0


๐Ÿ‘‰
Insyaa Allah akan terjadi Gerhana matahari total pada tanggal 9 Maret 2016 nanti... hanya Indonesia satu-satunya negara yang dilintasi bayangan tersebut. Daerah di Indonesia yang akan dilintasi bayangan itu terdiri dari 10 provinsi, mulai dari bagian Indonesia barat hingga timur.
"Jalurnya melalui 10 provinsi, mulai dari Bengkulu, Sumatera Selatan, Babel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara," ucap Thomas Djamaluddin, Ketua LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional).
Dari 10 provinsi itu, ada 11 daerah yang dilewati gerhana matahari total. Berikut daftar nama daerah dan waktu terjadinya gerhana:
1 Palembang
Durasi gerhana total selama 1 menit 52 detik.
Mulai gerhana matahari: 06.20 WIB
Mulai gerhana matahari total: 07.20 WIB
Berakhir gerhana matahari: 08.31 WIB
2 Belitung
Durasi gerhana total selama 2 menit 10 detik.
Mulai gerhana matahari total: 06.21 WIB
Mulai gerhana matahari total: 07.22 WIB
Berakhir gerhana matahari 08.35 WIB
3 Bangka
Durasi gerhana total selama 2 menit 8 detik.
Mulai gerhana matahari: 06.20 WIB
Mulai gerhana matahari total: 07.21 WIB
Berakhir gerhana mataharil: 08.33 WIB
4 Sampit
Durasi gerhana total selama 2 menit 8 detik.
Mulai gerhana matahari: 06.23 WIB
Mulai gerhana matahari total: 07.27 WIB
Berakhir gerhana mataharil: 08.44 WIB
5 Palangkaraya
Durasi gerhana total selama 2 menit 29 detik.
Mulai gerhana matahari: 06.23 WIB
Mulai gerhana matahari total: 07.28 WIB
Berakhir gerhana mataharil: 08.46 WIB
6 Balikpapan
Durasi gerhana total selama 1 menit 9 detik.
Mulai gerhana matahari: 07.25 WITA
Mulai gerhana matahari total: 08.33 WITA
Berakhir gerhana matahari: 09.53 WITA
7 Palu
Durasi gerhana total selama 2 menit 4 detik.
Mulai gerhana matahari: 07.27 WITA
Mulai gerhana matahari total: 08.37 WITA
Berakhir gerhana mataharil: 10.00 WITA
8 Poso
Durasi gerhana total selama 2 menit 40 detik.
Mulai gerhana matahari: 07.28 WITA
Mulai gerhana matahari total: 08.38 WITA
Berakhir gerhana mataharil: 10.02 WITA
9 Luwuk
Durasi gerhana total selama 2 menit 50 detik.
Mulai gerhana matahari: 07.30 WITA
Mulai gerhana matahari total: 08.41 WITA
Berakhir gerhana mataharil: 10.07 WITA
10 Ternate
Durasi gerhana total selama 1 menit 9 detik.
Mulai gerhana matahari: 08.63 WIT
Mulai gerhana matahari total: 09.51 WIT
Berakhir gerhana mataharil: 11.20 WIT
11. Halmahera
Durasi gerhana total selama 1 menit 36 detik.
Mulai gerhana matahari: 08.37 WIT
Mulai gerhana matahari total: 09.54 WIT
Berakhir gerhana mataharil: 11.24 WIT
Hanya beberapa daerah di Indonesia yang bisa menyaksikan fenomena gerhana matahari total tanggal 9 Maret 2016 mendatang. Daerah tersebut merupakan daerah yang dilintasi bayangan penuh umbra bulan.
Gerhana matahari total yang terjadi pagi hari akan membuat langit menjadi gelap selama beberapa saat. Matahari yang biasanya memancarkan sinar terang maka saat gerhana akan tertutup bulan sehingga korona atau mahkotanya bisa terlihat.
"Ketika gelap piringan matahari tertutup seperti kondisi magrib, tapi kalau magrib masih ada senjanya. Kalau ini gelap ada cahayanya lembut sekali, suasana seperti ada cahaya bulan, gelap. Masih bisa lihat sekitar tapi remang-remang," ucap Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin kepada detikcom.
Sebelas daerah itu akan bisa menikmati momen ketika matahari sepenuhnya ditutupi bulan, akan tetapi ada juga daerah yang hanya akan mengalami gerhana matahari sebagian. Daerah itu hanya bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian karena tidak dilewati umbra (bayangan inti) bulan tetapi dilewati oleh penumbra (bayangan yang lebih terang) bulan.
Warga di daerah tersebut dapat melihat matahari tertutup bulan dengan presentase yang berbeda, ada yang 95 persen hingga 65 persen dengan durasi gerhana yang berbeda-beda.
Misalnya di Jakarta, gerhana matahari akan terjadi sebesar 88,76 persen. Matahari mulai tertutup bulan pukul 06.19 WIB dan akan berakhir pada 08.31 WIB. Namun perlu dicatat, bagi yang ingin melihat gerhana matahari sebagian harus menggunakan filter baik itu kacamata khusus gerhana matahari yang sudah dilengkapi filter matahari atau teropong agar retina mata tidak rusak karena terkena sinar matahari langsung.
"Ketika bulan mulai tersibak lepas dari matahari, maka piringan matahari yang terang itu akan menyilaukan sekali padahal pupil mata sedang membesar dan itu yang bisa merusak retina mata," ujar Thomas.
Selain Jakarta berikut daftar daerah lain yang akan merasakan gerhana matahari sebagian:
1 Padang
Gerhana terjadi 95,41 persen
Disaksikan mulai pukul 06.21 WIB hingga 08.27 WIB
2 Bandung
Gerhana terjadi 88,76 persen
Disaksikan mulai pukul 06.19 WIB hingga 08.32 WIB
3 Surabaya
Gerhana terjadi 92,96 persen
Disaksikan mulai pukul 06.23 WIB hingga 08.40 WIB
4 Pontianak
Gerhana terjadi 92,96 persen
Disaksikan mulai pukul 06.23 WIB hingga 08.40 WIB
5 Denpasar
Gerhana terjadi 76,53 persen
Disaksikan mulai pukul 07.22 WITA hingga 09.42 WITA
6 Banjarmasin
Gerhana terjadi 98,22 persen
Disaksikan mulai pukul 07.23 WITA hingga 09.47 WITA
7 Makassar
Gerhana terjadi 88,54 persen
Disaksikan mulai pukul 07.25 WITA hingga 09.54 WITA
8 Kupang
Gerhana terjadi 65,49 persen
Disaksikan mulai pukul 07.28 WITA hingga 09.55 WITA
9 Manado
Gerhana terjadi 96,66 persen
Disaksikan mulai pukul 07.34 WITA hingga 10.15 WITA
10 Ambon
Gerhana terjadi 86,91 persen
Disaksikan mulai pukul 08.33 WIT hingga 11.16 WIT
Untuk bisa menatap matahari secara langsung, kita harus menyingkirkan setidaknya 99,9968% dari energi yang diterima dari matahari. Angka ini (terutama pada dua digit terakhir itu) jelas bukan angka mistis yang turun dari langit. Besaran itu didapat dari hasil pengukuran yang akurat terhadap energi yang dipancarkan matahari berbanding yang mampu diterima oleh organ retina mata tanpa merusaknya. Ini bisa diperoleh lewat filter khusus untuk pengamatan matahari, yang hanya menyalurkan setidaknya 0,0032% cahaya (filterShade 12). Cara-cara semacam melihat melalui film, pita magnetik, CD, gelas buram, dan sebagainya itu sebenarnya masih belum cukup aman untuk melindungi retina dari kerusakan.
Tapi itu bukan berarti kita harus mengurung diri dalam rumah saat terjadi gerhana. Berada diluar rumah pada saat gerhana matahari sama amannya (atau sama berbahayanya) dengan berada di luar rumah pada hari-hari biasa, sepanjang kita tidak menatap langsung ke arah matahari. Namun pada saat matahari berada dalam fase gerhana total, adalah aman untuk menatap matahari secara langsung (ingat, hanya pada saat fase total!).
Penjelasan ilmiahnya, karena walaupun ukuran (diameter) bulan 400 kali lebih kecil dari matahari, letaknya juga 400 kali lebih dekat. Dengan demikian, saat fase total, ketika bulan tepat berada segaris dengan matahari, ukuran bulan akan tepat sama besar dengan ukuran piringan matahari, dan secara efektif akan menghalangi bagian matahari yang paling terang dari pengelihatan. Saat itu kita bisa sejenak meninggalkan peralatan filter untuk menatap pemandangan langka itu: matahari dengan gemerlap koronanya yang bependar ditengah gelapnya langit siang hari.
Bagi ummat Islam, peristiwa gerhana dianggap sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Subhanahu wa ta’ala. Karenanya peristiwa gerhana mempunyai kekhususan bagi ummat Islam. Bila gerhana terjadi ummat Islam dianjurkan untuk melakukan shalat gerhana, satu-satunya shalat yang dianjurkan atas suatu kejadian alam. Selain itu, peristiwa gerhana merupakan cara mencocokkan perhitungan perhitungan waktu bagi para ahli hisab. Gerhana matahari sebenarnya merupakan ijtimak yang teramati (observable newmoon) yang amat penting dalam perhitungan kalender Islam. Dalam keadaan biasa ijtimak (segarisnya bulan dan matahari) tidak teramati. Satu-satunya tanda telah tejadi ijtimak adalah teramatinya hilal. (dari berbagai sumber)

Dikirim pada 01 Maret 2016 di KAJIAN UTAMA


Tanya : Assalamu๏ฟฝalaikum warahmatulloh wa barakaatuh... Ustadz Abu Alifa yang kami hormati, kami suami istri yang masih mempunyai salah satu orang tua. Istri masih mempunyai ibu (masih ada), sedangkan saya masih ada seorang ayah. Yang kami pertanyakan bolehkah antara ayah dan mertua (ibu dari istri) menikah? Jazaakumulloh .. SRG
Jawab : Wa๏ฟฝalaikumussalam warahmatulloh wa barakatuh...
Dalam Al-Quran sudah dirinci mengenai batasan orang yang tidak boleh dinikahi.
ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู†ู’ูƒูุญููˆุง ู…ูŽุง ู†ูŽูƒูŽุญูŽ ุขูŽุจูŽุงุคููƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ุณูŽู„ูŽููŽ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ููŽุงุญูุดูŽุฉู‹ ูˆูŽู…ูŽู‚ู’ุชู‹ุง ูˆูŽุณูŽุงุกูŽ ุณูŽุจููŠู„ู‹ุง. ุญูุฑู‘ูู…ูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฃูู…ู‘ูŽู‡ูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽูˆูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุนูŽู…ู‘ูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุฎูŽุงู„ูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชู ุงู„ู’ุฃูŽุฎู ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชู ุงู„ู’ุฃูุฎู’ุชู ูˆูŽุฃูู…ู‘ูŽู‡ูŽุงุชููƒูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽุงุชููŠ ุฃูŽุฑู’ุถูŽุนู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽูˆูŽุงุชููƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุถูŽุงุนูŽุฉู ูˆูŽุฃูู…ู‘ูŽู‡ูŽุงุชู ู†ูุณูŽุงุฆููƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุจูŽุงุฆูุจููƒูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽุงุชููŠ ูููŠ ุญูุฌููˆุฑููƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ู†ูุณูŽุงุฆููƒูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽุงุชููŠ ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒููˆู†ููˆุง ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽู„ูŽุง ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุญูŽู„ูŽุงุฆูู„ู ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุฆููƒูู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ู„ูŽุงุจููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌู’ู…ูŽุนููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูุฎู’ุชูŽูŠู’ู†ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ุณูŽู„ูŽููŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุบูŽูููˆุฑู‹ุง ุฑูŽุญููŠู…ู‹ุง. ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุญู’ุตูŽู†ูŽุงุชู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽุง ู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชู’ ุฃูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ููƒูู…ู’ ูƒูุชูŽุงุจูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูุญูู„ู‘ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุงุกูŽ ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุจู’ุชูŽุบููˆุง ุจูุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ููƒูู…ู’ ู…ูุญู’ุตูู†ููŠู†ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูุณูŽุงููุญููŠู†ูŽ ููŽู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽู…ู’ุชูŽุนู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽุขูŽุชููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูุฌููˆุฑูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽุฑููŠุถูŽุฉู‹ ูˆูŽู„ูŽุง ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูููŠู…ูŽุง ุชูŽุฑูŽุงุถูŽูŠู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ุงู„ู’ููŽุฑููŠุถูŽุฉู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ููŠู…ู‹ุง ุญูŽูƒููŠู…ู‹ุง
Artinya : Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga atas kalian untuk menikahi) perempuan-perempuan yang telah bersuami, kecuali perempuan yang menjadi budak kalian. (Ini adalah) ketetapan dari Allah atas kalian. Dan dihalalkan bagi kalian perempuan-perempuan selain yang telah disebutkan tadi dengan memberikan harta kalian untuk menikahi mereka dan tidak untuk berzina. Maka karena kalian menikmati mereka, berikanlah mahar kepada mereka, dan hal itu adalah kewajiban kalian. Dan tidak mengapa apabila kalian telah saling rela sesudah terjadinya kesepakatan. Sesungguhnya Allah itu maha mengetahui dan maha bijaksana. (QS.Al-Nisa 22-24)
Kesimpulan : Ibu dari istri (mertua) yang sudah ditinggal mati oleh suaminya tidak termasuk wanita yang diharamkan dinikahi oleh ayah. Allohu A๏ฟฝlam

Dikirim pada 09 Oktober 2015 di Bab. Nikah


PERNYATAAN DAN SIKAP ABU ALIFA SHIHAB BERKAITAN DENGAN MUSIBAH MINA.
1. Mengucapkan bela sungkawa teriring ta๏ฟฝziyah "ุงู†ุง ู„ู„ู‡ ูˆ ุงู†ุง ุงู„ูŠู‡ ุฑุงุฌุนูˆู†" Semoga mereka semua disatukan dengan para syuhada. Dan keluarga yg ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan.
2. Meminta kepada pihak berwenang supaya mempercepat identifikasi korban yang masih diduga hilang atau wafat.
3. Kami menghargai upaya dari pemerintah KSA dan pemerintah Indonesia yang terus menjalankan tugasnya sesuai dengan kewenangannya.
4. Kepada para tokoh dan pemuka agama ataupun lembaga supaya tidak banyak melontarkan ungkapan menyudutkan kepada berbagai pihak, karena sampai sekarang belum ada keterangan resmi penyebab musibah Mina.
5. Mendorong kepada pemerintah Indonesia untuk mendukung penuh upaya KSA dalam menuntaskan musibah Mina.
Wassalam
Al-Faqir
Ttd
Abu Alifa Shihab


Dikirim pada 09 Oktober 2015 di IBRAH


Tanya : Assalamu`alaikum pak ustadz Abu Alifa ...! Hanya satu yang saya tanyakan, apakah sah shalat idul fitri dilakukan pada hari kedua dibulan syawal? TG
Jawab : Wa`alaikumussalam ... Jika hal itu dikarenakan informasi tentang jatuhnya awal bulan/hilal (Syawal) terlambat, maka tentu sama kasusnya seperti pada masa Nabi saw.
ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุนูู…ูŽูŠู’ุฑู ุจู’ู†ู ุฃูŽู†ูŽุณ ุนูŽู†ู’ ุนูู…ููˆู…ูŽุฉู ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงูŽู„ุตูŽู‘ุญูŽุงุจูŽุฉู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽูƒู’ุจู‹ุง ุฌูŽุงุกููˆุง ููŽุดูŽู‡ูุฏููˆุง ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ุฑูŽุฃูŽูˆูุง ุงู„ู’ู‡ูู„ูŽุงู„ูŽ ุจูุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุณู ููŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽู‡ูู…ู’ ุงูŽู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃูŽู†ู’ ูŠููู’ุทูุฑููˆุง ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุตู’ุจูŽุญููˆุง ูŠูŽุบู’ุฏููˆุง ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูุตูŽู„ูŽู‘ุงู‡ูู…ู’
Dari Abu Umair bin Anas Radliyallaahu ‘anhu dari paman-pamannya di kalangan shahabat bahwa suatu kafilah telah datang, lalu mereka bersaksi bahwa kemarin mereka telah melihat hilal (bulan sabit tanggal satu), maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar berbuka dan esoknya menuju tempat sholat mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa, keterlambatan berita hilal yang baru diketahui esok harinya. Maka saat mendapat informasi itu Nabi saw memerintahkan untuk membatalkan shaumnya, karena sudah masuk 1 Syawal, akan tetapi Nabi saw melaksanakan shalatnya (Ied), keesokan harinya (tanggal 2 Syawal).
Imam As-Shan`ani berpendapat bahwa hadits tersebut diatas merupakan dalil bahwa pelaksanaan shalat Ied boleh dilakukan pada hari kedua dibulan Syawal hal ini karena informasi datangnya berita "hilal" sudah lewatnya waktu pelaksanaan shalat ied (Subulu as-Salam 2/64). Allohu A`lam

Dikirim pada 06 Agustus 2015 di Bab. Sholat




Tanya : Assalamu’alaikum … pak ustadz, banyak dari para mubaligh yang menerangkan keutamaan puasa sunat yaitu enam hari dibulan syawal. Tapi begini ustadz, saya mempunyai hutang puasa yang mesti saya qodha karena halangan yang ada pada perempuan. Terus apakah saya mesti mengqadha puasa ramadhan dahulu atau puasa syawal dahulu. Wassalam IKH
Jawab : Wa’alaikumussalam … jika ibu ada tunggakan hutang shaum ramadhan, maka tentu ibu belum sepenuhnya melaksanakan shaum ramadhan tersebut. Padahal shaum enam hari dibulan syawal itu tidak berdiri sendiri, akan tetapi dikaitkan dengan kewajiban shaum di bulan ramadhan. Hal inilah yang sering kurang cermat dalam memaknai hadits. Bahkan sering kita mendengar bahwa “shaum sunat enam hari dibulan syawal sama dengan shaum kita setahun”, ini keliru. Coba perhatikan haditsnya :
ุนู† ุฃุจู‰ ุฃูŠูˆุจ ุงู„ุฃู†ุตุงุฑู‰ - ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ - ุฃู†ู‡ ุญุฏุซู‡ ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ู‚ุงู„ « ู…ู† ุตุงู… ุฑู…ุถุงู† ุซู… ุฃุชุจุนู‡ ุณุชุง ู…ู† ุดูˆุงู„ ูƒุงู† ูƒุตูŠุงู… ุงู„ุฏู‡ุฑ ». ู…ุณู„ู… (7/334)
Dari Abi Ayyub al-Anshary radhiyallahu anhu sesungguhnya beliau memberitakan bahwasannya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, Siapa yang puasa ramadhan lalu diikuti dengan enam hari (puasa) dibulan syawal, maka keadaannya seolah sudah berpuasa setahun (HR.Muslim)
Ini menurut hemat kami bahwa shaum enam hari dibulan syawal itu merupakan pelengkap jika ingin pahalanya seperti shaum setahun. Kalaupun tidak sempat puasa syawal karena mengqadha ramadhan, maka keutamaan sepuluh bulan sudah diraih. Intinya shaum sebulan itu sama dengan sepuluh bulan, dan shaum sunat 6 hari dibulan syawal sama dengan 60 hari (2 bulan). Jadi jika shaum ramadhan masih berhutang, maka tentu kita belum sepenuhnya melaksanakan shaum dibulan ramadhan, karena hutangnya belum dibayar. Allohu A`lam


Dikirim pada 30 Juni 2015 di Bab. Shaum


Tanya : Assalamu`alaikum warahmattullahi wa barakatuh ... ustadz Abu Alifa tolong perinciannya mengenai hal yang berkaitan selesai adzan atau kita mendengar adzan! Syukran ...!
Jawab : Wa`alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh ... Akhi Muhlis, ada beberapa anjuran yang dikaitkan dengan syariat adzan.
Pertama, ketika kita mendengar adzan yaitu mengikuti lafadz yang dikumandangkan oleh muadzin (yang adzan) kecuali lafadz "hayya `alas-shalah" dan "hayya `alal-falah". hal ini disebutkan dalam keterangan.
ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ูŠููˆุณูููŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ู…ูŽุงู„ููƒูŒุŒ ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุดูู‡ูŽุงุจูุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูŽุทูŽุงุกู ุจู’ู†ู ูŠูŽุฒููŠุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ุซููŠู‘ูุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุณูŽุนููŠุฏู ุงู„ู’ุฎูุฏู’ุฑููŠู‘ูุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ูŽุงู„ูŽ ‏ "‏ ุฅูุฐูŽุง ุณูŽู…ูุนู’ุชูู…ู ุงู„ู†ู‘ูุฏูŽุงุกูŽ ููŽู‚ููˆู„ููˆุง ู…ูุซู’ู„ูŽ ู…ุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ู ‏"‏‏.‏
"...dari Abu Sa`id Al Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu`adzin (yang adzan)." (HR.Bukhary)
ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ููŠ ุฅูุณู’ุญูŽุงู‚ู ุจู’ู†ู ู…ูŽู†ู’ุตููˆุฑูุŒ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ุฃูŽุจููˆ ุฌูŽุนู’ููŽุฑูุŒ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุฌูŽู‡ู’ุถูŽู…ู ุงู„ุซู‘ูŽู‚ูŽูููŠู‘ู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุฅูุณู’ู…ูŽุงุนููŠู„ู ุจู’ู†ู ุฌูŽุนู’ููŽุฑูุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูู…ูŽุงุฑูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุบูŽุฒููŠู‘ูŽุฉูŽุŒ ุนูŽู†ู’ ุฎูุจูŽูŠู’ุจู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ุฅูุณูŽุงููุŒ ุนูŽู†ู’ ุญูŽูู’ุตู ุจู’ู†ู ุนูŽุงุตูู…ู ุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจูุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ูุŒ ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุฏู‘ูู‡ูุŒ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ‏ "‏ ุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ‏.‏ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ‏.‏ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ‏.‏ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ‏.‏ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ‏.‏ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽู‰ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ‏.‏ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ู‚ููˆู‘ูŽุฉูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ‏.‏ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽู‰ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ููŽู„ุงูŽุญู ‏.‏ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ู‚ููˆู‘ูŽุฉูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ‏.‏ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ‏.‏ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ‏.‏ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ‏.‏ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ‏.‏ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ‏"‏
"... Jika muadzin mengucapkan Allahu Akbar, kemudian salah seorang diantaramu mengucapkan Allahu Akbar. Kemudian (muadzin) mengucapkan Asyhadu aan-laa ilaha illallah, lalu seorang itu mengucapkan asyhadu...", kemudian muazin mengucapkan Asyhadu anna muhammadan..." lalu seorang itu mengucapkan Asyahu anna muhammadan.... Kemudian muadzin mengucapkan Hayya alas-shalah, lalu salah seorang mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kemudian (saat) muadzin mengucapkan Hayya alal-falah, lalu seorang itu mengucapkan Laa haula walaa quwwata illa billah, Kemudian muadzin mengucapkan Allahu Akbar dan ia juga mengucapkan Allahu Akbar. Kemudian muadzin mengucapkan Laa ilaha illallah, ia juga mengucapkan Laa ilaha illallah dari dalam lubuk hatinya maka ia kan masuk surga (HR.Muslim)
Kedua, selesai adzan baik muadzin atau yang mendengar. Dalam hal ini ada beberapa ketentuan dan anjuran, diantaranya :
1. Bershalawat
ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏููŠู‘ูุŒ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ูˆูŽู‡ู’ุจูุŒ ุนูŽู†ู’ ุญูŽูŠู’ูˆูŽุฉูŽุŒ ูˆูŽุณูŽุนููŠุฏู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุฃูŽูŠู‘ููˆุจูŽุŒ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ูŽุงุŒ ุนูŽู†ู’ ูƒูŽุนู’ุจู ุจู’ู†ู ุนูŽู„ู’ู‚ูŽู…ูŽุฉูŽุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ุฌูุจูŽูŠู’ุฑูุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุนูŽุงุตูุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุณูŽู…ูุนูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูŽู‚ููˆู„ู ‏ "‏ ุฅูุฐูŽุง ุณูŽู…ูุนู’ุชูู…ู ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ูŽ ููŽู‚ููˆู„ููˆุง ู…ูุซู’ู„ูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุซูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ู‘ูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ู‘ูŽ ุตูŽู„ุงูŽุฉู‹ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูู‡ูŽุง ุนูŽุดู’ุฑู‹ุง ุซูู…ู‘ูŽ ุณูŽู„ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู„ููŠูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุณููŠู„ูŽุฉูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉูŒ ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ู„ุงูŽ ุชูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู„ูุนูŽุจู’ุฏู ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุฌููˆ ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽูƒููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ู‡ููˆูŽ ููŽู…ูŽู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ูŽ ู„ููŠูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุณููŠู„ูŽุฉูŽ ุญูŽู„ู‘ูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู ุงู„ุดู‘ูŽููŽุงุนูŽุฉู ‏"‏
"..Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, sesungguhnya ia penah mendengar Nabi saw bersabda : Jika kalian mendengar muadzin (adzan) maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan (muadzin), kemudian bershalawatlah atasku, sebab siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat (memberikan rahamat) padanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah untukku "al-washilah". Sesungguhnya (washilah) itu merupakan tempat (yang tinggi) didalam surge, yang tidak pantas (ditempati) kecuali bagi hamba dari yang dekat dengan Allah dan aku berharap Akulah yang akan menempatinya. Siapa yang memohon washilah untukku, ia akan mendapat syafaatku (HR.Muslim)
2. Membaca Do`a Washilah. Yaitu do`a yang diajarkan Nabi saw. Yang dimaksud doa`a washilah adalah :
ุนู† ุฌุงุจุฑู ุจู†ู ุนุจุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„: ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ: ((ู…ูŽู† ู‚ุงู„ ุญููŠู†ูŽ ูŠูŽุณู…ุนู ุงู„ู†ู‘ูุฏุงุกูŽ: ุงู„ู„ู‡ู…ู‘ูŽ ุฑุจู‘ูŽ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฏุนูˆุฉู ุงู„ุชุงู…ู‘ูŽุฉูุŒ ูˆุงู„ุตู‘ูŽู„ุงุฉู ุงู„ู‚ุงุฆู…ุฉูุŒ ุขุชู ู…ุญู…ุฏู‹ุง ุงู„ูˆุณูŠู„ุฉูŽ ูˆุงู„ูุถูŠู„ุฉูŽุŒ ูˆุงุจุนุซู’ู‡ ู…ู‚ุงู…ู‹ุง ู…ุญู…ูˆุฏู‹ุง ุงู„ุฐูŠ ูˆุนุฏุชูŽู‡ุŒ ุญู„ู‘ูŽุชู’ ู„ู‡ ุดูŽูุงุนุชูŠ ูŠูˆู…ูŽ ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉู)
"... Siapa yang mendengar adzan lalu mengucapkan "Allahumma rabba hadzihid-da`watit-tammah, was-shalatil-qaimah. Aati Mumammadani-washilata wal-fadhilah, wab`atshu maqamam-mahmudanil-ladzi wa `adtah".. ia akan menempati syafaatku dihari kiamah" (HR.Muslim)
3. Membaca do`a yaitu :
ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุฑูู…ู’ุญูุŒ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ุซูุŒ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุญููƒูŽูŠู’ู…ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ู‚ูŽูŠู’ุณู ุงู„ู’ู‚ูุฑูŽุดููŠู‘ูุŒ ุญ ูˆูŽุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู‚ูุชูŽูŠู’ุจูŽุฉู ุจู’ู†ู ุณูŽุนููŠุฏูุŒ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุซูŒุŒ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุญููƒูŽูŠู’ู…ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงู…ูุฑู ุจู’ู†ู ุณูŽุนู’ุฏู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ูˆูŽู‚ู‘ูŽุงุตูุŒ ุนูŽู†ู’ ุณูŽุนู’ุฏู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ูˆูŽู‚ู‘ูŽุงุตูุŒ ุนูŽู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ‏"‏ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญููŠู†ูŽ ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ุงูŽ ุดูŽุฑููŠูƒูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุฑูŽุถููŠุชู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽุจู‘ู‹ุง ูˆูŽุจูู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุฑูŽุณููˆู„ุงู‹ ูˆูŽุจูุงู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ุฏููŠู†ู‹ุง ‏.‏ ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ุฐูŽู†ู’ุจูู‡ู ‏"‏
"...Dari Sa`ad bin Abi Waqash. Dari Rasulullah saw ia bersabda : Siapa yang mengucapkan saat mendengar adzan "Asyhadu anlaa ilaaha illa-llh wahdahu laa syarikalah wa anna muhammadan abduhu wa rasuluh radhitu billahi rabban wabimuhammadin rasulan wa bil--islami diinan", maka diampuni baginya dosa (HR.Muslim)
4. Memperbanyak do`a
ุนู† ุฃู†ุณู ุจู†ู ู…ุงู„ูƒูุŒ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„: ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ: ((ุงู„ุฏู‘ูุนุงุกู ู„ุง ูŠูุฑูŽุฏู‘ู ุจูŠู† ุงู„ุฃุฐุงู†ู ูˆุงู„ุฅู‚ุงู…ุฉูุ› ูุงุฏู’ุนูˆุง)
Dari Anas bin Malik ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. Do`a tidak akan tertolak antara adzan dan iqamah, maka berdo`alah kalian (diwaktu itu). (HR.Abu Ya`la, Tirmidzi, Nasa`i)
ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูŽูู’ุถูู„ููˆู†ูŽู†ูŽุง ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ : ( ู‚ูู„ู’ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ููŽุฅูุฐูŽุง ุงู†ู’ุชูŽู‡ูŽูŠู’ุชูŽ ููŽุณูŽู„ู’ ุชูุนู’ุทูŽู‡ู’ )
Dari Abdullah bin Amr. Sesungguhnya seseorang telah berkata, wahai Rasulullah sesungguhnya muadzinin (orang2 yg suka adzan) semuanya merupakan yang mendapat keutamaan besar diantara kami. Maka Rasulullah saw bersabda "Ucapkanlah sebagaimana yang muadzinin (orang2 adzan) ucapkan, jika sudah selesai, mintalah (berdo`alah)! pasti akan diberikan (HR.Abu Dawud)
Itulah diantara anjuran yang dikaitkan dengan syari`at adzan. Allohu A`lam




Dikirim pada 17 Juni 2015 di Bab. Adzan dan Iqomah


Tanya : Assalamu`alaikum ... pak ustadz Abu Alifa saya "menyukai" saudara (adik) angkat. Ceritanya begini, ketika umur saya 11 tahun mamah dan bapak mengurus dari kecil seorang anak perempuan, dan sekarang adik angkat perempuan itu sudah menginjak dewasa (16 tahun). Terus terang perempuan itu "mengundang" perasaan saya bukan hanya cinta seorang kakak kepada sang adik melainkan "cinta" karena ia seorang wanita yang "cantik". Pak ustadz apakah dibenarkan jika suatu saat saya bermaksud menikahinya? BR
Jawab : Wa`alaikumussalam ... anak yang diurus oleh orang tua anda yang asalnya bukan mahram atau sepersusuan, tentu tidak menghalanginya untuk anda nikahi. Jangankan oleh anda, oleh ayah anda saja secara hukum anak yang diurus tidak menjadikannya mahram (jika sudah dewasa) dan tidak ada larangan untuk menikahinya. Sebab dalam Islam anak yang "dipungut" ataupun di adopsi tidak lantas menjadikan anak tersebut menjadi mahram. Bahkan jika tahu orang tua anak tersebut, maka nisbah anak tersebut tetap harus dikaitkan dengan ayah kandungnya.
ุญุฏุซู†ุง ู‚ุชูŠุจุฉ ุญุฏุซู†ุง ูŠุนู‚ูˆุจ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุนู† ู…ูˆุณู‰ ุจู† ุนู‚ุจุฉ ุนู† ุณุงู„ู… ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนู…ุฑ ุนู† ุฃุจูŠู‡ ู‚ุงู„ ู…ุง ูƒู†ุง ู†ุฏุนูˆ ุฒูŠุฏ ุจู† ุญุงุฑุซุฉ ุฅู„ุง ุฒูŠุฏ ุงุจู† ู…ุญู…ุฏ ุญุชู‰ ู†ุฒู„ุช ุงุฏุนูˆู‡ู… ู„ุขุจุงุฆู‡ู… ู‡ูˆ ุฃู‚ุณุท ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ -
ุณู†ู† ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ
"...Dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya berkata. Kami semua (para shahabat) tidak pernah memanggil "Zaid bin Haritsah" kecuali dengan panggilan "Zaid bin Muhammad", sehingga turun kepada kami (ayat) ..."Dan panggilah mereka (anak-anak angkatmu) dengan memakai ayah-ayah (kandung) mereka! Hal itu lebih adil disisi Allah...(QS.al-Ahzab 5). HR.Tirmidzi
Ayat ke-5 dalam surat al-Ahzab tersebut menunjukkan bahwa status anak angkat tidak menjadikannya mahram. Hal ini ditujukkan dengan perintah Allah untuk memanggil dan menisbatkan anak angkat itu tetap kepada ayah kandungnya. Bahkan dalam sejarah Nabi shallallahu alaihi wa sallam menikahi istri mantan dari anak angkatnya Nabi. Apalagi hal itu seperti yang anda inginkan. Jadi secara hukum tidak haram anda menikahi anak angkat orang tua anda atau adik angkat anda. Allahu A`lam

Dikirim pada 02 Mei 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Assalamu`alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Perkenalkan nama saya Isna H asal Kalimantan tinggal di Jakarta Selatan. Saya baru mendapatkan blog ini dua minggu lalu yang benar-benar saya cari terutama kedalaman pembahasan, terima kasih atas ilmunya. Sebelumnya saya mohon maaf karena mungkin kedangkalan ilmu yang saya miliki sehingga ikut serta menyampaikan pertanyaan. Ustadz Abu Alifa Shihab, saya sering mandi bersama dengan suami saya dalam keadaan (maaf) telanjang, yang terkadang suami suka minta berhubungan. Yang ingin saya tahu :
1. Apakah mandi bersama dalam keadaan tidak sehelai benangpun melakat, dibenarkan dalam Islam?
2. Bagaimana hukumnya berhubungan ditempat dan saat sedang mandi Wassalam Isna H
Jawab : Wa`alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh ...
Dalam beberapa keterangan dijelasakan :
ุญุฏุซู†ุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ู…ุณู„ู…ุฉ ุฃุฎุจุฑู†ุง ุฃูู„ุญ ุจู† ุญู…ูŠุฏ ุนู† ุงู„ู‚ุงุณู… ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ู‚ุงู„ุช ูƒู†ุช ุฃุบุชุณู„ ุฃู†ุง ูˆุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ุฅู†ุงุก ูˆุงุญุฏ ุชุฎุชู„ู ุฃูŠุฏูŠู†ุง ููŠู‡ - ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ » ูƒุชุงุจ ุงู„ุบุณู„-
"... Dari Aisyah berkata. Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam satu bejana (wadah) dan saling bergantian (mengambil) airnya. (Shahih Bukhary lihat juga Muslim 321)

ูˆูŽุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู‚ูุชูŽูŠู’ุจูŽุฉู ุจู’ู†ู ุณูŽุนููŠุฏูุŒ ูˆูŽุฃูŽุจููˆ ุจูŽูƒู’ุฑู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุดูŽูŠู’ุจูŽุฉูŽุŒ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนููŠูŽูŠู’ู†ูŽุฉูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูุชูŽูŠู’ุจูŽุฉู: ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุณููู’ูŠูŽุงู†ูุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูŽู…ู’ุฑููˆุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุซูŽุงุกูุŒ ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽุชู’ู†ููŠ ู…ูŽูŠู’ู…ููˆู†ูŽุฉู: «ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุชูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ู‡ููŠูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุฅูู†ูŽุงุกู ูˆูŽุงุญูุฏู»
"... Dari Ibnu Abbas berkata, telah memberitahuku Maemunah (istri nabi), sesungguhnya ia pernah mandi bersama Nabi shallalahu alaihi wa sallam dalam satu wadah (Shahih Muslim Kitab Haid)
Sekaipun dalam hadits diatas tidak ada kalimat keduanya terbuka (telanjang), tapi oleh para ulama hadits tersebut menjadi dalil disamping mandi bersama antara suami istri dibolehkan, juga menjadi dalil suami dibolehkan melihat istrinya, begitupun sebaliknya (Fathu al-Baary 1 : 364)
Begitupun masalah berhubungan, jika itu menjadi gairah dalam hubungan suami istri dan tempatnya "aman", maka tak ada larangan melakukannya. Allahu A`lam

Dikirim pada 18 April 2015 di Bab. Nikah


Tanya : Bismillah ... Ustadz Abu Alifa, selama ini yang ana lakukan dalam shalat dhuhur dan ashar, ataupun dua rakaat terakhir yang jumlah rakaat dalam shalat wajib itu lebih dari dua rakaat, bacaan shalatnya adalah hanya membaca surat al-fathihah. Akan tetapi ditempat pegajian ada seorang mubaligh yang membahas masalah ini bahwa ada haditsnya juga setelah al-fathihah dicontohkan membaca lagi surat yang lain. Artinya beliau membolehkannya. Bagaimana pandangan ustadz Abu Alifa mengenai hal ini? Hatur Nuhun MD Pangandaran
Jawab : Apa yang bapak MD lakukan dalam shalat dhuhur dsb yang hanya membaca surat al-fathihah di dua rakaat terakhir, berdasarkan beberapa keterangan diantaranya :
ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‚ูŽุชูŽุงุฏูŽุฉูŽ ุงู„ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑููŠู‘ู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ูŽุงู„ : ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุฃู ูููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุงู„ุฃููˆู„ูŽูŠูŽูŠู’ู†ู ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ุงุฉู ุงู„ุธู‘ูู‡ู’ุฑู ุจูููŽุงุชูุญูŽุฉู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุณููˆุฑูŽุชูŽูŠู’ู†ู , ูŠูุทูŽูˆู‘ูู„ู ูููŠ ุงู„ุฃููˆู„ูŽู‰ , ูˆูŽูŠูู‚ูŽุตู‘ูุฑู ูููŠ ุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠูŽุฉู , ูˆูŽูŠูุณู’ู…ูุนู ุงู„ุขูŠูŽุฉูŽ ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงู†ุงู‹ ุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุฃู ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑู ุจูููŽุงุชูุญูŽุฉู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุณููˆุฑูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูŠูุทูŽูˆู‘ูู„ู ูููŠ ุงู„ุฃููˆู„ูŽู‰ , ูˆูŽูŠูู‚ูŽุตู‘ูุฑู ูููŠ ุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠูŽุฉู ูˆูŽูููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุงู„ุฃูุฎู’ุฑูŽูŠูŽูŠู’ู†ู ุจูุฃูู…ู‘ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู . ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุทูŽูˆู‘ูู„ู ูููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุฉู ุงู„ุฃููˆู„ูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ุงุฉู ุงู„ุตู‘ูุจู’ุญู , ูˆูŽูŠูู‚ูŽุตู‘ูุฑู ูููŠ ุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠูŽุฉู
Dari Abi Qatadah al-Anshary radhiyallahu anh berkata. Bahwa Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam membaca di dua rakaat pertama shalat dhuhur surat al-fathihah dan dua surat yang lain, (cukup) panjang dirakaat pertama, dan memendekkan di rakaat kedua (suratnya), dan terkadang kedengaran bacaannya. Dan beliau juga membaca di shalat Ashar al-fatihah dan dua surat, begitupun rakaat pertama panjang bacaannya, dan mengurangi (panjang) dirakaat kedua. Dan di dua rakaat akhir (hanya) membaca surat al-fatihah. Dan keadaan Nabi-pun membaca surat yang panjang dirakaat awal shalat shubuh dan mengurangi (panjangnya) dirakaat kedua (HR.Bukhari Muslim)
ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุฃูŽุจููˆ ุจูŽูƒู’ุฑู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุดูŽูŠู’ุจูŽุฉูŽ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ูŠูŽุฒููŠุฏู ุจู’ู†ู ู‡ูŽุงุฑููˆู†ูŽ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ู‡ูŽู…ู‘ูŽุงู…ูŒ ูˆูŽุฃูŽุจูŽุงู†ู ุจู’ู†ู ูŠูŽุฒููŠุฏูŽ ุนูŽู†ู’ ูŠูŽุญู’ูŠูŽู‰ ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ูƒูŽุซููŠุฑู ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ู‚ูŽุชูŽุงุฏูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุฃู ูููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุงู„ู’ุฃููˆู„ูŽูŠูŽูŠู’ู†ู ู…ูู†ู’ ุงู„ุธู‘ูู‡ู’ุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑู ุจูููŽุงุชูุญูŽุฉู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุณููˆุฑูŽุฉู ูˆูŽูŠูุณู’ู…ูุนูู†ูŽุง ุงู„ู’ุขูŠูŽุฉูŽ ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงู†ู‹ุง ูˆูŽูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุฃู ูููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุงู„ู’ุฃูุฎู’ุฑูŽูŠูŽูŠู’ู†ู ุจูููŽุงุชูุญูŽุฉู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู
"...Dari Abi Qatadah dari bapaknya, bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam membaca di dua rakaat pertama shalat dhuhur dan ashar dengan al-afathihah dan surat (yang lainnya), bahkan terkadang suka diperdengarkan bacaan ayat-ayat itu. Dan beiau (hanya) membaca di dua rakaat terakhir dengan al-fathihah (HR.Muslim)

"...ุฃู† ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ูƒุงู† ูŠู‚ุฑุฃ ููŠ ุงู„ุธู‡ุฑ ูˆุงู„ุนุตุฑ ููŠ ุงู„ุฑูƒุนุชูŠู† ุงู„ุฃูˆู„ูŠูŠู† ุจูุงุชุญุฉ ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆู…ุง ุชูŠุณุฑ ูˆููŠ ุงู„ุฃุฎุฑูŠูŠู† ุจูุงุชุญุฉ ุงู„ูƒุชุงุจ
Sesungguhnya Ibnu Mas`ud membaca dalam shalat dhuhur dan ashar di dua rakaat pertama al-fatihah dan (surat) yang mudah (hafal selain al-fatihah). Dan di dua rakaat terakhir hanya membaca al-fatihah (Ibn Abi Syaibah)
Sedangkan yang "membolehkan" membaca surat selain al-fatihah didua rakaat akhir, diantaranya didasarkan pada keterangan :

ุนู† ุฃุจูŠ ุณุนูŠุฏ ุงู„ุฎุฏุฑูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุŒ ู‚ุงู„ : ูƒู†ุง ู†ุญุฒุฑ ู‚ูŠุงู… ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุงู„ุธู‡ุฑ ูˆุงู„ุนุตุฑ ุŒ ูุญุฒุฑู†ุง ู‚ูŠุงู…ู‡ ููŠ ุงู„ุฑูƒุนุชูŠู† ุงู„ุฃูˆู„ูŠูŠู† ู…ู† ุงู„ุธู‡ุฑ ู‚ุฏุฑ ู‚ุฑุงุกุฉ : ุงู„ู… ุชู†ุฒูŠู„ ุงู„ุณุฌุฏุฉ - ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ - : ููŠ ูƒู„ ุฑูƒุนุฉ ู‚ุฏุฑ ุซู„ุงุซูŠู† ุขูŠุฉ ุŒ ูˆุญุฒุฑู†ุง ู‚ูŠุงู…ู‡ ููŠ ุงู„ุฃุฎุฑูŠูŠู† ู‚ุฏุฑ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุฐู„ูƒ ุŒ ูˆุญุฒุฑู†ุง ููŠ ุงู„ุฑูƒุนุชูŠู† ุงู„ุฃูˆู„ูŠูŠู† ู…ู† ุงู„ุนุตุฑ ุนู„ู‰ ู‚ุฏุฑ ู‚ูŠุงู…ู‡ ููŠ ุงู„ุฃุฎุฑูŠูŠู† ู…ู† ุงู„ุธู‡ุฑ ุŒ ูˆููŠ ุงู„ุฃุฎุฑูŠูŠู† ู…ู† ุงู„ุนุตุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุฐู„ูƒ ุŒ ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…

Dari Abi Sa`id al-Khudri radhiyallahu anh berkata : Kami memperhatikan berdirinya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di shalat dhuhur dan ashar. Kami perhatian berdirinya beliau di dua rakaat pertama dhuhur seukuran membaca (surat) alif lam mim tanzil as-Sajdah- dalam satu riwayat- tiap rakaat seukuran 30 ayat- dan kami perhatikan lamanya berdiri didua rakaat akhir setengahnya dari dua rakaat pertama. Sedangkan kami perhatikan lamanya berdiri dalam shalat ashar di dua rakaat pertama seukuran lamanya dua rakaat akhir shalat dhuhur. Dan lamanya dua rakaat akhir shalat ashar setengahnya dari dua rakaat pertamanya. (HR.Muslim)
Dengan demikian sebagian ulama membolehkan membaca di dua rakaat terahir untuk shalat dzuhur dan ashar lebih dari surat al-Fatihah. Ini termasuk perbedaan pendapat ulama yang sifatnya mubah. Bukan perbedaan yang satu hukumnya terlarang dan yang satu mubah. Boleh saja di dua rakaat terakhir, pada masing-masing rakaat seseorang membaca al-Fatihah saja. Boleh juga di dua rakaat terakhir dia tambahi dengan surat lain setelah al-Fatihah (lihat Ibnu Khuzaimah1/256) . Allohu A`lam

Dikirim pada 17 April 2015 di Bab. Sholat


Jika kaum muslimin memiliki pandangan bahwa pernikahan yang sah menurut syariat Islam merupakan jalan untuk menjaga kesucian harga diri mereka, maka kaum Syi’ah Rafidhah memiliki pandangan lain. Perzinaan justru memiliki kedudukan tersendiri di dalam kehidupan masyarakat mereka.
Bagaimana tidak, perzinaan tersebut mereka kemas dengan nama agama yaitu nikah mut’ah. Tentu saja mereka tidak ridha kalau nikah mut’ah disejajarkan dengan perzinaan yang memang benar-benar diharamkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenyataan-lah yang akan membuktikan hakekat nikah mut’ah ala Syi’ah Rafidhah.
Definisi Nikah Mut’ah
Nikah mut’ah adalah sebuah bentuk pernikahan yang dibatasi dengan perjanjian waktu dan upah tertentu tanpa memperhatikan perwalian dan saksi, untuk kemudian terjadi perceraian apabila telah habis masa kontraknya tanpa terkait hukum perceraian dan warisan. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi dengan beberapa tambahan)
Hukum Nikah Mut’ah
Pada awal tegaknya agama Islam nikah mut’ah diperbolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam beberapa sabdanya, di antaranya hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui kami kemudian mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah.” (HR. Muslim)
Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata: “Telah sah bahwa nikah mut’ah dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadits-hadits yang shahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut.” (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi)
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)
Adapun nikah mut’ah yang pernah dilakukan beberapa sahabat di zaman kekhalifahan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu, maka hal itu disebabkan mereka belum mendengar berita tentang diharamkannya nikah mut’ah selama-lamanya. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1405 karya An-Nawawi)
Gambaran Nikah Mut’ah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di dalam beberapa riwayat yang sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas sekali gambaran nikah mut’ah yang dulu pernah dilakukan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Gambaran tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
1. Dilakukan pada saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat seperti perang, bukan ketika seseorang menetap pada suatu tempat. (HR. Muslim hadits no. 1404)
2. Tidak ada istri atau budak wanita yang ikut dalam perjalanan tersebut. (HR. Bukhari no. 5116 dan Muslim no. 1404)
3. Jangka waktu nikah mut’ah hanya 3 hari saja. (HR. Bukhari no. 5119 dan Muslim no. 1405)
4. Keadaan para pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah tersebut sebagaimana mendesaknya seorang muslim memakan bangkai, darah dan daging babi untuk mempertahankan hidupnya. (HR. Muslim no. 1406)
Nikah Mut’ah menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah
Dua kesalahan besar telah dilakukan kaum Syi’ah Rafidhah ketika memberikan tinjauan tentang nikah mut’ah.
Dua kesalahan tersebut adalah:
A. Penghalalan Nikah Mut’ah yang Telah Diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya
Bentuk penghalalan mereka nampak dari kedudukan nikah mut’ah itu sendiri di kalangan mereka. Ash-Shaduq di dalam kitab Man Laa Yahdhuruhul Faqih dari Ash-Shadiq berkata: “Sesungguhnya nikah mut’ah itu adalah agamaku dan agama pendahuluku. Barangsiapa mengamalkannya maka dia telah mengamalkan agama kami. Sedangkan barangsiapa mengingkarinya maka dia telah mengingkari agama kami dan meyakini selain agama kami.”
Di dalam halaman yang sama, Ash-Shaduq mengatakan bahwa Abu Abdillah pernah ditanya: “Apakah nikah mut’ah itu memiliki pahala?” Maka beliau menjawab: “Bila dia mengharapkan wajah Allah (ikhlas), maka tidaklah dia membicarakan keutamaan nikah tersebut kecuali Allah tulis baginya satu kebaikan. Apabila dia mulai mendekatinya maka Allah ampuni dosanya. Apabila dia telah mandi (dari berjima’ ketika nikah mut’ah, pen) maka Allah ampuni dosanya sebanyak air yang mengalir pada rambutnya.”
Bahkan As-Sayyid Fathullah Al Kasyaani di dalam Tafsir Manhajish Shadiqiin 2/493 melecehkan kedudukan para imam mereka sendiri ketika berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan nikah mut’ah satu kali maka derajatnya seperti Al-Husain, barangsiapa melakukannya dua kali maka derajatnya seperti Al-Hasan, barangsiapa melakukannya tiga kali maka derajatnya seperti Ali radhiyallahu ‘anhu, dan barangsiapa melakukannya sebanyak empat kali maka derajatnya seperti aku.”
B. Betapa Keji dan Kotor Gambaran Nikah Mut’ah Ala Syi’ah Rafidhah
1. Akad nikah
Di dalam Al Furu’ Minal Kafi 5/455 karya Al-Kulaini, dia menyatakan bahwa Ja’far Ash-Shadiq pernah ditanya seseorang: “Apa yang aku katakan kepada dia (wanita yang akan dinikahi, pen) bila aku telah berduaan dengannya?” Maka beliau menjawab: “Engkau katakan: Aku menikahimu secara mut’ah berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, namun engkau tidak mendapatkan warisan dariku dan tidak pula memberikan warisan apapun kepadaku selama sehari atau setahun dengan upah senilai dirham demikian dan demikian.” Engkau sebutkan jumlah upah yang telah disepakati baik sedikit maupun banyak.” Apabila wanita tersebut mengatakan: “Ya” berarti dia telah ridha dan halal bagi si pria untuk menggaulinya. (Al-Mut’ah Wa Atsaruha Fil-Ishlahil Ijtima’i hal. 28-29 dan 31)
2. Tanpa disertai wali si wanita
Sebagaimana Ja’far Ash-Shadiq berkata: “Tidak apa-apa menikahi seorang wanita yang masih perawan bila dia ridha walaupun tanpa ijin kedua orang tuanya.” (Tahdzibul Ahkam 7/254)
3. Tanpa disertai saksi (Al-Furu’ Minal Kafi 5/249)
4. Dengan siapa saja nikah mut’ah boleh dilakukan?
Seorang pria boleh mengerjakan nikah mut’ah dengan:
- wanita Majusi. (Tahdzibul Ahkam 7/254)
- wanita Nashara dan Yahudi. (Kitabu Syara’i`il Islam hal. 184)
- wanita pelacur. (Tahdzibul Ahkam 7/253)
- wanita pezina. (Tahriirul Wasilah hal. 292 karya Al-Khumaini)
- wanita sepersusuan. (Tahriirul Wasilah 2/241 karya Al-Khumaini)
- wanita yang telah bersuami. (Tahdzibul Ahkam 7/253)
- istrinya sendiri atau budak wanitanya yang telah digauli. (Al-Ibtishar 3/144)
- wanita Hasyimiyah atau Ahlul Bait. (Tahdzibul Ahkam 7/272)
- sesama pria yang dikenal dengan homoseks. (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 54)
5. Batas usia wanita yang dimut’ah
Diperbolehkan bagi seorang pria untuk menjalani nikah mut’ah dengan seorang wanita walaupun masih berusia sepuluh tahun atau bahkan kurang dari itu. (Tahdzibul Ahkam 7/255 dan Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 37)
6. Jumlah wanita yang dimut’ah
Kaum Rafidhah mengatakan dengan dusta atas nama Abu Ja’far bahwa beliau membolehkan seorang pria menikah walaupun dengan seribu wanita karena wanita-wanita tersebut adalah wanita-wanita upahan. (Al-Ibtishar 3/147)
7. Nilai upah
Adapun nilai upah ketika melakukan nikah mut’ah telah diriwayatkan dari Abu Ja’far dan putranya, Ja’far yaitu sebesar satu dirham atau lebih, gandum, makanan pokok, tepung, tepung gandum, atau kurma sebanyak satu telapak tangan. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/457 dan Tahdzibul Ahkam 7/260)
8. Berapa kali seorang pria melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita?
Boleh bagi seorang pria untuk melakukan mut’ah dengan seorang wanita berkali-kali. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/460-461)
9. Bolehkah seorang suami meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada orang lain?
Kaum Syi’ah Rafidhah membolehkan adanya perbuatan tersebut dengan dua model:
a. Bila seorang suami ingin bepergian, maka dia menitipkan istri atau budak wanitanya kepada tetangga, kawannya, atau siapa saja yang dia pilih. Dia membolehkan istri atau budak wanitanya tersebut diperlakukan sekehendaknya selama suami tadi bepergian. Alasannya agar istri atau budak wanitanya tersebut tidak berzina sehingga dia tenang selama di perjalanan!!!
b. Bila seseorang kedatangan tamu maka orang tersebut bisa meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada tamu tersebut untuk diperlakukan sekehendaknya selama bertamu. Itu semua dalam rangka memuliakan tamu!!!(Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 47)
10. Nikah mut’ah hanya berlaku bagi wanita-wanita awam.
Adapun wanita-wanita milik para pemimpin (sayyid) Syi’ah Rafidhah tidak boleh dinikahi secara mut’ah. (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 37-38)
11. Diperbolehkan seorang pria menikahi seorang wanita bersama ibunya, saudara kandungnya, atau bibinya dalam keadaan pria tadi tidak mengetahui adanya hubungan kekerabatan di antara wanita tadi. (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 44)
12. Sebagaimana mereka membolehkan digaulinya seorang wanita oleh sekian orang pria secara bergiliran.
Bahkan, di masa Al-’Allamah Al-Alusi ada pasar mut’ah, yang dipersiapkan padanya para wanita dengan didampingi para penjaganya (germo). (Lihat Kitab Shobbul Adzab hal. 239)


Para pembaca, bila kita renungkan secara seksama hakikat nikah mut’ah ini, maka tidaklah berbeda dengan praktek/transaksi yang terjadi di tempat-tempat lokalisasi. Oleh karena itu di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan tentang penentangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu –yang ditahbiskan kaum Syi’ah Rafidhah sebagai imam mereka- terhadap nikah mut’ah. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai piaraan pada saat perang Khaibar.” Beliau (Ali radhiyallahu ‘anhu) juga mengatakan bahwa hukum bolehnya nikah mut’ah telah dimansukh atau dihapus sebagaimana di dalam Shahih Al-Bukhari hadits no. 5119.
Wallahu A’lam Bish Showab.
Sumber: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 33/IV/II/1425

Dikirim pada 16 April 2015 di KONTROVERSI HUKUM
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Berasal dari Desa ... lahir dari seorang petani kecil. Orangnya prihatin, gampang tersentuh. Ayah dari 7 orang anak! More About me

Tag
Al-Quran
    Ya Rabb, ampuni dosa kami, dan hapuslah segala kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang shalih.
Sabda Nabi saw
    Cintailah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat bisa jadi orang yang kamu benci. Bencilah seseorang itu dalam batas yang wajar, sebab suatu saat ia orang yang kamu cinta.
Al-Quran
    Ya Rabb ... janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb, janganlah kami berikan beban yang berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.Ya Rabb, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak dapat kami memikulnya! ......
Asa-ku
    Ya Rabb, seandainya hamba-Mu harus menangis ... jadikanlah tangisan itu yang bisa membuat terhapusnya dosa dan kesalahan hamba, tangis yang mampu menghantar hamba pada ridha dan rahmat-Mu. Ya Rabb ... jadikanlah senyum hamba dikala orang yang mencintai dan menyayangiku menangisi hamba ....
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.469.566 kali


connect with ABATASA