinamakan shalawat yang masyru`, yang disyariatkan itu yang lengkap dari Nabi. Adapun diluar shalat maka para ulama memandang cukup dan memadai jika menyampaikan shalawat dan salam dengan lafadz shallallahu alaihi wa sallam, meskipun tentu yang paing utama dengan redaksi yang lengkap dari Nabi.

Adapun lafadz-lafadz shalawat yang diada-adakan tanpa contoh dari Nabi, para shahabat maupun imam-imam salaf, seperti yang mereka namakan dengan shalawat badriyah, shalawat kamilah, shalawat munfarijah, dan lain-lain, dengan membuat ketentuan waktu-waktu membacanya, jumlah bilangan bacaannya, serta hasiat-hasiat kegunaannya, semua itu jelas merupakan bid`ah yang menyalahi sunnah disyariatkannya shalawat dan karenanya kau muslimin seharusnya meninggalkannya.

Waktu-Waktu Diperintahkan Bershalawat

Sebagaimana disebutkan pada pembahasan dimuka bahwa Allah memerintahkan kaum mukmin agar bershalawat kepada Nabi saw. sedang asal dari perintah adalah wajib. Hanya saja, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalamTafsirnya, para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban bershalawat itu. Ada ulama yang memahami kewajiban bershalawat itu hanya satu kali seumur hidup dan selain yang sekali itu hanyalah sunnat. Ada juga yang menyatakan wajib disetiap saat dan tempat yang dikhususkan oleh syara dan selain yang ditentukan hukumnya anjuran saja. Sebagian lagi dari ulama membedakan, saat dan tempat tertentu yang diperintahkan untuk bershalawatpun tidaklah sama hukumnya, ada yang wajib dan ada yang sunat saja.

Perbedaan paham para ulama itu adalah wajar, sebab jika kita mencoba mencermati ayat perintah bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara seksama maka akan memberikan beberapa alternatif pemahaman.

Pertama, bahwa shalawat itu wajib satu kai sja seumur hidup dengan alasan bahwa asal perintah tidak menuntut berulangkali, sedang diluar yang satu kali itu hanyalah sunnah dan anjuran saja. Sebagaimana perintah ibadah haji tidak menuntut berulang kali.

Kedua, memahami kewajiban shalawat secara mutlaq disegala tempat dan di segala waktu yang orang dapat bershalawat padanya serta dengan lafadz yang umum yang mencakup doa shalawat dan salam, sebab al-quran sendiri tidak membatasi pada keadaan dan tempat-tempat tertentu untuk shalawat. Adapun mengenai anjuran shalawat yang dihubungkan dengan waktu-waktu tertentu itu tidak berarti bahwa diluar waktu itu tidak disyariatkan, sebab dalam kaidah ushul dinyatakan penyebutan sebagian lafadz umum tidak berarti penghususan, maka adanya perntah shalawat pada waktu-waktu tertentu menunjukkan bahwa disaat tersebut lebih layak lagi memanjatkan shalawat dan jika meninggalkannya berarti meninggalkan kelayakan yang ditetapkan agama. Terlebih-lebih jika mengingat esensi shalawat adalah do`a, berdoa diperintahkan disetiap saat dan tempat yang layak sesuai dengan kebutuhan. Adanya perintah berdoa disaat dan tempat tertentu dengan lafadz tertentu pula tidak boleh dipahami bahwa diluar itu tidak boleh berdoa. Hal serupa juga berlaku dalam memahami dzikir kepada Allah swt.

Ketiga, memahami perintah shalawat dengan cara, redaksi, dan tempat atau waktu-waktu yang ditetapkan oleh syariat saja, sedang diluar itu tidak dibenarkan. Dengan argumen bahwa shalawat itu ibadah makhdhah yang sudah ditetapkan waktu, tempat dan kaifiyatnya.

Menurut hemat penulis, adalah benar bahwa ayat perintah shalawat dan salam kepada Nabi mengandung makna yang umum dan mutlaq. Jadi pada dasarnya diperintahkan dimana dan kapan saja dengan lafadz yang mengandung arti shalawat dan salam. Tetapi meskipun demikian ada waktu dan tempat serta lafadz yang dihususkan oleh Nabi bagi umatnya. Maka pada waktu, tempat dan lafadz yang khusus itu seharusnyalah kaum muslimin berpegang kepada apa yang dicontohkan Nabi. Sedang diluar itu tidaklah salah kalau orang bershalawat dengan lafadz yang lain yang mencakup makna shalawa dan salam kepada Nabi. Sebagaimana tidaklah salah kalau orang bershalawat diluar waktu yang ditentukan dengan bahasanya sendiri. Karena itulah para ulama membolehkan dengan lafadz shallallahu alaihi wasallam meskipun lafadz itu tidak ada contoh langsung dari Nabi. Tetapi diambil dari pemahaman ketika Nabi memberi shalawat kepada Abu Aufa dan kepada seorang wanita shahabiyat. Allahumma shalli ala abi aufa, dan shallallahu alaika wa ala zaujika.

Yang penting diingat juga bahwa shalawat itu bagian dari jenis doa dimana doa sudah diatur tatacara pelaksanaannya dalam hal merendahkan suara, khusyu` dan tadharru`an.

Adapun waktu-waktu yang diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi, disini penulis akan mengutip apa yang diuraikan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yaitu :

1. Dalam Tasyahud Shalat

Para ulama sepakat mengenai keharusan membaca shalawat dalam tasyahud shalat. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai status hukumnya. Apakah wajib atau sunnah saja dan apakah keharusan itu dalam setiap tasyahud, awal dan akhir, atau pada tasyahud akhir saja? Terlepas dari perbedaan pendapat diatas kita mengambil hal yang disepakatinya yaitu keharusan membaca shalawat dalam tasyahud shalat baik yang awal atau yang akhir sesuai dengan hadits Nabi saw.

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya hadits shahih dari Fadhalah bin Ubaid ia mengatakan;
"Rasulullah mendengar seorang berdoa dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan shalawat kepada Nabi. Beliau bersabda, Orang ini telah tergesa-gesa! Kemudian memanggilnya lalu bersabda kepada orang itu atau kepada orang lain, "Jika seorang diantaramu shalat maka mulailah dengan memuji dan menyanjung Tuhannya (dalam satu riwayat "memuji dan menyanjung Allah") kemudian bershalawatlah kepada Nabi kemudian sesudah itu ia berdoa dengan yang ia sukai". (Sunan Abu Dawud, no.1481. Diriwayatkan pula oleh Imam Nasai, Tirmidzi, Ahmad, dan yang lainnya)

2. Setiap Duduk Di suatu Majlis

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersbda, "Tidak ada satu kaum yang duduk disuatu majlis, mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi-nya, melainkan akan menjadi kerugian dihari kiamat. Jika Dia menghendaki Dia mengadzab mereka dan jika Dia menghendaki Dia mengampuni mereka" (Riwayat Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim)

3. Di Malam & Hari Jum`at

Dari Aus ia berkata, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya diantara hari-hari kaian yang paling utama adalah hari jum`at, pada hari itu diciptakan Adam, dan pada hari itu diwafatkannya, pada hari itu ditiupkan tanda kiamat, dan pada hari itu dimatikan semua mahluk. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kaian itu akan disampaikan ke hadapanku. Para shahabat bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana ditampakkannya shalawat kami kepada engkau, padahal engkau telah menjadi tulang belulang? Rasul menjawab, Sesungguhnya Allah mengharamkan atas bui memakan jasad para Nabi". (Hadits shahih dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai dan yang lainnya)

Dari Anas ia berkata, "Perbanyaklah oleh kalian shalawat kepadaku pada hari dan malam jum`at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan membalas shalawat kepadanya sepuluh kali". (Hadits Hasan Riwayat Al-Baihaqi. Silsilah hadits shahih al-Bani, no.1407)

4. Pada Waktu Berdo`a

Dalilnya sama dengan dalil nomor 1 dari Fudhalah bin Ubaid, dimana Nabi saw. menganjurkan kita agar bershalawat sebelum berdo`a. (lihat silsilah hadits shahih al-Bani 2035)

5. Ketika Masuk & Keluar Mesjid

Dari Abu Humaid atau Abu Usaid al-Anshari ia berkata, Rasulullah bersabda, "Apabila kamu masuk mesjid maka ucapkan salam kepada Nabi kemudian ucapkanlah, Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu! Dan Jika kamu keluar katakanlah, Ya Allah, sesungguhnya aku memohon karunia-Mu". (Hadits shahih riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ad-Darimi)

6. Pada Shalat Jenazah

Disunnahkan membaca shalawat kepada Nabi pada shalat jenazah setelah takbir ke-dua. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umamah bin Sahl dari seorang shahabat Nabi bahwa sunnah dalam shalat jenazah hendaklah Imam bertakbir kemudian membaca fathihah setelah takbir pertama dengan membacanya sirr (pelan), kemudian bershalawat kepada Nabi, dan ia mengikhlaskan doa bagi jenazah pada setiap takbir. Tidak membaca (surat) pada takbir-takbir tersebut. Kemudian ia salam dengan sirr". (Musnad asy-Syafi`i no 581)

7. Sesudah Mendengar Adzan

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, beliau mendengar Nabi saw. bersabda, "Jika kalian mendengar muadzin beradzan maka ucapkanlah seperti ucapan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah bagiku wasilah karena ia adalah tempat disurga yang tidak layak bagi siapapun kecuali bagi seorang hamba Allah dan aku berharap akulah orangnya, barangsiapa memohonkan wasilah bagiku, maka halal baginya syafaat(ku)". (Riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Huzaimah)

8. Setiap Disebut Nama Nabi

Dari Husein bin Ali bin Abi Thalib ia berkata, Rasulullah bersabda, "Orang yang bakhil (kikir) adalah yang disebut namaku disisinya tapi tidak bershalawat kepadaku". (Hadits shahih riwayat Tirmidzi, Ahmad, Nasai, Ibnu Hibban dan Hakim)

Dari Abu Hurairah Rasulullah saw bersabda, "Hinalah seseorang yang disebut namaku disisinya tapi tidak bershalawat kepadaku". (Hadits shahih riwayat Tirmidzi dan Hakim)

Dikirim pada 23 Maret 2015 di KAJIAN UTAMA
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.883.073 kali


connect with ABATASA